
... ...
Sesampainya di tempat, Leo dan lainnya menemukan sekelompok besar Orc yang menjadi target misi mereka. Dalam misi kali ini, mereka diminta menghabisi sekelompok Orc yang sebelumnya menghancurkan desa yang ada di hutan wilayah hukum kota. Para Orc itu dikabarkan merampas dan menculik beberapa wanita desa sebelum akhirnya kembali ke dalam hutan meninggalkan semua kekacauan itu. Oleh alasan itulah, mereka kini melacak jejak para Orc itu hingga masuk ke dalam hutan guna mencari para korban yang diculik oleh kelompok mereka, sekaligus untuk mencari tahu wilayah kekuasaan para Orc tersebut untuk selanjutnya ditandai agar otoritas kota bisa melakukan tindakan lebih lanjut.
Tepat di bawah tebing, kelompok Orc yang mereka cari akhirnya berhasil ditemukan. Berkat kemampuan melacak monster yang Leo miliki, mereka bisa menemukannya dengan mudah.
“Tidak salah lagi itu mereka...” Gumam Leo menatap Orc itu dari atas tebing.
“Di luar dugaan, mereka ternyata lebih banyak dari yang kukira semula...” Balas Lia melihat ke arah mereka tajam.
“Ya. Jumlah mereka jauh lebih banyak dari keterangan yang diberikan oleh penduduk desa. Aku rasa, mereka adalah dua kelompok yang kini berkumpul menjadi satu...” Balas Leo mengamati mereka lebih teliti.
“... Mm. Hanya itu alasan yang masuk akal. Kita serang mereka secara langsung?”
“Tidak, kurasa dengan jumlah itu akan sulit bagi kita menghadapinya sekaligus...”
“Ada rencana...?”
“Aku sedang memikirkannya...”
Meski mereka berdua cukup kuat dan berpengalaman membunuh Orc, mereka akan tetap kesulitan melawan mereka yang berjumlah belasan hingga puluhan. Terlebih, dalam kelompok sebesar itu, setidaknya ada lebih dari satu High Orc yang memimpin mereka. Dialah yang harus diwaspadai sebelum menyerang mereka.
“(Aku bisa melihat High Orc yang memimpin mereka. Masalahnya akan sulit menghabisinya terlebih dahulu jika semua Orc itu melindunginya. Aku harus memikirkan cara untuk mengalihkan perhatian mereka dari perintah High Orc itu...)” Gumam Leo dalam hatinya berpikir.
Ketika Leo tengah memikirkan rencana menghadapi para Orc itu, Olivia lantas angkat bicara mencoba membantunya memecahkan masalah mereka.
“Maaf mengganggu konsentrasi master, tapi apakah Olivia boleh bicara?” Ujar Olivia dengan sopan.
“Hm..? Ya, kau boleh bicara...” Balas Leo menoleh ke arahnya.
“Dalam jarak ini, Olivia bisa menghabisi mereka dalam waktu singkat. Jika master mengizinkan, Olivia siap melancarkan serangan cepat pada mereka.” Balas Olivia melihat ke bawah tebing sesaat sebelum kembali pada Leo.
“Tunggu, apa maksudnya serangan cepat?”
Lia yang mendengar hal itu seketika merasa curiga dengannya maksudnya sebelum ia berusaha memastikannya.
“Tahan dulu, apa maksudmu dengan menyerang cepat?” Tanya Lia dengan ekspresi curiga.
“Seperti yang Olivia katakan sebelumnya, Olivia akan memulai serangan dari jarak ini dan menyelesaikannya dengan cepat. Bisa dibilang ini adalah taktik yang biasa kami gunakan dahulu. Apa ada masalah, nona Lia...?” Balas Olivia dengan wajah tenang.
“Tunggu dulu, apa yang kau maksud, Olivia...? Aku tidak mengerti...” Tanya Leo dengan wajah bingung.
