Black Arc Saga

Black Arc Saga
Jawaban pertanyaan


__ADS_3

Berhadapan dengan naga itu, Lia tidak terlihat takut sama sekali. Dengan gagah berani, ia mengacungkan pedangnya pada naga itu sebagai tanda bahwa ia menantangnya. Di sisi lain, naga itu yang kesal dengan sikap angkuh Lia membalasnya dengan suara geraman mengerikan sebelum akhirnya ia menunjukkan tanda-tanda akan membalas serangan. Naga itu mengangkat kedua sayapnya sesaat sebelum rangkaian sihir tercipta di sekitarnya sebelum akhirnya menembak Lia dengan serangan sihir tersebut.


 


“Lia...!” Seru Leo dengan wajah panik.


 


Semua serangan itu melesat ke arah Lia dengan kecepatan yang mengerikan. Namun, sesaat sebelum serangan itu mengenainya, Lia melepaskan serangan sihir untuk menangkisnya sebelum akhirnya ia melompat menjauh menghindari serangan yang tersisa.


 


“Alicia-san...!” Ujar Kirishima bangun dari tempatnya terkejut.


 


“Dia sengaja menepis beberapa serangan itu agar tidak mengenai kita...” Sambung Chrea dengan wajah terkejut.


 


Ia sebelumnya sengaja menangkis beberapa serangan yang diarahkan kepadanya untuk menghindari dampak yang ditimbulkannya terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya sebelum akhirnya mengalihkan perhatian naga itu dari mereka. Mereka berempat tidak mengira Lia akan memperhatikan hal itu ketika menghadapi makhluk mengerikan itu. Tidak hanya fokus bertarung, Lia juga melindungi orang-orang di sekitarnya.


 


“Bahkan dia sampai melakukan hal itu sementara kita hanya bisa terdiam tidak berdaya di sini... Ini benar-benar memalukan...!” Gumam Gald dengan wajah kesal sambil memukul lantai.


 


“K-Kapten, apa yang harus kita lakukan...? Aku tidak tahan melihat Alicia-san berjuang seorang diri...!” Ujar Zen dengan wajah serius.


 


“Dan juga Leonard-san... Kita harus memeriksa keadaannya...!” Sambung Chrea dengan wajah cemas.


 


“Ya. Kita memang harus membantu mereka berdua. Bukan sebagai anggota party, tetapi sebagai teman mereka!” Balas Gald dengan wajah serius.


 


Melihat keputusan bulat Gald, mereka bertiga pun menjadi bersemangat untuk membantu Leo dan Lia.


 


“Tapi, bagaimana cara kita menolongnya?” Tanya Kirishima dengan wajah cemas.


 


“Benar juga, kapten apa yang harus kita lakukan?” Sambung Chrea ikut bertanya.


 


Sementara itu, setelah berhasil menjauhkan naga itu dari Gald dan teman-temannya, Lia masih harus berhadapan dengan rentetan serangan yang dilancarkan oleh naga itu. Tidak hanya harus menghindari serangan sihir yang mengejarnya, Lia juga harus bisa menghindari semburan apinya yang mematikan. Saat ini yang bisa ia lakukan hanyalah berlari dan menghindar, ia tidak punya banyak kesempatan untuk melawan balik.


 


“(Ini tidak bagus... Jika keadaan ini terus berlanjut, Lia yang akan jatuh terlebih dahulu... Aku harus membantunya...!)” Ujar Leo dalam hatinya menguatkan tekadnya.


 


Leo dengan segera mencari cara untuk menciptakan celah bagi Lia untuk menyerang balik naga itu. Ia pun berlari ke arah naga itu dengan tujuan untuk mengganggu konsentrasi serangan sihirnya. Leo berlari memutarinya sebelum akhirnya melancarkan serangan dari sisi belakangnya tepat pada kaki dagingnya.


 


“Haaa...!!”


 


Dengan sekuat tenaga ia menebas sisik yang membungkus kakinya dengan pedangnya. Namun, meski ia telah menyerang titik lemah sisiknya, luka yang ditimbulkannya masih terlalu dangkal. Hal itu memaksanya untuk mengubah rencananya.


 


“Grrrrr...!”


 


Menyadari Leo yang berusaha menyerangnya secara diam-diam, naga itu melepaskan sejumlah besar kekuatan sihir dari dalam tubuhnya untuk menciptakan raungan kuat yang dapat menghempaskan apa pun di sekitarnya. Leo yang tidak mampu menghindari serangan itu pada akhirnya terhempas menjauh darinya ketika berniat mencari titik lemahnya. Ia terlempar sejauh belasan meter darinya sesaat sebelum perhatian naga itu tertuju kepadanya.


