
Setelah itu, Leo dan Lia memutuskan untuk kembali ke kota setelah selesai bicara dengan Gald. Meski demikian, sebenarnya Leo tidak memiliki rencana di hari ini. Awalnya ia hanya berniat bicara dengannya, namun di luar dugaan, pembicaraan mereka berakhir lebih cepat dari perkiraan awalnya. Dan kini, ia tidak tahu lagi apa yang hendak ia lakukan.
“(Meski mengatakan kembali untuk berburu, pada akhirnya itu hanya menjadi alasan saja untuk menolak ajakannya...)” Ujar Leo dalam hatinya merasa bersalah.
Sebelumnya, setelah pembicaraan mereka usai, Gald menawarkan untuk ikut sarapan bersama mereka. Namun, Leo yang sungkan mencoba menolaknya hingga akhirnya harus berbohong dengan mengatakan harus kembali untuk mengambil pekerjaan. Rencana itu berhasil, namun kini ia tidak tahu lagi harus melakukan apa.
“(Apa mungkin aku harus kembali bekerja...? Tidak, aku sudah mengatakan kepada Lia kalau hari ini kami tidak akan berburu. Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku terlanjur membawanya keluar...)” Sambung Leo dalam hati dengan perasaan bingung.
Pada akhirnya mereka hanya berjalan-jalan di kota tanpa tahu mau ke mana. Untuk sejenak, Leo berusaha tetap tenang sambil memikirkan hal positif yang bisa ia ambil dalam kesempatan ini. Sejak awal tiba di sini, mereka sama sekali belum bisa istirahat. Mungkin hari ini Leo akan memutuskan untuk berlibur sebagai petualang dan menikmati waktu istirahatnya bersama Lia.
“Kurasa itu bukan ide yang buruk... Istirahat sejenak memang sesuatu yang diperlukan sesekali...” Gumam Leo sambil menghela nafas panjang.
“...? Kau mengatakan sesuatu?” Tanya Lia yang tidak sengaja mendengarnya.
“Ah. Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya berpikir kita akan berlibur hari ini. Sejak kemarin, kita belum istirahat, bukan? Kurasa ini akan menjadi hari yang sempurna untuk melihat-lihat kota...” Balas Leo sambil tersenyum gugup mengutarakan pikirannya.
“... Kurasa begitu. Aku juga ingin menghabiskan waktu denganmu.” Balas Lia tersenyum senang.
“Berhubung demikian, apa ada tempat yang ingin kau kunjungi? Walau aku agak ragu ada yang menarik perhatianmu di kota penuh hasil tambang ini...” Balas Leo sebelum memalingkan wajahnya bergumam.
“Tempat yang ingin kukunjungi...?” Balas Lia bergumam sambil berpikir.
Saat Lia tengah merenung, sesosok suara secara tidak sengaja terdengar memanggil Lia dari kejauhan sebelum akhirnya langkah mereka terhenti saat mendengarnya.
“Alicia-san...!” Seru sesosok suara tersebut.
Tak lama setelahnya, tiga orang petualang muda yang terlihat familiar datang menghampiri mereka berdua sebelum mereka menyapanya.
“Alicia-san, senang bisa bertemu lagi denganmu.” Ujar gadis penyihir tersebut tersenyum senang.
“Sepertinya kami beruntung bisa bertemu denganmu di sini. Apa kau masih ingat dengan kami?” Sambung seorang pria di antara mereka menyapa.
“... Mm. Tentu saja. Senang bertemu dengan kalian lagi.” Balas Lia singkat.
“Kalau tidak salah, aku pernah melihat kalian dalam ekspedisi... Apa kau kenal dengan mereka?” Tanya Leo melihat ke arah Lia.
“... Ya. Mereka adalah regu yang bersamaku dalam ekspedisi.” Balas Lia sambil mengangguk.
Mereka adalah tiga orang petualang yang menemani Lia melawan makhluk setengah mesin di perpustakaan yang ada di bangunan menara itu. Mereka terdiri dari sang pria muda itu yang menjadi kaptennya, lalu gadis berambut pendek itu sebagai pemanah dan yang terakhir penyihir muda bernama Rith. Lia memang belum mengenal sang kapten dan pemanah itu karena keadaan saat itu membuatnya tidak sempat menanyakan nama mereka.
