Black Arc Saga

Black Arc Saga
Masalah kedua


__ADS_3

Sementara itu, melihat Olivia melenyapkan High Orc itu dengan mudahnya membuat Orc lain ragu untuk melancarkan serangan mereka padanya. Moral mereka seketika hancur menyaksikan salah satu dari petinggi mereka tewas bahkan sebelum sempat mendaratkan serangannya. Dengan ekspresi ketakutan, pasukan Orc yang tersisa melarikan diri meninggalkan High Orc itu sendirian menghadapi mereka berdua. Meski temannya terbunuh, hal itu tidak membuatnya patah semangat untuk bertarung melawan mereka.


 


“Grrr...! Rrrr...!!”


 


Ia mengambil senjata rekannya yang telah gugur sebelum akhirnya berlari ke arah mereka berniat menyerang. Melihat hal itu, Olivia pun lantas menggunakan sihirnya untuk menyerangnya, akan tetapi ketika ia berniat melakukannya, Lia melangkah di hadapannya menyilangkan tangannya menghentikannya.


 


“Nona Lia...?” Ujar Olivia dengan ekspresi bingung.


 


“... Serahkan sisanya kepadaku.” Balas Lia singkat.


 


Setelah mengatakannya, Lia langsung berlari ke arah High Orc itu menerima tantangannya. Mereka berdua bertemu tak berselang setelahnya ketika masing-masing dari mereka mengayunkan serangan. Dengan kapak batunya, Orc itu menghantamnya dengan kekuatannya bersamaan Lia mengayunkan serangannya menangkisnya. Lengkingan suara logam yang berbenturan seketika menyebar bersamaan dengannya hancurnya tanah di sekitar mereka sebagai akibat hentakan itu. Lia mampu menahan kekuatan Orc itu hingga pada titik di mana ia setara dengannya. Orc itu hanya bisa terdiam terkesima mengetahui bahwa Lia yang terlihat seperti gadis biasa rupanya mampu menyamai kekuatannya. Momen itu bertahan selama beberapa detik sebelum akhirnya Lia mengubah situasi di antara mereka berdua.


 


“....?!”


 


Ia melonggarkan kekuatannya membuat perbedaan kekuatan yang membuat kapak Orc itu jatuh dengan bebas ke arahnya. Bersamaan dengan hal itu, Lia memutar tubuhnya dengan anggun menghindari jatuhnya kapak itu tepat ketika ia mengeluarkan sihirnya. Pedangnya seketika menyala dengan cahaya merah tua sesaat sebelum ia mengayunkan pedangnya ke arah Orc itu. Dengan cepat, ia mendaratkan serangannya yang seketika membuat Orc itu meraung kesakitan.


 


“Rrrghh...!!”


 


Bagaikan terbakar, luka sayatan dari serangan Lia meninggalkan jejak merah yang sama dengan cahaya yang ada di bilah pedangnya sesaat sebelum ia melancarkan serangan penghabisan.


 


“Berakhirlah.” Ujar Lia mengayunkan serangannya.


 


“....!!”


 


Menyadari hal itu, Orc itu lantas melindungi tubuhnya dari tebasan itu dengan kedua tangannya. Namun sayang, karena serangan Lia jauh lebih kuat dari yang dilancarkan sebelumnya membuatnya seketika terbelah menjadi dua. Darah bercucuran keluar membasahi potongan tubuhnya yang perlahan ambruk ke tanah, Orc itu tewas seketika dengan kondisi yang mengenaskan ketika Lia menyarungkan kembali pedangnya. Dengan ini pasukan Orc sepenuhnya telah dikalahkan.


 


Sementara itu, pada waktu yang bersamaan jauh di dalam gua, pemimpin Orc yang bertarung melawan Leo mulai menemui akhirnya. Dengan tangan kosong, ia memojokkan Orc itu hingga membuatnya ketakutan kepadanya. Meski perbedaan fisik mereka sangat jauh, namun kekuatan Leo melebihi perkiraannya. Leo menghajarnya hingga babak belur berlumuran darah tanpa sedikit pun terluka oleh serangannya.


 


“Ada apa? Kau tidak ingin bertarung lagi? Padahal kau yang menyerangku pertama kali...” Ujar Leo dengan tatapan tajam.


 


“....!!”


 


“Aku bahkan belum mengerahkan ilmu bela diriku, tapi kau sudah menyerah? Menyedihkan sekali, pantas saja kau melarikan diri dari tempat asalmu...” Sambung Leo dengan nada sinis.


