Black Arc Saga

Black Arc Saga
Terjebak bersama musuh: bagian 2


__ADS_3

Monster aneh itu perlahan berjalan menuju ke arah mereka ketika Roselia ketakutan melihatnya. Dengan wujud seperti itu, tidak mengherankan jika penampilannya membuat Roselia yang merupakan seorang gadis ketakutan. Dengan gabungan suara nafas mereka yang bernafas secara bersamaan membuatnya semakin terasa mengerikan.


 


“A-Apa itu...! M-Makhluk macam apa itu...!” Bisik Roselia ketakutan bersembunyi di belakang Leo.


 


“Aku berharap juga tahu sama sepertimu.” Balas Leo dengan nada serius.


 


“B-Bagaimana bisa seekor naga, singa dan kambing menyatu dalam satu tubuh...! B-Bukannya hal itu mustahil untuk dilakukan...!” Balas Roselia melihatnya sekali lagi dengan ekspresi takut.


 


“Entahlah. Orang-orang kuno itu memang memiliki hobi yang aneh...” Balas Leo dengan nada dingin.


 


“Apa yang harus kita lakukan...?”


 


“Kau harusnya tahu itu, bukan?”


 


“E-Eh...?! J-Jangan katakan...!”


 


Monster itu memotong pembicaraan mereka dengan melompat ke arah mereka berniat menerkam. Namun, Leo yang sudah menyadari niatnya dengan sigap menghindar ketika Roselia yang ketakutan berpegangan padanya. Hal itu sontak membuat Leo terjatuh karena mendapat beban yang tidak terduga ketika monster itu kembali menyerangnya.


 


“(Gawat...!)”


 


Dengan refleks ia berbalik dan bangkit sebelum akhirnya menggendong Roselia bersamanya untuk menghindari serangannya. Monster itu mengayunkan cakarnya mengejar Leo dan Roselia, namun semua itu dapat dengan mudah dihindari oleh Leo meski sedang menggendong Roselia di tangannya.


 


“Perhatikan cakar kanannya...! Ke kiri...! Ke kiri...!” Seru Roselia dengan wajah panik memberitahu Leo arah serangannya.


 


“Berisik...! Aku tahu apa yang kulakukan...!” Balas Leo kesal dengan gangguannya.


 


“Awas dengan ekor ularnya...!”


 


“Tch!”


 


Ketika Leo membelakangi monster itu, secara mengejutkan ekor kobranya bergerak menyerang dengan kesadarannya sendiri. Karena terlalu mendadak, Leo terpaksa melempar Roselia demi bisa menghindari serangan itu sebelum akhirnya ia menarik pedangnya berusaha menyerang balik.


 


“....!!”


 


Akan tetapi, ketika pedang Leo nyaris memotong ekor ularnya, monster itu melompat ke belakang dengan gerakan akrobat menghindari serangannya yang seketika membuat Leo terkejut.


 


“(Dia menghindar...!)” Ujar Leo spontan dalam hatinya terkesima.


 


Dan tepat sebelum ia mendarat, kepala naganya menyemburkan api membuatnya terpaksa mundur guna menghindari serangannya.


 


“Sial...! Dia lebih lincah dari yang kuduga...!” Gumam Leo kesal.


 


Monster itu menatap Leo dengan mata yang menyala keemasan ketika Roselia yang bangun dari tempatnya terkesima melihat apa yang baru saja terjadi.


 


“(Apa-apaan makhluk itu...! Dengan tubuh seperti itu dia bisa bergerak dengan sangat leluasa...! Ditambah, masing-masing kepalanya juga memiliki kesadarannya sendiri...!)” Ujar Roselia dalam hatinya kesal.


 


Mungkin saat ini ia dan Leo merupakan musuh, namun jika menyangkut mengenai monster itu, maka itu menjadi cerita yang berbeda. Terjebak di dalam reruntuhan kuno dengan monster mengerikan dengan empat kepala hewan menambah buruk keadaan mereka. Pada saat itulah ia sadar bahwa hanya ada dua pilihan yang tersisa, terbunuh oleh monster yang sama atau membunuhnya bersama-sama.


 


“(Membunuh atau terbunuh bersama...! S-Sial...! Aku tidak mengira hal ini akan terjadi kepadaku...! T-Tapi, aku tidak punya pilihan lain lagi...!)” Ujar Roselia dalam hatinya bimbang.


 


Setelah memikirkannya dengan matang, akhirnya Roselia memutuskan untuk bekerja sama dengan Leo demi bisa membunuhnya. Hal ini ia lakukan semata-mata hanya untuk bisa keluar dari dalam reruntuhan itu hidup-hidup. Ia pun lantas menghampirinya untuk menawarkan idenya kepadanya.


