
Selagi memikirkan cara untuk menciptakan celah, Leo mengamati naga itu menggunakan kemampuan mata sihirnya. Ia memikirkan semua kemungkinan yang bisa ia gunakan untuk melawannya. Secara bersamaan pula, ia juga turut mengamati aura sihir yang menyelimutinya sebelum akhirnya membuat perbandingan dengan miliknya dan Olivia.
“(Tidak mengherankan bagi seekor naga memiliki energi sihir sebesar itu. Aura miliknya bahkan mencakup seluruh area hutan. Bahkan Olivia saja tidak mampu menyainginya...)” Ujar Leo dalam hatinya cemas.
Dengan kekuatan sebesar itu, baik serangan fisik maupun sihir tidak akan menjatuhkannya semudah itu. Situasi ini tidak memberikannya pilihan lain selain bertarung menggunakan insting.
Setelah menerima serangan Olivia, perhatian naga itu tertuju padanya sesaat sebelum ia membuka mulutnya mencoba bicara dengannya.
“Hvíthærð norn... Þú ert ekki mannleg... Þú lyktar ekki eins og hann... Hver ert þú?”
“....?!”
“Ég skynja... töfra mannsins frá líkama þínum... Ert þú þræll hans?”
Olivia hanya bisa terperanga mendengar ucapan naga itu tanpa sedikit pun mengerti apa yang sedang dibicarakannya. Selain bahasanya yang asing, kenyataan bahwa dia bisa berbicara adalah sesuatu yang tidak masuk akal.
“M-Master... Naga itu... Apa Olivia tidak salah dengar...?” Tanya Olivia dengan nada terkejut.
“Ya. Kau tidak salah dengar. Naga itu memang bisa bicara. Dia juga bicara denganku sebelumnya...” Balas Leo dengan sinis.
“B-Bagaimana hal itu mungkin...? Sejauh yang Olivia tahu, mereka hanyalah monster ganas yang membawa kehancuran...” Balas Olivia dengan wajah gelisah.
“Aku juga awalnya berpikir seperti itu sampai aku berhadapan langsung dengannya. Sepertinya dia datang ke kota ini untuk suatu alasan...”
“Alasan...? Alasan apa yang anda maksud...?”
“Aku juga ingin tahu sama sepertimu. Tetapi sayangnya kita tidak mengerti apa yang dia bicarakan, jadi kita hanya bisa menebak.”
“Menebak...?”
Melihat mereka berdua sedang berbicara satu sama lain membuat naga itu yakin mengenai dugaannya. Ia sebelumnya menduga kalau Olivia adalah budak Leo karena ia sebelumnya menyadari kekuatan sihir Leo mengikat di tubuh dan jiwanya. Hal ini menjelaskan mengapa Olivia sangat terikat padanya tidak seperti manusia lain yang ia lihat sebelumnya di kota. Karena mereka bersekongkol, maka itu berarti bahwa Olivia juga musuhnya. Ia akan ikut membunuhnya jika dia berniat menghalanginya.
“Hvað sem þú ert... Ef þú reynir að verja bölvunina... mun ég færa þér... Dauða...”
Setelah mengatakan itu, sang naga lantas mengangkat kedua sayapnya mengeluarkan sejumlah besar kekuatan sihir. Secara bersamaan, lingkaran sihir raksasa tercipta tepat di bawah kaki mereka mencakup seluruh area yang ada di dalam kurungan api itu sesaat sebelum naga itu berkata kepada mereka.
“Farðu, bölvaður!”
Cahaya terang seketika menyelimuti mereka. Leo dan Olivia yang merasakan bahaya langsung mencoba untuk pergi, namun sayangnya mereka sudah terlambat. Sihir itu telah aktif dan seketika melenyapkan seluruh area yang ada dalam jangkauannya. Ledakan yang hebat itu bahkan dapat disaksikan oleh Lia yang berada jauh di tengah-tengah kota. Kegelisahannya kian bertambah ketika ia mengetahui bahwa ledakan itu berasal dari arah Leo dan Olivia berada.
