Black Arc Saga

Black Arc Saga
Bangkitnya kemampuan kedua


__ADS_3

Tepat ketika berhadapan dengan Wyvern itu yang siap menyambarnya, Lia mengerahkan segenap kekuatan sihirnya untuk menyerang. Dengan efek Dance of Autumn, kekuatan sihirnya terlihat jauh lebih kuat hingga menyebabkan cahaya merah menyelimuti tubuh dan area di sekitarnya ketika ia mengarahkan pedangnya pada Wyvern itu. Ia mengerahkan seluruh tekadnya untuk melancarkan seranganmya.


 


“Crimson Blade: Wind of Autumn.”


 


Ketika Wyvern itu memasuki jarak serangnya, Lia seketika mengayunkan pedangnya menciptakan hembusan angin merah besar dari sihirnya. Dan secara bersamaan, Wyvern itu turun menyemburkan semburan apinya ketika ia berniat menyambarnya menciptakan ombak api raksasa. Kedua kekuatan besar itu saling bertemu layaknya ombak yang berlawanan arah saling menyapu satu sama lain sesaat sebelum ledakan yang besar menyilaukan pandangan. Ledakan itu sangat kuat hingga menyebabkan Leo nyaris tersapu mundur oleh gelombang kejut yang diciptakannya.


 


“Ugh..! Kekuatan yang hebat..! Tapi, aku terlambat...!” Gumam Leo bertahan dengan perasaan kesal.


 


Ledakan besar itu sempat menghempaskan Lia, namun ia berhasil bertahan karena bertumpu pada pedangnya. Ia tidak tahu apakah serangannya berhasil mengenai, namun setidaknya dalam mode ini, ia harusnya cukup kuat untuk mengalahkan semburan apinya.


 


“(Apakah berhasil..? Aku tidak bisa melihat apa-apa karena ledakan itu...)” Ujar Lia dalam hatinya ragu.


 


Ledakan itu perlahan mulai menghilang menyisakan kawah besar sebagai dampaknya. Meski ledakan besar itu perlahan menghilang, ia tidak bisa merasakan kehadiran Wyvern itu. Hingga pada akhirnya ia menyadari sesuatu beberapa saat kemudian.


 


“(Jangan bilang...!)” Ujar Lia dalam hatinya spontan terkejut.


 


Tepat ketika menyadarinya, Wyvern itu mendarat tepat di belakangnya dengan tubuh penuh luka bersiap untuk menyerangnya. Lia benar-benar tertipu oleh triknya yang berpura-pura ingin menyerangnya secara langsung. Ia sengaja menciptakan pengalih perhatian yang membuat Lia lengah dan mendapatkan celah untuk membunuhnya. Dan tepat ketika Lia menoleh, Wyvern itu menyambutnya dengan gigi taringnya yang tajam yang siap mengoyaknya.


 


“....!!”


 


“Lia...!!”


 


Ketika menyadari semua itu, semuanya telah terlambat. Baik bagi Lia mau pun Leo, mereka berdua sama-sama sudah terlambat. Lia terlambat menyadari rencana Wyvern itu sementara Leo terlambat untuk mencegah Lia.


 


“(Tidak mungkin...!)”


 


“(... Sudah terlambat!)”


 


Leo menyadari bahwa sekuat apa pun ia berlari, ia tidak akan cukup cepat untuk menyelamatkan Lia. Ia tidak memiliki cukup waktu untuk menggapainya dengan kecepatannya saat ini. Dengan kata lain, nasib Lia sudah jelas menemui akhirnya.


 


“(Lia...! Tidak...! Tidak lagi...!)” Ujar Leo dalam hatinya marah.


 


“(Apakah ini akan berakhir...? Apakah usahaku selama ini akan berakhir sampai di sini...?)” Ujar Lia dalam hatinya putus asa.


 


Namun, ketika Lia berada di ujung nyawanya, secara mengejutkan segala sesuatu yang ada di sekitar Leo seketika berjalan dengan sangat lambat. Baik aliran udara maupun gerakan Wyvern itu semuanya menjadi jauh lebih lembat dari yang sebelumnya ia lihat. Leo yang menyadari keanehan itu hanya bisa bertanya-tanya apa yang sedang terjadi pada mereka dengan ekspresi heran.