 


“O-Oi, perampok makam... Maukah kau mendengarkanku...?” Ujar Roselia menghampiri punggungnya.


 


“Hah? Apa yang ingin kau katakan?” Balas Leo dengan nada dingin.


 


“Demi keluar dari sini hidup-hidup, aku menawarkanmu kerja sama. B-Bagaimana menurutmu...?” Balas Roselia dengan nada gugup.


 


“Terdengar seperti omong kosong bagiku.”


 


“A-Aku tahu kau mungkin tidak akan menerimanya, tapi dengarkan aku dulu--”


 


“...!!”


 


Namun, ucapan Roselia seketika terpotong oleh serangan monster itu. Melalui kepala naganya, monster itu menyemburkan api ke arah mereka. Menyadari hal tersebut, ia pun terpaksa menahan kalimatnya demi menghindari serangannya.


 


Selagi terus menyemburkan nafas api, monster bergerak maju melancarkan serangan langsung kepada mereka hingga memaksa mereka berpisah demi menghindari risiko terkena serangannya. Selagi kepala naganya fokus menyerang Leo, Roselia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyerang. Dengan menggunakan sihir airnya, ia menciptakan belati air sebelum akhirnya melemparkannya ke arahnya.


 


“Rain of Daggers.”


 


Ketika ia merapalkan mantranya, belati yang ia lempar seketika membelah diri menciptakan belasan hingga puluhan belati dengan bentuk yang sama. Mereka datang menghujaninya ketika fokus utama monster itu tertuju pada Leo.


 


“....!”


 


Namun, di luar dugaan, ketika serangan itu datang, monster itu dengan lincah menghindari setiap belati yang melayang ke arahnya. Dengan refleks dari tubuh singanya, ia dapat dengan mudah bergerak dengan leluasa menghindari serangannya.


 

__ADS_1


“Dia bisa menghindari semua serangan itu dengan tubuh seperti itu...!” Gumam Leo terkesima menyaksikannya.


 


Dengan gerakannya yang lincah membuat serangan Roselia terkesan sia-sia. Namun, sebenarnya itulah yang diinginkannya.


 


“Aku dapatkan kau...!” Ujar Roselia menyeringai.


 


Ia lantas menyatukan kedua telapak tangannya sambil merapalkan sihirnya ketika hampir seluruh serangannya dihindari oleh monster itu.


 


“Rain of Daggers: Counterflow.”


 


Secara mengejutkan, semua belati air yang berhasil dihindarinya berbalik arah kembali melayang menuju arah monster itu. Belati-belati itu kembali menghujaninya dengan serangan bertubi-tubi yang memaksanya sekali lagi untuk menghindarinya. Namun, setiap kali belati itu berhasil dihindari, mereka berbalik arah dan kembali menyerangnya lagi sama seperti ketika Roselia merapalkan mantranya. Hal itu menyebabkan siklus serangan yang tidak akan berakhir seperti yang telah Roselia rencanakan. Secepat apa pun dan selincah apa pun dia, mustahil baginya bisa bertahan dalam rantai serangan itu selamanya.


 


“(Aku tidak tahu harus bagaimana mengatakannya, tapi gadis itu lebih pintar dari dugaanku. Dia berhasil menjebak monster itu dalam serangan sihirnya. Dengan begini, dia tidak punya kesempatan untuk menyerang.)” Ujar Leo dalam hatinya terpukau olehnya.


 


Dengan ini, baik Roselia atau pun dirinya hanya tinggal menyerangnya ketika monster itu lengah. Yang tersisa adalah menunggunya membuat kesalahan dan setelah itu mereka bisa membalas menyerang.


 


Untuk beberapa saat, monster itu terlihat masih berusaha bertahan dengan menghindari setiap serangan yang ditujukan padanya. Namun, sekeras apa pun ia menghindar, usahanya akan sia-sia saja karena sihir itu tidak akan berhenti sampai Roselia sendiri yang menghentikannya. Ini jelas situasi yang buruk baginya, akan tetapi...


 


“...??”


 


“Apa ya—“


 


Secara mengejutkan, monster itu tiba-tiba berhenti menghindari setiap serangan yang datang ke arahnya. Dengan gerak geriknya yang aneh, kepala kambingnya perlahan mengangkat wajahnya sesaat sebelum matanya menyala keemasan ketika secara mengejutkan medan sihir tercipta di sekitarnya. Akibatnya, serangan Roselia dengan mudahnya ditangkis sesaat sebelum kepala naganya membakar habis sihirnya agar tidak kembali terpicu.