“(Cahaya terang itu asalnya dari arah mereka...! Leo...!)” Ujar Lia dalam hatinya cemas.
Ledakan itu menghancurkan seluruh area hutan. Baik tanaman maupun hewan yang ada di dalamnya lenyap bersama dengan sihirnya menyisakan kawah lahar raksasa seluas ribuan meter. Tidak ada satu pun yang tersisa kecuali sang naga yang dengan gagah perkasa menyaksikan kehancuran yang berasal dari kekuatannya. Ia mungkin bertindak berlebihan, namun semua itu harus dilakukan olehnya karena ia tidak punya pilihan lain. Ia terpaksa mengorbankan hutan beserta isinya.
“....”
Pekerjaannya sudah selesai, sang naga memutuskan untuk pergi sebelum para manusia memanggil bala bantuan sebagai bentuk pertahanan diri mereka atas apa yang dilakukannya. Ia tidak ingin memperpanjang masalah ini dengan mereka yang tidak terlibat. Akan tetapi, niatnya seketika terhenti ketika ia secara mengejutkan merasakan hawa keberadaan mereka.
“....?!”
Ia langsung memutar pandangannya, melihat ke pinggiran kota tempat di mana Leo dan Olivia berada saat ini sebelum ia terkejut menyaksikannya. Mereka berdua masih hidup saat naga itu mengira bahwa mereka berdua telah lenyap oleh sihir miliknya. Tidak hanya itu, pedang hitam milik Leo juga masih utuh berada di sarungnya membuatnya semakin bertambah marah.
“Ugh... Tadi itu nyaris saja... Bagaimana keadaanmu, Olivia...?” Tanya Leo bangun dari tempatnya sambil mengusap kepalanya.
“M-Mm. Olivia baik-baik saja. Hanya saja, apa yang baru saja terjadi...? Olivia tidak bisa mengingatnya dengan jelas...” Balas Olivia dengan ekspresi bingung.
“Agak sulit menjelaskannya, tetapi aku beruntung bisa membawamu bersamaku sebelum ledakan itu terjadi...” Balas Leo bangkit sambil membersihkan debu di bajunya.
“E-Eh...? Itu maksudnya... Master menyelamatkan Olivia dengan kemampuan dari berkah dewa milik master...?”
Benar, seperti yang Olivia katakan, Leo menyelamatkannya dari ledakan itu menggunakan kemampuan miliknya. Ia menggunakan kecepatan kilatnya untuk membawa Olivia bersamanya keluar dari hutan sesaat sebelum sihir itu menghancurkannya. Meski ia belum bisa mengendalikannya sepenuhnya, setidaknya berkat kemampuan itu mereka berhasil selamat dari kematian.
“(Itu tadi nyaris saja. Jika aku terlambat sesaat saja, mungkin kami berdua akan lenyap bersama hutan itu. Aku beruntung bisa menggunakan kemampuan ini di waktu yang tepat...)” Ujar Leo dalam hatinya sambil menghela nafas lega.
Akan tetapi, bahaya belum sepenuhnya hilang. Hanya selang beberapa saat setelah mereka berhasil selamat dari ledakan, naga itu terbang menuju ke arah mereka berdua dengan beberapa bola api raksasa terbang mengikutinya.
“Master...!”
“...?!”
Mereka berdua lantas terkejut begitu melihat naga itu kembali dengan penuh amarah ke arah mereka. Leo tidak mengira kalau naga itu akan kembali lagi untuk bertarung dengannya meski dia nyaris saja pergi meninggalkan lembah. Hal ini membuat Leo terkejut serta kebingungan mengenai tindakan tidak masuk akalnya ini.
“(Dia kembali lagi...! Ini tidak bagus, kami sedang berada di dekat kota saat ini...! Jika serangan itu sampai ke sini, maka kota akan benar-benar hancur...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.
