
Sesuai dengan rencana yang telah disusun, mereka bertindak sesuai dengan peran yang telah ditentukan sebelumnya. Leo dan Drey bergerak menyamping saat Roff dan Hord menerjang maju. Kedatangan Roff dan Hord membuat para Hobgoblin terkejut, mereka yang tidak siap secara mental dan fisik seketika terbunuh oleh mereka berdua.
“Salam, kalian monster hijau! Ini sambutan hangat dari kami!” Ujar Roff menebas tubuh salah seekor Hobgoblin dalam jalurnya.
Goblin yang bersama mereka mencoba menyerang balik Roff yang telah membunuh salah satu Hobgoblin pimpinan mereka, namun semua itu digagalkan oleh pertahanan kuat milik Hord.
“Kalian pikir apa yang akan kalian lakukan, dasar makhluk kerdil!” Ujar Hord menahan mereka dengan perisainya.
Hord mengibaskan perisainya dengan kuat hingga menerbangkan Goblin-Goblin itu layaknya dedaunan sesaat sebelum Lisha menyerangnya dengan sihirnya.
“Novilus Rain.” Seru Lisha mengangkat tongkatnya membaca mantra.
Puluhan hingga ratusan jarum sihir menghujani mereka, menciptakan serangan berskala luas yang menghabisi Goblin-Goblin itu dalam sekejap. Darah menggenangi mayat mereka yang berlubang oleh serangan sihir Lisha sebelum akhirnya Hobgoblin yang tersisa memutuskan untuk melarikan diri.
“Rarrrghh!!”
Dengan teriakannya, ia memberi perintah bagi pasukan Goblin yang tersisa untuk mundur bersamanya. Dengan meninggalkan mayat rekan-rekannya, mereka melarikan diri dari hadapan Roff dan party-nya. Akan tetapi...
“Kejutan...!” Ujar Drey melompat dari balik semak-semak.
Drey lantas melemparkan belatinya pada salah satu leher Hobgoblin sebelum ia melancarkan tendangan tepat ke arah belati tersebut menancap. Sontak, dengan tekanan yang kuat dari tendangannya, belati itu menembus masuk lebih dalam dan menghancurkan tenggorokannya.
“Urrghhh...! Raaaghhh...!”
“Berisik sekali, huh? Kalau begitu...!” Ujar Drey sebelum menghunuskan belatinya tepat ke mata Hobgoblin tersebut.
Dengan sekuat tenaga, Drey menusuk satu mata Hobgoblin yang telah lumpuh tersebut hingga tewas. Darah menyembur keluar membasahi tangan dan pakaian Drey sebelum ia bangkit menatap satu Hobgoblin yang tersisa dengan wajah menyeringai.
“Oi. Oi. Ada apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?” Ujar Drey tertawa menghina mereka.
Melihat Drey membunuh Hobgoblin tersebut membuat Hobgoblin yang tersisa menjadi marah. Dengan meraung keras, ia memerintahkan para Goblin yang bersamanya untuk menyerang Drey.
“Rraaaaaghhh...!!”
Para Goblin berlari menuju ke arahnya dengan marah disusul Hobgoblin di belakangnya yang murka atas tindakan Drey. Namun, bukannya lari atau menghindar, Drey justru tersenyum menyaksikan kedatangan mereka seolah ia tidak memperdulikan pernyataan mereka.
“Raaaarrrghh...!!”
Tepat saat mereka hampir mencapai Drey, tanah di sekitar mereka bergetar sebelum akhirnya bangkit membentuk batangan tajam yang menusuk mereka dengan kejamnya. Para Goblin seketika itu pula tewas seluruhnya menyisakan Hobgoblin itu seorang diri dalam keterpurukan.
“Waktu yang sangat tepat, nenek sihir.” Ujar Drey melihat ke arah Lisha sambil tersenyum.
“Berisik, dasar ular.” Balas Lisha menghela nafas kesal.
Melihat semua rekannya terbunuh, Hobgoblin tersebut akhirnya menyadari bahwa ia telah terpojok. Hanya dengan dirinya seorang yang masih tersisa, mustahil baginya untuk mengalahkan Roff beserta teman-temannya yang ahli bertarung.
“Grrrr..!”
“Sekarang, apa yang akan kau lakukan, tuan Hobgoblin..?” Ujar Drey meledeknya.
Roff dan teman-temannya mulai mendekatinya, keadaannya kian terdesak dengan musnahnya kelompoknya. Dalam kepanikan tersebut, Hobgoblin melihat mayat teman-temannya yang telah tewas terbunuh untuk sesaat sebelum ia mulai menjadi murka.
