Black Arc Saga

Black Arc Saga
Surat dari jauh


__ADS_3

... ...


Sementara itu, di wilayah barat kerajaan Rushford, Lilia dan teman-temannya akhirnya sampai di kota tempat tujuan mereka, Linderfell, sebuah kota pertanian kecil yang makmur. Mengikuti arahan dari Lia, setibanya mereka di kota, mereka lantas mencari kediaman keluarga Willtern guna menyerahkan surat miliknya.


 


Namun, di dalam pelaksanaannya, mereka mengalami kendala ketika berniat mencari kediaman Willtern.


 


“Ke mana kita harus pergi...? Rumah-rumah di sini terasa sama semuanya...” Ujar Lilia dengan wajah panik.


 


“M-Mungkin jika kita mengikuti jalan, kita akan menemukan sesuatu...” Balas salah seorang anak memberi saran.


 


“Bukannya itu sama saja...? Hal itu sama saja dengan membuat kita semakin tersesat...” Balas anak kedua menentang ide itu.


 


“Aku hanya memberi saran saja...! Kau tidak perlu marah seperti itu...!” Balas anak pertama dengan wajah marah.


 


“Shhh... Jangan bertengkar. Kita berada di jalanan.” Ujar Louise mencoba melerai mereka.


 


“Tapi, Louise...” Balas anak laki-laki itu dengan nada mengeluh.


 


“Louise benar, Ed. Kita sedang dalam situasi yang serius sekarang. Jadi tolong jangan bertengkar dengan Vivian.” Sambung Lilia melerai.


 


“Kau dengar itu...?” Ujar Vivian dengan nada kesal.


 


“Ugh... Baiklah aku mengaku salah, tapi sekarang apa yang harus kita lakukan...?” Balas Ed menggerutu.


 


Mereka pun kembali terdiam mendengar pertanyaannya. Lingkungan yang asing membuat mereka tersesat dalam mengambil arah. Terlebih, mereka yang masih anak-anak harus menempuh jarak sejauh itu wajar saja jika mereka merasa panik dan kebingungan ketika pertama kali melintasi wilayah ini.


 


Sementara mereka kebingungan mencari tempat kediaman Willtern, tanpa sengaja salah seorang prajurit kota yang tengah mengawal gerobak panen melihat mereka. Melihat wajah mereka yang cemas dan kebingungan membuatnya merasa iba dan memutuskan untuk menghampiri mereka.


 


“Kalian yang ada di sana, aku belum pernah melihat kalian sebelumnya. Apa kalian pendatang baru di kota ini...?” Tanya prajurit itu menghampiri badan jalan dengan kudanya.


 


“U-Uh...”


 


“A-A-Uh...”


 


Mereka yang ketakutan dengan kemunculannya tidak bisa membalasnya. Mereka merasa ragu untuk bicara dengannya karena merasa asing padanya. Menyadari hal itu, prajurit itu lantas turun dari kudanya sebelum akhirnya perlahan menghampiri mereka kembali dengan ekspresi yang ramah.


 


“Jangan takut, paman adalah penjaga kota. Paman tidak akan melukai kalian...” Ujar prajurit itu berlutut dengan senyum ramah.


 


“U-Uh...”


 


“Kalian sepertinya berada dalam masalah... Katakan, apa yang bisa paman bantu...?” Sambung prajurit itu bertanya dengan nada lembut.


 


Mereka berempat saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bicara dengannya.


 


“U-Uh... K-Kami datang ke kota ini untuk menemui seseorang...” Ujar Louise mewakili mereka.


 


“Begitu ya. Lantas, siapa orang yang ingin kalian temui...?” Balas prajurit itu sebelum kembali bertanya kepada mereka.


 


“Soal itu... K-Kami ingin bertemu dengan tuan Willtern...” Jawab Louise dengan wajah gugup.


 


“Tuan Willtern..? Jadi kalian ingin menemui tuan Willtern...? Memangnya kenapa kalian ingin menemuinya...?” Balas prajurit itu terkejut.


 


“Saya mohon paman, tolong tunjukkan jalan menuju kediamannya...” Balas Lilia dengan wajah memelas.