 


“Grrrrr...!”


 


Merasa tersinggung, Orc itu lantas kembali melancarkan serangan ke arahnya. Namun, sama seperti sebelumnya, Leo dengan mudah membalasnya bahkan sebelum serangan itu sempat mengenainya. Dengan pukulannya, Leo menghempaskan Orc itu ke dinding gua disusul dengan tendangan yang mengarah langsung ke wajahnya. Akibatnya, Orc itu membentur dinding dengan keras hingga membuat seisi gua berguncang. Orc itu kembali terduduk lemah dengan wajah berlumuran darah ketika Leo mulai berpikir untuk menyelesaikannya.


 


“(Sepertinya aku membuang banyak waktu. Mereka berdua pasti sudah selesai melawan pasukan yang tersisa. Sebaiknya aku mengakhiri ini...)” Ujar Leo dalam hatinya sambil menghela nafas panjang.


 


Membunuh Orc itu bukan perkara sulit bagi dirinya yang sekarang. Namun, ia sengaja tidak langsung membunuhnya karena ia ingin Orc itu menyesali perbuatannya. Ia ingin Orc itu mati membawa penyesalan itu bersama dirinya. Itulah mengapa ia menahan diri untuk tidak langsung membunuhnya.


 


“Aku telah cukup menahan diri, saatnya mengakhiri semua ini...” Ujar Leo mengepalkan tinjunya dengan tatapan mengancam.


 


“....!!”


 


Merasa ketakutan, Orc itu lantas menggunakan sihirnya untuk menghilangkan keberadaannya. Ia membuat asap hitam dengan sihirnya yang menyebar ke seluruh ruangan untuk menutupi jejaknya. Keberadaannya menghilang dengan singkat menyisakan asap itu yang mengganggu sensor Leo. Ia tidak bisa lagi merasakan di mana Orc itu berada.


 


“(Jadi ini sihirnya, huh...? Trik yang sama tidak akan bekerja dua kali...)” Ujar Leo dalam hatinya sinis.


 


Meski Orc itu menghilangkan keberadaannya, hal itu tidak berarti untuk Leo. Meski dia memakai sihir untuk mengelabui sensornya, semua itu tidak berguna di hadapan mata sihirnya. Ia masih bisa melihat dengan jelas di balik asap sihirnya. Memanfaatkan kemampuan matanya, Leo menatap pada satu titik sesaat sebelum ia mengayunkan tendangannya ke arah yang ditatapnya. Dan tepat seperti yang ia lihat, Orc itu berada tepat di sana menerima serangannya dengan wajah panik terkejut.


 


“Urghhh...!!”


 


Tendangan Leo membuatnya terlempar hingga menghantam dinding yang berada di dekat kursinya, tempat di mana gadis-gadis itu bersembunyi di baliknya. Ia pun terkapar tidak berdaya di hadapan mereka ketika para gadis itu terkejut menyaksikannya. Para gadis itu tidak menduga bahwa ia menghajar monster itu hanya dengan tangan kosong.


 


“Grrrr...”


 


“Seperti yang sudah kuduga, bersembunyi adalah keahlianmu. Tapi itu sia-sia saja, aku masih bisa melihatmu dengan sangat jelas.” Ujar Leo menghampirinya.


 


“Grrrr...”


 


“Aku tidak suka bermain-main, sekarang saatnya mengakhiri ini...”


 


Merasa terpojok, Orc itu lantas memutar otaknya sebelum akhirnya ia mendapatkan sebuah ide licik yang bisa ia gunakan untuk membalikkan keadaan. Ia menangkap salah satu dari gadis itu sebelum ia mencekiknya di hadapan Leo sebagai isyarat ancaman.


 


“Yora...!!” Seru gadis-gadis itu bersamaan.


 


“Ughh...!! Ack...!!”


 


Orc itu menggunakannya sebagai sandera untuk mengancamnya tepat seperti yang Leo perkirakan sebelumnya. Dia pun tersenyum licik, Orc itu menatapnya dengan tatapan angkuh ketika Leo terdiam melihat ancamannya. Nyawa gadis itu sekarang berada di tangannya dan Leo sekarang tidak bisa sembarangan menyerangnya.


 


“Yora...! Tidak mungkin...!” Ujar salah satu gadis dengan wajah panik.