“Kami hanya ingin mengucapkan terima kasih karena tempo hari lalu telah menyelamatkan kami dari sosok mengerikan itu. Tanpamu, kami mungkin tidak akan bisa keluar dari sana hidup-hidup...” Ujar sang kapten menundukkan kepalanya berterima kasih.
“Ya. Tanpa bimbinganmu, mungkin kami akan mati di sana karena kebodohan rekan kami ini...” Sambung sang pemanah sambil melirik ke arah Rith yang tersenyum bodoh.
“E-Entah kenapa rasanya itu sedikit menyakitkan...” Balas Rith tersenyum pahit menerima ejekannya.
“Sekali lagi, kami mengucapkan terima kasih atas kerja samamu yang telah menyelamatkan hidup kami. Terima kasih banyak.” Sambung sang kapten kembali menundukkan kepalanya diikuti mereka berdua bersamanya.
“... Tidak perlu berterima kasih.” Balas Lia singkat kepada mereka.
“Benar juga, kami belum mengenalkan diri kami dengan baik sebelumnya. Namaku Rodney, panggul saja aku Roy.” Ujar pria muda itu mengenalkan dirinya.
“Namaku Nina, senang berkenalan denganmu.” Sambung pemanah itu mengenalkan diri.
“Dan namaku Rith. Aku minta maaf atas kelakuanku tempo hari yang telah merepotkanmu, Alicia-san.” Ujar gadis penyihir mengenalkan diri sambil menundukkan kepalanya meminta maaf.
“... Alicia. Senang berkenalan dengan kalian.” Balas Lia menerima perkenalan mereka.
Leo sejenak membiarkan mereka bicara satu sama lain mengabaikan dirinya. Untuk saat ini, ia tidak ingin mengganggu mereka yang tengah bahagia dapat bertemu lagi dengan sosok yang menyelamatkan mereka.
“Ngomong-ngomong... Kau pasti Leonard Ansgred, bukan?” Ujar Roy melihat ke arah Leo dengan wajah antusias.
“A-Ah. Ya. Aku lupa mengenalkan diri. Namaku Leonard Ansgred, senang berkenalan dengan kalian.” Balas Leo ikut mengenalkan diri.
“Kami juga sudah mendengar tentangmu. Orang-orang memanggilmu dengan sebutan sang salju pengelana. Kemampuan dan pengalamanmu sangat hebat dan luas. Benar-benar sebuah kehormatan bisa bertemu denganmu di sini.” Balas Roy dengan antusiasme yang tinggi.
“B-Benarkah...?” Balas Leo tersenyum gugup.
Leo tidak ingat ada yang pernah memanggilnya seperti itu. Kelihatannya, rumor itu lebih cepat tersebar dibandingkan serbuk bunga yang terbawa angin.
“Ya. Banyak petualang yang sudah mengenalmu. Kalian juga sedang banyak dibicarakan oleh para petualang akhir-akhir ini. Kalian benar-benar terkenal!” Sambung Roy mengangguk semangat.
“U-Uh... Aku rasa aku tidak memperhatikan hal-hal semacam itu...” Balas Leo memalingkan pandangannya sambil menggaruk pipinya gugup.
“Ya intinya kalian berdua adalah nama baru yang sedang naik daun. Aku rasa kedatangan kalian ke sini adalah sebuah keberuntungan bagi kota ini. Dengan adanya kalian berdua, masalah di pertambangan itu pasti akan lebih cepat selesai.” Balas Roy tersenyum percaya diri.
“Semoga saja... “ Balas Leo tersenyum terpaksa.
“Ngomong-ngomong, Alicia-san, jika dipikirkan baik-baik kau sering terlihat bersama Leonard-san, bukan? Sebenarnya seperti apa hubungan kalian berdua?” Ujar Rith bertanya kepada mereka.
“H-Hubungan...? Tentu saja kami rekan... Benar?” Balas Leo dengan wajah gugup.
“Benarkah...? Tapi dari yang aku lihat, kalian berdua lebih dari itu... Apa jangan-jangan kalian sedang berkencan...?” Balas Rith bertanya dengan wajah polos.
