Black Arc Saga

Black Arc Saga
Tertelan kegelapan


__ADS_3

Ratusan tahun yang lalu, tepatnya ketika kerajaan kuno masih seutuhnya berdiri, mereka tengah berada dalam keadaan berperang melawan kerajaan musuh di wilayah timur. Kerajaan kuno yang terkenal akan ilmu alkimianya lalu menciptakan senjata-senjata hebat dengan memanfaatkan ilmu alkimia yang mereka pelajari untuk melawan musuh mereka. Namun, karena rasa haus mereka akan ilmu pengetahuan akhirnya mendorong mereka untuk menciptakan senjata biologis. Mereka menggunakan mesin, monster dan bahkan manusia sebagai subjek uji coba mereka guna menciptakan tentara terkuat. Dan sebagai hasilnya, terciptalah makhluk campuran manusia dan mesin yang disebut Replican serta makhluk campuran manusia dan monster yang disebut sebagai Halfnoid. Bersama dengan makhluk ciptaan tersebut, mereka berhasil menundukkan musuh mereka dan semakin mendorong mereka untuk mengembangkan penelitian mereka.


 


Hingga pada suatu hari, secara mengejutkan mereka menemukan jasad seekor naga yang tewas dengan tubuh terbelah ketika mereka tengah melakukan ekspedisi menuju daratan utara. Naga itu ditemukan tewas mengenaskan tak jauh dari puing-puing kota yang hancur. Entah bagaimana naga itu bisa tewas, namun hal itu sepertinya ada hubungannya dengan hancurnya kota tersebut. Melihat kesempatan ini, mereka akhirnya membawa jasad naga itu untuk diteliti dan dijadikan subjek uji coba para peneliti di kerajaan. Mereka membawanya menuju ke fasilitas penelitian rahasia yang ada di dekat kota pertambangan Hillbern untuk selanjutnya diteliti dan dikembangkan.


 


Awalnya mereka kesulitan meneliti jasad naga tersebut dikarenakan sebuah kekuatan aneh terpancar keluar dari jasadnya yang menyebabkan mereka memikirkan ulang rencana mereka untuk menggunakannya sebagai objek uji coba. Namun, pihak kerajaan tetap bersikeras untuk melanjutkan penelitian mengingat bahwa naga tersebut adalah spesies naga tingkat menengah yang biasa disebut sebagai Dragorian. Mereka adalah naga yang jauh lebih kuat dan tentunya jauh lebih unggul dari kebanyakan naga yang umum dijumpai. Untuk itulah mengapa pihak kerajaan memaksa mereka untuk melanjutkan eksperimen terhadapnya.


 


Berbulan-bulan kemudian, dengan usaha keras para peneliti, akhirnya mereka menemukan cara untuk menghidupkan kembali naga tersebut, yaitu dengan merubahnya menjadi Replicant. Dengan memberinya bagian tubuh mesin, pada akhirnya naga itu dapat kembali hidup dari kematiannya. Hal itu menjadi kabar gembira bagi kerajaan mengetahui bahwa mereka berhasil mengubah ras makhluk perkasa menjadi senjata mereka. Dengan hadirnya naga itu, mereka akan menjadi kerajaan yang akan menguasai seluruh benua.


 


Namun, ketika impian mereka hampir terwujud, rupanya ada harga yang harus dibayar. Naga yang telah mereka bangkitkan justru lepas kendali ketika hendak dikirim untuk berperang. Dia mengamuk dan membunuh hampir seluruh peneliti yang ada. Pada titik itulah mereka sadar bahwa tindakan mereka adalah suatu kesalahan besar. Mereka tidak hanya menciptakan monster, mereka juga membuatnya jauh lebih kuat. Dia mengamuk hingga nyaris meruntuhkan seluruh fasilitas penelitian yang ada.


 


Hingga pada akhirnya, mereka berhasil menyegelnya di sebuah tempat jauh di bawah tanah. Meski mengorbankan sejumlah besar pasukan, setidaknya mereka berhasil menahannya untuk tidak keluar dari bawah tanah. Mereka akhirnya menyegelnya di sebuah tempat rahasia yang dilindungi ketat. Krisis pun berakhir, namun sebagai akibatnya mereka terpaksa meninggalkan fasilitas penelitian tersebut karena terlalu berbahaya. Dan begitulah bagaimana semua peninggalan kuno itu bermula.


