
... ...
Sementara itu, kembali pada Northey yang gagal mendapatkan peninggalan kuno yang ada di kota Winsberg, ia memutuskan untuk menuju ke kota Ribern setelah mendapatkan surat dari Richard. Walau ia belum bisa melupakan kejadian pencurian itu, namun ia memutuskan akan mengesampingkan masalah tersebut untuk menemui temannya guna menyampaikan sesuatu.
Ia akhirnya sampai di danau Bern yang merupakan bagian dari wilayah kota Ribern. Sesampainya di pintu masuk kota, ia beserta rombongannya langsung menuju gedung wali kota untuk menemui temannya ketika penduduk kota dibuat terkejut melihat kedatangannya.
“Zirah itu... Ksatria Suci...?” Ujar salah seorang penduduk yang melihatnya.
“Entah kenapa, beberapa minggu ini kota kita sering sekali dikunjungi oleh Ksatria Suci...” Sambung yang lain dengan ekspresi cemas.
“Iya. Memangnya Willham-sama ada masalah apa dengan kerajaan...?” Balas salah satu penduduk dengan ekspresi heran.
“Sshh...! Jangan keras-keras...! Jika ada yang mendengarmu mengatakan rumor mengenai Ksatria Suci maka kau akan mendapat masalah...!” Bisik seorang warga memberi peringatan.
Ucapan mereka sama sekali tidak dihiraukan oleh Northey. Meski apa yang dikatakan oleh para penduduk ada benarnya, memang dalam beberapa minggu terakhir kota Ribern sering dikunjungi oleh para Ksatria Suci. Entah apa tujuan mereka, namun yang jelas mereka semua memiliki maksud tersendiri tak terkecuali Northey. Ia memang memiliki masalah yang harus ia selesaikan dengan penguasa kota ini, yaitu Willham.
Sampai di gedung wali kota, Northey disambut oleh para pelayan yang seperti sudah menunggu kedatangannya. Ia lantas melepaskan helmnya sebelum turun dari kudanya ketika salah seorang pelayan itu menghampirinya.
“Selamat datang, Northey De Gogh-sama. Kami sudah menanti kedatangan anda, khususnya Willham-sama.” Ujar pelayan itu membungkuk hormat menyambutnya.
“Ho? Jadi dia sudah menduga kedatanganku. Dia memang orang yang menakutkan...” Balas Northey sebelum bergumam sinis.
“Ya. Silahkan lewat sini...” Balas pelayan itu menuntunnya masuk.
Bersama dengan pelayan itu, Northey masuk ke dalam gedung wali kota tempat di mana Willham telah menunggunya di kantornya. Sesampainya di depan ruangannya, pelayan itu lantas pergi meninggalkannya setelah sekiranya tugasnya selesai sesaat sebelum Northey membuka pintu. Tanpa mengetuk maupun mengucapkan sepatah kata, ia langsung membukanya saat sesosok suara menyambut kedatangannya.
“Seperti biasa, kau memang tidak sabaran, De Gogh.” Ujar seseorang dari balik kursi.
“Berkacalah pada dirimu sendiri. Kebiasaan burukmu masih saja membuat orang jijik terhadapmu.” Balas Northey dengan nada sinis.
“Aku tidak mengerti apa yang kau maksud...” Balas pria itu menampakkan diri ke hadapannya.
Pria itu berdiri dari kursinya sebelum akhirnya berbalik menampakkan sosoknya. Dia adalah seorang pria tinggi dengan rambut pirang kecokelatan panjang hingga menutupi bahunya. Dia adalah wali kota Ribern sekaligus seorang Ksatria Suci kerajaan, dialah Willham dari keluarga Greenlint. Dengan senyum sayu ia menghampiri Northey dengan ekspresi liciknya sebelum mereka saling bertatapan.
“Kau tidak bisa berpura-pura bodoh di hadapanku. Aku tidak bisa kau bodohi.” Ujar Northey dengan nada tajam.
“Padahal aku sudah repot-repot meluangkan waktu untuk berbicara denganmu, tapi sikapmu terhadapku sinis sekali. Kau bahkan tidak menyapaku setelah sekian lama kita tidak bertemu. Hatiku sakit mendengarnya...” Balas Willham dengan ekspresi sedih.