 


“Y-Ya. Tolong kami, paman. Kami mohon...” Sambung Louise ikut memohon.


 


Karena tidak tega dengan mereka, akhirnya prajurit itu setuju untuk menunjukkan jalan menuju kediaman keluarga Willtern.


 


“Baiklah, walau aku tidak tahu kenapa kalian ingin bertemu dengannya, tetapi tentu. Paman bisa mengantar kalian ke sana...” Ujar prajurit itu menerima permintaan mereka.


 


“Benarkah...? Terima kasih banyak paman...!” Balas Lilia tersenyum gembira.


 


“Terima kasih banyak paman penjaga...!” Sambung Louise sambil membungkuk.


 


“Tidak masalah, lagu pula itu adalah tugas paman...” Balas prajurit itu tersenyum.


 


Bersama dengannya, mereka pun dituntun menuju kediaman keluarga Willtern.


 


Melewati beberapa bangunan kota, mereka berempat dituntun menuju sisi lain kota tempat di mana sebuah vila berdiri di antara kebun anggur yang membentang dari sisi kota.


 


“Kalian lihat rumah besar yang ada di tengah-tengah sana? Itu adalah rumah kediaman Willtern yang kalian cari...” Ujar prajurit itu menunjuk ke arah vila.


 


“Kami melihatnya. Paman, terima kasih karena telah menunjukkan jalannya...” Balas Louise menundukkan kepalanya.


 


“Maaf karena tidak bisa mengantar kalian ke depan sana. Paman masih ada tugas yang harus dikerjakan, tapi semoga kalian bisa bertemu dengan tuan Willtern.” Balas prajurit itu dengan senyum ramah.


 


“Tidak, ini sudah lebih dari cukup. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya.”


 


“Tidak masalah. Kalau begitu, paman pamit...”


 


“Mm. Sampai jumpa lagi...”


 


Setelah mengucapkan selamat tinggal, prajurit itu pun lantas menunggangi kudanya kembali melanjutkan pekerjaannya meninggalkan mereka berempat pada jalan yang menanti mereka.


 


“Baiklah, kita sudah menemukannya. Apa kalian semua siap?” Tanya Louise kepada teman-temannya.


 


“Mm! Aku siap!” Balas Vivian dengan nada yakin.


 


“Tentu.” Balas Ed sedikit cemas.


 


“Kita sudah sejauh ini. Kita tidak boleh mengecewakan kakak Lia...” Balas Lilia dengan nada serius.


 


Dengan tekad bulat, mereka pun memberanikan diri melintasi kebun anggur itu untuk menuju kediaman Willtern. Perjuangan perjalanan mereka akhirnya terbayarkan, sekarang yang tersisa adalah percaya dan berharap bahwa surat yang Lia titipkan bisa menolong mereka.


 


Sementara itu di kerajaan Moulbet, setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Leo dan lainnya sampai di kota terdekat yang menjadi tempat persinggahan mereka. Meski bukan kota yang terbilang besar, setidaknya kota itu memiliki semua yang dibutuhkan, termasuk Guild petualang tempat untuk mereka menghasilkan uang.


 


“Itu dia, Guild petualang. Beruntung di kota ini memilikinya...” Ujar Leo sambil melihat sekitar.


 


“... Walau terpencil, kota ini cukup teradministrasi dengan baik.” Balas Lia mengungkapkan pendapatnya.


 


“Baiklah, karena kita akan langsung berburu, jadi apa rencanamu, Lia...?” Tanya Leo melihat ke arahnya.


 


“Fufu...”


 


Lia tertawa pelan dengan nada yang mencurigakan sesaat sebelum mereka memutuskan untuk masuk ke dalam sana guna mencari permintaan yang bisa mereka kerjakan.


 


Sesampainya di dalam, mereka disambut oleh petualang yang tertuju pandangannya pada mereka. Sebagian dari mereka menatap dengan sinis sementara sisanya menatap dengan tatapan aneh pada Lia dan Olivia. Ini membuat Leo mengingat kembali pengalaman ketika ia pertama kali memutuskan menjadi petualang karena ajakan Lia. Saat itu perlakuan para petualang kepada dirinya sama seperti yang saat ini terjadi.

