Black Arc Saga

Black Arc Saga
Tragedi selama penelusuran


__ADS_3

Sementara itu, regu ketiga yang berada jauh dalam lorong pertama tengah dihadapkan dengan situasi yang berbahaya ketika sekelompok makhluk tambang menyambut mereka dengan jumlah yang mengkhawatirkan. Kelompok mereka hanya beranggotakan 7 orang tersisa dengan 5 lainnya dalam keadaan terluka karena menghadapi monster-monster itu.


 


“Sialan..! Mereka seperti semut datang selalu mengajak gerombolannya..!” Seru salah seorang petualang yang tengah bertarung melawan monster tersebut kesal.


 


“Yang benar saja! Dari mana datangnya mereka semua!” Sambung temannya yang berusaha bertahan melawan serangan monster yang berniat menyerangnya.


 


“Lorn, Gin, bertahanlah...!” Balas rekan wanitanya mencoba membantu namun terpaksa tertahan oleh monster yang datang menyerangnya.


 


Dengan keadaan yang terdesak, mereka tetap berusaha bertahan demi melindungi rekan mereka yang terluka dan prajurit yang menemani mereka. Dengan hanya mereka bertiga dan beberapa prajurit yang tersisa, entah sampai kapan hingga mereka semua mampu bertahan.


 


“Hnnghhh...! Sial...!” Seru petualang bernama Gin marah sambil menghempaskan monster itu dengan Greatswordnya.


 


Gin mengambil kuda-kuda sebelum ia menerjang monster-monster itu saat ia merapalkan mantra miliknya.


 


“Light Claw”


 


Pedang besarnya menyala dengan cahaya terang oleh sihirnya sesaat sebelum ia melancarkan serangan kuat yang menghempaskan seluruh monster yang ada di hadapannya. Tekanan udara menyebar ke seluruh lorong menyebabkan langit-langit berjatuhan ke arah mereka.


 


“Dasar bodoh...! Apa yang baru saja kukatakan...! Jangan gunakan kekuatanmu di sini...!” Seru petualang bernama Lorn kepada Gin marah.


 


“Aahhh...!! Maaf saja...! Aku nyaris mati di sini...!” Balas Gin marah.


 


“Dasar otak burung...!” Gumam Lorn kesal sambil membunuh monster yang mencoba menyerangnya.


 


Ketika Lorn menghabisi monster yang ada di dekatnya, secara bersamaan langit-langit gua berjatuhan ke arahnya saat ia tengah melawan monster lain yang berusaha menyerang barisan belakang yang terluka. Ia terkejut dan berusaha menghindar, namun sayangnya batu-batu itu tidak hanya berjatuhan ke arahnya saja.


 


“Jangan katakan...! Renna...!” Ujar Lorn panik mencoba memberi temannya peringatan.


 


Langit-langit itu berjatuhan ke arah pasukan yang terluka berada. Salah satu rekannya juga berada di sana tengah terluka, itu membuatnya tidak memiliki banyak pilihan.


 


“Tch! Sialan...! Aku tidak ingin menggunakannya, tapi aku tidak punya pilihan lain...!” Ujar Lorn panik bercampur kesal.


 


Ia menendang monster yang menahannya sebelum ia merapalkan mantra sihirnya untuk melindungi rekannya yang terluka. Namun...


 


“Flames of-“


 


Tepat saat ia hendak merapalkan mantranya, secara mengejutkan ia tertusuk kristal tajam milik monster tambang berwujud Golem itu. Mantranya pun hancur dan ia pun terjatuh tak berselang setelah menerima serangan tersebut.


 


“Lorn...!” Seru Gin terkejut.


 


“Lorn-kun...!” Ujar Renna panik menyaksikannya tumbang.


 


Lorn terkapar tak berdaya saat monster-monster itu mulai menyudutkan mereka. Ditambah dengan situasi gua yang tidak stabil membuat keadaan mereka bertambah buruk. Bebatuan mulai berjatuhan dari langit-langit saat anggota regu yang tersisa mulai panik saat membantu evakuasi mereka yang terluka.


