Black Arc Saga

Black Arc Saga
Insiden di kota Zivalor: bagian 2


__ADS_3

... ...


Berhadapan dengan monster itu secara langsung membuat Leo tidak bisa berbuat banyak. Ia menahan gerakannya ketika monster itu perlahan mengamatinya beserta pedang hitam yang ada dalam genggamannya. Mereka begitu dekat hingga mereka mampu mendengar nafas masing-masing ketika monster itu memutuskan untuk membuka mulutnya di hadapannya.


 


“Mannlegur... Lyktarbölvun... Þú, blaðið þitt... Lyktarbölvun...”


 


“...?!”


 


“Bölvunin... Eru farin... En ég finn lyktina af því...”


 


“....”


 


Leo seketika terkejut dan terperanga melihat hal tersebut. Ketika ia mengira monster itu hendak menggigitnya, monster itu justru berbicara dengannya menggunakan bahasanya sendiri. Hal ini tentu saja membuatnya terkejut sekaligus takjub, namun di sisi lain ia justru merasa semakin waspada terhadapnya.


 


Melihat ekspresi Leo yang tidak menanggapi ucapannya membuat monster itu merasa kesal. Ia lantas membuka mulutnya sekali lagi mencoba kembali mengajaknya bicara.


 


“Manneskja, svaraðu mér!”


 


“....”


 


“Bölvunin meðal ykkar... Hvar er hún..!”


 


“.....”


 


Karena tidak menjawab pertanyaannya, monster itu pun marah dan meraung keras tepat ke hadapannya. Raungannya yang kuat menyebabkan beberapa jendela bangunan pecah dan terhempas bersama benda-benda lain di sekitarnya.


 


“Ugh...!”


 


Leo yang berada di hadapannya ikut terhempas mundur olehnya. Ia akhirnya terjatuh setelah terdorong mundur sejauh beberapa meter dari lokasi awalnya sesaat sebelum monster itu mengangkat lehernya dan membuka mulutnya tepat ke arahnya.


 


“...!!”


 


Tepat ketika Leo menyadarinya, monster itu menyemburkan api ke arahnya. Kobaran api raksasa menelan seluruh tempat dan membakar hangus semua yang dilaluinya. Rumah dan bangunan kota yang ada di hadapannya seketika lenyap menyisakan bara api serta abu yang beterbangan memenuhi udara.


 


“.....”


 


Tidak ada yang tersisa setelah ia membakar semuanya. Api miliknya memanglah sangat kuat hingga mampu melenyapkan segalanya. Meski demikian, ia merasa ada yang janggal. Ia masih bisa merasakan keberadaan yang sebelumnya membuatnya datang ke sini. Hal ini menandakan bahwa serangannya sebelumnya gagal membunuhnya.


 


“Grrrrr...!”


 


Dengan perasaan kesal, ia menggeram dengan ekspresi marah ketika mengetahui bahwa Leo masih hidup. Ia tidak tahu bagaimana dia melakukannya, tetapi yang jelas hal ini tidak membuatnya senang. Ia menghancurkan bangunan yang ada di sekitarnya mencoba mencarinya. Dengan cakar dan ekor raksasanya, ia menerbangkan bangunan-bangunan di sekitarnya layaknya mencabut rumput hingga membuat puing-puing bangunan menghujani kota.


 


“Awas...!!”


 


“Aaaaa...!!”


 


Sontak hal itu membuat penduduk yang berniat menyelamatkan diri panik dan ketakutan ketika puing-puing bangunan berjatuhan ke arah mereka. Tidak sedikit dari mereka yang tertimpa reruntuhan itu dan bahkan sampai tewas menyisakan kepanikan di kota. Para prajurit kota yang mencoba membantu evakuasi ikut dibuat kewalahan. Banyaknya warga yang berlarian panik membuat proses evakuasi tidak berjalan dengan semestinya. Jatuhnya korban jiwa tidak lagi dapat dihindarkan.


 


“Bagaimana bisa monster itu datang ke kota ini...! Ini sama sekali tidak masuk akal...!” Ujar Lia dengan nada panik.


 


“Olivia juga tidak tahu. Tetapi, Olivia khawatir tentang master...” Balas Olivia dengan wajah cemas.