 


“Sudah terlambat...! Dia sudah...”


 


Gadis itu sudah kehilangan semangat hidupnya setelah Orc itu menangkapnya membuat teman-temannya ikut merasakan hal yang sama. Meski Leo sudah datang untuk menolong mereka, namun itu semua sudah terlambat. Tidak ada yang tersisa lagi dalam diri mereka selain rasa sedih dan putus asa. Hidup mereka sudah hancur dan tidak bisa diperbaiki lagi.


 


“T-Tolong...” Ujar gadis itu dengan nada lemah tercekik.


 


“...??”


 


“T-T-Tolong... B-Bunuh... A-Aku...”


 


“....”


 


“K-K-Kumohon... B-B-Bunuh... Aku...”


 


Mendengar suaranya yang putus asa membuat Leo akhirnya membulatkan tekadnya. Ia berlari ke arah mereka mengabaikan ancamannya sebelum akhirnya melancarkan serangan.


 


“....!!”


 


Dengan cepat, Leo merapatkan jari tangannya membentuk tombak tajam sebelum akhirnya ia menghunuskannya ke arah Orc itu. Menyadari hal itu, Orc itu lantas menggunakan gadis itu sebagai perisai daging untuk membuat Leo lengah. Namun, bukannya ragu, Leo justru menusukkan tangannya pada gadis itu hingga menembus tubuhnya. Sebagai akibatnya, gadis itu seketika tewas bersamaan dengan serangan itu menembus sampai mengenai Orc itu secara langsung sesaat sebelum ia melemparkan mereka berdua menjauh darinya.

__ADS_1


 


“Raaaagghhh...!!!”


 


Tikaman tangan Leo begitu kuat hingga mampu melukai tubuhnya layaknya sebilah pedang yang tajam. Meski tidak sampai fatal, namun luka akibat tikaman itu cukup membuat Orc itu ketakutan dengan kekuatan fisiknya yang mengerikan.


 


“Grrrr..! Rrrrr...!!”


 


“Y-Yora.. Telah...” Ujar salah seorang gadis itu dengan ekspresi terpukul.


 


“D-Dia... Tewas di tangannya...” Sambung yang lain dengan wajah pucat.


 


Leo yang terlempar lantas menangkap jasad gadis bernama Yora itu. Meski ia sengaja membunuhnya, namun itulah yang dia inginkan. Ia hanya mengabulkan permintaannya dan membunuhnya dalam sebuah serangan yang tidak hanya ditujukan untuk mengakhirinya saja. Dengan kata lain, kematiannya membawa dampak yang baik bagi orang lain yang dalam hal ini adalah Leo.


 


“Namamu Yora, bukan? Maafkan aku karena tidak menghargai keinginan terakhirmu dengan baik. Aku mohon, maafkan aku...” Bisik Leo dengan ekspresi kecewa.


 


Setelah membaringkannya dengan lemah lembut, Leo memejamkan matanya untuk yang terakhir kalinya sebelum akhirnya ia kembali menghadapi Orc itu dengan tatapan tajam. Aura membunuhnya sekarang jauh lebih besar dari yang sebelumnya hingga membuat Orc itu ketakutan bukan main. Tubuhnya tidak bisa berhenti gemetar setiap kali Leo menatapnya dengan mata sihirnya yang menyala.


 


“....!!”


 


Tidak ada yang bisa menghentikannya sekarang. Menggunakan sandera tidak akan berguna melawannya, ia hanya akan membunuhnya tanpa berpikir panjang. Ini adalah situasi terburuk bagi Orc itu.


 


Sambil membersihkan darah yang ada di lengannya, Leo berjalan perlahan menghampiri Orc yang ketakutan itu sambil menekannya dengan auranya. Merasa tidak mungkin lagi melawannya, Orc itu memutuskan untuk melarikan diri menggunakan sihirnya. Ia kembali menciptakan asap hitam yang menutupi keberadaannya sesaat sebelum ia menyelinap menuju pintu keluar. Namun, rencana itu sia-sia saja karena dengan mata sihirnya, Leo dapat dengan mudah menemukannya. Ia dengan cepat membuat ancang-ancang menyerupai gerakan monster sesaat sebelum ia melesat ke arahnya mengayunkan serangannya.


 


“...!!”


 


Dalam hitungan detik, Leo telah mendahului Orc itu dengan kedua tangannya berlumuran darah tepat ketika secara mengejutkan bagian kanan tubuh Orc itu hancur bercucuran.