 


Namun, tanpa mereka sadari, naga itu telah merencanakan cara untuk melepaskan diri dari belenggu segel mereka. Ketika mengamuk, naga itu meninggalkan beberapa sisiknya tersebar ke seluruh penjuru tempat sesaat sebelum ia tersegel. Sisik itu akhirnya berubah menjadi Golem yang pada akhirnya membantunya bebas dari segel itu sedikit demi sedikit. Alasan mengapa mereka mengumpulkan kristal sihir adalah untuk membantu menghancurkan pilar kristal yang menjadi fondasi utama yang menopang segelnya. Mereka memakan waktu hingga ratusan tahun demi menghancurkan segel itu menggunakan kristal sihir yang mereka kumpulkan. Hingga pada akhirnya, naga itu dapat membebaskan diri tepat ketika Leo dan regu penjelajah menemukannya. Itulah bagaimana semua kejadian ini bermula.


 


 


 


 


 


***


 


Ketika ledakan itu berakhir, terlihat Lia yang dalam keadaan lemah berusaha tetap berdiri meski seluruh kekuatannya telah habis. Ia menggunakan seluruh kekuatannya yang tersisa untuk melancarkan serangan itu dan alhasil ia berhasil mengalahkannya.


 


“B-Berhasil...! Kau berhasil, Alicia...! Kau berhasil mengalahkan naga itu...!” Ujar Gald dengan wajah gembira.


 


Semuanya telah usai, pertarungan ini telah menunjukkan akhirnya. Mereka berhasil mengalahkan naga itu meski sebagian besar dari mereka tidak selamat. Ini tidak bisa disebut sebagai kemenangan, namun setidaknya mereka berhasil bertahan hidup untuk mengenang mereka yang telah gugur.


 


Leo terduduk menghela nafas panjang mengetahui bahwa rencana mereka berhasil. Meski terkesan nekat, namun rencana ini membuahkan hasil yang bagus. Lia memaksakan dirinya terlalu jauh, namun setidaknya semua usahanya terbayarkan dengan dikalahkannya naga itu.


 


“(Aku tidak mengira dengan sisa kekuatannya dia bisa mengerahkan serangan sekuat itu... Aku tidak akan heran lagi jika dia disandingkan dengan para Ksatria Suci...)” Ujar Leo dalam hatinya memuji Lia.


 


Ia juga mampu bertahan melawan para Ksatria Suci yang menyerangnya berbekal kekuatannya saja. Hal tersebut membuatnya terbukti layak disandingkan dengan mereka. Tidak mengherankan lagi jika Lia mampu mengalahkan seekor naga.


 


Mereka berdua lantas menghampiri Lia yang nyaris pingsan setelah mengerahkan serangan itu guna menolongnya. Namun, tepat ketika mereka berniat melakukannya, secara mengejutkan naga itu bangkit dari balik bayangan dengan separuh wajahnya yang tersisa menyerang Lia yang tengah dalam keadaan lemah sesaat sebelum naga itu menggigitnya.


 


“Lia...!!” Seru Leo panik.


 


“Alicia...!!” Seru Gald dengan wajah terkejut.


 


Naga itu menggunakan rahang besinya yang tersisa untuk menggigit tubuh Lia sesaat sebelum Leo secepat mungkin berlari untuk menyelamatkannya.


 


“Keparat...!!” Seru Leo mengayunkan serangannya.


 


Dengan sekuat tenaga Leo mengayunkan pedangnya untuk memenggal sisa tubuh mesinnya. Suara logam berbenturan menggema ke seluruh tempat itu ketika pedang Leo menghantam leher besi naga tersebut. Namun, meski telah menggunakan seluruh kekuatannya, Leo masih belum mampu memenggalnya.


 


“Grrrr...! Rrrrr...!!”


 


Terganggu dengan tindakan Leo, naga itu seketika mengibaskan lehernya sesaat sebelum ia melemparkan Lia dari gigitannya ketika pandangannya tertuju pada Leo.


 


“Alicia...!!” Seru Gald berlari menghampiri Lia.


 


Naga itu menunjukkan wujudnya yang mengerikan setelah menerima serangan Lia. Separuh wajah hingga tubuh bagian depannya hancur tak berbentuk menyisakan sayapnya yang robek serta kaki belakangnya yang terluka parah.


 


“Alicia...! Bertahanlah...! B-Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi...!” Ujar Gald memeriksa Lia sebelum menoleh ke arah naga itu.


 


Serangan Lia seharusnya sudah cukup membunuhnya, namun entah bagaimana naga itu masih belum mati. Hal itu tentu saja membuat Gald kebingungan dan putus asa ketika mengetahui satu-satunya kesempatan mereka untuk bisa selamat gagal. Dengan begini, kesempatan mereka untuk pergi dari tempat ini lenyap. Lia telah mengerahkan seluruh kekuatannya, sementara Leo dan dirinya tidak memiliki cukup kekuatan untuk mengerahkan serangan yang setara dengan yang Lia lakukan. Mereka benar-benar tidak punya harapan lagi.


 


“(Sial...! Bahkan setelah bekerja keras sejauh ini...! Kenapa semua ini bisa terjadi...!)” Ujar Gald dalam hatinya marah serta putus asa.


