
Seribu tahun yang lalu, saat perang
kuno terjadi, dengan kekuatan yang tersisa, para dewa memberikan kekuatan
terakhir mereka untuk dunia sebelum akhirnya mengorbankan diri mereka untuk
menyegel iblis selamanya. Dan demikianlah, berkah terakhir mereka yang disebut
sebagai Skill terlahir.
Skill adalah segalanya di dunia ini,
karena ia adalah berkah terakhir dari dewa untuk dunia. Dengan Skill, takdir seseorang
dapat berubah. Namun, karena hal tersebut pula, manusia menjadi tergantung
dengan Skill dan menempatkan kemampuan yang mereka dapat sebagai tingkatan
dalam kehidupan masyarakat. Dan sebagai sebabnya, orang yang mendapat berkah
yang lebih lemah terpaksa tersisih dan hidup sebagai pecundang. Semua itu sudah
cukup buruk, akan tetapi bagaimana jika ada seseorang yang terlahir tanpa
mendapat berkah dari dewa?
Itu adalah malam yang sangat tenang di
tepi sebuah danau kecil yang berada di pinggiran kerajaan. Serangga malam
bernyanyi dengan alunan nada khasnya saat burung malam bersiul di antara
pepohonan hutan. Tak jauh darinya, berdirilah sebuah tenda sederhana dari
ranting dan dedaunan bersama dengan seseorang yang duduk dengan tenang di dekat
api unggun.
“Hah... Malam yang tenang lainnya
setelah hari perjalanan yang panjang...” Gumamnya sambil menghela nafas
panjang.
Sambil melihat ke arah danau dengan
mata keperakannya, pemuda itu menyantap daging panggang yang baru saja matang
saat hembusan angin menerpa rambutnya yang berwarna putih bersih layaknya kain
sutra. Ia menikmatinya walau keadaannya terkesan sangat jauh dari kemewahan.
Pemuda tersebut bernama Leonard
Ansgred, seorang pengelana muda dari tempat yang jauh. Tidak ada hal yang
menarik darinya selain rambut putihnya dan mata berwarna berwarna peraknya.
Dibalik semua itu, ia menyimpan sebuah rahasia pahit yang ia sembunyikan selama
hidupnya. Benar, rahasia itu adalah bahwa Leo adalah seorang yang tidak
memiliki Skill.
Sungguh kenyataan yang kejam
mengetahui kalau ialah satu-satunya orang di dunia ini yang tidak memiliki Skill
di mana Skill adalah hal yang paling penting di dunia ini. Sungguh ironis
memang, karena hal itu pula ia terpaksa meninggalkan semua yang ia ketahui setelah
ia diusir dari desa tempat tinggalnya. Sejak saat itulah Leo sadar dan
memutuskan untuk berkelana untuk mencari tempatnya, tempat di mana seorang
tanpa bakat sepertinya bisa diterima.
“Sudah larut, huh...?” Gumam Leo
melihat ke langit malam yang penuh bintang.
Ia perlahan mengingat bagaimana
keadaannya saat berada di desanya dan alasannya berkelana selama ini. Untuk
sesaat itu membuatnya mengingat kenangan menyedihkan, namun ia mencoba tegar
dan menjalaninya semampunya.
“Tempat di mana seseorang sepertiku
dapat diterima... Mungkin hanya mimpi saja... Tetapi, biarlah...” Gumam Leo
sebelum menghela nafas panjang.
Malam sudah larut dan sudah saatnya
untuknya beristirahat dari hari yang melelahkan ini. Leo pun masuk ke dalam
tendanya bersiap untuk tidur, namun...
*BOOM!*
Saat Leo hendak memejamkan matanya,
tiba-tiba terdengar suara ledakan yang keras hingga membuatnya seketika
terbangun.
“Suara itu... Apa jangan-jangan
ledakan...?!” Ujar Leo terkejut melihat keluar tenda.
Tak berselang, suara ledakan keras
kembali terdengar disertai dengan munculnya kepulan asap hitam dari balik bukit
di sebrang danau.
“(Apa yang terjadi...? Itu bukan
hanya sekedar ledakan biasa...!)” Gumam Leo dalam hatinya gelisah.