 


“C-Cepat pergi dari sini...! Langit-langitnya akan jatuh...!” Seru salah seorang prajurit sambil membantu anggotanya yang terluka.


 


“Bawa yang tidak bisa berjalan bersama kalian, kami akan mengulur waktu...!” Sambung prajurit yang lain berseru sambil menahan musuh.


 


“Nia, bagaimana keadaanmu di sana...?” Seru Gin kepada gadis bernama Nia yang merupakan anggotanya.


 


“Apa aku harus menjawab pertanyaanmu...! Aku sedang sibuk di sini...!” Balas Nia kesal saat melawan monster yang datang ke arahnya.


 


Pada saat yang bersamaan ketika pasukan yang tersisa berniat meninggalkan tempat itu bersama anggota yang terluka, kawanan monster tambang berwujud Golem menghalangi jalan keluar mereka. Kini mereka sepenuhnya terkepung.


 


“O-Oi! Dari mana asalnya mereka...! Aku yakin mereka semua menyerang kita dari arah depan...!” Ujar salah seorang prajurit panik.


 


“A-Apa yang harus kita lakukan...!” Balas yang lain mulai ketakutan.


 


Gin yang kesal akhirnya berlari ke arah mereka untuk membuka jalan, namun sayangnya usahanya tersebut seketika tertahan ketika sebuah Golem menyerangnya dari bawah tanah.


 


“Ugh...! A-Apa...?!” Ujar Gin spontan terkejut.


 


“Gin...!!” Seru Nia panik menyaksikannya.


 


Gin terlempar akibat pukulan keras itu hingga menjatuhkan Greatswordnya. Ia mencoba bangkit, namun pada saat yang sama Golem-Golem itu melancarkan serangan selagi mengepungnya.


 


“A-“


 


Mereka pun mulai menghajar Gin dengan jumlah mereka. Ia berusaha melawan, namun tanpa senjatanya, ia tidak bisa berbuat banyak saat serangan mereka mendarat satu persatu di tubuhnya.


 


“Arghhh...!!”


 


Darah bercucuran keluar dari luka di tubuh Gin setiap kali Golem itu melancarkan serangan. Tubuh mereka yang ditumbuhi kristal tajam membuat serangan mereka setara dengan pisau atau benda tajam lainnya.


 


“Gin...!” Seru Nia kepadanya.


 


Nia mencoba melawan balik Golem yang menahannya, namun itu semua sia-sia karena jumlah mereka yang terlalu banyak menyulitkannya untuk menolong Gin. Ia terpaksa tertahan oleh mereka sementara Gin dengan naasnya menjadi bulan-bulanan para Golem.


 


“(Jika terus seperti ini, Gin tidak akan bertahan...! Dia pasti akan mati...! Tapi, aku tidak bisa lepas dari mereka saat ini...!)” Ujar Nia dalam hatinya panik.


 


Keadaan saat ini merupakan yang paling buruk. Sebagian besar anggota telah gugur dan tidak dapat bertarung, ditambah dengan terkepungnya mereka dari kedua sisi membuat harapan mereka untuk selamat menjadi hilang. Cepat atau lambat, mereka semua akan terbunuh.


 


“Ini yang terburuk...! Benar-benar yang terburuk...! Kita semua akan mati di dalam sini...!” Gumam Nia kesal.


 


Namun, saat harapan mereka nyaris pupus, secara mengejutkan kilatan cahaya terlihat dari balik kegelapan di belakang mereka. Dan tepat ketika Golem itu hendak berniat menghabisi salah seorang prajurit yang terluka tersebut, sebilah pedang secara mengejutkan menancap di tubuh Golem itu sebelum akhirnya seseorang misterius datang menebas tubuh Golem tersebut menggunakan pedang yang menancap di tubuhnya.


 


“A-Apa yang barusan...!” Ujar prajurit itu terkejut menyaksikan apa yang terjadi.


 


“Apa kau terluka...?” Ujar seorang pemuda misterius yang muncul bersama serangan tersebut.


