Black Arc Saga

Black Arc Saga
Pemuda tanpa bakat


__ADS_3

Seribu tahun yang lalu, saat perang


kuno terjadi, dengan kekuatan yang tersisa, para dewa memberikan kekuatan


terakhir mereka untuk dunia sebelum akhirnya mengorbankan diri mereka untuk


menyegel iblis selamanya. Dan demikianlah, berkah terakhir mereka yang disebut


sebagai Skill terlahir.


Skill adalah segalanya di dunia ini,


karena ia adalah berkah terakhir dari dewa untuk dunia. Dengan Skill, takdir seseorang


dapat berubah. Namun, karena hal tersebut pula, manusia menjadi tergantung


dengan Skill dan menempatkan kemampuan yang mereka dapat sebagai tingkatan


dalam kehidupan masyarakat. Dan sebagai sebabnya, orang yang mendapat berkah


yang lebih lemah terpaksa tersisih dan hidup sebagai pecundang. Semua itu sudah


cukup buruk, akan tetapi bagaimana jika ada seseorang yang terlahir tanpa


mendapat berkah dari dewa?


Itu adalah malam yang sangat tenang di


tepi sebuah danau kecil yang berada di pinggiran kerajaan. Serangga malam


bernyanyi dengan alunan nada khasnya saat burung malam bersiul di antara


pepohonan hutan. Tak jauh darinya, berdirilah sebuah tenda sederhana dari


ranting dan dedaunan bersama dengan seseorang yang duduk dengan tenang di dekat


api unggun.


“Hah... Malam yang tenang lainnya


setelah hari perjalanan yang panjang...” Gumamnya sambil menghela nafas


panjang.


Sambil melihat ke arah danau dengan


mata keperakannya, pemuda itu menyantap daging panggang yang baru saja matang


saat hembusan angin menerpa rambutnya yang berwarna putih bersih layaknya kain


sutra. Ia menikmatinya walau keadaannya terkesan sangat jauh dari kemewahan.


Pemuda tersebut bernama Leonard


Ansgred, seorang pengelana muda dari tempat yang jauh. Tidak ada hal yang


menarik darinya selain rambut putihnya dan mata berwarna berwarna peraknya.


Dibalik semua itu, ia menyimpan sebuah rahasia pahit yang ia sembunyikan selama


hidupnya. Benar, rahasia itu adalah bahwa Leo adalah seorang yang tidak


memiliki Skill.


Sungguh kenyataan yang kejam


mengetahui kalau ialah satu-satunya orang di dunia ini yang tidak memiliki Skill


di mana Skill adalah hal yang paling penting di dunia ini. Sungguh ironis


memang, karena hal itu pula ia terpaksa meninggalkan semua yang ia ketahui setelah


ia diusir dari desa tempat tinggalnya. Sejak saat itulah Leo sadar dan


memutuskan untuk berkelana untuk mencari tempatnya, tempat di mana seorang


tanpa bakat sepertinya bisa diterima.


“Sudah larut, huh...?” Gumam Leo


melihat ke langit malam yang penuh bintang.


Ia perlahan mengingat bagaimana


keadaannya saat berada di desanya dan alasannya berkelana selama ini. Untuk


sesaat itu membuatnya mengingat kenangan menyedihkan, namun ia mencoba tegar


dan menjalaninya semampunya.


“Tempat di mana seseorang sepertiku


dapat diterima... Mungkin hanya mimpi saja... Tetapi, biarlah...” Gumam Leo


sebelum menghela nafas panjang.


Malam sudah larut dan sudah saatnya


untuknya beristirahat dari hari yang melelahkan ini. Leo pun masuk ke dalam


tendanya bersiap untuk tidur, namun...


*BOOM!*


Saat Leo hendak memejamkan matanya,


tiba-tiba terdengar suara ledakan yang keras hingga membuatnya seketika


terbangun.


“Suara itu... Apa jangan-jangan


ledakan...?!” Ujar Leo terkejut melihat keluar tenda.


Tak berselang, suara ledakan keras


kembali terdengar disertai dengan munculnya kepulan asap hitam dari balik bukit


di sebrang danau.


“(Apa yang terjadi...? Itu bukan


hanya sekedar ledakan biasa...!)” Gumam Leo dalam hatinya gelisah.