“Mau sampai kapan kau bermain-main. Yang lebih penting dari itu, ada hal yang ingin kusampaikan kepadamu.” Balas Northey masih dengan sikap yang sama.
“Heh? Aku penasaran apa itu? Memangnya apa yang membuatmu datang kemari?”
“Aku akan katakan ini singkat saja. Aku punya masalah mengenai rencana kita...”
Mendengar hal itu, ekspresi Willham seketika berubah menjadi lebih serius ketika Northey berjalan perlahan menuju dekat jendela sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Mengenai kejadian di reruntuhan kuno itu, aku yakin kau sudah mendengarnya, bukan?” Sambung Northey menoleh ke arahnya serius.
“Ya. Terjadi insiden ledakan di hutan perbatasan utara kerajaan yang merupakan lokasi reruntuhan kuno itu berada. Tapi menurutku, bukan itu masalah utamanya, bukan?” Balas Willham membuat spekulasinya.
“Benar, bukan hal itu yang ingin kubicarakan. Ada fakta lain di balik insiden itu...” Balas Northey dengan ekspresi kesal.
“Apakah itu mungkin senjata kuno yang ada di sana turut lenyap bersama ledakan itu? Atau mungkin senjata kuno itu lepas kendali dan melarikan diri dengan menciptakan ledakan itu?”
“Tidak, ini jauh lebih buruk dari pada hal itu.”
“Tunggu dulu, apa maksudmu...?”
“Senjata yang kita cari bukannya lenyap atau lepas kendali. Senjata itu telah dicuri.”
Mendengar hal itu, Willham seketika terkejut dan tidak percaya.
“Hey, jika ini bercanda, kurasa selera humormu bermasalah. Dicuri? Kau yang benar saja? Kau tahu apa yang sedang kita bicarakan, bukan?” Ujar Willham dengan ekspresi kesal.
“Apa kau pikir aku suka bercanda sepertimu?” Balas Northey berbalik menatap langsung padanya dengan wajah marah.
Menyaksikan ekspresinya, Willham seketika terdiam menyadari bahwa apa yang dikatakannya adalah benar. Ia lantas mencoba kembali tenang sambil menggali lebih dalam mengenai situasi yang dihadapi mereka.
“Bagaimana bisa itu dicuri..? Siapa yang mencurinya...? Sial, penelitianku padahal sudah sejauh ini...!” Ujar Willham dengan wajah marah.
“Aku tidak tahu, tetapi aku tahu seperti apa dia. Aku menangkap keberadaannya ketika dia secara tidak sengaja masuk ke dalam sihir penghalangku.” Balas Northey mengerutkan dahinya.
“Kau menangkap keberadaannya? Seperti apa orang itu?” Balas Willham tertarik.
“Yang jelas dia bukan orang biasa. Aku merasakan kekuatan sihir yang besar dalam dirinya. Dan juga, aku punya petunjuk lain yang mungkin berhubungan...”
“...??”
__ADS_1
Northey menunjukkan surat yang ditulis Richard kepadanya. Menerima surat itu, Willham lantas membacanya sebelum akhirnya mengerti apa yang dia maksud.
“Jadi begitu ya, Leonard Ansgred, huh? Memang benar teorimu itu masuk akal. Aku pernah mendengar namanya di kalangan petualang...” Ujar Willham dengan ekspresi sinis.
“Hm. Seperti yang bisa diharapkan darimu. Kau tahu lebih banyak tentang dia dari pada aku tentunya...” Balas Northey sambil mendengus singkat.
“Ya. Menurut kabar, dia adalah petualang pengelana yang dijuluki sebagai Salju Pengelana. Asalnya tidak diketahui, namun namanya menjadi terkenal sejak dia berhasil membunuh seekor Elder Troll di sebuah kota di wilayah barat...” Balas Willham menjelaskan singkat tentang orang mereka curigai.
“Elder Troll, huh...? Jarang sekali melihat makhluk seperti itu. Melawannya cukup menantang karena dia mempunya kemampuan regenerasi yang merepotkan.”