 


“E-Eh...?!”


 


Semua orang yang menyaksikannya terkesima melihat sosok pemuda berambut putih yang muncul tanpa diduga tersebut. Ia mengibaskan pedangnya yang berlumuran tanah sebelum berkata kepada semua orang yang ada di sana.


 


“Maaf karena aku terlambat... Tapi, situasinya jauh lebih buruk dari yang kuduga...” Ujarnya melihat pada pasukan yang terluka dengan wajah prihatin.


 


Saat mereka berniat bertanya kepadanya, ia langsung menerjang Golem-Golem yang berniat menyerang anggota mereka yang terluka. Sambil berlari dan menghindari serangan mereka, ia menghabisi Golem itu satu persatu dengan mudahnya. Tanah bercampur bijih kristal berhamburan setiap kali ia membunuh Golem itu, ia pun dalam sekejap telah menghabisi semua Golem yang ada di bari belakang.


 


“Bagaimana keadaan kalian...? Apa kalian masih sanggup berjalan...?” Tanya pemuda itu pada Renna yang terduduk terluka.


 


“U-Umm.... Setidaknya aku masih bisa berjalan...” Jawab Renna dengan wajah terkesima.


 


“Syukurlah kalau begitu... Kau menguasai sihir, jadi kuminta padamu untuk memandu mereka sampai mulut gua.” Balas Leo dengan wajah serius.


 


“T-Tapi... Ada temanku yang terluka di sana... Aku tidak bisa meninggalkan mereka bertiga.” Balas Renna dengan ekspresi sedih dan cemas.


 

__ADS_1


“Serahkan kepadaku... Aku akan membawa mereka keluar setelah menghabisi mereka semua...”


 


“E-Eh...?”


 


“Sekarang, pergilah...! Selagi ada kesempatan...!”


 


Tepat setelah menyerukannya, ia lantas berlari menuju ke arah Gin yang tengah teraniaya oleh sekelompok Golem tersebut. Ia menebas tubuh mereka bersamaan dan membebaskannya dari penderitaan.


 


“Bagaimana keadaanmu...? Apa kau masih mendengarku...?” Ujarnya memeriksa keadaannya.


 


“Ugh... S-Siapa kau...? A-Apa aku... Sudah mati...?” Balas Gin dengan nada lemah sambil membuka matanya kebingungan.


 


“Ah. Kau masih sadar. Itu berita bagus. Sekarang mundurlah, biar aku yang menahan mereka.”


 


“H-Huh...?”


 


Ia lantas meninggalkannya ketika Gin bangun dengan kondisi setengah sadar. Dengan berlumuran darah, Gin mencoba menyaksikan siapa sosok yang baru saja menyelamatkan nyawanya.


 


“(Rambut putih...? Apa aku tidak salah melihatnya...? Memangnya ada orang di dunia ini yang memiliki warna rambut putih seperti itu...?)” Ujar Gin dalam hatinya bingung.


 


Di sisi lain, Nia yang sejak awal melawan sekelompok Golem pada akhirnya dibuat takluk oleh kekuatan dan jumlah mereka. Ia dilemparkan oleh mereka hingga terkapar di tanah sebelum mereka mulai mengepungnya.


 


“....!”


 


Ia mulai ketakutan ketika para Golem mulai menunjukkan tangan kristal mereka yang tajam. Namun, sesaat sebelum mereka berhasil melakukannya, secara mengejutkan mereka semua terpenggal tepat di hadapannya ketika ia terkejut menyaksikannya.


 


“E-Eh...?! A-Apa...?!” Gumamnya spontan terperanga.


 


Pada saat yang sama pula, seorang pemuda berambut putih datang menghancurkan sisa-sisa tubuh Golem itu sebelum akhirnya ia bicara dengannya.


 


“Kau baik-baik saja...?” Tanya pemuda berambut putih kepadanya.


 


“E-Eh...? Y-Ya.” Balasnya gugup bercampur bingung.