“Serangan cepat adalah mengerahkan tembakan masif pada musuh dengan tujuan menghancurkan musuh dalam waktu yang singkat. Dengan kata lain, ini adalah taktik militer.” Ujar Lia menjelaskan secara singkat.
“Jadi maksudmu...!” Balas Leo menyadari maksudnya.
“Ya. Itulah tujuannya, menghancurkan mereka dalam arti yang sebenarnya...” Balas Lia dengan wajah serius.
Mendengar hal itu, Leo lantas menolak saran Olivia karena dinilai terlalu berlebihan.
“Jika benar demikian, maka jejak mengenai korban yang diculik akan hilang bersama dengan musnahnya mereka. Kurasa Lia benar, kita tidak bisa melakukannya...” Ujar Leo setelah mempertimbangkan ucapan Lia.
“Baiklah jika master berkata demikian... Mohon maaf atas sikap Olivia yang kurang teliti...” Balas Olivia dengan ekspresi menyesal.
“Tidak, kau tidak perlu minta maaf. Misi kita memang menghabisi para Orc, tapi prioritas utama kita adalah mencari para korban dan tempat tinggal Orc.” Balas Leo mencoba menghiburnya.
“Dimengerti, master.” Balas Olivia kembali seperti semula.
“Jadi, sekarang kau punya rencana?” Tanya Lia kepada Leo.
“Aku tidak yakin, tapi kurasa aku punya ide...” Balas Leo dengan wajah ragu.
Mengikuti rencana Leo, mereka bertiga lantas berpencar menjadi dua kelompok. Dalam rencananya, Leo berniat memisahkan para Orc dengan High Orc dengan cara memancing mereka satu persatu ke dalam perangkap mereka. Lia dan Olivia bertugas sebagai eksekutor sementara Leo sendiri akan berperan sebagai umpan. Meski terbilang berisiko dan sempat ditentang oleh Olivia, pada akhirnya Leo bisa meyakinkannya untuk percaya kepadanya. Dan dengan begitu, mereka pun memulai rencana mereka.
“Apa benar master akan baik-baik saja...?” Ujar Olivia dengan ekspresi cemas.
“... Tidak perlu cemas. Jika berhadapan dengan monster, tidak ada yang bisa mengalahkan pengetahuannya.” Balas Lia meyakinkannya.
“Kenapa nona Lia bisa seyakin itu...?” Balas Olivia melihat ke arahnya.
“... Karena, begitulah dirinya. Dia memang terlahir untuk membunuh monster.” Jawab Lia dengan ekspresi yakin.
“...??”
“... Kau akan tahu setelah melihatnya.”
Meski tidak mengerti apa maksudnya, namun untuk saat ini Olivia hanya bisa percaya kepada Leo sama seperti Lia percaya padanya. Sebagai pelayan, sudah seharusnya ia percaya kepada majikannya.
“(Master, semoga tidak terjadi apa-apa kepada master...)” Ujar Olivia dalam hatinya cemas.
__ADS_1
Sementara itu di kota Linderfell, setelah membaca surat yang Lilia berikan untuknya, Willtern muda memutuskan untuk mengizinkan mereka masuk dalam kediamannya sebelum akhirnya ia bicara lebih lanjut dengan mereka.
“Tidak perlu sungkan, silahkan dimakan kue dan cemilannya.” Ujar Willtern muda menyuguhi mereka.
“T-Terima kasih banyak...” Balas Louise dengan nada gugup.
“Selagi menikmati, kita bisa bicara sedikit...?” Balas Willtern muda dengan senyum hangat.
“M-Mm.”
“Bagus...”
Willtern muda lantas memberi isyarat kepada Milgret dan Mila untuk meninggalkan ruangan. Atas perintahnya, mereka berdua pun meninggalkan ruangan menyisakan Willtern muda dan anak-anak itu sendirian sebelum akhirnya ia memulai pembicaraan mereka.