“Lalu setelah itu, aku juga sempat mendengar namanya di kota Hillbern. Kurasa dia terlibat dengan penjelajahan terhadap peninggalan kuno di kota itu sebagai petualang...”
“Tunggu, bukankah tidak ada yang selamat dari ledakan dahsyat yang menghancurkan situs peninggalan kuno itu?”
“Tidak, kau salah. Ada korban selamat dari peristiwa itu. Dan jika kau sebut ini kebetulan, maka aku akan menyebutnya sebagai keajaiban. Keajaiban telah menuntunnya sejauh ini sampai ke tempatmu...”
Menyadari maksud ucapannya, Northey seketika terkejut mengetahui bahwa orang yang selama ini ia cari adalah Leo. Dia adalah alasan mengapa Richard memerintahkannya untuk mencarinya karena dialah satu-satunya orang yang selamat dan menyimpan rahasia yang disembunyikan oleh orang-orang dari kerajaan kuno tersebut. Itu menjadi masuk akal karena semua rangkaian kejadian besar itu melibatkan dirinya.
“Jadi dia adalah orang yang mencuri senjata kuno itu...?!” Ujar Northey dengan ekspresi marah.
“Kelihatannya begitu. Jika spekulasiku benar, dia sengaja mencuri senjata kuno setelah melihat kebenaran yang ada di bawah kota Hillbern. Entah apa motif dibaliknya melakukan hal ini, tapi yang jelas Richard-sama menyadari hal ini. Kau sudah memberitahu masalah ini kepadanya?” Balas Willham berpikir sebelum bertanya kepadanya.
“Justru itulah masalah yang ingin kubicarakan denganmu. Aku belum bisa memberitahu masalah ini kepada Richard-sama. Jika dia tahu kalau aku gagal mendapatkan senjata kuno untuk rencananya, aku pasti akan berada dalam masalah.” Balas Northey dengan nada cemas.
“Jadi itu alasan kenapa kau datang ke sini, huh?”
“Ya. Aku benci mengakuinya, tapi aku tidak tahu lagi harus berbuat apa...”
Willham terlihat terdiam sejenak sambil memikirkan sesuatu ketika Northey mulai merasa di ujungnya. Hingga pada akhirnya, ia secara tiba-tiba tersenyum dan terkikik begitu Northey merasa aneh terhadapnya.
“Ada apa...? Apa ada hal yang lucu dengan ucapanku...?” Tanya Northey dengan wajah kesal.
“Tidak, aku baru saja menemukan ide yang bagus...” Balas Willham tertawa dengan senyum menyeringai.
“Apa maksudmu...? Kau tahu cara menyelesaikan masalah ini...?”
“Aku takut aku bisa membantumu. Tapi, sebagai gantinya aku punya jalan keluar yang lain...”
“Aku akan memberitahumu sedikit rahasia. Keluargaku memang terkenal di kalangan pedagang, oleh karena itulah kami memiliki koneksi yang sangat luas. Itulah mengapa aku bisa tahu kejadian yang sedang hangat diperbincangkan. Oleh karena itu, aku menawarimu kerja sama...”
“Kerja sama? Apa yang kau inginkan dariku?”
“Hm... Mengenai hal itu...”
Melihat senyum liciknya, Northey lantas menaruh tangannya pada pedangnya sambil memberinya tatapan tajam mengintimidasi sebelum ia bicara dengannya.
“Walaupun kita mengemban misi yang sama dari Richard-sama, tapi jika kau memiliki niat busuk padaku, aku tidak akan segan menghabisimu.” Ujar Northey dengan nada mengancam.
“Whoa... Menakutkan sekali. Tapi sepertinya kau salah paham, aku tidak berniat buruk kepadamu. Aku hanya menawarkanmu sebuah pertukaran.” Balas Willham dengan ekspresi ketakutan yang disengaja.
“Pertukaran apa yang kau maksud?”
Dengan senyum menyeringai, Willham mengutarakan idenya kepadanya. Entah apa yang direncanakannya, namun kemungkinan besar ia memiliki maksud tersembunyi.
Sementara itu, setelah Leo menghabisi para Orc yang mengejarnya, ia kembali berkumpul bersama Lia dan Olivia. Dengan ekspresi wajah senang, Olivia menyambut kedatangannya dengan senyum bersinar di bibirnya ketika ia menghampiri mereka.