 


Di sisi lain, Leo yang diselimuti amarah setelah menyaksikan apa yang naga itu lakukan kepada Lia langsung menyerang secara membabi buta. Ia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyerangnya dengan gerakan yang terlihat mengerikan. Ia menyerang layaknya seekor monster yang kehilangan kewarasan dengan Greatswordnya. Serangannya yang bertubi-tubi dari segala sisi membuat naga itu kewalahan menanganinya. Ia bahkan tidak sempat melawan balik karena serangan Leo tidak memberikannya celah sedikit pun.


 


“Rrrrr...!!”


 


“Haaa..!!”


 


Di sisi lain, Lia yang perlahan membuka matanya mulai mengingat kejadian sebelumnya. Ia melihat sekelilingnya ketika mendengar suara benturan logam yang berkali-kali terdengar. Pandangannya seketika terkejut begitu menyadari bahwa Leo yang menjadi sumber bunyi tersebut. Dia bertarung dengan penuh amarah melawan naga itu ketika Lia menyaksikannya.


 


“L-Leo...! Ughh...!” Ujar Lia sambil menahan sakit.


 


“A-Alicia...! Syukurlah kau masih selamat...!” Ujar Gald dengan wajah senang.


 


“G-Gald...? Kenapa.. Kau di sini...? Leo... Apa yang... Terjadi.. Dengannya...?” Balas Lia dengan wajah cemas.


 


“Seperti yang kau lihat... Dia benar-benar murka... Dia bertarung layaknya seekor monster yang kehilangan akalnya... Aku bahkan belum pernah melihat gaya bertarung seperti itu...” Balas Gald melihat ke arah Leo prihatin.


 


Seperti yang Gald katakan, Leo menyerang naga itu sebagai bentuk rasa marahnya ketika naga itu melukainya. Lia sendiri juga terkejut dan terkesima melihat cara bertarung Leo yang tidak wajar itu. Setiap gerakannya benar-benar memaksa otot di tubuhnya untuk bekerja keras lebih dari yang bisa dilakukan manusia pada umumnya. Pada saat itulah Lia sadar bahwa jika hal ini terus berlanjut, maka Leo sendiri yang akan celaka. Jika dia terus menggunakan tehnik bertarung itu, maka tubuhnya tidak akan bertahan.


 


“(Aku harus menghentikannya...! Aku harus menghentikan Leo...!)” Ujar Lia dalam hatinya panik.


 


Lia mencoba untuk bangkit, namun dikarenakan lukanya yang cukup parah membuatnya kesulitan untuk melakukannya.


 


“Ugh...!!”


 


“Alicia...! Jangan paksakan dirimu untuk bergerak...! Lukamu akan bertambah buruk...!” Ujar Gald menghentikannya dengan wajah panik.


 


“Aku harus... Menghentikan... Leo...! Sebelum... Semuanya... Terlambat...!” Balas Lia dengan nada tercekik menahan sakit.


 


“Aku juga tahu itu...! Tapi, kau tidak bisa melakukannya...! Tidak dengan keadaanmu saat ini...! Kau hanya akan membahayakan dirimu sendiri dan Leonard...!” Balas Gald menentangnya.


 


“T-Tapi...!” Balas Lia bersikeras.


 


Pada saat yang bersamaan, situasi pertarungan antara naga itu dengan Leo semakin sengit. Leo yang tanpa henti melancarkan serangannya pada akhirnya mencapai batasnya. Ia mulai kehilangan kecepatan dan kekuatannya setelah staminanya terkuras untuk menyerangnya. Hal ini menjadi kesempatan bagi naga tersebut untuk melancarkan serangan balas yang selama ini dicegah oleh Leo. Dia mulai melebarkan sayapnya menyebarkan kabut hitam beracun itu ketika Leo mengambil langkah mundur dalam jeda serangannya. Seketika itu pula kabut itu menyelimuti tubuhnya membuatnya tidak dapat disentuh oleh Leo.


 


“Tch. Trik kotor itu lagi...” Gumam Leo kesal.


 


Leo mulai mengurungkan niatnya untuk menyerangnya setelah menyaksikan hal tersebut. Kesempatan ini langsung dimanfaatkan oleh naga itu untuk balik menyerangnya. Dengan kekuatan sihirnya, ia menyemburkan semburan sihir bertekanan tinggi ke arahnya yang memaksa Leo untuk mengambil langkah menghindar. Naga itu mengejarnya dengan semburannya yang mana menciptakan ledakan yang mengguncang seisi tempat itu.


 


“...!!”


 


“Alicia...!” Seru Gald melompat ke arah Lia.


 


Ketika sebuah puing-puing berukuran besar nyaris menimbun Lia, Gald dengan cepat mendorongnya menjauh dari tempatnya. Sontak seketika itu pula ia tertimpa puing-puing tersebut sebagai gantinya sesaat sebelum Lia yang menyadarinya bergegas menghampirinya.