 


“Maaf karena aku terlambat, tapi semua regumu berhasil dievakuasi. Aku melihat satu orang anggotamu berlumuran darah, pergilah dan tolong dia sebelum terlambat. Aku akan mengulur waktu.” Balasnya sebelum akhirnya menebas Golem yang datang.


 


Ia kembali melanjutkan membereskan sisa-sisa pasukan Golem sementara membiarkannya untuk menolong Lorn. Nia tanpa membuang kesempatan langsung menghampiri Lorn yang terkapar tidak berdaya untuk menolongnya.


 


“Lorn... Bagaimana keadaanmu...? Apa kau baik-baik saja...?” Ujar Nia merangkul Lorn di bahunya.


 


“Ugh...! Hah...! Hah...! T-Tidak terlalu...” Balas Lorn dengan nada tercekik menahan sakit.


 


“Bertahanlah, kita akan segera keluar dari tempat ini...!” Balasnya sebelum membawanya pergi bersamanya.


 


Dengan perginya Nia dan Lorn, kini seluruh anggota telah berhasil dievakuasi. Kini satu-satunya hal yang tersisa hanyalah membersihkan pasukan Golem yang datang sebagai bala bantuan.


 


“(Dengan begini, aku bisa bertarung lebih leluasa...)” Ujarnya dalam hati percaya diri.


 


Ia melemparkan obornya ke udara tepat di atas para Golem itu berada. Terlihat jumlah mereka yang bersembunyi dalam bayangan ketika obor itu menerangi mereka sebelum akhirnya ia melesat ke arah mereka.


 


“Haa!”


 


Ia menebas tubuh Golem yang ada di hadapannya sebelum berlanjut mengayunkan pedangnya menyilang dalam area luas membunuh Golem lain yang berusaha mendekatinya. Tidak berhenti sampai di sana, ia terus membunuh Golem yang datang seiring dengan jatuhnya obor itu. Menyadari bahwa obornya semakin dekat dengan permukaan, ia menaiki salah satu Golem yang berniat menyerangnya dan menggunakannya sebagai pijakan untuk melompat meraih obor yang sebelumnya ia lempar.


 


“(Aku mengerti sekarang... Mereka bukan Golem dengan kecerdasan... Mereka hanya dibuat untuk menjalankan tugas sederhana... Struktur mereka juga sangat mendasar, kemungkinan mereka hanya diciptakan untuk bekerja...)” Ujarnya dalam hati mengamati semua Golem itu dengan seksama.


 


 


Selesai menganalisa, ia mendarat dengan sempurna dengan obor di tangannya. Ia sudah mengetahui jenis musuhnya dan bersiap untuk menghabisi mereka semua.


 


“Aku tidak tahu bagaimana kalian bisa tercipta, tetapi sudah saatnya kalian kembali ke asal kalian.” Ujarnya mengibaskan pedangnya membersihkannya dari tanah dan lumpur.


 


Ia pun kembali menghadapi Golem-Golem itu hingga akhirnya ia berhasil menghabisi semua Golem yang ada. Meski memakan banyak waktu, setidaknya ia berhasil menghabisi mereka semua tanpa terluka.


 


“(Akhirnya selesai... Kalau hanya Golem biasa, setidaknya mampu menahan mereka seorang diri. Tetapi, pertanyaannya adalah dari mana semua Golem itu berasal...)” Ujarnya dalam hatinya memikirkannya.


 


Golem adalah makhluk buatan, mereka tidak tercipta begitu saja di alam. Meski suatu lingkungan dikaruniai kekuatan sihir yang berlimpah, Golem tidak akan tercipta semudah itu. Sudah jelas ada yang membuat mereka, namun saat ini ia belum bisa memastikannya karena kurangnya petunjuk yang ada.


 


“(Aku akan simpan pertanyaan itu nanti, sekarang aku harus kembali pada regu itu untuk memeriksa keadaan...)” Ujarnya dalam hati sambil menyarungkan kembali pedangnya.


