Black Arc Saga

Black Arc Saga
Perasaan sang gadis


__ADS_3

 


Lia berdiri tepat di belakangnya ketika Leo berniat meninggalkan kota. Dengan wajah pucat terengah-engah, Lia memaksakan dirinya mengejar Leo meski keadaannya masih cukup memprihatinkan.


 


“Leo... Kenapa... Kenapa kau pergi... Tanpa bicara... Denganku...?” Tanya Lia dengan nafas berat.


 


“Kenapa kau di sini...? Lukamu masih cukup parah, harusnya kau tidak bangun dan berlari mengejarku...” Balas Leo dengan nada dingin.


 


“Kenapa...? Kau bertanya... Kenapa...? Harusnya aku... Yang mengatakan itu...! Kenapa kau meninggalkanku... Diam-diam...!” Balas Lia dengan nada tinggi.


 


“....”


 


Leo memilih diam tidak menjawab ketika Lia bertanya kepadanya. Tidak mungkin bagi Leo untuk mengatakan alasannya pergi adalah karena ia melanggar janjinya. Lia justru akan semakin bersikeras nantinya.


 


“Leo... Apa ada masalah...? Beritahu aku apa masalahmu...” Ujar Lia dengan nada lembut berjalan perlahan menghampirinya.


 


“Berhenti...! Jangan bergerak dari sana...!” Balas Leo dengan nada tinggi.


 


“E-Eh...? Kenapa...?” Balas Lia berhenti terkejut dengan sikap Leo.


 


Leo kembali tidak menjawabnya dan berjalan begitu saja seolah mengabaikannya. Hal itu membuat hati Lia sedih dan kecewa mengetahui Leo telah mengabaikannya. Padahal ia telah bersusah payah mengejarnya sampai ke sini, namun pada akhirnya Leo tidak mengataka apa-apa kepadanya.


 


Sebelumnya, tepat ketika Leo meninggalkan ruangan, Lia perlahan siuman ketika ia melihat sekelilingnya dengan keadaan linglung. Ia telah berada di rumah sakit setelah ia tidak sadarkan diri karena dihantam serangan oleh naga itu. Hal terakhir yang diingatnya adalah Leo tengah bertarung melawan naga itu dengan penuh kemarahan karena melihatnya terluka. Ingatannya hanya sampai di sana dan ketika ia kembali tersadar, ia sudah berada di sini dengan tubuh berbalut perban.


 


“(Ini... Kalau tidak salah ini ruang perawatan di rumah sakit kota... Aku tidak ingat kapan aku dibawa kemari, namun sepertinya pertarungan telah usai selama aku pingsan...)” Ujar Lia dalam hatinya menganalisa keadaan.


 


Entah bagaimana pertarungan itu berakhir, namun satu hal yang membuat Lia khawatir adalah Leo. Ia tidak tahu apa yang terjadi padanya setelah pertarungan itu usai, namun yang jelas ia harus menemukannya.


 


“(Benar juga, Leo...! Di mana dia...? Apa dia juga berhasil selamat...?)” Ujar Lia dalam hatinya panik.


 


Lia melihat sekitarnya dan mendapati sebuah tempat tidur yang berantakan tepat di samping ranjangnya. Hal itu menandakan bahwa seseorang dirawat bersamanya sebelumnya dan kini telah meninggalkan tempatnya dengan alasan yang tidak jelas. Lia masih ragu apakah orang yang dirawat bersamanya adalah Leo atau bukan, namun tidak ada salahnya memeriksa tempat tidur tersebut.


 


“(Kurasa hanya ada satu cara memastikannya...)” Ujar Lia dalam hatinya serius.


 


Lia perlahan bangun dari tempat tidurnya tepat ketika seseorang datang membuka pintu. Seorang perawat wanita datang dari balik pintu membawa beberapa obat dan alat medis bersamanya.


 


“Saatnya pemeriksaan tuan Leona—“ Ujar perawat itu sebelum terpotong.


 


Perawat itu seketika terkejut menyadari hilangnya Leo dari tempat tidurnya. Di saat yang sama pula, Lia ikut terkejut mendengar ucapan perawat itu sebelum akhirnya sadar bahwa orang yang dirawat bersamanya adalah Leo yang sedang ia cari.


 


“(Leo...! Tidak salah lagi dia berkata Leo...! Dia adalah pasien yang dirawat tepat di sampingku...!)” Ujar Lia terkejut dalam hatinya.


