
Gald datang menghampiri mereka setelah melihat Chrea menangis meninggalkan mereka. Wajahnya tampak tidak senang saat mendatangi mereka berdua. Kemungkinan besar, ia mengira bahwa mereka berdualah yang telah membuat Chrea menangis.
“Y-Ya. Ada hal yang ingin kusampaikan padamu...” Balas Leo kepadanya.
“Begitu ya. Aku mengerti.” Balas Gald sambil menghela nafas panjang.
“Uh... Kau tidak sedang kesal, bukan?” Balas Leo dengan senyum yang dipaksakan.
“Marah? Kenapa aku harus marah? Justru aku senang kau mau datang ke sini.” Balas Gald kembali tersenyum seperti biasanya.
“B-Begitu ya... Rupanya hanya salah paham saja...” Balas Leo tersenyum gugup sambil menggaruk pipinya.
Leo senang bahwa itu hanya kesalahpahamannya saja. Gald tidak marah dengannya karena telah membuat Chrea menangis. Meski demikian, tetap saja ia merasa sedikit bersalah kepadanya karena telah membuatnya mengingat hal yang tidak ingin dikenangnya.
“Aku tidak menyalahkan kalian karena membuatnya menangis. Chrea pasti secara tidak sengaja menyinggung kejadian itu lagi... Itu bukan hal yang baru, memang terkadang anak itu bisa jadi sedikit emosional...” Ujar Gald termenung dengan wajah muram.
“Maaf, aku tidak berniat membuatnya mengingat kejadian yang kau maksud...” Balas Leo dengan wajah menyesal.
“... Memangnya apa yang terjadi 5 tahun yang lalu?” Tanya Lia menggantikan Leo.
“T-Tunggu, Lia...!” Balas Leo terkejut mendengar pertanyaan Lia.
Gald terdiam sejenak setelah mendengar pertanyaan Lia. Ia berpikir untuk tidak memberitahukannya kepada mereka, namun sepertinya sudah tidak ada hal yang bisa ia sembunyikan lagi.
“Karena kalian sudah mendengarnya dari Chrea, kurasa aku tidak punya pilihan lain selain mengatakannya kepada kalian...” Ujar Gald sambil menghela nafas panjang.
“U-Uh... Jika kau keberatan, kau tidak perlu mengatakannya...” Balas Leo mencoba memotong alur pembicaraan.
“Tidak, lagi pula buktinya sudah kalian lihat. Percuma saja menyembunyikannya...” Balas Gald tersenyum pahit.
“B-Begitu ya.” Balas Leo dengan wajah menyesal.
Gald menarik nafas sejenak sebelum ia mulai menceritakan peristiwa yang terjadi 5 tahun yang lalu di tempat ini.
“Lima tahun yang lalu, tepatnya di pertengahan musim dingin saat itu, terjadi sebuah kebakaran hebat yang membakar wilayah di sekitar gereja. Api melahap bangunan penduduk di sekitar bahkan hingga merambat ke dalam bangunan gereja. Dan sebagai hasilnya, kau bisa melihatnya sekarang...” Ujar Gald menceritakan kejadian tersebut sambil melihat ke seisi ruangan.
“Penyebabnya?” Balas Leo bertanya.
“Menurut penyelidikan, sumber api berasal dari muatan tambang yang meledak saat hendak dikirim menuju utara.” Jawab Gald melihat ke arah Leo sambil mengingat petunjuknya.
“Meledak...?” Ujar Leo dengan wajah bingung.
“Bagaimana bisa hal itu terjadi? Memangnya apa yang dibawanya?” Sambung Lia bertanya kepadanya dengan wajah ragu.
“Untuk lebih rincinya aku tidak tahu. Yang jelas, sebelum kebakaran terjadi, sempat terdengar suara ledakan yang cukup keras dari jalan utama. Dan tak lama berselang setelahnya, kobaran api melahap bangunan warga di sekitar dan menelan korban jiwa...” Jawab Gald menggelengkan kepala dan melanjutkan ceritanya.
Untuk sekilas, cerita tersebut memang sangat kelam dan menyimpan kesedihan di hati penduduk kota. Namun bagi Leo dan Lia, peristiwa tersebut mengandung kejanggalan.