 


Ia pun kembali ke jalur utama untuk menemui regu yang sebelumnya ia selamatkan. Masih banyak pertanyaan yang menggagu benaknya saat ini, namun ia mencoba untuk mengesampingkannya sejenak dan fokus kembali pada misinya.


 


Setibanya di persimpangan, Lia dengan regu lain tiba pada saat yang bersamaan. Namun, tidak seperti regunya yang kembali dengan penuh luka, regu Lia semuanya selamat tanpa mengalami cedera yang berarti.


 


“Leo, syukurlah kau kembali dengan selamat.” Ujar Lia datang menghampirinya dengan wajah senang.


 


“Aku juga senang kau selamat.” Balas Leo tersenyum.


 


“Sepertinya keadaan mereka lebih buruk dari kukira...” Sambung Lia prihatin melihat regu Leo yang terluka.


 


“Ya. Aku sedikit terlambat. Keadaan mereka sudah terdesak saat aku sampai.”


 


“Sebenarnya, apa yang terjadi?”


 


“Aku juga ingin tahu selengkapnya. Mungkin kita bisa tahu jawabannya dari petualang yang bersama mereka.”


 


Mereka berdua lantas menghampiri Lorn dan party-nya ketika ia menerima perawatan. Di sana, ia tengah dirawat oleh salah satu teman party-nya, Nia yang sebelumnya bertarung bersamanya. Meski ia tertusuk, namun sepertinya ia beruntung karena luka itu tidak sampai mengenai organ vitalnya.


 


“Ugh...! Sial...! Sakit...! Bisakah kau pelan-pelan...!” Ujarnya meringis menahan sakit.


 


“Sabar...! Aku juga tidak berniat sengaja...!” Balas Nia membalut lukanya dengan perban.


 


“Tch...! Kau kasar seperti biasanya...” Balasnya menggerutu.


 


“Hah...! Siapa yang kau panggil kasar...? Tidak sopan mengatakan itu kepada seorang wanita!”


 


“O-Ouch...! H-Hentikan itu...!”


 


Ketika mereka tengah bertengkar, Leo dan Lia datang menghampiri mereka berdua. Sejenak mereka berdua terdiam sebelum akhirnya kembali menjadi tenang ketika Leo bertanya kepada mereka.


 


“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Leo kepada Lorn.


 


“U-Uh. Y-Ya. Hanya luka tusuk yang tidak berbahaya...” Balas Lorn dengan nada gugup.


 


“Syukurlah. Lalu, bagaimana dengan temanmu yang lain? Apa mereka baik-baik saja?” Balas Leo kembali bertanya kepadanya.


 


“Kalau soal itu... Lebih baik kau tanya pada orang ini...” Jawab Lorn sambil mengarahkan ibu jarinya pada Nia.

__ADS_1


 


“Uh... Kami semua baik-baik saja. Untuk kedua teman kami, mereka baik-baik saja. Mereka sedang diperiksa di sana.” Balas Nia sebelum melihat ke arah pasukan itu berkumpul.


 


“Begitu ya. Senang mendengarnya...” Balas Leo menghela nafas lega dan tersenyum.


 


Melihat Leo berbicara dengan rekan party-nya, Renna lantas bergegas menghampirinya untuk mengucapkan beberapa hal yang ingin ia sampaikan kepadanya.


 


“Tuan berambut putih...” Serunya bergegas menghampirinya meski kakinya terluka sebelah.


 


“O-Oi. Renna, jangan paksakan dirimu berjalan!” Ujar Nia menghampirinya dengan wajah cemas.


 


“Renna... Bagaimana keadaan Gin?” Sambung Lorn bertanya kepadanya.


 


“Dia sudah diobati oleh prajurit medis. Yang lebih penting, ada yang ingin kusampaikan kepada tuan berambut putih itu...”Balas Renna sebelum perhatiannya tertuju pada Leo.


 


“Uh... Apa maksudnya tuan...? Aku masih terlalu muda untuk dipanggil begitu...” Ujar Leo tersenyum sambil menggaruk rambutnya.