“Raaaaaaghhhh....!!!!”
Dengan amarah yang membara, Hobgoblin itu mengabaikan keadaannya yang sendirian dan memutuskan untuk menyerang secara membabi buta. Ia berlari menuju ke arah Drey sambil mengayunkan batang pohon yang menjadi senjatanya seperti orang gila.
“Oi, tampaknya ada yang salah dengannya. Dia sudah gila!” Seru Drey melihatnya terkejut.
“Drey, menjauh dari sana secepatnya!” Seru Roff memerintahkannya pergi.
“Sialan...! Kenapa harus aku...!” Seru Drey berteriak kesal.
“Lisha, sihirnya! Siapkan sihirmu untuk membunuhnya!” Sambung Dire memberi Lisha perintah.
“Tch.”
Drey lantas berlari sejauh mungkin darinya begitu melihatnya mendekat sementara Lisha mulai merapalkan sihirnya. Namun, sebelum Lisha selesai merapalkan mantranya, Leo datang dari arah belakang menebas kaki Hobgoblin itu saat dia berusaha mengejar Drey. Hobgoblin itu pun terjatuh setelah otot kakinya terputus sebelum akhirnya Leo datang melompati punggungnya dan menusuk kepalanya dengan pedangnya. Hobgoblin itu pun tewas seketika saat Roff dan anggota party lain yang menyaksikannya terkesan oleh kemampuan Leo.
“Ya ampun, kawan itu sangat mengesankan! Aku tidak mengira kalau kau sehebat itu!” Ujar Drey berlari ke arah Leo dengan wajah gembira.
“B-Benarkah...?” Balas Leo dengan wajah gugup.
“Tentu saja! Tidak ada petualang pemula yang seberani dirimu! Kau sangat keren, kawan!” Balas Drey merangkul bahunya.
“E-Eh... Y-Ya...”
Sungguh mengejutkan melihat seorang petualang pemula seperti Leo berhasil membunuh seekor Hobgoblin. Roff bahkan terkesima menyaksikan keberanian Leo menghadapi Hobgoblin yang marah itu hingga mampu membunuhnya dengan gerakan yang cepat dan mematikan. Itu benar-benar di luar dugaannya.
“Tidak buruk untuk seorang pemula.” Ujar Hord menghampirinya dengan wajah senang.
“Benar, bukan?” Balas Drey tertawa gembira merangkul Leo.
“Sepertinya dia yang lebih dibutuhkan dari pada kau.” Sambung Lisha tersenyum angkuh menatap Drey.
“Apa katamu, nenek sihir!” Balas Drey kesal menghampiri Lisha.
“Dia bisa membunuh Hobgoblin bahkan sebelum aku selesai merapalkan mantra, ditambah dia juga tidak banyak omong kosong sepertimu.” Balas Lisha memalingkan muka darinya.
__ADS_1
“Tch! Dasar nenek sihir! Kau akan menyesalinya saat aku menidurimu!” Ujar Drey marah.
“Aku tidak sudi tidur denganmu!” Balas Lisha terlihat mulai kesal.
Melihat mereka berdua mulai bertengkar, Roff pun datang melerai mereka berdua.
“Sudahlah, Drey. Kau juga Lisha, hentikan pertikaian yang tidak perlu. Yang lebih penting, Leo pertarungan yang mengesankan.” Ujar Roff kepada mereka berdua sebelum fokus kepada Leo.
“Uh.. Ya...” Balas Leo gugup.
“Berkatmu, tidak ada satu buruan yang melarikan diri. Ini adalah kemenangan besar.” Sambung Roff menepuk bahu Leo.
“Terima kasih. Kalian juga, kerja sama tim kalian sangat hebat.” Balas Leo melihat mereka semua.
“Kau terlalu merendah.” Balas Roff tertawa singkat.
“B-Begitulah! Hahaha...!” Balas Drey membusungkan dadanya.
“Itu semua sudah wajar bagi kami.” Ujar Lisha tersenyum kecil sambil mengangkat dagunya.
Mereka semua tampak gembira menyaksikan kemampuan Leo sebelumnya. Tak terkecuali Lia, ia tampak sangat terkejut melihat apa yang baru saja Leo lakukan pada Hobgoblin itu. Ia tidak mengira bahwa Leo mempunyai kekuatan tersembunyi. Terlebih, dilihat dari sikapnya saat melancarkan serangan yang terlihat sangat tenang membuatnya semakin penasaran mengenai siapa sebenarnya dirinya.
“...? Ada masalah, Lia?” Tanya Leo menghampiri Lia yang termenung sesaat.
