
Begitu Leo menyetujuinya, Roff terlihat senang bisa mengajaknya dan Lia masuk ke dalam party-nya. Walau Leo sempat ragu pada awalnya, pada akhirnya ia tetap menerima tawaran Roff untuk masuk ke dalam party-nya.
“Hebat, kawan! Mulai sekarang mohon kerja samanya!” Ujar Roff merangkul bahu Leo dengan wajah gembira.
“Uh... Y-Ya. Kami juga...” Balas Leo dengan wajah canggung.
“Benar juga, mari kita temui anggota partyku. Ikutlah kemari denganku.” Sambung Roff mengajak mereka menemui anggota lain.
Di luar gerbang, beberapa orang terlihat telah menunggu kedatangan Roff. Mereka adalah anggota party Roff yang berniat ia kenalkan kepada mereka berdua.
“Yo, aku kembali. Sapalah anggota baru kita.” Ujar Roff menyapa anggota party lainnya.
Salah satu anggota mereka yang bertubuh besar menatap Leo dengan tatapan tajam sebelum ia membalas ucapan Roff.
“Mereka? Aku tidak mengira kau akan membawa warga biasa. Hobimu benar-benar buruk, kapten.” Ujar pria bertubuh besar itu dengan nada angkuh.
“Ayolah, jangan sambut anggota baru kita dengan wajah seperti itu. Sapalah mereka.” Balas Roff menepuk bahunya.
“Ya. Ya. Namaku Hord, senang bertemu dengan kalian.” Ujar Hord menghela nafas panjang menyapa mereka.
Ucapannya terasa sangat dingin pada mereka berdua, khususnya pada Leo. Dia terlihat seperti tidak menyukainya.
“Y-Ya. Senang bertemu denganmu juga.” Balas Leo dengan nada gugup.
“Humph.”
Lalu, salah seorang dari mereka diam-diam melewati punggung Roff sebelum akhirnya ia merangkulnya dan berkata kepadanya.
“Oh, kau menemukan gadis manis rupanya. Sepertinya dewi keberuntungan sedang tersenyum dari alam sana kepadamu, kapten.” Ujarnya dengan senyum menyeringai di wajahnya.
“Diam kau, Drey. Tidak sepantasnya kau bilang seperti itu dengan nada mengejek.” Balas Roff melepaskan tangan Drey dari bahunya.
“Oh. Maafkan aku kalau begitu. Hanya saja, aku tidak tahan melihat pesonanya...” Balas Drey melirik ke arah Lia.
Drey melirik ke arah Lia dengan tatapan sayu ketika Lia yang menyadari tatapannya lantas memalingkan pandangannya sambil menarik lengan baju Leo.
“Lia...?” Bisik Leo menatapnya bingung.
“.....”
Ia tidak terlalu mengerti apa yang terjadi, tetapi Leo bisa menebak kalau Lia merasa waspada terhadap kehadiran Drey yang mendadak muncul dan menyelinap di belakang Roff tanpa ketahuan. Itu jelas merupakan kemampuan menyembunyikan diri yang luar biasa. Wajar saja itu membuat Lia cemas.
“Namaku Leo dan ini Lia. Mohon kerja samanya, Drey-san.” Ujar Leo menyapa Drey dengan senyum ramah.
“Senang bertemu denganmu juga. Aku lihat kau punya selera yang menarik juga...” Balas Drey dengan senyum menyeringai menatap Leo.
“E-Eh...? Apa maksudmu...?” Balas Leo dengan nada gugup.
“Bukan apa-apa... Ngomong-ngomong...”
Drey melihat Lia dengan tatapan aneh sambil menyeringai. Ia pun mencoba mendekat dan bicara dengannya.
“Lia-chan, benar? Kau sangat menawan untuk berada di kalangan petualang. Aku tidak akan terkejut jika kau adalah tuan putri, mulai sekarang serahkan semuanya kepadaku sebagai ksatriamu.” Ujar Drey dengan nada merayu.
“Uh... Drey...” Balas Roff dengan wajah kecewa menatapnya.
“Jangan khawatir, semuanya akan kukalahkan dengan kedua belatiku ini. Tidak akan pernah ada yang bisa mengancammu lagi selagi aku ada...” Sambung Drey sambil terkikik.