“Master, selamat datang kembali. Senang melihat master baik-baik saja...” Ujar Olivia dengan nada gembira.
“Maaf membuat kalian menunggu lama. Aku sedikit memeriksa mayat para Orc yang menyerangku.” Balas Leo dengan wajah datar.
“... Kau menemukan sesuatu?” Tanya Lia selesai dengan pekerjaannya.
“Tidak ada yang bisa dijadikan petunjuk di sana. Bagaimana dengan kalian berdua di sini?” Balas Leo sebelum bertanya kepada mereka.
“... Mhm. Sama sepertimu, tidak ada hal yang bisa dijadikan petunjuk. Aku telah memeriksa kedua mayat ini namun tidak ada hasil.” Balas Lia menggelengkan kepalanya.
“Baik jejak maupun mayat mereka semuanya tidak menunjukkan apa pun. Kurasa mereka bukan kelompok yang menculik warga desa itu...”
“... Aku juga berpikir begitu.”
Menyadari bahwa mereka melacak kelompok yang salah, Leo lantas memutar otaknya untuk mencari cara lain untuk mencari jejak para Orc yang menjadi target utama mereka. Namun, dengan terbatasnya petunjuk yang ada, rasanya akan memakan banyak waktu untuk menemukan kelompok yang mereka incar.
Melihat Leo terdiam kesulitan, Olivia akhirnya angkat bicara menawarkan idenya untuk membantunya.
__ADS_1
“Master, jika hanya melacak kawanan Orc, Olivia sanggup melakukannya. Jika master berkenan, Olivia bisa melacak mereka.” Ujar Olivia menawarkan diri.
“Tunggu, kau bisa melakukan itu..? Bagaimana caramu melakukannya...?” Balas Leo terkejut.
“Ya. Olivia bisa melakukannya dengan sihir pelacak miliknya.” Balas Olivia tersenyum mengangguk.
“Sihir pelacak..?”
“Ya. Seperti namanya, sihir ini bisa melacak musuh dalam radius tertentu berdasarkan esensi hidupnya. Dengan kata lain, sihir ini melacak energi kehidupan target yang masuk dalam jangkauannya.”
Mendengar hal itu Leo menjadi tertarik. Dengan sihir itu, mereka pasti bisa menemukan tempat tinggal para Orc itu dengan cepat. Ini bisa menghemat waktu sekaligus bisa memantau keadaan dengan lebih baik.
“Bagaimana menurut master? Apakah master ingin Olivia menggunakannya?” Sambung Lia menawarkan.
“Tunggu dulu, sebelum kau menggunakannya, seberapa akurat sihir pelacakmu itu? Seberapa jauh lingkup areanya?” Ujar Lia memotong.
“Tingkat akurasi sihir ini dihitung dari lingkup area dan kondisi target. Selama target belum tewas atau kehabisan sihir, Olivia bisa memastikan bahwa tingkat akurasi sihir ini 100%. Dan mengenai lingkup areanya, Olivia bisa menyesuaikannya sesuai yang diperlukan. Maksimum luas area yang bisa Olivia capai adalah 50 sampai 70 mil.” Jawab Olivia menjelaskan.
“A-“
“70 mil...?!” Ujar Leo terkejut.
“Ya. Dalam kekuatan penuh, Olivia bisa menjangkau jarak tersebut. Bagaimana menurut anda, master?” Balas Olivia kembali menawarkan diri.
Setelah mempertimbangkan dengan matang, Leo akhirnya setuju untuk menggunakannya. Meski ia sempat cemas dengan konsekuensi yang mungkin dapat ditimbulkan jika menggunakan sihir dengan skala sebesar itu. Namun, demi menyelesaikan misi, kekuatannya memang diperlukan.
“Baiklah. Aku mengizinkannya.” Ujar Leo dengan pertimbangan.
“Kau yakin akan hal itu?” Tanya Lia dengan ekspresi ragu.
“Untuk saat ini, ada baiknya kita menyelesaikan misi ini secepat mungkin.” Balas Leo dengan wajah serius.