“....? Mm...” Balas Lia menggelengkan kepalanya sambil menyarungkan kembali pedangnya.
“Begitu ya. Kukira ada yang salah ketika kau melihatku tadi...” Ujar Leo sambil tersenyum kecil.
Dibalik sikapnya yang ramah dan baik, sesekali Leo terlihat sedih, kecewa maupun marah. Entah kenapa hal itu selalu menjadi pertanyaan bagi Lia. Terlebih, dalam kejadian ini, tidak hanya mampu mengeksekusi perintah dengan baik, Leo juga mampu bergerak sesuai dengan waktu yang diperlukan. Seolah-olah ia sudah terbiasa melakukannya.
Mereka pun memutuskan untuk mengambil setiap bagian monster yang mereka kalahkan untuk nantinya ditukarkan di Guild. Leo dan Drey mendapatkan bagian untuk mengambil telinga Goblin dan Hobgoblin sementara Roff dan Hord bertugas menyisir area sekitar untuk memastikan keamanan.
“Bagaimana yang di sana? Apa kau sudah selesai?” Tanya Drey berseru dari sisi lain.
“Ya, hampir selesai. Tinggal beberapa saja.” Balas Leo kepada Drey.
Selagi mengumpulkan telinga-telinga Goblin itu, Leo mulai berpikir mengenai apa yang dilakukan para Hobgoblin itu di sini. Umumnya, Hobgoblin tidak terlalu suka bergerombol bersama Hobgoblin lain yang bukan dari kaumnya. Ditambah, mereka mendirikan kemah yang membuat kecurigaan Leo semakin besar.
“(Ini sangat aneh, Goblin-Goblin ini bukan berasal dari suku yang sama... Aku rasa hal yang sama juga terjadi pada Hobgoblin itu... Mereka semua bukan dari suku yang sama...)” Gumam Leo dalam hatinya sambil melihat benda-benda yang ada pada mayat Goblin di hadapannya.
Bangsa Goblin umumnya hidup dalam sebuah suku. Setiap suku dipimpin oleh Hobgoblin atau bangsa Goblin yang memiliki kedudukan di atasnya. Sama seperti manusia, mereka juga sering bertempur memperebutkan wilayah masing-masing. Namun kali ini, yang terjadi di sini membuat Leo merasa janggal. Para Goblin ini tidak berasal dari suku yang sama, yang menandakan bahwa ada sesuatu yang menyebabkan mereka berkumpul.
“(Aku merasa ada yang janggal dari semua ini...)” Ujar Leo dalam hatinya cemas.
“Bagaimana hasil kali ini?” Tanya Roff kepada mereka berdua.
“Yah, tidak buruk juga. Kami mendapat 20 ekor Goblin dan 3 Hobgoblin sebagai tambahannya.” Balas Drey menunjukkan kantong berdarahnya.
“Begitu ya. Itu artinya kita baru mendapat 3 koin perak dan 50 koin perunggu.” Gumam Roff mengira jumlah buruan mereka.
“Kita baru saja mulai, jadi itu wajar saja.” Sambung Hord membersihkan perisai dan kapaknya.
“Ya. Kita akan melanjutkannya. Kita akan masuk lebih dalam lagi menuju hutan untuk memburu monster lain. Bagaimana dengan itu, Leo dan Lia? Apa kalian masih sanggup?” Ujar Roff melihat ke arah Leo dan Lia.
Leo melihat Lia sesaat sebelum ia mengangguk kepadanya menandakan bahwa Lia setuju atas usulan Roff untuk melanjutkan perburuan.
“Ya. Kami akan ikut.” Jawab Leo dengan nada yakin.
“Baiklah kalau begitu, kita akan menyusuri hutan ini lebih dalam.” Balas Roff dengan keputusan matang.
Mereka pun masuk lebih dalam menyusuri hutan tersebut guna mencari monster buruan lainnya. Dalam perjalanan, mereka sempat bertemu dengan beberapa ekor serigala liar dan monster kecil lain yang menghadang. Namun, dengan kekuatan mereka berenam, itu semua bukan masalah yang berarti bagi mereka.
Semakin masuk ke dalam hutan, mereka mulai menemukan keanehan yang mengganggu mereka. Para monster yang biasanya menghadang mereka kini nyaris tidak tampak satu pun. Menyadari hal ini, Roff pun menyuruh anggota party-nya untuk bersiaga bersiap akan hal yang buruk.
“Benar-benar sunyi, huh...? Sangat tenang sampai aku merasa ada yang tidak beres...” Bisik Hord melihat sekitar waspada.
