Black Arc Saga

Black Arc Saga
Masalah kedua: bagian 2


__ADS_3

Secara tidak terduga, para Wyvern datang dan menyerang mereka tepat setelah mereka menyelesaikan pertarungan mereka dengan para Orc. Bingung dan heran, mereka hanya bisa terkesima melihat monster terbang itu perlahan turun menghampiri mereka setelah membuat hutan dan area di sekitar mereka hancur dilahap oleh api.


 


“Rrrrr...!!”


 


Mereka berlima mengepung Leo dan teman-temannya dalam sebuah lingkaran mematikan ketika ia mencoba memahami apa yang tengah terjadi.


 


“(Kenapa para Wyvern itu datang ke sini...? Apa jangan-jangan kami tidak sengaja memasuki wilayah mereka...?)” Tanya Leo dalam hatinya ragu.


 


Wyvern adalah salah satu dari ras naga yang biasa hidup berkelompok. Dan sama seperti makhluk yang hidup berkelompok lain, mereka juga memiliki wilayah mereka sendiri. Umumnya mereka memilih tempat yang tinggi dan berbahaya untuk membuat sarang mereka seperti tebing di pegunungan atau bahkan kawah gunung berapi. Wyvern memang sering melakukan kontak dengan manusia untuk beberapa alasan, namun yang paling umum adalah pencurian ternak dan pelanggaran wilayah. Mereka sering dikabarkan menyerang desa atau kota untuk memburu ternak milik warga. Selain itu, mereka adalah makhluk teritorial yang akan menyerang siapa pun yang memasuki atau mengganggu wilayah mereka. Dengan kata lain, alasan mereka menyerang Leo dan teman-temannya adalah karena mereka bertiga melanggar masuk ke wilayah para Wyvern.


 


“Rrrrrr...!!”


 


Para Wyvern terlihat tidak senang melihat mereka yang menandakan bahwa perkiraan Leo benar. Mereka datang untuk menghabisi penyusup yang mencoba masuk ke wilayah mereka.


 


“Kenapa para Wyvern menyerang kita?” Tanya Lia dengan wajah cemas.


 


“Kemungkinan besar, kita telah dianggap menerobos masuk ke wilayah mereka.” Jawab Leo singkat dengan nada serius.


 


“Eh..? Apa maksudmu...?” Balas Lia dengan wajah terkejut.


 


“Mereka makhluk teritorial. Mereka tidak suka jika ada makhluk lain yang masuk wilayah mereka.”


 


“... Begitu ya, semuanya jadi masuk akal.”


 


Ketika mereka tengah berbicara, salah seekor Wyvern menyemburkan api ke arah mereka. Melihat hal itu, Olivia dengan sigap membuat perisai sihir untuk menahan serangan itu sesaat sebelum Wyvern lain melancarkan serangan dari arah yang berlawanan.


 


“Dari belakang...!” Seru Lia spontan berbalik.


 


“....!!”


 


Dia menyemburkan apinya mengepung mereka berdua dalam kobaran api mematikan. Momen mengerikan itu bertahan selama beberapa saat sebelum Wyvern lain meraung memerintahkan keduanya untuk menghentikan serangannya. Tanah di sekitar mereka meleleh menjadi bara merah yang menyala ketika secara mengejutkan cahaya keemasan muncul dari balik asap hitam itu. Para Wyvern seketika terkejut melihat mereka bertiga masih bertahan hidup setelah menerima perangkap api mereka.


 


“Master, nona Lia, anda berdua baik-baik saja...?” Tanya Olivia dengan wajah cemas.


 


“... Mm.”


 


“Y-Ya. Kami baik-baik saja berkatmu...” Balas Leo dengan ekspresi takjub.


