Black Arc Saga

Black Arc Saga
Kedatangan dan kepergian


__ADS_3

... ...


Keesokan harinya, berita menghilangnya Leo dan Lia telah menyebar ke seluruh kota hingga mencapai ke telinga sang walikota. Dengan ekspresi kesal ia melemparkan cangkir keramik berisi teh ke dinding ketika mendengar informasi itu dari Irene yang mendapatkan laporan dari perawat rumah sakit.


 


“Bagaimana bisa mereka menghilang...! Bukankah mereka sedang terluka pasca kejadian itu...!” Ujar walikota dengan nada tinggi.


 


“Kelihatannya mereka berdua pergi menjelang malam hari. Para perawat mengatakan bahwa sore kemarin mereka masih melihat mereka berada di ruangan mereka.” Balas Irene memalingkan wajahnya dengan sikap tenang.


 


“Bagaimana mungkin orang sakit bisa meninggalkan kota dalam waktu satu malam...! Apa yang para penjaga itu lakukan...! Ini benar-benar tidak bisa dipercaya...!” Balas sang walikota menghantam meja.


 


“Kalau masalah itu... Saya rasa juga ingin tahu bagaimana mereka melakukannya...” Balas Irene dengan mengerutkan alisnya.


 


Irene mengingat pertemuannya dengan Leo sebelumnya. Ia sempat mendesaknya hingga membuatnya berbalik mengancamnya. Pada saat itulah ia sadar bahwa ada sesuatu yang aneh padanya. Sementara luka Lia terbilang cukup parah, dia sama sekali tidak terluka meski merela berdua sama-sama menjadi korban. Hal inilah yang menjadi pertanyaan baginya selama ini.


 


“(Tatapan orang berambut putih waktu itu bukanlah salah satu dari Skill mata sihir... Bahkan tanpa Skill milikku aku tahu orang itu bukan orang sembarangan. Ada sesuatu yang di luar nalar manusia tersembunyi dalam dirinya...)” Ujar Irene dalam hatinya curiga.


 


Walikota kembali duduk di kursinya ketika Irene terhanyut dalam pikirannya sendiri sebelum akhirnya walikota menghela nafas panjang kembali mengeluh.


 


“Dengan hilangnya saksi, percuma saja menyelidiki sisa-sisa ledakan itu meski dengan bantuan Ksatria Suci sekalipun... Kota ini sudah tidak ada harapan lagi...!” Ujar walikota memegang keningnya.


 


“Saya kira tidak seburuk itu juga... Meski pertambangan hilang, kita masih berada di jalur perdagangan yang membuat kita dalam posisi yang menguntungkan untuk membuka bisnis baru.” Balas Irene kembali pada topik.


 


“Tidak ada yang bisa dimanfaatkan di tanah ini selain pertambangan. Jika hanya mengandalkan pajak dari pedagang yang transit, itu tidak memberiku cukup keuntungan. Ditambah, orang-orang di sini rata-rata hanya buruh tambang, tidak ada hal yang bisa dimanfaatkan lagi di kota ini.” Balas walikota dengan ekspresi muram.


 


“... Saya akan membuatkan tehnya lagi.” Balas Irene mencoba meloloskan diri membuat alasan.


 


“Tidak, lupakan saja. Bawakan aku Wine. Aku butuh mendinginkan kepalaku sejenak...”


 


“Tapi, bukankah anda akan bertemu dengan tuan Ksatria Suci Morgen setelah ini? Apa anda yakin?”


 


“Tsk. Merepotkan saja... Ya. Ya. Bawakan saja aku kopi sebagai gantinya.”


 


“Dimengerti.”


 


Namun, tepat ketika Irene hendak meninggalkan ruangan, secara mengejutkan seorang prajurit datang dari balik pintu dan merubah suasana.


 


“Permisi, tuan walikota! Saya punya berita untuk anda!” Ujar prajurit itu dengan wajah penuh keringat.


 


“Tsk. Lagi-lagi masalah bertambah...” Gumam walikota mengeluh dari mejanya.


 


“Ara. Ada berita penting apa hingga membuatmu tergesa-gesa seperti itu?” Balas Irene dengan wajah datar.


 


“Ksatria Suci Morgen-sama sudah tiba bersama para pengawalnya...!” Jawab prajurit itu dengan wajah panik.


 


Sementara itu, jauh dari kota Hillbern, Leo dan Lia yang tengah dalam perjalanan memutuskan untuk berhenti dan beristirahat setelah menempuh perjalanan cukup panjang. Keadaan Lia saat ini memaksa mereka berdua untuk lebih sering berhenti agar mencegah kondisi Lia menjadi lebih buruk.