“Ya. Kita sudah masuk lebih dari 6 kilometer tetapi bukannya disambut monster kita justru seperti mengamati alam.” Balas Roff berbisik.
Satu jam berlalu setelahnya, namun mereka sama sekali tidak menjumpai monster satu pun di sepanjang perjalanan mereka. Ini sudah jelas bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
“Tunggu, bukankah itu...” Gumam Leo melihat jejak yang tidak asing pada pohon di dekatnya.
“Hm? Ada apa, Leo?” Tanya Roff melihatnya berlari menghampiri pohon itu heran.
Leo menghampiri pohon yang memiliki goresan pada batangnya sebelum akhirnya ia yakin atas dugaannya.
“Luka goresan ini... Ini bukan dari cakar maupun taring... Ini luka goresan senjata... Tidak salah lagi ini penanda wilayah mereka...” Ujar Leo mengamati luka goresan di pohon itu.
“Apa katamu...? Goblin...?” Ujar Hord dengan wajah curiga.
“Apa maksudmu, Leo?” Balas Roff bertanya kepadanya.
“Kemungkinan besar, ada pemukiman Goblin di dekat sini. Mereka biasa menandai pohon dengan luka goresan senjata mereka sebagai penanda wilayah.” Jawab Leo dengan wajah serius.
__ADS_1
Leo melihat sekitar dan melihat tanda yang lain pada pohon di dekat pohon pertama. Sesuai dengan dugaannya, semua pohon itu telah ditandai oleh mereka. Dengan mengikuti tanda di pohon-pohon itu, akhirnya ia menemukan sebuah pemukiman Goblin seperti yang ia sebutkan sebelumnya.
“Itu dia, pemukiman yang menjadi asal mereka.” Ujar Leo menunjukkan pemukiman Goblin yang ada di hadapannya.
Mereka semua terpukau oleh pengetahuan Leo dalam mengenali kebiasaan Goblin. Ia dapat menemukan pemukiman mereka dengan mudah meski ia hanya seorang petualang pemula.
“Ternyata benar ada pemukiman Goblin di sini. Kawan, kau hebat juga rupanya!” Ujar Drey terpukau.
“Ya. Dari mana kau mengetahuinya? Bahkan kami saja mengira kalau luka goresan di pohon itu hanya ulah beruang atau burung liar.” Sambung Roff memujinya.
“A-Ah, itu... Itu karena aku pernah menemukan pemukiman Goblin sebelumnya saat aku tersesat di hutan...” Jawab Leo dengan nada gugup.
“Jadi begitu ya. Untuk kami yang selalu menyelesaikan misi permintaan memang kurang berpengalaman untuk masalah seperti ini. Sepertinya keputusan yang tepat memasukkanmu ke dalam party kami.” Balas Roff tersenyum senang kepada Leo.
“B-Begitu ya...” Balas Leo tertawa kecil sambil menggaruk tengkuknya.
Mereka tidak pernah mengira pengetahuan Leo melampaui peringkatnya. Bahkan untuk Lia, ia bahkan terkejut dengan pengetahuan luas Leo akan monster dan kebiasaan mereka. Sungguh menjadi pertanyaan mengapa ia menolak menjadi petualang saat pertama kali ia menyarankannya.
Meski mereka gembira telah menemukan pemukiman Goblin, Leo merasa cemas akan sesuatu. Penemuannya kali ini bisa dibilang cukup mengesankan karena yang ia temukan kali ini adalah pemukiman Goblin yang cukup besar. Bisa dikatakan, pemukiman tersebut dapat dikategorikan sebagai desa. Namun, yang membuat Leo cemas adalah apa yang terjadi pada desa Goblin itu. Desa tersebut tampak kosong dan beberapa bagian terlihat hancur. Ini menandakan ada kejadian yang sebelumnya menimpa desa tersebut.
“Bagaimana ini, kapten? Kelihatannya itu desa yang cukup besar. Mau kita selidiki?” Tanya Drey kepada Roff.
“Hm... Jika pemukimannya sebesar ini, ada kemungkinan jumlah mereka mencapai ratusan. Agak sedikit berbahaya menyelidikinya.” Balas Roff kepada Drey.
“Tetapi, kapten, mungkin ini akan menjadi penemuan yang besar. Guild akan memberi kita imbalan yang besar jika kita bisa menyelidikinya.” Balas Drey mencoba meyakinkannya.
“Aku juga sependapat dengan Drey. Ini akan jadi peluang besar, kapten.” Sambung Hord mendukung usulan Drey.
“Hm... Hanya untuk memastikan saja... Lisha, bagaimana menurutmu?” Ujar Roff melihat ke arah Lisha.
