Black Arc Saga

Black Arc Saga
Kegelisahan Lia


__ADS_3

... ...


Ketika hari telah menginjak sore, Leo akhirnya bertemu kembali dengan Lia dan Olivia yang telah menunggunya di depan sebuah gang setelah Olivia memberikan sinyal kepadanya menggunakan sihirnya. Memanfaatkan indranya yang tajam, Leo dapat dengan mudah melacak jejak mereka hanya berbekal sinyal sihir yang dipancarkan Olivia sebelumnya.


 


Dengan wajah yang tampak pucat, Leo menghampiri mereka berdua sebelum Lia bicara kepadanya mengenai penampilannya.


 


“Leo, ada apa denganmu? Kau tampak seperti kelelahan...” Ujar Lia menghampirinya dengan ekspresi cemas.


 


“Ugh... Yah, itu benar. Aku memang merasa sedikit lelah...” Balas Leo dengan sambil menghela nafas panjang memegang keningnya.


 


“Apa master menemui masalah di sana...? Tolong ceritakan apa yang terjadi...!” Ujar Olivia dengan ekspresi yang sama dengan Lia.


 


“Uh... Aku rasa itu bukan masalah seperti yang kalian pikirkan...” Balas Leo memalingkan pandangannya sambil menggaruk pipinya.


 


“Kalau begitu, ceritakan apa yang terjadi.” Balas Lia dengan nada tegas.


 


Setelah kembali menghela nafas, akhirnya Leo mau menceritakan apa yang menimpanya ketika ia berada di Guild.


 


Sebelumnya, ketika Leo melaporkan keberhasilan misinya kepada staf, sempat terjadi beberapa kepanikan kecil yang menyertainya. Leo yang sebelumnya ditugaskan untuk mengintai dan melacak tempat tinggal para Orc justru melaporkan bahwa ia telah menemukan tempat persembunyian mereka serta melenyapkan seluruh pasukan yang ada bersama pemimpin mereka. Tugas yang seharusnya dilakukan oleh petualang kelas Ornite dapat ia selesaikan dalam satu kali perburuan. Meski Leo sempat berdalih dengan mengatakan bahwa sebagian besar kejadian itu adalah ulah para Wyvern. Awalnya gadis resepsionis itu tidak mempercayainya, namun setelah Leo menunjukkan sisik Wyvern yang ia bawa, seisi Guild menjadi semakin heboh.


 


“Tidak hanya Orc, kau juga membunuh Wyvern...?!” Ujar gadis resepsionis itu terperanga.


 


“U-Uh... Aku tidak mengatakan itu. Aku hanya mengatakan bahwa—“


 


“Tetap saja kau menakjubkan! Tidak ada petualang peringkat Argentite yang mampu membunuh Wyvern!”


 


Mendengar teriakannya, semua petualang yang ada di sana lantas mengerubungi Leo karena merasa penasaran. Dan begitu mereka melihat sisik Wyvern yang ia bawa, mereka semua menjadi riuh.


 


“Itu sisik Wyvern sungguhan...! Dia benar-benar membunuhnya...!”


 


“M-Mustahil...! Padahal dia dan adiknya adalah pengguna pedang...!”


 


“Jadi maksudmu dia mengalahkan Wyvern hanya menggunakan tehnik pedang...?!”


 


“H-Hebat sekali...! Ini hampir tidak bisa dipercaya...!”


 


Mereka yang sebelumnya menatapnya sinis kini mulai menyoraki Leo sebagai petualang terkuat yang ada di kota ini. Meski ia mencoba menjelaskan kesalahpahaman ini, itu semua percuma saja karena mereka sama sekali tidak mendengarkannya. Mereka justru semakin mengerubunginya untuk mengajaknya masuk ke dalam party mereka. Ia pun terjebak dalam situasi tersebut hingga pada akhirnya para staf Guild menghentikan aksi mereka.


 


Singkat cerita, setelah berhasil mereda keriuhan para petualang, Leo akhirnya berhasil mendapatkan imbalan atas misi mereka. Itulah alasan mengapa Leo memakan waktu yang cukup lama untuk bisa menyusul Lia dan Olivia.


