
Leo lantas memeriksa keadaan gadis
tersebut. Meski lukanya tidak parah, gadis itu kehilangan cukup banyak darah.
Leo pun merasa sangat senang mengetahui kalau gadis itu masih dapat ditolong. Lebih
baik ia segera membawanya ke perkemahan dan merawat lukanya di sana sebelum sesuatu
yang buruk terjadi.
“Ah. Aku punya satu pekerjaan yang
harus kulakukan terlebih dahulu.” Ujarnya melihat ke arah jasad pria malang
itu.
Sebelum membawa gadis itu, ia harus
mengurus satu hal terlebih dahulu. Ia harus memberikan pemakaman yang layak
untuk pria yang memberikannya tugas ini.
Leo mencabut setiap tombak yang
menancap di tubuh pria itu sebelum akhirnya ia memberikan penghormatan terakhir
kepadanya.
“Semoga kau tenang di alam sana...
Walau aku tidak tahu siapa namamu, tapi aku akan menjaga janjiku padamu.” Ujar Leo
di depan makam pelayan itu.
Hari menjelang fajar saat Leo selesai
memakamkan pria tersebut. Itu berarti sudah hampir semalaman ia berada di sini.
Sudah saatnya Leo kembali ke perkemahannya bersama dengan gadis itu.
“Bertahanlah, nona...” Bisiknya
sambil mengangkat tubuhnya.
Leo menggendong gadis yang terluka
itu di belakang punggungnya sebelum membawanya kembali ke perkemahannya untuk
ia rawat. Melewati pepohonan dan semak belukar, mendaki dan menuruni bukit
sebelum akhirnya ia sampai di perkemahan sederhananya tempat di mana ia akan
mengobatinya.
“Baiklah...” Gumam Leo dengan nada
gugup.
Dengan lemah lembut Leo
membaringkannya sebelum akhirnya mengambil peralatan yang dibutuhkan untuk
merawatnya.
“Kita lihat apa yang kupunya di
sini... Tanaman obat, lap kain, air bersih... Kurasa sudah cukup.” Gumamnya
sambil menyiapkan semua barang tersebut.
Pertama-tama sebelum mengobati
lukanya, ia harus membersihkan tubuhnya yang penuh dengan noda darah itu.
Namun, untuk melakukannya ia perlu membuka seluruh pakaiannya. Meski terkesan
tidak senonoh, ia terpaksa melakukannya untuk menyelamatkan nyawanya.
“B-Baiklah. Maaf sebelumnya...” Ujar
Leo sambil memalingkan wajahnya.
Dengan penuh kehati-hatian, ia
melepas pakaian kotor yang rusak itu dari tubuhnya tanpa menyentuh kulitnya.
Meski tidak mudah melakukannya, tetapi pada akhirnya Leo berhasil melepaskan
seluruh pakaiannya dari tubuhnya.
“Ini cukup memalukan... Tapi baiklah...”
Gumam Leo dengan wajah malu.
Perlahan, dengan kain yang ia basahi
sebelumnya, ia mulai mengelap tubuh gadis tanpa nama itu. Ia membersihkan mulai
dari kaki berjalan perlahan naik hingga akhirnya sampai pada kedua tangannya.
Dari sini dapat terlihat jelas semua luka sayatan yang melukai kulit putihnya
yang menawan. Namun beruntungnya, semua luka itu tidak ada yang mengenai organ
vitalnya.
“....?!”
Sampai tiba di mana ia harus membasuh
rambutnya, Leo dikejutkan dengan wajah cantik jelitanya yang berada di balik
rambut coklat gelapnya yang menawan. Parasnya sangat menawan layaknya seorang
putri seorang bangsawan.
“(Dia sangat cantik...)” Ujar Leo
dalam hatinya terkesima.
Melihat penampilan menawannya membuat
Leo bertanya-tanya apa yang menimpa gadis malang ini hingga melibatkan ksatria
suci kerajaan ke dalam masalahnya. Meski telah memikirkannya berulang kali, ia
masih belum mengerti alasan kenapa semua kejadian mengerikan itu bisa menimpanya.
“Nh...! Mn...!”
“...?!”
Melihat gadis itu bergerak membuat
Leo terkejut. Sepertinya dia sudah hampir siuman. Ia harus segera mengobatinya
segera sebelum dia benar-benar sadar. Leo tidak ingin gadis itu merasakan
penderitaan ini lebih lama lagi.
“Dengan begini kurasa cukup.”
Gumamnya menyeka keringat di pelipisnya.
Akhirnya Leo selesai memberikan
pertolongan pertama untuknya. Walau tidak sempurna, setidaknya itu akan
bertahan sampai mereka sampai di kota berikutnya.