 


“Rraaaghhhh...!!!”


 


Orc itu seketika jatuh menghantam tanah sambil meraung kesakitan menyadari kaki dan bagian bawah tubuhnya hancur ketika Leo berhasil mendahuluinya. Entah bagaimana hal itu bisa terjadi, namun kemungkinan besar itu adalah ulahnya.


 


“Kau bisa sembunyi, tetapi kau tidak bisa lari. Ini adalah akhir bagimu.” Ujar Leo perlahan menghampirinya sambil mengibaskan darah di tangannya.


 


“....!!”


 


“Aku yakin kau pasti bertanya apa yang kulakukan hingga membuatmu kehilangan kakimu. Sayang untukmu, kau tidak punya hak untuk mengetahuinya.” Sambung Leo merapatkan jarinya membentuk formasi tombak.


 


“A—“


 


Tepat sebelum Orc itu bisa merespon, Leo menghunuskan tangannya tepat ke lehernya yang membuat suaranya seketika hilang. Darah bercucuran keluar membasahinya sesaat sebelum ia mencabut tangannya dari lehernya membuat Orc itu tersiksa akibat saluran pernafasannya terputus oleh serangan itu. Ia pun membiarkannya tewas perlahan kehabisan nafas dan pendarahan sebelum akhirnya kembali menghampiri gadis-gadis itu.


 


“Semuanya sudah berakhir, tidak ada lagi yang perlu kalian takutkan...” Ujar Leo pada mereka dengan nada lembut.


 


“...”


 


“...”


 


“Maaf karena aku terlambat dan maaf telah membuat kalian melihat semua hal mengerikan itu...” Sambung Leo mencoba meminta maaf.


 


 


“(Seperti yang kuduga, aku seharusnya tidak melakukan itu di depan mereka. Aku hanya menambah kenangan buruk mereka...)” Ujar Leo dalam hatinya menyesal.


 


Memang benar jika Leo terkesan kejam dan tidak memiliki kemanusiaan, namun itu semua ia lakukan untuk meringankan beban gadis malang itu. Kenyataan bahwa mereka telah dilecehkan oleh Orc akan membekas selamanya pada tubuh dan ingatan mereka. Itulah mengapa Leo memilih menjadi iblis demi memenuhi keinginan terakhirnya. Ia juga sudah siap dibenci oleh teman-temannya.


 


“Aku tidak meminta kalian memaafkanku, tetapi setidaknya kalian masih hidup. Sekarang, aku akan mengantar kalian kembali ke desa kalian...” Ujar Leo sambil menghela nafas.


 


“... Apakah semuanya sudah berakhir?” Balas salah seorang dari mereka bertanya dengan wajah ragu.


 


“Hm?”


 


“Apakah ini yang disebut sudah berakhir...?” Ujar gadis lain ikut menyambung.


 


“Ya. Semua Orc telah terbunuh. Sekarang tidak akan ada lagi yang mengganggu kalian...” Jawab Leo dengan tersenyum hangat.


 


“Bukan itu yang kami maksud...” Balas gadis pertama n.


 


“... Aku mengerti jelas apa yang kalian maksud.” Balas Leo dengan ekspresi berubah.


 


Leo bangkit sesaat sebelum ia menatap mereka dengan mata sihirnya melanjutkan kalimatnya.


 


“... Sejujurnya aku tidak ingin mengatakan ini, tetapi tidak ada jalan kembali lagi bagi kalian.” Sambung Leo dengan ekspresi serius.


 


“... Begitu ya. Semuanya memang sudah jelas. Tidak ada tempat bagi kami yang sudah ternoda ini...” Balas gadis itu dengan senyum pucat.


 


“Kehidupan kami... Sudah hancur, begitu bukan?” Sambung gadis lain bertanya kepadanya dengan wajah sedih.


 


“... Ya.” Jawab Leo singkat.


 


Meski terdengar kejam, beginilah kenyataannya. Tidak ada tempat lagi bagi mereka yang merupakan korban pelecehan monster. Mereka akan dikucilkan bahkan di desa mereka sendiri, akan terdapat jarak antara mereka dengan keluarganya, mereka akan diperlakukan berbeda meski oleh keluarganya sendiri. Hal ini memang sudah tidak bisa dihindari lagi.