 


“... Begitulah kira-kira. Aku beruntung tidak membawamu ikut bersamaku ke sana...” Ujar Leo sambil menghela nafas panjang memegang keningnya.


 


“Begitu ya. Pasti berat bagimu.” Balas Lia dengan nafas lega.


 


“Begitulah... Berada di ruang tertutup dan dikerubungi oleh orang membuatku nyaris tidak bisa merasakan sekitar. Itu membuatku tidak nyaman...” Balas Leo memalingkan pandangannya pucat.


 


“Mm. Tidak masalah. Yang penting kau sudah kembali.” Balas Lia dengan senyum gembira di wajahnya.


 


“Olivia juga bersyukur master baik-baik saja.” Sambung Olivia ikut tersenyum.


 


“... Ya. Maaf membuat kalian menunggu lama. Sebaiknya kita segera menuju penginapan karena hari sudah mulai sore.”


 


Mereka bertiga pun menuju penginapan yang Lia dan Olivia tunjukkan sebelumnya dan memutuskan untuk beristirahat. Bagaimana pun juga, ini adalah hari yang panjang bagi mereka bertiga.


 


Matahari sudah terbenam, kini malam mulai terbit ketika bintang-bintang mulai menampakkan diri. Leo yang tengah bersiap untuk tidur secara tidak sengaja mendengar ketukan dari pintu kamarnya. Tanpa menunggu waktu yang lama, ia pun segera membukakan pintu sesaat sebelum seseorang muncul dari baliknya.


 


“Lia...? Apa yang membuatmu ke sini...?” Tanya Leo dengan ekspresi bingung.


 


“Apa aku boleh meminta waktumu sebentar? Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu...” Balas Lia dengan wajah ragu.


 


“Ya. Tentu saja...”


 


“... Terima kasih.”


 


Ketika memasuki kamarnya, ekspresi Lia tidak terlihat seperti biasanya. Ia pun membiarkannya duduk di ranjang tepat di sebelahnya sesaat sebelum keheningan menyambut mereka. Entah mengapa, suasana di antara mereka berdua menjadi canggung tidak seperti biasanya. Suasana itu hingga membuat Leo nyaris tidak bisa mengangkat bibirnya untuk memulai pembicaraan.


 


“(Entah kenapa suasana ini membuatku gugup... Padahal kami sering bicara empat mata, namun baru kali ini aku merasa lebih canggung dari biasanya...)” Ujar Leo dalam hatinya gugup.


 


Dalam keheningan itu, Leo mencoba sekeras mungkin untuk membuka pembicaraan. Namun, itu semua tidak berhasil karena setiap kali ia ingin membuka mulut, ia merasa seperti ada sesuatu yang menahannya. Keadaan ini benar-benar lebih buruk dari pada saat pertama kali ia bicara dan bertatapan langsung dengannya. Hingga pada akhirnya, keheningan itu pecah ketika Lia memutuskan untuk angkat bicara mendahuluinya untuk memulai percakapan di antara mereka.


 


“Leo, aku melihatmu menggunakan sihir petir, apa aku salah?” Ujar Lia melihat ke arahnya canggung.


 


“....?!”


 


“Dan juga, saat kita melawan Wyvern itu, aku melihatmu seperti berteleportasi. Apa aku tidak salah lihat?” Sambung Lia bertanya kepadanya.


 


“....”


 

__ADS_1


Leo tidak bisa membalas pertanyaannya. Ia padahal berniat menyembunyikan hal ini darinya, namun sepertinya ia terlanjur menunjukkannya. Ia sudah tidak bisa mengelak lagi karena semua bukti telah ada padanya.


 


“Leo, kenapa kau tidak menjawabku? Apa semua itu benar? Apa semua yang sebelumnya aku lihat adalah ilusi ketika nyawaku terancam atau memang kau membangkitkan berkah dewamu?” Ujar Lia dengan nada tinggi menatap langsung ke matanya.


 


“... Aku tidak bisa menyembunyikannya lagi darimu.” Balas Leo memalingkan pandangannya kecewa.