 


“Pasien Leonard Ansgred menghilang...?! Dan nona Alicia... Apa yang anda lakukan! Anda tidak seharusnya berdiri dengan keadaan seperti itu...!” Ujar perawat itu terkejut sebelum melihat ke arah Lia dan menghampirinya.


 


“Apa yang terjadi...? Ke mana Leo...?” Balas Lia bertanya dengan wajah cemas.


 


“Nona Alicia, anda harus berbaring! Anda masih belum boleh bergerak!” Balas perawat itu mencoba membawanya kembali ke ranjang.


 


“Katakan kepadaku... Ke mana dia pergi. Ke mana Leo pergi...!” Balas Lia dengan nada tinggi.


 


“Apa yang kau katakan...! Anda harus kembali istirahat...!”


 


“Tidak...! Aku tidak bisa istirahat tanpa mengetahui keadaannya...!”


 


Perawat itu mencoba membujuk Lia untuk kembali ke ranjangnya, namun itu semua percuma saja karena Lia masih bersikeras untuk mencari Leo. Hingga pada akhirnya, perawat yang lain datang setelah mendengar suara gaduh mereka untuk memeriksa apa yang menyebabkan mereka bertengkar.


 


“Demi roh dewa! Apa yang kau lakukan dengan pasien khusus itu!” Ujar perawat kedua dengan wajah terkejut.


 


“Tidak! Tunggu, dengarkan aku dulu...!” Balas perawat pertama mencoba menjelaskan.


 


“Nona perawat! Apa kau melihat ada orang yang keluar dari ruangan ini baru-baru ini?” Sambung Lia bertanya kepadanya.


 


“Eh...? Sejauh yang aku tahu... Nona Irene dari kantor walikota dan seorang dari Guild petualang adalah orang terakhir yang berkunjung ke sini. Memangnya ada masalah apa?” Jawab perawat kedua mengingat-ingat.


 


“Pasien Leonard Ansgred telah menghilang...!” Balas perawat pertama dengan nada tinggi.


 


“A-Apa...?!”


 


Mendengar hal itu, perawat kedua seketika terkejut ketika perawat pertama kembali bicara kepadanya.


 


“Coba ingat kembali siapa saja yang barusan pergi dari sini!” Ujar perawat pertama dengan wajah cemas.


 


“B-Baiklah... Sebentar...” Balas perawat kedua mulai mengingat-ingat.


 


Untuk beberapa saat perawat itu mencoba mengingat kembali kejadian sesaat sebelumnya. Ia awalnya hanya melihat Irene dan utusan Guild yang keluar masuk ruangan. Namun, selang beberapa saat setelahnya, sesosok pria misterius keluar dengan cepat dari ruangan.


 


“Aku baru ingat...! Sesaat setelah utusan dari Guild selesai menjenguk, aku melihat sesosok orang misterius keluar dari ruangan! Aku hanya melihatnya sekilas dan dalam sekejap mata saja, jadi aku pikir aku hanya melamun dan mengabaikannya...” Ujar perawat kedua mengingat sesuatu.


 


“Itu pasti dia...! Bagaimana ciri-cirinya...!” Balas perawat pertama dengan wajah panik.


 


“E-Eh...? Karena aku melihatnya sekilas, aku tidak tahu pasti bagaimana penampilannya... Kurasa dia orang dewasa dengan tubuh tertutup mantel...” Balasnya kembali mengingat-ingat.


 


“Pria dewasa yang memakai mantel... Tidak salah lagi itu memang dia...!”


 


Pada saat yang bersamaan, Lia lantas berlari meninggalkan mereka berdua guna mengejar Leo. Berbekal informasi dari perawat itu, Lia mencoba mencari orang dengan ciri-ciri yang sama dengannya.


 


“Nona Alicia, tunggu...!” Seru kedua perawat itu terkejut.


 

__ADS_1


Mengabaikan mereka berdua, Lia pergi mengejar Leo hingga keluar dari rumah sakit. Meski lukanya cukup parah, Lia tetap memaksakan diri mengejar Leo sebelum terlambat. Ia menyusuri jalanan kota mencari orang dengan ciri-ciri yang didapatkannya. Meski begitu, Lia tidak tahu ke mana perginya Leo dan sempat kehilangan jejaknya ketika sampai di kota. Dia telah menghilangkan keberadaannya dan berbaur dengan warga sekitar hingga membuat Lia kesulitan mencarinya.