 


“M-Mustahil...! Makhluk itu bisa menggunakan sihir...!” Ujar Roselia dengan ekspresi terkejut.


 


“Kau pasti bercanda...!” Gumam Leo dengan nada kesal.


 


Tidak hanya unggul dalam menyerang, monster itu juga punya sihir pertahanan yang membantunya mendominasi pertarungan. Ini semakin menyulitkan mereka berdua untuk melawannya.


 


“(Jika seperti ini, sepertinya aku tidak punya pilihan lain lagi selain menerima tawarannya...)” Ujar Leo dalam hatinya mengeluh.


 


Untuk mengalahkannya, dua kepala lebih baik dari pada satu. Setidaknya, dalam kondisi yang sama, bekerja sama adalah satu-satunya jalan keluar. Setelah mempertimbangkannya dengan matang, akhirnya Leo setuju untuk menerima tawaran Roselia.


 


“Oi, Knight Order, aku berpikir ulang. Aku terima tawaranmu. Mari bekerja sama melawannya.” Ujar Leo pada Roselia.


 


“Akhirnya kau mau mendengarku. Apa sesulit itu menerima tawaran dariku?” Balas Roselia dengan nada meledek.


 


“Setelah mendengar ucapanmu, mungkin aku berpikir ulang mengenai kerja sama ini.” Balas Leo dengan nada kesal.


 


 


Di saat yang bersamaan, monster itu kembali menyerang mereka. Sambil menyemburkan apinya, ia berlari ke arah mereka ketika Leo dan Roselia yang melihat serangannya memutuskan untuk kembali berpencar guna menghindari serangannya. Namun, tepat ketika mereka berdua hendak memisahkan diri, ekor ularnya melesat menuju arah Roselia mencoba menggigitnya ketika ia baru saja menghindar. Sontak hal itu membuat Leo yang menyaksikannya terkejut sesaat sebelum ia berseru kepadanya sambil memberinya peringatan.


 


“Awas di depa—“


 


Namun, sebelum kalimat Leo selesai, ular itu telah menggigitnya tepat pada lehernya yang seketika melumpuhkan gerakannya. Menyaksikan hal itu, Leo lantas berusaha menolongnya, namun usahanya itu seketika harus diurungkan karena semburan api itu mencegahnya melakukannya.


 


“Tch..! Sial...!” Gumam Leo dengan wajah kesal.


 


Dengan terpaksa Leo memilih menjauh guna menghindari serangan itu mengenainya. Dalam keadaan panik, Leo hanya bisa menghindar tanpa bisa berbuat banyak untuknya. Dengan gigitan itu, sudah dapat dipastikan bahwa dia terkena racun yang dibawa olehnya. Hal itu menjadi bendera merah untuknya.


 


“(Sial...! Tanpa dia, aku akan kesulitan melawan monster itu...!)” Ujar Leo dalam hatinya kesal.


 


Selagi monster itu terus menyemburkan api ke arahnya, ekor ular itu perlahan mengangkat tubuh Roselia yang tidak berdaya ke udara berniat mengakhirinya. Secara perlahan, ekor ular itu melilit tubuhnya tanpa melepaskan gigitannya. Seiring berjalannya waktu, lilitannya bertambah kuat hingga pada akhirnya membunuh Roselia. Leo yang menyaksikannya seketika terdiam mengetahui bahwa dia telah tewas. Dengan ekspresi terperanga ia menyaksikan tubuhnya terkulai lemas layaknya sebuah boneka dalam lilitannya.


 


“(D-Dia telah tewas...?!)” Ujar Leo dalam hatinya terkesima.


 


Mereka berdua adalah musuh, namun kematiannya membawa dampak yang besar bagi Leo. Tanpa adanya Roselia, ia terpaksa harus menghadapi monster itu seorang diri hanya berbekal keberaniannya. Ia sadar bahwa dibutuhkan lebih dari keberanian untuk mengalahkannya dan hal itu adalah dia, dengan kata lain Leo memerlukan bantuannya. Dengan ekspresi kecewa Leo menggenggam pedangnya berhadapan langsung dengan monster itu sesaat sebelum ia berkata kepadanya dengan nada marah.


 


“Aku baru setuju dengan tawaranmu, tapi kau langsung membebaniku dengan tugas yang tidak masuk akal. Itulah mengapa aku tidak bisa percaya denganmu...” Ujar Leo sambil menatap monster itu.