Mendengar pertanyaan tersebut, Leo wajah seketika memerah dan panik ketika Lia yang secara diam-diam tersenyum mendengarnya. Sejak awal ia memang berniat mengajak Lia untuk keluar melihat-lihat kota bersamanya, namun ia tidak sadar bahwa hal tersebut sama saja dengan mengajaknya berkencan.
“(B-Bagaimana mungkin aku bisa melakukan hal seperti ini...! Mengajaknya berjalan hanya berdua saja bukankah sama artinya dengan berkencan...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.
Dengan wajah panik, Leo mencoba menjelaskan kesalahpahaman ini dengan mereka.
“T-Tidak, bukan begitu...! Kami hanya baru kembali dari urusan kami dan kebetulan sedang luang...!” Ujar Leo mencoba menyangkal.
“Bukankah itu sama saja dengan berkencan...?” Balas Roy dengan senyum sayu di wajahnya.
“Ya. Memang.” Ujar Nina sependapat.
“Jadi memang benar, kalian sedang berkencan!” Sambung Rith dengan nada senang.
Dengan bukti yang sudah jelas, Leo tidak bisa lagi menyangkal ucapan mereka. Meski ini berlawanan dengan maksud aslinya, tetapi semuanya sudah terlanjur. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk meluruskannya.
“(Ugh...! Aku tidak punya alasan untuk menyangkal mereka...! Posisiku memang sudah tidak menguntungkan untuk melawan sejak awal...!)” Ujar Leo dalam hatinya kesal.
Di sisi lain, Lia tampak senang mendengar pernyataan mereka tentang dirinya dan Leo. Ia terlihat lebih bahagia dari pada sebelumnya hingga membuatnya secara diam-diam menyembunyikan wajah gembiranya dari Leo sebelum akhirnya Roy dan kedua temannya memutuskan untuk pergi.
“Kalau begitu, kami permisi dulu. Masih ada hal yang harus kami lakukan dan juga kami tidak ingin menjadi nyamuk bagi pasangan yang sedang bersenang-senang.” Ujar Roy berpamitan sambil tersenyum sayu.
__ADS_1
“Sampai nanti lagi.” Sambung Nina melambaikan tangannya singkat pergi meninggalkan mereka.
“Sampai nanti, Alicia-san dan Leonard-san.” Ujar Rith menundukkan kepala sebelum menyusul mereka.
“Ah. Hampir saja lupa. Leonard-san, semoga sukses dan selamat berjuang!” Ujar Roy menambahkan sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya.
Dan mereka bertiga pun akhirnya meninggalkan Leo dan Lia kembali berdua saja. Suasana di antara mereka pun perlahan berubah, rasa canggung dan gugup menyelimuti hati Leo ketika ia hendak bicara dengan Lia. Ia bahkan malu untuk menatapnya secara langsung akibat percakapan itu.
“(Ugh..! Kenapa jadi seperti ini...! Rasanya sulit sekali bicara dengannya...! Apa yang harus kulakukan...!)” Ujar Leo dalam hatinya kebingungan.
Leo yang kehabisan pilihan akhirnya menyerahkan pilihan kepada Lia. Ia membiarkannya memilih untuk melanjutkan kencan ini atau kembali ke penginapan.
“J-Jadi, Lia... A-Apa yang ingin kau lakukan selanjutnya...? Ke mana kau ingin pergi...? Apa kita sudahi saja dan beristirahat di penginapan...?” Tanya Leo memalingkan wajahnya dengan nada gugup.
“.... Apa percakapan barusan mengganggumu?” Balas Lia bertanya kepadanya.
“A-Aku tidak tahu apa yang kau maksud...” Balas Leo dengan wajah gugup.
Lia tersenyum melihat ekspresi Leo sebelum ia meraih tangannya dan memeluknya dalam dekapannya sebelum kembali bicara dengannya.
“... Bagaimana menurutmu? Jika aku ingin lebih lama seperti ini denganmu, apa kau akan menurutinya?” Ujar Lia tersenyum sayu mendekatkan dirinya pada Leo.
“U-Uh...”
“Tidak...?” Sambung Lia bertanya dengan wajah kecewa.
Melihat ekspresi Lia, pada akhirnya Leo tidak mampu menolaknya. Meski ia tidak pernah menduga Lia akan melakukan hal ini kepadanya. Sepertinya ia mulai paham apa yang dikatakan orang-orang bahwa pikiran seorang wanita memang sulit untuk ditebak.