 


“(Leo...! Di mana kau sekarang...! Aku tidak bisa merasakannya... Dia pasti menekan keberadaannya agar tidak terlacak olehku...)” Ujar Lia dalam hatinya kebingungan.


 


Merasa kehilangan petunjuk, Lia akhirnya memutuskan untuk bertanya pada orang-orang di sekitar. Ia menyebutkan ciri-ciri yang menggambarkannya pada setiap orang yang ia temui sebelum akhirnya ia menemukan petunjuk.


 


“Orang dengan mantel, huh...? Kurasa aku melihatnya selang beberapa saat yang lalu...” Ujar salah seorang pekerja yang ada di dekat sana.


 


“Apa anda melihatnya...? Ke mana dia pergi...?” Balas Lia bertanya dengan wajah panik.


 


“Kalau tidak salah dia pergi ke utara setelah termenung beberapa saat melihat ke arah barat... Kurasa dia melihat ke arah sisa ledakan yang melenyapkan hutan dan perbukitan kemarin...” Balasnya sambil menebak.


 


“Utara...?!” Gumam Lia sejenak berpikir.


 


“Yang lebih penting dari itu, apa kau baik-baik saja nona? Wajahmu sangat pucat, apa kau baik-baik saja?” Tanya pekerja itu dengan wajah cemas.


 


“E-Eh...? A-Aku baik-baik saja! Terima kasih atas informasinya, paman!”


 


“T-Tunggu—“


 


Lia bergegas lari setelah mendapatkan petunjuk mengenainya. Mengabaikan keadaan tubuhnya yang sakit, Lia berlari sekencang mungkin hingga sampai di perbatasan utara kota tempat ia melihat sosok orang yang mirip dengan ciri-ciri Leo. Ia tampak tengah terdiam sambil melihat ke arah kota untuk beberapa saat sebelum akhirnya berjalan menjauh dari kota.


 


“Leo...!” Bisik Lia dengan wajah terkejut.


 


Dia tidak lain dan tidak bukan adalah Leo yang selama ini ia cari. Dan itulah cerita bagaimana Lia bisa menemukan Leo.


 


Melihat Leo tidak mengucapkan sepatah kata pun, Lia memutuskan untuk kembali membuatnya bicara. Ia perlahan melangkah menghampirinya tepat ketika Leo yang menyadarinya kembali memberinya peringatan.


 


“Aku tidak akan mengatakannya lagi, Lia... Jangan mendekat atau aku terpaksa melakukan hal yang buruk kepadamu...” Ujar Leo dengan nada mengancam.


 


“Coba saja...! Aku tahu kau tidak akan pernah melakukannya...” Balas Lia menantang.


 


“Ini peringatan terakhirmu... Hentikan langkahmu atau aku akan melukaimu...” Balas Leo dengan nada dingin.


 


Entah apa yang ada dalam pikiran Leo saat ini, namun jelas ada sesuatu yang aneh padanya. Leo tidak pernah menggunakan nada itu kecuali ia tengah sedih atau merasa kecewa.


 


Tanpa mendengarkan peringatannya, Lia terus saja melangkah mendekatinya. Hal ini membuat Leo semakin kesal hingga pada akhirnya terpaksa mengambil langkah serius. Ia melepas dan melemparkan mantelnya ke arahnya sebagai pengecoh selagi ia menyiapkan serangannya.


 


“(Maafkan aku Lia... Tapi, kau memaksaku membuat pilihan ini...)” Ujar Leo dalam hatinya.


 


Tepat ketika mantel Leo tertiup angin sampai padanya, ia seketika menghentikan niatnya untuk menyerang begitu menyaksikan tindakan Lia. Bukannya menghindar atau menangkis mantel itu, dia justru menerimanya begitu saja. Hal ini membuat Leo ragu untuk menyerangnya hingga pada akhirnya memutuskan untuk mengurungkan niatnya ketika Lia mengambil mantel itu dan memakainya untuk menutupi tubuhnya.


 


“Mm... Ini memang baumu... Mantel ini memang mirip denganmu... Dan sama sepertimu, dia tidak akan melukaiku...” Ujar Lia mengelus mantel itu dengan pipinya.