“Pertama-tama, izinkan aku mengenalkan diri terlebih dahulu. Namaku adalah Aston, kepala keluarga Willtern saat ini. Sekali lagi kuucapkan terima kasih kepada kalian karena telah mengantarkan surat ini.” Ujar Aston menundukkan kepalanya.
“U-Um... T-Terima kasih kembali, tuan...” Balas Louise gugup.
“Untuk anak-anak seumuran kalian, menempuh jarak sejauh ini hanya untuk mengantarkan surat adalah keberanian yang patut dipuji. Tidak salah jika nona Cecilia mempercayakan surat ini kepada kalian...” Sambung Aston memuji mereka.
“Maaf sebelumnya tuan, tapi apa sebenarnya hubungan keluarga anda dengan kakak Alicia...?” Tanya Lilia dengan ekspresi penasaran.
“Alicia...? Begitu ya, jadi itu namanya sekarang. Sekarang itu menjelaskan kenapa kalian masih kebingungan mengenainya.” Balas Aston tersenyum.
“M-Memangnya siapa kakak Alicia itu...?” Tanya Louise dengan nada canggung.
“Nama aslinya adalah Cecilia Brown, dia adalah pewaris keluarga Brown, keluarga yang kami layani sejak lama. Jadi, dengan kata lain dia adalah tuanku...” Balas Aston dengan sikap tenang.
Mendengar hal itu, mereka berempat seketika terkejut mengetahui kenyataan bahwa Lia adalah anak seorang bangsawan. Semuanya menjadi masuk akal sekarang, alasan mengapa ia mengatakan memiliki hubungan dengan keluarga Willtern adalah karena dirinya merupakan seorang bangsawan. Itulah mengapa mereka disambut dengan sangat baik oleh Aston karena merupakan utusan dari tuannya.
“T-Tidak mungkin... Kakak Alicia...” Gumam Edward dengan ekspresi terperanga.
“Adalah bangsawan...?!” Sambung Vivian ikut terperanga.
“Pantas saja dia sangat hebat menggunakan pedang...” Gumam Louise tidak menduganya.
“Kakak Alicia... Adalah bangsawan... Benar-benar menakjubkan...” Gumam Lilia terkesima.
“Dilihat dari ekspresi kalian, sepertinya nona Cecilia tidak mengatakan apa-apa kepada kalian sebelum mengutus kalian, bukan?” Ujar Aston kepada mereka.
“Tuan Aston, apa yang dimaksud oleh kakak Alicia mengenai kepergiannya..? Dia mengatakan bahwa akan pergi dalam perjalanan yang panjang, apa maksudnya itu...?” Tanya Lilia dengan nada cemas.
“Sayangnya aku juga tidak tahu. Itulah yang sebenarnya ingin kubicarakan dengan kalian mengenai tujuan nona Cecilia. Tapi sepertinya, dia juga tidak mengatakan apa-apa kepada kalian...” Balas Aston sebelum menghela nafas panjang.
Memang tidak banyak yang Lia katakan kepada mereka. Namun yang jelas, ia telah meninggalkan beberapa petunjuk mengenai kepergiannya dalam surat itu.
“Kurasa itu bukan masalah sekarang. Nona Cecilia memang jarang bicara dan mengungkapkan pikirannya kepada orang lain. Tapi, aku yakin dia punya rencananya sendiri. Bagaimana pun, dia orang yang pengertian walau terkadang sikapnya berlawanan dengan niatnya...” Sambung Aston mencoba mencairkan suasana.
“Apakah kakak Alici- maksudku nona Cecilia akan baik-baik saja...?” Tanya Lilia dengan wajah cemas.
“Ya. Tentu saja. Dia adalah ahli pedang yang hebat. Dan juga, ada orang yang menemani perjalanannya, bukan?” Balas Aston tersenyum hangat.