“Aku masih punya banyak kekuatan sihir. Kurasa tidak ada salahnya...” Jawab Lisha menghela nafas panjang di akhir kalimatnya.
Setelah semua mendukung usulan Drey untuk menyelidiki desa tersebut, akhirnya Roff setuju untuk terjun ke desa itu untuk menyelidikinya. Meski Leo tidak merasa itu ide yang bagus, tetapi karena kebanyakan mendukung usulan tersebut ia terpaksa mengikuti mereka.
Sesampainya mereka di sana, kesunyian menyapa mereka tanpa adanya satu kehadiran Goblin pun. Terlihat beberapa pondok yang mereka bangun hancur karena sesuatu dan bercak darah berceceran di beberapa titik.
“Ada yang salah di sini... Entah kenapa aku tidak merasakan kehadiran mereka...” Ujar Drey melihat sekitar dengan waspada.
“Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di desa ini yang membuat penduduknya menghilang...” Balas Roff berpikir mengenai keanehan di desa Goblin itu.
Hord memeriksa bercak darah yang ada di tanah sebelum ia menciumnya dengan hidungnya. Ia pun meludah sebelum akhirnya bicara dengan Roff.
“Ini darah Goblin. Dan sepertinya ini lebih dari satu hari.” Ujar Hord mengungkapkan kesimpulannya.
“Satu hari, huh...? Bagaimana menurutmu, Leo? Bagaimana pendapatmu mengenai hal ini?” Gumam Roff sebelum akhirnya bertanya kepada Leo.
“Entahlah... Aku tidak terlalu yakin, tetapi kurasa ini semua adalah kasus penyerangan...” Jawab Leo menarik kesimpulan.
“Penyerangan...? Siapa yang menyerang mereka...?” Balas Drey bingung.
“Kaum Goblin dan suku yang berbeda. Singkatnya, peperangan antar suku, itulah menurutku...” Jawab Leo dengan nada serius.
Meski begitu, Leo masih belum mengetahui siapa yang menyerang desa Goblin ini. Jika itu suku yang lain, lantas mengapa Hobgoblin yang sebelumnya mereka kalahkan berkumpul menjadi satu meski suku mereka berbeda?
“Aku ragu jika itu penyerangan.” Sambung Lisha menentang kesimpulan Leo.
“Kenapa kau berpikir demikian?” Tanya Roff kepada Lisha.
“Ya, jika terjadi peperangan antar suku, bukankah lebih masuk akal jika mereka membakar bangunan pihak yang kalah?” Jawab Lisha dengan argumennya.
“Sekarang kau jadi pakar Goblin, huh? Nenek sihir memang punya hobi yang aneh ya.” Balas Drey menggodanya.
“Diam kau, mata ular!” Ujar Lisha menghina Drey dengan wajah marah.
“Itu cukup masuk akal. Mereka juga tahu cara memakai api. Harusnya mereka membakar desa ini...” Balas Roff sambil berpikir.
“Jika bukan Goblin lain yang menyerang desa ini, lantas siapa?” Tanya Drey dengan wajah bingung.
Saat pertanyaan itu mendiamkan mereka semua, Leo secara tiba-tiba merasakan suatu aura membunuh yang ditujukan kepada mereka. Ia lantas menaruh tangannya pada pegangan pedangnya sesaat sebelum sebuah anak panah melesat mengincar Lia.
“....!”
Dengan refleks, Leo mencoba menangkis anak panah itu dengan pedangnya. Namun, secara mengejutkan Lia menarik pedangnya memotong anak panah tersebut sesaat sebelum nyaris mengenainya.
“Lia...!” Ujar Leo terkejut melihat ke arahnya panik.
“Apa...?!” Ujar Roff panik menyaksikan apa yang baru saja terjadi.
“Sejak kapan...!” Sambung Hord terkejut.
Saat menyadarinya, ratusan Goblin telah mengepung mereka dari balik pepohonan yang ada di luar desa. Mereka tidak pernah mengira kalau para Goblin telah menjebak mereka. Mereka sepenuhnya terpojok dengan adanya pemanah di antara mereka.
“(Ini gawat...! Kita sepenuhnya terperangkap oleh rencana mereka...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.
Dalam keadaan terdesak, Leo berusaha mencari jalan keluar dari masalah mereka saat ini. Namun, dengan kondisinya saat ini, hampir mustahil untuknya bisa melawan balik pasukan Goblin bersenjata lengkap itu. Lantas, bagaimana nasib Leo dan teman-temannya selanjutnya?
__ADS_1