 


 


“Karena begitulah Leo yang kukenal... Dia tidak akan pernah menggunakan kekuatannya untuk menyakiti orang lain...” Jawab Lia tersenyum hangat kepadanya.


 


“Kenapa kau bisa mengatakan hal itu dengan mudahnya...? Aku tidak sebaik yang kau pikirkan... Aku hanya seorang pecundang yang tidak diberikan berkah...” Balas Leo memalingkan wajahnya kecewa.


 


“Tidak, kau lebih dari itu, Leo...”


 


“Kau salah Lia... Itulah diriku... Sejak awal memang seperti itulah diriku... Aku hanya seorang pecundang yang bahkan diusir dari desa tempat tinggalku...”


 


“Itu bukanlah salahmu...”


 


“Tentu saja ini salahku...!”


 


Lia terkejut mendengar bentakan Leo. Ia memutar tubuhnya menyembunyikan ekspresinya sebelum ia kembali bicara dengannya.


 


“Jika saja aku memiliki Skill, kedua orang tuaku tidak akan tersiksa dengan semua cacian dan perlakuan buruk mereka... Jika saja aku lebih kuat, maka aku tidak akan kehilangan mereka... Bahkan mereka berempat temanku...” Ujar Leo dengan nada sedih.


 


“L-Leo...” Bisik Lia dengan ekspresi sedih.


 


“Kau sudah melihatnya sendiri, Lia... Aku gagal melindungi orang yang berharga bagiku... Tidak hanya sekali, namun berkali-kali...! Sudah jelas bahwa aku ini seorang pecundang...!” Sambung Leo dengan nada marah bercampur sedih.


 


Lia hanya bisa terdiam mendengar semua itu. Ini adalah kali pertamanya Lia melihat Leo dalam keadaan terpukul seperti ini. Semua emosinya yang selalu ia tahan dan sembunyikan kini bercampur menjadi satu.


 


“Bahkan aku tidak bisa menepati janjiku... Aku juga tidak bisa melindungimu... Sudah jelas bahwa aku ini sampah... Aku tidak layak bersamamu lagi, Lia...” Sambung Leo perlahan berjalan pergi.


 


Dengan penyesalan di hatinya, Leo meninggalkan Lia yang terdiam setelah mendengar ceritanya sebelum akhirnya ia mengucapkan salam perpisahan.


 


“Selamat tinggal, Lia... Waktu yang kita lewati bagaikan mimpi bagiku... Tapi, itu semua telah berlalu. Lupakanlah semua tentang diriku, lupakanlah semua tentang pecundang bernama Leonard Ansgred ini dan selamat tinggal... Aku tidak akan pernah melupakanmu....” Ujar Leo menoleh sejenak sebelum kembali berjalan meninggalkannya.


 


Inilah yang terbaik, inilah yang terbaik bagi mereka berdua. Dengan perginya dirinya, maka Lia akan terjauh dari malapetaka yang ada bersama Leo. Meski dia belum sepenuhnya aman dari pihak kerajaan, namun Lia pasti punya rencana nantinya. Bagaimana pun juga, itu bukanlah urusannya.


 


Namun, tepat ketika Leo hendak melangkah pergi, Lia secara mengejutkan berlari ke arahnya dan memeluknya dari belakang. Sontak hal ini mengejutkannya dan dengan segera mencoba menghentikannya.


 


“Apa yang kau lakukan, Lia...! Jika kau mencoba menghentikanku pergi, maka itu percuma saja...! Bahkan jika harus menyeretmu aku sanggup melakukannya...!” Ujar Leo dengan nada tinggi kepadanya.


 


“Tidak...! Tidak akan kulepaskan...! Tidak lagi...!” Balas Lia bersikeras.


 


Lia memeluknya lebih erat dari yang sebelumnya hingga membuat Leo kesulitan bergerak. Ia bahkan menekan dadanya yang membuatnya dapat merasakan detak jantungnya.


 


“Lia...! Ini bukan sikap yang dilakukan oleh seorang wanita terhormat sepertimu...! Lepaskan aku sekarang juga...!”  Ujar Leo mencoba melepaskan pelukan Lia.


 


“Aku tidak akan pernah melepaskanmu...! Aku tidak ingin orang yang kucintai pergi lagi...! Aku tidak ingin kau pergi...!” Balas Lia menangis memeluknya.


