
Leo dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit antara bertarung melawan naga itu atau menyelamatkan sisa pasukannya. Pilihan pertama memang terdengar logis dan masuk akal, mengingat jika naga itu dikalahkan maka semua Golem ciptaannya akan ikut tumbang. Namun, yang menjadi masalah adalah Leo tidak memiliki cukup kekuatan untuk melakukannya, meski dengan bantuan Lia sekali pun, ia masih ragu untuk mengalahkannya. Hal ini kembali merujuk pada pilihannya yang harus dihadapkan untuk memilih bertarung atau melindungi mereka.
“(Sial...! Dalam keadaan ini, apa yang harus kulakukan...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.
Para Golem telah sepenuhnya mengepung mereka sementara naga itu telah siap mengambil langkah untuk menghabisi mereka semua. Di titik ini, Leo benar-benar tertekan oleh situasi yang dibuatnya. Naga itu telah sepenuhnya menguasai pertarungan ini.
“Leo...!” Seru Lia membunuh Golem yang berniat mengincar Leo.
“....!”
“Kita tidak punya banyak waktu! Pilihan kita hanya menghadapi naga itu!” Sambung Lia meyakinkan Leo.
“Aku tahu itu. Tapi...” Balas Leo menahan emosinya.
Para Golem mulai menyerang mereka tanpa henti ketika naga itu mulai bersiap melancarkan serangan berskala besarnya. Kini Leo semakin dipaksa untuk memilih antara bertarung bersama Lia atau bertahan bersama dengan sisa pasukan yang ada.
“Kalian berdua pergilah...! Kami akan menahan mereka di sini...!” Ujar Gald menghadapi Golem yang berniat menyerang mereka berdua.
“Gald... Kau...” Balas Leo terkejut.
“Serahkan yang di sini kepada kami...! Kami semua mengandalkan kalian...!” Ujar Zen memberi mereka semangat.
“Haaa...! Dia benar, pergilah sekarang sebelum dia melepaskan sihir mengerikan itu...!” Sambung Gald memukul mundur Golem itu dengan perisainya sebelum meyakinkannya.
Mendengar hal itu, Leo akhirnya menjadi semakin yakin mengambil keputusannya. Saat ini yang ia harus lakukan adalah mengalahkan naga itu sebelum jatuh korban jiwa lebih banyak akibat Golem itu.
“Baiklah, kuserahkan sisanya kepada kalian!” Ujar Leo sebelum akhirnya berlari menuju naga itu.
“Ya! Serahkan saja pada kami!” Balas Gald dengan senyum percaya diri.
“Leonard-san, kalahkan naga itu secepatnya!” Sambung Zen memberi semangat.
Setelah menyerahkan sisanya kepada mereka, Leo bersama dengan Lia di sisinya langsung menghadapi naga itu. Kekuatan yang dikumpulkannya kian membesar hingga menyebabkan seluruh tempat ini nyaris tertutup oleh cahayanya. Itu adalah konsentrasi sihir yang sangat tinggi, jika itu sampai dilepaskan, maka semua yang ada di sini akan musnah seketika termasuk seluruh reruntuhan kota kuno itu. Mereka harus segera menghentikannya sebelum semuanya terlambat.
“(Aku tidak suka menunjukkan gaya bertarung Thearian, tetapi saat ini aku tidak punya pilihan lain lagi...)” Ujar Leo dalam hatinya.
Leo pun melihat sekitar pada salah seorang petualang yang tengah bertarung dengan Golem itu. Perhatiannya seketika tertuju pada senjata yang dia pegang. Pemuda itu menggunakan Greatsword sebagai senjatanya yang mana sangat Leo butuhkan saat ini.
“Lia, hentikan sihir naga itu! Aku akan menyusulmu!” Ujar Leo berlari ke arah lain.
“... Aku mengerti!” Balas Lia berlari meninggalkannya.
Leo langsung menuju ke arah pemuda itu yang kian terdesak oleh Golem-Golem itu sebelum akhirnya Leo datang untuk membantunya. Dengan satu serangan cepat, Leo membelah tubuh Golem itu menjadi dua sebelum ia menghampiri pemuda tersebut.