 


Monster itu hanya menggeram menanggapi ucapan Leo sesaat sebelum akhirnya ia kembali melancarkan serangan. Ia kembali menyemburkan nafas apinya ke arahnya, namun berbeda dengan sebelumnya, kali ini Leo memilih untuk tidak menghindarinya. Ia menerjang semburan api yang di arahkan kepadanya ketika ia memasang pedangnya tepat di hadapannya seperti telah bersiap menerimanya.


 


Dan tepat ketika api itu datang ke arahnya, Leo mengerahkan sihir pada pedangnya sesaat sebelum ia mengayunkannya pada api itu. Ia melepaskan tebasan sihir petir yang seketika memotong api itu sesaat sebelum ia melesat maju menghunuskan pedangnya.


 


“Haaa...!!”


 


Menyadari hal itu, monster itu segera melompat menyamping menghindari serangan tersebut tepat ketika secara mengejutkan tubuh Roselia yang ada di ekornya hancur dan berubah menjadi air yang membasahi lantai dan tubuhnya. Meski sempat terkejut di awal, namun Leo yang menyadarinya lantas memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyerangnya. Dengan memanfaatkan genangan air yang ada di sekitarnya, Leo menancapkan pedangnya yang berlumuran listrik pada genangan air tersebut sesaat sebelum kilatan listrik berlompatan keluar. Listrik mengalir melalui genangan air tersebut sesaat sebelum akhirnya menyambar monster itu dengan tegangan tinggi yang membuatnya lumpuh di tempat.


 


“Rrrrrr...!!!”


 


Pada kesempatan yang sama, Leo dengan cepat memenggal kepala naganya disusul oleh Roselia yang memenggal kepala kambingnya yang tiba-tiba muncul secara misterius dengan pedang airnya. Seketika itu pula monster itu terbaring lemah dengan darah bercucuran membasahi tubuhnya sambil meraung kesakitan.


 


“Rrrrrrrr....!!!!”


 


Mereka berdua berhasil menyingkirkan dua kepala yang menjadi sumber masalah dari monster itu. Dengan hilangnya kepala kambing sebagai pertahanan dan kepala naga sebagai serangan, mereka akan jauh lebih mudah menghabisinya.

__ADS_1


 


“Apa yang aku lihat ini hantu dari gadis pemarah itu?” Ujar Leo melihat ke arah Roselia.


 


“Tidak sopan...! Aku masih hidup...!” Balas Roselia dengan ekspresi marah.


 


“Kalau begitu sekarang kita impas. Aku hanya tidak menduga kau masih bisa menghindar meski kau nyaris tergigit olehnya.” Balas Leo mengibaskan pedangnya yang berlumuran darah.


 


“Itu mudah saja. Aku adalah Knight Order, jadi itu sudah wajar.”


 


“Ya. Ya. Berkat kau, setidaknya kita bisa menghabisinya. Walau aku tidak yakin dia sudah mati...”


 


“Kau bercanda, bukan...?”


 


Tak lama setelahnya, monster itu kembali bangkit meski dua kepalanya sudah terpenggal. Dengan berlumuran darah, monster itu menggeram marah menatap mereka berdua sesaat sebelum Leo dan Roselia mengambil posisi untuk mengakhirinya.


 


“Apa kau pikir aku sedang bercanda?” Ujar Leo melirik ke arahnya.


 


“Mana aku tahu kalau kau sedang bercanda atau tidak. Aku tidak bisa membedakannya.” Balas Roselia dengan ekspresi kesal.


 


“Terserah. Lebih baik kita habisi dia sebelum dia sepenuhnya pulih.” Balas Leo mengalirkan sihir pada pedangnya.


 


“Aku setuju. Menggelikan juga melihat makhluk seperti itu masih hidup...” Balas Roselia dengan nada sinis menatap monster itu.


 


Dengan gerakan yang cepat, mereka berdua langsung melancarkan serangan pada saat yang bersamaan. Leo dengan sihir petirnya berusaha mengincar jantungnya sementara Roselia dengan pedang airnya akan memenggal kepalanya. Meski mereka belum sepenuhnya tahu makhluk apa itu, namun monster apa pun pasti akan mati jika mereka diserang tepat di jantung dan kepalanya. Akan tetapi, sesaat sebelum serangan mereka mengenainya, kejadian yang mengejutkan menimpa mereka.


 


“Rrrrrr...!!!”


 


“...?!”


 


“...!!”