 


“Benar juga...! Bagaimana keadaannya...! Apa dia baik-baik saja...!” Balas Lia dengan ekspresi cemas.


 


“Ya. Meski samar, Olivia masih bisa merasakan keberadaan master.”


 


“Syukurlah kalau begitu. Sekarang dia ada di mana?”


 


“Olivia tidak bisa mengatakannya secara pasti, namun sepertinya berada tidak jauh dari dia...”


 


Menyadari hal itu, Lia langsung bergegas menuju ke tempat monster itu mengamuk guna menemukan Leo.  Walau ia tahu bahwa kemungkinan besar ia akan berhadapan dengannya, ia tetap tidak bisa membiarkan Leo begitu saja.


 


“(Aku tidak tahu kenapa monster itu datang ke kota ini, tetapi firasatku mengatakan bahwa Leo dalam bahaya...!)” Ujar Lia dalam hatinya cemas.


 


Sementara itu, Leo yang berhasil selamat berkat kemampuannya hanya bisa mengawasi monster itu dari kejauhan. Sebagai Thearian, bersembunyi dari monster yang pernah dihadapi adalah tindakan hina, namun ia tidak punya pilihan saat ini. Ada sesuatu dari monster itu yang membuatnya curiga terhadapnya.


 


“(Dia muncul begitu saja dari langit ke hadapanku tanpa bisa kurasakan. Tidak hanya itu, dia juga bisa bicara meski aku tidak mengerti apa yang dikatakannya. Yang jelas, instingku mengatakan bahwa dia jauh lebih berbahaya dari pada makhluk lain sejenisnya...!)” Ujar Leo dalam hatinya serius.


 


Tubuh yang memiliki perawakan seperti kadal raksasanya dapat dikenali oleh siapa pun, serta sepasang sayap yang ada di punggungnya menebarkan teror di langit yang dilaluinya. Tidak salah lagi jika dia dijuluki sebagai penguasa langit. Benar, tidak lain dan tidak bukan monster yang menyerang kota itu adalah seekor naga. Namun, bukan sembarang naga, dia adalah naga dengan ras yang jauh lebih tinggi dari yang pernah Leo lihat sebelumnya. Kenyataan bahwa dia bisa bicara membuatnya semakin yakin bahwa dia adalah ras naga tertinggi yang bahkan melampaui naga yang pernah menyerang desanya di masa lalu.


 


Melawan makhluk sekuat itu akan terasa mustahil. Bahkan untuknya yang telah mendapatkan kekuatan sihir, ia masih belum mampu untuk menandinginya. Ia tidak tahu apa yang membuat makhluk superior sepertinya datang ke kota ini, namun yang jelas ini ada hubungannya dengan apa yang sebelumnya dia ucapkan ketika berhadapan langsung dengannya.


 


“(Apa pun yang dia cari, aku tidak peduli. Jika dia tidak segera diusir dari kota ini, maka kota ini akan hancur! Aku harus melakukan sesuatu untuk membuatnya keluar dari kota ini...!)” Ujar Leo dalam hatinya berpikir.


 


Naga itu masih mencari Leo yang bersembunyi sambil menghancurkan bangunan yang ada di sekitarnya. Ia pun memutar otaknya untuk mencari cara menjauhkan naga itu sebelum ia meratakan seluruh kota. Namun, ketika ia tengah dalam proses berpikir, secara mengejutkan ia melihat sekelompok petualang datang menantang naga itu.


 


“(Lencana itu... Mereka adalah petualang! Apa yang hendak mereka lakukan...? Jangan katakan...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik menyadarinya.


 


Secara bersamaan, mereka melancarkan serangan sihir ke arah naga itu ketika ia tengah menghancurkan kota. Serangan mereka mengenai naga itu secara langsung hingga membuat perhatiannya seketika tertuju pada mereka. Ia menggeram kesal ketika aura mengerikan keluar dari tubuhnya menyebar ke segala penjuru menyebabkan para petualang yang menyerangnya seketika membatu dalam ketakutan.


 


“Hiiii...!!”

__ADS_1


 


“A-Aku rasa ini ide yang buruk...!”