“I-Itu benar. Jangan cemas, Lilia. Kakak Leonard bersamanya, aku yakin nona Cecilia akan baik-baik saja...” Ujar Vivian mencoba menghiburnya.
“Kakak Leonard adalah orang yang kuat. Kakak Gald sendiri yang mengatakannya, ingat?” Sambung Louise ikut mendukungnya.
“.... Mm. Semoga saja mereka baik-baik saja.” Balas Lilia mencoba tegar.
“Benar, serahkan sisanya kepada kakak Leonard.” Ujar Edward mendukungnya.
“Begitu ya. Jadi namanya adalah Leonard. Akhirnya ia menemukan orang yang dapat membuka hatinya. Jika nona Cecilia sendiri yang mengatakannya, maka dia pasti orang yang dapat dipercaya...” Gumam Aston menghela nafas lega.
Melihat mereka yang rukun satu sama lain membuat Aston merasa paham mengapa Lia mengirim mereka berempat kepadanya.
“Aku sempat lupa mengatakan terima kasih karena kalian telah mengantarkan surat ini langsung kepadaku. Dan juga, aku mewakili segenap keluarga Willtern dan keluarga Brown mengucapkan terima kasih kepada kakak kalian karena telah menyelamatkan nona Cecilia sebelumnya. Terima kasih, terima kasih banyak.” Ujar Aston menundukkan kepalanya di hadapan mereka.
“E-Eh...?! T-Tidak... K-Kami hanya...” Balas Louise dengan wajah panik.
“Sebagai satu-satunya pewaris keluarga Brown, kalian tahu betapa pentingnya nona Cecilia bagi keluarga kami, bukan? Untuk itulah, izinkan aku membalas budi...” Balas Aston dengan ekspresi serius.
Aston lantas memanggil Milgret untuk datang memasuki ruangan sebelum ia melanjutkan kalimatnya.
“Mulai hari ini kalian berempat boleh tinggal di sini. Milgret, kau akan mendapatkan dua asisten baru. Lilia dan Vivian akan berada dalam pengawasanmu mulai dari sekarang.” Ujar Aston memberi perintah.
“Dimengerti, tuan muda.” Balas Milgret dengan sopan.
“Dan untuk Louise dan Edward, kalian bisa menjadi memilih menjadi pekerja ladang atau menjadi prajurit kota jika kalian memiliki Skill bertarung, tapi kalian harus cukup umur untuk itu. Tentu saja kalian diizinkan menjadi Butler di sini. Bagaimana menurut kalian?” Ujar Aston melihat ke arah Edward dan Louise.
__ADS_1
Mendengar semua itu, mereka berempat menerimanya dengan hati gembira. Harapan mereka akhirnya menjadi kenyataan. Meski tanpa kakak-kakak mereka di sisi mereka, namun kini mereka bisa mendapatkan hidup yang lebih layak seperti impian mereka.
“Benarkah...? Terima kasih banyak tuan...!” Balas Louise dengan ekspresi bahagia.
“Tentu kami mau menerimanya...! Terima kasih banyak tuan...!” Sambung Edward tersenyum senang.
Dengan ini, mulai dari hari ini merupakan bagian dari keluarga Willtern. Bersamaan dengan ini pula, permintaan pertama Lia berhasil diwujudkan olehnya sama seperti yang tertulis dalam surat itu. Walau keberadaannya masih belum diketahui, setidaknya Aston ingin membantunya sebisa mungkin.
“(Nona Cecilia, aku telah melakukannya seperti permintaanmu. Semoga saja ini bisa membantu meringankan kekhawatiranmu...)” Ujar Aston dalam hatinya.
Setelah memberikan izin kepada mereka berempat untuk tinggal bersamanya, Aston lantas meninggalkan mereka untuk selanjutnya mengurus masalah yang tersisa. Seperti yang tertulis dalam suratnya, Lia memintanya untuk mengawasi kediaman keluarganya dan mengumpulkan informasi mengenai pergerakan di sana. Dengan terburu-buru ia bergegas menuju ruang kantornya untuk melaksanakan permintaan itu sambil menggenggam erat surat tersebut di tangannya.