 


Secara mengejutkan, medan sihir menangkis serangan mereka ketika monster itu meraung dengan sekuat tenaganya. Leo dan Roselia yang menyaksikan hal itu seketika mundur sesaat sebelum monster itu bangkit dengan aura aneh menyelimuti tubuhnya. Mereka berdua lantas memasang posisi bertarung mereka ketika monster itu menunjukkan tanda-tanda akan menyerang.


 


“Dia datang...!” Seru Leo spontan.


 


Monster itu berlari ke arahnya dengan kecepatan yang lebih dari sebelumnya sesaat sebelum mengayunkan cakarnya. Suara melengking terdengar menggema di seluruh ruangan ketika Leo menangkis cakar monster itu dengan pedangnya. Monster itu mendorong Leo mundur dengan kekuatannya sebelum akhirnya mereka berduel.


 


“Grrrr...!”


 


“....”


 


Serangannya bertambah cepat dan gerakannya bertambah lincah. Namun, jika hanya dengan itu, Leo masih mampu mengimbanginya. Tanpa kepala naganya, ia tidak ragu lagi untuk bertarung jarak dekat dengannya.


 


“(Jika hanya ini, dengan aku yang sekarang aku bisa melawannya...!)” Ujar Leo dalam hatinya menguatkan diri.


 


Dengan memanfaatkan gabungan sihir dan kemampuan pedang Thearian-nya, Leo mulai membalikkan keadaan. Layaknya seekor monster, Leo menyerang dari berbagai sudut memanfaatkan kemampuan mobilitasnya yang jauh lebih baik untuk menyudutkannya. Hal ini membuat Roselia yang menyaksikannya terkesima akan pertarungannya. Meski cara bertarungnya terbilang aneh dan tidak manusiawi, namun Leo berhasil menyudutkannya balik.


 


“M-Menakjubkan...! Aku belum pernah melihat tehnik bertarung seperti itu...! Bahkan tanpa sihir yang dikuasainya, dia bisa melebihi monster itu...!” Gumam Roselia terkesima menyaksikannya.


 


Ia bahkan kesulitan mengikuti tempo pertarungan mereka. Ia hanya bisa menyaksikannya tanpa bisa berbuat banyak selain menunggu kesempatan yang mungkin terjadi.


 


Ketika monster itu menghindari serangannya, Leo dengan cepat mengikutinya sesaat sebelum ia mengayunkan tendangan dari bawah tubuhnya. Sontak tendangan itu menghantam rahang bawahnya yang membuatnya terlempar ke udara sesaat sebelum Leo menghunuskan pedangnya ke arahnya.


 


“Haaa...!”


 


Namun, tepat ketika Leo berniat menghabisinya, secara mengejutkan medan sihir menangkis serangannya. Hal itu sontak membuat Leo dan Roselia yang menyaksikannya terkejut.


 


“A—“


 


“(Lagi...! Dia melakukannya lagi...! Apa yang sebenarnya terjadi...!)” Ujar Leo dalam hatinya terkejut kebingungan.


 


Gagal untuk mengakhirinya, monster itu memanfaatkan kesempatan untuk menyerangnya balik. Ia membuka mulutnya sesaat sebelum secara mengejutkan ia menyemburkan api ke arahnya. Leo yang terkejut lantas melompat menjauh darinya sesaat sebelum Roselia yang menyaksikannya melemparkan belati airnya ke arah monster itu untuk mengganggu serangannya. Namun sayangnya, belati airnya seketika lenyap ketika monster itu mengarahkan apinya padanya.


 


“Tsk. Merepotkan sekali...!” Gumam Roselia dengan nada kesal.


 


Perhatiannya kini tertuju kepadanya, monster itu pun kembali menyemburkan apinya ke arah Roselia yang berusaha melarikan diri darinya. Ia mengejarnya, namun ketika ia hampir mencapainya, Leo secara mengejutkan datang dan mengayunkan tendangan ke arahnya menghentikan niatnya.


 


“Grrrr...!”


 


Dengan ekspresi marah, monster itu menatap mereka berdua ketika aura yang menyelimutinya semakin menguat. Hal itu membuat Leo dan Roselia yang merasakannya merasa waswas ketika monster itu menggeram marah pada mereka.


 


“O-Oi. Apa hanya perasaanku, atau memang dia bertambah mengerikan...?” Gumam Roselia dengan ekspresi cemas.


 


“Tidak, kau tidak salah. Dia bertambah marah lebih dari sebelumnya.” Balas Leo dengan ekspresi yang sama.


 


Di tengah pertarungan yang semakin memanas, bagaimana nasib mereka selanjutnya?

__ADS_1


__ADS_2