 


“Rrrrr....!”


 


Leo lantas segera bangun ketika naga itu siap melancarkan serangannya. Dia menyemburkan api dari mulutnya bersamaan dengan melepaskan serangan sihir ke arahnya. Sontak ledakan hebat tercipta ketika kedua serangan saling bersentuhan hingga menyebabkan lantai yang ada di sekitarnya menyisakan kawah yang membara. Namun, meski serangan lebih dari cukup untuk melenyapkannya, naga itu masih merasakan kehadiran Leo yang menandakan bahwa dia masih hidup setelah menerima serangannya.


 


“Haaa...!!”


 


Dan benar saja, ketika naga itu memalingkan pandangannya, Leo sudah berada tepat di hadapannya. Ia menghunuskan pedangnya tepat pada bagian kepalanya. Namun, serangan itu gagal karena sisi yang Leo serang adalah sisi bagian tubuhnya yang berupa logam. Pedangnya nyaris tidak menggores kulit besinya sebelum akhirnya naga itu mengibaskan kepalanya dan menjatuhkan Leo dari atasnya lalu menyerangnya dengan ganas.


 


“Rrrrr...!!”


 


“Tehnik pedang: Fallen Leaves!”


 


Namun, sesaat sebelum naga itu hendak melancarkan serangan, Lia datang dari ketinggian menusuk punggungnya dengan seluruh kekuatannya sesaat sebelum ledakan kuat tercipta. Leo sempat terlempar akibat ledakan itu, namun ia dapat bertahan setelah menyadari apa yang baru saja terjadi.


 


“Lia...!” Ujar Leo dengan wajah cemas.


 


Saat ledakan berakhir, terlihat Lia yang bersusah payah mencoba menembus pertahanan sihir milik naga itu dengan pedangnya yang membara oleh kekuatan sihirnya. Meski serangan Lia menimbulkan dampak yang hebat, tetapi hal itu masih belum cukup untuk menghancurkan pertahanan miliknya. Hal itu menimbulkan celah bagi naga itu untuk menyerang balik.


 


“Rrrrr...!!”


 


Naga itu mengayunkan ekornya tepat ke arah Lia sebelum akhirnya terdengar suara melengking keras bersamaan dengan Lia yang terlempar jauh hingga menghantam dinding yang ada di sisi lain ruangan.


 


“Ugh...!”


 


“Lia...!” Seru Leo panik.


 


Suara guncangan terdengar ketika Lia menghantam dinding itu hingga menyebabkan lubang retakan pada tempatnya mendarat. Beruntung, ia tidak terluka parah karena sebelumnya ia menggunakan pedangnya untuk menghalau sambaran ekor naga itu.


 


“(Kuat sekali...! Pertahanan sihirnya benar-benar sangat kuat...! Aku membutuhkan serangan yang lebih kuat...!)” Ujar Lia dalam hatinya sambil menyeka luka lecet di pipinya.


 


Melihat Lia baik-baik saja, Leo pun menghela nafas lega mengetahuinya. Tindakan Lia terbilang nekat menyerang naga itu dengan tanpa berpikir panjang. Memiliki kekuatan saja tidak cukup untuk mengalahkan makhluk sepertinya. Ia harus memiliki pengalaman dan pengetahuan mengenai naga untuk bisa mengalahkannya.


 


“Grrrrrr....”


 

__ADS_1


Naga itu melihat ke arah Leo dan Lia bergantian sambil menggeram dengan suara yang menakutkan. Dari gerak geriknya, Leo tahu naga itu sedang mengamati situasi di sekitarnya. Ia pun memasang kuda-kuda selagi mewaspadai apa yang naga itu rencanakan.


 


“(Apa yang coba dia lakukan...? Dia baru mengeluarkan satu jenis sihir yang dia kuasai. Bagi naga setingkatnya, setidaknya dia bisa menggunakan lebih dari satu jenis sihir. Masih ada kemungkinan dia menyimpan sihir utamanya untuk memusnahkan kami semua yang ada di sini...)” Ujar Leo dalam hatinya gelisah.


 


Bagaimana pun juga, dia adalah naga yang telah tercemar oleh campur tangan manusia. Kemungkinan besar, dia memiliki kemampuan yang melampaui naga lain di jenisnya. Entah apa pun itu, Leo tidak boleh lengah sedikit pun.