 


“Bagaimana kalau kita istirahat di bawah pohon sana. Kau tampak lelah, Lia...” Ujar Leo memegang tangan Lia yang sempoyongan.


 


“Mnh... Mm. Kurasa begitu...” Balas Lia dengan nada lemah.


 


Mereka memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon yang ada di tepi sungai yang berada tak jauh dari jalan. Di sana, Leo menyandarkan Lia pada pohon itu selagi membiarkannya istirahat sejenak.


 


“Kau baik-baik saja? Ada yang bisa kulakukan?” Tanya Leo dengan nada lembut.


 


“Mm... Aku baik-baik saja. Hanya sedikit kelelahan dan kepanasan...” Balas Lia dengan nafas berat.


 


“Yah, kurasa kau terlalu memaksakan diri. Dan juga, kurasa cuaca panas ini karena kita hampir mendekati penghujung musim semi. Aku merasa udara menjadi lebih panas dari biasanya...” Balas Leo sebelum melihat ke langit melewati dedaunan.


 


“Wajar bagimu karena kau adalah orang selatan. Kudengar musim dingin di sana jauh lebih lama dari pada kami di utara.”


 


“Begitulah... Sejujurnya aku lebih suka musim panas dari pada musim dingin. Monster tertentu hanya aktif saat musim dingin tiba, sekaligus sumber makanan di alam lebih berlimpah dibandingkan musim dingin.”


 


“Dalam masalah berburu monster, aku tidak bisa berdebat denganmu yang seorang Thearian. Kau tahu banyak soal lingkungan dan alam melebihi yang aku pelajari...”


 


“Yah, ada baik dan buruknya tinggal jauh di pedalaman hutan berlembah...”


 


Tanpa Leo sadari, hubungan mereka menjadi lebih erat setelah kejadian itu. Bagaimana pun juga, Leo tidak merasa keberatan jika hubungan di antara mereka terus berlanjut. Hanya saja, masih ada masalah yang mengganggunya selama ini mengenai Lia.


 


“Lia, mengenai tujuan kita... Apa kau punya alasan khusus melakukannya?” Tanya Leo mengubah topik.


 


“... Aku juga tidak mengerti. Bisa dibilang aku hanya ingin memastikan apakah perkiraanku ini benar atau tidak mengenai rencananya.” Balas Lia dengan wajah ragu.


 

__ADS_1


“Tapi, bukankah kau mengatakan jika ada perselisihan di dalam kerajaan? Dan salah satu sisi berniat menggunakan peninggalan kuno yang ada di kota Winsberg sebagai senjata, bukankah itu yang kau katakan?”


 


“... Ya. Itu memang benar. Namun, itu semua hanya dugaanku yang berdasarkan kabar dan rumor yang kudengar ketika masih tinggal di ibu kota. Tapi, aku menyimpulkan semua itu setelah kita menemukan jejak peninggalan kuno di bawah kota Hillbern. Awalnya aku mengira itu hanya rumor, tetapi aku memikirkan ulang mengenainya...”


 


Sebelumnya, ketika mereka berdua membahas tujuan perjalanan mereka selanjutnya, Lia menyarankan Leo untuk pergi menuju kota Winsberg. Awalnya ia menyarankannya dengan alasan ingin menyelidiki lebih lanjut sejarah mengenai kerajaan kuno yang membangun fasilitas penelitian rahasia tersebut. Namun, kini terungkap bahwa tujuan utama Lia ingin pergi ke sana karena berniat memastikan bahwa dugaannya benar atau salah.


 


“Memangnya rumor apa yang kau dengar di kota Winsberg?” Tanya Leo sambil memikirkan perkataannya sebelumnya.


 


“Menurut rumor yang kudengar, seorang Ksatria Suci telah dikirim ke kota itu untuk menyelidiki sebuah situs kuno yang baru-baru ini mereka temukan. Dan menurut informasi yang kudapatkan, dia berasal dari fraksi yang kucurigai bertanggung jawab atas kejadian pembunuhanku...” Balas Lia dengan nada serius.


 


“Fraksi...? Jadi maksudmu, mereka telah membentuk kekuatan sendiri...? Kalau begitu, itu artinya...” Balas Leo dengan wajah pucat sadar maksud ucapan Lia.


 


“... Benar. Pemberontakan.”


 


“Yang benar saja...”