 


“G-Gald...!!” Seru Lia panik merangkak ke arahnya.

__ADS_1


 


Dari balik puing-puing yang hancur, terdengar Gald yang tengah menggeram menahan rasa sakit ketika Lia menghampirinya. Meski tertimpa oleh puing-puing yang cukup besar, Gald masih bertahan hidup berkat zirah ringan yang ia kenakan di tubuhnya. Namun, sisi buruknya, luka yang ada di tubuhnya bertambah parah setelah ia tertimpa reruntuhan tersebut. Ia kembali memuntahkan darah ketika efek racun dari kabut hitam itu meluas.


 


“Ugh...! Arghh...!”


 


“Gald...! Lukamu...!” Ujar Lia dengan wajah terkejut.


 


“Ugh...! Aku... Baik-baik saja...! Aku masih mampu... Berdiri...!” Balas Gald sebelum kembali batuk berdarah.


 


“Lukamu memburuk...!” Balas Lia dengan wajah cemas.


 


“Aku—“


 


Gald kembali memuntahkan darah ketika berusaha membalas ucapan Lia. Sudah jelas bahwa selama ini dia memaksakan dirinya menahan rasa sakit dari racun yang menyebar di tubuhnya.


 


“(Gald... Dia sudah terluka sangat parah akibat racun itu... Leo juga tidak akan bertahan lebih lama lagi melawannya... Aku harus mencari cara untuk mengakhiri pertarungan ini...!)” Ujar Lia dalam hatinya berpikir keras.


 


Tepat ketika Lia mencari cara untuk mengalahkan naga itu, sesuatu bagian dari tubuhnya menarik perhatiannya. Tepat pada bagian tengah tubuhnya terpancar cahaya dari sihir yang menyebar ke seluruh bagian tubuh mesinnya. Awalnya Lia tidak merasa curiga, namun saat ini hal tersebut yang menjadi perhatiannya. Alasan mengapa naga itu masih dapat menggunakan bagian tubuh mesinnya meski telah kehilangan separuh kepalanya adalah karena ada sesuatu yang menjadi sumbernya. Atau dengan kata lain, ada sebuah inti lain yang menjadi pengendalinya.


 


“(Inti sihir... Jantung...! Tentu saja jantungnya...! Dia masih bisa hidup karena jantung buatannya...!)” Ujar Lia dalam hatinya.


 


Menyadari hal itu, Lia langsung memeriksa teorinya tersebut. Ia mengamati dengan seksama sang naga yang tengah bertarung melawan Leo. Terlihat jelas bahwa bagian tubuh mesinnya dapat mengeluarkan sihir berkat inti sihir yang berada di jantungnya. Jika diingat kembali, setiap kali naga itu hendak menyerang dengan sisi mesinnya, bagian jantungnya akan bercahaya dan mengalirkan sejumlah sihir ke bagian tubuh yang digunakan. Itu menjelaskan bagaimana naga itu dapat hidup kembali meski telah kehilangan sebagian tubuhnya. Jika jantung tersebut yang membuatnya hidup kembali, maka jantung tersebut juga yang bisa membuatnya mati.


 


“Hanya... Ada satu hal... Yang harus... Dilakukan...!” Gumam Lia berusaha bangkit dengan sisa tenaganya.


 


Lia mencoba berdiri dengan kedua kakinya setelah mengetahui hal tersebut. Ia berniat menyerang inti sihir naga itu yang terletak pada jantungnya. Dengan tubuh sempoyongan ia berusaha keras berdiri pada kuda-kudanya ketika ia mulai mengeluarkan segenap kekuatannya yang tersisa untuk menciptakan serangan.


 


“Hah...! Hah...! A-Alicia...?” Gumam Gald melihatnya dengan pandangan lemah.


 


Lia berusaha keras mengeluarkan kekuatan sihirnya, namun berkali-kali ia coba tetap saja usahanya sia-sia. Seluruh kekuatannya telah habis dikerahkan untuk melancarkan serangan pamungkasnya. Tentu saja usahanya tetap akan berakhir sia-sia.


 


Di sisi lain, sang naga yang menyadari keberadaan Lia, seketika itu pula memalingkan pandangannya ke arahnya. Ia melepaskan perhatiannya dari Leo begitu saja ketika ia melihat Lia masih hidup dan berdiri menghadapnya dengan kuda-kuda bertarung. Amarah mulai menyelimuti perasaannya sesaat sebelum ia mengarahkan serangannya ke arahnya.


 


“Tunggu, apa yang—“


 


Leo yang menyadari keanehan tersebut seketika sadar ke mana naga itu mengarahkan serangannya. Dia berniat menyerang Lia yang dalam keadaan lemah berdiri dalam kuda-kudanya.


