Black Arc Saga

Black Arc Saga
Pertemuan pertama


__ADS_3

Leo lantas memeriksa keadaan gadis


tersebut. Meski lukanya tidak parah, gadis itu kehilangan cukup banyak darah.


Leo pun merasa sangat senang mengetahui kalau gadis itu masih dapat ditolong. Lebih


baik ia segera membawanya ke perkemahan dan merawat lukanya di sana sebelum sesuatu


yang buruk terjadi.


“Ah. Aku punya satu pekerjaan yang


harus kulakukan terlebih dahulu.” Ujarnya melihat ke arah jasad pria malang


itu.


Sebelum membawa gadis itu, ia harus


mengurus satu hal terlebih dahulu. Ia harus memberikan pemakaman yang layak


untuk pria yang memberikannya tugas ini.


Leo mencabut setiap tombak yang


menancap di tubuh pria itu sebelum akhirnya ia memberikan penghormatan terakhir


kepadanya.


“Semoga kau tenang di alam sana...


Walau aku tidak tahu siapa namamu, tapi aku akan menjaga janjiku padamu.” Ujar Leo


di depan makam pelayan itu.


Hari menjelang fajar saat Leo selesai


memakamkan pria tersebut. Itu berarti sudah hampir semalaman ia berada di sini.


Sudah saatnya Leo kembali ke perkemahannya bersama dengan gadis itu.


“Bertahanlah, nona...” Bisiknya


sambil mengangkat tubuhnya.


Leo menggendong gadis yang terluka


itu di belakang punggungnya sebelum membawanya kembali ke perkemahannya untuk


ia rawat. Melewati pepohonan dan semak belukar, mendaki dan menuruni bukit


sebelum akhirnya ia sampai di perkemahan sederhananya tempat di mana ia akan


mengobatinya.


“Baiklah...” Gumam Leo dengan nada


gugup.


Dengan lemah lembut Leo


membaringkannya sebelum akhirnya mengambil peralatan yang dibutuhkan untuk


merawatnya.


“Kita lihat apa yang kupunya di


sini... Tanaman obat, lap kain, air bersih... Kurasa sudah cukup.” Gumamnya


sambil menyiapkan semua barang tersebut.


Pertama-tama sebelum mengobati


lukanya, ia harus membersihkan tubuhnya yang penuh dengan noda darah itu.


Namun, untuk melakukannya ia perlu membuka seluruh pakaiannya. Meski terkesan


tidak senonoh, ia terpaksa melakukannya untuk menyelamatkan nyawanya.


“B-Baiklah. Maaf sebelumnya...” Ujar


Leo sambil memalingkan wajahnya.


Dengan penuh kehati-hatian, ia


melepas pakaian kotor yang rusak itu dari tubuhnya tanpa menyentuh kulitnya.


Meski tidak mudah melakukannya, tetapi pada akhirnya Leo berhasil melepaskan


seluruh pakaiannya dari tubuhnya.


“Ini cukup memalukan... Tapi baiklah...”


Gumam Leo dengan wajah malu.


Perlahan, dengan kain yang ia basahi


sebelumnya, ia mulai mengelap tubuh gadis tanpa nama itu. Ia membersihkan mulai


dari kaki berjalan perlahan naik hingga akhirnya sampai pada kedua tangannya.


Dari sini dapat terlihat jelas semua luka sayatan yang melukai kulit putihnya


yang menawan. Namun beruntungnya, semua luka itu tidak ada yang mengenai organ


vitalnya.


“....?!”


Sampai tiba di mana ia harus membasuh


rambutnya, Leo dikejutkan dengan wajah cantik jelitanya yang berada di balik


rambut coklat gelapnya yang menawan. Parasnya sangat menawan layaknya seorang


putri seorang bangsawan.


“(Dia sangat cantik...)” Ujar Leo


dalam hatinya terkesima.


Melihat penampilan menawannya membuat


Leo bertanya-tanya apa yang menimpa gadis malang ini hingga melibatkan ksatria


suci kerajaan ke dalam masalahnya. Meski telah memikirkannya berulang kali, ia


masih belum mengerti alasan kenapa semua kejadian mengerikan itu bisa menimpanya.


“Nh...! Mn...!”


“...?!”


Melihat gadis itu bergerak membuat


Leo terkejut. Sepertinya dia sudah hampir siuman. Ia harus segera mengobatinya


segera sebelum dia benar-benar sadar. Leo tidak ingin gadis itu merasakan


penderitaan ini lebih lama lagi.


“Dengan begini kurasa cukup.”


Gumamnya menyeka keringat di pelipisnya.


