Black Arc Saga

Black Arc Saga
Rencana orang ketiga


__ADS_3

... ...


Sementara itu, di ibu kota kerajaan Rushford, sebuah kereta kuda misterius memasuki kediaman keluarga Brown. Untuk sekilas tidak ada yang istimewa darinya, itu adalah sebuah kereta pengangkut barang yang biasa dijumpai di kalangan rakyat biasa. Mungkin hal itu terkesan aneh bagi beberapa orang yang melihatnya, khususnya bagi para bangsawan yang juga tinggal di sekitar tempat tersebut. Alasannya, tempat tersebut tidak diperkenankan untuk dilewati oleh sembarang orang, kecuali ia adalah seorang bangsawan atau ksatria kerajaan. Namun, hal tersebut sepertinya tidak berlaku untuknya.


 


Sesampainya di halaman, ia disambut baik oleh para penjaga dan pelayan rumah yang ada sesaat sebelum sang pria pengemudi menghentikan keretanya saat mereka menghampirinya.


 


“Hey, Horren. Senang kau datang ke sini, kawan. Bagaimana kabarmu?” Ujar salah seorang tukang kebun menyapanya dengan senyum ramah.


 


“Tidak terlalu baik... Aku mengalami sedikit masalah beberapa waktu ini...” Balas Horren turun dari keretanya sambil menghela nafas.


 


“Apa sesuatu terjadi padamu selama di perjalanan?” Tanya salah seorang pelayan dengan wajah cemas.


 


“Sesuatu yang serius... Mungkin bisa dibilang begitu...” Balas Horren dengan wajah pucat.


 


Mendengar hal itu, mereka semua yang bicara dengannya menjadi cemas terhadapnya. Horren lantas berjalan menuju bagian belakang kereta kuda sebelum akhirnya ia naik ke atasnya. Semua orang yang ada di sekelilingnya mendadak kebingungan dengan maksud dari tindakannya tersebut sesaat sebelum salah satu dari mereka memutuskan untuk memeriksanya.


 


“Oi, apa ada sesuatu yang mengganggumu—“


 


Namun, tepat ketika tukang kebun itu berniat ikut masuk ke dalam kereta, secara mengejutkan sebuah tong kayu berukuran sedang melayang ke arahnya seketika mengejutkannya. Tong itu menghantam tubuhnya hingga membuatnya jatuh terduduk sesaat sebelum yang lain datang untuk menolongnya.


 


“K-Kau baik-baik saja...?!” Ujar pelayan itu dengan wajah panik.


 


“U-Ugh... Ya. Aku baik-baik saja...” Balas tukang kebun itu sambil mengusap punggungnya.


 


“Tong itu... Apa jangan-jangan Horren-san yang melemparnya...?” Sambung pelayan kedua melihat tong yang tergeletak tak jauh darinya.


 


“Dan yang lebih penting, tong apa itu sebenarnya?” Tanya pelayan pertama dengan wajah ragu.


 


“Entahlah... Aku tidak—“


 


Saat mereka bicara, secara tidak sengaja penyumbat tong itu terlepas akibat benturan yang ia terima sebelumnya. Karenanya, isi yang ada di dalamnya kini bercucuran keluar membasahi sekitar saat mereka yang melihatnya terkejut olehnya.


 


“Bau manis yang khas ini... Jangan katakan kalau itu adalah Wine...?!” Ujar tukang kebun itu terkejut.


 


“Tidak salah lagi itu adalah Wine...!” Balas pelayan kedua ikut terkejut.


 


“Dasar bodoh, itu memang Wine! Cepat tutup kembali sumbatnya sebelum terbuang percuma!” Ujar pelayan pertama menghampiri tong tersebut sambil mencari penyumbatnya.


 


“A-Ah. Uh. Kau benar. Kita tidak bisa membiarkannya mubazir...” Balas tukang kebun membantunya.


 


Saat mereka berdua sibuk menyelamatkan Wine yang masih tersisa, Horren melompat turun dari kereta kuda sesaat sebelum ia menunjukkan diri di hadapan mereka dengan dua tong lain dengan ukuran yang sama di kedua tangannya. Wajahnya yang semula pucat kini kembali berseri sesaat sebelum ia kembali bicara kepada mereka.