Melihat hal itu, Leo langsung memberi perintah kepada Olivia untuk menciptakan pelindung guna melindungi kota dari serangan itu.
“Olivia, jangan sampai bola api itu sampai ke kota...!” Ujar Leo dengan nada tinggi.
“Baik...!” Balas Olivia sigap.
__ADS_1
Olivia lantas membuka kedua tangannya menghadapi serangan tersebut sambil merapalkan mantranya.
“Enchant: Gouden Fort.”
Medan sihir raksasa seketika membentang di hadapan mereka bersamaan dengan datangnya serangan. Bola-bola api itu menghantam perisai sihir dengan hebat hingga menciptakan goncangan beruntun sebelum akhirnya meledak menjadi satu dengan kekuatan yang dahsyat. Meski sempat diguncang oleh efek ledakan, berkat perisai sihir Olivia, kota sama sekali tidak mengalami kerusakan yang berarti. Ia berhasil mencegah hancurnya kota.
“...!! Olivia, dia datang...!” Seru Leo dengan wajah panik.
“...?!”
Hanya berselang setelah ledakan besar itu, sang naga datang dengan kecepatan tinggi ke arah mereka. Dengan penuh amarah, ia terbang melesat sambil menyemburkan api miliknya menciptakan ombak api besar di sepanjang jalur yang dilaluinya. Bagaikan badai pasir, ombak api itu menelan semua yang ada di hadapannya bersamaan dengan naga itu terbang melintasi mereka meninggalkan mereka di belakangnya menunggu dilahap olehnya.
“(Sial...! Bahkan dengan sihir Olivia, serangan itu tidak mungkin dibendung...! Kota ini akan tersapu hangus...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.
Serangan berskala besar itu mustahil dapat ditahan hanya mengandalkan kekuatan Olivia. Kota ini akan hangus tidak peduli sekuat apa pun mereka berusaha melindunginya.
“(Kalau seperti itu... Maka aku tidak punya pilihan lain lagi...)” Ujar Leo dalam hatinya pasrah.
Dengan berat hati, Leo memutuskan untuk menyerah dan membiarkan kota itu hangus. Meski ia tidak bermaksud melakukannya, namun semuanya sudah terlambat. Ini sudah di luar batas kemampuannya. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah pergi menemui Lia dan membawanya pergi sejauh mungkin sebelum api itu meratakan kota.
Akan tetapi, ketika Leo hendak menyampaikan kehendaknya kepada Olivia, dia menunjukkan ekspresi yang membuatnya menghentikan niatnya. Api semangat masih membara di matanya sesaat sebelum ia menghadapi ombak api tersebut. Ia berdiri mendahului Leo sebelum bicara dengannya.
“Olivia mengerti perasaan master. Tetapi, Olivia tidak akan menyerah. Belum...” Ujar Olivia dengan nada serius.
“Olivia...” Balas Leo termenung.
“Olivia akan melindungi kota ini!”
“...?!”
Dengan tekad yang telah bulat, Olivia menggenggam tangannya di dadanya ketika kilauan cahaya emas menyelimuti tubuhnya. Lingkaran sihir berwarna emas tercipta tepat di bawah kakinya sesaat sebelum ia berseru.
“Melepaskan limiter...!”
Tepat ketika ia menyerukannya, lingkaran sihir yang mengikatnya seketika terlepas menyebabkan kekuatannya meluap dengan hebat. Aura sihir yang kuat langsung memenuhi udara ketika Leo yang menyaksikan semua itu dengan mata sihirnya membeku terkesima.
“(Kekuatan sihir yang luar biasa...! Kekuatannya bahkan menyamai naga itu...!)” Ujar Leo dalam hatinya terkesima.
Tidak seperti yang pertama saat melawan kawanan Wyvern, Olivia kali ini benar-benar melepaskan seluruh kekuatannya. Jika bisa dilihat dengan mata telanjang, maka kekuatan sihir Olivia bahkan bisa menelan seluruh kota. Ucapan serta kecurigaan Lia terhadapnya kini mulai terbukti.