Itu bukan hanya sekedar ledakan
biasa. Entah mengapa perasaan Leo mengatakan ada sesuatu yang lain dibalik
ledakan barusan. Karena merasa ada yang tidak beres, Leo pun memutuskan untuk
memeriksanya.
Melewati semak dan belukar, Leo
akhirnya sampai pada puncak bukit tepat ketika ia bisa melihat jelas apa yang
berada di baliknya. Pemandangan mengerikan menyambutnya, kawah membara terlihat
jelas di beberapa titik, pohon-pohon tumbang seolah dipotong oleh sesuatu dalam
satu kali tebasan, serta beberapa bekas pertarungan.
“Apa yang telah terjadi di sana...?”
Gumam Leo dengan wajah cemas.
Saat Leo memutuskan untuk menuruni
bukit dan mencari tahu apa yang terjadi, ia tertahan oleh sesuatu yang menarik perhatiannya.
“Orang...? Tidak, sekelompok orang? Terlebih,
mereka menggunakan armor?” Gumam Leo mencoba melihat lebih jelas.
Leo melihat ada beberapa orang di
bawah sana dengan memakai armor lengkap. Leo tidak tahu siapa mereka, namun
sepertinya keberadaan mereka di sana menjelaskan beberapa hal yang terjadi
sebelumnya.
Penasaran dengan keberadaan mereka,
Leo pun memutuskan untuk menuruni bukit dan mendekat guna mencari tahu kenapa
mereka ada di sana.
“Ini sangat mudah. Jujur, aku sedikit
kecewa dengannya.” Ujar seorang ksatria dengan tombak.
“Yah, karena lawan kita adalah
pelayan tua, tidak heran kalau membosankan.” Ujar ksatria dengan armor emas
membalasnya.
__ADS_1
“Ya ampun, kalian menganggap misi ini
sebagai permainan? Tidak bisakah kalian bersikap lebih dewasa?” Sambung ksatria
wanita di antara mereka mengeluh.
“Ya. Ya. Ya. Aku tidak ingin dengar
itu darimu.” Balas ksatria berarmor emas dengan wajah mengejek.
“Kau tahu, aku tidak suka saat kau
menunjukkan wajah itu. Haruskah aku menyayatnya keluar dari kepalamu?” Balas
ksatria wanita itu kesal.
“Dasar tidak berguna. Aku dikelilingi
orang-orang bodoh.” Gumam ksatria tombak mengeluh.
Dilihat dari baju besi mereka dan
lencana di dada mereka, kelihatannya mereka adalah Ksatria Suci kerajaan. Entah
apa yang membuat Ksatria Suci datang ke tempat ini, tetapi Leo merasa itu bukan
sesuatu yang baik.
Ksatria wanita itu masih bersiteru
dengan ksatria emas. Semuanya itu masih berlanjut hingga akhirnya ksatria
dengan tubuh besar turun tangan mengakhirinya setelah kesal dengan pertikaian
mereka.
“Kalian berdua, diamlah. Aku sudah
cukup mendengar omong kosong kalian.” Ujarnya dengan nada marah.
“Dia yang mulai lebih dahulu!” Balas ksatria
wanita membuang pandangannya kesal.
“Tidak, tunggu dulu! Itu semua
berawal darimu!” Sambung ksatria emas itu membantah.
“Bagiku kalian berdua sama saja.”
Balas ksatria tombak menyinggung mereka.
“Tidak bisakah kalian diam!” Seru
ksatria bertubuh besar menghentikan mereka.
Melihatnya marah, mereka berdua pun
memutuskan untuk menyudahi pertengkaran mereka sebelum akhirnya meminta maaf
kepadanya.
“Maaf, kapten.” Ujar ksatria emas
membuang wajahnya menyesal.
“Ya. Tolong maafkan yang barusan...”
Sambung ksatria wanita menundukkan kepalanya.
“Jadi, sekarang apa tindakan kita,
kapten?” Ujar ksatria tombak bertanya.
Kapten mereka melihat keadaan sekitar
sebelum angkat bicara menjawab pertanyaannya.
“Kita kembali ke ibu kota sekarang
sebelum ada yang melihat kita.” Ujarnya setelah yakin akan keputusannya.
“Kupikir kau akan menghabisinya.
Tapi, kenapa kau tidak melakukannya?” Tanya ksatria wanita melihat ke arah
lain.
