Black Arc Saga

Black Arc Saga
Penjaga malam


__ADS_3

... ...


Setelah mengatakannya, Rosetta langsung melancarkan serangannya ke arah Lia. Udara dingin menyertai langkahnya ketika ia mengayunkan serangannya yang membuat tanah di sekitarnya membeku oleh es. Menyadari hal itu, Lia lantas menghindar namun hal itu tidak dibiarkan begitu saja olehnya. Rosetta langsung mengarahkan serangannya ke arah Lia yang baru saja mengambil langkah setelah menghindari serangan pertamanya. Seketika itu pula suara lengkingan logam terdengar ketika Lia menangkis serangan Rosetta dengan pedangnya.


 


“Mhn...!”


 


“....”


 


Rosetta sama sekali tidak bergeming meski Lia telah menggunakan kekuatannya untuk menekannya. Lia lantas menggeser posisinya membiarkan pedangnya melintas begitu saja sebelum ia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyerang balik. Lia melancarkan rentetan tebasan cepat yang membuat Rosetta yang menghadapinya kesulitan.


 


“(Cepat sekali...! Aku nyaris tidak bisa mengikuti ayunan pedangnya...!)” Ujar Rosetta dalam hatinya terkejut.


 


Serangan Lia yang sangat cepat membuatnya tidak mampu membalas. Ia hanya bisa bertahan selama Lia memukulnya mundur hingga akhirnya ia secara tidak sengaja menginjak rumput yang membeku akibat serangan awalnya. Rosetta lantas memanfaatkan peluang tersebut sesaat sebelum taring tajam dari es menjulang menghentikan gerakan Lia.


 


“....!”


 


Merasa terancam, Lia akhirnya memutuskan untuk menjauh sesaat sebelum taring es itu perlahan menghilang menjadi butiran cahaya yang tertiup angin ketika Rosetta kembali bicara dengannya.


 


“Kau bisa menghindarinya walau dalam posisi menyerang. Harus kuakui, kau unggul dalam hal ketangkasan...” Ujar Rosetta memujinya dengan ekspresi datar.


 


“... Jebakan es, huh...? Sihirmu sama dinginnya seperti ekspresimu. Menghindari trik seperti itu bukan masalah besar.” Balas Lia dengan nada dingin.


 


“Benarkah? Bukankah kau juga sama? Banyak yang mengatakan bahwa kau adalah sang putri es dari keluarga Brown. Sebutan itu datang dari sikap dinginmu sendiri, bukan?” Balas Rosetta datar.


 


“... Aku tidak pernah ingat dipanggil seperti itu.” Balas Lia dengan nada sinis.


 


“Menurutku wajar jika seorang anak bangsawan besar bersikap acuh. Tetapi, di dalam pertarungan, senjatamu yang bicara dan aku di sini untuk membuktikan rumor itu...”


 


“... Jadi itu alasanmu bertarung denganku?”


 


“Ya. Maaf sebelumnya, tapi aku akan mengalahkanmu di sini.”


 


Rosetta mulai memasang kuda-kudanya ketika Lia menanggapi ucapannya dengan tatapan sinis. Ia merasa kesal padanya karena membuatnya mengingat kehidupannya sebagai bangsawan. Ia memutuskan tidak ingin mengingatnya lagi sejak ia memutuskan untuk berkelana bersama Leo, namun dia justru membuatnya mengingat kenangan memuakkan itu lagi.


 


“Kalau begitu, aku tidak akan menahan diri lagi...” Ujar Lia ikut memasang kuda-kudanya.


 


“Silahkan saja. Aku akan siap kapan pun kau siap.” Balas Rosetta mengarahkan pedangnya ke arahnya.


 


“Aku harap kau siap...” Balas Lia menggenggam pedangnya.


 


Sementara itu, Leo yang berhadapan dengan kembaran Rosetta dikejutkan oleh suara lengkingan logam dari arah Lia berasal. Suara itu tidak lain dan tidak bukan merupakan suara pedang yang saling beradu, dengan kata lain suara pertarungan. Lia tengah menghadapi musuh sama dengan kondisinya saat ini.


 


“(Suara itu tidak salah lagi suara pertarungan. Itu artinya Lia juga berhadapan dengan Knight Order yang lain. Sial, aku tidak menduga hal ini sebelumnya...!)” Ujar Leo dalam hatinya cemas.


 


Di luar perkiraan, Northey telah menempatkan Knight Order untuk menjaga reruntuhan yang sedang ia telusuri. Entah ini disengaja atau memang langkah pencegahan olehnya, namun kali ini perkiraan Leo yang salah. Kini ia dan Lia harus terpaksa melawan masing-masing dari mereka yang menjaga tempat ini.