 


Di saat keadaan di antara mereka bertiga mendadak hening, secara mengejutkan sebuah serangan sihir petir melesat ke arah naga itu. Sontak Leo dan Lia yang melihatnya terkejut sesaat sebelum serangan lain berdatangan menghujaninya.


 


“Sihir...?! Jangan katakan itu dari mereka...!” Ujar Leo terkejut menyaksikannya.


 


Bersamaan dengan hal itu, para prajurit dan petualang datang ke tempat mereka berdua berada sesaat sebelum Gald dan Zen yang ikut hadir datang menghampiri Leo.


 


“Maaf membuat kalian menunggu lama. Tapi, kami di sini untuk membantu kalian berdua.” Ujar Gald dengan wajah serius.


 


“Jangan khawatir, Leonard-san! Kita lawan makhluk mengerikan itu bersama-sama!” Sambung Zen percaya diri.


 


“Gald... Zen... Kalian semua...” Balas Leo kehabisan kata-kata.


 


“Meski sulit membujuk mereka semua, tetapi pada akhirnya kami berhasil meyakinkan mereka untuk ikut bertarung bersama kalian berdua.” Balas Gald tersenyum yakin.


 


Meski keraguan dan rasa takut masih bisa terlihat dari wajah mereka, tetapi mereka tetap memaksakan diri untuk ikut bertarung melawan monster itu. Entah bagaimana cara Gald membujuk mereka semua, namun ini semua di luar dugaan. Kebanyakan dari mereka adalah petualang pemula dan prajurit biasa. Pertarungan ini justru akan membahayakan mereka yang kurang dalam pengalaman maupun pengetahuan.


 


“Ini tidak seperti yang kurencanakan... Kenapa kalian ikut bertarung...?” Ujar Leo dengan wajah kesal dan bingung.


 


“Hm...? Kenapa kau bilang begitu...? Apa kami perlu alasan untuk menolong kalian...?” Balas Gald dengan wajah bingung.


 


“Tidak, bukan itu! Seharusnya kalian tidak terjun langsung ke sini! Dia bukan monster yang biasa kalian lawan!” Balas Leo dengan nada tinggi.


 


“Tentu saja kami tahu. Tapi, tetap saja kami tidak tahan jika teman kami dalam kesusahan!” Balas Gald ikut mengangkat nadanya.


 


“Dia benar...! Apa salah jika kami ingin menolong teman kami...!” Sambung Zen dengan wajah marah.


 


“Ugh... Kalian berdua... Setidaknya bacalah situasinya!” Balas Leo marah.


 


Selagi Leo bertengkar dengan Gald dan Zen, pasukan yang dipimpin oleh Gideon memulai serangan mereka terhadap naga itu. Dengan kekuatan mereka yang seadanya, mereka mengepung naga itu dan mulai menyerang tubuhnya dengan senjata mereka. Hal itu tentu saja tidak berguna mengingat seluruh tubuh naga itu dilindungi sisik keras yang dilapisi oleh mantra penguat.


 


“Haaa...!!”


 


 


“Bahkan Skill-ku saja tidak mempan terhadapnya!”


 


Meski demikian, mereka tidak lantas mundur begitu saja. Mereka terus melancarkan serangan mereka selagi perhatian naga itu masih tertuju pada pemanah dan penyihir yang menyerangnya di lantai atas.


 


“Jangan menyerah...! Terus lancarkan serangan kalian...!” Seru Gideon kepada pasukannya.


 


Melihat orang-orang yang gagal berusaha menyakitinya, naga itu pun menghirup nafas dalam sebelum akhirnya mengeluarkan raungan keras yang seketika menghempaskan seluruh pasukan yang ada di sekitarnya termasuk Leo dan mereka berdua. Mereka semua terhempas layaknya dedaunan yang tersapu angin sesaat sebelum naga itu membalas serangan para pemanah dan penyihir yang sebelumnya mengganggunya.


 


“Merunduk...!” Seru salah seorang prajurit pemanah.


 


Mereka lantas merunduk dan tiarap di atas lantai begitu naga itu melancarkan serangan balasannya yang berupa semburan api dan tembakan sihir. Kobaran api yang besar menyambar seisi lantai atas tempat mereka berada diikuti oleh serangkaian ledakan akibat serangan sihir yang berdatangan menghujani mereka. Namun, berkat langkah tanggapnya, semburan api darinya dan serangan sihirnya gagal mengenai mereka.