 


Leo terkejut melihat sihir pelindung Olivia mampu bertahan menahan dua serangan mematikan itu sekaligus. Hal ini menjadi keberuntungan sekaligus menjadi kesialan karena para Wyvern terlihat lebih marah. Geraman mereka jauh lebih keras dan mengintimidasi dari yang sebelumnya. Ini jelas bukan pertanda baik bagi mereka. Mereka pasti akan segera melancarkan serangan lain dalam waktu dekat.


 


“Master, ini keadaan darurat, mohon berikan perintah untuk menyerang!” Ujar Olivia dengan ekspresi panik.


 


“Ya! Aku mengizinkanmu! Kita harus melakukan sesuatu sekarang!” Balas Leo dengan nada serius.


 


“Dimengerti!” Balas Olivia dengan nada tinggi.


 


Tepat ketika mengatakannya, para Wyvern itu kembali melancarkan serangan mereka. Dua dari mereka menyemburkan api mereka secara bersamaan ke arah mereka. Kobaran api raksasa seketika mengepung dari ketiga sisi ketika Olivia merentangkan kedua tangannya menciptakan perisai sihir untuk melindungi mereka. Pada saat yang bersamaan, semburan api itu menghantam perisai sihirnya layaknya ombak yang menerjang karang dengan hebatnya. Namun, meski dihantam oleh tiga semburan secara bersamaan, perisai sihir Olivia sama sekali tidak bergeming menahannya. Leo dan Lia yang menyaksikannya hanya bisa terdiam terkesima akan kekuatan sihirnya ketika kobaran api memenuhi pandangan mereka.


 


“(M-Menakjubkan...! Kekuatan sihirnya setara dengan Arcmage kerajaan atau bahkan lebih...! Benar-benar kekuatan sihir yang hebat...!)” Ujar Lia dalam hatinya terkesima.


 


Mereka masih dapat bertahan menghadapi tiga semburan api sekaligus yang membuat para Wyvern yang mengetahuinya marah. Dengan membuka sayapnya, salah satu Wyvern itu terbang ke udara sesaat sebelum ia menginjakkan kakinya tepat ke arah mereka.


 


“...?!”


 


“...!!”


 


Dengan cakar tajam dan berat tubuhnya, ia menimpa mereka dengan kekuatan yang hebat. Ia memberikan tekanan tambahan bagi perisai sihir yang melindungi mereka hingga menyebabkan tanah yang ada di sekitar mereka amblas.


 


“Hnghh...!”


 


Serangan itu membuat beban yang Olivia tahan menjadi bertambah. Ia kini harus mengerahkan lebih banyak sihir untuk mempertahankan medan sihirnya.


 


“Rrrrr...!!”


 


“...!!”


 


Tidak hanya berhenti sampai di sana, Wyvern itu juga ikut menyemburkan apinya ketika melakukannya, menjadikan beban yang medan sihir tanggung kian bertambah. Jika terus seperti ini, cepat atau lambat Olivia akan kehabisan kekuatan sihir untuk mempertahankan medan sihirnya dan berakhir hancur. Mereka harus segera melakukan sesuatu untuk mencegahnya.


 


“(Sial...! Aku harus melakukan sesuatu sebelum mereka menghancurkan medan sihirnya...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.


 


Namun, baik Leo atau pun Lia tidak bisa banyak membantu dalam keadaan ini karena mereka berdua sama-sama tidak memiliki sihir pertahanan. Jika terus seperti ini, mereka bertiga akan mati.

__ADS_1


 


“Ancaman ditingkatkan, melepas limiter...”


 


Secara mengejutkan, ketika keadaan mereka tengah terancam, suara Olivia berubah dan nada yang terdengar sangat asing. Tidak hanya itu, iris matanya juga turut berubah dari yang semula berwarna emas menjadi warna merah terang. Dan secara bersamaan, kekuatan sihirnya meningkat pesat sesaat sebelum ia memperluas medan sihirnya secara signifikan.


 


“Veldextensie, Nihilus...!”