“Enchant: Gouden Schield Fort.”
Secara bersamaan, lingkaran sihir raksasa seketika menyelimuti seluruh bagian kota. Hanya selang beberapa saat setelah menciptakannya, ombak api itu datang menerjang perisai sihir itu dengan hebat layaknya tsunami. Akibatnya, medan sihir miliknya berguncang menyebabkan orang-orang yang berada di dalamnya panik dan ketakutan. Mereka hanya bisa berdiri mematung sambil berharap bahwa semua hal yang tengah terjadi akan segera berakhir.
Setelah beberapa saat, ombak api itu akhirnya berhenti menerjang sebelum akhirnya Olivia melepaskan sihirnya. Selain kota, tidak ada satu pun yang tersisa yang dilalui oleh ombak api itu. Padang rumput yang semula mengitari kota kini berubah menjadi padang gersang penuh dengan bara menyisakan pemandangan mengerikan bagi mereka yang menyaksikannya. Meski demikian, berkat usaha Olivia, kota serta puluhan orang yang ada di dalamnya berhasil diselamatkan.
“Olivia, bagaimana keadaanmu...?” Ujar Leo bergegas menghampirinya.
“Olivia baik-baik saja. Terima kasih atas perhatian master.” Balas Olivia tersenyum kepadanya.
“Kau yakin...?” Balas Leo dengan ekspresi ragu.
“Ya. Olivia masih mampu bertarung...”
Meski terlihat baik-baik saja, Leo tahu bahwa ia memaksakan dirinya. Dapat terlihat dari nafasnya yang mulai tidak teratur, ia yakin bahwa Olivia bermaksud menyembunyikannya. Kemungkinan besar, ia kelelahan karena sihir barusan cukup menguras kekuatannya. Ia hanya takut jika Olivia akan jatuh tidak sadarkan diri sama seperti sebelumnya.
“Olivia mengerti kekhawatiran master, tetapi saat ini ada masalah yang jauh lebih penting...” Sambung Olivia dengan wajah gugup sebelum membuang pandangannya ke langit.
“Ya. Kau benar. Pertarungan masih belum berakhir.” Balas Leo sebelum menatap ke arah langit dengan tatapan tajam.
Mereka berdua menatap ke satu arah yang sama, yaitu pada sang naga yang tengah terbang memantau mereka dari ketinggian. Ia tampak tidak senang melihat serangan besarnya berhasil ditahan oleh kekuatan Olivia. Hal ini menjadikan kemarahannya semakin besar terhadap mereka berdua.
“Þessir tveir bölvuðu... kraftur þeirra... ég vanmet þá... Þá þarf ekki að halda í mig...”
Naga itu terbang menuju ke arah mereka berniat untuk kembali melancarkan serangan. Menyadari hal itu, Leo bersama Olivia lantas berlari menjauh dari kota guna mencegah kejadian yang sama kembali terjadi. Mereka membawanya menuju ke timur masuk jauh ke dalam lembah sesaat sebelum naga itu terbang melintasi kota berniat mengejar mereka.
“...!!”
Lia yang melihatnya sekilas sempat panik mengira bahwa naga itu akan mendarat di kota, namun kekhawatirannya seketika menghilang setelah menyadari bahwa dia hanya terbang melintas.
“(Itu tadi nyaris saja... Aku sempat berpikir dia akan kembali dan meratakan kota ini...)” Gumam Lia dalam hatinya sambil bernafas lega.
Kemungkinan besar Leo dan Olivia tengah memancingnya menjauh dari kota agar dampak pertarungan mereka tidak menimbulkan kerusakan bagi kota dan penduduk yang masih berada di dalamnya.
“O-Oi...! Lihat di sana...! Ada yang masih hidup...!” Seru sesosok suara misterius tak jauh darinya.
“...?!”