“Kau baik-baik saja, kawan?” Tanya Leo dengan nafas terengah-engah.
“A-Ah. Uh. Tentu... Kau menyelamatkanku...” Balas pemuda itu dengan wajah canggung.
“Baguslah kalau begitu. Langsung pada intinya, aku ingin bertukar senjata denganmu.” Balas Leo tanpa ragu-ragu.
“E-Eh...?! Bertukar senjata...?!” Balas pemuda itu terkejut.
“Tolonglah, ini keadaan darurat. Aku pasti akan mengembalikannya. Dan juga, kau terlihat sedikit kesulitan menggunakannya...”
“U-Uh...”
“Tidak apa, aku tahu perasaan itu. Tapi, saat ini aku benar-benar butuh senjatamu. Maukah kau meminjamkannya kepadaku?”
“Uh...”
Meski awalnya sempat ragu, pada akhirnya pemuda itu mau menyerahkan Greatsword-nya kepada Leo. Mereka pun setuju untuk bertukar senjata masing-masing. Namun...
“Di belakangmu...! Awas...!” Seru pemuda itu panik.
Tepat ketika mereka sepakat, sesosok Golem datang hendak menyerang Leo dari balik punggungnya. Namun, Leo yang sudah menyadari kedatangannya lantas dengan cepat mengayunkan Greatsword itu ke arahnya hingga membelah dua tubuhnya hanya dengan menggunakan satu tangannya. Sontak pemuda itu terperanga menyaksikan kekuatan Leo yang mampu mengayunkan pedang berat itu dengan mudahnya.
“Terima kasih, kawan! Aku berhutang kepadamu!” Ujar Leo tersenyum kepadanya.
“A-A-Apa... Kekuatan macam apa itu...” Gumamnya terkesima.
Setelah mendapatkan pedangnya, Leo pun pergi meninggalkannya yang dalam keadaan terkesima.
Sementara itu, ketika naga itu hampir menyelesaikan sihirnya, belasan serangan sihir berdatangan ke arahnya. Serangan itu tidak lain berasal dari Lia yang berniat menggagalkan rencananya menghapuskan tempat ini beserta semua orang di dalamnya. Namun, niat Lia digagalkan oleh sebuah mantra penghalang yang melindungi naga itu. Semua serangannya ditangkis oleh mantra penghalang itu sehingga tak satu pun dari serangannya mengenainya.
“Kalau begitu...” Bisik Lia mulai mengambil kuda-kuda.
Ketika Lia mulai membentuk kuda-kudanya, sejumlah besar sihir menyelimuti tubuhnya sesaat sebelum kekuatan sihir itu mulai berkumpul pada bilah pedangnya.
“Tehnik pedang: Tide of Crimson!”
Pedangnya seketika berkobar oleh cahaya merah tua yang menyala terang sebelum akhirnya ia mengayukan serangan berat sejalur diagonal ke atas layaknya sambaran burung walet. Guncangan hebat mengguncang lantai ketika serangan Lia menghantamnya hingga seluruh tempatnya berdiri amblas sesaat sebelum Lia melanjutkan serangannya. Ia menjatuhkan serangan tak berselang lama setelah serangan pertama dilancarkan. Seketika itu pula seluruh tempat itu berguncang oleh kekuatan Lia. Lantai yang berada di sekitarnya retak dan amblas jauh lebih dalam dari yang sebelumnya.
“Hgnh...!”
Meski serangannya sangat kuat, namun itu belum cukup untuk menghancurkan mantra penghalang itu. Kekuatan Lia masih belum cukup untuk mengalahkan naga itu. Meski begitu, Lia masih belum menyerah.
“(Tidak...! Masih belum...! Aku harus mengerahkan seluruh kekuatanku...!)” Ujar Lia dalam hatinya menguatkan tekadnya.
Lia mengerahkan segenap kekuatannya untuk membuat serangannya bertambah kuat. Sihir yang menyelimuti pedangnya kini jauh lebih terang dan kuat hingga membuat mantra penghalang itu perlahan menunjukkan tanda-tanda kehancuran.