 


“(Jangan katakan...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.


 


Tepat pada saat itu juga, naga itu mengumpulkan segenap kekuatannya sesaat sebelum akhirnya melepaskan serangan berskala besar ke arah Lia. Melihat hal tersebut, Leo dengan cepat berusaha mencegahnya, namun sayangnya ia sudah terlambat.


 


“Liaaaa...!!!” Seru Leo.


 


Serangan sihir berkekuatan tinggi melesat membelah lantai dalam garis lurus tepat menuju ke arahnya. Lia yang menyaksikan hal tersebut berusaha untuk menghindar, namun tepat ketika ia bermaksud melompat menghindari serangan tersebut, luka yang ada di perutnya kembali terbuka menyebabkan darah bercucuran keluar. Lia seketika tertahan oleh rasa sakit itu tepat ketika serangan tersebut semakin mendekat ke arahnya.


 


“Liaaa...!!”


 


“.....!!”


 


Cahaya yang sangat terang mulai menelan tubuhnya ketika harapan Lia untuk selamat telah menghilang. Namun, tepat sesaat sebelum serangan itu mengenainya, Gald secara mengejutkan mendorongnya dari tempatnya dengan sisa-sisa tenaganya. Gald menggantikan tempat Lia tepat ketika dia tersenyum kepadanya dengan kata-kata terakhirnya.


 


“Alicia... Kutitipkan mereka... Kepadamu...” Bisik Gald dengan nada lemah.


 


 


“Gald... Kenapa...” Ujar Lia menangis terisak.


 


Bahkan di saat-saat terakhirnya, Gald tetap memikirkan orang lain melebihi dirinya sendiri. Hal tersebut juga sontak membuat Leo yang menyaksikannya ikut menangis melihat kepergian Gald yang tragis tersebut.


 


“Gald... Kau...” Bisik Leo sebelum akhirnya meneteskan air mata.


 


Demi menyelamatkan Lia, ia mengorbankan dirinya sendiri. Hal ini membuat Leo semakin terpukul melihat teman-temannya yang ia kenal tewas seluruhnya di tangan naga itu.


 


“Sial... Sialan...! Beraninya kau membunuhnya...!” Seru Leo marah menyeka air matanya.


 


Melihat Lia dalam keadaan tidak berdaya, naga itu lantas menghampirinya berniat menghabisinya. Naga itu kini berada tepat di hadapannya tepat ketika ia membuka sebagian moncongnya berniat menghabisi Lia. Sihir mengerikannya mulai berkumpul di mulutnya tepat ketika udara di sekitarnya bergetar akibat kemampuannya. Dengan wajah putus asa, Lia hanya bisa menyaksikan hal tersebut tanpa bisa berbuat hal banyak.


 


“....!”


 


“Grrrr....”


 


Namun, tepat sebelum naga itu menyemburkan sihirnya, Leo datang menghantam mulutnya dengan pedangnya yang seketika membuat sihir yang terkonsetrasi itu hancur dan meledak menggagalkan niatnya menghabisi Lia. Ledakan itu berdampak langsung pada tubuh Leo, tubuhnya terluka cukup parah akibat terlalu dekat dengannya ketika hal tersebut terjadi. Namun, hal itu tidak menghentikan kemarahannya begitu saja.


 


“L-Leo...” Bisik Lia lemah terkesima menyaksikannya.


 


“Keparat...! Aku ada di sini...! Aku adalah lawanmu...!” Seru Leo marah menghunuskan pedangnya pada naga itu.


 


Marah karena Leo mengganggunya, naga itu pun berusaha menyingkirkannya dengan mengibaskan Leo menjauh darinya. Ia terlempar jatuh hingga terguling sejauh puluhan meter, namun meski demikian Leo masih belum menyerah juga. Dengan tubuh bersimbah darah dan luka memenuhi tubuhnya, ia tetap belum menyerah. Kemarahannya pada naga itu melampaui rasa sakit di tubuhnya sendiri hingga membuatnya mengabaikan semua luka yang dideritanya.


 


“Hah...! Hah...! Hah...! Jangan kira... Aku luka ini... Bisa menghentikanku...!” Ujar Leo marah dengan tatapan tajam terangah-engah.


 


Berpikir bahwa Leo akan mengganggunya, naga itu akhirnya memutuskan untuk menghabisinya terlebih dahulu sebelum menghabisi Lia. Ia akhirnya melemparkan Lia dengan ekornya hingga membentur dinding yang ada di sebrang ruangan sebelum menghampiri Leo yang terkesima menyaksikannya.


 


“Lia...!!” Seru Leo panik.


 


Setelah menghantam dinding itu hingga hancur, Lia tergeletak tak sadarkan diri sesaat sebelum Leo yang menyaksikannya murka.


 


“Kau...! Keparat...!!” Teriak Leo marah.