 


“(Tunggu...! Ada apa ini...? Kenapa semuanya jadi terasa sangat lambat...? Apa aku jangan-jangan aku berhalusinasi...?)” Gumam Leo dalam hatinya kebingungan.


 


Semua yang ada di sekitarnya melambat kecuali dirinya. Ia bahkan bisa melihat jumlah abu sisa ledakan beterbangan tertiup angin di sekitarnya. Entah apa yang terjadi, namun keanehan ini jelas sangat tidak wajar. Di sisi lain ia merasa ada yang tidak beres dengan dirinya, tetapi pada lain sisi, ia memanfaatkan kondisi anehnya ini untuk segera menyelamatkan Lia yang dalam bahaya. Karena semuanya berjalan dengan lambat, ia akan sempat mencapai tempatnya sebelum Wyvern itu menutup rahangnya. Leo menjejakkan kakinya ke tanah dengan kekuatan penuh sesaat sebelum ia mengerahkan seluruh tenaganya melesat menuju arahnya.


 


“...?!!”


 


Namun, ketika ia melakukannya, secara mengejutkan kecepatannya meningkat dengan sangat drastis hingga membuatnya kehilangan kendali atas dirinya.


 


“A—“


 


Ia melesat secepat kilat tanpa kendali menghantam tubuh Wyvern itu ketika waktu kembali berjalan seperti semula tepat ketika secara mengejutkan Wyvern itu terlempar jauh oleh benda misterius. Seketika itu pula Lia terkejut menyadari Wyvern itu tiba-tiba terlempar menjauh darinya sesaat sebelum hembusan angin yang kuat melesat melintasinya. Ia pun terlempar jatuh dalam keadaan kebingungan sesaat sebelum ia melihat keanehan yang baru saja terjadi.


 


“(Aku masih hidup...! Tapi, apa yang barusan itu...?!)” Ujar Lia dalam hatinya kebingungan.


 


Ia tidak tahu apa yang terjadi, namun apa pun yang barusan melintas itu telah menyelamatkan nyawanya. Dia menghempaskan Wyvern itu tepat sesaat sebelum ia hendak mencabiknya. Apa pun itu, yang jelas dia datang tepat pada waktunya. Kini Lia berhasil selamat berkatnya.


 


Di sisi lain, setelah menghantam Wyvern itu dengan kecepatan tinggi, Leo bangkit ketika menyadari dirinya ada di atas tubuh Wyvern itu. Meski mengalami beberapa luka di tubuhnya akibat menghantam sisik kerasnya, namun Leo beruntung masih mampu bertahan berkat tubuhnya yang terlatih menahan luka. Dalam keadaan kebingungan, Leo mencoba mencerna apa yang terjadi pada dirinya tepat ketika Wyvern itu sadar dan marah mengetahui ia berada di atas tubuhnya.


 


“Rrrrr...!!!”


 


“....?!”


 


Menyadari hal itu, Leo dengan segera menarik pedangnya mencoba menikam jantungnya dengan bantuan sihirnya. Namun, ketika ia hendak melakukannya, Wyvern itu bangkit dan langsung menghempaskannya menjauh darinya sesaat sebelum akhirnya terbang menjauh guna menghindari serangan yang akan Leo tujukan padanya.


 


“(Sial...! Dia terbang lagi...! Dia pasti akan kabur...!)” Ujar Leo dalam hatinya kesal.


 


Menyadari hal itu, Leo mengerahkan seluruh kekuatan sihirnya pada pedangnya menyelimutinya dengan kilatan petir yang kuat sesaat sebelum ia melemparkannya ke arah Wyvern itu. Gemuruh petir seketika menggelegar ketika Leo melemparkan pedangnya di saat percikan listrik mengiri lajunya yang mengarah langsung pada salah satu sayapnya.


 


“....?!”