“Haaaa...!!”
Dan pada akhirnya, mantra penghalang itu pun hancur bagaikan jendela kaca yang pecah terkena lemparan batu sesaat sebelum serangan Lia mencapai naga itu.
“Rrrrrrr...?!!”
Tepat ketika serangan Lia memotong sihir miliknya, ledakan dahsyat tercipta hingga menelan seluruh tempat itu. Semua orang yang ada di sana seketika terhempas tak terkecuali Lia yang juga turut menjadi korbannya. Namun, Leo dengan sigap menangkapnya sebelum ia terlempar lebih jauh seperti lainnya.
“Lia, bertahanlah...!” Seru Leo mendekap Lia.
Langit-langit runtuh berjatuhan serta lantai yang ada di atas mereka kini rata dengan lantai bawah yang sama-sama hancur akibat ledakan tersebut. Semua yang ada di tempat itu hancur luluh lantak dengan tanah, namun beruntungnya tidak ada korban jiwa dari pihak mereka.
“Ugh...! A-Apa serangan itu berhasil...?” Tanya Zen menggeliat dari balik reruntuhan.
“Entahlah... Tetapi aku yakin dengan serangan sekuat itu, dia pasti terluka cukup parah...” Balas Gald yang berada di dekatnya.
__ADS_1
“Ya ampun... Alicia-san benar-benar tidak menahan diri kali ini... Dan inilah yang terjadi...” Balas Zen bangun dari tempatnya sebelum melihat sekitarnya yang hancur.
Terlihat beberapa prajurit dan petualang yang selamat bangkit dari puing-puing yang menimpa mereka. Meski mereka semua selamat, korban cidera tidak dapat dihindari. Beberapa dari mereka mencoba menyelamatkan rekan mereka yang terjebak reruntuhan.
“Wein... Kau baik-baik saja...?” Ujar Willem membantu Wein yang tertimpa retuntuhan.
“Kau baik-baik saja di sana...?” Sambung Gideon menghampirinya.
“Ugh... Yah, begitulah... Masih lebih baik dari pada kalian berdua...” Jawab Wein dengan nada tercekik.
“Mungkin sebaiknya kami meninggalkanmu terus berbaring saja...” Balas Willem mengurungkan niatnya.
“Ayolah, aku hanya bercanda...” Balas Wein mengulurkan tangannya.
Mereka berdua membantu Wein bangkit dari reruntuhan itu sebelum akhirnya mereka bertiga kembali berkumpul bersama.
“Jadi, bagaimana situasinya..?” Tanya Wein kepada mereka berdua.
“Seperti yang bisa kau lihat... Semuanya hancur tak bersisa... Sepertinya ledakan barusan berasal dari pertarungan mereka melawan naga itu...” Balas Willem menghela nafas.
Sementara itu, Leo dan Lia yang berhasil bertahan akhirnya bangun dari tempat mereka. Berkat bantuan Leo, setidaknya Lia bisa bertahan dari gelombang kejut ledakan itu tanpa mengalami luka yang serius meski ia harus kehilangan sebagian besar kekuatannya untuk menghancurkan mantra penghalang naga itu.
“Lia, kau baik-baik saja...?” Tanya Leo membantunya bangun.
“... Mm.” Balas Lia mengangguk.
“Kau berhasil mencegahnya menghancurkan tempat ini, tetapi...” Balas Leo mengalihkan pandangannya.
“Tapi...?”
“Pertarungan kita yang sebenarnya di mulai dari sini...”
“...?!!”
Dari balik asap hitam itu, terpancar secercah cahaya hitam keunguan sesaat sebelum suara geraman terdengar dari baliknya. Asap itu perlahan menyebar ke seluruh tempat itu membawa perasaan mencekam bersamanya ketika sosok naga itu kembali menampakkan dirinya di hadapan mereka. Seketika, semua orang yang menyaksikannya terkejut dan terperanga melihat sosoknya yang kini berubah.
“M-M-Mustahil....!”