Mereka akhirnya melanjutkan kencan mereka. Meski tak banyak yang bisa dinikmati di kota itu, namun Lia terlihat menikmati waktu yang ia habiskan bersama dengan Leo. Ekspresinya yang biasanya dingin, kini perlahan mencair tergantikan dengan senyum simpulnya yang manis. Ia yang awalnya berpikir kencan ini bukan hal yang pantas baginya kini perlahan berubah pikiran setelah melihat rasa bahagia yang Lia tunjukkan.
“(Aku memang bukan orang yang pantas untuk menjadi teman kencannya, tetapi selama dia senang, kurasa ini tidak terlalu buruk juga...)” Ujar Leo dalam hatinya sambil menghela nafas lega.
Untuk sejenak Leo bisa melupakan siapa dirinya ketika bersama dengannya. Terlepas dari kenyataan bahwa ia dianggap sebagai orang yang dikutuk, Lia mau menerimanya apa adanya. Ini mungkin adalah kali pertama baginya bisa tersenyum dari lubuk hatinya setelah sekian lama ia berundung dalam penyesalan.
Mereka mengunjungi tiap sudut kota sambil menikmati suasana yang ada bersama, mengunjungi restoran atau kedai makanan yang ada di pinggiran jalan, dan sesekali berinteraksi dengan penduduk di sekitar, itulah yang mereka lakukan untuk menghabiskan waktu mereka berdua. Memang hal itu bisa ia lakukan sendiri, namun Leo benar-benar menikmatinya. Semuanya jadi lebih indah ketika Lia bersama dengannya.
“Lia...?” Bisik Leo melihat Lia yang tiba-tiba terhenti langkahnya.
“....”
Lia berhenti di depan sebuah tempat penjual muda yang menjual beberapa hal yang sedikit aneh. Ia menjual bebatuan dan tanah sebagai barang dagangannya. Entah apa yang dipikirkannya, namun hal itu berhasil menarik perhatian Lia.
“Apa kau tertarik? Apa kau mau melihat-lihatnya?” Ujar Leo mengajaknya melihat penjual tersebut.
“... Mm.” Balas Lia mengangguk.
Mereka berdua sepakat untuk melihatnya bersama untuk mencari tahu apa yang sebenarnya ia jual. Mereka berdua menyambangi lapaknya sebelum pemuda itu menyambutnya dengan ramah.
“Selamat siang, pasangan muda. Apa kalian tertarik mencoba peruntungan kalian dalam penilaian bijih?” Sapa pemuda itu sambil menunjukkan beberapa barang dagangannya.
“Penilaian bijih? Sepertinya aku belum pernah mendengarnya. Memangnya apa itu?” Balas Leo bertanya kepadanya.
“Penilaian bijih adalah cara mengetahui isi sebuah mineral atau bahan berharga yang ada di dalam bebatuan dengan menggunakan ilmu alkimia. Jika beruntung, kalian bisa menemukan emas atau berlian. Bagaimana, apa kalian tertarik?” Balas penjual tersebut menawarkan.
“... Mm. Aku cukup tertarik.” Jawab Lia mengangguk.
“Baiklah, kalau begitu kami ingin mencobanya. Bagaimana cara kerjanya?” Ujar Leo menerima tawarannya.
“Satu batu harganya 1 koin perak, aku akan menjelaskan bagaimana cara melakukannya...” Balas pemuda itu mengambil kotak berisi batu dan tanah kepada mereka.
Setelah membayarnya, Leo dan Lia mulai memilih batu yang hendak mereka nilai sebelum penjual muda itu mengeluarkan beberapa barang alkimia yang asing bagi Leo.
“Apa kalian sudah menemukan yang kalian inginkan?” Tanya pemuda tersebut bertanya.
“Ya. Kami sudah dapat. Selanjutnya apa yang harus kami lakukan?” Balas Leo dengan wajah bingung.
“Kalau begitu, tolong tunggu sebentar sampai lingkaran sihirnya selesai...” Balas pemuda tersebut mulai menyiapkan segala sesuatunya.