__ADS_1


 


“Hey, hey, lihat itu... Lihat siapa yang datang ke sini...” Ujar salah seorang petualang menatap mereka.


 


“Heh. Tidak biasanya aku melihat sesuatu seperti hari ini...” Balas yang lain dengan terkikik.


 


“Orang baru...? Mereka terlihat lebih buruk dari gelandangan yang ada di jalanan...” Ujar salah seorang petualang wanita menatap dengan tatapan sinis.


 


“Oi. Oi. Lihat si rambut coklat itu... Lihat kaki indahnya itu...” Ujar salah seorang petualang menatap Lia dengan pandangan mesum.


 


“Ada sesuatu yang menggantung pada si rambut putih itu, tapi bukan harapan...” Balas temannya ikut menatap mereka mesum.


 


Mendengar semua ucapan itu, Olivia yang merasa tidak nyaman mencoba bicara kepada Leo mengenai apa yang dirasakannya.


 


“Master, ada orang-orang yang menatap master dengan sinis. Haruskah Olivia bertindak?” Bisik Olivia mengajukan sarannya.


 


“Aku tidak ingin membuat masalah dengan Guild petualang. Jadi, biarkan saja mereka.” Balas Leo dengan nada tenang.


 


“Baiklah jika master berkata demikian.” Balas Olivia mengurungkan niatnya.


 


Mengabaikan semua yang mereka ucapkan, mereka lantas menghampiri meja resepsionis untuk mendapatkan informasi permintaan yang mungkin bisa membantu pencarian mereka.


 


“Selamat datang, kalian tampak asing di sini. Apa kalian petualang dari luar kota?” Sapa gadis resepsionis itu menyambut mereka.


 


“Begitulah. Kami baru saja sampai di sini.” Balas Leo singkat.


 


“Jadi, apa yang bisa saya bantu?”


 


“Apakah ada permintaan dengan tingkat Argentite ke atas?”


 


“Argentite...? Tentu saja, tapi itu tergolong tingkat menengah dengan kesulitan yang cukup tinggi. Jika boleh bertanya, apa peringkat kalian? Bolehkah saya melihat lencana petualang kalian?”


 


“Ya.”


 


Leo dan Lia lantas menunjukkan lencana petualang mereka kepadanya sebelum resepsionis itu memastikannya. Ia mengarahkan sebuah perangkat sihir pada lencana itu sebelum akhirnya ia melanjutkannya.


 


“Sepertinya lencana ini asli. Dengan ini, kita bisa membicarakan mengenai pekerjaan yang akan saya tunjukkan...” Ujar resepsionis kembali memberikan lencana mereka.


 


“Sebelum itu, bolehkah aku bertanya apa yang baru saja anda lakukan pada lencana kami?” Balas Leo bertanya.


 


“Ah. Saya baru saja memastikan bahwa lencana yang kalian bawa adalah lencana asli dari Guild petualang dengan Sigil Lighter. Alat ini bisa menunjukkan mana lencana asli dan mana yang tiruan, karena seperti yang kalian tahu ada banyak orang yang mencoba mengambil keuntungan dengan menyamar sebagai petualang. Itulah mengapa saya memeriksa lencana kalian.” Jawab resepsionis itu menjelaskan.


 


“Begitu ya. Bisa dibilang sebagai langkah pencegahan.” Balas Leo sambil merenung.


 


“Bicara mengenai lencana, bagaimana dengan nona berambut perak yang di sana? Di mana lencana anda?” Tanya resepsionis itu melihat ke arah Olivia.


 


“Eh...? Saya...?” Balas Olivia terkejut.


 


“Ya. Bolehkah saya lihat lencana anda?”


 


Panik dan kebingungan, Olivia tidak bisa mengatakan apa-apa ketika resepsionis itu memintanya menunjukkan lencana petualangnya. Melihat hal itu, Leo lantas mencoba melindunginya dengan membuat alasan.


 


“M-Maaf terlambat mengatakan ini, tapi dia tidak punya lencana petualang karena...” Balas Leo seketika terhenti dengan nada gugup.


 


“...??”


 


 


“Maaf sebelumnya tuan, tapi kenapa dia tidak memiliki lencana?” Tanya resepsionis itu dengan ekspresi curiga.