 


Ledakan dahsyat seketika menelan para Wyvern itu menciptakan pilar cahaya keemasan ke udara. Seluruh area hutan hancur dan tebing yang ada di sekitarnya ikut tertelan bersamanya sesaat sebelum semuanya lenyap dalam sekejap mata. Para Wyvern itu lenyap bersama dengan area hutan yang ada di sekitar mereka menyisakan kawah raksasa seluas ratusan hingga ribuan meter. Menyaksikan semua itu, Leo dan Lia hanya bisa terkesima dengan apa yang baru saja terjadi.


 


“Wyvern itu... Mereka semua... Lenyap...?!” Ujar Lia terkesima.


 


“Tidak hanya itu, sihirnya juga membuat dampak separah ini...!” Sambung Leo ikut terperanga.


 


“Mengerikan...! Kekuatan sihir yang mengerikan...!” Balas Lia dengan ekspresi serius.


 


Untuk pertama kalinya Lia menyadari sesuatu mengenai Olivia. Kecurigaannya semakin besar terhadapnya setelah melihat apa yang telah ia lakukan. Semuanya telah terhubung sekarang, ia akhirnya mencapai kesimpulan mengenai siapa sebenarnya Olivia.


 


“(Dugaan awalku ternyata benar, dia bukan penjaga reruntuhan kuno itu, melainkan dia sendirilah artefak itu... Dialah yang Northey dan Richard cari...!)” Ujar Lia dalam hatinya curiga.


 


Mungkin Leo belum menyadarinya, kemungkinan besar ia masih menganggap Olivia sebagai korban dari subjek eksperimen orang-orang dari kerajaan kuno itu. Lia belum bisa mengatakannya, namun yang jelas ia telah menemukan petunjuk utamanya. Ia masih akan mencari informasi yang lebih banyak mengenai siapa dan kenapa Olivia diciptakan sebelum mengatakannya kepada Leo.


 


Setelah menghabisi para Wyvern, Olivia terlihat berdiri diam untuk beberapa saat. Tatapannya terlihat hampa sesaat sebelum iris matanya berubah kembali ke warnanya semula ketika secara mengejutkan ia kehilangan kesadarannya.


 


“Olivia...!” Seru Leo panik.


 


Leo yang menyadarinya lantas menangkapnya sebelum ia hampir terjatuh. Dalam keadaan setengah sadar Olivia terlihat mengamati sekitar sesaat sebelum akhirnya ia tidak sadarkan diri. Hal ini membuat Leo bertanya-tanya apa yang terjadi dengannya. Sebelumnya, ketika ia hendak melancarkan serangan balik, Leo merasa ada yang berubah dari dirinya. Selain suara, kekuatan sihirnya juga ikut berubah seperti bukan dirinya saja.


 


“(Dia tidak sadarkan diri. Lagi pula, setelah mengerahkan sihir sebesar itu wajar saja dia jatuh pingsan. Dia sepertinya terlalu memaksakan diri...)” Gumam Leo dalam hatinya sambil menghela nafas.


 


Walau tidak menduga hal ini, setidaknya berkat Olivia kini mereka semua berhasil selamat melawan serangan Wyvern itu tanpa terluka. Meski ia masih belum mengerti bagaimana cara para Wyvern itu menemukan mereka, tetapi itu bukan masalah sekarang. Ia harus kembali ke kota sekarang untuk menyelesaikan misi mereka.


 


“Mungkin saatnya kita kembali. Hari sudah semakin siang...” Ujar Leo menggendong Olivia di punggungnya.


 


“Mm. Lebih baik kita kembali sebelum ada yang menemukan ini.” Balas Lia mengangguk.


 


Namun, ketika mereka hendak memutuskan kembali, secara mengejutkan sebuah bola api raksasa melayang menuju ke arah mereka. Terkejut menyadari hal itu, mereka pun dengan cepat menghindar sesaat sebelum bola api itu meledak dengan hebat begitu menyentuh tanah.


