
Roff tertawa melihat kondisi Leo yang terpojok. Leo tidak mengerti kenapa, tetapi kedatangan mereka bukanlah untuk membantunya. Itu membuatnya mengingat kejadian buruk di masa lalunya yang serupa dengan kejadian yang saat ini ia rasakan.
“Ini benar-benar menakjubkan...! Aku tidak bisa menahan tawaku lagi...!” Ujar Drey tertawa dengan nada keras melihat Leo di bawah sana.
“Padahal hanya sampah, tetapi aku tidak mengira dia akan berjuang sekeras itu...” Sambung Lisha terkikik sinis menatapnya.
“Dia berbakat sebagai umpan bagi monster.” Ujar Hord menyeringai senang.
Leo hanya terdiam menyaksikan semua kejadian itu. Pada saat itulah dirinya sadar bahwa mereka sudah mengetahui rahasia yang selama ini ia sembunyikan dari mereka semua.
“Ada apa, Leonard Ansgred? Kau bingung? Apa kau terlalu bodoh untuk mengerti semua ini?” Ujar Roff dengan nada menghina.
“... Jika kau tahu nama asliku, itu artinya kau juga tahu hal lain, bukan? Sejak kapan?” Tanya Leo dengan wajah kecewa menatap ke arah mereka.
“Ho? Untuk seorang pecundang tanpa berkah dewa sepertimu kau cukup pintar juga. Kau paham dengan cepat situasimu, huh?” Ujar Roff tertawa singkat sebelum membalas ucapan Leo.
“....”
“Baiklah, karena kau sudah menghibur kami dengan baik, aku akan menjawab pertanyaanmu.”
“....”
“Sejak kita bersalaman sebelum berangkat pagi tadi. Apa aku belum bilang kalau aku memiliki kemampuan membaca pikiran orang yang berjabat tangan denganku?”
Itu menjelaskan mengapa sikapnya berubah sesaat sebelum mereka berangkat sebelumnya. Itu karena Roff membaca pikiran Leo dan mendapati bahwa dirinya tidak memiliki Skill sama sekali. Ia pasti terkejut dan kecewa, namun ia mencoba menyembunyikannya dengan maksud tertentu.
“Oi. Oi. Ada apa? Ada apa dengan tatapan itu?” Sambung Roff melihat wajah pucat Leo.
“....”
“Biar aku tebak, kenapa aku memilih kalian berdua meski pun aku sudah tahu kau tidak memiliki kemampuan? Benar, begitu?” Ujar Roff mengangkat bahunya dengan nada mengejek.
“....”
“Singkat saja, kami memerlukan seseorang untuk menjadi umpan. Aku sendiri tidak menduga kalau kau dengan inisiatif sendiri mau menjadi umpan tanpa kusuruh. Kau benar-benar bodoh sekaligus mengesankan...” Ujar Roff sambil terkikik senang.
Leo tidak bisa membantahnya. Semua yang dia katakan memang benar, sejak kecil ia memang sering dijadikan umpan untuk monster. Tidak ada yang berubah, saat semua orang yang mengenalnya mulai mengetahui rahasianya, maka kejadian yang sama pasti akan kembali terulang.
“Oi. Oi. Dia diam saja di sana. Apa jangan-jangan mentalnya sudah hancur?” Ujar Drey melihat ke arah Leo yang terdiam membisu.
“Itu sudah pasti, bukan? Jika aku mengetahui bahwa aku terlahir tanpa berkah dewa, aku sudah pasti sudah bunuh diri sejak dulu.” Balas Lisha dengan wajah sinis menjawab Drey.
“Kalau itu sudah pasti. Tetapi, apa yang membuatnya mau berjuang hidup? Menjadi sampah saja tidak cukup baginya?” Balas Drey kembali bertanya melihat ke arah Roff.
“Hm. Entahlah... Aku hanya membaca ingatan terbarunya saja. Tetapi, kemungkinan besar dia ingin melindungi Lia. Itu saja yang bisa kudapatkan...” Ujar Roff mengingat-ingat ingatan Leo yang ia baca sebelumnya.
“Melindungi orang lain...? Dia...?” Balas Drey dengan wajah heran.
Mendengar ucapan Drey, mereka bertiga seketika tertawa disusul dirinya yang ikut menertawakan leluconnya.
“Hahaha... Yang benar saja...? Orang semacam dia melindungi seorang gadis...? Pasti ada yang salah di kepalanya...” Ujar Lisha tertawa terbahak-bahak.