“Tunggu, bagaimana bisa kebakaran merambat sampai ke sini? Padahal gereja terletak cukup jauh dari barisan rumah warga.” Ujar Leo bertanya dengan wajah curiga.
“Itu karena saat prajurit kota mencoba memadamkan api, sebuah kereta kuda secara tidak sengaja ikut terbakar hingga membuat kuda penariknya panik dan berlarian hingga akhirnya menabrak gereja. Dan yang lebih buruk, kereta kuda itu berisi tong-tong anggur yang membuat api langsung menyebar ke seisi aula ini. Itulah yang kulihat saat itu, ingatanku masih cukup tajam. Buktinya juga ada di jendela yang rusak di sana...” Balas Gald menunjuk ke arah jendela yang berlubang dengan wajah yakin.
“Baiklah, sekarang itu terdengar masuk akal... Tetapi, tetap saja seperti masih ada yang mengganjal...” Balas Leo sebelum akhirnya merenung sambil bergumam.
“Berkat hal itu, gereja ini akhirnya jadi seperti sekarang. Tua, ditinggalkan dan juga termakan usia... Lagi pula sejak awal gereja ini memang sudah tidak terpakai lagi. Sejak para dewa meninggal, banyak orang mulai meninggalkan kepercayaan mereka...” Ujar Gald dengan nada kecewa.
Sambil menahan kesedihannya, Gald mencoba tetap tegar di hadapan mereka berdua. Kejadian tersebut memang masih meninggalkan kisah pilu di hatinya.
“... Lalu, bagaimana dengan anak-anak itu?” Sambung Lia bertanya.
“Ah. Mereka? Pada awalnya sebagian dari mereka adalah anak asuh di sini. Namun, sejak peristiwa kebakaran itu, kamilah yang merawat mereka sebagai gantinya.” Jawab Gald tersenyum masam.
“Bagaimana dengan pemerintah kota? Kenapa mereka tidak memberikan bantuan?” Balas Leo bertanya dengan perasaan mengganjal di hatinya.
“.... Aku tidak tahu. Setelah kejadian itu usai, mereka membiarkan daerah ini begitu saja. Entah apa yang dipikirkan olehnya, tetapi sejak kejadian itu, tak sedikit dari warga yang mulai membencinya. Mereka mulai memanggil walikota dengan penguasa kikir.” Balas Gald sambil membendung kemarahanannya.
Apa yang Gald katakan membuat Leo teringat mengenai kejadian saat ia baru saja tiba di kota ini bersama Lia. Saat mengunjungi pandai besi, ia juga mendengar sindiran darinya untuk penguasa kota atas tindakan lambatnya dalam menangani krisis di tambang. Sekarang ia mengerti alasan mengapa tidak sedikit dari warga kota yang mencelanya.
“Begitu ya. Sepertinya banyak hal mengejutkan yang kami dapatkan. Dan juga, maaf telah membuatmu mengatakan banyak hal...” Ujar Leo sambil menundukkan kepalanya meminta maaf.
“Tidak masalah. Anggap saja sebagai balas budi dari kami.” Balas Gald menghela nafas sebelum tersenyum masam.
“Meski begitu, rasanya agak kurang menyenangkan rasanya...” Balas Leo tersenyum gugup sambil menggaruk pipinya.
“Tidak, tidak apa-apa. Aku juga tidak keberatan. Lagi pula aku juga senang bisa punya waktu untuk bicara lebih banyak dengan kalian.” Balas Gald tertawa kecil menghibur Leo.
Meski banyak hal yang telah menimpanya, ia tetap bisa tersenyum dan tertawa seperti biasanya. Hal itu juga yang pastinya menjadi kekuatan baginya untuk terus bangkit dan berjuang.
Tak lama setelahnya, Kirishima datang membawa minuman untuk mereka dibantu oleh seorang anak laki-laki yang datang bersamanya. Ia terlihat lebih tua dibandingkan dengan kedua anak perempuan yang bersamanya sebelumnya.
“Maaf membuat kalian menunggu, silahkan dinikmati...” Ujar Kirishima menawarkan teh kepada mereka.