 


 


Di saat yang bersamaan, suara raungan Wyvern terdengar membuat Leo dan Lia terkejut begitu menyadari kehadirannya. Dari langit, terlihat bayangan raksasa terbang mengitari mereka sesaat sebelum mendarat tepat di hadapan mereka dengan suara raungannya yang mengerikan.


 


“Kau pasti bercanda...!” Gumam Leo dengan nada kesal.


 


“...!!”


 


Dia adalah satu-satunya Wyvern yang berhasil selamat dari ledakan sihir itu. Leo mengenalinya sebagai Wyvern yang memberi perintah. Entah bagaimana caranya dia berhasil menghindari serangan sehebat itu, namun sepertinya masalah di antara mereka belum selesai.


 


“Rrrrrr...!!”


 


Wyvern itu terlihat sangat marah mengetahui bahwa Olivia telah membunuh seluruh kelompoknya. Dengan tatapan penuh kebencian, ia mengarahkan pandangannya pada Olivia yang tidak berdaya sesaat sebelum ia mengerahkan serangan padanya. Ia menyemburkan nafas apinya pada Leo yang tengah menggendongnya sambil menerobos langsung ke arahnya. Melihat hal itu, Leo langsung berlari mencoba menghindari semburan apinya, namun Wyvern itu terus mengejarnya bahkan setelah ia menjauh darinya.


 


“(Sial...! Dia menjadi sangat agresif...!)” Ujar Leo dalam hatinya dengan perasaan kesal.


 


Tidak hanya menyemburkan api, Wyvern itu juga berniat mencabiknya dengan gigi tajamnya. Namun, beruntung Leo dapat menghindari semua serangan itu tanpa kesulitan walau dalam keadaan menggendong Olivia bersamanya. Namun, hal ini juga tidak boleh terus berlanjut. Ia harus menemukan cara untuk lepas darinya dan melawan balik.


 


“Rrrrr...!!!”


 


“Tch.”


 


Melihat Leo terus dikejar olehnya membuat Lia berinisiatif membantu. Ia melancarkan serangan jarak jauhnya untuk mengalihkan perhatian Wyvern itu untuk memberi Leo waktu menyelamatkan diri.


 


“Tehnik pedang: Leaves Slash.”


 


Ia melancarkan beberapa tebasan sihir tepat ke kepalanya hingga membuat Wyvern itu merasa terganggu olehnya.


 


“Grrrrr...!!”


 


Meski tidak cukup kuat untuk menembus sisik kerasnya, setidaknya serangan itu cukup untuk mengalihkan perhatiannya dari Leo dan Olivia. Namun, meski demikian, Wyvern itu hanya terdiam menatapnya untuk beberapa saat sebelum akhirnya kembali mengejar Leo.


 


“...?!”


 


Wyvern itu mengabaikannya begitu saja seperti seolah tidak menghiraukannya. Lia lantas kembali melancarkan serangannya untuk menarik perhatiannya, namun sayangnya semua itu sia-sia saja karena Wyvern itu sama sekali tidak bergeming meski ia telah menyerangnya berkali-kali.

__ADS_1


 


“(Dia sama sekali tidak menghiraukanku. Ini tidak bagus, jika terus seperti ini, Leo tidak akan bertahan lama. Aku harus segera bertindak...!)” Ujar Lia dalam hatinya serius.


 


Tidak punya pilihan lain, Lia akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah berani untuk menghadapi Wyvern itu secara langsung. Ia pun berlari mengejarnya ketika dia tengah menyerang Leo dengan ganasnya. Pada saat yang bersamaan, Leo yang melihat kedatangan Lia seketika terkejut.


 


“(Lia..?! Apa yang dia lakukan...?! Jangan katakan...!)” Gumam Leo dalam hatinya dengan ekspresi terkejut.


 


Bersamaan dengan ia menyadari niat Lia, Wyvern itu menyemburkan bola api ke arahnya yang memaksanya untuk melompat sejauh mungkin menghindarinya tepat ketika Lia melompat ke arahnya melancarkan serangannya.