“(Jika semua yang nona Alicia katakan benar, maka aku tidak bisa tinggal diam...! Aku juga harus bertindak...!)” Ujar Aston dalam hatinya marah.
Sementara itu, Lia dan Olivia yang sudah siap di posisinya lantas memberikan aba-aba kepada Leo untuk memulai rencana mereka. Tepat setelah Olivia menyalakan sihir yang menjadi perantaranya, Leo lantas menyerang kumpulan Orc itu. Ia seketika menikam salah satu Orc itu tepat di tengkuknya yang membuatnya langsung tewas sesaat sebelum Orc yang lain terkejut dibuatnya.
“Grrrr...!!”
“Rrrraaghhh....!!”
Melihatnya membunuh salah satu dari mereka, para Orc seketika murka sebelum akhirnya mereka terpancing untuk mengejarnya. Sesuai dengan rencananya, Leo lantas melarikan diri menggiring beberapa Orc yang mengejarnya menuju ke dalam hutan tempat di mana Lia dan Olivia telah menunggu mereka.
“Datang...!” Ujar Lia spontan.
“Dimengerti.” Balas Olivia siap.
Tepat ketika Leo melewati pohon itu, Lia melompat dari atas pohon menyambut kedatangan para Orc itu di susul Olivia yang melayang turun mengikutinya. Para Orc itu terkejut dengan kemunculan mereka yang tidak terduga, namun sayang, tepat sebelum mereka sempat bereaksi, Lia dan Olivia membunuh Orc itu dengan satu kali serangan diikuti Leo yang membantu dari sisi lain mereka. Darah berhamburan menghujani area di sekitarnya menyisakan mereka bertiga di antara mayat para Orc itu. Rencana pertama mereka berjalan dengan sangat baik sesuai perkiraan.
“Saatnya untuk tahap kedua.” Ujar Leo dengan ekspresi serius.
“Mm.”
“Dimengerti.”
Lia dan Olivia sekali lagi berpencar menyisakan Leo seorang diri di antara mayat para Orc. Ia lantas mengambil salah satu kepala mereka sebelum akhirnya membawanya menuju tempat di mana sisa Orc itu menunggu.
Sebelum menampakkan diri kembali di hadapan mereka, Leo menggunakan kepala salah satu Orc itu untuk memancing mereka. Ia menggelindingkan kepala itu keluar dari hutan yang mana membuat kelompok itu terkejut dan tersulut emosinya mengetahui bahwa rekan mereka yang mengejarnya telah terbunuh. Dengan ekspresi murka, High Orc itu lantas meraung memberi perintah kepada Orc bawahannya untuk mengejar Leo dengan kekuatan penuh.
“Rrrrraaaaggghhh...!!”
Para Orc mematuhi perintah tersebut sebelum kemudian mengejar Leo ke dalam hutan menyisakan dua High Orc itu sendirian. Tepat ketika para Orc telah masuk ke dalam hutan, Lia dan Olivia datang menyerang mereka secara diam-diam. Lia dengan menggunakan sihir pedangnya memenggal High Orc pertama sebelum dirinya sempat melihat kedatangannya sementara Olivia melepaskan sebuah anak panah sihir yang langsung menembus tubuhnya menyisakan lubang besar yang seketika membunuhnya di tempat. Kedua High Orc itu tumbang dalam waktu yang sangat singkat di tangan mereka.
“Target berhasil dibunuh...” Ujar Olivia mengibaskan sihir yang ada di tangannya.
“Mm.” Balas Lia mengibaskan pedangnya dan kembali menyarungkannya.
“Sekarang apa yang kita lakukan?” Tanya Olivia melihat ke arahnya.
“... Leo akan segera kembali. Tunggu saja.” Balas Lia singkat.