 


Leo mengambil pedangnya sesaat sebelum ia melesat menyerang naga itu. Ia menggunakan manuver menghindar yang cepat untuk menghindari semburan nafas apinya sebelum akhirnya menghantam lehernya dari bawah dengan pedangnya. Dengan sekuat tenaga Leo berusaha menembus leher besinya, namun sayangnya hal itu tidak berguna karena logam yang digunakannya melebihi logam pada umumnya.


 


“Haaa...!!”


 


Mengabaikan hal itu, Leo mendorong mundur naga itu dengan kekuatannya sebelum akhirnya ia melanjutkannya menyerang bagian lain tubuhnya. Ia melompat tepat di bagian dadanya yang masih tersisa mengincar jantungnya. Dengan penuh amarah Leo menghunuskan pedangnya, namun ketika bilahnya hendak menembus kulitnya, secara mengejutkan medan sihir misterius menghentikan niatnya.


 


“A—“


 


Serangannya ditangkis begitu saja hingga memberikan naga itu kesempatan untuk membalas. Ia mengibaskan sayapnya menciptakan hembusan angin yang kuat hingga menghempaskan Leo menjauh darinya tepat sebelum ia melanjutkannya dengan mengerahkan rahangnya. Tepat ketika Leo mendarat, naga itu menyambutnya dengan giginya yang siap memotong tubuhnya. Namun, Leo yang sigap menanggapinya langsung menggunakan pedangnya untuk menghentikan niatnya tersebut. Ia menghunuskan pedangnya pada mulut bagian atas naga itu sementara kakinya menahan bagian bawahnya.


 


“Hgghh...!! Haaaa...!!”


 


Dengan sekuat tenaga Leo berusaha menahan mulut itu agar tidak tertutup. Namun, sekuat apa pun berusaha, kekuatan Leo tidak mampu menandingi kekuatan dari tubuh mesinnya. Hingga pada akhirnya, pedang Leo retak dan hancur begitu naga itu berhasil menggigitnya dengan giginya.


 


“A—“

__ADS_1


 


Pedangnya hancur dengan mudahnya dengan satu kali gigitan. Namun, beruntungnya Leo sempat menjauh sebelum naga itu menggigitnya. Akan tetapi...


 


“.... Ugh!!”


 


Tepat ketika Leo berhasil menghindari gigitannya, cakar besi naga itu menembus tubuhnya. Darah seketika bercucuran keluar membasahi lantai sesaat sebelum Leo memuntahkan darah dari mulutnya ketika naga itu melemparnya sejauh mungkin darinya layaknya melemparkan batu. Ia membentur lantai beberapa kali sebelum akhirnya menghantam dinding dengan keras hingga membuat darahnya mengalir deras keluar dari lukanya.


 


“Ugh..! Argh...!”


 


Dengan tubuh tidak berdaya berlumuran darah, Leo menyaksikan naga itu perlahan menghampiri Lia berniat menghabisinya. Ia berusaha bangun untuk menghentikannya, namun akibat dilempar olehnya, kakinya patah dan tidak mampu lagi digerakkan. Ditambah luka parah yang ada di tubuhnya membuatnya mustahil untuk bergerak dari posisinya.


 


“L-Li..a....”


 


Darah kembali keluar dari mulutnya ketika ia berusaha menggerakkan tubuhnya. Usahanya sia-sia karena dengan tubuh yang sudah hancur itu mustahil baginya untuk bergerak.


 


“(Lia...! Tidak...! Dia akan membunuhnya...! Lia akan terbunuh...! Aku harus menghentikannya...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.


 


Dalam kepanikan itu, naga itu mulai mengumpulkan kekuatannya untuk mengeluarkan semburan sihir mematikannya. Sekuat apa pun Leo berusaha, ia tetap tidak mampu berbuat apa-apa. Tidak dengan keadaannya yang saat ini.


 


“(Kenapa...! Kenapa setiap kali aku melakukan sesuatu dengan usahaku sendiri, selalu saja orang yang berharga bagiku yang menjadi korbannya...! Kenapa mereka yang kusayangi selalu diambil dariku...! Apa ini karena kutukanku...? Apa ini semua karena aku adalah manusia yang tidak diberkahi oleh dewa...?)” Ujar Leo dalam hatinya putus asa.


 


Hati Leo perlahan hancur ketika ia menyaksikan Lia mendekati ajalnya tanpa bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkannya. Amarah dan kesedihannya bercampur menjadi satu dalam keputusasaan ketika ia mulai menyalahkan dirinya atas semua kejadian ini.


 


“(Ini semua adalah salahku...! Jika saja aku tidak membawa Lia ke sini, mereka semua tidak akan mati...! Jika saja aku punya Skill, ayah dan ibu tidak akan mati seperti saat itu...! Jika saja aku punya kekuatan... Semua kejadian ini pasti tidak akan pernah terjadi...!)” Sambung Leo mulai putus asa.