Penjual muda tersebut mulai menggambar lingkaran sihir di atas sebuah kain menggunakan resin. Dengan pola yang rumit dan susunan yang indah, penjual muda tersebut mampu menggambarnya dengan sangat teliti tanpa melakukan kesalahan sedikit pun.
“Baiklah, silahkan letakkan batumu di tengah-tengahnya. Aku akan memulai mengaktifkan mantranya...” Sambung pemuda tersebut melanjutkan kalimatnya.
Sesuai dengan ucapannya, Leo meletakkan batu yang ia pilih di tengah-tengah lingkaran sihir tersebut sebelum akhirnya penjual muda itu mulai mengaktifkan sihirnya. Perlahan, lingkaran sihir tersebut menyala dengan warna hitam pekat sebelum berangsur memutih pucat. Leo yang menyaksikannya hanya bisa terpukau, ia memang sering melihat banyak jenis sihir, namun untuk sihir alkimia dengan mekanisme yang kompleks, ia baru kali ini melihatnya.
“(Menakjubkan... Sihir itu memang menakjubkan berapa kali pun aku melihatnya...)” Ujar Leo dalam hatinya terkesima.
Setelah beberapa saat menyala, cahayanya perlahan memudar sebelum akhirnya lingkaran sihir tersebut kembali seperti semula. Penjual muda itu lalu mengambilnya sebelum akhirnya menghancurkannya dengan palu miliknya dan mengambil apa yang ada di dalamnya.
“Tepat seperti yang kuduga, isinya memang hanya bijih besi. Tuan muda, sepertinya anda kurang beruntung, huh?” Ujar penjual muda itu mengamati padatan itu sebelum memberikannya kepada Leo.
“Uh... Bijih besi? Aku tidak terlalu mengerti...” Balas Leo menerimanya dengan ekspresi bingung.
“Biar aku jelaskan. Lingkaran sihir yang kubuat ini sebenarnya adalah sihir analisa material. Jika sebuah material diletakkan di tengah-tengahnya, maka warna sihirnya akan menyesuaikan unsur yang terkandung dalam batu tersebut lalu memadatkannya...” Balas pemuda itu menjelaskan cara kerja sihirnya.
“Begitu ya... Kurang lebihnya aku mengerti.” Balas Leo menganggukkan kepala.
Setelah selesai dengan penjelasannya, Lia pun mengambil gilirannya. Ia meletakkan batu yang ia pilih pada lingkaran sihir tersebut sebelum akhirnya penjual muda itu memulai prosesnya. Rangkaian sihir itu mulai menyala dengan warna biru tua yang indah ketika penjual muda yang menyaksikan hal tersebut terkejut dibuatnya.
“Warna biru ini...! Apa jangan-jangan...!” Ujar pemuda itu terkejut.
“Apa yang terjadi...?” Balas Leo dengan wajah panik.
Perlahan, cahaya itu memudar menyisakan gemerlap kebiruan yang indah ketika penjual muda itu membelah batu itu dengan palunya. Terlihat sebuah batu berwarna biru tua yang berkilauan dan indah di antara pecahan batu yang menjadi kulit luarnya.
“Tidak salah lagi... Warna biru tua dengan siluet hitam pada bagian tengahnya... Ini adalah batu bulan kedalaman...!” Ujar pemuda itu dengan wajah terkesima.
“Batu bulan kedalaman...?” Balas Leo bertanya dengan wajah bingung.
“Ya, permata yang memancarkan cahaya bulan biru di kedalaman samudra... Ketika menyentuh cahaya, batu ini akan memancarkan cahaya biru terang layaknya gerhana bulan biru dan akan menjadi biru tua dengan siluet hitam bagaikan kedalaman laut saat dalam keadaan biasa. Itulah mengapa dia dinamakan batu bulan kedalaman.” Balas pemuda itu menjelaskan sambil menunjukkan batu itu kepada mereka berdua.
“U-Uh... Jadi, intinya batu ini termasuk batu mulia, begitu?” Balas Leo dengan wajah heran.
“Ya, batu ini banyak menjadi koleksi para bangsawan sampai keluarga kerajaan. Maka dari itu, maukah kau menjualnya kepadaku, nona? Tentu saja aku akan membelinya dengan harga yang sesuai!” Balas penjual itu sebelum memberikan penawaran kepada Lia.