“S-Silahkan, kakak...!” Ujar anak itu menawarkan teh kepada Leo.
“Y-Ya. Terima kasih banyak.” Balas Leo menerima tehnya.
__ADS_1
“Terima kasih, Shima, Lou. Ngomong-ngomong, baru kali ini aku melihatmu berinisiatif membantu kakak Shima dengan urusan dapur, ada apa memangnya?” Balas Gald tersenyum sebelum bertanya pada anak itu.
“A-Ah...! I-Itu... E-Eh. Y-Ya...” Balas Lou dengan wajah merah gugup.
“Lou-chan, ayo bicara yang benar. Kau bilang ingin bicara dengan Leonard-san, bukan?” Ujar Kirishima memberinya keberanian.
“E-Eh...! B-Bukan...! Bukan seperti itu...! Shima-nee...!” Balas Lou dengan nada gugup sebelum marah kepadanya.
“Fufu... Kau sangat bersemangat sampai kau mau menolongku, bukan? Kau bilang sangat ingin menemui Leonard-san dan belajar darinya, bukan?” Balas Kirishima tertawa singkat sebelum menjahilinya.
“Belajar dariku...?” Sambung Leo dengan wajah bingung.
“Whaaaa...!!”
Karena sangat malu, akhirnya Lou berlari ke arahnya dan memeluk Kirishima sebelum akhirnya ia bersembunyi di baliknya ketika Gald tertawa melihat tingkah polosnya.
“Sepertinya kau punya penggemar. Anak itu namanya Louise, dia sangat tertarik dengan ilmu pedang sampai ingin bertemu denganmu untuk meminta diajar langsung olehmu.” Ujar Gald tertawa sebelum melihat ke arah Leo.
“U-Uh... Senang bertemu denganmu, Louise. Tapi, bukan bermaksud mengecewakanmu, tetapi ilmu pedangku tidak sehebat yang kau kira...” Balas Leo dengan wajah canggung.
“B-Benarkah...? T-Tapi... Gald-nii pernah berkata kau dapat membunuh Golem dengan mudah bahkan melawan Silver Moon Wolf tanpa sihir sama sekali...” Balas Louise dengan nada tertarik.
“A-Ah. Kalau soal itu, aku dibantu olehnya. Dialah yang mengalahkan serigala itu dengan kemampuan pedangnya yang hebat...” Balas Leo melihat ke arah Lia mengenalkannya.
Lia pun tersenyum ramah kepadanya sebelum ia mengenalkan dirinya kepadanya.
“... Salam, pejuang muda. Namaku Alicia.” Sapa Lia sambil mengenalkan diri.
“E-Eh...? J-Jadi bukan kau yang mengalahkannya...?” Tanya Louise melihat ke arah Leo kecewa.
“Bukan aku, tetapi kami. Berkat kerja sama, kami dapat mengalahkannya dengan mudah.” Jawab Leo tersenyum kepadanya.
“B-Begitu ya... M-Menakjubkan...” Balasnya dengan wajah terpukau.
Mendengar hal itu, Louise menjadi sangat antusias. Ia menyingkirkan rasa malu dan gugupnya di hadapan mereka sebelum keluar dari balik punggung Kirishima untuk bicara dengan Leo dan Lia.
“Leonard-san dan Alicia-san, maukah kalian menjadi guru pembimbingku...!” Seru Louise berlutut di hadapan mereka tanpa keraguan.
“T-Tunggu, Lou-chan...!” Ujar Kirishima terkejut melihat tindakannya.
“T-Tunggu, apa...?!” Sambung Leo ikut terkejut.
“Gald-nii dan Zen-nii belum mengizinkanku untuk berlatih pedang karena mereka belajar berpedang secara mandiri, maka dari itu... Aku ingin dibimbing langsung oleh ahli pedang seperti kalian!” Balas Louise menundukkan kepalanya memohon.
“Tolong, Leonard-san, Alicia-san...! Tolong ajari aku ilmu berpedang...!” Sambung Louise mendesak mereka.
“U-Uh...”
“Kumohon...! Aku akan melakukan apa pun...!” Ujar Louise mengangkat wajahnya dengan penuh harapan.
Saat Leo semakin terdesak dengan keinginan Louise, Gald hadir untuk menengahi mereka dengan menghentikannya.