__ADS_1
Seorang prajurit muncul dari sebuah gang yang tak jauh dari sana melihat Lia yang terduduk termenung menyaksikan langit sebelum akhirnya memutuskan untuk menghampirinya. Hanya selang beberapa saat ia meninggalkan gang itu untuk menghampirinya, satu pasukan kecil berisikan sekitar 10 orang prajurit mengikutinya. Mereka lantas menghampirinya sebelum menanyakan keadaannya.
“Kau baik-baik saja, nona...?” Tanya prajurit pertama menghampirinya terburu-buru.
“Ya. Aku tidak apa-apa. Yang lebih penting lagi...” Balas Lia singkat sebelum berdiri dari tempatnya menatap ke arah petualang yang ada di dekatnya.
“T-Tunggu...! Bukankah mereka adalah kelompok petualang yang mencoba melawan naga itu...! Mereka semua masih hidup...?!” Balas prajurit lain dengan ekspresi terkejut.
“Ya. Tetapi keadaan mereka kritis. Mereka membutuhkan pertolongan lebih lanjut.” Jawab Lia dengan nada serius.
Mendengar pernyataannya, para prajurit lantas mengevakuasi para petualang yang tergeletak di sana. Ia menyerahkan sisanya kepada para prajurit untuk menangani mereka sebelum akhirnya Lia memutuskan untuk pergi menyusul Leo dan Olivia.
“Kuserahkan sisanya kepada kalian.” Ujar Lia sebelum bergegas pergi meninggalkan mereka.
“T-Tunggu, nona...! Ke mana kau akan pergi...!” Balas prajurit itu terkejut dengan keputusannya.
“O-Oi. Bukankah naga itu terbang ke arah sana sebelumnya...?” Ujar salah seorang prajurit dengan wajah pucat.
“Y-Ya. Aku juga melihatnya. Tidak salah lagi dia terbang ke sana...” Balas prajurit ketiga dengan wajah cemas.
“J-Jangan-jangan...! Dia berniat menghadapi naga itu...!” Ujar prajurit pertama dengan nada panik.
Entah apa yang dipikirkannya, namun melawan naga itu sama saja dengan bunuh diri bahkan untuk petualang setingkatnya. Itu jelas tindakan yang nekat bahkan untuk seorang petualang.
Sementara itu, selagi memancing perhatian naga itu agar mengikuti mereka, Leo memutar otaknya mencari cara yang bisa ia gunakan untuk melawan naga tersebut. Jika saja ia menguasai beberapa mantra sihir, mungkin masih ada sedikit harapan baginya untuk bertarung melawannya secara langsung.
“(Melawannya secara langsung adalah masalah, tetapi membuatnya turun adalah masalah yang lain... Aku tidak bisa menyerang jika dia terus-terusan terbang sambil menghujani serangan...)” Gumam Leo dalam hatinya kesal.
Masalah utama mereka dalam melawan naga itu tentunya adalah kemampuan terbang miliknya. Orang-orang dari sukunya bahkan mengatakan bahwa lebih mudah mengalahkan makhluk raksasa yang menggeliat di tanah dari pada membunuh makhluk yang bisa terbang bebas. Itu karena mereka bisa membuat jarak dengan mudah serta memiliki mobilitas yang tinggi dari pada monster yang bergerak di tanah. Dengan kata lain, untuk bisa mengalahkan naga itu, mereka terlebih dahulu harus mencari cara untuk membuatnya turun ke tanah.
Selagi berlari menghindari setiap serangan yang dilancarkan oleh naga itu, tanpa mereka sadari jalan mereka hampir mencapai ujungnya. Tepat di hadapan mereka membentang sebuah gunung yang menjadi jalan buntu yang mengakhiri barisan lembah ini.
“Master, kita hampir menemui ujung. Jika lebih dari ini, kita tidak akan punya tempat untuk lari lagi...” Ujar Olivia dengan ekspresi cemas.
“Tch. Sepertinya kita tidak punya pilihan lain lagi...” Balas Leo dengan nada kesal.