 


“Kemungkinan besar, mereka menggali senjata kuno untuk digunakan menggulingkan kerajaan. Itulah kenapa aku ingin mencegahnya...”


 


Leo tidak mengira bahwa Lia terlibat dalam konflik sebesar ini. Selama ini ia hanya mengira bahwa Lia hanya terlibat kasus pembunuhan anggota keluarga dalam perebutan hak waris. Ia sering mendengar masalah itu terjadi di kalangan bangsawan dan mengira Lia dalam masalah tersebut, namun sungguh di luar dugaan bahwa dia terlibat dalam masalah yang jauh lebih besar.


 


“(Sekarang semua terasa masuk akal... Aku sekarang mengerti kenapa Ksatria Suci itu berusaha membunuh Lia... Ini benar-benar di luar dugaanku...)” Ujar Leo dalam hatinya terkejut.


 


Ini akan menjadi ancaman yang serius jika sampai perang saudara pecah di kerajaan ini. Walau sejujurnya Leo tidak tertarik ikut campur dalam masalah internal negara, namun ia tidak bisa membiarkan Lia sendirian menanganinya. Terlebih, setelah nyawanya diincar membuatnya sadar bahwa Lia termasuk dalam daftar target mereka.


 


“(Ini tidak bisa dimaafkan...! Meski aku orang luar, aku tidak bisa memaafkan apa yang mereka lakukan terhadap Lia...!)” Sambung Leo dalam hatinya marah.


 


Morgen akhirnya tiba di kantor walikota bersama dengan pengawalnya ketika Irene dan walikota sendiri menyambutnya.


 


“Selamat datang di kota Hillbern, Morgen-sama. Senang melihat anda sampai dengan selamat.” Ujar sang walikota menundukkan badannya dengan nada sopan.


 


“Selamat datang, Ksatria Suci Morgen-sama.” Sambung Irene membungkukkan badannya hormat.


 


“Hm.”


 


“Anda pasti lelah setelah perjalanan panjang ini, bagaimana jika saya menawarkan secangkir teh untuk and—“ Ujar walikota sebelum terpotong.


 


“Tidak perlu. Aku akan mengatakannya langsung saja. Aku tidak ingin berlama-lama di sini...” Balas Morgen dengan nada angkuh.


 


 


“Bagus. Kau bisa menjelaskannya dalam perjalanan. Kita pergi ke lokasi sekarang.” Balas Morgen membalikkan badan meninggalkan tempatnya.


 


“E-Eh...? Bagaimana dengan...” Balas walikota dengan wajah bingung.


 


“Aku tidak perlu sambutan murahanmu. Aku hanya ingin menyelesaikan masalah ini dan kembali ke ibu kota secepatnya.” Ujar Morgen mengabaikannya.


 


Morgen meninggalkannya begitu saja menuju kudanya sesaat sebelum sang walikota marah atas sikap dinginnya.


 


“Sialan...! Dia sama sekali tidak mendengarkanku...! Padahal aku sudah repot-repot menyiapkan jamuan untuk menyambutnya...!” Gumam walikota kesal.


 


“Tolong tenangkan diri anda, tuan walikota. Saya tahu anda kesal, tapi sebaiknya kita bergegas menyusulnya sebelum Ksatria Suci itu marah. Kita tidak ingin ada masalah dengannya, bukan?” Balas Irene dengan sikap tenang.


 


“Tsk. Baiklah. Baiklah! Aku tahu itu! Segera siapkan kudaku!” Balas walikota menggerutu sebelum berseru kepada penjaganya.


 


Mereka berdua pun menuntun Morgen menuju lokasi bekas insiden itu terjadi. Terlihat dalam perjalanan, beberapa bangunan di sudut kota mengalami kerusakan sebagai dampak gempa dan hembusan udara akibat ledakan tersebut. Meski tidak sampai meluluh lantakkan kota, namun sisi bagian barat kota menjadi wilayah yang paling parah terdampak dibandingkan bagian yang lain. Ini menjadi pemandangan yang cukup membuat Ksatria Suci itu penasaran mengenai apa yang sebenarnya telah terjadi.


 


Setelah memakan waktu dalam perjalanan, mereka akhirnya sampai pada tempat yang sebelumnya menjadi pintu masuk pertambangan. Dari tempat itu, mereka dapat melihat kawah yang dasarnya tertelan oleh kegelapan terbentang beberapa mil di hadapan mereka.


 


“Inilah tempat di mana kejadian itu bermula, Morgen-sama. Seperti yang bisa anda lihat, ini adalah kawah sisa ledakan misterius yang terjadi beberapa hari yang lalu...” Ujar Irene menjelaskan singkat mengenai kawah tersebut.