“Tanpa kekuatan, memangnya apa yang bisa kau lakukan...?” Balas Hord tertawa melihat ke arah Leo.
“Tentu saja ada.” Jawab Drey dengan nada serius.
Semuanya lantas terdiam mendengar pernyataan Drey. Leo pun terkejut mendengarnya sesaat sebelum ia melihat ke arahnya ketika ia melanjutkan kalimatnya.
“Tentu saja ada satu hal yang bisa dia lakukan.” Sambung Drey melihat ke arah teman-temannya.
“Apa yang baru saja kau katakan?” Balas Hord dengan wajah terkejut.
“Hal apa yang bisa dia bisa lakukan jika dia tidak punya Skill?” Balas Lisha penasaran.
“Tentu saja menjadi anjing!” Jawab Drey dengan nada lantang.
Mereka kembali tertawa mendengar lelucon keras Drey. Di sisi lain, Leo yang sebelumnya sempat berpikir bahwa ada orang yang mendukungnya, kini harus menelan pahitnya kekecewaan saat orang yang ia kira mau menolongnya justru yang menjatuhkannya. Perasaannya hancur seketika menyisakan rasa menyesal saat mereka menertawakannya.
“Kau bajingan...! Itu benar-benar lucu...!” Ujar Roff tertawa sambil menepuk bahu Drey.
“Hahaha...! Itu tepat sasaran...!” Balas Hord tertawa terbahak-bahak.
“Sungguh, omong kosongmu kali ini adalah yang terbaik...” Ujar Lisha ikut tertawa.
Di tengah tawa mereka, salah seekor Goblin melancarkan serangan anak panah ke arah mereka berempat. Namun, dengan sigap Drey menangkisnya dengan belatinya sebelum mengenai yang lain.
“Ops... Itu nyaris saja. Dasar kalian makhluk hijau keparat!” Ujar Drey sebelum menurunkan belatinya menatap ke arah para Goblin.
__ADS_1
“Ah. Itu mengingatkanku. Kita harus bergegas menyelesaikan misi yang Guild berikan kepada kita. Kita tidak punya banyak waktu untuk bermain-main lagi.” Ujar Roff dengan lantang mengumumkan kepada semua yang ada di bawah tebing.
“....?”
“Dan untuk yang terakhir, Leonard Ansgred, kuberitahukan kepadamu. Kami ditugaskan Guild untuk menyelidiki keanehan baru-baru ini mengenai pergerakan aneh Goblin yang mendekati wilayah kota. Ini penting atau tidak? Aku tidak terlalu peduli, lagi pula kau juga akan mati oleh mereka.” Sambungnya sebelum akhirnya menertawakannya di akhir kalimatnya.
“Misi penyelidikan...?” Gumam Leo dengan wajah bingung.
“Dan yang terakhir, gadis bernama Lia itu sepertinya meninggalkanmu, sayang sekali... Sepertinya dia juga tidak tertarik bergabung dengan kami, jadi biarlah... Sampai jumpa lagi, Leonard Ansgred... Jika ada yang menemukan mayatmu... Hahaha...!” Ujar Roff sebelum akhirnya pergi meninggalkannya sambil tertawa keras.
Mereka pun meninggalkan Leo yang terluka sambil menertawakannya. Para Goblin yang menyaksikan mereka pergi lantas memalingkan kembali pandangan mereka ke arah Leo yang tak berdaya. Dengan rasa marah, mereka perlahan mengepung Leo menyudutkannya ke dinding tebing saat ia mulai kehabisan pilihan.
“Hah...! Hah...! Begitu ya... Memang selalu seperti itu... Sejak awal... Aku memang sudah sendirian...” Gumam Leo dengan nafas berat memegangi lukanya.
Ia semakin terdesak, sementara lukanya semakin berdarah. Melawan mereka dengan kondisinya saat ini, melawan mereka semua adalah mustahil.
“(Kukira juga begitu... Yang Roff katakan memang benar... Orang yang tidak memiliki berkah dewa sepertiku tidak mungkin bisa melindungi seseorang... Aku benar-benar bodoh, huh...)” Ujar Leo dalam hatinya kecewa.
Para Goblin mulai melancarkan serangan mereka secara bersamaan. Meski rasa kecewa di dalam hati Leo masih terasa menyakitkan, tetapi jauh di dalam lubuk hatinya ia tidak berkenan untuk menyerah tanpa perlawanan.
“(Meski harus mati di sini... Aku harus terus bertarung...!)” Ujar Leo dalam hatinya membulatkan tekadnya.