“Lou, bukankah ini saatnya sarapan? Ingat apa yang selalu ibu katakan jika sudah saatnya sarapan?” Ujar Gald menasihatinya dengan nada tegas.
“E-Eh...? Y-Ya. T-Tidak boleh mengganggu orang lain... Tidak boleh melewatkan waktu makan...” Balas Louise menundukkan wajahnya menyesal.
“Benar. Dan sekarang, kau sudah mengerti bukan?” Balas Gald tersenyum kepadanya.
“Y-Ya. Tidak boleh mengganggu orang lain... Maafkan aku...” Balasnya dengan wajah sedih.
“Lou-chan, bukan kepada kakak Gald, tetapi pada mereka, ingat?” Ujar Kirishima ikut menasihatinya.
“Mm. Tolong maafkan keegoisanku... Aku minta maaf...” Balas Louise sebelum kembali melihat ke arah Leo dan Lia.
“Anak pintar. Sekarang, mari kita ke ruang makan. Kita biarkan kakak Gald menyelesaikan urusannya.” Balas Kirishima meraih tangannya mengajaknya pergi.
“Mm.”
“Aku akan menyusul nanti. Kalian silahkan makan duluan saja. Tapi jangan lupa sisihkan untukku, mengerti?” Ujar Gald sebelum mereka pergi.
Akhirnya, Kirishima pun kembali dengan Louise bersamanya, meninggalkan mereka bertiga kembali seperti keadaan awal.
“Maaf tentang yang barusan. Anak itu terkadang memang terlalu bersemangat pada hal yang disukainya.” Ujar Gald menghela nafas panjang.
“Tidak masalah. Kurasa dengan adanya mereka, tempat ini bisa lebih hidup sama seperti semulanya...” Balas Leo tersenyum masam melihat mereka berdua pergi.
“Itu mengingatkanku, karena banyak yang terjadi saat kita hendak bicara, aku sampai lupa bertanya apa maksud kedatangan kalian pagi hari ini. Jadi, ada masalah apa yang membuat kalian kemari?” Balas Gald sebelum bertanya kepada mereka berdua.
Ekspresi Leo seketika berubah ketika mendengar pertanyaannya. Ia menghela nafas sejenak sebelum ia mengatakan maksud tujuannya datang ke tempatnya.
“Aku akan langsung saja... Mengenai ajakanmu, aku akan memberikan jawaban di sini. Tetapi, sebelum itu, bisa kau katakan kenapa kau mengundang kami ke dalam party-mu?” Balas Leo dengan wajah serius.
Gald terdiam sejenak sebelum akhirnya ia membulatkan tekadnya dan menjawab pertanyaan Leo.
“Entah mungkin ini menjawab pertanyaanmu atau tidak, tetapi jika boleh aku jujur, aku mengagumimu, Leonard Ansgred.” Jawab Gald dengan senyum masam di wajahnya.
__ADS_1
“....”
“Saat pertama kali kita bertemu, aku menyadari sesuatu darimu. Kau adalah salah satu dariku, salah satu dari kami yang ditolak oleh takdir...” Sambung Gald melanjutkan jawabannya.
“....”
“Jangan bilang...!” Bisik Lia dengan wajah terkejut ketika sadar maksudnya.
“Setelah kau datang menyelamatkan kami kemarin, aku jadi yakin. Leonard Ansgred, aku sudah mengetahuinya, kebenaran tentang dirimu...” Ujar Gald dengan wajah percaya diri.
Tepat ketika ia mengatakannya, Lia seketika memotong pembicaraan dengan wajah marah.
“Itu tidak masuk akal...! Jika hanya itu saja alasanmu, itu masih belum cukup!” Ujar Lia dengan nada tinggi.
“Lia...” Gumam Leo dengan wajah dingin melihat ke arahnya.
“Aku tahu ini tidak masuk akal dan mungkin terkesan tidak sopan mengungkap rahasia seseorang. Tetapi, dari dalam lubuk hatiku, aku memberanikan diri mengatakannya kepada orang yang kukagumi...” Balas Gald dengan sungguh-sungguh.