“D-Dia masih hidup...?! Apa itu benar naga yang tadi...?!”
“M-Monster...!!”
Kulit dan sisiknya yang semula berwarna merah kabur kini berubah menjadi hitam keunguan dengan beberapa bagian tubuhnya terkorosi hingga pada luka yang dideritanya ikut memancarkan cahaya keunguan. Bahkan, energi sihir yang ada di bagian sisi tubuh besinya ikut terkontaminasi oleh kekuatan yang sama hingga membuatnya terlihat jauh mengerikan. Kabut hitam yang keluar dari tubuhnya ikut menambah seram wujud barunya.
“Dia berubah wujud...? Bagaimana bisa...?” Tanya Lia dengan wajah panik terkesima
“Itu wujud yang muncul dari jasad yang menyimpan kebenciannya terhadap dunia ini... Meski jiwanya telah pergi, amarah dan kebenciannya melekat kuat pada tubuhnya dan terlahirlah sebuah kutukan...” Balas Leo dengan wajah serius.
“Kutukan...?”
“Kami menyebutnya kutukan kematian naga... Kutukan yang dapat membangkitkan kembali naga yang telah tewas dan mengubahnya menjadi naga malapetaka... Begitulah kami menyebutnya...”
Seperti yang Leo sampaikan, itu adalah wujud asli naga itu yang mengalami kutukan kematian. Jika seekor naga tewas, maka tubuhnya akan dirasuki sebuah kekuatan gelap yang membuat mereka dapat kembali dari kematian dan merubah mereka menjadi naga pembawa bencana. Tidak hanya berbahaya, naga yang bangkit kembali dari kematian mereka juga akan menjadi jauh lebih kuat dari pada saat mereka hidup. Tidak ada yang tahu jelas bagaimana hal ini bisa menimpa mereka, namun yang pasti kehadiran mereka akan menjadi mimpi buruk bagi siapa pun yang berhadapan dengannya.
“Grrrr....”
“H-Habislah kita... Habislah kita semua...”
“Kita tidak mungkin melawannya... Kita pasti akan mati...”
“Percuma saja... Tidak ada harapan...”
Semangat bertarung mereka seketika padam ketika menyaksikan wujud baru naga tersebut. Namun, Gideon yang belum menyerah memberanikan dirinya untuk berseru kepada seluruh pasukannya agar menguatkan diri mereka untuk melanjutkan pertarungan.
“Dengarkan kalian para tikus tidak berguna...! Pertarungan kita masih belum selesai...! Tapi apa yang kudapatkan di sini...! Kalian sekumpulan orang tidak berguna langsung ketakutan menyaksikan kadal itu bangkit dari balik kepulan asap..!” Seru Gideon dengan nada angkuh.
Semuanya hanya diam tidak ada satu pun yang menjawab. Mereka semua masih ketakutan menyaksikan kenyataan bahwa mereka tidak memiliki harapan untuk mengalahkannya. Namun, Gideon masih belum menyerah, ia sekali lagi mengangkat suaranya dan berseru kepada pasukannya yang tengah putus asa.
“Kalian semua bayi cengeng...! Apa ini sikap kalian ketika ibu kalian meninggalkan kalian...! Bangun kalian semua dasar anak ******...! Pertarungan kita belum usai...!” Seru Gideon dengan wajah marah.
“O-Oi. Gideon, kau terlalu berlebihan...” Balas Wein di sampingnya dengan wajah cemas.
“Berlebihan...? Apa yang kau katakan...! Aku hanya mengatakan kebenaran...! Kebenaran bahwa kalian semua hanya pecundang dan pengecut yang hanya berani ketika berada di antara rok ibu kalian...!” Balas Gideon dengan nada tinggi.
“Oi. Itu sudah kelewatan! Sebaiknya kau hentikan itu!” Balas Willem mengangkat alisnya.
Mendengar hal itu, beberapa dari mereka merasa tersinggung dan berniat membalas.
“Tutup mulutmu anjing pemerintah...! Tidakkah kau lihat bagaimana situasinya...!” Seru salah seorang petualang membalasnya.