 


“Benar-benar masalah... Panen kita tahun ini benar-benar menjadi masalah serius... Kita benar-benar panen besar...!” Ujar Horren dengan senyum lebar.


 


“Tunggu dulu, apa yang barusan kau katakan?” Balas tukang kebun itu terkejut.


 


“Seperti yang kubilang sebelumnya, kita panen besar tahun ini...! Lihat saja apa yang kubawa, ini adalah sebagian kecil dari hasil panen pertama kita...” Balas Horren meletakkan kedua tong itu dengan keras ke tanah.


 


“Benarkah..? Ini adalah berita yang besar...!” Balas tukang kebun itu dengan ekspresi gembira.


 


“Jadi itu alasanmu datang ke sini? Aku tidak mengira kita akan panen secepat ini...” Ujar pelayan pertama ikut gembira.


 


“Ya. Kalau tidak salah, di sana baru menanamnya sekitar dua bulan yang lalu, bukan?” Sambung pelayan kedua dengan wajah bingung.


 


“Itulah yang tidak kalian tahu. Ini adalah anggur hasil percobaan tuan Aston. Anggur ini adalah anggur hasil persilangan anggur kita dengan anggur dari benua selatan. Kami sudah menanamnya bahkan sebelum anggur-anggur yang lain, itulah sebabnya dia bisa panen lebih awal. Untuk rasanya, aku yakin kalian pasti akan terkejut bila mencicipinya...” Jawab Horren dengan senyum di wajahnya.


 


“Benarkah...? Aku jadi penasaran seperti apa rasanya...!” Balas tukang kebun antusias.


 


“Coba saja, aku jamin kau tidak akan menyesal...!”


 


Ia yang tertarik memutuskan untuk mencobanya sendiri dengan meminumnya langsung dari tongnya. Namun, sebelum ia bisa melakukannya, pelayan itu menghentikannya.


 


“Ini masih siang, jadi kau tidak diizinkan minum.” Ujar pelayan pertama merebut tong itu darinya.


 


“Ayolah, Cuma sekali teguk saja! Aku benar-benar penasaran dengan rasanya!” Balas tukang kebun itu mencoba membujuknya.


 


“Tidak boleh! Kau pasti akan minum sampai mabuk! Aku tidak akan mengizinkannya!” Balas pelayan pertama dengan nada tegas.


 


“Hahaha... Seperti biasanya, kau masih saja kaku. Setidaknya biarkan dia mencicipinya sedikit, satu teguk tidak ada salahnya, bukan?” Ujar Horren sambil tertawa.


 


“Dia benar! Sekarang biarkan aku mencobanya!” Sambung tukang kebun itu bersikeras membujuknya.


 


“Sekali tidak, tetap tidak!” Balas pelayan pertama memalingkan sinis.


 


“Kau juga harus mencobanya. Aku yakin kau akan suka dengan rasanya.” Balas Horren padanya.


 


“Aku tidak punya waktu untuk itu. Dan ngomong-ngomong, apa kau dikirim sejauh ini hanya untuk menggoda kami?” Balas pelayan itu dengan nada sinis.


 


“Oi. Oi. Ada apa dengan sikap dinginmu itu? Padahal aku sudah datang sejauh ini, apa kau tidak merasa rindu denganku?”


 


“Ya. Tentu saja. Kenapa kau harus repot-repot datang ke sini, padahal kau sudah jelas tahu apa jawabannya.”


 


“Ayolah, kau membuatku terlihat payah... Aku hanya bercanda saja, kau tahu...”


 


“Ya. Ya. Ya. Jika kau ingin terlihat keren, bantu aku dengan usahamu. Tolong bantu aku membawa semua anggur ini ke gudang penyimpanan...”


 

__ADS_1


“Whoa... Maaf saja, itu bukan pekerjaanku. Aku hanya kusir, bukan buruh panggul. Jadi maaf saja hahaha...”


 


“Sudah kuduga. Aku memang bodoh karena telah meminta tolong kepadamu...”


 


Dengan ekspresi kesal, pelayan itu mulai menurunkan muatan yang ada sebelum akhirnya kedua orang yang tengah bersamanya memutuskan untuk membantunya ketika Horren mengingat sesuatu.