__ADS_1
Lia hanya terdiam tanpa terlihat berekspresi mendapatkan penawaran tersebut. Ia sepertinya tidak terlalu tertarik dengan tawaran itu meski yang ia dapatkan adalah batu mulia yang berharga tinggi.
“... Tidak, terima kasih. Aku akan mengambilnya.” Ujar Lia menolak tawarannya.
“Ugh... Bagaimana jika kau boleh menukarnya dengan beberapa batu permata lain yang kupunya?” Balas penjual muda kembali memberi penawaran.
“... Tidak. Aku ingin menyimpannya sendiri.” Balas Lia teguh pada pendiriannya.
Karena Lia tidak bergeming, pada akhirnya penjual muda itu menyerah untuk mendapatkan batu itu dari Lia. Jika dipikirkan baik-baik, batu itu pasti bernilai tinggi bila dijual, namun sayangnya Lia tidak tertarik untuk menjualnya. Leo tidak bisa memaksanya jika memang itu yang diinginkannya.
“Sepertinya ini menjadi hari keberuntunganmu. Kau mendapat batu permata seindah itu hanya dengan 1 koin perak. Bukankah itu bagus?” Ujar Leo tersenyum memujinya.
“... Mm.” Balas Lia tersenyum sambil mengangguk.
“Jika dibandingkan denganku... Yah, kalau memang sedang tidak beruntung biarlah...” Ujar Leo dengan senyum kecewa di wajahnya.
Dibalik itu semua, Leo telah mendapatkan waktu yang menyenangkan bersama dengan Lia. Hal itu sudah lebih dari cukup baginya bila dibandingkan nasib sial yang ia dapatkan ketika memilih batu yang dibelinya.
“Jika dilihat-lihat, sekilas batu ini mirip sekali dengan warna matamu... Indah dengan warna biru dan terkesan mendalam... Benar-benar menggambarkan dirimu...” Ujar Leo sambil mengamati batu itu.
“... B-Benarkah?” Balas Lia dengan wajah merah tersipu.
“Ya. Sangat indah dan menawan... Apa yang akan kau lakukan padanya...?” Balas Leo sebelum bertanya kepadanya.
“... Aku akan menyimpannya.” Balas Lia sambil menggenggam batu itu di tangannya.
“Begitu ya. Kalau begitu terserah padamu saja...” Balas Leo sambil tersenyum masam.
Pada saat yang sama, penjual muda yang mendengar percakapan mereka menawarkan sebuah ide.
“Kalau boleh aku memberi saran, sebelum menyimpannya, alangkah baiknya mengubahnya menjadi perhiasan seperti liontin atau sebagainya...” Ujar Pemuda itu mengungkapkan usulannya.
“Liontin...? Sepertinya ide yang bagus. Kita juga membentuknya sekalian...” Balas Leo setuju dengan usulannya.
“... Mm. Aku setuju.” Balas Lia menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu, mampirlah ke kios di sebelah. Dia pengrajin muda yang berbakat. Katakan saja aku yang menyarankannya.” Sambung pemuda itu sambil menunjuk tempat di sebelahnya.
“Terima kasih kalau begitu...” Balas Leo menundukkan kepala mengucapkan terima kasih.
Atas saran darinya, mereka pun mengunjungi lapak yang berada tepat di sampingnya untuk mengolah batu permata yang Lia dapatkan. Mereka menemui seorang pengrajin muda yang ternyata adalah murid dari akademi kerajaan sekaligus teman penjual bijih yang sebelumnya mereka temui.
“Jadi begitu, dia yang menyarankannya, huh? Kalau begitu, tolong tunggu sebentar, saya akan menyelesaikan permintaan anda...” Ujar pengrajin muda itu membawa batu permata Lia untuk dikerjakan.
Dengan menggunakan ilmu alkimia, pengrajin itu mengubah bentuk batu permata itu menjadi bentuk yang lebih sempurna sebelum akhirnya menggabungkannya dengan bingkai dari logam yang membuatnya semakin menawan. Dan akhirnya, setelah memasangkan tali padanya, akhirnya liontin itu pun selesai.
“Maaf telah menunggu, silahkan dilihat hasilnya...” Ujar pengrajin itu menunjukkan hasil kerjanya.
Lia terpukau ketika mengamatinya sebelum akhirnya ia mengambilnya.