 


“D-Dia sebenarnya...” Balas Leo dengan wajah pucat.


 


“Dia sebenarnya bukan petualang karena keadaan fisiknya yang lemah.” Sambung Lia meluruskan ucapan Leo.


 


Tepat ketika Leo hampir dicurigai, Lia menyelamatkannya dengan memberikan alasan yang cukup bisa diterima oleh resepsionis. Entah kenapa doa bisa tahu, namun saat ini mungkin sebaiknya ia mengikuti alur pembicaraan yang Lia buat.


 


“Begitu ya. Sungguh tidak disangka. Mohon maaf atas perlakuan saya sebelumnya, saya turut prihatin dengan keadaanmu nona...” Balas resepsionis itu dengan ekspresi prihatin.


 


“T-Tidak apa-apa... Bukan berarti saya merasa tersinggung atau sebagainya...” Balas Olivia dengan senyum canggung.


 


“Benar juga, jika dilihat-lihat rambut kalian berdua cukup mirip. Apa kalian saudara?” Tanya resepsionis itu melihat ke arah Leo dan Olivia.


 


“U-Uh... B-Bagaimana menjelaskannya...” Balas Leo dengan wajah gugup.


 


“K-Kalau itu...” Ujar Olivia ikut gugup dan bingung.


 


“Ya. Kami bertiga bersaudara.” Jawab Lia dengan wajah datar.


 


Mendengar hal itu, Leo dan Olivia seketika terkejut dengan pengakuan tidak terduga Lia mengenai hubungan mereka.


 


“(T-Tunggu dulu...! Kenapa bisa jadi seperti ini...! Jangan katakan ini semua sudah direncanakannya...!)” Ujar Leo dalam hatinya terkejut dan kebingungan.


 


Pada saat yang bersamaan, Lia menoleh ke arahnya memberi senyuman sayu kepadanya seperti seolah tahu apa yang dipikirkannya sebelum ia kembali bicara kepada resepsionis itu.


 


“Saudara ya? Saya memang sudah menduganya, tetapi kenapa anda tidak memiliki rambut yang sama dengan mereka berdua?” Balas resepsionis itu bertanya penasaran.


 


“Kami adalah saudara tiri, benar begitu kakak...?” Jawab Lia melirik ke arah Leo dengan senyum sayu.


 


“Y-Ya. Begitulah...” Sambung Leo dengan ekspresi canggung.


 


“Begitu ya. Senang mendengar bahwa kesalahpahaman ini sudah selesai. Sekarang, mengenai permintaan yang kalian minta...” Balas resepsionis itu sebelum mengambil beberapa kertas permintaan untuk mereka.


 


Singkat cerita, setelah menemukan permintaan yang sesuai, mereka bertiga lantas meninggalkan Guild untuk mengerjakan misi mereka. Meski begitu, Leo masih belum bisa melupakan kejadian yang terjadi sebelumnya mengenai pernyataan bahwa mereka bertiga adalah saudara tiri. Ia sendiri tidak percaya bahwa Lia bisa berpikir sampai ke sana.


 


“Lia... Ugh. Aku tidak tahu harus bagaimana mengatakannya, tapi kurasa yang barusan itu sudah di luar batas...” Ujar Leo dengan wajah heran.


 


“Hm? Ada apa, kakak? Atau kau lebih suka dipanggil nii-sama?” Balas Lia dengan nada menggoda.


 


“Ugh... Kumohon, kau tidak perlu melakukannya...” Balas Leo sambil memegang keningnya.


 


“Tidak masalah, bukan? Semakin dekat hubungan kita, maka kemungkinan kita akan dicurigai semakin kecil...” Balas Lia dengan tenangnya.


 


“Bukan itu yang kumaksud...”


 


Walau terasa aneh, namun setidaknya berkat rencana ini mereka dapat terhindar dari kecurigaan Guild.


 


Mengesampingkan masalah itu, kini mereka memiliki permintaan yang harus diselesaikan. Ini akan menjadi kesempatan yang bagus bagi Leo untuk mengamati Olivia lebih jauh mengenai kemampuan khusus yang dimiliki olehnya.