 


“Ah. Aku hampir saja lupa. Di mana Linda? Aku ada perlu dengannya.” Ujar Horren pada mereka.


 


“Linda? Sepertinya dia sedang ada di dapur.” Balas pelayan kedua sambil mengangkat tong.


 


“Di dapur, huh? Baiklah, aku akan menemuinya. Kalian semua, semoga beruntung dengan muatannya...” Balas Horren sebelum akhirnya meninggalkan mereka.


 


“Ya ampun. Dasar pria tidak berguna.” Gumam pelayan pertama menggerutu.


 


“Memang Horren-san sekali...” Balas pelayan kedua terkikik menanggapinya.


 


“Oi. Jika kalian sudah selesai dengan “obrolan wanita” kalian, tong-tong ini tidak bisa memindahkan diri mereka sendiri...” Ujar tukang kebun menyela mereka.


 


“Ya. Ya. Kami tahu. Sebaiknya kita kembali bekerja.”


 


“Ya.”


 


Sesampainya di dapur, Horren lantas menghampiri seorang wanita muda dengan rambut sebatas bahu yang tengah memasak di depan tungku bata sesaat sebelum ia menyapanya.


 


“Hey, apa yang kau masak di sana? Sepertinya kau sedang sibuk sekali.” Ujarnya sambil menghampirinya.


 


“...?! Horren-san? Kapan kau datang?” Balas Linda terkejut.


 


“Baru saja tepat saat kau memasukkan kentang itu ke kuali.” Balas Horren sebelum bersandar ke meja di dekatnya.


 


“E-Eh..?”


 


“Coba kita lihat, apa yang kau masak di sini...”


 


“A-Ah. Tolong jangan dekat-dekat, itu panas...”


 


“Heh. Sepertinya masakanmu meningkat sejak terakhir kali aku datang ke sini. Aku yakin suamimu pasti tidak akan membiarkanmu tidur setelah mencicipi masakanmu...”


 


Mendengar hal itu, Linda seketika tersipu dengan wajahnya yang berubah merah sebelum akhirnya ia mengangkat nadanya membalas ucapannya.


 


“A-Aku belum punya suami..!!” Serunya marah.


 


“Hahahaha...! Aku tahu, aku hanya bercanda saja. Tapi, untuk wanita muda sepertimu yang bisa tahu apa yang aku maksud, kau cukup nakal rupanya, huh?” Balas Horren tertawa menggodanya.


 


 


“Pfftt... Ahahaha...! Aku suka tanggapanmu itu, tidak seperti wanita galak yang menyambutku tadi...”


 


“Mnh...! Tolong hentikan itu! Jika kau terus mengerjaiku, aku akan marah!”


 


“Maaf, maaf. Aku tidak akan melakukannya lagi. Mungkin sudah saatnya kita masuk pada pembicaraan utama kita.”


 


“Apa maksudmu?”


 


Horren mengambil sebuah surat dari balik sakunya sebelum akhirnya memberikannya kepada Linda.


 


“Ini untukmu, Aston-sama sendiri yang memintaku untuk memberikannya kepadamu.” Ujar Horren sambil memberikannya.


 


“Dari tuan Willtern sendiri...? Kenapa beliau sampai repot-repot menulisnya untukku?” Balas Linda dengan ekspresi bingung.


 


“Entahlah, aku juga tidak tahu. Mungkin saja surat cinta?”


 


“A-Apa yang kau bicarakan!”


 


“Hahaha... Aku hanya bercanda. Aku juga tidak tahu apa isinya karena itu bukan untukku.”


 


“Begitukah? Tidak kusangka Horren-san yang suka menggoda wanita bisa bersikap seperti pria sejati...”


 


“Aku anggap itu sebagai pujian. Kalau begitu, aku akan pergi. Nikmati waktumu dan jangan sampai masakanmu gosong...”


 


“A-Ah! Benar juga!”


 


Setelah mengangkat kuali itu dari tungku, Linda lantas membuka surat tersebut untuk membaca isinya.


 


“Salam dariku, Linda. Bagaimana kabarmu di sana? Mungkin kau akan sedikit terkejut mengapa aku mengirimu surat. Anggap saja ini sebagai salam dariku setelah sekian lama kau pindah ke ibu kota kerajaan...”