 


Menyadari semua itu, kesedihan mereka tidak bisa lagi dibendung. Rasa putus asa dan kecewa menyelimuti hati mereka ketika harapan hidup sudah tidak lagi bersama mereka menyisakan semua penyesalan dan air mata pada jiwa mereka yang hampa. Di saat itulah, Leo menawarkan sebuah jalan keluar untuk mereka.


 


“Oleh karena itu, aku ingin bertanya kepada kalian semua. Apakah kalian ingin membawa penyesalan itu, atau mengakhiri semuanya?” Sambung Leo mengajukan pertanyaan.


 


“E-Eh...? Apa maksudmu...?” Tanya gadis itu terkejut kebingungan.


 


“Apakah kalian ingin hidup bersama penyesalan ini, atau meninggalkan semuanya bersama jiwa kalian... Semua itu ada di tangan kalian. Jadi, apa pilihan kalian?” Balas Leo menjelaskan.


 


“Apakah itu artinya... Kau akan membunuh kami...?” Balas gadis lain bertanya kepadanya sambil menyeka air matanya.


 


“... Benar.” Jawab Leo singkat.


 


“Apa kau bisa membebaskan kami dari mimpi buruk yang akan selalu menghantui kami...?” Tanya gadis ketiga dengan wajah putus asa.

__ADS_1


 


“... Itu tergantung dari kalian.” Jawab Leo singkat.


 


“Apakah benar masih ada jalan bagi kami untuk hidup seperti sedia kala...?” Tanya gadis keenam dengan ekspresi sedih.


 


“... Semua itu ada di tangan kalian.”


 


Mereka berenam berunding setelah mendengar jawaban Leo. Hingga pada akhirnya, mereka semua sepakat untuk menerima tawaran Leo.


 


“Kami sudah memutuskan... Tuan petualang, sebelum kami mengatakan jawaban kami, bolehkah kami bertanya sesuatu kepadamu?” Ujar gadis pertama dengan wajah serius.


 


“... Silahkan bertanya.” Jawab Leo singkat.


 


“Menurutmu, apakah kami masih berharga untuk bertahan hidup? Apakah kami masih layak disebut sebagai wanita?” Balas gadis itu bertanya kepadanya.


 


“... Jawaban pertama, iya. Jawaban kedua, tidak. Dalam pandangan masyarakat, kalian hanya buah yang telah jatuh ke dalam lumpur dan dimakan ulat. Hanya akan ada segelintir orang yang akan menerima kalian.” Jawab Leo dengan nada serius.


 


“Begitu ya. Kalau begitu, pertanyaan terakhir. Menurutmu, apa yang kau pikirkan mengenai orang yang kau bunuh?”


 


“... Jika dia layak dibunuh, maka aku akan membunuhnya.”


 


“Begitu ya... Kami sudah mengerti sekarang. Kalau begitu jawaban kami adalah, kami menerima tawaranmu. Tolong akhiri mimpi buruk ini...”


 


“... Sesuai permintaan kalian.”


 


Setelah mengatakannya, mereka pun mulai berbaris sesuai urutan yang telah ditentukan sebelumnya siap untuk menyerahkan nyawa mereka kepadanya. Dengan pedangnya, Leo pun memenuhi permintaan mereka. Ia membunuh mereka satu persatu dengan satu serangan cepat yang menusuk langsung ke jantung mereka memberikan kematian yang tidak menyiksa.


 


“Beristirahatlah dengan tenang...” Bisik Leo sambil menurunkan pedangnya di hadapan jasad mereka.


 


Dengan memberikan penghormatan terakhir, ia akhirnya selesai melakukan permintaan terakhir mereka. Ia pun meninggalkan gua itu sebelum akhirnya kembali menemui Lia dan Olivia yang telah menunggunya di luar. Terlihat mayat para Orc berserakan di sekitar mereka ketika Leo keluar dari dalam gua menandakan bahwa pasukan Orc sepenuhnya dikalahkan oleh mereka.


 


“Sepertinya kalian tidak menahan diri, huh?” Ujar Leo melihat sekitar takjub.


 


“Ah. Selamat datang kembali, master. Syukurlah master baik-baik saja...” Balas Olivia menyambutnya dengan senyum hangat.


 


“... Kau akhirnya kembali. Bagaimana dengan situasi di sana?” Sambung Lia berjalan menghampirinya.


 


“Kalau soal itu..”