Merasa tidak nyaman dengan Drey, Lia pun memutuskan untuk bersembunyi di balik tubuh Leo guna menjauhkan diri dari godaannya.
“Oh, pemalu sekali. Tapi, itulah yang membuatmu jauh lebih menawan...” Ujar Drey mengedipkan satu matanya.
“A-Ahaha... Maaf sebelumnya, dia memang jarang bicara... Jadi tolong jangan dimasukkan ke hati...” Balas Leo memaksa tawanya guna melindungi Lia.
“Tidak masalah, kawan. Yang lebih penting, tolong jaga dia baik-baik.”
“T-Tentu saja.”
“Jika kau sudah tidak sanggup lagi, maka aku dengan senang hati akan menggantikanmu untuk-“
Secara mengejutkan Roff memukul kepala Drey hingga ia nyaris tertunduk sebelum memotong pembicaraan.
“Maafkan sikapnya. Dia memang terkadang suka membuat masalah.” Ujar Roff meminta maaf kepada Leo dan Lia.
“Ugh...! Kapten... Kau tidak mengira-ngira dulu sebelum memukulku....?” Gumam Drey mengusap kepalanya yang baru saja terpukul.
“Diamlah. Kita akan selamanya di sini jika kita mengikuti permainan konyolmu!” Balas Roff kesal kepadanya.
__ADS_1
“Ya. Ya. Aku tahu... Aku minta maaf...” Balas Drey dengan wajah menyesal.
“Ya ampun. Berisik sekali...”
Seorang wanita berambut hitam datang menghampiri mereka setelah mengetukkan tongkatnya ke tanah menimbulkan suara mendengung yang menghentikan pertikaian Drey dengan Roff. Dari kelihatannya, wanita tersebut merupakan penyihir yang cukup hebat dari kelompok Roff.
“Maaf untuk itu, Lisha. Anak ini memang sulit dinasihati.” Ujar Roff melihat ke arahnya.
“Aku tidak peduli dengan pertengkaran kalian. Yang lebih penting, sampai kapan kita mau berada di sini?” Balas Lisha dengan nada menggerutu.
“Diam kau, nenek sihir! Kau yang tidak populer mana tahu keadaanku sekarang!” Sambung Drey kepada Lisha sambil mengejeknya.
“Kalau begitu jangan salahkan aku jika wajahmu berubah bentuk...” Balas Lisha dengan wajah kesal.
“Kita coba saja!” Balas Drey menantangnya.
Melihat mereka mulai bertengkar, Hord pun ikut turun tangan membantu Roff melerai mereka.
“Drey, hentikan itu! Jangan berkelahi!” Seru Roff melerai Drey.
“Tch. Kau beruntung kali ini. Aku tidak ingin terlihat buruk di hadapan anggota manis baru kita.” Balas Drey dengan nada kesal.
“Sudah cukup, Lisha. Jangan buang kekuatan sihirmu untuk hal bodoh ini.” Sambung Hord menepuk bahu Lisha menghentikannya.
“... Kau benar. Kali ini saja kau aku biarkan...” Ujar Lisha sambil menarik nafas dalam.
Pada akhirnya mereka berhasil dilerai. Meski barusan cukup menegangkan, namun berkat bantuan Hord mereka berdua akhirnya dapat kembali tenang.
“Kelihatannya cukup meriah juga...” Ujar Leo dengan senyum kecil di bibirnya.
“Yah, maaf untuk keributannya. Dan itulah anggota terakhir kami, sang penyihir Lisha. Ayo Lisha, sapalah anggota baru kita.” Balas Roff sebelum melihat kepada Lisha.
“Huh...? Anggota baru? Ada masalah apa sampai kau merekrut mereka, kapten?” Balas Lisha dengan wajah sinis menatap Leo dan Lia.
“Bisa dibilang ini adalah suatu keuntungan kita punya dua orang tambahan yang bisa melindungimu saat merapal mantra. Bagaimana kedengarannya?” Jawab Roff meyakinkan Lisha.
Lisha terdiam sejenak tanpa memalingkan pandangannya dari mereka berdua sebelum akhirnya mengatakan keputusannya kepada Roff.