“Tapi, apakah master tidak merasa kesulitan melawan beberapa Orc sekaligus?” Tanya Olivia dengan ekspresi cemas.
“... Percayalah padanya.”
“J-Jika nona Lia berkata demikian...”
Tidak seperti Olivia, Lia terlihat lebih tenang meski Leo tengah dihadapkan dengan situasi pertarungan yang berbahaya. Ia terkesan seperti mengabaikannya begitu saja, namun sesungguhnya ia tahu Leo lebih baik dari yang sebelumnya. Ia tahu bahwa Leo telah berkembang sejak perburuan pertama mereka hingga sampai pada titik di mana ia bisa mengimbangi seorang Knight Order. Jelas perkembangannya cukup mengejutkan namun juga sekaligus membuat Lia senang bisa mengetahuinya. Ia kini sudah bisa melihat bahwa Leo telah menemukan alasannya bertarung.
“Nona Lia, apa yang harus kita lakukan selanjutnya selagi menunggu master...?” Tanya Olivia dengan wajah yang masih cemas.
“... Kita hanya tinggal melakukan apa yang harus dilakukan.” Balas Lia singkat.
“Mohon maaf, tetapi Olivia kurang mengerti maksudnya...” Balas Olivia bingung.
Lia memeriksa mayat High Orc itu dan area di sekitarnya guna mencari petunjuk yang bisa digunakan untuk menemukan tujuan mereka. Menyadari hal itu, Olivia pun melakukan hal yang sama dengannya meski ia masih belum bisa melepaskan kekhawatirannya pada Leo yang tengah bertarung seorang diri di dalam hutan sana.
Setelah beberapa saat, Leo akhirnya berhasil menghabisi seluruh Orc yang dikirim untuk menangkapnya. Berkat kemampuan sihir dan pengalamannya sebagai Thearian membuatnya dapat dengan mudah menghabisi mereka meski tanpa bantuan Lia maupun Olivia.
“(Sepertinya apa yang aku gagal pelajari seumur hidupku mulai bekerja sekarang. Aku sekarang bisa menerapkan ilmu bertarungku dengan lebih baik berkat kemampuan sihir ini...)” Ujar Leo dalam hatinya sambil menyeka darah yang mengotori tubuhnya.
Memang benar jika Leo bertambah kuat berkat bangkitnya kekuatan sihirnya serta kemampuan mata barunya. Meski begitu, sampai saat ini ia masih belum bisa menjelaskan keadaan anehnya ini. Ia juga masih belum mendapatkan kembali ingatannya yang hilang saat pertarungan di bawah reruntuhan kota Hillbern. Walau terasa janggal, namun Leo merasa bahwa kedua hal ini berhubungan.
“(Sejak aku selamat dari reruntuhan itu, aku mendapatkan kekuatan ini sekaligus kehilangan beberapa ingatan mengenainya... Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tetapi...)” Gumam Leo dalam hatinya kecewa.
Jika saja kemampuan ini bangkit lebih awal, mungkin saja ia bisa menyelamatkan Gald dan lainnya. Namun sayangnya takdir tidak berkehendak demikian. Di satu sisi ia senang akhirnya mendapatkan kekuatan yang membantunya lebih baik, namun di lain sisi ia turut merasa kecewa telah mendapatkannya. Ia seperti terkesan mengorbankan teman-temannya hanya demi memperoleh kekuatan ini.
“Kekuatan, huh...? Lebih mirip kutukan dari pada kekuatan...” Gumam Leo melihat aliran sihir di tangannya dengan ekspresi kecewa.
__ADS_1
Ia mungkin masih menyesali kematian Gald, namun untuk saat ini masih ada hal penting yang harus ia lakukan. Ia masih memiliki hal penting untuk dilakukan dari pada menyesali masa lalunya. Ia lantas menyarungkan pedangnya sebelum akhirnya kembali menemui Lia dan Olivia yang telah menunggunya.