Bukan demi siapa pun, Leo berjuang demi apa yang diyakininya selama ini bahwa ia lahir ke dunia ini untuk satu alasan. Tidak peduli apa yang akan menimpanya, Leo tetap akan berjuang demi menemukan jawaban itu.
“Raaarhhh...!!”
“Haaa...!!”
Dengan sisa kekuatannya, Leo mengangkat pedangnya menghadapi pasukan Goblin itu seorang diri meski keadaannya yang sudah sekarat. Tekadnya sudah bulat, ia tidak peduli lagi walau harus mati sekali pun. Akan tetapi, sesuatu yang mengejutkan terjadi tepat sebelum Leo bersiap mengorbankan nyawanya.
“....?!”
Untuk sesaat, Leo seperti melihat kilatan cahaya singkat sesaat sebelum akhirnya para Goblin tewas di hadapannya terpisah menjadi dua bagian saat ia yang menyaksikannya hanya bisa terkesima. Itu adalah sebuah serangan yang sangat cepat yang bahkan tidak mampu dilihat oleh matanya. Sontak para Goblin seketika ketakutan begitu menyadari sebagian rekannya tewas secara mengejutkan.
“(Dari mana datangnya serangan itu....?!)” Ujar Leo terkejut dalam hatinya.
Tepat ketika Leo bertanya demikian, Lia muncul di antara kawanan Goblin itu dengan pedangnya yang berlumuran darah sesaat sebelum mereka semua yang menyadari kehadirannya terkejut dengan kemunculannya yang tiba-tiba.
“L-Lia....?” Ujar Leo terkesima menyaksikannya datang.
Saat Leo memanggil namanya, Lia dengan cepat mengayunkan pedangnya pada kawanan Goblin itu. Dengan serangan cepat dan mematikan, Lia menghabisi mereka dengan gerakan berpedang miliknya yang menakjubkan.
“Rhaaahhhh...!!”
Di setiap ayunan, ia membunuh tidak hanya seekor Goblin, melainkan beberapa ekor sekaligus sejauh yang ada dalam jarak serangannya. Tehnik pedangnya benar-benar luar biasa hingga dalam sekejap saja ia bisa menghabisi separuh pasukan Goblin yang mengepung Leo.
“Grrrr...!”
“Raaarrghh...!!”
Melihat Lia menghabisi teman-temannya, Goblin yang tersisa seketika dipenuhi amarah dan menyerangnya secara bersamaan. Mereka mulai menghujani Lia dengan anak panah ketika Leo yang menyaksikannya mulai cemas dengan keadaannya.
“L-Lia...! A-Awas...!” Seru Leo dengan nada tercekik.
Meski anak panah mulai berjatuhan menuju ke arahnya, Lia tetap bersikap tenang sambil mulai memasang kuda-kudanya. Entah apa yang dia pikirkan, tetapi Leo melihat bahwa kuda-kuda yang Lia pakai bukanlah kuda-kuda pertahanan.
“(Posisi pedangnya lurus di hadapannya... Jangan katakan kalau dia akan menyerang...!)” Ujar Leo dalam hatinya terkejut.
Lia mulai menarik nafas saat anak panah itu tepat di hadapannya. Sesaat kemudian, ia melesat dengan kecepatan yang luar biasa menembus puluhan anak panah itu dengan meninggalkan lubang besar di tanah yang ia pijak sebelumnya. Secara mengejutkan, seluruh anak panah itu terpotong menjadi dua bersamaan dengan Goblin yang yang ada di sepanjang jalurnya. Tubuh mungil mereka tersayat-sayat dan terbelah menyisakan Lia seorang yang berdiri di ujung barisan mereka mengibaskan pedangnya yang selanjutnya menciptakan hembusan udara kuat yang menerbangkan mayat-mayat Goblin itu ke udara.
“H-Hebat...” Gumam Leo terpukau menyaksikan kemampuan Lia.
Itu adalah kemampuan berpedang yang setingkat dengan ahli pedang. Dengan satu serangan, Lia menghabisi semua sisa pasukan Goblin yang menyerang Leo sebelumnya. Mereka semua tewas di tangannya bahkan tanpa menggunakan satu pun Skill yang ia miliki. Leo semakin yakin bahwa Lia setingkat dengan para ksatria suci yang pernah berusaha membunuhnya.
“Ugh...!”
“....!”
Saat Lia selesai menghabisi mereka, Leo sudah berada di ambang batasnya. Ia terduduk lemah sambil bertumpu pada pedangnya sebelum akhirnya Lia datang menghampirinya.