“... Ini sangat indah.” Ujar Lia terkesima mengamatinya.
“Ya, kini sekarang jadi lebih indah dari sebelumnya. Dan yang lebih bagus, kau bisa memakainya...” Balas Leo tersenyum ikut mengamatinya.
“... Mm.”
“Jadi, apa kalian suka?” Tanya pengrajin itu dengan senyum hangat.
“Ya. Berapa untuk yang ini?” Jawab Leo sebelum bertanya kepadanya.
“Untuk kalian saya memberi harga 50 koin perunggu saja.” Balas pengrajin itu.
Leo memberikan uang tersebut kepadanya sebelum akhirnya pergi meninggalkannya bersama dengan Lia dan liontin itu. Ia terlihat sangat senang dengan liontin itu hingga terus menggenggamnya di dadanya. Tidak biasanya Lia sebahagia seperti hari ini, mungkin karena ini adalah hari beruntungnya. Bagaimana pun juga, Leo turut senang akan hal itu.
“(Dia terlihat senang... Aku hanya bisa berharap bisa terus melihatnya tersenyum seperti hari ini...)” Gumam Leo dalam hatinya gembira.
Tanpa terasa matahari sudah mulai terbenam ketika ia menyadarinya. Hal itu menandakan ia sudah seharian ini menghabiskan waktu berduaan dengan Lia. Walau ini adalah pengalaman pertamanya, setidaknya Leo tidak membuat kesan yang buruk baginya dan itu sudah lebih dari cukup.
“Leo... Bolehkah aku meminta sesuatu...?” Ujar Lia menarik lengan Leo dengan wajah tersipu.
Leo seketika menghentikan langkahnya ketika Lia mengatakan hal tersebut.
“Ada apa Lia?” Balas Leo bertanya.
“... Maukah kau... Memakaikan liontin ini padaku...?” Jawab Lia melihat ke arahnya dengan wajah tersipu.
“U-Uh... M-Maaf?” Balas Leo dengan wajah merah terkejut.
“... Aku ingin kau memakaikannya... Apa tidak boleh?” Balas Lia dengan mata berbinar dengan penuh harapan.
“T-Tentu. A-Aku tidak keberatan...” Balas Leo memalingkan wajahnya malu.
Ia pun mulai memakaikan liotin itu pada leher Lia. Ia perlahan meraih bahu Lia dengan tangannya sebelum ia membelai rambutnya dengan lembut memakaikan liontin tersebut padanya. Walau dengan perasaan gugup, ia mampu memakaikan liontin itu sesuai dengan permintaan Lia.
“S-Selesai...” Ujar Leo kepada Lia.
Perlahan, Lia membuka matanya sebelum melihat liontin itu tergantung di dadanya. Keinginannya sudah terkabul, Leo menjadi orang yang pertama kali memakaikan liontin tersebut.
“... Indah sekali.” Ujar Lia memandanginya sambil tersenyum.
“Y-Ya. Itu sangat cocok denganmu... Kau jadi lebih menawan...” Balas Leo memujinya dengan wajah malu.
“... Aku akan menjaganya. Akan kujaga dengan baik, karena ini adalah kenangan kita bersama...” Balas Lia menggenggam liontin itu dengan sepenuh hati.
Leo seketika tersipu mendengar ucapannya. Ia lantas memalingkan wajahnya sambil mencoba mengubah arah pembicaraan.
“A-Ah. S-Sepertinya langit sudah mulai petang... Sebaiknya kita kembali sebelum gelap...” Ujar Leo dengan nada gugup.
Sambil tersenyum, Lia meraih tangan Leo sebelum ia membalas ucapannya.
“Mm. Mari kita pulang, Leo...” Balas Lia melihat ke arahnya tersenyum.
“Y-Ya. Ayo...” Balas Leo sambil memalingkan wajahnya tersipu.
__ADS_1
Di bawah langit senja, mereka berdua kembali menuju penginapan. Ini adalah hari yang paling berkesan di hati mereka berdua karena masing-masing dari mereka menemukan hal yang berarti bagi mereka. Perasaan yang sulit dijelaskan pun mulai muncul pada hati Leo. Meski sulit bagi Leo untuk mengakuinya, tetapi ia merasa bahwa perasaan itu bukan sesuatu yang buruk.