Matahari terbit di ufuk timur saat Leo
__ADS_1
selesai mengobati gadis itu. Karena sudah pagi, Leo menghangatkan daging asap yang
ia dapatkan dari kota sebelumnya sebagai sarapan selagi menunggu gadis itu
bangun.
“(Siapa gadis itu sebenarnya...? Ada
banyak yang tidak kuketahui tentangnya... Dan kenapa dia bisa terlibat dalam
hal mengerikan semacam itu...?)” Gumam
Leo larut dalam pikirannya.
Suara retakan kayu bakar terdengar
dari api unggun menemani kesunyian di pagi itu saat Leo larut dalam pikirannya
sendiri. Ia terlalu larut dalam masalahnya hingga tanpa sadar daging yang
sebelumnya ia hangatkan itu kini sudah matang dan siap untuk di angkat.
“Hm...?”
Menyadarinya sudah matang, Leo segera
mengangkatnya dan segera menyajikannya. Namun, pada saat yang bersamaan, ia
mendengar suara menderu kereta kuda mendekat ke arahnya sebelum ia memutuskan
untuk memeriksanya.
Leo mendekat ke arah jalan sambil
menunggu datangnya kereta kuda itu. Dan benar saja, kereta kuda datang tak lama
setelah Leo mendengarnya.
“(Itu terlihat seperti pedagang
keliling. Kebetulan sekali aku ingin membeli beberapa barang...)” Ujarnya dalam
hati.
Ia melambaikan tangan menghentikan
kereta kuda itu sebelum ia menghapiri pengemudinya.
“Oh. Halo untukmu, anak muda. Ada apa
kau menghentikanku?” Ujar kusir itu menyapa.
“Halo, paman. Apa anda pedagang
keliling?” Tanya Leo kepadanya setelah menyapanya singkat.
“Ya. Kebetulan aku adalah pedagang.
Ada perlu apa?”
“Jika tidak keberatan, bolehkah aku
tahu apa yang anda jual?”
“Aku menjual banyak barang di sini.
Mulai dari bahan makanan hingga barang-barang untuk kebutuhan sehari-hari.”
“Begitu ya. Kebetulan sekali.”
“Jadi, apa kau ingin beli sesuatu?”
“Ya. Aku ingin membeli beberapa
makanan kering dan asinan untuk dibawa bepergian.”
“Tentu saja aku punya. Ke belakang,
akan kutunjukkan.”
permintaannya, Leo teringat akan pakaian gadis itu yang sudah kotor dan tak
bisa di pakai lagi, Leo berfikir kalau ada baiknya ia membelikan gadis itu baju
sebelum mengantarkannya pulang.
“Ini dia barang yang kau minta.
Semuanya dalam keadaan yang bagus!” Ujarnya sambil menunjukkan barang-barang
yang Leo minta.
“Kelihatannya begitu. Aku ambil 2 dendeng
daging itu dan acar ikan itu. Dan juga, apa anda menjual pakaian untuk wanita?”
Ujar Leo sebelum bertanya kepadanya.
“Pakaian untuk wanita, huh? Kurasa
aku ada beberapa di dalam. Tunggu sebentar, akan kucarikan untukmu.”
Kusir itu lantas mencari barang yang
di minta oleh Leo itu. Dan dalam sekejap mata, dia sudah membawa beberapa
pakaian untuknya.
“Ah.. ini dia. Aku menemukannya.”
Ujarnya menunjukkan pakaian yang Leo pinta.
“Itu terlihat bagus.” Balas Leo
mengamatinya.
“Silahkan dilihat-lihat dulu untuk
ukurannya. Ngomong-ngomong, kenapa kau membeli baju untuk perempuan?”
“A-Ah. Itu, aku membelinya untuk kakakku,
bisa dibilang begitu.”
“Begitu ya. Kurasa aku punya beberapa
barang yang sesuai...”
Pria itu kembali menunjukkan beberapa
baju lain sebelum akhirnya Leo menemukan satu yang cocok untuknya.
“Aku ambil yang satu itu.” Ujarnya
menunjuk pada baju berlengan panjang itu.
“Pilihan yang bagus. Kau punya mata
yang jeli.” Balas pedagang itu tersenyum senang.
“Baiklah, berapa semuanya?”
“Hm... Dua dendeng daging dan sebotol
acar ikan, ditambah satu ini jadi kurasa... 5 koin perak.”
“5 koin perak...?!”
“Ya. Itu sudah termasuk baju itu.”
“Tunggu, itu terlalu mahal. Apa tidak
__ADS_1
bisa di tawar lagi?”