“Kalau hanya itu alasanmu, maka jawabannya adala-“
Tepat sebelum Lia mengatakannya, Leo memotong kalimatnya dengan menggenggam tangannya untuk menghentikan niatnya. Lia seketika terkejut atas tindakan Leo sebelum ia melihat ke arahnya dengan wajah sedih.
“Lia, kurasa itu sudah cukup...” Ujar Leo dengan nada lembut tersenyum.
“T-Tapi...!” Balas Lia menentang sambil menahan perasaan sedih dan marah di hatinya.
“Aku tahu itu... Tetapi, biarkan kita dengar apa yang ingin dia katakan...” Balas Leo sambil perlahan menenangkannya.
“....”
Lia pun akhirnya menuruti perkataan Leo dan akhirnya menyerahkan semuanya kepada keputusannya. Ia tahu bahwa niatnya baik, namun jika Lia bicara mengikuti emosinya, maka perasaan Gald yang akan menjadi korbannya.
“Jadi, apa yang kau ketahui dariku? Kenapa kau berpikir aku merahasiakan sesuatu?” Tanya Leo kepadanya dengan ekspresi tenang.
“Awalnya aku memang tidak yakin, tetapi setelah memastikannya, sekarang aku yakin bahwa kau adalah penerima berkah yang tidak terwujud.” Jawab Gald dengan wajah yakin.
Seperti yang pernah disinggung sebelumnya. Manusia di dunia setelah peninggalan dewa dibagi menjadi dua kelompok. Mereka adalah pemegang berkah dan pembawa berkah. Dan bagi pembawa berkah, mereka yang tidak mampu membangkitkan berkah yang ada di dalam diri mereka biasa disebut sebagai penerima berkah yang tidak terwujud. Mereka hanya menerima perlindungan ilahi dari dewa tanpa bisa merubahnya menjadi berkah ilahi. Bahkan setelah puluhan tahun hidupnya, ia masih belum mampu membangkitkan berkah yang ada dalam diri mereka. Setidaknya, itulah yang Gald yakini mengenai Leo tanpa tahu kenyataan yang sebenarnya.
“Dan bagaimana jika tebakanmu itu salah? Bagaimana jika kenyataan itu lebih buruk dari dugaanmu?” Balas Leo kembali bertanya kepadanya.
“Leo...” Bisik Lia dengan wajah cemas.
“Kenyataan memang tidak selalu manis, bukan? Bahkan di umurku ini aku belum pernah menerima berkah... Tidak hanya aku, Zen juga sama... Di party kami hanya Kirishima dan Chrea saja yang memiliki Skill. Kami tertahan sebagai orang biasa...” Balas Gald tersenyum pahit melihat dirinya sendiri.
“Ho?”
“Tetapi, kau berbeda... Meski kau tidak memiliki Skill, itu tidak menghentikanmu. Kau tetap bertarung melawan nasibmu sendiri dan tidak pernah menyerah...” Sambung Gald sebelum melihat ke arahnya dengan wajah berseri.
“Dari mana kau yakin? Bagaimana kau bisa beralasan seperti itu?” Balas Leo kembali bertanya kepadanya.
“Hanya intuisi, mungkin...? Sejak kecil, aku telah melihat banyak hal baik padaku maupun pada orang lain, termasuk jatuh bangunnya seseorang... Menipu orang lain itu perkara mudah, tetapi tidak dengan dirimu sendiri... Terlepas dari tujuannya, tindakan seseorang akan selaras dengan hati dan pikirannya... Aku telah melihat hal itu selama hidupku, jadi begitulah kesimpulanku...” Jawab Gald percaya dengan kata hatinya.
Leo terdiam sejenak setelah mendengar alasan Gald. Ia termenung setelah mendengarkan pandangan Gald mengenai dirinya. Ia tidak menyangka bahwa orang seburuk dirinya bisa dipandang sedemikian baik olehnya. Ia percaya bahwa Gald adalah orang yang bisa dipercaya, namun sebelum itu, ia hendak memastikan sesuatu darinya.
“Pertanyaan terakhir, bagaimana jika aku tidak seperti yang kau pikirkan? Apa yang akan kau lakukan?” Tanya Leo dengan wajah serius.