“Dasar pemakan pajak...! Jangan sombong hanya karena hidupmu enak...! Kami setiap hari harus mempertaruhkan nyawa demi makan...!” Sambung yang lainnya ikut membalasnya.
“Benar...! Itu benar...! Diamlah kau kaki tangan perampok...!” Ujar yang lain ikut menyorakinya.
Beberapa prajurit yang mendengarnya pun tersinggung sebelum akhirnya mereka mulai bertengkar dengan petualang yang menyoraki Gideon. Mereka saling mengejek satu sama lain ketika Leo yang mengamati naga itu mulai menyadari sesuatu dari gerak geriknya.
“Waspadalah...! Dia mulai bergerak...!” Ujar Leo dengan nada serius.
“T-Tunggu dulu, apa maksudmu Leonard...?” Balas Gald bertanya dengan wajah gelisah.
“Kutukan itu memerlukan waktu untuk mengambil alih tubuhnya. Dia hampir selesai melakukannya dan jika sampai berhasil, maka ini akhir bagi kita semua!” Balas Leo menjelaskan dengan wajah pucat.
“A-Apa...?! Lantas apa yang harus kita lakukan?” Balas Zen terkejut.
“Jika saja aku bisa menyerangnya sebelum dia bangkit sepenuhnya, tetapi kabut hitam itu mencegahku melakukannya. Kabut itu adalah racun yang sangat mematikan, aku tidak bisa mendekatinya jika seperti ini...” Balas Leo dengan ekspresi tegang.
Mendengar hal itu, Lia pun bangkit dari tempatnya berniat menolong Leo. Namun, ketika ia hendak melakukannya, ia nyaris terjatuh karena lemas. Kekuatannya terkuras banyak demi untuk menghancurkan mantra penghalang naga itu.
“Lia, jangan paksakan dirimu...!” Ujar Leo menangkapnya.
“Tidak... Aku harus melakukannya... Hanya aku yang bisa...” Balas Lia dengan nafas berat.
“Kau sudah menggunakan kekuatanmu terlalu banyak. Jika lebih dari ini, kau akan...” Balas Leo menghentikan niat Lia.
“Aku harus... Karena jika tidak... Kau yang akan... Terluka lagi...” Balas Lia dengan nada sedih.
__ADS_1
“Lia, kau...” Gumam Leo terkejut.
“Alicia-san...” Ujar Zen prihatin.
“Alicia...” Gumam Gald ikut prihatin.
Leo pun memutar otaknya guna mencari cara lain untuk mengalahkan naga itu. Ia tidak bisa terus mengandalkan Lia, ia juga harus bertarung meski dengan kekuatannya yang terbatas. Ia melihat sekitar sebelum akhirnya melihat Chrea dan Kirishima yang berada di arah jam 5 dari tempat mereka berada.
“Gald...! Zen...! Bawa Chrea dan Kirishima kemari! Mereka ada di sana...! Aku punya rencana...!” Ujar Leo memanggil sebelum menunjuk ke satu titik tepat di mana mereka berdua berada.
“Baiklah...!” Balas Gald setuju.
Gald melihat pada Zen sesaat sebelum mereka saling mengangguk satu sama lain. Atas kesepakatan, Zen pun bergegas berlari menghampiri mereka berdua ketika Gideon membalas cacian para petualang.
“Jika kalian tidak terima ucapanku, maka itu artinya kalian masih punya keberanian untuk hidup...! Gunakan itu untuk melawan ketakutan kalian dasar tikus tidak berguna..! Jangan menyerah begitu saja...! Kita pasti akan mengalahkan makhluk itu jika kita menyatukan kekuatan kita...!” Seru Gideon dengan nada lantang.
“....”
“Angkat kaki kalian dan seret mayat kalian..! Ini adalah pertarungan yang akan kita menangkan...! Ini bukanlah akhir...! Kita sendiri yang menentukan akhir dari nasib kita...!” Sambung Gideon berbalik melihat ke arah naga itu mengangkat pedangnya.