 


“Semuanya, berpencar...!” Sambung prajurit itu memberikan arahan.


 


Memanfaatkan jeda serangannya, mereka pun memisahkan diri dalam bentuk kelompok kecil lalu menyebar ke seluruh sudut guna menghindari kemungkinan diserang.


 


“Ugh... Apa-apaan serangannya itu... Aku bahkan nyaris tidak bisa merasakan jariku...” Ujar Zen bangun dari tempatnya dengan tangan gemetaran.


 


“Itu bukan sekedar raungan saja... Itu juga mengandung sihir...” Balas Gald bangkit dengan kedua kakinya.


 


“Aku sudah mengatakannya... Dia bukan monster biasa...” Ujar Leo dengan nada kesal.


 


“Baiklah sekarang kami percaya... Lebih baik kita pikirkan ulang bagaimana menghabisinya...” Balas Zen menyeka debu di pipinya.


 


“Zen benar... Mungkin naga itu kuat, tetapi tidak mungkin makhluk itu tidak memiliki kelemahan. Leonard, bagaimana menurutmu?” Sambung Gald sebelum bertanya kepada Leo.


 


Meski Leo merasa ragu dengan keputusan ini, pada akhirnya ia tidak punya pilihan lain selain membiarkan mereka bertarung bersamanya. Walau dalam segi kekuatan mereka masih terbilang jauh dari kata cukup untuk melawan naga itu, namun dengan jumlah mereka serta taktik yang tepat semua itu bisa diatasi.


 


“(Aku tidak yakin apakah rencana yang ditunjukkan kepadaku bisa mereka ikuti...)” Ujar Leo dalam hatinya ragu.


 


Tidak semua orang di sini adalah Thearian, itulah mengapa Leo ragu untuk mengatakan rencananya. Ia tidak sepenuhnya mengetahui dengan pasti kekuatan mereka dan kemampuan yang mereka miliki. Sejauh yang Leo tahu, seorang pejuang Thearian mampu mengalahkan naga setingkatnya tanpa bantuan orang lain. Itulah yang menyebabkan Leo memikirkan ulang bagaimana cara mengalahkannya dengan kemampuan mereka yang ada.


 


“Leonard...?” Ujar Gald memanggilnya dengan wajah gelisah.


 


“Leonard-san...” Sambung Zen dengan nada tinggi.

__ADS_1


 


“... Aku tahu. Tapi...” Balas Leo dengan wajah ragu.


 


Pada saat yang bersamaan, Wein yang kebetulan berada di dekat mereka memotong pembicaraan setelah menyadari ada sesuatu yang salah pada naga itu.


 


“Bukannya aku ingin mengganggu rencanamu, tapi Leonard Ansgred, lihatlah itu...! Naga itu bertingkah aneh...!” Ujar Wein sebelum menunjuk pada naga itu.


 


“Tunggu, apa...?” Balas Leo terkejut.


 


Naga itu mengangkat kedua kaki depannya dan sayapnya seperti tengah mencoba untuk berdiri ketika Leo melihat ke arahnya. Entah apa yang hendak dia lakukan, namun Leo tahu itu bukan pertanda yang baik.


 


“Semuanya waspadalah...!” Teriak Leo dengan nada lantang.


 


Mendengar peringatan Leo, mereka semua lantas memasang mode bertahan mereka masing-masing ketika naga itu kembali melakukan gerakan mencurigakan. Ia membuka lebar-lebar sayapnya sesaat sebelum ia mengepakkannya dengan kuat hingga menyebabkan tiupan angin yang sangat kuat. Mereka semua yang ada di sekitarnya hanya bisa bertahan melawan terpaan angin itu sesaat sebelum naga itu kembali mengepakkan sayapnya. Namun, kali ini selain mengepakkan sayapnya untuk menimbulkan angin ribut, naga itu juga menerbangkan sisik yang ada di sayapnya ke arah mereka. Sontak serangan yang tidak diduga itu menghantam tubuh beberapa prajurit dan petualang malang yang ada di depannya hingga menembus tubuh mereka. Teriakan kesakitan pun terdengar dari mereka yang menerima serangan tersebut.


 


“Gyaaaaahhhh...!!”


 


“Aaaarghhhh...!!! K-Kakiku...!!”


 


“Aaaaaaa...!!!”