“Leo, bertahanlah...!” Ujar Lia dengan wajah cemas.
“Hah...! Hah...! Aku.. Tidak apa-apa... Lia...” Balas Leo dengan nada lemah.
Tentu saja itu adalah kebohongan. Kenyataannya, luka di sekujur tubuh Leo sangat parah. Lia tahu kalau Leo berusaha menutupi rasa sakitnya dan bersikap kuat di hadapannya. Hal itu semakin menambah rasa cemas Lia terhadapnya.
“Tidak...! Kau sedang tidak baik-baik saja...!” Ujar Lia dengan nada tinggi.
__ADS_1
“Aku... Baik-baik saja... Sungguh...” Balas Leo berusaha meyakinkannya.
Lia merangkul Leo dan membantunya berdiri sebelum ia berusaha keras membawanya pergi dari tempat itu. Terlihat jelas kalau Lia sangat bersikeras untuk menolong Leo.
“(Kenapa...? Kenapa kau bersikeras untuk menolong orang sepertiku...?)” Ujar Leo dalam hatinya menyesal.
Tidak seperti Roff dan teman-temannya yang langsung meninggalkan Leo, Lia justru kembali untuk menolongnya. Entah apa yang mendasarinya melakukan semua ini, yang jelas ini membuat Leo semakin membenci dirinya sendiri karena memanfaatkan kebaikan Lia.
“Aku benar-benar... Menyedihkan... Bukan...?” Bisik Leo sambil tertawa pahit.
“... Leo?” Balas Lia dengan wajah bingung.
“Padahal... Telah berjanji... Untuk melindungimu... Kenyataannya aku... Tidak berdaya... Dan lemah... Aku benar-benar... Pecundang...” Sambung Leo berbisik dengan wajah menyesal.
Lia yang mendengarnya hanya bisa terdiam menanggapi ucapan Leo kepada dirinya sendiri. Itu semua adalah perasaan yang selama ini dia sembunyikan darinya. Itu semua adalah rasa sedih, kecewa dan tanggung jawab sekaligus penyesalannya yang sangat dalam. Lia tidak pernah mengira selama ini Leo menanggung beban yang jauh lebih berat dari yang Lia bayangkan selama ini.
“(Jadi itu semua yang membebanimu selama ini...? Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri...?)” Ujar Lia dalam hatinya prihatin dengan kondisi Leo.
Sebelumnya, setelah Roff dan teman-temannya berhasil mengalahkan Goblin Shaman, Lia melihat ada yang aneh dengan mereka. Mereka saling merangkul pundak membentuk lingkaran sesaat sebelum akhirnya sikap mereka berubah total. Wajah mereka berubah kecewa dan sini sebelum akhirnya mereka mulai bicara satu sama lain mengenai Leo.
“Sulit dipercaya... Orang sepertinya bisa satu party bersama kita...” Ujar Drey dengan nada kesal.
“Benar-benar sebuah aib. Aku menyesal sempat menyapanya tadi.” Sambung Lisha menghela nafas angkuh.
“Kita sudah ditipu olehnya. Itu benar-benar tidak bisa dimaafkan!” Balas Drey dengan wajah marah.
“Itu benar, kita harus memberinya pelajaran.” Balas Roff dengan senyum menyeringai.
“Itu ide yang bagus.” Ujar Lisha setuju atas usulan Roff.
“Kedengarannya menyenangkan juga, kapten! Jadi, bagaimana cara kita memberinya pelajaran?” Balas Drey dengan wajah senang.
“Benar juga...” Jawab Roff sebelum mulai berpikir.
Mereka mulai mengolok-olok Leo di belakangnya tanpa sebab yang jelas. Lia yang mulai curiga mencoba mencari tahu sesaat sebelum Hord yang ragu mulai ikut bicara dengan mereka.
“Kapten, kemampuanmu itu adalah mutlak, bukan?” Tanya Hord melihat ke arah Roff tajam.
“Apa maksudmu, Hord?” Balas Drey bertanya dengan wajah bingung.
“Ya. Memangnya ada apa?” Jawab Roff kepada Hord.
“Kau memberitahuku bahwa dia adalah Thearian, bukan? Apa itu benar? Apa kau benar-benar yakin?” Sambung Hord bertanya dengan wajah serius.
“Oi. Oi. Memangnya apa yang salah dengan nama itu?” Ujar Drey dengan wajah bingung mendengar pertanyaan Hord.