 


“Aku tidak bisa bergerak...! Tekanan macam apa ini...!”


 


“S-Sial...!”


 


Serangan itu sama sekali tidak melukainya dan justru hanya membuatnya bertambah kesal. Ia pun menghentikan pencariannya terhadap Leo sebelum akhirnya memutuskan untuk menghadapi mereka.


 


“S-Serang...!”


 


Mereka mencoba kembali menghujaninya dengan serangan yang mereka miliki. Akan tetapi, sebanyak apa pun serangan yang mereka lancarkan, semua itu sia-sia saja karena naga itu sama sekali tidak bergeming. Situasi ini membuat mereka semakin panik.


 


“Sial...! Tidak ada gunanya...!”


 


“M-Mustahil...! Tidak mempan...!”


 


“Sihir kita sama sekali tidak mampu menembus sisik kerasnya...!”


 


“Apa yang harus kita lakukan sekarang...!”


 


Dengan ekspresi marah, naga itu mengerahkan kekuatan sihirnya untuk membalas serangan mereka. Kilauan cahaya terlihat menyelimuti area di sekitarnya sesaat sebelum mereka melesat menghujani mereka. Melihat hal tersebut, para penyihir lantas merapalkan sihir perisai untuk menangkis serangannya.


 


Sihir berdatangan ke arah mereka bagaikan air hujan yang turun dengan derasnya. Mereka bertahan dengan perisai sihir yang melindungi mereka, akan tetapi karena banyaknya jumlah serangan yang datang membuat ketahanannya kian lama makin terkikis. Perlahan-lahan, perisai milik mereka mengalami keretakan membuat sang naga yang menyadarinya mengerahkan lebih banyak serangan ke arah mereka.


 


“Hngh...! Aku tidak bisa mempertahankan sihirku lebih lama lagi...!”


 


“Aku juga...!”


 


“B-Bertahanlah semuanya...!”


 


“T-Tidak kuat...! Aku sudah tidak kuat lagi...!”


 


“Kita semua akan mati tanpa perisai sihir...!”


 


Dalam keadaan panik, mereka hanya bisa berharap bahwa rentetan serangan itu segera berakhir. Akan tetapi, seperti yang bisa dilihat, sang naga sama sekali tidak berniat menghentikan serangannya. Ia justru menikmati saat-saat perjuangan mereka perlahan menemui kegagalan dengan mengirimkan lebih banyak lagi tembakan sihir.


 


“Rrrrr...!!”


 


Ia meraung sambil membentangkan kedua sayapnya menciptakan lebih banyak peluru sihir. Sebagai akibat tembakannya yang tanpa henti, seluruh area di sekitar mereka hancur lebur rata dengan tanah hanya menyisakan para petualang yang bertahan dengan perisai sihir mereka.


 


 


“S-Semangat...! K-Kami ada bersama kalian...!”


 


“U-Ugh...! T-Tidak kuat...! Aku tidak kuat lagi...!”


 


“Hngh...! Kekuatan sihirku... Aku tidak bisa menggunakannya lagi...!”


 


Para penyihir mencapai batas mereka. Mereka akhirnya jatuh satu persatu bersamaan dengan hancurnya perisai sihir yang selama ini mereka pertahankan. Tanpa adanya perisai sihir yang melindungi mereka, peluru-peluru sihir itu pun menghantam mereka secara langsung menyebabkan luka di sekujur tubuh mereka.


 


“Aaaaaaarhhhhh...!!!”


 


“Gyaaaahhh..!!!”


 


“Kyaaahhh..!!!”


 


Teriakan kesakitan langsung menggelegar ke seluruh penjuru kota ketika Lia dan Olivia yang mendengarnya terkejut oleh suara rintihan mereka. Ia yang berada dalam perjalanan menemui Leo seketika terhenti begitu menyaksikan apa yang naga itu lakukan kepada para petualang yang mencoba melawannya dari kejauhan.


 


“Kita terlambat...! Kita sudah terlambat...!” Ujar Lia dengan nada panik.


 


“N-Nona Lia...! Naga itu.. Dia...!” Balas Olivia terkejut menyaksikannya.