 


“...?!”


 


“Aku tidak bisa mengatakan bahwa kemampuan itu adalah berkah dewa. Tetapi, kau boleh menganggapnya demikian...”


 


“Tapi tunggu dulu, bukankah kau sebelumnya pernah mengatakan bahwa kau adalah orang yang tidak mungkin membangkitkannya?”


 


“Ya. Aku juga tidak mengerti apa yang terjadi kepadaku. Aku awalnya berniat memberitahumu setelah aku menemukan jawabannya, tetapi sayangnya aku tidak bisa...”


 


“Jadi rupanya itu benar...”


 


Lia memalingkan wajahnya dengan raut muka kecewa dan sedih ketika mendengar pernyataannya. Melihat hal itu, ia yang merasa bersalah mencoba meminta maaf langsung kepadanya dengan harapan Lia akan memaafkannya.


 


“Aku minta maaf karena telah menyembunyikannya. Aku hanya tidak ingin kau menganggapku pecundang menjijikkan yang menyembunyikan kekuatannya untuk melihat orang lain ikut menderita bersamanya...” Ujar Leo meraih tangannya meminta maaf.


 


“Mhm. Bukan berarti aku marah kepadamu, justru aku merasa senang karena kau sekarang menjadi lebih kuat. Hanya saja...” Balas Lia sebelum kembali memalingkan pandangannya sedih.


 


“Memangnya ada masalah...?” Balas Leo bertanya dengan wajah bingung.


 


“... Aku tidak ingin mengatakannya, tetapi karena kau belum tahu, aku akan mengatakannya.”


 


“...??”


 


“Aku yakin kau tahu tentang bagaimana orang-orang mendapatkan Skill mereka, bukan?”


 


“Ya. Ada yang sejak lahir mendapatkannya dan ada yang menjalani hidup untuk mendapatkannya.”


 


“Benar. Tetapi, apakah kau pernah bertanya apa yang akan terjadi setelah orang menerima Skill mereka?”


 


“Senang dan gembira?”


 


“Ya. Itu memang benar. Mereka tentunya akan merasa senang dan bahagia, tetapi itu hanya awalnya. Seiring waktu, setelah mereka mendapatkan Skill, sikap dan perilaku mereka terkadang akan berubah hingga membuat mereka terkesan seperti orang yang berbeda...”


 


“Apa...?!”


 


 


“Aku...?”


 


Ternyata hal itu yang mendasari kecemasan Lia terhadapnya. Ia memang tidak pernah mendengar masalah ini sebelumnya, akan tetapi ia sadar bahwa ia telah membuatnya khawatir. Leo merasa bersalah karena telah menyembunyikan hal ini darinya.


 


“Lia, maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu... Aku tidak bermaksud membuatmu cemas...” Ujar Leo mencoba menghiburnya.


 


“... Aku hanya takut jika kau tidak lagi menjadi dirimu sendiri.” Balas Lia dengan ekspresi sedih.


 


“Hal itu tidak akan terjadi. Aku akan tetap menjadi diriku sendiri, jadi jangan khawatir lagi, Lia...” Balas Leo menggenggam tangannya.


 


 


Lia terdiam setelah mendengar ucapannya sebelum ia menaruh tangan Leo di pipinya sambil tersenyum membalasnya.


 


“Mm. Aku mempercayaimu.” Ujar Lia tersenyum hangat kepadanya.


 


“Terima kasih, Lia.” Balas Leo ikut tersenyum.


 


Momen itu bertahan untuk beberapa saat sebelum mereka kembali pada tujuan utama Lia datang menghampirinya.


 


“Benar juga. Apa hanya ini yang ingin kau bicarakan?” Tanya Leo kembali seperti semula.


 


“Mhm. Masih ada hal lain lagi. Ini mengenai rencana kita selanjutnya, dan mungkin beberapa hal mengenai Olivia...” Balas Lia memalingkan pandangannya di akhir kalimatnya ragu.


 


“Tunggu, Olivia...? Ada apa dengannya...?” Balas Leo dengan wajah bingung.