“Baiklah, kedengarannya cukup menjanjikan. Tapi aku tidak akan terlalu berharap banyak kepada mereka berdua...” Ujar Lisha memalingkan wajahnya dengan angkuh.
“Y-Ya. Kami juga mohon kerja samanya.” Ujar Leo dengan senyum gugup.
“Tentu saja!” Balas Roff menjabat tangan Leo sambil tersenyum.
Ekspresi Roff sekilas tampak berubah untuk sesaat. Namun, itu tidak jadi masalah sekarang karena Leo dan Lia saat ini telah diterima oleh anggota party lainnya. Meski tidak pernah menyangka akan jadi seperti ini, Leo merasa senang bisa menjadi bagian dari party Roff.
Mereka pun berangkat tak berselang setelahnya. Rasa senang bercampur semangat menjadi satu dalam hati Leo mengiringi perburuan pertamanya sebagai anggota party. Namun di satu sisi, ia mengingat kejadian kelam di masa lalunya saat ia memikirkan tentang perburuan dalam kelompoknya.
“... Leo?” Bisik Lia melihat ke arahnya cemas.
Lia yang melihat wajah pucat Leo lantas bertanya apa yang tengah membebaninya. Terkadang Leo terlihat sedih pada saat tertentu, namun ia berusaha menyembunyikannya saat Lia melihatnya. Itu membuat Lia terkadang merasa cemas dengannya.
“...? Ada masalah, Lia...?” Tanya Leo menyadari Lia menatapnya dengan wajah cemas.
“Mm... Tidak ada.” Balas Lia mengalihkan pandangannya.
“Apa kau gugup...? Sejujurnya aku juga gugup. Sudah lama aku tidak bertarung sebagai kelompo-“
Leo secara mengejutkan menghentikan ucapannya. Ekspresinya lantas berubah sesaat sebelum ia kembali sadar dan mengganti topik pembicaraan.
“Sudah lama tidak bertarung...?” Ujar Lia dengan wajah bingung.
“Ah... Aku penasaran ke mana tujuan perburuan kita nantinya...” Sambung Leo mengalihkan pembicaraan.
“... Leo, kau pernah jadi petarung sebelumnya...?” Tanya Lia mencoba mengembalikan topik pembicaraan.
“T-Tidak... A-Aku hanya...”
Saat Leo mulai kebingungan bagaimana menjelaskan maksud ucapannya kepada Lia, Roff memotong percakapan mereka dengan sebuah pertanyaan.
“Benar juga, ada yang ingin kutanyakan kepada kalian. Sudah berapa lama kalian menjadi petualang?” Tanya Roff memotong.
“E-Ah. B-Bisa dibilang baru-baru ini...” Balas Leo dengan nada canggung.
“Begitu ya. Apa sebelumnya kalian pernah bekerja sebagai petualang atau sejenisnya?” Sambung Roff kembali bertanya kepadanya.
“Tidak... Ini kali pertama, kurasa...” Jawab Leo dengan wajah ragu.
__ADS_1
“Yang lebih penting dari pada itu, bagaimana hubunganmu dengan Lia-chan? Sejak kapan kalian bertemu?” Sambung Drey memotong pembicaraan Leo dengan Roff.
“E-Eh...? Y-Yah... Itu agak...” Balas Leo gugup.
“Drey...” Gumam Roff dengan nada kesal.
“Apa? Aku hanya bertanya saja.” Balas Drey mengangkat bahunya.
“Lebih baik kau berhenti menggodanya atau aku terpaksa menempatkanmu pada posisi bertahan.” Ujar Roff dengan nada mengancam.
“Ugh..! B-Baiklah! Aku tidak akan melakukannya lagi! Apa pun asalkan jangan itu!” Balas Drey terkejut dengan wajah pucat.
Roff menghela nafas panjang sebelum melanjutkan percakapannya dengan Leo.
“Maaf untuk hal itu. Drey memang kadang suka menyebalkan. Tetapi, jangan ragukan dia ketika beraksi nanti.” Sambung Roff sambil tersenyum berat.
“Uh... Baiklah.” Balas Leo dengan wajah gugup.