 


“Ya. Aku tahu itu. Mereka...” Balas Lia dengan ekspresi kecewa.


 


“Nona Lia, apa yang harus kita lakukan...?”


 


“Sudah jelas. Kita harus menolong mereka!”


 


Lia dan Olivia pun bergegas menuju ke arah mereka ketika naga itu menghentikan serangannya. Para petualang malang itu hanya bisa terkapar tidak berdaya dengan luka serius di sekujur tubuhnya setelah menerima tembakan tanpa henti itu. Beberapa dari mereka juga nyaris tewas akibat serangan langsungnya mengenai titik vital mereka.


 


“T-Tolong... S-Siapa pun...”


 


“Ugh... Hah... Urgh...”


 


“T-Tolong aku... I-Ibu... A-Ayah...”


 


Naga itu terlihat puas menyaksikan keputusasaan mereka yang mencoba meminta pertolongan. Untuk sejenak ia menikmati pemandangan berdarah itu sesaat sebelum ia memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka. Ia membuka rahangnya ketika kobaran api menyelimuti mulutnya. Ia bersiap menyemburkan apinya pada mereka yang sudah tidak berdaya untuk melenyapkan penderitaan mereka.


 


“Nona Lia..!” Seru Olivia terkejut menyaksikannya.


 

__ADS_1


“Olivia...! Lakukan sesuatu...!” Balas Lia dengan wajah panik.


 


“T-Tapi, serangan Olivia akan berdampak pada mereka juga...! Mereka sudah kehabisan kekuatan sihir sebagai pertahanan untuk melindungi mereka...!” Balas Olivia dengan ekspresi cemas.


 


“Mnh... Jika seperti ini, mereka akan tewas...!”


 


Lia mencoba memutar otaknya mencari cara untuk menghentikan naga itu membunuh mereka semua.


 


“(Aku tidak punya banyak waktu...! Meski aku mengerahkan serangan dari jarak ini, seranganku tidak akan sempat mengenainya...! Ini benar-benar skenario terburuk...!)” Ujar Lia dalam hatinya panik.


 


Ketika Lia menyadarinya, ia telah kehabisan waktu. Naga itu terlanjur menyemburkan apinya bahkan sebelum ia sempat memikirkan cara untuk menghentikannya.


 


“(Aku terlambat...! Mereka semua akan mati...!)” Ujar Lia dalam hatinya panik dan kecewa.


 


Akan tetapi, sesaat sebelum kobaran api sempat menyentuh para petualang, secara mengejutkan seseorang misterius datang menyerang naga itu. Ia melesat ke arah naga tersebut sesaat sebelum ia menghunuskan pedangnya yang berselimut sihir petir langsung ke rahangnya yang menyebabkan semburan apinya terhambat. Mulutnya meledak membuatnya gagal menyemburkan api ketika Lia dan Olivia yang menyaksikannya terkesima.


 


“Yang barusan itu... Apakah mungkin...”


 


“Ya. Olivia juga merasakannya. Tidak salah lagi kalau itu...”


 


“Leo...!”


 


Benar, pria yang menghentikan niat naga tersebut adalah Leo. Ia menyelamatkan para petualang yang hendak menemui ajalnya dengan menyerang langsung naga itu bermodalkan sihir dan keberaniannya. Hal ini membuat Lia turut merasa lega mengetahui bahwa ia baik-baik saja.


 


Sementara itu, setelah menerima ledakan yang melukai mulutnya, naga itu kini berhadapan langsung dengan Leo dengan perasaan marah. Di atas atap bangunan itu ia berdiri menghadapinya membawa pedang hitam itu di tangannya. Naga itu untuk sekilas melihat ke arah pedangnya sebelum akhirnya menggeram kesal.


 


“Grrrr...!”


 


“Kau merindukanku?”


 


“Grrrr...! Þetta svarta sverð... Ég lykta af því... Bölvunin af því...!”


 


“Aku tidak bicara bahasa naga, tapi sepertinya kau tertarik pada benda ini, huh?”


 


“Eyðileggja...! Ég verð að eyðileggja það...! Bölvunin, verður að eyða...!”


 


Menyadari bahwa naga itu mengincar pedang hitamnya, Leo mendapatkan sebuah ide.