 


Air matanya tidak dapat lagi terbendung ketika ia mulai mengingat kenangan indah yang ia lalui bersama Lia. Memang pertemuan mereka terkesan singkat, namun semua kenangan itu membekas di hatinya dan sekarang semua kenangan itu akan kembali direnggut darinya sama seperti yang pernah terjadi pada masa lalunya.


 


“(Kenapa aku tidak diberkahi oleh Skill...? Kenapa...! Apa karena para dewa telah mengutukku...? Apa mereka membuangku...? Kenapa begitu...? Kenapa hanya aku...? Kenapa hanya aku yang harus menerima semua penghinaan ini...!)”


 


Dalam kemarahan itu, sesosok misterius bicara kepada Leo jauh dari dalam dirinya membalas ucapannya.


 


[Benar, mereka telah mengabaikanmu... Para dewa telah mengabaikanmu dan mengutukmu... Itulah alasan mengapa selama ini kau menderita...]


 


“(Aku dikutuk oleh para dewa...? Jadi selama ini yang mereka katakan adalah benar...? Semua itu karena aku adalah manusia yang terkutuk...?)”


 


[Katakan, apa kau marah...?]


 


“(Aku...? Apa aku marah...?)”


 


[Katakan, apa kau membenci orang-orang yang menganggapmu sebagai manusia terkutuk...?]


 


“(Ya... Ya! Aku membenci mereka semua...!)”


 


[Apa kau juga membenci para dewa yang memberimu takdir kelam ini...?]


 


“(Ya...! Aku membenci mereka...! Aku mengutuk mereka semua...!)”


 


[Apa kau ingin kekuatan untuk mengutuk semua orang yang kau benci...?]


 


“(Ya...! Aku menginginkannya...! Aku tidak peduli bahkan jika harus menyerahkan jiwaku...! Dewa... Manusia... Aku akan mengutuk dunia ini...!)”


 


[Hahaha... Kalau begitu, ulurkan tanganmu... Dan akan kutunjukkan kekuatan yang bisa mengutuk seluruh dunia ini...]


 


Leo mengulurkan tangannya pada sosok bayangan raksasa misterius di dalam tubuhnya sesaat sebelum kekuatan yang dahsyat mengalir ke dalam dirinya.


 


[Sekarang, bawalah kemarahanku pada dunia ini...]


 


Tepat ketika mengatakannya, kekuatan kegelapan yang dahsyat meluap keluar dari dalam tubuh Leo. Kekuatannya yang sangat kuat bahkan menembus langit-langit dan membuatnya berlubang dan berguguran. Lantai yang ada di sekitarnya seketika hancur tertelan oleh kekuatannya ketika sesosok mengerikan muncul dari baliknya. Leo dengan sebagian tubuhnya tertelan oleh kekuatan kegelapan menunjukkan sosoknya ketika naga itu terperanga menyaksikannya. Dia tampak seperti Leo, namun juga jauh terasa berbeda. Dia seperti berubah menjadi makhluk lain dalam sekejap mata.


 


“Grrr....”


 


Makhluk apa pun dia, naga itu tetap tidak memperdulikannya. Selama dia bangkit kembali maka itu artinya dia akan menjadi pengganggu baginya. Dan satu-satunya cara untuk membuatnya diam adalah dengan memusnahkannya. Ia mulai mengumpulkan kekuatan sihir pada mulutnya sesaat sebelum menembakkannya ke arahnya. Serangan itu melesat membuat seluruh lantai yang dilewatinya hancur tepat ketika sosok itu mengarahkan tangannya sesaat sebelum serangannya meledak begitu saja sebelum mengenainya.


 


“...!”


 


Entah bagaimana dia melakukannya, namun meledakkan sihirnya semudah itu menandakan bahwa dia tidak hanya sekedar berubah saja. Dia juga menjadi jauh lebih kuat dari pada wujudnya ketika menjadi manusia. Ini akan berbahaya jika sosok itu sampai mendekatinya.


 


“Rrrrr...!!!”


 


Naga itu meraung sambil membuka kedua sayapnya memanggil kabut hitam beracun sesaat sebelum ia mengepakkan sayapnya membawa kabut itu ke arahnya. Namun, tepat ketika kabut itu nyaris menyentuhnya, sosok itu lenyap begitu saja tanpa meninggalkan jejak mau pun suara. Kebingungan dengan hal itu, ia pun lantas mencarinya, namun bersamaan ketika ia melakukannya, secara mengejutkan sosok itu muncul tepat di hadapannya menggenggam lehernya sebelum akhirnya membantingnya sekuat tenaga ke lantai. Sontak seluruh lantai berguncang dan amblas akibat hal tersebut menyisakan lubang sedalam puluhan meter.