 


“Haaa...!!”


 


Dengan pedangnya yang berselimut cahaya merah tua, Lia mengayunkan pedangnya sekuat tenaga mencoba memenggal kepala Wyvern itu. Begitu pedangnya menghantam sisik kerasnya, ledakan hebat memukul jatuh sang Wyvern sesaat sebelum Lia melanjutkannya dengan serangan lainnya.


 


“Tehnik pedang: Silent Fall.”


 


Dengan memanfaatkan momentum jatuhnya, Lia melancarkan serangan dengan frekuensi tinggi. Ia menghantam lehernya dengan serangan yang sangat kuat hingga membuat tanah di sekitarnya hancur dan amblas. Udara di sekitar mereka juga turut bergetar ketika kekuatan sihirnya melonjak berusaha menembus sisik batunya. Sang Wyvern yang terbaring itu mencoba melawan, ia meronta-ronta sambil meraung dengan suara lantang yang memekakkan telinga.


 


“Rrrrrrr...!!!”


 


“Hnghh...!!”


 


Meski begitu, Lia masih berusaha menekannya dengan segenap kekuatannya. Hingga pada akhirnya, Lia mampu menembus sisik kerasnya dengan kekuatannya tepat ketika Wyvern itu meronta mengibaskannya menjauh darinya.


 


“Lia...!” Seru Leo panik.


 


Lia terlempar sejauh belasan meter darinya sesaat sebelum Wyvern itu bangkit menatap ke arahnya dengan tatapan tajam. Kini perhatiannya sepenuhnya tertuju pada Lia karena ia telah membuat luka serius pada lehernya. Wyvern itu merasa tidak terima dan kini menuntut balas terhadapnya.


 


“Rrrrrrr...!!!”


 


Lia yang berhasil bertahan lantas menarik pedangnya dari tanah untuk selanjutnya menghadapi Wyvern itu satu lawan satu. Meski ini adalah kali pertamanya melawan Wyvern yang sesungguhnya, namun ia sama sekali tidak merasa gugup atau pun takut. Ia lantas membuat kuda-kuda sesaat sebelum ia mengerahkan sihirnya menciptakan atmosfer yang berbeda pada dirinya.


 


“Crimson Blade: Dance of Autumn.”


 


Tepat ketika ia mengayunkan pedangnya, kobaran cahaya merah tua menyelimuti pedangnya. Aura yang dipancarkannya berubah ketika Leo yang mengamatinya menyadari perubahan tersebut.


 


“(Ada yang berbeda dengan Lia saat mengerahkan mantra itu... Apakah mungkin Lia berniat mengerahkan seluruh kekuatannya...?)” Ujar Leo dalam hatinya curiga.


 


Dengan menggunakan mata sihirnya Leo dapat melihat dengan jelas bahwa Lia mengerahkan tehnik sihir tingkat tinggi dalam serangannya yang akan datang. Ia baru pertama kali melihatnya, namun firasatnya mengatakan bahwa ini bukan pertanda yang baik.


 


Lia memasang ancang-ancang sesaat sebelum ia melesat dengan kecepatan penuh. Menyadari hal itu, sang Wyvern lantas menyemburkan apinya menyebar dalam area luas untuk menghentikan niatnya. Kobaran api datang menelan semua yang ada di hadapannya layaknya gulungan ombak samudra ketika Lia berhadapan langsung dengannya.


 


“Lia...!”


 


Namun, ketika ombak api itu hampir menelannya, Lia mengayunkan pedangnya menciptakan sayatan kuat yang menembus kobaran api itu. Dengan memanfaatkan ruang yang telah ia buat, ia melanjutkan langkahnya menuju Wyvern itu sebelum akhirnya menyerangnya secara langsung.


 


“Haaa..!!”