 

__ADS_1


“Kenapa... Kenapa orang itu harus aku! Tidak ada yang bisa kau harapkan dari sampah sepertiku! Aku tidak lebih dari pecundang dengan impian menggelikan mencoba mencari tempatku di dunia ini, padahal sudah jelas bahwa tidak akan pernah ada tempat bagiku di dunia ini...! Kenapa kau tidak mengerti juga, Lia... Aku tidak pantas berada di dekatmu... Kita bagaikan langit dan neraka... Ke mana pun aku melangkah, aku hanya membawa kesialan...” Balas Leo dengan nada kesal bercampur sedih.


 


“Leo... Kenapa kau selalu menghina dirimu sendiri... Kenapa kau harus menyakiti dirimu sendiri seperti itu...”


 


“Karena aku adalah manusia terkutuk! Para dewa telah mengabaikanku dan melimpahkan takdir pahit ini kepadaku!”


 


“.....”


 


“Maka dari itu, Lia... Aku mohon lepaskan tanganmu dan biarkan aku menanggung semua penderitaan ini... Aku sadar, sekuat apa pun aku berusaha mengubahnya, takdir ini tidak akan pernah berubah... Aku akan menerimanya, aku akan menerima takdir ini meski aku harus menderita selama sisa hidupku...”


 


“Jika mencintaimu adalah sebuah dosa, maka aku bersedia menjadi pendosa...”


 


Ucapan Lia membuat Leo terkejut dan terdiam. Sambil menangis, Lia mencoba membuat Leo sadar bahwa selama ini ia telah memendam perasaan kepadanya.


 


“Biarpun semua orang membencimu, aku akan selalu mencintaimu. Karena kau telah memberikan cahaya bagi hidupku setelah aku merasa telah kehilangan segalanya... Kau memberiku harapan untuk menjalani hidup yang hampir saja kubuang ini... Kau bukanlah pecundang, kau adalah pahlawan... Kau adalah pahlawanku...” Ujar Lia tersenyum sambil menangis.


 


“....”


 


“Mendengarmu menghina diri sendiri membuat hatiku sakit... Aku tidak tahan mendengarnya, meski kau sendiri yang mengatakannya... Aku tidak merasa kau membawa kesialan padaku, justru kau membawa berkah bagiku... “ Sambung Lia dengan tulus.


 


“Hentikan... Tolong hentikan kebohonganmu itu... Lepaskan aku, aku sudah cukup mendengar semuanya...!” Balas Leo bersikeras melepaskan diri.


 


“Tidak akan... Aku tidak akan pernah melepaskanmu... Jika itu berarti aku harus menerima kutukan yang kau bawa, maka aku dengan senang hati akan menerimanya...” Balas Lia tertawa singkat.


 


Ucapan Lia membuat hati Leo bimbang. Keputusannya perlahan goyah setiap kali ia mendengarkan ucapan Lia. Hingga pada akhirnya Leo memutuskan untuk pasrah dan menerima perasaan Lia.


 


“Lia... Apa yang kau ucapkan itu benar...?” Tanya Leo dengan wajah bimbang.


 


“Seharusnya kau tahu kapan aku berbohong dan kapan aku bicara jujur... Kau orang yang paling tahu akan hal itu...” Balas Lia tersenyum kepadanya.


 


Angin senja berhembus menerpa mereka ketika Leo memutuskan untuk kembali menatap Lia. Ia berbalik ketika Lia melepaskan pelukannya dan menyambutnya dengan senyum lembut di wajahnya yang berlinang air mata.


 


“Lia... Apa aku pantas mendapatkan hal itu...? Apa orang sepertiku pantas untuk menerima kebahagiaan itu...?” Tanya Leo dengan tatapan mata ragu.


 


“Mm. Tentu saja. Semua orang berhak mendapatkan kebahagiaan mereka. Karena itulah tujuan mereka hidup, untuk mencari kebahagiaan mereka sendiri...” Balas Lia tersenyum.


 


“Apa orang sepertiku pantas berada di sisimu...? Seperti yang kau tahu, tidak ada yang bisa dibanggakan dariku... Aku hanya orang lemah tanpa kekuatan apa pun... Apa kau tidak keberatan denganku...?” Balas Leo kembali bertanya.


 


“Tentu saja, aku tidak keberatan. Karena, kau adalah orang yang kucintai...” Balas Lia mengulurkan kedua tangannya meraihnya.