 


“Aku mulai sedikit mendapatkan informasi mengenai siapa dirinya yang sebenarnya. Sebagian besar memang persepsi pribadiku, tetapi sisanya adalah penuturannya sendiri...”


 


“Dia mengatakan sesuatu kepadamu?”


 


“Ya. Dia mengatakan bahwa dia pernah hidup di jaman ketika kerajaan kuno itu masih berdiri. Astarion, kerajaan alkimia agung, itulah nama kerajaan tempatnya tinggal yang sekarang menjadi kota Winsberg...”


 


“Dia berasal dari kerajaan kuno itu..?! Tidak bisa dipercaya...”


 


“Kau sendiri tahu bahwa dia bukan manusia, bukan? Dan kenyataan bahwa dia terkurung di bawah sana sudah cukup membuktikannya.”


 


“Aku tahu itu, tapi tetap saja aku masih belum bisa mempercayainya...”

__ADS_1


 


“Ya, awalnya aku juga sempat meragukannya. Tetapi, menyadari bahasa yang dia gunakan sangat berbeda dengan kita, semuanya menjadi masuk akal. Ditambah, dia juga mengingat sebagian besar wilayah kerajaannya dengan sangat baik hingga membuatku yakin akan ucapannya...”


 


Jika diingat kembali, Olivia memang menggunakan bahasa yang sulit dimengerti oleh mereka berdua. Bahkan Lia yang terpelajar saja tidak mengetahui bahasa apa yang digunakannya menandakan bahwa dia pernah hidup bersama orang-orang kuno itu dan mempelajari peradaban mereka. Hal ini lantas menimbulkan pertanyaan di benak Leo mengenai alasan mengapa ia bisa berakhir terkurung dalam reruntuhan itu.


 


“Jika memang dia pernah hidup bersama mereka layaknya manusia, lantas kenapa dia dikurung di bawah sana sama seperti penelitian mereka yang lain?” Sambung Leo bertanya dengan ekspresi serius.


 


“Aku hanya bisa memikirkan satu kemungkinan untuk menjawab pertanyaan itu. Apa kau masih ingat kenapa Northey mengincar reruntuhan tempatnya dikurung?” Balas Lia membuat raut muka serius.


 


“Karena dia mengincar peninggalan kuno yang ada di dalamnya.” Jawab Leo langsung pada intinya.


 


“Benar. Dan apa yang kau temukan di bawah sana?”


 


“....?!”


 


Leo yang menyadari hal tersebut seketika terkejut. Lia ingin mengatakan bahwa apa yang Northey cari tidak lain dan tidak bukan adalah Olivia.


 


“(Jadi Olivia adalah senjata yang Northey dan kerajaan cari...?! Ini tidak bisa dipercaya...!)” Ujar Leo dalam hatinya terkejut.


 


Leo memang tidak percaya pada awalnya, namun setelah mengingat semua kejadian yang ada, ucapan Lia menjadi masuk akal. Kenyataan bahwa dia tersegel di bawah reruntuhan kuno adalah fakta yang tidak terelakkan bahwa Olivia adalah sebuah senjata.


 


“Jadi selama ini aku salah sangka terhadapnya... Aku membangkitkan senjata kuno dengan tanganku sendiri...” Ujar Leo dengan wajah syok.


 


“Kekuatan sihir yang tidak biasa itu, mantra tingkat tinggi yang dia gunakan, serta caranya menggunakan kekuatannya semakin membuatku yakin akan dugaanku. Kau sendiri melihat seberapa mengerikannya kekuatan sihirnya, bukan?” Balas Lia melihat ke arahnya dengan tatapan tajam.


 


“... Ya. Aku memang sudah merasa ada yang tidak biasa dengannya sejak pertama kali melihatnya. Tetapi aku tidak menduga bahwa senjata yang harusnya kuhancurkan justru kubangkitkan.” Balas Leo dengan wajah muram.


 


“Aku memang tidak tahu kenapa dia bisa terkurung di sana. Mungkin saja ada beberapa sebab yang harus kucari tahu lebih lanjut...”


 


“Lalu, apa yang akan kita lakukan kepadanya? Apa yang akan kita lakukan kepada Olivia?”