Akhirnya Leo selesai memberikan


pertolongan pertama untuknya. Walau tidak sempurna, setidaknya itu akan


bertahan sampai mereka sampai di kota berikutnya.


Matahari terbit di ufuk timur saat Leo

__ADS_1


selesai mengobati gadis itu. Karena sudah pagi, Leo menghangatkan daging asap yang


ia dapatkan dari kota sebelumnya sebagai sarapan selagi menunggu gadis itu


bangun.


“(Siapa gadis itu sebenarnya...? Ada


banyak yang tidak kuketahui tentangnya... Dan kenapa dia bisa terlibat dalam


hal mengerikan semacam itu...?)”  Gumam


Leo larut dalam pikirannya.


Suara retakan kayu bakar terdengar


dari api unggun menemani kesunyian di pagi itu saat Leo larut dalam pikirannya


sendiri. Ia terlalu larut dalam masalahnya hingga tanpa sadar daging yang


sebelumnya ia hangatkan itu kini sudah matang dan siap untuk di angkat.


“Hm...?”


Menyadarinya sudah matang, Leo segera


mengangkatnya dan segera menyajikannya. Namun, pada saat yang bersamaan, ia


mendengar suara menderu kereta kuda mendekat ke arahnya sebelum ia memutuskan


untuk memeriksanya.


Leo mendekat ke arah jalan sambil


menunggu datangnya kereta kuda itu. Dan benar saja, kereta kuda datang tak lama


setelah Leo mendengarnya.


“(Itu terlihat seperti pedagang


keliling. Kebetulan sekali aku ingin membeli beberapa barang...)” Ujarnya dalam


hati.


Ia melambaikan tangan menghentikan


kereta kuda itu sebelum ia menghapiri pengemudinya.


“Oh. Halo untukmu, anak muda. Ada apa


kau menghentikanku?” Ujar kusir itu menyapa.


“Halo, paman. Apa anda pedagang


keliling?” Tanya Leo kepadanya setelah menyapanya singkat.


“Ya. Kebetulan aku adalah pedagang.


Ada perlu apa?”


“Jika tidak keberatan, bolehkah aku


tahu apa yang anda jual?”


“Aku menjual banyak barang di sini.


Mulai dari bahan makanan hingga barang-barang untuk kebutuhan sehari-hari.”


“Begitu ya. Kebetulan sekali.”


“Jadi, apa kau ingin beli sesuatu?”


“Ya. Aku ingin membeli beberapa


makanan kering dan asinan untuk dibawa bepergian.”


“Tentu saja aku punya. Ke belakang,


akan kutunjukkan.”


permintaannya, Leo teringat akan pakaian gadis itu yang sudah kotor dan tak


bisa di pakai lagi, Leo berfikir kalau ada baiknya ia membelikan gadis itu baju


sebelum mengantarkannya pulang.


“Ini dia barang yang kau minta.


Semuanya dalam keadaan yang bagus!” Ujarnya sambil menunjukkan barang-barang


yang Leo minta.


“Kelihatannya begitu. Aku ambil 2 dendeng


daging itu dan acar ikan itu. Dan juga, apa anda menjual pakaian untuk wanita?”


Ujar Leo sebelum bertanya kepadanya.


“Pakaian untuk wanita, huh? Kurasa


aku ada beberapa di dalam. Tunggu sebentar, akan kucarikan untukmu.”


Kusir itu lantas mencari barang yang


di minta oleh Leo itu. Dan dalam sekejap mata, dia sudah membawa beberapa


pakaian untuknya.


“Ah.. ini dia. Aku menemukannya.”


Ujarnya menunjukkan pakaian yang Leo pinta.


“Itu terlihat bagus.” Balas Leo


mengamatinya.


“Silahkan dilihat-lihat dulu untuk


ukurannya. Ngomong-ngomong, kenapa kau membeli baju untuk perempuan?”


“A-Ah. Itu, aku membelinya untuk kakakku,


bisa dibilang begitu.”


“Begitu ya. Kurasa aku punya beberapa


barang yang sesuai...”


Pria itu kembali menunjukkan beberapa


baju lain sebelum akhirnya Leo menemukan satu yang cocok untuknya.


“Aku ambil yang satu itu.” Ujarnya


menunjuk pada baju berlengan panjang itu.


“Pilihan yang bagus. Kau punya mata


yang jeli.” Balas pedagang itu tersenyum senang.


“Baiklah, berapa semuanya?”


“Hm... Dua dendeng daging dan sebotol


acar ikan, ditambah satu ini jadi kurasa... 5 koin perak.”


“5 koin perak...?!”


“Ya. Itu sudah termasuk baju itu.”


“Tunggu, itu terlalu mahal. Apa tidak

__ADS_1


bisa di tawar lagi?”