 


“Apa kau tidak masalah dengan kutukan dan kesialan yang aku bawa bersamaku...? Semua orang akan ikut membencimu jika kau bersamaku... Aku tidak ingin kau kembali terluka... Aku tidak akan memaafkan diriku jika hal itu menimpamu...”


 


“Mhm... Bahkan jika seluruh dunia membencimu, aku akan selalu berada di sisimu... Aku akan menanggung kutukan itu bersamamu...”


 


“Meski begitu... Aku masih belum bisa memaafkan diriku sendiri karena telah melanggar janjiku kepada Zille-san... Aku gagal melindungimu dan lihatlah apa yang terjadi padamu sekarang... Aku memang menyedihkan...”


 


Lia memeluk Leo kembali, namun kali ini ia melakukannya secara langsung sebelum akhirnya membalasnya.


 


“Tolong jangan sakiti dirimu sendiri seperti itu... Meski hanya sedikit, aku ingin meringankan luka di hatimu... Maka dari itu... Tolonglah, jangan membenci dirimu sendiri...” Balas Lia menangis memeluknya.


 


“Lia...”


 


“Meski tidak seberapa, tetapi... Aku ingin mengangkat kebencian itu dari hatimu... Bersandarlah padaku, sama seperti aku bersandar kepadamu... Biarkan aku mengobati luka hatimu, sama seperti kau telah mengobati luka di hatiku...”


 


Leo terdiam merenung setelah mendengarkan perasaan Lia. Keraguan di dalam hatinya semakin memuncak sebelum akhirnya menghilang setelah Leo membulatkan tekadnya. Ia menggenggam tangan Lia sebelum ia berkata kepadanya.


 


“Lia... Terima kasih... Meski aku bukan orang yang sempurna bagimu, tetapi aku akan berjuang untuk menjadi yang terbaik bagimu...” Ujar Leo dengan tekad bulat.


 


“....!”


 


“Aku tidak akan meninggalkanmu lagi... Dan juga aku berjanji akan melindungimu, Lia... Ini bukan janjiku pada Zille-san, namun ini janjiku pada diriku sendiri...” Sambung Leo menaruh tangan Lia di dadanya.


 


Lia terkesima mendengar pernyataan Leo sebelum akhirnya ia menangis dan tersenyum menerimanya.


 


“... Mm. Aku sangat senang mendengarnya.” Balas Lia tersenyum tulus.


 


“Aku juga... Terima kasih karena telah menerimaku, Lia...” Balas Leo ikut tersenyum.


 


Ini adalah kali pertamanya Leo melihat senyuman itu dari Lia. Itu adalah perasaan tulus dari hatinya yang terdalam terbalut dengan senyum manis dari bibirnya. Ini adalah pemandangan paling indah sekaligus mengharukan bagi Leo yang untuk pertama kalinya diterima oleh orang lain apa adanya.


 


“(Apakah ini mimpi...? Aku tidak menduga akan ada tempat untuk orang sepertiku di dunia ini... Terima kasih, Lia... Kau adalah tempat yang selama ini aku cari dan impikan... Terima kasih...)” Ujar Leo dalam hatinya bahagia.


 


Namun, dalam kebahagiaan itu, secara mengejutkan Lia perlahan kehilangan kekuatannya dan jatuh dalam pelukan Leo ketika ia panik kebingungan dengan keadaannya.


 


“Lia... Lia...! Ada apa denganmu...!” Ujar Leo panik mendekapnya.


 


“... Mhn. L-Leo... Aku sangat senang...” Balas Lia dengan nada lemah.


 


“Lia...”


 


Tak berselang setelahnya, Lia pun tidak sadarkan diri ketika Leo menyadari masalah yang dideritanya.


 


“Kau memang gadis yang keras kepala...” Gumam Leo tersenyum mendekapnya.


 


Lia kehabisan tenaganya karena terlalu memaksakan diri mengejarnya. Hal itu diperburuk dengan keadaannya yang belum sepenuhnya sembuh yang membuatnya kehilangan kesadarannya. Leo menghela nafas ketika mengetahuinya sebelum akhirnya menggendongnya di punggungnya untuk membawanya kembali ke rumah sakit.


 


“Sungguh, kau memang gadis yang merepotkan...” Gumam Leo tersenyum menoleh kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2