 

__ADS_1


Kembali ke Linderfell, Louise dan teman-temannya kini berada tepat di depan kediaman keluarga Willtern. Dengan tekad yang bulat, ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu besar yang berdiri tepat di hadapan mereka.


 


“.....”


 


Untuk beberapa saat tidak terdengar jawaban. Hal itu sempat mematahkan semangat mereka, namun Louise yang masih memiliki harapan lantas kembali mengetuk pintu itu untuk kedua kalinya sebelum akhirnya terdengar jawaban dari dalam rumah.


 


“Tunggu sebentar...” Ujar sesosok suara dari dalam rumah.


 


Tak berselang lama, pintu itu terbuka bersamaan dengan munculnya seorang pelayan wanita dari baliknya. Dengan wajah terkejut pelayan itu melihat ke arah mereka berempat sebelum berbicara dengan mereka.


 


“U-Uh... Apa ada yang bisa kubantu untuk kalian...?” Ujar pelayan wanita dengan senyum masam.


 


“P-Permisi... A-Apakah tuan Willtern ada di rumah...? K-Kami ingin menemuinya...” Balas Louise dengan nada gugup.


 


“Eh...? Kalian mencari tuan muda...?” Balas pelayan wanita itu terkejut.


 


“Ya. Ada hal yang ingin kami sampaikan secara langsung padanya. Sesuatu yang sangat penting...” Ujar Lilia membalasnya.


 


Dengan ekspresi gelisah, pelayan itu hanya bisa menebak satu hal dari apa yang dikatakan Lilia. Firasatnya mengatakan bahwa kedatangan mereka menandakan sesuatu.


 


“Tunggu sebentar, siapa kalian sebenarnya? Kenapa tiba-tiba ingin bertemu dengan tuan muda? Dan apa yang kalian maksud ingin menyampaikan hal yang penting?” Tanya kembali pelayan itu dengan wajah cemas.


 


“U-Uh... S-Seperti yang sudah kami sampaikan. Kami ingin bertemu dengan tuan Willtern secara langsung.” Jawab Louise dengan nada gugup.


 


“Kami tidak bisa mengatakannya sampai kami bertemu langsung dengannya.” Sambung Lilia menambahkan.


 


“Tidak, tidak, tunggu dulu. Siapa yang menyuruh kalian?” Balas pelayan itu sebelum kembali bertanya.


 


“Mengenai itu... Kami tidak bisa mengatakannya sampai kami bertemu dengan tuan Willtern...” Jawab Lilia dengan yakin.


 


“Kalau begitu sayang sekali. Aku tidak bisa memenuhi permintaan kalian. Aku tidak bisa mempertemukan kalian dengan tuan muda.” Balas pelayan itu dengan nada tegas.


 


“E-Eh...? Kenapa...?” Balas Louise terkejut.


 


“Sampai kalian mengatakan siapa yang menyuruh kalian menemui tuan muda dan apa tujuannya, aku tidak bisa melakukannya.” Balas pelayan itu memalingkan wajahnya dari mereka.


 


Pelayan itu lantas menutup pintu ketika Lilia yang masih bersikeras mencoba menahannya. Ia menahan pintu itu dengan kedua tangannya yang mana membuatnya terhenti sesaat sebelum pelayan itu terkejut melihat apa yang dilakukannya. Dengan ekspresi marah, pelayan itu lantas memarahinya.


 


“Apa yang kau lakukan...! Apa kau ingin tanganmu terjepit pintu...!” Ujar pelayan itu menariknya keluar dari pintu dengan nada tinggi.


 


“Mhn...! Sampai bisa tuan Willtern, aku tidak akan menyerah begitu saja...!” Balas Lilia melawan.


 


“Demi roh para dewa, kau benar-benar keras kepala...! Lepaskan tanganmu dari pintu...!” Balas pelayan itu kembali berusaha menariknya keluar.


 


“Tidak...! Tidak akan...!”


 


Melihat kegigihan Lilia membuat Louise dan lainnya terharu sebelum akhirnya memutuskan untuk melakukan hal yang sama sepertinya. Secara bersamaan, mereka ikut menahan pintu membuat beban pintu semakin berat. Hal itu sontak membuat pelayan itu semakin kewalahan mengatasi mereka.