 


Melihat hal tersebut, para pemanah dan penyihir yang terpisah di lantai atas lantas melancarkan serangan pada naga itu sebelum ia melukai mereka yang ada di bawah. Namun, ketika mereka berniat melancarkan serangan mereka, sesuatu yang mengejutkan terjadi.


 


“M-Mustahil...!”


 


“B-Bagaimana mungkin...!!”


 


“D-Dia terbang...!!”


 


Meski terkesan tidak masuk akal, namun naga itu mampu mengangkat dirinya untuk melayang di udara. Dengan kedua sayapnya yang berlainan seharusnya tidak memungkinkan baginya untuk terbang. Sayap aslinya memang sudah terlihat rusak, sementara sayap lainnya adalah sayap buatan yang terbuat dari logam. Keadaan ini seharusnya membuatnya mustahil untuk bisa terbang, namun semua itu terbantahkan ketika naga itu berhasil melakukannya. Semua orang yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bisa terperanga sesaat sebelum naga itu meraung sambil mengibaskan ekornya yang melepaskan duri yang menyebar ke seluruh penjuru tempat itu.


 


“Awas...!”


 


“Semuanya berlindung...!”


 


Setelah menghujani mereka semua dengan durinya, naga itu kembali ke tempatnya semula mendarat dengan sempurna ketika lingkaran sihir besar tercipta tepat di bawah tubuhnya menapak. Entah apa yang kali ini dilakukannya, namun Leo merasa ini akan menjadi pertanda buruk.


 


“Kalian berdua bersiaplah...! Dia datang...!” Seru Leo bangkit dalam posisi bertahan.


 


“A-Apa itu...? Sihir...? Kali ini apa yang hendak dia lakukan...?” Balas Zen dengan wajah panik.


 


“Apa pun itu, aku yakin itu bukan hal yang bagus...” Ujar Gald dengan wajah tegang.


 


Bersamaan dengan hal itu, semua sisik yang dilepaskan oleh naga itu mulai bereaksi dengan sihir tersebut. Mereka mulai memancarkan cahaya yang sama dengan lingkaran sihir itu sesaat sebelum akhirnya mereka semua menjelma menjadi sesosok Golem dengan zirah yang sama dengan yang menyerang pertambangan.


 


“(Jangan katakan...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik menyadari sesuatu.


 


Leo mengambil kepingan inti Golem yang pernah ia kalahkan sebelumnya ketika menyadarinya. Semua Golem itu rupanya adalah ciptaan naga tersebut, khususnya para Golem yang mengenakan zirah. Kini semua misteri yang ada di dalam tambang terjawab sudah, semua masalah yang ada bersumber darinya.


 


“Leo...!” Ujar Lia berlari menghampirinya.


 


“Lia...! Kau baik-baik saja...?” Balas Leo dengan wajah cemas.


 


“Mm. Yang lebih penting, apa kau lihat itu? Dia adalah sumber dari semua Golem itu.” Balas Lia melihat ke arah naga itu.


 


“Ya. Itu menjelaskan kenapa inti mereka tidak seperti Golem pada umumnya...” Balas Leo dengan nada kesal.


 


Para Golem itu mulai bergerak ketika naga itu meraung kepada mereka. Mereka mulai menciptakan Golem lain untuk bertarung bersama mereka melawan pasukan yang ada.


 


“S-Sial...! Mereka kemari...!”


 


“Kita tidak mungkin mengalahkan mereka dengan jumlah kita sekarang...!”


 


Para Golem mulai mengepung pasukan penyerbu yang berada di lantai atas. Dengan mereka yang terpisah menjadi beberapa kelompok kecil, para Golem dapat memojokkan mereka dengan sangat mudah.


 


“Apa yang harus kita lakukan...!”


 


“Percuma saja bergabung dengan kelompok lain... Mereka juga bernasib sama dengan kita...”


 


“Aku tahu itu...! Lantas apa yang harus kita lakukan...!”


 


“Aku juga tidak tahu..!!”


 


Keadaan seketika berbalik dengan kehadiran Golem-Golem itu. Mereka yang semula unggul dalam jumlah kini justru tersudut oleh kehadiran mereka. Hal ini menjadi kabar yang buruk bagi Leo dan Lia yang sekali lagi terpaksa bertarung melawan naga itu hanya dengan mengandalkan satu sama lain, sekaligus mereka juga harus memikirkan nasib pasukan mereka yang terdesak oleh pasukan Golem.

__ADS_1


__ADS_2