 


“(Sial...! Waktu kami saja sudah terbatas dan sekarang harus berhadapan melawan mereka...!)” Sambung Leo dalam hatinya kesal.


 


Melihat ekspresi Leo yang tidak terlihat senang setelah mendengar suara pertarungan di sisi lain hutan, wanita itu lantas bicara kepadanya dengan nada mengejek.


 


“Ho? Sepertinya kau membawa teman. Sayang sekali bagi temanmu karena dia harus berhadapan dengan adikku. Tidak sepertiku, adikku tidak suka basa basi, dia pasti akan membunuhnya...” Ujar wanita itu dengan nada angkuh.


 


“Aku tidak yakin dengan hal itu...” Balas Leo menyangkalnya.


 


“Hah? Apa maksudmu?” Balas wanita itu dengan wajah heran.


 


“Yang tidak beruntung adalah adikmu karena harus melawannya.”


 


“Kita akan tahu hal itu nanti, sekarang kau milikku...”


 


Wanita itu lantas melemparkan belatinya ke arah Leo di susul dengan bola-bola air mengikuti di belakangnya. Leo seketika mengaktifkan matanya sesaat sebelum menghindar sambil mengamati serangannya. Belati itu melintas begitu saja ketika Leo menghindarinya tanpa terjadi apa pun, namun...


 


“...?!”


 


Secara mengejutkan, tepat setelah belati itu meleset dari targetnya, bola-bola air yang mengikutinya tiba-tiba meraih belati tersebut sebelum akhirnya melemparnya ke arah Leo dan merubah jalurnya. Leo terkejut, namun karena telah melihatnya ia pun dengan mudah dapat kembali menghindarinya.


 


“Khu... Khu...”


 


Pada saat yang bersamaan, wanita itu kembali melemparkan serangan yang sama, namun kali ini dengan jumlah yang lebih banyak. Belasan belati yang dilengkapi sihir air melayang ke arahnya memaksa Leo untuk menghadapinya secara langsung. Dengan menggunakan pedangnya, Leo menangkis serangan itu satu persatu dengan bantuan penglihatan tajamnya. Alhasil, belati-belati itu beterbangan menjauh darinya sebelum sempat berubah arah.


 


“Usaha yang bagus, tapi sayangnya itu percuma...! Water Spread.” Ujar wanita itu sebelum merapalkan mantra.


 


Tepat ketika ia merapalkannya, secara mengejutkan buih-buih air tercipta pada area di sekitar Leo. Bagaikan dikepung oleh gelembung udara, Leo yang menyadarinya dengan cepat berusaha meninggalkan tempat itu. Namun, sayang bagi Leo karena ia sudah terlambat. Percikan air itu berubah menjadi peluru air yang selanjutnya menghujani Leo dengan serangan beruntun hingga membuatnya terluka.


 


“Ack...!”


 


Meski begitu, Leo tetap memaksa menembusnya walau harus mengorbankan diri terkena tembakan air itu sebelum akhirnya ia bisa keluar dari area tembakan tersebut. Darah menetes dari lengan dan pipinya, ia terlalu banyak menerima serangan itu sesaat sebelum wanita itu melangkah ke arahnya berbicara kepadanya.


 


“Bagaimana menurutmu? Air bisa menjadi senjata terkuat tergantung dari caramu menggunakannya. Tapi, harus aku akui, untuk seorang bandit, kau cukup tangguh. Kau dapat berdiri dengan normal meski telah menerima semua serangan itu...” Ujar wanita itu dengan wajah heran.


 


“Apa bukan karena seranganmu yang terlalu lemah untukku?” Balas Leo menghela nafas sambil menyeka darah di pipinya.

__ADS_1


 


“Heh? Kau masih sempat juga bersikap angkuh dengan keadaanmu saat ini. Apa mungkin aku tidak sengaja menembak syarafmu?” Balas wanita itu dengan senyum angkuh di wajahnya.


 


“Jika hanya luka seperti ini, aku sudah terbiasa menerimanya.”


 


“Khu... Khu... Menarik. Baru kali ini aku bertemu dengan orang gila sepertimu. Apa kau keberatan menjadi samsak tinju bagi kemampuanku?”


 


“Aku masih cukup waras untuk menolak tawaran itu. Jadi, tidak.”


 


“Kalau begitu, kau mau tidak mau harus menerimanya...!”


 


Ia mulai bersiap mengambil ancang-ancang ketika ia merapalkan sebuah mantra. Menyadari niatnya, Leo lantas memasang posisi bersiaga sambil mengaktifkan kembali kemampuan matanya sesaat sebelum wanita itu memulai serangannya.