“Padahal aku juga ingin berduel
dengannya. Aku ingin tahu sejauh mana kemampuan anak perempuan orang itu.” Sambung
“Biarkan saja. Biarpun lukanya tidak
terbilang fatal, dia sudah kehilangan banyak darah. Aku yakin dia akan segera
mati kehabisan darah atau dimangsa binatang liar.” Balas sang kapten mengabaikannya.
“Kalau itu kapten bicara begitu,
baiklah.” Balas ksatria emas mengangkat bahunya.
Mereka pun meninggalkan tempat
tersebut ketika Leo memutuskan untuk meninggalkan tempat persembunyiannya.
Namun...
“Tunggu...!” Ujar ksatria tombak
berhenti mendadak.
“Ada apa? Apa ada masalah?” Tanya
sang kapten menoleh ke arahnya.
“Aku merasa seperti ada yang
mengawasi kita sejak tadi.” Jawabnya berjalan menuju ke arah hutan.
“Hah...? Itu tidak masuk akal. Aku
sama sekali tidak merasakan apa pun.” Ujar ksatria emas menyangkalnya.
Ksatria tombak perlahan berjalan
menuju ke arah Leo bersembunyi. Ia lantas mengurungkan niatnya untuk keluar dan
memutuskan untuk kembali bersembunyi.
“(Ini gawat...! Jika sampai dia
menemukanku, maka aku akan dibunuh...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.
Leo diam menahan nafasnya saat pria
itu berdiri tepat di hadapannya. Dengan penuh kecurigaan, pria itu mulai
menyisir area untuk mencari Leo.
“Aku tahu kau di sana! Aku bisa
merasakan keberadaanmu!” Serunya menggertak.
Meski ia sudah memberi peringatan,
tetap saja tidak ada jawaban. Itu tidak memberinya banyak pilihan lain.
“Keluar atau aku akan menebas
kepalamu!” Serunya kembali dengan nada mengancam.
Sama seperti sebelumnya, masih tidak
ada jawaban maupun respon apa pun dari dalam hutan.
“Kalau begitu, kau tidak memberiku
pilihan...” Ujarnya dengan wajah serius.
Dengan mengalirkan sihir pada
tombaknya, ksatria itu menebas hutan di hadapannya dengan sebuah tebasan yang
sangat kuat. Dalam sekejap, pohon-pohon beterbangan terbelah menjadi dua
bersama dengan hempasan kuat yang menyapu semua yang ada di hadapannya. Tak ada
yang tersisa setelah serangan tersebut selain pangkal pohon yang terpotong dan
dedaunan yang berserakan akibat hempasan udara sebelumnya.
“Hanya perasaanku saja, huh?”
Gumamnya dengan wajah heran.
“Oi...! Kau sudah selesai di sana?
__ADS_1
Kami sudah menunggumu sampai ingin mati!” Seru ksatria emas memanggilnya.
“Ya. Aku segera menyusul.” Balasnya
berjalan pergi menghampirinya.
Setelah kecurigaannya hilang, ia pun
kembali bersama rekan-rekannya menuju ke ibu kota kerajaan meninggalkan Leo sendirian
di sana sebelum akhirnya ia keluar dari tempat persembunyiannya dengan wajah
panik penuh keringat.
“Hah... Nyaris saja...” Gumam Leo
dengan nafas berat.
Serangannya barusan nyaris saja
membunuh Leo. Jika ia tidak menyadarinya dan menghindar, mungkin ia tidak lagi
berdiri seperti sekarang. Bagaimana pun juga, akhirnya mereka pergi dan kini ia
aman menyelidiki apa yang telah mereka perbuat.
Leo melihat sekitar pada sisa-sisa
pertarungan mereka. Terlihat jelas bagaimana semua itu berlangsung, tanah
terbelah layaknya tersayat, kawah merah bekas ledakan dan banyak hal lain lagi
yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
“(Seperti yang bisa diharapkan dari
Ksatria Suci... Kekuatan mereka bukan hanya sekedar nama saja...)” Ujar Leo
dalam hatinya berjalan perlahan di antara sisa-sisa pertarungan mereka.