 


Lia melompat ke arahnya mencoba memotong leher Wyvern itu dengan pedangnya pada area yang telah sebelumnya ia tandai. Namun sayangnya, Wyvern yang telah menyadari niatnya dengan cepat membentangkan sayapnya terbang ke udara menggagalkan niatnya. Lia gagal menyerangnya menyisakan perasaan kesal di hatinya ketika Wyvern itu mulai menghujaninya dengan serangan. Ia menyemburkan bola-bola api ke arahnya membuat Leo yang menyaksikannya merasa khawatir dengan keadaannya.


 


“(Ini tidak bagus..! Aku harus segera membantunya..!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.


 


Ia pun berlari secepat mungkin membawa Olivia ke tempat yang sekiranya aman sebelum akhirnya kembali untuk membantu Lia.


 


Di sisi lain, bola api menghujani area di sekitarnya ketika Lia terpaksa berlari menghindari serangan Wyvern itu. Setelah sebelumnya gagal mendaratkan serangan padanya, kini Lia harus terjebak di antara hujan api yang dilancarkan oleh Wyvern itu. Meski tidak menduganya, tetapi Wyvern itu cukup pintar mengetahui bahwa dalam keadaannya saat ini, Lia tidak bisa sering melancarkan serangan jarak jauhnya. Itu karena, dalam keadaan Dance of Autumn, semua tehnik Lia akan semakin kuat dan berlipat ganda dengan konsekuensi yang setara dengan peningkatan kekuatannya. Konsumsi energi sihirnya juga akan meningkat drastis bahkan hanya untuk melancarkan tehnik dengan biaya sihir rendah. Itulah sebabnya Lia tidak bisa melakukan hal lain selain menghindar saat ini.


 


“(Ini tidak bagus... Jika dia terus menjaga jarak, aku akan kehabisan kekuatan sihir sebelum bisa mendaratkan serangan padanya... Aku harus menunggu kesempatan yang tepat untuk membalasnya...)” Ujar Lia dalam hatinya cemas.


 


Keadaan ini memang tidak menguntungkan baginya. Namun, dengan bersabar ia yakin pasti akan tiba saat baginya untuk menyerang balik. Yang harus ia lakukan hanyalah menunggu dan mengamati bagaimana alur pertarungan ini berjalan.


 


Sementara itu, setelah merasa cukup menjaga jarak dari pertarungan, Leo akhirnya membaringkan Olivia untuk selanjutnya kembali membantu Lia yang tengah bertarung sendirian.


 


“Tenanglah di sini, Olivia. Aku akan segera kembali...” Bisik Leo sambil membelai pipi Olivia.


 


Setelah memastikan Olivia aman, ia pun segera berlari sekuat tenaga menyusul Lia ketika ia melihat Wyvern itu mulai mengubah pola serangannya. Dia berhenti menghujani bola api sesaat sebelum ia mulai terbang menjauh menuju ketinggian tertentu seperti bersiap untuk melakukan sesuatu.


 


“Gerakan itu...! Jangan katakan...!” Ujar Leo panik.


 


Tak lama berselang setelah ia terbang tinggi, Wyvern itu menukik tajam dalam jalur melengkung tepat menuju ke arah Lia. Melihat hal ini sebagai kesempatan emas untuk menyerang balik, Lia lantas berhenti sebelum akhirnya ia membuat kuda-kudanya bersiap untuk menyerangnya ketika Wyvern itu semakin dekat dengannya. Ia mengerahkan kekuatannya bersama dengan Wyvern itu membuka rahangnya dan kakinya bersiap untuk mendaratkan serangannya tepat ketika Leo yang menyaksikannya berusaha untuk memperingati Lia akan bahaya yang tidak diketahuinya.


 


“Lia jangan lakukan itu...!!” Seru Leo berlari ke arahnya.


 

__ADS_1


Namun ketika ia menyadarinya, ia sudah terlambat. Nasib Lia kini tergantung pada dirinya sendiri.


__ADS_2