 


“Grrrr....!”


 


Namun, meski dihantam ke lantai dengan kekuatan yang luar biasa, naga itu tetap bertahan. Tubuhnya hanya tergores ringan sesaat sebelum ia memanfaatkan kesempatan yang ada untuk menyerangnya. Dengan mengerahkan kabut hitamnya, ia berniat menelannya dalam kematiannya, akan tetapi...


 


“Raaarrrggh...!!”


 


Sosok itu mencengkram lehernya sesaat sebelum ia melemparnya kembali ke permukaan tepat ketika ia menyambutnya dengan sebuah serangan kuat yang mengincar jantungnya.


 


“....!!”


 


Seketika seluruh tempat itu berguncang ketika serangan itu menghantam tubuhnya. Mantra pelindung yang melindungi jantungnya seketika hancur oleh satu serangan tersebut sesaat sebelum akhirnya naga itu terlempar hingga menghantam langit-langit dengan tubuhnya.


 


“Rrarrghh...! Rrrrrr....!!!”


 


Ia pun jatuh menghantam lantai dengan sisa-sisa bagian tubuhnya menyaksikan sosok itu muncul secara mengejutkan jauh di hadapannya. Untuk pertama kalinya naga itu merasa ketakutan, sosok itu melampaui semua manusia yang ada di sini. Auranya yang mengerikan membuatnya gemetar cemas, kegelapan bahkan layaknya berjalan beriringan dengan kehadirannya. Dia benar-benar monster dari segala monster.


 


Merasa terpojok, naga itu pun melancarkan serangan yang bisa ia lakukan dalam keadaannya yang mengenaskan. Ia menembakkan sisiknya, menyemburkan sihir dan bahkan menyebar kabut hitam untuk menyerangnya, namun sayangnya semua itu dengan mudahnya lenyap hanya dalam satu kali sapuan tangannya menyisakan ledakan yang membuat suasana di antara mereka kian memburuk.


 


“Grrrrr....”


 


Hingga pada akhirnya, naga itu memutuskan untuk mengerahkan serangan terkuat yang ia tahu untuk menyerangnya. Meski serangan ini akan menghabiskan daya hidupnya, namun setidaknya hal itu patut dicoba. Ia bangkit perlahan dengan sisa-sisa tenaga dan bagian tubuhnya sebelum ia mengerahkan kekuatan yang ada pada inti sihirnya. Jantungnya menyala ratusan kali lebih terang ketika ia membuka mulutnya bersiap untuk menyerang.


 


Cahaya terang mulai menyelimuti tubuhnya ketika naga itu memulai rangkaian serangannya. Udara di sekitar mereka terhenti seketika sebelum perlahan bergerak mendekatinya yang menciptakan sebuah konsentrasi sihir yang luar biasa kuat di mulutnya. Lantai di sekitarnya bergetar dan hancur sebelum akhirnya terangkat ketika kekuatan yang dikumpulkannya bertambah banyak. Dan tepat ketika naga itu menembakkannya, ruang di antara mereka serasa bergeser sebelum akhirnya serangan itu melesat secepat kilat menuju ke arahnya.


 


Tanah berguncang dan udara bergetar ketika serangan itu melesat. Namun, sosok itu hanya berdiri diam menyaksikannya dengan satu mata merahnya yang menyala sesaat sebelum ia mengarahkan tangannya pada serangan tersebut. Ia perlahan menggenggam tangannya ketika secara mengejutkan serangan itu terhenti tepat di depan matanya dan lenyap begitu kilatan cahaya menembus sihir itu hingga sampai pada naga tersebut. Sihirnya lenyap tepat ketika naga itu menyadari bahwa jantungnya lenyap oleh kilatan cahaya hitam itu sesaat sebelum ledakan yang dahsyat melenyapkannya beserta seluruh tempat tersebut. Bahkan, serangan tersebut menembus hingga permukaan hingga menciptakan pilar cahaya berwarna hitam pekat yang menjulang ke langit dan mengejutkan seluruh penduduk kota yang menyaksikannya.


 


“A-Apa itu...! Ledakan...?!”


 


“B-Bukit dan hutannya... Semuanya hancur...!”


 


“Sihir mengerikan macam apa itu...!”


 

__ADS_1


Tak lama berselang, gempa bumi mengguncang kota dan merobohkan bangunan yang ada. Seluruh kota seketika dilanda kepanikan ketika gelombang kejut sebagai dampak dari ledakan itu sampai ke kota. Barang-barang berhamburan ke udara, aura yang mengerikan menyebar ke seluruh penjuru kota membuat penduduk yang terkena dampaknya seketika dilanda ketakutan. Entah apa yang terjadi, namun firasat buruk mereka mengatakan bahwa semua ini bersumber dari apa yang ada bersama ledakan misterius tersebut.


__ADS_2