“Jika kau tanya apa yang akan aku lakukan, sejujurnya aku juga tidak tahu... Tetapi, selama ini aku telah belajar bahwa orang yang tidak meminta apa pun setelah menyelamatkan hidup orang lain pantas untuk disegani dan dihormati. Terlepas dari tindakan yang kau lakukan, sebagai orang yang mengagumimu, aku akan mendukungmu, menolongmu, dan bahkan jika itu artinya menjadi musuhmu. Bukan demi utang budiku, tetapi demi kebaikan yang kau tunjukkan padaku. Setidaknya, itulah yang diajarkan kepadaku...” Balas Gald dengan senyum dan percaya diri pada tekadnya.
“Begitu ya. Sekarang aku mengerti...” Balas Leo sambil menarik nafas dalam.
Dengan ini Leo telah menetapkan keputusannya. Jawaban Gald telah memberinya titik terang bagi kegelisahan di hatinya. Kini ia sudah siap memberikan jawaban atas pertanyaannya. Ia sejenak melihat ke arah Lia yang termenung dalam kecurigaan sebelum ia kembali bicara kepadanya.
“Dan satu hal lagi, jika kau ingin kami bergabung dalam party-mu, apa yang bisa kau tawarkan kepada kami sebagai keuntungannya?” Sambung Leo bertanya dengan senyum kecil di wajahnya.
“Kalau itu... Agak sulit juga menjawabnya... Dari yang aku lihat, kalian memang sudah memiliki segalanya untuk menjadi petualang. Kekuatan, pengalaman, dan bahkan kharisma... Tidak ada yang bisa kutawarkan lagi kepada kalian...” Balas Gald memalingkan wajahnya kecewa.
“Kalau begitu, bukankah sudah jelas...?” Balas Leo menekannya.
“Tapi, party kami ditunjuk sebagai regu penjelajah utama yang memberikan kami beberapa keuntungan. Kami diizinkan menyelidiki ruangan rahasia sebagai yang pertama dan tidak menutup kemungkinan kalau kami dapat menemukan sesuatu yang berharga di dalam reruntuhan kuno tersebut. Jika kalian bergabung, maka kalian berdua juga bisa mendapatkannya..!” Sambung Gald dengan nada tinggi meyakinkan Leo.
Mendengar hal tersebut, ekspresi Lia seketika berubah. Kecurigaannya berubah menjadi perasaan tertarik ketika mendengar tawaran Gald. Ini adalah tawaran yang menarik bagi mereka berdua yang tengah mengungkap misteri dibalik reruntuhan kuno tersebut.
“(Ini akan menjadi kesempatan yang bagus untuk mencari tahu apa yang sebenarnya orang-orang kuno itu sembunyikan...)” Gumam Leo dalam hatinya merenung sejenak.
Jika benar demikian, maka mereka berdua bisa mengakses ruangan rahasia lain yang masih tersembunyi guna mencari lebih banyak petunjuk untuk menguak misteri reruntuhan tersebut. Dengan ini tawaran ini, Leo semakin yakin akan keputusannya. Ia pun menatap ke arah Lia yang sepemikiran dengannya sebelum akhirnya memberikan jawabannya.
“Kalau begitu, kami menerima tawaranmu. Kami akan bergabung bersama party kalian mulai hari ini.” Ujar Leo dengan nada senang.
“B-Benarkah...?!” Balas Gald antusias.
“Ya. Mohon kerja samanya.” Balas Leo mengulurkan tangannya.
“Tentu saja...! Kami juga mohon kerja samanya...!” Balas Gald menjabat tangan Leo gembira.
Dengan demikian, akhirnya Leo dan Lia sepakat untuk bergabung bersama dengan party-nya sampai penyelidikan di pertambangan berakhir. Meski awalnya sempat ragu untuk menerima tawarannya, namun semua itu berubah setelah Leo mengenal Gald lebih dekat. Dan juga tidak lupa kesempatan emas yang ditawarkan kepada mereka yang tentu tidak akan dilewatkan begitu saja. Dengan bergabungnya Leo bersama regu penjelajah utama, mereka akan semakin dekat dengan rahasia yang disembunyikan di dalam reruntuhan tersebut.
__ADS_1