Mendengar kata-kata Gideon, anggota pasukan yang tersisa kembali menemukan semangat juang mereka yang sebelumnya padam. Teriakan marah Gideon membangkitkan kobaran api di dalam jiwa mereka sebelum akhirnya mereka perlahan bangkit dan berseru dengan penuh semangat.
“OOOOUUUUHHHHH..!!!”
Mereka kembali mendapatkan rasa percaya diri mereka setelah mendengar kata-kata Gideon yang memberi mereka keberanian untuk melawan ketakutan mereka. Akan tetapi, bersamaan dengan hal itu, kekuatan hitam yang terpancar dari tubuh naga itu semakin menguat hingga pada akhirnya naga itu sepenuhnya kembali bangkit dari kematiannya.
“Grrrrr....”
Leo yang menyadarinya seketika memasang wajah panik. Ia lantas berseru kepada semua orang yang ada mencoba memberi mereka peringatan, namun pada saat yang sama pula ia terlambat.
“Semuanya berlindu—“
Tepat sebelum Leo berhasil mengatakannya, naga itu melepaskan kekuatan yang dahsyat. Seluruh tempat itu berguncang bagaikan dilanda gempa bumi bersamaan dengan menyebarnya kabut hitam itu ke seluruh penjuru tempat tersebut. Seketika itu pula, semua yang ada di sana tertelan dalam kabut hitam mematikan itu.
“AAAARRRRGHHHH...!!!”
Tubuh mereka seketika berubah perlahan layaknya warna kabut itu. Bersamaan dengan itu, rasa sakit yang luar biasa menyerang ketika tubuh mereka perlahan hancur berguguran layaknya arang yang menjadi abu. Rintihan mereka menggema menciptakan mimpi buruk yang nyata bagi mereka yang bertahan dan menyaksikan pemandangan mengerikan itu.
“H-Hiiiiiiii...!!”
Dalam sekejap mata, naga itu membantai nyaris seluruh pasukan hanya dengan menyisakan beberapa orang saja. Mereka yang bertahan dapat dihitung dengan satu jari tangan, selain mereka, semuanya nyaris tidak tersisa. Jasad mereka bahkan lenyap tak menyisakan apa pun kecuali abu yang terbang tertiup angin menjadi butiran debu.
“Lia... Kau baik-baik saja...?” Tanya Leo kepada Lia sambil memindahkan tubuhnya darinya.
“... Mm. Aku baik-baik saja.” Balas Lia dengan nada lemah.
Leo melihat sekitar guna memastikan korban yang masih selamat. Namun, dari sekian banyak pasukan yang ada, hanya dua orang saja yang tersisa selain dirinya, Lia dan Gald. Mereka berhasil selamat karena tubuh mereka tertimpa puing-puing bangunan yang secara kebetulan melindungi mereka dari kabut hitam itu.
“Hah... Hah... Hah... Alicia, Leonard... Syukurlah kalian berdua... Berhasil selamat... Ughh...!!” Ujar Gald memegang perisainya dengan nafas berat sebelum akhirnya memuntahkan darah dari mulutnya.
“Gald....!!” Seru Leo dan Lia bersamaan.
“A-Aku baik-baik saja... Bagaimana... Dengan... Zen... Chrea... Dan Kirishima...?” Balas Gald sebelum melihat ke arah Leo bertanya.
“....”
Dengan sisa-sisa kekuatannya, Gald mencoba bertahan dari kontaminasi kabut hitam itu. Dialah yang melindungi Leo dan Lia dengan mengorbankan dirinya sebagai perisai guna menghalang kabut itu. Dan sebagai akibatnya, sebagian tubuhnya terkorosi oleh racun mematikan yang mengancam nyawanya.
“(Dia terpapar kabut itu hanya demi melindungi kami berdua... Kondisinya sangat memprihatinkan...)” Ujar Leo dalam hatinya prihatin.
Leo tidak mengira dia akan melakukannya sampai sejauh itu hanya untuk melindunginya dan Lia. Namun, pada saat yang sama pula Leo turut prihatin setelah mengetahui bahwa ketiga temannya tidak berhasil selamat dari serangan kabut mematikan itu.