 


“Aquae Rise...!”


 


Tepat setelah wanita itu merapalkan mantranya, ia melesat menuju ke arah Leo dengan belati di kedua tangannya. Bersamaan dengan hal itu, tepat di bawah kaki Leo genangan air muncul secara tiba-tiba sesaat sebelum menyembur keluar menjadi geiser. Beruntung sebelum geiser itu menerbangkannya ke udara, Leo terlebih dahulu menghindar sesaat sebelum wanita itu secara mengejutkan muncul dari balik uap air berusaha menyerang Leo dengan belatinya. Namun, usahanya itu gagal karena Leo telah terlebih dahulu mengetahui niatnya sehingga ia telah mengantisipasi serangannya.


 


“....?!”


 


“Naif.”


 


Leo memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyerang. Ia tanpa ragu mengayunkan pedangnya pada wanita tersebut yang seketika membuatnya terpukul mundur begitu berusaha menahan serangannya. Leo terus menghujaninya dengan ayunan hingga membuat wanita itu kewalahan menahan setiap serangannya. Dengan memanfaatkan celah tersebut, Leo menghantam wanita itu dengan serangan yang sangat kuat hingga membuat senjatanya terlempar lepas dari tangannya.


 


“....!”


 


“Pertarungan berakhir.”


 


Dengan terlemparnya senjata miliknya menandai akhir dari pertarungan ini. Sudah berakhir, ia adalah pemenangnya, atau setidaknya itulah yang Leo pikirkan.


 


“Khu.. Khu...”


 


Wanita itu terkikik ketika Leo berpikir dia telah menang. Ia tidak tahu bahwa ia telah masuk dalam jebakannya selama ini.


 


“(Jangan katakan...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.


 


Menyadari hal itu, Leo segera memutar pandangannya tepat ketika sepasang belati melayang ke arahnya dari kedua sisinya. Serangan langsung itu dimaksudkan sebagai umpan selagi mengalihkan perhatiannya dari serangan utamanya. Ia tidak mengira bahwa dia telah melemparkan belati lainnya sebelum dia bergerak menyerangnya.


 


“(Sial...! Aku terlambat...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.


 


Dan secara bersamaan, wanita itu mengambil belati lain dari sakunya menerjangnya. Hal ini membuat Leo sepenuhnya terjebak dalam serangan dari ketiga arah sekaligus. Karena terpaksa, ia pun memutuskan untuk membatalkan niatnya menyerang dan fokus bertahan sesaat sebelum ia mengambil gerakan mundur menjauh darinya.


 


 


Kedua belati yang datang dari kedua sisi seketika itu pula mengenai leher dan pipi Leo ketika ia berniat menghindarinya. Meski dengan refleksnya yang bisa dibilang di atas rata-rata, serangan itu masih tidak terelakkan baginya. Setidaknya ia bisa menghindari luka serius sementara perhatian utamanya tertuju pada serangan langsungnya.


 


“Haaa...!!”


 


“Hnh...!”


 


Lengkingan logam terdengar begitu senjata mereka saling berbenturan. Leo menggagalkan niat wanita itu yang berniat menikamnya secara langsung sebelum akhirnya mereka beradu senjata. Dengan gerakan yang cepat dan lincah, wanita itu mengayunkan setiap serangannya ketika Leo dengan mudahnya menangkis dan membalas serangannya.


 


“Khu.. Khu... Ini semakin menegangkan saja.” Ujar wanita itu sambil menyerang.


 


“Apa kau harus mengatakannya?” Balas Leo dengan nada dingin.


 


“Kau bukan anjing hutan biasa...! Aku jadi semakin ingin menguji kemampuanku padamu...!” Balas wanita itu tersenyum senang.


 


“Sayang sekali aku tidak mengerti bahasa rubah.”


 


Dengan tenaga penuh, Leo mengayunkan pedangnya yang menciptakan hembusan udara kuat yang membuat tanah di sekitarnya amblas serta memukulnya mundur. Meski demikian, wanita itu tidak terlihat terluka dan dengan santainya ia tersenyum sebelum bicara kepadanya.


 


“Ah. Aku mengerti... Itulah yang membuatmu spesial... Pantas saja kau bisa melihat setiap tipuanku dan menghindarinya...” Ujar wanita itu tersenyum menyeringai.


 


“Dan kau pikir aku akan tersanjung?” Balas Leo dengan nada sinis.