 


Ketika ia menyadarinya, sayap Wyvern itu seketika terpotong oleh serangan itu hingga membuatnya kehilangan kendali dan akhirnya jatuh ke tanah. Wyvern itu menghantam tanah dengan keras seketika meraung kesakitan karena kehilangan salah satu sayapnya sesaat sebelum Leo berlari ke arahnya sambil berseru kepada Lia.


 


“Lia...! Sekarang saatnya...!” Seru Leo dengan suara lantang.


 


“....?!”


 

__ADS_1


Mendengar teriakannya, Lia yang sempat terkesima akhirnya kembali sadar sesaat sebelum ia mengambil pedangnya berlari mengikuti Leo yang telah mendahuluinya menuju Wyvern itu. Sambil mengikuti Leo di belakangnya, Lia pun menyiapkan sihirnya untuk mengakhirinya ketika Wyvern yang menyadari niat kedatangan mereka bangkit dengan segera untuk melawan.


 


“Rrrrr...!!”


 


Wyvern itu menyemburkan apinya ke arah mereka berusaha menghambat mereka. Menyadari niatnya, Leo lantas memacu kecepatannya dengan sekuat tenaga hingga secara mengejutkan memicu kejadian yang sama dengan sebelumnya. Ia secara mengejutkan menghilang sesaat sebelum ia kembali muncul tepat di hadapan Wyvern itu menghantamnya dengan sebuah pukulan keras yang membuatnya gagal menyemburkan apinya.


 


“Ugh...!”


 


“...?!”


 


“...!!”


 


Meski tidak berjalan dengan baik, namun Leo berhasil sampai pada Wyvern itu tepat sebelum ia menghembuskan nafas apinya. Ia lantas melancarkan tendangannya tepat mengarah ke rahangnya seketika mengangkat kepalanya ke udara memberikan kesempatan bagi Lia untuk menyerang.


 


“Sekarang, Lia...!!” Seru Leo dengan suara lantang.


 


Melihat peluang yang Leo ciptakan, Lia lantas melesat secepat angin menuju ke arah Wyvern itu bersama serangannya. Ia melompat tepat ke hadapannya sesaat sebelum ia menebas leher Wyvern itu dengan pedangnya.


 


“Crimson Blade: Crimson Slash.”


 


Dalam satu kali ayunan, kepala Wyvern itu terpenggal oleh garis merah tua yang tercipta dari kibasan pedangnya. Darah menghujani mereka ketika perlahan jasad Wyvern itu tumbang menyusul kepalanya yang jatuh terpenggal sebelumnya. Dengan tubuh berlumuran darah, Lia menghela nafas panjang menyarungkan kembali pedangnya setelah melalui semua kejadian tersebut. Ia akhirnya bisa bernafas lega setelah mengetahui bahwa semuanya telah berakhir.


 


“(Akhirnya Wyvern itu tumbang, meski aku tidak tahu bagaimana aku bisa selamat sebelumnya... Tetapi, aku rasa itu adalah perbuatan Leo... Sekali lagi, dia menyelamatkan nyawaku...)” Gumam Lia dalam hatinya sambil menghela nafas lega.


 


Meski masih banyak hal yang mengganjal mengenai semua hal yang terjadi selama ia melawan Wyvern itu, namun ia bersyukur ia masih bisa hidup sampai saat ini. Ia hanya bisa menduga bahwa semua kejadian itu adalah perbuatan Leo yang ditujukan untuk melindunginya.


 


“Lia, kau baik-baik saja...?” Tanya Leo berjalan menghampirinya.


 


“... Mm. Hanya berlumuran darah.” Balas Lia singkat sambil mengangguk.


 


“Senang mendengarnya kalau begitu. Aku sempat cemas ketika kau memutuskan untuk maju menghadapi Wyvern ini sendirian. Aku tidak meragukan kekuatanmu, tetapi tidak selamanya kekuatan bisa mengalahkan monster, kau mengerti?” Balas Leo menghela nafas panjang.


 


“... Mm. Maafkan kecerobohanku.”


 


“Yah, aku tidak menyalahkanmu. Kau juga melakukan ini untuk menolongku dan Olivia. Mungkin akulah yang seharusnya berterima kasih kepadamu. Terima kasih, Lia...”