 


“Aku hanya ingin mengucapkan rasa terima kasihku karena telah menolong kami semua. Tanpamu, mungkin kami semua sudah mati di dalam sana.” Balas Renna tersenyum sambil menundukkan kepalanya.


 


“A-Ah. Aku hanya menjalankan tugasku...” Balas Leo menggaruk pipinya sambil memalingkan pandangannya tersipu.


 


“Kau telah menyelamatkan kami, terima kasih banyak. Kalau boleh tahu, siapa namamu?” Ujar Lorn bergantian bertanya kepadanya.


 


“Leo, panggil saja aku Leo.” Jawab Leo tersenyum ramah.


 


“Leo, huh? Namaku Lorn, mereka bertiga adalah teman-teman party-ku. Dia Nia, Renna dan yang sedang diobati di sana adalah Gin.” Balas Lorn sebelum mengenalkan anggota party-nya.


 


“Nia, senang bertemu denganmu.” Ujar Nia menganggukkan kepalanya.


 


“Renna, senang bertemu denganmu, Leo-san.” Ujar Renna tersenyum kepada Leo.


 


“Sama-sama.” Balas Leo tersenyum ramah.


 


Setelah perkenalan diri singkat itu, Leo memutuskan bahwa ini saat yang tepat untuk berbicara serius mengenai keadaan sebelum ia dan Lia datang menolong mereka.


 


“Maaf sebelumnya, tapi... Bisa ceritakan apa yang terjadi sebelum kalian terdesak...?” Tanya Leo dengan wajah serius.


 


Mereka bertiga saling menatap untuk sejenak sebelum akhirnya setuju untuk memberitahu Leo apa yang terjadi selama penelusuran mereka.


 


“Ya. Aku akan menjelaskannya.” Jawab Lorn mengambil nafas dalam.


 


“.... Kuserahkan kepadamu.” Balas Leo bersiap mendengarkan.


 


Sembari diobati, Lorn mulai menceritakan kejadian yang ia dan regunya alami dalam penelusurannya di jalur tersebut.


 


“Awalnya kami menelusuri jalur itu dengan 20 anggota kami. Kalian berdua pasti bertemu beberapa orang yang terluka di kemah, bukan?” Ujar Lorn sebelum bertanya kepada mereka berdua.


 


“Ya. Kami melihat beberapa prajurit terluka dirawat di sana.” Balas Leo singkat dengan nada curiga.


 


“Sebagian dari mereka adalah anggota regu kami. Mereka secara tidak sengaja berhadapan langsung dengan Golem itu ketika berniat memetakan jalur.” Sambung Lorn kembali melanjutkan ceritanya.


 


“Lalu, apa yang kalian temukan di sana? Dan kenapa para Golem itu bisa mengejar kalian?” Balas Leo mengajukan pertanyaan di benaknya.


 


“Bila boleh jujur, kami tidak menemukan apa pun di sana selain sisa galian. Selain itu, tidak ada hal menarik lain yang kami temukan. Kemungkinan besar, Golem-Golem itulah yang melakukannya. Tetapi pertanyaannya adalah, apa yang mereka cari dan untuk apa...” Jawab Lorn dengan wajah bingung.


 


“Aku berpendapat kalau mereka tengah mencari kristal sihir. Tetapi, aku tidak yakin mengapa mereka melakukannya...” Sambung Renna mengutarakan kecurigaannya.


 


“Kami tidak tahu apakah itu benar atau tidak, tetapi hanya kemungkinan itu saja yang masih bisa diterima oleh nalar. Secara, kami ini hanya petualang peringkat rendah yang kurang secara pengalaman...” Ujar Lorn menambahkan.


 


Leo terdiam sejenak setelah mendengar semua cerita mereka. Kurang lebihnya ia bisa mengetahui bagaimana insiden itu menimpa mereka. Selain kurangnya pengalaman sebagai petualang, mereka juga kurang memahami lingkungan tempat penjelajahan mereka.


 


“(Sudah jelas kalau mereka tidak terbiasa bertarung di tempat gelap... Sekarang aku mengerti masalah yang mereka hadapi sebelumnya...)” Gumam Leo dalam hatinya.