Saat Leo tengah melihat sekitar, ia
secara tidak sengaja melihat sesosok pria yang tewas secara mengenaskan tak
jauh darinya. Ia tewas dengan keadaan tertusuk pedang dan tombak hingga tidak
mampu lagi dikenali. Melihat hal tersebut, Leo akhirnya memutuskan untuk
menghampirinya untuk memeriksa keadaannya.
“Bertahanlah... Apa kau bisa
mendengarku..?” Ujar Leo menghampirinya sebelum akhirnya memeriksa keadaannya.
Kondisinya sangat mengerikan bahkan sampai
Leo hampir muntah melihatnya. Darahnya membanjiri tubuhnya sendiri, pedang dan
tombak yang menancap di tubuhnya itu membuatnya terlihat benar-benar
mengerikan.
“(Apa mereka yang melakukan hal ini
kepadanya...? Kenapa hal mengerikan ini bisa terjadi...?)” Ujar Leo dalam
hatinya prihatin akan kondisinya.
Pada saat yang sama, tangan pria
tersebut perlahan bergerak secara mengejutkan sebelum ia berkata kepada Leo
dengan nada lemah.
“Tolong... Siapapun...” Ujarnya
dengan nada lemah.
“Eh...?!”
Leo terkejut begitu mendengar suaranya.
Ia tidak mengira dengan keadaannya yang sangat mengenaskan ini dia masih mampu
bertahan.
“Bertahanlah, tuan! Aku akan segera
menolongmu!” Ujar Leo mencoba memberinya pertolongan pertama.
“A-Anak... Muda...” Sambung pria itu
mencoba bicara dengan sisa tenaganya.
“Jangan khawatir, tuan, saya ada di
sini! Anda jangan cemas, saya pasti akan menolong anda!” Balas Leo mencoba
meyakinkannya.
Saat Leo hendak menarik pedang yang
menancap di tubuhnya, pria itu memberikan sebuah pedang ke arah Leo dengan
sisa-sisa tenaga yang ia miliki dan berkata dengan suara yang sangat lirih.
“Tolong... Jaga... Nona... Muda...”
Ujarnya dengan nada terakhirnya.
“E-Eh...? Apa maksud anda...?” Balas
Leo terkejut dan kebingungan.
Sebelum sempat menjawab pertanyaan
Leo, pria tersebut menjatuhkan pedangnya sebelum akhirnya Leo menerimanya
dengan keadaan bingung. Pria itu pun menghembuskan nafas terakhirnya tak lama
setelah memberikan pedang itu kepadanya.
“Tuan...! Tuan! Tolong jawab...!”
Ujar Leo panik.
Saat menyadarinya, Leo tahu itu sudah
terlambat. Pria itu sudah meninggal bahkan sebelum ia sempat menolongnya.
“Tidak mungkin...” Ujar Leo dengan wajah
kecewa.
Leo tak sempat menolong pria itu dan
itu membuatnya merasa menyesal. Ia terlambat menyelamatkannya dan kini ia tidak
tahu lagi harus berbuat apa setelah mendengar permintaan terakhirnya.
“(Apa yang harus kulakukan...? Aku
tidak bisa menuruti permintaan terakhirnya...)” Ujar Leo dalam hatinya sedih.
Leo tak tahu lagi harus bagaimana
setelah melihat semua ini. Ia tidak tahu siapa “nona muda” yang dimaksud
olehnya. Meski ia sama sekali tidak mengenalnya, Leo tidak bisa membiarkan
permintaan terakhirnya berakhir begitu saja. Itu mengingatkannya pada kematian
seseorang yang berharga di masa lalunya yang permintaan terakhirnya masih belum
dapat Leo penuhi.
“....?!”
Saat Leo tak sengaja memalingkan
pandangannya, ia melihat sosok gadis tergeletak penuh darah yang berada tak
jauh dari pria yang hendak Leo selamatkan. Ia tidak tahu siapa dia, namun
firasatnya mengatakan bahwa dia adalah majikan pria yang baru saja meninggal
tersebut. Tanpa membuang banyak waktu, Leo pun menghampirinya untuk memeriksa
apakah dia masih hidup atau tidak.
“Bertahanlah...!” Ujar Leo menghampirinya
dengan wajah panik.
Entah bagaimana semua ini bermula,
tetapi ia tahu ada sebuah rahasia dibalik kejadian ini. Mungkinkah ini yang
__ADS_1
disebut sebagai takdir?