 


“Khu.. Khu... Aku sempat bertarung dengan pemilik mata sihir, tetapi kau berbeda dari mereka... Kau lebih mengandalkan kekuatanmu dari pada kekuatan matamu. Memang harus aku akui, kekuatan fisikmu bisa disandingkan dengan Northey-sama...” Balas wanita itu dengan ekspresi senang.


 


“Ho? Baru pertama kalinya rakyat jelata sepertiku disandingkan dengan Ksatria Suci.”


 


“Khu.. Khu... Aku tertarik denganmu. Siapa namamu?”


 


“Untuk apa aku memberitahumu namaku?”


 


“Namaku Roselia, salah satu dari Knight Order yang mengabdi pada Northey De Gogh-sama. Aku mengakui kekuatanmu perampok makam misterius. Jika kau ikut bersamaku, mungkin saja kau bisa menjadi Knight Order sepertiku atau bahkan lebih, kau bisa menjadi Ksatria Suci. Bagaimana menurutmu?”


 


“Tawaran yang sopan, huh? Tidak seperti kau lima menit yang lalu. Sayang sekali, aku menolaknya.”


 


“Begitu ya. Sayang sekali. Kalau begitu, matilah...!”


 


“Kau kembali ke wujud asalmu. Tapi sayangnya, aku juga menolaknya.”


 

__ADS_1


Di sisi lain, pertarungan yang sengit terjadi antara Lia dengan Rosetta. Mereka saling berbalas serangan sihir yang membuat seisi hutan tempat mereka bertarung hancur. Lia dengan berbagai variasi gerakan melancarkan serangannya hingga membuat Rosetta semakin terdesak. Ia pun terpaksa mengambil posisi bertahan demi bertahan melawan semua serangannya. Ia menciptakan dinding es yang membentang selebar puluhan meter demi menjauhkan diri dari serangan Lia yang semakin berbahaya.


 


“(Dengan ini aku bisa sedikit menghambatnya... Kemampuan pedangnya benar-benar mengerikan...)” Ujar Rosetta dalam hatinya gelisah sambil menarik nafas dalam.


 


Dalam pertarungan langsung Lia memang jauh lebih unggul darinya baik dari segi kekuatan maupun pengalaman. Hal ini jelas memberikan tekanan baginya untuk melanjutkan pertarungan ini.


 


“Tehnik pedang: Flow of Autumn.”


 


Tepat ketika mendengarnya, dinding es yang melindunginya secara mengejutkan hancur oleh serangan Lia. Rosetta yang terkejut seketika mencoba menjauh ketika Lia datang dengan serangannya.


 


“(G-Gawat...!)” Ujar Rosetta dalam hatinya panik.


 


Menyadari niatnya, Lia dengan cepat mengibaskan pedangnya menciptakan tebasan sihir yang mengarah langsung kepadanya sesaat sebelum serangan tersebut mengenainya ketika berusaha untuk menangkisnya.


 


“Mhn...!”


 


Serangan Lia menembus zirahnya hingga menimbulkan luka baginya sesaat sebelum Lia kembali melancarkan serangannya.


 


“....!!”


 


Ia menghunuskan pedangnya tepat pada saat Rosetta lengah setelah menerima luka tersebut. Namun, dengan sihirnya, ia membekukan darah miliknya yang mengucur keluar untuk menahan serangan Lia sebelum mengenainya. Seketika itu pula pedang Lia terhenti tertahan oleh darahnya sesaat sebelum Rosetta menggunakan kesempatan tersebut untuk menyerang balik.


 


“Tidal Frost...!”


 


Taring dari es bermunculan dari tanah membentuk ombak besar yang siap melahapnya. Lia yang menyadari hal itu segera melepaskan pedangnya sesaat sebelum ia menjauh ketika ombak es itu berniat menenggelamkannya.


 


“Kau tidak bisa kabur lagi! Frozen Jail!” Seru Rosetta sebelum merapalkan mantranya.


 


Jalur es mengikuti ombak tersebut dari samping sebelum akhirnya mendahuluinya hingga mencapai Lia. Namun, bukannya menyerang langsung, jalur es tersebut justru bergerak mendahuluinya sesaat sebelum menciptakan dinding tebal dan tinggi untuk menjebaknya. Lia yang menyadari dirinya terperangkap lantas menghentikan langkahnya sesaat sebelum ia menaruh pedangnya dalam posisi menyerang.


 


“Tehnik pedang: Fall of Autumn.”