 


“... Sejujurnya aku juga tidak yakin. Tapi, karena Olivia telah memilihmu menjadi majikannya, semuanya tergantung padamu.”


 


“Jadi kau mengatakan nasib kerajaan Rushford ada di tanganku?”


 


“....”


 


Leo hanya bisa menahan nafas mendengar semua itu. Secara tidak langsung, Lia ingin mengatakan bahwa sekarang ini mereka sudah cukup memiliki kekuatan untuk melawan Northey dan fraksinya. Meski demikian, melawan Ksatria Suci secara terang-terangan hanya akan menimbulkan masalah bagi mereka berdua. Kemungkinan terburuknya, ia akan dianggap sebagai penghianat yang berusaha menggulingkan kerajaan. Ini jelas tidak mungkin untuk dilakukan.


 


“Aku tidak menyangka akan jadi seperti ini. Meski kita memiliki Olivia bersama kita, melawan Ksatria Suci secara langsung hanya akan berdampak buruk bagi kita sendiri...” Ujar Leo sambil menghela nafas panjang.


 


“Tidak jika mereka sendiri yang melakukannya.” Balas Lia beranjak dari tempat duduknya sebelum berdiri di hadapannya.


 


“Tunggu, apa maksudmu...?” Balas Leo dengan wajah bingung.


 


“Kita tidak akan dianggap sebagai pemberontak jika kerajaan mendukung usaha kita.”


 


“Kerajaan mendukung kita? Bagaimana caranya? Bukankah kau sendiri sedang menghindar dari publik?”


 


“Memang benar, sejak aku diselamatkanmu dalam tragedi penyerangan itu, aku sengaja menghilangkan tanda keberadaanku dari kerajaan. Tetapi, apa kau tidak pernah bertanya kenapa aku melakukan hal itu dan menuntunmu sampai ke kerajaan ini?


 


“... Ya. Kenapa kau melakukan semua hal itu?”


 


“Alasanku sederhana. Itu karena aku ingin menemui seseorang yang dapat membantuku.”


 


“Tunggu, apa maksudnya? Siapa orang yang kau maksud?”


 


Lia berjalan perlahan beberapa langkah darinya sebelum ia berhenti dan menjawab pertanyaannya.


 


“Ada seseorang yang memiliki kekuasaan dan cukup berpengaruh bagi kerajaan. Untuk beberapa alasan khusus, dia sedang tidak ada di kerajaan. Dia sekarang ada di kerajaan Borealis, tempat tujuan utama kita.” Jawab Lia dengan nada serius.


 


“Kerajaan Borealis...? Siapa memangnya dia dan kenapa dia ada di sana?” Balas Leo bingung.


 


“Kau pasti tahu bahwa fraksi Ksatria Suci sedang terpecah, bukan?”


 


“Ya. Aku pernah mendengar kau mengatakannya. Apakah mungkin...”


 


“Benar, dia adalah pemimpin fraksi kedua. Dialah satu-satunya orang yang bisa membantu kita saat ini...”


 


“...?!”


 


Mendengar hal itu, Leo pun seketika bangun dari tempatnya sesaat sebelum Lia berbalik dan menatap langsung ke arahnya dengan ekspresi tajam.


 


“Untuk itulah, aku harus ke kerajaan Borealis dan menemuinya secara langsung. Dengan kedatanganku dan bukti pemberontakan yang akan segera kudapatkan dari Willtern selama perjalanan nanti, kita pasti akan dapat meyakinkannya untuk membantu kita melawan mereka.” Ujar Lia dengan ekspresi serius.


 


“Terdengar sangat meyakinkan, seperti yang bisa kubayangkan darimu. Lalu, apa rencana kita selanjutnya?” Balas Leo bertanya dengan nada serius.


 

__ADS_1


Keesokan harinya, mereka pun berangkat melanjutkan kembali perjalanan mereka sesuai dengan rencana. Mereka langsung menuju ke arah timur untuk menuju sebuah kota yang menjadi tujuan mereka selanjutnya, Zivalor.


__ADS_2