 


“... Aku hanya membalas apa yang pernah kau lakukan.”


 


 


“Mungkin sebaiknya kita kembali sebelum hari menjelang sore...” Ujar Leo melihat ke angkasa menafsirkan waktu saat ini.


 


“Apa kita akan membiarkan mayat Wyvern ini di sini begitu saja?” Tanya Lia dengan ekspresi cemas.


 


“Kurasa kau ada benarnya. Mungkin saja dia akan kembali bangkit dengan kutukan ras naga. Mungkin sebaiknya kita melakukan sesuatu dengannya...” Balas Leo melihat ke arah mayat itu sambil berpikir.


 


Ketika mereka berdua tengah memikirkan cara untuk mencegah kebangkitan kembali Wyvern itu, Olivia datang menghampiri mereka setelah sebelumnya pingsan selama pertarungan. Dengan ekspresi kebingungan dan cemas, ia bergegas menghampiri mereka berdua sebelum bicara mengenai mayat Wyvern yang ada di dekat mereka.


 


“Master, nona Lia, apa anda berdua baik-baik saja...?” Ujar Olivia menghampiri mereka dengan wajah cemas.


 


“Kau sudah sadar rupanya. Yah, banyak hal yang terjadi, tetapi kami berdua baik-baik saja...” Jawab Leo dengan sikap tenang.


 


“... Mm.”


 


“Mohon maaf yang sebesar-besarnya, master. Olivia melalaikan tugasnya dan justru membiarkan master bertarung sendiri bersama nona Lia. Olivia mohon maaf dan siap menerima hukuman!” Balas Olivia menundukkan badannya dengan nada menyesal.


 


“U-Uh... Aku tidak merasa kau bersalah. Justru kaulah yang menyelamatkan kami selama serangan itu. Aku tidak berpikir kau melakukan kesalahan...” Balas Leo sambil menggaruk pipinya dengan nada canggung.


 


“Tetapi, bagi seorang pelayan yang meninggalkan majikannya turun tangan ke medan perang setelah ia memberi perintah adalah kesalahan fatal bagi seorang pelayan. Olivia mohon, pertimbangkanlah hukuman baginya, seberat dan sesulit mungkin...” Balas Olivia bersikeras.


 


“U-Uh...”


 


Entah mengapa, ketika Olivia bersikeras meminta hukumannya, Leo bisa merasakan tatapan tajam dari arah Lia. Ia tidak tahu kenapa, namun sepertinya ada sedikit kesalah pahaman. Lia sepertinya menanggapi ucapan Olivia dengan pandangan yang lain. Itulah sebabnya ia terlihat tidak senang begitu mendengarnya.


 


“(Ugh...! Lia menatapku dengan sangat tajam. Aku bisa merasakan kekesalannya meski tidak melihat secara langsung. Kurasa dia sedang berpikir kalau aku memiliki niat buruk kepada Olivia...)” Ujar Leo dalam hatinya gugup.


 


Ia pun memutar otaknya untuk menghilangkan kecurigaan Lia. Ia lantas melihat ke arah mayat Wyvern itu sebelum akhirnya ia mendapatkan ide.


 


“Baiklah, aku sudah menentukan hukuman yang sesuai untukmu.” Ujar Leo dengan nada tegas.


 


“...?!”


 


“Master, Olivia sudah siap menerima hukumannya!” Balas Olivia dengan suara lantang dan tegas.

__ADS_1


 


“Hukumanmu adalah memusnahkan mayat Wyvern itu hingga tidak tersisa dengan kekuatanmu. Ini adalah perintahku.” Sambung Leo dengan nada tegas.


 


“Baik!”


 


Atas perintahnya, Olivia pun memulai prosesi melenyapkan mayat Wyvern itu. Mungkin ini bukan hukuman yang Olivia harapkan, namun Leo melakukan ini supaya Lia berhenti mencurigainya. Ia hanya ingin menegaskan kepadanya bahwa ia bukanlah pria dalam bayangannya. Dan untuk alasan kedua, ia tidak ingin Wyvern itu kembali bangkit dan menyebarkan bencana bagi penduduk kota atau desa yang ada di dekat hutan ini. Itulah sebabnya ia memerintahkan Olivia untuk melenyapkan jasadnya.