 


Ekspresi Leo seketika berubah menandakan ada masalah selama ia berada di dalam sana. Olivia merasa ada sesuatu yang mengganggu hatinya ketika Lia bertanya kepadanya. Ia merasa seperti ada rasa kecewa dan kesedihan dalam dirinya.


 


“Master...” Bisik Olivia dengan ekspresi sedih.


 


“Leo...? Ada masalah...?” Tanya Lia dengan nada cemas.


 


“Mungkin bisa dibilang begitu. Mengenai para gadis itu, mereka telah tewas...” Balas Leo dengan wajah kecewa.


 


“Eh...?! T-Tidak mungkin...!” Ujar Olivia terkejut.


 


“Bagaimana mungkin hal itu terjadi...?!” Balas Lia dengan ekspresi serius.


 


Leo lantas menjelaskan apa yang terjadi di dalam sana dengan sedikit kebohongan untuk menutupi tindakannya yang sebenarnya. Ia tidak ingin mereka berdua tahu bahwa ia sendirilah yang telah membunuh ke tujuh gadis itu. Ia tidak ingin mereka berdua mengetahui sisi kejam yang ada pada dirinya.


 


“... Begitulah ceritanya.” Ujar Leo setelah menceritakan kisah palsunya kepada mereka.


 


“... Begitu ya. Kita sudah terlambat sejak awal.” Balas Lia dengan ekspresi kecewa.


 


“Padahal sebelumnya Olivia mendeteksi energi kehidupan mereka masih cukup tinggi... Hidup manusia memang sangat rapuh...” Gumam Olivia dengan nada sedih.


 


“Ini memang di luar dugaan kita. Setidaknya kita telah menyingkirkan para Orc itu agar kejadian yang sama tidak terulang kembali...” Balas Leo sambil menghela nafas panjang.


 


“... Mm.”


 


Mereka bertiga memutuskan untuk kembali setelah menyelesaikan tugas mereka tanpa menyadari bahaya yang lain tengah menuju ke arah mereka. Tepat ketika mereka hendak melangkah pergi, langkah Olivia seketika terhenti ketika ia merasakan kehadiran sosok monster lain yang masuk ke dalam jangkauan indranya.


 


“(Kehadiran ini...! Ini tidak salah lagi monster terbang itu...!)” Ujar Olivia dalam hatinya spontan terkejut.


 


Ia seketika menatap langit dengan wajah panik sebelum ia memasang posisi bertarungnya ketika Leo dan Lia yang menyadarinya merasa heran dengan sikapnya.


 


“Apa yang sedang kau lakukan, Olivia?” Tanya Leo dengan wajah bingung.


 


“...??”


 


“Monster... Banyak monster...! Mereka tengah mendekat...!” Balas Olivia dengan nada serius.


 


“Apa yang kau bicaraka—“


 


Tepat di saat yang bersamaan, mereka berdua juga ikut merasakan apa yang sebelumnya Olivia katakan. Dan pada waktu yang sama pula, beberapa bola api berjatuhan dari langit ke arah mereka seketika mengejutkan mereka.


 


“A—“


 


“...!!”


 


Melihat bahaya itu, Olivia dengan cepat menciptakan medan sihir untuk menahan serangan itu. Bola-bola api itu meledak satu persatu begitu menghantam objek lain yang ada di jalurnya menimbulkan guncangan yang hebat pada wilayah di sekitar mereka. Ledakan itu membuat tebing yang ada di sekitar mereka longsor serta percikan apinya membuat seisi hutan yang ada di sekitar mereka ikut terbakar. Beruntung, mereka semua berhasil selamat berkat medan sihir Olivia.


 


“Semuanya baik-baik saja? Master, nona Lia, apa kalian baik-baik saja?” Tanya Olivia dengan wajah cemas.


 


“... Mm. Kami baik-baik saja. Tapi, bola api itu, jangan-jangan...” Balas Lia sebelum melihat keadaan sekitar terkejut.


 


“Ya. Tepat seperti yang kau pikirkan...” Sambung Leo dengan ekspresi serius.


 


Tepat ketika Leo mengatakannya, suara raungan keras terdengar sesaat sebelum sekumpulan monster raksasa menunjukkan diri dari atas langit pada mereka. Penampilannya yang mengerikan dengan nafas api yang dimilikinya membuat semua orang yang melihatnya seketika ketakutan. Benar, monster itu tidak lain dan tidak bukan adalah...


 

__ADS_1


“Wyvern...!!”


__ADS_2