Mereka berjalan terus menuju ke arah timur hingga mencapai sebuah hutan yang lebat. Semak belukar tumbuh di sepanjang jalan dan tanaman merambat banyak menyilang di antara pepohonan. Itu adalah tempat tinggal yang sesuai bagi beberapa monster tertentu.
“Ke mana kita akan menuju...?” Tanya Leo kepada Roff sambil melihat sekelilingnya.
“Hm...? Ah. Tentu saja ke tempat perburuan kita tentu saja.” Balas Roff tersenyum percaya diri.
“Begitu ya... Jika masuk sedalam ini ke dalam hutan, itu artinya Orc atau monster berukuran besar lain...” Balas Leo sambil bergumam.
“Ho? Kau tahu banyak juga rupanya. Aku tidak menyangka kau punya pengetahuan yang luas.” Ujar Roff memuji Leo.
“H-Huh...? A-Ah. B-Begitulah...” Balas Leo terkejut dengan nada gugup.
“Seperti yang kau katakan, kita akan memburu salah satu monster berukuran besar yang sering berkeliaran di dekat sini.”
Leo mulai bertanya apa yang akan menjadi target buruan mereka kali ini. Meski ia sangat familiar dengan medan hutan seperti ini, ia masih belum dapat menebak monster macam apa yang akan mereka buru.
Mereka berjalan masuk lebih dalam ke hutan. Dengan waspada, mereka terus menyisir bagian hutan sebelum akhirnya mereka menemukan monster yang merupakan target buruan mereka.
“Kapten, kita menemukan daging segar...” Ujar Drey dengan wajah senang.
“....?”
“Itu dia target perburuan kita hari ini... Hobgoblin!” Ujar Roff sambil menyeringai.
Tepat di balik semak itu, terdapat kawanan Hobgoblin yang tengah berkemah. Mereka adalah target Roff dan party-nya kali ini.
Hobgoblin, mereka adalah monster kelas menengah dari bangsa Goblin. Mereka adalah evolusi dari Goblin biasa yang mengalami pematangan dari fisik hingga intelektualnya. Kecerdasan mereka juga jauh di atas para Goblin biasa, itulah yang menjadikannya satu tingkat di atas mereka. Ditambah, dengan ukuran tubuh mereka yang mampu mencapai tiga sampai empat meter membuatnya menjadi pemimpin bagi kalangan kaum Goblin.
“Baiklah, persiapkan diri kalian. Kita akan langsung menyerang mereka!” Ujar Roff kepada anggota party-nya.
Mereka mulai menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pertarungan. Roff mengenakan sarung tangan besinya dan pedangnya, sementara yang lainnya sudah bersiap untuk menyerang.
“Lisha, siapkan sihir pendukungmu.” Ujar Roff memberi arahan kepada Lisha.
“Aku tahu itu.” Balas Lisha singkat.
“Drey, putari mereka dari samping setelah aku dan Hord masuk. Hord, aku mengandalkanmu menjaga sisiku.” Sambung Roff memberi instruksi kepada Drey dan Hord.
“Dimengerti.” Jawab Hord singkat.
“Tentu saja, kapten. Mereka tidak tahu apa yang akan datang!” Ujar Drey menuruti perintahnya.
“Bagus.”
Roff melihat ke arah Leo dan Lia yang sudah siap bertarung sebelum memberi arahan kepada mereka berdua.
“Dan untukmu Leo, aku ingin kau memutari mereka dari arah yang berlawanan dari Drey. Apa kau bisa melakukannya?” Tanya Roff kepadanya.
“Ya. Aku akan berusaha.” Balas Leo dengan tekad bulat.
“Sempurna. Dan untuk Lia, aku ingin kau menjadi pendukung dan melindungi Lisha.” Sambung Roff melihat ke arah Lia memberi arahan.
“.... Mm.” Balas Lia mengangguk.
Setelah semua formasi selesai dibentuk, Roff pun mulai melancarkan serangan kepada kawanan Hobgoblin tersebut.
“Baiklah, kita maju...!” Serunya dengan penuh semangat.
Dengan demikian, perburuan mereka terhadap Hobgoblin siap dilaksanakan. Bagaimana hasilnya nantinya?
__ADS_1