“Bagaimana... Keadaan... Mereka bertiga...? Di mana... Mereka...? Mereka... Selamat juga... Bukan...?” Sambung Gald kembali bertanya dengan nada lemah.
“....”
“....? Kenapa... Dengan... Ekspresi itu...? Kenapa... Kau tidak... Menjawab... Leonard...? Di mana... Ketiga adikku...?” Tanya Gald kembali dengan ekspresi pucat.
“.....”
“O-Oi...! Leonard...! Katakan sesuatu...!” Ujar Gald dengan wajah panik bercampur marah.
Leo tidak mampu mengatakannya kepada Gald bahwa mereka bertiga telah tewas. Namun, tidak ada lagi yang bisa ia sembunyikan darinya.
“(Aku tidak ingin mengatakannya, tetapi aku tidak punya pilihan lain lagi...)” Ujar Leo dalam hatinya kesal.
Dengan menguatkan hatinya, Leo memantapkan diri untuk mengatakan yang sejujurnya kepada Gald mengenai nasib ketiga adiknya.
“Gald... Mereka semua telah tewas... Kabut itu menelan mereka ketika aku terlambat menyadarinya...” Ujar Leo mengepalkan tinjunya kecewa.
“A-Apa...? Mereka... Tewas...?” Balas Gald dengan wajah syok.
“Maafkan aku... Ini semua adalah salahku... Harusnya aku tidak menyuruhmu mengikuti rencanaku... Maaf, aku mohon maafkan aku...!” Balas Leo menundukkan kepalanya menyesal.
“Z-Zen... Chrea... Kirishima... Mereka semua... Telah...”
“....”
“Mereka... Tewas...”
Air mata kesedihan tidak lagi dapat dibendung oleh Gald ketika ia mendengar kenyataan bahwa mereka bertiga tewas tertelan kabut hitam itu. Ia melihat sekeliling guna mencari mereka, namun sayangnya ia tidak menemukan siapa pun kecuali dirinya seorang. Ia yang awalnya meragukan ucapan Leo kini akhirnya sadar bahwa ketiga adiknya telah pergi sesaat sebelum ia menangis meratapi mereka.
“Zen... Chrea... Kirishima... Kenapa...? Kenapa...?” Ujar Gald sambil menangis.
“....”
“Kenapa... Kenapa aku... Tidak bisa... Melindungi... Kalian bertiga...! Kenapa...! Jika saja... Aku punya Skill...! Semua ini... Semua ini... Tidak akan... Terjadi...!!” Sambungnya dengan nada marah.
Leo dan Lia hanya bisa terdiam melihat keadaan Gald yang terpukul. Mereka berdua juga ikut prihatin atas kepergian mereka, khususnya Leo. Bagaimana pun juga, mereka adalah teman pertama di kota ini sekaligus orang yang menerima Leo apa adanya meski mereka tahu bahwa ia tidak memiliki Skill. Mereka adalah teman yang baik dan yang selalu Leo impikan, namun semua itu lenyap begitu saja. Ia turut sedih dan juga bertanggung jawab atas kematian mereka.
“(Jika saja... Jika saja aku tidak mengatakan hal itu kepada mereka... Mungkin saja ini semua tidak akan terjadi...!)” Ujar Leo dalam hatinya kecewa.
Namun, di saat yang bersamaan, naga yang telah sepenuhnya bangkit oleh kekuatan kutukan itu kini mengincar mereka. Sebagai pasukan terakhir yang masih tersisa, mereka adalah alasan utama kemarahannya. Aura hitam keunguan yang mengerikan menyelimuti tubuhnya ketika ia menatap mereka dengan sisi bagian wajah besinya sebelum akhirnya ia meraung melampiaskan kemarahannya kepada mereka.
“Rrrrrrr...!!!”
__ADS_1
Dalam keadaan terpuruk akibat kehilangan rekan mereka, Leo, Lia dan Gald harus kembali berhadapan dengan naga itu yang kini berubah semakin ganas akibat kutukan kematian.