Itu bukan hanya sekedar ledakan


biasa. Entah mengapa perasaan Leo mengatakan ada sesuatu yang lain dibalik


ledakan barusan. Karena merasa ada yang tidak beres, Leo pun memutuskan untuk


memeriksanya.


Melewati semak dan belukar, Leo


akhirnya sampai pada puncak bukit tepat ketika ia bisa melihat jelas apa yang


berada di baliknya. Pemandangan mengerikan menyambutnya, kawah membara terlihat


jelas di beberapa titik, pohon-pohon tumbang seolah dipotong oleh sesuatu dalam


satu kali tebasan, serta beberapa bekas pertarungan.


“Apa yang telah terjadi di sana...?”


Gumam Leo dengan wajah cemas.


Saat Leo memutuskan untuk menuruni


bukit dan mencari tahu apa yang terjadi, ia tertahan oleh sesuatu yang menarik perhatiannya.


“Orang...? Tidak, sekelompok orang? Terlebih,


mereka menggunakan armor?” Gumam Leo mencoba melihat lebih jelas.


Leo melihat ada beberapa orang di


bawah sana dengan memakai armor lengkap. Leo tidak tahu siapa mereka, namun


sepertinya keberadaan mereka di sana menjelaskan beberapa hal yang terjadi


sebelumnya.


Penasaran dengan keberadaan mereka,


Leo pun memutuskan untuk menuruni bukit dan mendekat guna mencari tahu kenapa


mereka ada di sana.


“Ini sangat mudah. Jujur, aku sedikit


kecewa dengannya.” Ujar seorang ksatria dengan tombak.


“Yah, karena lawan kita adalah


pelayan tua, tidak heran kalau membosankan.” Ujar ksatria dengan armor emas


membalasnya.

__ADS_1


“Ya ampun, kalian menganggap misi ini


sebagai permainan? Tidak bisakah kalian bersikap lebih dewasa?” Sambung ksatria


wanita di antara mereka mengeluh.


“Ya. Ya. Ya. Aku tidak ingin dengar


itu darimu.” Balas ksatria berarmor emas dengan wajah mengejek.


“Kau tahu, aku tidak suka saat kau


menunjukkan wajah itu. Haruskah aku menyayatnya keluar dari kepalamu?” Balas


ksatria wanita itu kesal.


“Dasar tidak berguna. Aku dikelilingi


orang-orang bodoh.” Gumam ksatria tombak mengeluh.


Dilihat dari baju besi mereka dan


lencana di dada mereka, kelihatannya mereka adalah Ksatria Suci kerajaan. Entah


apa yang membuat Ksatria Suci datang ke tempat ini, tetapi Leo merasa itu bukan


sesuatu yang baik.


Ksatria wanita itu masih bersiteru


dengan ksatria emas. Semuanya itu masih berlanjut hingga akhirnya ksatria


dengan tubuh besar turun tangan mengakhirinya setelah kesal dengan pertikaian


mereka.


“Kalian berdua, diamlah. Aku sudah


cukup mendengar omong kosong kalian.” Ujarnya dengan nada marah.


“Dia yang mulai lebih dahulu!” Balas ksatria


wanita membuang pandangannya kesal.


“Tidak, tunggu dulu! Itu semua


berawal darimu!” Sambung ksatria emas itu membantah.


“Bagiku kalian berdua sama saja.”


Balas ksatria tombak menyinggung mereka.


“Tidak bisakah kalian diam!” Seru


ksatria bertubuh besar menghentikan mereka.


Melihatnya marah, mereka berdua pun


memutuskan untuk menyudahi pertengkaran mereka sebelum akhirnya meminta maaf


kepadanya.


“Maaf, kapten.” Ujar ksatria emas


membuang wajahnya menyesal.


“Ya. Tolong maafkan yang barusan...”


Sambung ksatria wanita menundukkan kepalanya.


“Jadi, sekarang apa tindakan kita,


kapten?” Ujar ksatria tombak bertanya.


Kapten mereka melihat keadaan sekitar


sebelum angkat bicara menjawab pertanyaannya.


“Kita kembali ke ibu kota sekarang


sebelum ada yang melihat kita.” Ujarnya setelah yakin akan keputusannya.


“Kupikir kau akan menghabisinya.


Tapi, kenapa kau tidak melakukannya?” Tanya ksatria wanita melihat ke arah


lain.