 


Setelah semuanya siap, Olivia pun melancarkan sebuah mantra sihir kuat yang digunakannya untuk melenyapkan jasad Wyvern tersebut.


 


“Lossen: Nihilus Licht.”


 


Ketika merapalkannya, sebuah bola cahaya sihir terang tercipta tepat di atas jasad Wyvern itu. Selang beberapa saat setelah kemunculannya, bola cahaya itu seketika membesar dan menelan seluruh tubuh Wyvern itu hingga nyaris tak tersisa sesaat sebelum akhirnya menghilang tidak berbekas. Leo dan Lia yang menyaksikan semua itu hanya bisa terkesima dan terpukau akan kekuatan hebat lain yang Olivia miliki yang sekaligus menambah bukti lain mengenai dugaan Lia selama ini.


 


“(Apakah itu sihir cahaya...? Aku belum pernah melihat yang seperti itu sebelumnya. Mungkinkah itu salah satu sihir kuno yang hilang...? Ini bisa menjadi bukti yang bagus...)” Ujar Lia dalam hatinya diam-diam melihat ke arah Olivia curiga.


 


Setelah semuanya selesai, mereka pun memutuskan untuk kembali ke kota untuk melaporkan bahwa misi mereka telah selesai. Meski semuanya tidak berjalan sesuai dugaan, setidaknya tujuan utama mereka telah tercapai. Ancaman para Orc telah berhasil dibereskan bersama dengan beberapa masalah lain yang terkait. Hanya ada satu masalah yang tersisa bagi Leo saat ini. Ia tidak tahu harus bagaimana melaporkan para korban penculikan yang seharusnya ia selamatkan. Walau ia bertanggung jawab penuh atas kematian mereka, namun rasanya akan sulit menjelaskan kepada pihak Guild mengenai kejadian yang sebenarnya.


 


“(Bagaimana pun juga, aku tidak bisa mengatakan secara terang-terangan bahwa aku sendiri yang mengakhiri nyawa para korban. Hal itu bisa saja membuat kami kehilangan lencana petualang kami...)” Gumam Leo dalam hatinya gelisah.


 


Hal itu sempat membuat pikiran Leo terbebani hingga membuat Lia dan Olivia yang menyadarinya merasa cemas kepadanya. Sejak kembali dari hutan, ia terlihat murung menyembunyikan sesuatu. Mungkin, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.


 


“Leo, kau baik-baik saja?” Bisik Lia bertanya dengan nada cemas.


 


“A-Ah. Aku baik-baik saja. Ada apa?” Balas Leo melihat ke arahnya dengan wajah senyum pucat.


 


“... Aku hanya berpikir kalau kau sedang memikirkan sesuatu yang berat. Apa ada masalah?” Balas Lia dengan ekspresi cemas.


 


“Tidak, tidak juga. Hanya merasa sedikit lelah, kurasa...” Jawab Leo sebelum memalingkan pandangannya.


 


“Benarkah? Tetapi aku rasa bukan karena itu...” Balas Lia mengamatinya lebih jauh.


 


“U-Uh...”


 


Leo memilih untuk bungkam dan menyimpan semuanya sendiri. Entah apa yang terjadi padanya selama di dalam gua itu, namun sepertinya itu bukan masalah yang sepele. Dalam keadaan ini, Lia harus memikirkan cara lain untuk membuatnya bicara agar tidak menyinggung perasaannya.


 


“(Mungkin aku akan bicara dengannya nanti setelah kami selesai melapor...)” Ujar Lia dalam hatinya gelisah.


 


Untuk saat ini ia akan membiarkannya menyimpan masalahnya. Ia akan kembali mencoba mengajaknya bicara menunggu ada kesempatan.