 


“Oh dewa...! Apalagi ini...! Lepaskan pintunya kalian semua...!” Seru pelayan itu dengan nada kesal.


 


“Tidak...!” Balas Louise menolak.


 


“Hngh...!”


 


Mereka saling menarik satu sama lain sebelum akhirnya salah seorang pelayan yang baru saja kembali dari kebun melihat apa yang sedang terjadi.


 


“Kepala pelayan...!” Seru gadis pelayan itu terkejut menjatuhkan keranjangnya.


 


“Mila...! Cepat bantu aku...!” Balas pelayan itu memanggilnya.


 


“A-A-Uh. Um. B-Baik...!”


 


Gadis pelayan itu lantas menghampirinya untuk membantunya sesaat sebelum kereta kuda datang menghampiri kediaman itu menghentikan semuanya. Melihat kedatangannya, pelayan wanita itu lantas terkejut dan melepaskan tangannya dari Lilia sesaat sebelum sesosok pria muda keluar dari kereta kuda itu mencoba menghentikannya.


 


“Milgret...! Apa yang kau lakukan...! Apa-apaan semua ini...!” Seru pria muda itu dengan ekspresi marah.


 


“Ada apa...?! Apa yang terjadi di sini...?!” Ujar sang kusir dengan wajah terkejut.


 


“T-Tuan muda...! T-Tidak, saya hanya mencoba mengusir anak-anak ini karena mencoba menerobos masuk ke dalam rumah...!” Balas Milgret dengan wajah panik.


 


“E-Eh...?! Tunggu dulu...! Anda melakukan apa...?!” Sambung Mila terkejut.


 


“Apa...?!” Balas pria muda itu kebingungan.


 


Pria itu lantas menghampiri mereka sesaat sebelum Lilia dan teman-temannya melihat ke arahnya. Mereka semua terkesima melihat sosok pria itu sebelum akhirnya menemuinya secara langsung.


 


“Apa anda tuan Willtern...?” Tanya Lilia melihatnya terpukau.


 


“Secara teknis, iya. Dan kalian ini siapa...?” Balas pria itu sebelum bertanya balik kepadanya.


 


“Kami datang untuk menyampaikan surat ini kepada anda...” Balas Lilia memberikan surat kepadanya.


 


“Surat...? Dari siapa...?” Balas pria itu menerimanya kebingungan.


 


Dengan penasaran, pria itu membuka surat yang diberikan Lilia sebelum membacanya. Untuk sejenak keadaan menjadi diam sesaat sebelum pria itu mulai memasang ekspresi serius. Hal ini membuat Milgret dan lainnya cemas melihat perubahannya mendadak dirinya.


 


“T-Tuan muda...? Apa ada yang salah...?” Tanya Milgret dengan wajah cemas.


 


“Kalian berempat, siapa nama kalian?” Tanya pria itu melihat ke arah mereka dengan raut serius.


 


“Tunggu sebentar, tuan muda...! Apa maksudnya ini...!” Balas Milgret dengan wajah bingung.


 


“Saya Lilia, ini Louise, Edward dan Vivian.” Jawab Lilia mengenalkan mereka secara singkat.


 


“Begitu ya. Milgret, buka pintunya, biarkan mereka masuk!” Ujar pria itu sebelum memberi perintah.


 


“E-Eh...?! T-Tapi, tuan muda...!” Balas Milgret terkejut.


 


“Ini adalah perintah...!” Balas pria itu dengan nada tegas.


 


“B-Baik, tuan muda...”


 


Sesuai dengan perintahnya, Milgret lantas membuka pintu rumah lebar-lebar sesaat sebelum pria itu menyambut mereka berempat dengan hangat.


 


“Kalian berempat, silahkan masuk. Ada hal yang ingin kutanyakan lebih lanjut kepada kalian...” Ujar pria itu dengan senyum ramah.


 

__ADS_1


Di luar dugaan, mereka disambut dengan sangat baik oleh sang tuan rumah. Berkat surat itu, kini mereka mulai memiliki harapan untuk bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik seperti yang Lia janjikan kepada mereka. Sisanya hanya berharap bahwa semuanya akan berjalan sesuai dengan harapan.


__ADS_2