 


“Jadi di sini, huh? Jika dilihat dari diameternya, kurasa hampir mencapai 10 mil. Tidak salah lagi ini pasti sihir tingkat tinggi yang menjadi penyebabnya...” Balas Morgen sebelum turun dari kudanya mengamati kawah.


 


“Sihir tingkat tinggi...? Sihir macam apa yang anda maksud...?” Tanya walikota dengan wajah bingung.


 


“Bukankah kalian yang harusnya menjawab pertanyaan itu? Aku dengar kabar ada beberapa orang yang menjadi saksi mata sekaligus korban selamat dari insiden ini. Mereka seharusnya yang memberitahu kalian.” Balas Morgen dengan nada marah.


 


“U-Uh. K-Kalau soal itu...” Balas walikota dengan wajah pucat.


 


“Aku tidak bisa melanjutkan penyelidikan jika informasi yang kalian berikan tidak mencukupi. Bagaimana bisa aku menyelesaikan masalah ini?” Ujar Morgen menatapnya dengan wajah marah.


 


Walikota itu seketika terdiam sebelum ia memalingkan pandangannya ke arah Irene sambil memberinya isyarat untuk menggantikannya bicara kepadanya. Irene pun menghela nafas panjang sebelum menuruti keinginannya.


 

__ADS_1


“Mohon maaf, Morgen-sama, informasi yang kami dapatkan sayangnya hanya sampai sana saja. Saksi mata yang selamat juga merupakan seorang petualang tingkat Argentite. Mereka kemungkinan tidak tahu banyak mengenai sihir dan tingkat menengah ke atas.” Ujar Irene menjelaskan menggantikan walikota.


 


“Humph. Tidak mengherankan jika informasi yang kalian dapatkan sangat dangkal. Jadi, kalian juga menyewa petualang untuk menjelajah reruntuhan kuno, huh? Apa kalian yakin mereka tidak menyembunyikan atau bahkan mencuri artefak yang mungkin bernilai bagi kerajaan?” Balas Morgen menggerutu sebelum bertanya kepada Irene.


 


“Ya. Guild petualang juga berani menjaminnya.” Balas Irene dengan wajah datar.


 


“Hm. Begitu. Ngomong-ngomong, siapa nama petualang yang memberikan informasi itu?” Balas Morgen kembali bertanya.


 


“Mereka dijuluki sebagai salju pengelana dan gadis pedang merah. Mereka adalah Leonard Ansgred dan Alicia Maple.” Jawab Irene singkat.


 


Morgen terdiam sejenak sebelum ia kembali fokus pada tugas yang diberikan kepadanya. Ia melihat ke dalam kawah itu dari tepian sebelum ia mulai memperhitungkan rencananya.


 


“Kalian tetaplah di sini. Aku akan mencoba memeriksa dasar kawah ini.” Ujar Morgen kepada anak buahnya.


 


“Siap, tuan!” Balas mereka bersamaan.


 


“E-Eh...? Anda ingin turun ke dasar gelap itu...?” Tanya walikota terkejut.


 


“Memangnya kenapa? Kau ingin menghentikanku?” Balas Morgen dengan tatapan sinis.


 


“T-Tidak, bukan begitu... Maksud saya, bagaimana cara anda turun ke sana?” Balas walikota dengan wajah pucat.


 


Morgen berjalan menuju tepian kawah sesaat sebelum ia melompat begitu saja. Sontak hal tersebut membuat semua orang yang melihatnya terkejut.


 


“M-Morgen-sama...!!” Seru mereka semua panik bersamaan.


 


Mereka lantas bergegas menuju tepi kawah untuk memeriksanya. Morgen terjun bebas bahkan tanpa merasa ketakutan sedikit pun. Entah apa yang ada dalam pikirannya hingga membuatnya berbuat nekat seperti itu. Ia terjun bebas untuk beberapa saat sambil mengamati sekitarnya sesaat sebelum ia menarik pedangnya lalu menghunuskannya ke sisi tepi tebing yang ada di sampingnya.


 


“Humph!”


 


Dengan kekuatannya, ia menggunakan senjatanya sendiri sebagai pegangan. Pedangnya menyayat tebing itu vertikal ke bawah setinggi puluhan meter sebelum akhirnya menancap dengan kuat hingga menghentikannya dari kejatuhannya tepat sebelum ia menyentuh kabut hitam yang menyelimuti dasar kawah tersebut. Semuanya seketika menghela nafas lega begitu menyadari Morgen selamat berkat caranya sendiri.