Dengan ekspresi kesal, Leo memutuskan untuk berhenti karena ia mulai kehabisan pilihan. Ia lantas menghentikan langkahnya diikuti oleh Olivia sesaat sebelum ia berbalik dan menghadapi naga itu secara langsung.
“Olivia, kita tidak punya pilihan lain. Kita akan menghadapinya di sini...!” Ujar Leo dengan nada serius sambil menarik bilah pedangnya.
“Baik, master...!” Balas Olivia dengan nada tegas.
“Sekarang atau tidak selamanya...! Kerahkan seluruh kemampuanmu atau mati...!” Balas Leo dengan nada tinggi.
“Baik!”
Melawannya tanpa rencana yang matang adalah tindakan yang nekat dan gegabah. Tetapi, saat ini ia tidak punya pilihan lain lagi. Ia sudah membulatkan tekadnya dan sudah siap menerima apa konsekuensinya.
“Bersiaplah...!”
“Baik!”
Naga itu datang ke arah mereka dengan semua serangan yang telah ia siapkan. Belasan sihir melesat ke arah mereka sesaat sebelum naga itu menyemburkan apinya menciptakan gelombang api yang mengiri kedatangannya. Olivia yang menyaksikan hal itu dengan sigap menciptakan medan sihir untuk menghalau serangan tersebut sesaat sebelum ledakan hebat mengguncang dataran tersebut.
Seisi tempat hancur menyisakan mereka berdua yang berada dalam lindungan sihir selang beberapa saat sebelum naga itu terbang melintas di atas mereka. Bersamaan dengan hal itu, Leo mengeluarkan seluruh kekuatannya pada pedangnya menyebabkan kilatan petir menyelimuti pedang miliknya sesaat sebelum ia mengejar naga itu dengan kecepatan kilatnya. Ia melompat sekuat tenaga berusaha menebas salah satu sayapnya, namun sayangnya kekuatannya sendiri tidak cukup untuk menjangkaunya. Akan tetapi, ia belum menyerah.
“Olivia...!” Serunya dengan suara lantang.
Seolah mengerti apa yang dimaksud olehnya, Olivia menciptakan pijakan dari rangkaian sihir miliknya tepat di posisinya saat ini berada. Leo menggunakannya tepat pada waktunya ketika gravitasi mulai menariknya sesaat sebelum ia mengerahkan seluruh kekuatannya dan melesat mengejar naga tersebut.
“Haaaa...!!”
Ia terbang melesat menuju ke arahnya bersiap untuk menikam ketika sang naga yang menyadari kedatangannya terkejut.
“....!!”
Ia tidak menduga Leo akan melakukannya sampai sejauh itu hanya untuk mengejarnya. Akan tetapi, dia melupakan satu hal yang sangat penting.
“...?!”
Niat Leo untuk menikam sayapnya seketika gagal saat pedangnya terhenti oleh medan sihir yang melindungi tubuh sang naga. Suara gemuruh petir menggelegar ketika percikan listrik bergejolak di antara mereka saat ujung pedang Leo menghantam medan sihir tersebut. Bahkan setelah menggunakan seluruh kekuatan miliknya, serangan Leo bahkan sama sekali tidak bisa menggores medan sihir milik sang naga.
“(Sial...! Keras sekali...! Bahkan dengan seluruh kekuatanku, aku tidak bisa menyentuhnya...!)” Ujar Leo dalam hatinya kesal.
Menyadari serangannya gagal mendarat, naga itu lantas mengambil manuver berputar sesaat sebelum ia terbang menyambar Leo yang perlahan jatuh setelah kehilangan momentum. Naga itu menangkapnya dengan rahangnya, menggigitnya dengan gigi tajamnya hingga membuatnya seketika terluka parah.
“Ughhh...!!”
“Master...!!”
__ADS_1
Darah bercucuran keluar dari tubuhnya membuatnya bersimbah darah ketika Olivia yang menyaksikannya terkejut dan panik. Ini adalah pemandangan yang mengerikan untuknya.