“Padahal aku juga ingin berduel


dengannya. Aku ingin tahu sejauh mana kemampuan anak perempuan orang itu.” Sambung


“Biarkan saja. Biarpun lukanya tidak


terbilang fatal, dia sudah kehilangan banyak darah. Aku yakin dia akan segera


mati kehabisan darah atau dimangsa binatang liar.” Balas sang kapten mengabaikannya.


“Kalau itu kapten bicara begitu,


baiklah.” Balas ksatria emas mengangkat bahunya.


Mereka pun meninggalkan tempat


tersebut ketika Leo memutuskan untuk meninggalkan tempat persembunyiannya.


Namun...


“Tunggu...!” Ujar ksatria tombak


berhenti mendadak.


“Ada apa? Apa ada masalah?” Tanya


sang kapten menoleh ke arahnya.


“Aku merasa seperti ada yang


mengawasi kita sejak tadi.” Jawabnya berjalan menuju ke arah hutan.


“Hah...? Itu tidak masuk akal. Aku


sama sekali tidak merasakan apa pun.” Ujar ksatria emas menyangkalnya.


Ksatria tombak perlahan berjalan


menuju ke arah Leo bersembunyi. Ia lantas mengurungkan niatnya untuk keluar dan


memutuskan untuk kembali bersembunyi.


“(Ini gawat...! Jika sampai dia


menemukanku, maka aku akan dibunuh...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.


Leo diam menahan nafasnya saat pria


itu berdiri tepat di hadapannya. Dengan penuh kecurigaan, pria itu mulai


menyisir area untuk mencari Leo.


“Aku tahu kau di sana! Aku bisa


merasakan keberadaanmu!” Serunya menggertak.


Meski ia sudah memberi peringatan,


tetap saja tidak ada jawaban. Itu tidak memberinya banyak pilihan lain.


“Keluar atau aku akan menebas


kepalamu!” Serunya kembali dengan nada mengancam.


Sama seperti sebelumnya, masih tidak


ada jawaban maupun respon apa pun dari dalam hutan.


“Kalau begitu, kau tidak memberiku


pilihan...” Ujarnya dengan wajah serius.


Dengan mengalirkan sihir pada


tombaknya, ksatria itu menebas hutan di hadapannya dengan sebuah tebasan yang


sangat kuat. Dalam sekejap, pohon-pohon beterbangan terbelah menjadi dua


bersama dengan hempasan kuat yang menyapu semua yang ada di hadapannya. Tak ada


yang tersisa setelah serangan tersebut selain pangkal pohon yang terpotong dan


dedaunan yang berserakan akibat hempasan udara sebelumnya.


“Hanya perasaanku saja, huh?”


Gumamnya dengan wajah heran.


“Oi...! Kau sudah selesai di sana?

__ADS_1


Kami sudah menunggumu sampai ingin mati!” Seru ksatria emas memanggilnya.


“Ya. Aku segera menyusul.” Balasnya


berjalan pergi menghampirinya.


Setelah kecurigaannya hilang, ia pun


kembali bersama rekan-rekannya menuju ke ibu kota kerajaan meninggalkan Leo sendirian


di sana sebelum akhirnya ia keluar dari tempat persembunyiannya dengan wajah


panik penuh keringat.


“Hah... Nyaris saja...” Gumam Leo


dengan nafas berat.


Serangannya barusan nyaris saja


membunuh Leo. Jika ia tidak menyadarinya dan menghindar, mungkin ia tidak lagi


berdiri seperti sekarang. Bagaimana pun juga, akhirnya mereka pergi dan kini ia


aman menyelidiki apa yang telah mereka perbuat.


Leo melihat sekitar pada sisa-sisa


pertarungan mereka. Terlihat jelas bagaimana semua itu berlangsung, tanah


terbelah layaknya tersayat, kawah merah bekas ledakan dan banyak hal lain lagi


yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.


“(Seperti yang bisa diharapkan dari


Ksatria Suci... Kekuatan mereka bukan hanya sekedar nama saja...)” Ujar Leo


dalam hatinya berjalan perlahan di antara sisa-sisa pertarungan mereka.