 


Tidak ada yang menarik dari bagian pembuka surat selain ucapan salam yang biasa. Walau demikian, Linda tetap senang membacanya karena Aston masih mengingatnya meski mereka sudah terpisah untuk waktu yang cukup lama.


 


“Saya juga rindu pada anda dan kota Linderfell, tuan. Sebagai mantan pelayan pribadi anda, saya juga masih mengingat beberapa hal tentang anda...” Gumam Linda sambil tertawa kecil.


 


Ia awalnya merupakan pelayan pribadi Aston saat ia masih kecil. Mereka tumbuh bersama layaknya sepasang kakak beradik meski status mereka sangat berbeda. Hingga pada suatu hari, Linda yang sudah cukup umur diangkat menjadi salah satu pelayan kediaman Brown. Ia pun terpaksa meninggalkan rumahnya dan berpisah dengan Aston demi memenuhi tugasnya. Sesekali Aston datang ke kediaman Brown untuk menjenguk kakeknya Zille dan itulah satu-satunya kesempatan di mana mereka bisa saling berjumpa. Itulah mengapa Linda sangat senang saat Aston mengiriminya surat.


 


“... Dan untuk selanjutnya. Aku punya beberapa permintaan kecil. Aku ingin kau mengawasi Richard-sama. Aku ingin kau memantau setiap aktivitasnya yang kau rasa cukup mencurigakan dan melaporkannya kepadaku melalui surat....”


 


Membaca pada bagian tersebut, Linda lantas terkejut dan bingung mengenai apa yang sebenarnya Aston maksudkan dalam tulisannya tersebut.


 

__ADS_1


“(Tunggu dulu, mengawasi kegiatan tuan besar...? Apa maksudnya ini...? Kenapa ia menyuruhku melakukan itu...?)” Tanya Linda dalam hatinya bingung.


 


Mengabaikan pertanyaan yang sempat mengganggunya, ia pun memutuskan untuk membaca paragraf terakhir dari suratnya.


 


“... Aku yakin kau kebingungan dengan permintaanku. Tetapi, untuk saat ini aku belum bisa mengatakan alasannya kepadamu untuk beberapa alasan. Tetapi, aku berharap kau mau menolongku.”


 


Dan surat tersebut berakhir di sana. Hal ini menimbulkan pertanyaan di benak Linda mengenai apa maksud Aston melakukannya. Meski mereka berdua cukup dekat, ia tidak mengerti apa alasannya melakukan semua ini.


 


“(Apa yang terjadi pada Aston-sama? Tidak salah lagi kalau ini adalah tulisan tangannya. Apakah mungkin ada maksud tertentu ia melakukan semua ini...?)” Gumam Linda dalam hatinya cemas.


 


Meski ia tidak mengerti alasan di balik tindakannya ini, namun ia tetap tidak bisa mengabaikan permintaannya begitu saja. Bagaimana pun juga, sebagai teman semasa kecilnya sekaligus mantan pelayan pribadinya, ia tidak bisa menolak permintaan teman serta tuan kesayangannya.


 


“Sepertinya aku tidak punya pilihan lain... Tuan muda memang tidak berubah, masih saja keras kepala seperti saat ia kecil...” Gumam Linda memeluk surat itu di dadanya sambil tersenyum.


 


Ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang sebelumnya tertunda tanpa mempermasalahkan permintaan Aston yang terkesan mencurigakan tersebut.


 


Sementara itu, tepatnya di istana kerajaan, suara ketukan terdengar dari balik pintu ruangan kerja Richard. Ia yang mendengarnya lantas menghentikan pekerjaannya untuk sejenak menjawab ketukan tersebut.


 


“Masuk.”


 


Setelah mendapatkan izin, ia pun membuka pintu dan menunjukkan diri ke hadapannya.


 


“Permisi, Richard-sama. Maaf jika saya mengganggu anda...” Ujar sesosok Ksatria Suci menghadapnya.


 


“Kau sudah kembali rupanya, Fallesa.” Balas Richard sebelum kembali pada pekerjaannya.