Pria itu sejenak berfikir untuk


menentukan harga yang sesuai dengan yang di minta oleh Leo.


“Hm... Ini agak sulit. Itu sudah


harga yang paling murah yang bisa kutawarkan.” Ujar pedagang itu merenungkan


tawaran Leo.


“Itu masih terlalu tinggi, bisa di


turunkan?” Balas Leo mencoba membujuknya.


“Itu sudah yang paling murah. Jika


lebih dari itu, aku bisa rugi. Aku juga sedang mencari nafkah.” Balas Pedagang


itu berpegang pada pendiriannya.


Leo sejenak berpikir mengenai harga


tersebut. Sepertinya ia tidak bisa menawar lebih rendah lagi melihat bagaimana


reaksinya. Dia pria yang cukup keras kepala, jadi percuma saja berdebat


dengannya.


“Baiklah, kurasa aku akan


mengambilnya.” Ujar Leo sambil menghela nafas.


“Kalau begitu kita berdua sudah


sepakat.” Balasnya dengan wajah gembira.


Dengan berat  hati Leo mengeluarkan uang terakhirnya pada


pria pedagang itu dan menerima semua barang itu sebagai gantinya.


“Senang berbisnis denganmu, anak


muda.” Ujar pedagang itu tersenyum lebar.


“Y-Ya.”


Itu adalah uang terakhir Leo karena


belakang ini ia tak mendapatkan pekerjaan. Ia harus segera mencari pekerjaan sesampainya


di kota berikutnya. Atau jika tidak, ia terpaksa berkelana dengan tangan hampa.


Leo akhirnya memutuskan untuk pergi,


namun saat ia baru beberapa langkah menjauh, pria pedagang itu menghentikannya.


“Ah... Anak muda, tunggu sebentar.” Ujar


pria pedagang itu memanggil Leo.


“...?”


Leo berhenti sebelum akhirnya


berbalik saat pria pedagang itu memanggilnya.


“Apa ada masalah?” Tanya Leo menghampirinya.


“Tunggu sebentar...” Balasnya masuk


ke dalam keretanya.


Pria pedangan itu mengambil sesuatu


dari dagangannya sebelum melemparkannya ke arah Leo.


“Ini terimalah.”


“....!”


Pria itu melemparkan sebuah pedang


tua ke arah Leo. Sontak ia pun terkejut karena tiba-tiba pria itu melemparkan


pedang ke arahnya.


“Apa ini? Kenapa kau memberiku pedang


ini?” Tanya Leo dengan wajah bingung.


“Yah, aku tidak terlalu


membutuhkannya. Lagi pula itu pedang yang sudah usang yang bahkan tidak laku


dijual. Jadi, kuberikan padamu sebagai hadiah setelah menjadi pelanggan


pertamaku selama 3 hari ini.” Balasnya kembali duduk di kursinya.


“Tunggu, tapi aku tidak punya-“


“Seperti yang kubilang sebelumnya,


anggap saja sebagai hadiah dariku. Tak perlu membayarnya, itu gratis. Jadi,


benda itu milikmu. Lumayan untuk menemani pedang tuamu itu bukan?”


“....”


Setelah memberikannya, pria itu


lantas melaju meninggalkan Leo bersama pedang tua itu. Walau tidak mengerti apa


yang dia katakan, sepertinya ia tidak punya pilihan lain selain menerimanya.


Leo pun kembali ke perkemahannya dan


memeriksa keadaan gadis itu. Ia meletakkan pedang yang diberikan pedagang tadi


sebelum ia masuk menghampiri gadis itu.


“Hm...?”


“....!!”


Gadis itu sudah bangun saat Leo


melihatnya, ia tampak terkejut dan panik saat melihat Leo masuk tanpa


sepengetahuannya saat dirinya tidak berbusana.


“A-Ah. M-Maaf... Aku tidak bermaksud mengintip


aku hanya ingin memeriksa keadaanmu.”


Gadis itu seketika mundur menjaga


jarak dari Leo sambil mencoba menutupi tubuh telanjangnya dengan kedua


tangannya saat ia mencoba menjelaskan kesalahpahaman tersebut.


“A-Aku bukan orang mencurigakan...


Aku juga tidak bermaksud jahat...” Ujar Leo mencoba meyakinkannya.


“Siapa kau...!” Balasnya dengan nada sinis.


Pertemuan pertamanya dengan gadis itu


mendapat kesan yang sangat buruk. Entah bagaimana cara Leo mengatakannya

__ADS_1


mengenai kejadian yang menimpanya. Ini mungkin akan jadi masalah yang sedikit


rumit.


__ADS_2