Pria itu sejenak berfikir untuk
menentukan harga yang sesuai dengan yang di minta oleh Leo.
“Hm... Ini agak sulit. Itu sudah
harga yang paling murah yang bisa kutawarkan.” Ujar pedagang itu merenungkan
tawaran Leo.
“Itu masih terlalu tinggi, bisa di
turunkan?” Balas Leo mencoba membujuknya.
“Itu sudah yang paling murah. Jika
lebih dari itu, aku bisa rugi. Aku juga sedang mencari nafkah.” Balas Pedagang
itu berpegang pada pendiriannya.
Leo sejenak berpikir mengenai harga
tersebut. Sepertinya ia tidak bisa menawar lebih rendah lagi melihat bagaimana
reaksinya. Dia pria yang cukup keras kepala, jadi percuma saja berdebat
dengannya.
“Baiklah, kurasa aku akan
mengambilnya.” Ujar Leo sambil menghela nafas.
“Kalau begitu kita berdua sudah
sepakat.” Balasnya dengan wajah gembira.
Dengan berat hati Leo mengeluarkan uang terakhirnya pada
pria pedagang itu dan menerima semua barang itu sebagai gantinya.
“Senang berbisnis denganmu, anak
muda.” Ujar pedagang itu tersenyum lebar.
“Y-Ya.”
Itu adalah uang terakhir Leo karena
belakang ini ia tak mendapatkan pekerjaan. Ia harus segera mencari pekerjaan sesampainya
di kota berikutnya. Atau jika tidak, ia terpaksa berkelana dengan tangan hampa.
Leo akhirnya memutuskan untuk pergi,
namun saat ia baru beberapa langkah menjauh, pria pedagang itu menghentikannya.
“Ah... Anak muda, tunggu sebentar.” Ujar
pria pedagang itu memanggil Leo.
“...?”
Leo berhenti sebelum akhirnya
berbalik saat pria pedagang itu memanggilnya.
“Apa ada masalah?” Tanya Leo menghampirinya.
“Tunggu sebentar...” Balasnya masuk
ke dalam keretanya.
Pria pedangan itu mengambil sesuatu
dari dagangannya sebelum melemparkannya ke arah Leo.
“Ini terimalah.”
“....!”
Pria itu melemparkan sebuah pedang
tua ke arah Leo. Sontak ia pun terkejut karena tiba-tiba pria itu melemparkan
pedang ke arahnya.
“Apa ini? Kenapa kau memberiku pedang
ini?” Tanya Leo dengan wajah bingung.
“Yah, aku tidak terlalu
membutuhkannya. Lagi pula itu pedang yang sudah usang yang bahkan tidak laku
dijual. Jadi, kuberikan padamu sebagai hadiah setelah menjadi pelanggan
pertamaku selama 3 hari ini.” Balasnya kembali duduk di kursinya.
“Tunggu, tapi aku tidak punya-“
“Seperti yang kubilang sebelumnya,
anggap saja sebagai hadiah dariku. Tak perlu membayarnya, itu gratis. Jadi,
benda itu milikmu. Lumayan untuk menemani pedang tuamu itu bukan?”
“....”
Setelah memberikannya, pria itu
lantas melaju meninggalkan Leo bersama pedang tua itu. Walau tidak mengerti apa
yang dia katakan, sepertinya ia tidak punya pilihan lain selain menerimanya.
Leo pun kembali ke perkemahannya dan
memeriksa keadaan gadis itu. Ia meletakkan pedang yang diberikan pedagang tadi
sebelum ia masuk menghampiri gadis itu.
“Hm...?”
“....!!”
Gadis itu sudah bangun saat Leo
melihatnya, ia tampak terkejut dan panik saat melihat Leo masuk tanpa
sepengetahuannya saat dirinya tidak berbusana.
“A-Ah. M-Maaf... Aku tidak bermaksud mengintip
aku hanya ingin memeriksa keadaanmu.”
Gadis itu seketika mundur menjaga
jarak dari Leo sambil mencoba menutupi tubuh telanjangnya dengan kedua
tangannya saat ia mencoba menjelaskan kesalahpahaman tersebut.
“A-Aku bukan orang mencurigakan...
Aku juga tidak bermaksud jahat...” Ujar Leo mencoba meyakinkannya.
“Siapa kau...!” Balasnya dengan nada sinis.
Pertemuan pertamanya dengan gadis itu
mendapat kesan yang sangat buruk. Entah bagaimana cara Leo mengatakannya
__ADS_1
mengenai kejadian yang menimpanya. Ini mungkin akan jadi masalah yang sedikit
rumit.