 


Ksatria itu bernama Fallesa, seorang wanita muda dengan rambut merah terang yang khas menutupi bahunya. Matanya yang berwarna merah layaknya bara api melengkapi parasnya yang menawan ketika ia menundukkan tubuhnya dengan anggun di hadapannya.


 


“Ya, saya sudah kembali dari tugas yang anda berikan.” Balasnya dengan senyum menawan di bibirnya.


 


“Jadi, bagaimana hasilnya? Apa semuanya berhasil kau tangani?” Balas Richard bertanya dengan nada datar.


 


“Semuanya selesai tanpa ada masalah. Tuan tanah membantu saya dan pasukan saya menangkap target misi ini.” Jawab Fallesa dengan sikap tenang.


 


“Lalu, apa yang kau dapat informasi dari mereka?”


 


“Ya. Mereka adalah kelompok bandit antar kerajaan yang biasa menyerang dan menjarah kota. Sejauh yang saya kumpulkan, mereka adalah mantan tahanan dari kerajaan Farstre saat perang saudara beberapa dekade lalu.”


 


“Itu artinya mereka hanya sekelompok bandit biasa, huh?”


 


“Mungkin bisa dikatakan biasa jika mereka bukan sekelompok orang pemegang berkah dewa.”


 


“Pantas saja para petualang kesulitan menangani mereka.”


 


“Mereka yang telah melihat neraka dunia akan kembali tidak dengan keadaan semula mereka. Jiwa mereka akan tetap berada di medan perang menghantui para korban yang telah mereka bunuh...”


 


“Bagaimana pun, kerja bagus. Kau boleh pergi sekarang.”


 


“Baik. Kalau begitu, saya undur diri. Selamat siang.”


 


“Ya.”


 


Namun, saat Fallesa hendak meninggalkan ruangannya, Richard teringat sesuatu yang sebelumnya lupa ia sampaikan kepadanya. Ia lantas menghentikannya saat ia hendak meninggalkan pintu.


 


“Fallesa, tunggu. Ada hal yang ingin kusampaikan padamu.” Ujar Richard melihat langsung ke arahnya.


 


“Ya? Anda ingin menyampaikan sesuatu kepada saya?” Balas Fallesa menghentikan langkahnya menahan pintu.


 


“Ya. Aku lupa mengatakan kalau Vain mengabariku bahwa dia akan kembali dalam 3 bulan. Sebagai bawahannya, aku harus menyampaikan berita ini kepadamu juga.”


 


“Begitu ya. Terima kasih atas informasinya. Saya akan menyampaikannya kepada Reimond-san dan lainnya nanti...”


 


“Ya. Sekarang kau boleh kembali.”


 


“Permisi.”


 


Setelah Fallesa pergi meninggalkan ruangan, Richard kembali pada pekerjaannya.


 


Di sisi lain, Fallesa yang dalam perjalanan menemui rekan-rekannya, secara tidak terduga ia dihampiri oleh salah seorang prajurit yang membawakan sebuah surat untuknya.


 


“Ara. Sebuah surat? Siapa kira-kira pengirimnya?” Tanya Fallesa pada prajurit tersebut.


 


“Kalau tidak salah, nama pengirimnya adalah “teman lama”. Apakah dia seseorang yang anda kenal?” Jawab prajurit itu dengan ekspresi ragu.


 


“Ah. Rupanya ini darinya. Ya, aku mengenalnya. Sangat-sangat mengenalnya...” Balas Fallesa sambil terkikik anggun.


 


“Senang mendengarnya. Kalau begitu, saya permisi dulu.”


 


“Ya. Terima kasih untuk suratnya.”


 


Fallesa lantas melanjutkan perjalanannya sambil membaca isi surat tersebut.


 


“Hm. Hm. Jadi begitu. Kalau begitu, sesuai perintah anda, saya akan pergi menyelidikinya bersama yang lainnya, Vain-sama.” Gumam Fallesa sebelum tersenyum sayu.


 


Ia pun melepaskan surat itu begitu saja dari tangannya sesaat sebelum surat itu terbakar dan hangus dalam sekejap saja ketika ia menjentikkan jarinya. Entah apa isi surat tersebut, namun yang jelas semua bukti yang ada di sana sudah hangus. Menyisakan sebuah tanda tanya besar mengenai apa sebenarnya tujuan Vain mengirimkan surat itu kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2