Entah apa yang sedang mereka bicarakan, tetapi itu menarik perhatian Lia yang menguping mereka. Sepertinya dia tahu banyak mengenai Leo walau mereka baru saja bertemu. Itu menimbulkan pertanyaan bagaimana cara Roff mengetahuinya.
“(Sepertinya, mereka membicarakan keburukan Leo... Tetapi, bagaimana bisa dia mengorek informasi darinya padahal kami baru saja bertemu tadi...?)” Tanya Lia dalam hatinya curiga.
Sejak dari awal ia sudah menduga ada maksud lain dari mereka. Namun, begitu mendengar cerita ini, Lia terdiam karena ia juga ingin mendengar lebih banyak mengenai Leo.
“Itu benar, kemampuanku itu mutlak. Kebohongan tidak berlaku bagi kemampuan ini.” Balas Roff menjawab keraguan Hord.
“Kau pasti bercanda...! Ini benar-benar tidak bisa dipercaya...!” Ujar Hord dengan wajah syok.
“Oi. Oi. Dari tadi apa yang sebenarnya kau bicarakan? Thearian? Apa itu sebenarnya?” Balas Drey dengan wajah penasaran.
“Thearian... Aku seperti pernah mendengar nama itu sebelumnya...” Ujar Lisha sambil mengingat sesuatu dalam benaknya.
“Memangnya ada yang salah dengan nama itu?” Tanya Roff kepada Drey dengan wajah gelisah.
“Thearian adalah sebutan bagi orang-orang dari sebuah klan di ujung selatan benua ini. Iklim selatan yang mengerikan ditambah dengan banyaknya monster dan hewan buas menjadikan mereka sebagai pemburu sejak mereka lahir.” Ujar Hord dengan wajah tajam.
“Wilayah selatan...? Bukankah di sana nyaris musim dingin di sepanjang akhir tahun? Aku tidak bisa membayangkan ada orang yang tinggal di sana.” Balas Drey dengan wajah tegang.
“Ya, iklim di sana jauh berbeda dari kita. Tetapi, itulah yang menjadikan mereka sangat kuat. Ditambah dengan Parade Kematian yang datang nyaris setiap hari, menjadikan mereka petarung yang mengerikan. Awalnya aku sempat meragukannya, tetapi setelah melihat ciri fisiknya lebih jelas dan ketahanan fisiknya, aku akhirnya yakin bahwa dia adalah Thearian.” Jawab Hord menghela nafas sejenak sambil menjelaskan.
Mendengar semua itu membuat Lia menyadari beberapa hal. Ia pun membuat keputusan sesaat sebelum akhirnya ia pergi untuk menyusul Leo untuk membantunya tepat ketika Roff dan teman-temannya berniat bicara kepada Lia.
“Benar juga, ada sesuatu yang ingin kami...” Ujar Roff berbalik melihat ke arah Lia sebelum akhirnya terkejut.
Saat Roff berniat bicara dengannya, Lia sudah tidak ada di tempatnya. Tidak ada petunjuk ke mana dia pergi, namun Roff yakin bahwa Lia mendengar semua percakapannya dengan yang lainnya sehingga ia memutuskan untuk membiarkannya pergi. Hingga pada akhirnya, mereka pun mencapai tempat Leo dan semua kejadian sebelumnya pun terjadi.
Di sisi lain, Lia yang pergi mencari Leo perlahan-lahan menemukannya berkat jejak pertarungan yang dia tinggalkan saat mengecoh pasukan Goblin. Ia sampai di tempat ketika Roff dan teman-temannya meninggalkan Leo sambil menertawakannya sebelum akhirnya membiarkan Leo tewas oleh pasukan Goblin. Itulah saat ia menemukannya dalam keadaan terluka parah sebelum akhirnya Lia datang untuk menyelamatkannya. Meski hanya sedikit yang ia ketahui dari Leo, tetapi Lia tahu bahwa dia menyimpan lebih banyak penderitaan itu di dalam hatinya.
“... Mari kita pulang, Leo.” Ujar Lia dengan nada lembut merangkulnya pergi.
__ADS_1
Dengan senyumannya, Lia mencoba menghibur Leo sebelum akhirnya ia membawanya keluar dari hutan itu. Banyak hal yang belum mereka ketahui satu sama lain, tetapi Lia merasa bahwa pertemuannya dengan Leo bukanlah suatu kebetulan. Bisa jadi pertemuan mereka memang sudah ditakdirkan sebelumnya.