 


“Itu benar-benar mengejutkan...! Apa semua Ksatria Suci nekat sepertinya...?” Ujar walikota dengan wajah lega.


 


“Setidaknya kita tahu bahwa tindakannya memiliki dasar. Walau rencananya terbilang di luar akal...” Balas Irene dengan ekspresi heran.


 


Sementara mereka semua di atas merasa keheranan dengan tindakan nekat Morgen, ia yang berada tepat di hadapan kabut hitam yang menyelimuti dasar itu mulai mengamati dan mempelajari apa yang terjadi.


 


“(Kabut ini adalah sisa sihir yang menjadi sumber ledakan itu... Meski hanya sisa, aku bisa merasakan kekuatan yang sangat kuat...)” Ujar Morgen dalam hatinya berpikir.


 


Atmosfer yang ada di sekitarnya terasa lebih mencekam dari pada ketika ia berada di atas kawah. Ditambah dengan kenyataan bahwa ia masih jauh dari dasar membuatnya berpikir ulang mengenai rencana awalnya.


 


“Kalau begitu, hanya ada satu kemungkinan yang menjelaskan semua ini...” Gumam Morgen sebelum melihat kembali ke atas.


 


Morgen pun kembali mendaki ke atas setelah cukup mendapatkan informasi yang ia butuhkan. Ia mengayunkan tubuhnya lalu membalikkan badannya sejajar dengan permukaan tebing sebelum akhirnya menggunakan momentum yang ada untuk melesat menuju permukaan. Tidak membutuhkan waktu lama, ia dapat kembali ke atas dengan waktu yang sangat singkat.


 


“A-Ah. Uh. Selamat datang kembali, Morgen-sama. Jadi apa yang anda dapatkan dari bawah sana...?” Ujar walikota itu sebelum bertanya kepadanya.


 


“Humph. Meski aku mengatakannya, kau tidak akan mengerti. Tapi, setidaknya aku mendapatkan informasi yang menarik...” Balas Morgen dengan nada angkuh.


 


“U-Uh... Apa artinya itu...?” Balas walikota dengan wajah bingung.


 


“Itu artinya aku membutuhkan elang pembawa pesan. Aku butuh melaporkan informasi ini dengan segera.” Balas Morgen menaiki kudanya dan berjalan mendahuluinya.


 


“A-Ah. U-Uh. Ya. Saya akan menyiapkannya segera.” Balas walikota dengan wajah panik.


 


Ia pun lantas melihat ke arah Irene sebagai isyarat perintah untuk memenuhi keinginannya. Irene pun mengangguk sebelum akhirnya mereka menyusul Morgen yang telah mendahului mereka kembali ke kota. Meski masih menjadi pertanyaan di benak mereka mengenai apa sebenarnya informasi yang Morgen dapatkan dari dasar kawah itu.


 


Sementara itu, kembali pada Leo dan Lia yang tengah beristirahat dalam perjalanan mereka menuju kota Winsberg. Lia kini terlelap setelah pembicaraan mereka sebelumnya mengenai tujuan dan alasan mereka menuju ke kota itu. Leo sengaja membiarkannya tertidur tanpa membangunkannya agar ia bisa beristirahat lebih lama mengingat bagaimana keadaannya.


 


“(Dia terlihat sangat tenang... Aku akan membiarkannya tidur lebih lama karena perjalanan kita masih cukup jauh...)” Ujar Leo dalam hatinya mengamati Lia yang tertidur secara diam-diam.


 


Ia yang tidak ingin mengganggunya memutuskan untuk menyendiri di tepi sungai yang di dekatnya sembari mengisi kembali air minumnya. Namun, ketika ia hendak melakukannya, kejadian tidak terduga menimpa Leo.


 


“...?!”


 


Tepat saat Leo mengeluarkan botol air minumnya, air yang ada di sungai secara mengejutkan berubah menjadi merah. Ia lantas mengurungkan niatnya sambil bertanya-tanya apa yang terjadi pada sungai tersebut.


 


“(Ada apa ini...? Kenapa sungainya mendadak tercemar seperti itu...?)” Ujar Leo dalam hatinya curiga.


 


Menyadari ada yang tidak beres, Leo memutuskan untuk mencari tahu. Namun, tak berselang lama setelahnya, pertanyaan Leo terjawab dengan sendirinya ketika ia mengamati kembali sungai tersebut.

__ADS_1


 


“Itu... Mayat manusia...?!” Ujar Leo terkejut.


__ADS_2