 


Meski ia masih belum mengerti kenapa Guild mengizinkan petualang tanpa pengalaman seperti mereka turun ke bawah sini, tetapi ia mengabaikan masalah itu untuk saat ini dan berfokus pada masalah yang ada.


 


“Kurang lebihnya aku mengerti... Tebakan kalian tidak sepenuhnya salah. Golem memang tertarik dengan esensi sihir yang bisa mereka temui. Itulah sebabnya mereka mengejar kalian.” Ujar Leo mengangguk sesaat sebelum mendukung argumen mereka.


 


“Jadi itu benar...? Aku hanya menebaknya saja...” Balas Renna terkejut.


 


“Ya. Sebagai penyihir, kau pasti merasakannya. Mereka memang tertarik dengan kekuatan sihir yang besar seperti milikmu.” Balas Leo pada Renna sambil tersenyum.


 


“Kau tahu banyak tentang mereka...” Ujar Lorn memujinya.


 


“Kebetulan saja aku sering menghadapi mereka...” Balas Leo dengan nada canggung.


 


“Tapi... Dari mana mereka semua berasal...? Dan kenapa mereka semua bisa ada di sini...?” Sambung Renna bertanya dengan nada curiga.


 


“Benar juga... Bagaimana mereka semua bisa ada di dalam sini...?” Balas Nia bertanya hal yang sama.


 


Saat mereka semua memikirkan pertanyaan yang sama, secara bersamaan secercah cahaya muncul dari lorong terakhir yang dijelajahi oleh regu pertama. Bersama dengan cahaya remang-remang itu, terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah mereka sebelum akhirnya beberapa sosok prajurit dengan obor kristal datang.


 


“E-Eh...? Apa yang terjadi dengan kalian...? Kenapa kalian semua ada di sini...?” Ujar prajurit pertama terkejut dengan nafas terengah-engah.


 


“O-Oi. Apa yang terjadi...? Kalian terluka...!” Sambung prajurit kedua dengan wajah panik.


 


Leo dan teman-temannya yang menyaksikan kedatangan mereka bertiga lantas bertanya-tanya apa yang membuat mereka kembali ke persimpangan ini seorang diri tanpa membawa anggota regu lainnya.


 


“Bukankah orang itu dari regu pertama...?” Ujar Nia menunjuk ke arah mereka.


 


“Ya. Itu memang mereka. Apa yang mereka lakukan dengan tergesa-gesa begitu?” Balas Lorn dengan wajah heran.


 


“Mungkin sebaiknya kita tanya pada mereka.” Ujar Leo mengajukan usul.


 


Mereka berlima lantas menghampiri para prajurit itu ketika prajurit lain dari regu kedua ikut menghampiri mereka untuk memastikan apa yang terjadi.


 


“Ted, Willem, Reiss, apa yang terjadi? Kenapa kalian terengah-engah begitu?” Tanya seorang prajurit dari regu kedua.


 


“Ah, kau rupanya, Gideon. Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?” Balas Willem sebelum akhirnya bertanya kepadanya.


 


“Yah, ada sedikit masalah. Yang lebih penting, ada apa kalian bertiga kemari tanpa anggota regu lainnya?” Jawab Gideon singkat sebelum kembali pada masalah utama.


 


“A-Ah. Benar juga...! Pemimpin regu ingin menyampaikan pesan kepada kalian...!” Balas Willem kembali sadar dan panik.


 


“Pesan...?” Balas Gideon bingung.


 


“Ya! Bunyinya, “Kami menemukan sesuatu, datanglah segera!”. Begitu katanya...!” Ujar Ted dengan nada serius.

__ADS_1


 


Mereka seketika terkejut mendengar pesan dari pemimpin regu pertama. Firasat Leo makin menguat begitu mendengar pesan tersebut. Pesan yang mengundang pertanyaan tersebut akan membawa mereka pada kebenaran sesungguhnya yang disembunyikan oleh tambang tua ini.


__ADS_2