 


Tepat ketika ombak es itu berada di depan matanya, Lia dengan cepat mengayunkan pedangnya yang menyala oleh sihir sesaat sebelum serangan yang kuat tercipta. Ombak es itu hancur oleh cahaya merah tua itu dalam sekejap mata sesaat sebelum tersapu oleh ledakan sihir yang melenyapkannya. Dan pada saat yang sama pula, Lia kembali melancarkan serangannya memanfaatkan keadaan yang ada untuk membalas. Ia mengubah bentuk kuda-kudanya sesaat sebelum mengalirkan sihirnya pada pedangnya.


 


“Tehnik pedang: Leaves Slash.”


 


Ketika butiran-butiran es menghujaninya, Lia dengan cepat mengayunkan pedangnya menciptakan belasan tebasan sihir yang mengarah langsung pada Rosetta.


 


“....!!”


 


Melihat bahaya menuju ke arahnya, Rosetta lantas menciptakan dinding es guna melindunginya dari serangan tersebut. Dan tidak berselang lama setelahnya, tebasan sihir itu menghantamnya hingga membuat dinding esnya perlahan terkikis.


 


“(Gawat...! Jika terus dihujani serangan itu, dinding pelindungku akan hancur...!)” Ujar Rosetta dalam hatinya panik.


 


Dan tepat ketika Lia melancarkan satu serangan terakhir, dinding es itu hancur setelah tebasan sihir yang dilancarkannya menghantamnya. Ledakan itu tidak hanya menghancurkan pertahanannya, namun juga menghempaskan Rosetta hingga terkapar tidak berdaya di tanah. Dengan sisa-sisa kekuatannya ia menyaksikan Lia perlahan datang menghampirinya melewati sisa-sisa pertarungan mereka ketika ia terkesima olehnya.


 


“Ah. Benar-benar mengagumkan. Inilah kemampuan sebenarnya dari satu-satunya penerus keluarga Brown yang terhormat. Aku beruntung bisa bertarung melawannya...” Ujar Rosetta dengan ekspresi senang.


 


Sesampainya Lia di hadapannya, ia lantas mengacungkan pedangnya pada Rosetta sebelum membalas ucapannya.


 


“Pertarungan berakhir.” Ujar Lia dengan ekspresi dingin.


 


“.... Sepertinya ini kekalahanku. Nona Brown, sungguh pertarungan yang hebat....” Balas Rosetta tersenyum pahit.


 


“Aku tidak suka dipanggil dengan nama itu.” Balas Lia dengan nada kesal.


 


“... Inginnya aku berkata seperti itu jika aku kalah dalam duel. Tetapi, ini bukanlah duel...”


 


“Kau masih ingin melanjutkannya?”


 


“Demi memenuhi tugasku, maka aku akan...”


 


Tepat ketika mengatakannya, secara mengejutkan suhu udara di sekitar mereka turun secara drastis. Menyadari keanehan ini, Lia dengan cepat berusaha menghentikannya melanjutkan sihirnya, namun sayang, ketika ia berusaha melakukannya, Lia sudah terlambat.


 


“White.. Death..!”


 


“(Jangan katakan...!)”


 


Menyadari hal itu, Lia dengan segera menjauh darinya sejauh yang ia bisa sesaat sebelum ledakan dingin menyebar ke seluruh bagian hutan. Seketika itu pula, pepohonan dan rerumputan yang ada di sekitarnya membeku menjadi kristal kebiruan sesaat sebelum badai salju menyebar menutupi hutan tempat mereka bertarung. Angin bersalju menutupi pandangan dengan suhu yang menusuk ketika Lia terkejut dibuatnya.


 


“(Sihir ini... Harusnya ini menjadi sihir tingkat menengah ke atas yang berskala luas... Aku tidak menyangka dia menguasainya meski dia bukan Ksatria Suci...)” Ujar Lia dalam hatinya terkesima.


 


Umumnya sihir setingkat itu hanya bisa dikuasai oleh Ksatria Suci atau orang-orang dengan kekuatan di atas mereka. Itu karena, sihir tersebut memiliki risiko yang berbahaya bagi penggunanya jika tidak memiliki cukup kekuatan untuk merapalkannya. Entah apa yang dipikirkannya, namun ini bukan pertanda yang baik bagi Lia.


 


“Nona Brown, kita akan.. Selesaikan ini... Sekarang juga...!” Ujar sosok Rosetta dari balik salju.


 


“....!”


 


Begitu menampakkan wujudnya, Lia terkejut oleh penampilannya. Nyaris separuh tubuhnya membeku menjadi kristal kebiruan selayaknya Golem. Kemungkinan besar, itu adalah efek yang harus ia tanggung demi bisa merapalkan mantra ini.


 

__ADS_1


“Dengan ini... Aku akan mengalahkanmu...!” Sambung Rosetta mengacungkan senjatanya yang membeku.


__ADS_2