 


“Ternyata memang benar, kau mengincar benda ini. Kalau begitu, kau harus merebutnya dari mayatku terlebih dahulu...!” Ujar Leo menyarungkan pedang hitamnya sebelum akhirnya melesat pergi.


 


“....?!”


 


Tepat ketika menyadarinya, Leo telah melarikan diri darinya membawa pedang itu. Dengan menggunakan kecepatan kilatnya, ia berpindah dari satu atap bangunan ke atap bangunan lain dalam waktu yang sangat singkat menjauh dari naga tersebut.


 


“Rrrr...!”


 


Melihat hal itu, sang naga yang marah memutuskan untuk mengejarnya. Ia mengabaikan para petualang yang sekarat itu sebelum akhirnya ia terbang meninggalkan kota mengikuti Leo yang berniat melarikan diri darinya.


 


Di sisi lain, Lia dan Olivia yang menyaksikan hal tersebut hanya bisa dibuat terkesima saat mereka mendengar semua percakapannya dengan naga itu.


 


“Olivia... Apa kau punya petunjuk mengenai apa sebenarnya monster itu...?” Tanya Lia dengan wajah terkesima.


 


“O-Olivia tidak  tahu... Olivia hanya tahu kalau makhluk itu adalah naga... Memang tidak salah lagi kalau ia adalah naga... Hanya saja Olivia belum pernah melihat yang sepertinya sebelumnya...” Balas Olivia dengan nada panik.


 


“Ya. Aku juga sama. Naga yang aku tahu tidak bisa bicara. Meski mereka pintar, tetapi kebanyakan dari mereka tidak mampu untuk berbicara. Dengan kata lain, dia bukan sembarangan naga!” Balas Lia dengan ekspresi serius.


 


“Kalau begitu, kita harus segera menolong master! T-Tapi, bagaimana dengan para petualang yang terluka itu...?”


 


Lia terdiam sejenak memikirkan ucapan Olivia. Memang benar jika mereka tidak bisa meninggalkan para petualang itu begitu saja. Dengan keadaan mereka yang sekarat, mereka bisa saja tewas sebelum para prajurit datang membawa mereka.


 


“(Itu artinya salah satu dari kami harus ada yang tinggal. Saat ini keadaan mereka cukup membahayakan, jika tidak ditangani segera, mereka semua bisa tewas...!)” Ujar Lia dalam hatinya berpikir.


 


Ia memang khawatir dengan keadaan Leo, namun pada saat yang sama pula ada orang lain yang lebih membutuhkan pertolongannya saat ini. Hal ini akhirnya membuat Lia mengambil keputusan berat untuk tinggal dan menyerahkan Leo pada Olivia untuk membantunya.


 


“Olivia, pergilah. Aku akan tinggal dan menjaga mereka...” Ujar Lia dengan hati berat.


 


“E-Eh...?! Nona Lia, apa anda yakin...?” Balas Olivia terkejut dengan pernyataannya.


 


“Ya. Aku benci mengatakannya, tetapi nyawa para petualang itu jauh lebih penting saat ini. Aku tidak bisa mengabaikan mereka begitu saja...” Jawab Lia dengan ekspresi serius.


 


Olivia terdiam begitu mendengar jawaban Lia sesaat sebelum akhirnya ia mematangkan hatinya untuk pergi menyusul Leo.


 


“Nona Lia, serahkan master kepada Olivia.” Ujar Olivia dengan ekspresi serius.


 


“Ya. Leo sangat membutuhkan kekuatanmu saat ini. Pergilah sebelum semuanya terlambat.” Balas Lia dengan nada serius.


 


“Baik!”


 


Olivia pun beranjak pergi setelahnya, meninggalkan Lia seorang dengan perasaan sedih di hatinya. Ia memang masih belum bisa merelakan keputusannya membiarkan Olivia sendirian menyusulnya, namun saat ini tugas penting yang harus ia lakukan. Ia bergegas menuju ke tempat para petualang itu berada untuk memberikan pertolongan untuk mereka.


 

__ADS_1


“(Leo, tolong jangan lakukan sesuatu yang nekat...)”


__ADS_2