“... Baiklah jika kau sudah seyakin itu.” Balas Lia menerima keputusannya.
“Olivia, lacak mereka.” Ujar Leo dengan nada tegas.
“Dimengerti, master.” Balas Olivia sigap.
Meski Lia ragu dengan keputusannya, pada akhirnya ia hanya bisa pasrah menerimanya. Bagaimana pun juga, mereka melakukan pekerjaan ini juga untuk melancarkan rencananya. Oleh karena itu, ia tidak bisa banyak menuntut.
Setelah menerima perintah darinya, Olivia mulai merapalkan mantranya. Cahaya keemasan mulai muncul di sekitarnya sesaat sebelum rangkaian lingkaran sihir memenuhi ruang antara dirinya dan sekitarnya.
“Menyesuaikan daya sihir pada sistem... Memulai proses pelacakan...” Ujar Olivia memejamkan matanya sambil meregangkan kedua tangannya.
Tak berselang setelahnya, rangkaian sihir seketika menyelimuti tubuh Olivia membentuk sebuah kubah cahaya keemasan ketika mereka berdua yang menyaksikannya terkesima. Mereka belum pernah melihat sihir semacam ini sebelumnya, rangkaian sihir yang ada ditumpuk membentuk rangkaian lain yang lebih kompleks tanpa kehilangan kendali ataupun mengalami persimpangan. Tidak salah lagi yang mereka lihat saat ini adalah tehnik sihir tingkat tinggi yang tidak bisa sembarang orang lakukan.
“Luar biasa... Energi sihirnya sangat besar...” Gumam Leo terkesima menyaksikannya.
“Aku belum pernah melihat rangkaian sihir sebanyak itu dalam pengaktifannya...” Sambung Lia ikut terkesima.
Olivia yang telah selesai dengan persiapannya lantas mengaktifkan rangkaian sihirnya dengan sebuah mantra singkat sebagai pemicunya.
“Veldextensie.”
Seketika itu pula, kekuatan sihirnya menyebar ke seluruh penjuru hutan layaknya sebuah gelombang dengan dirinya sebagai pusatnya. Semua makhluk hidup yang dilewati oleh gelombangnya langsung tertangkap oleh indranya hingga membuatnya dapat mengetahui makhluk apa dan di mana letak keberadaannya.
“Target ditemukan! 12 mil di arah jam 3 dengan jumlah 37 ekor Orc, dua di antaranya High Orc dan satu ekor Orc dengan kekuatan sihir yang tidak biasa! 7 orang manusia korban penculikan ada di dekat mereka. Semuanya terpantau masih hidup!” Ujar Olivia membuka matanya menunjuk pada satu titik.
“T-Tidak bisa dipercaya, dia menemukannya secepat itu dan bahkan mengetahui setiap detail mereka...” Balas Leo terkesima.
“Lokasi sudah didapat, kita harus bergerak.” Ujar Lia dengan ekspresi serius.
“Ya. Kita ke sana sekarang!” Balas Leo sigap.
“Dimengerti!”
Mereka lantas menuju arah yang telah ditunjukkan oleh Olivia tanpa menyadari sesuatu yang fatal. Sebagai akibat menggunakan sihir sebesar itu, mereka tanpa sengaja telah membangunkan monster yang jauh lebih mengerikan yang mendiami hutan tersebut. Monster itu keluar dari sarangnya setelah merasakan daya sihir luar biasa yang dilepaskan Olivia ke seluruh penjuru hutan.
“Grrrrr....”
Dengan mata tajamnya ia melihat ke satu titik di hutan itu sesaat sebelum ia meraung menunjukkan sosoknya yang perkasa. Suara raungannya membangunkan sesama jenisnya yang secara kebetulan hidup tak jauh darinya sesaat sebelum mereka membalas panggilannya dengan raungan lain yang menggema di udara.
“Rrrrrrr...!!”
Mengikuti sang pemimpin, mereka melebarkan sayapnya sesaat sebelum mereka terbang mengikutinya dari belakang. Kini mereka telah terbangun dari tidurnya dan siap menebarkan teror mematikan dari atas langit pada siapa pun yang telah membangunkan mereka.
__ADS_1