Saat Leo tengah melihat sekitar, ia


secara tidak sengaja melihat sesosok pria yang tewas secara mengenaskan tak


jauh darinya. Ia tewas dengan keadaan tertusuk pedang dan tombak hingga tidak


mampu lagi dikenali. Melihat hal tersebut, Leo akhirnya memutuskan untuk


menghampirinya untuk memeriksa keadaannya.


“Bertahanlah... Apa kau bisa


mendengarku..?” Ujar Leo menghampirinya sebelum akhirnya memeriksa keadaannya.


Kondisinya sangat mengerikan bahkan sampai


Leo hampir muntah melihatnya. Darahnya membanjiri tubuhnya sendiri, pedang dan


tombak yang menancap di tubuhnya itu membuatnya terlihat benar-benar


mengerikan.


“(Apa mereka yang melakukan hal ini


kepadanya...? Kenapa hal mengerikan ini bisa terjadi...?)” Ujar Leo dalam


hatinya prihatin akan kondisinya.


Pada saat yang sama, tangan pria


tersebut perlahan bergerak secara mengejutkan sebelum ia berkata kepada Leo


dengan nada lemah.


“Tolong... Siapapun...” Ujarnya


dengan nada lemah.


“Eh...?!”


Leo terkejut begitu mendengar suaranya.


Ia tidak mengira dengan keadaannya yang sangat mengenaskan ini dia masih mampu


bertahan.


“Bertahanlah, tuan! Aku akan segera


menolongmu!” Ujar Leo mencoba memberinya pertolongan pertama.


“A-Anak... Muda...” Sambung pria itu


mencoba bicara dengan sisa tenaganya.


“Jangan khawatir, tuan, saya ada di


sini! Anda jangan cemas, saya pasti akan menolong anda!” Balas Leo mencoba


meyakinkannya.


Saat Leo hendak menarik pedang yang


menancap di tubuhnya, pria itu memberikan sebuah pedang ke arah Leo dengan


sisa-sisa tenaga yang ia miliki dan berkata dengan suara yang sangat lirih.


“Tolong... Jaga... Nona... Muda...”


Ujarnya dengan nada terakhirnya.


“E-Eh...? Apa maksud anda...?” Balas


Leo terkejut dan kebingungan.


Sebelum sempat menjawab pertanyaan


Leo, pria tersebut menjatuhkan pedangnya sebelum akhirnya Leo menerimanya


dengan keadaan bingung. Pria itu pun menghembuskan nafas terakhirnya tak lama


setelah memberikan pedang itu kepadanya.


“Tuan...! Tuan! Tolong jawab...!”


Ujar Leo panik.


Saat menyadarinya, Leo tahu itu sudah


terlambat. Pria itu sudah meninggal bahkan sebelum ia sempat menolongnya.


“Tidak mungkin...” Ujar Leo dengan wajah


kecewa.


Leo tak sempat menolong pria itu dan


itu membuatnya merasa menyesal. Ia terlambat menyelamatkannya dan kini ia tidak


tahu lagi harus berbuat apa setelah mendengar permintaan terakhirnya.


“(Apa yang harus kulakukan...? Aku


tidak bisa menuruti permintaan terakhirnya...)” Ujar Leo dalam hatinya sedih.


Leo tak tahu lagi harus bagaimana


setelah melihat semua ini. Ia tidak tahu siapa “nona muda” yang dimaksud


olehnya. Meski ia sama sekali tidak mengenalnya, Leo tidak bisa membiarkan


permintaan terakhirnya berakhir begitu saja. Itu mengingatkannya pada kematian


seseorang yang berharga di masa lalunya yang permintaan terakhirnya masih belum


dapat Leo penuhi.


“....?!”


Saat Leo tak sengaja memalingkan


pandangannya, ia melihat sosok gadis tergeletak penuh darah yang berada tak


jauh dari pria yang hendak Leo selamatkan. Ia tidak tahu siapa dia, namun


firasatnya mengatakan bahwa dia adalah majikan pria yang baru saja meninggal


tersebut. Tanpa membuang banyak waktu, Leo pun menghampirinya untuk memeriksa


apakah dia masih hidup atau tidak.


“Bertahanlah...!” Ujar Leo menghampirinya


dengan wajah panik.


Entah bagaimana semua ini bermula,


tetapi ia tahu ada sebuah rahasia dibalik kejadian ini. Mungkinkah ini yang

__ADS_1


disebut sebagai takdir?


__ADS_2