 


Setibanya di kota, mereka segera menuju ke Guild petualang untuk membuat laporan mengenai misi mereka. Namun sebelum sampai, Leo memberitahu mereka berdua untuk tidak ikut bersamanya melapor. Dan sebagai gantinya, ia menyuruh Lia dan Olivia untuk mencari tempat penginapan untuk mereka menginap malam ini agar tidak ada waktu yang terbuang.


 


“... Kalau begitu, aku akan segera menyusul kalian begitu aku selesai melapor.” Ujar Leo sebelum berpisah dengan mereka.


 


“... Mm. Serahkan padaku.” Balas Lia singkat sambil mengangguk.


 


“Kalau begitu, kami juga turut pamit. Sampai bertemu lagi, master.” Sambung Olivia sebelum berpisah.


 


“Ya.”


 


Dengan demikian, mereka pun berpisah di jalan setelah menentukan tujuan. Leo menempuh jalan yang menuju Guild sementara Lia dan Olivia mengambil jalan lain untuk mencari penginapan. Meski Lia masih mengira bahwa Leo sengaja melakukan ini untuk menyembunyikan sesuatu darinya, pada akhirnya tidak bisa menolak permintaannya. Ia juga sempat memintanya untuk membiarkannya ikut bersamanya melapor ke Guild, namun Leo menolaknya dengan cepat karena alasan dia akan kembali digoda oleh para petualang. Ia awalnya berniat mencari tahu masalahnya melalui caranya melapor, namun sepertinya rencananya gagal. Ia kini hanya bisa menahan rasa kecewanya sambil berjalan menyusuri jalanan kota mencari penginapan bersama dengan Olivia.


 


“Ada apa, nona Lia...? Kenapa ekspresi anda terlihat murung...?” Tanya Olivia yang menyadari perasaan kecewanya.


 


“... Tidak juga.” Balas Lia singkat dengan nada kecewa.


 


“Apakah mengenai master? Jika benar demikian, Olivia juga merasakan hal yang sama dengan anda. Olivia merasa ada sesuatu yang membuat hati master tidak senang. Mungkin lebih tepat dikatakan sebagai perasaan sedih bercampur bersalah...” Balas Lia menjelaskan perasaannya mengenai Leo.


 


“... Apa maksudmu? Perasaan sedih dan bersalah?”


 


“U-Uh... Agak sulit menjelaskannya, tetapi dari sorot mata master seperti ada beban berat yang sulit diungkapkan. Mungkin singkatnya seperti itu...”


 


“Beban...? Beban apa yang kau bicarakan...?”


 


“Olivia juga tidak tahu beban yang master sembunyikan. Tetapi, Olivia bisa mengatakan bahwa master sedang merasa bimbang akan sesuatu di dalam dirinya...”


 


Lia tidak terlalu mengerti apa yang dia katakan. Namun asumsinya mengatakan bahwa itu ada hubungannya dengan rasa bersalahnya terhadap Gald dan kejadian di kota Hillbern.


 


“(Apakah dia masih belum bisa memaafkan dirinya mengenai kejadian saat itu...?)” Tanya Lia dalam hatinya gelisah.


 


Terlepas dari benar atau tidak, namun jelas ini adalah masalah yang serius. Jika hal ini terus berlanjut, bisa saja Leo jatuh ke dalam jurang kesedihan dan penyesalan seperti seseorang yang pernah Lia kenal sebelumnya. Ia tidak akan membiarkan hal itu kembali terjadi, tidak dengan Leo yang merupakan satu-satunya orang tercintanya yang masih tersisa setelah ia kehilangan semuanya.


 


“(Leo, aku tidak akan membiarkanmu melakukan kesalahan yang sama seperti “dia”... Aku tidak akan membiarkanmu sampai diperbudak oleh kesedihan...)” Ujar Lia dalam hatinya serius.

__ADS_1


 


Mungkin banyak hal yang tidak mereka ketahui mengenai satu sama lain, tetapi akan tiba waktunya di mana Lia akan mengatakan semua tentang dirinya kepada Leo. Dan jika sampai waktunya tiba, semoga saja Leo tidak berubah seperti yang selama ini ia takutkan.


__ADS_2