
... ...
Tepat setelah Leo mengalahkan monster itu, pintu raksasa yang sebelumnya tersegel kini terbuka dengan sendirinya. Pertarungan panjangnya akhirnya menuntunnya sampai di mana ia menemukan jawaban dari pertanyaan yang selama ini ia cari. Di balik pintu itu adalah apa yang selama ini Northey cari dan alasannya bertarung sejauh ini.
Setelah mengumpulkan tenaganya, Leo perlahan memasuki pintu itu dengan hati yang telah matang dan siap menghadapi apa pun yang menunggunya di depan. Dengan penuh kewaspadaan, ia memasuki pintu tersebut sambil memperkirakan segala sesuatu yang mungkin menyambutnya.
“(Meski aku tidak yakin, tapi aku harus waspada. Ada kemungkinan makhluk penjaga itu lebih dari satu...)” Ujar Leo dalam hatinya waspada.
Namun, ketika ia sampai di dalamnya, anggapan Leo seketika hilang begitu melihat apa yang ada di dalam ruangan tersebut.
“...?!!”
Lantai seketika menyala menyambut kedatangannya dengan cahaya yang tercipta dari rangkaian sihir yang berpusat pada inti ruangan. Seisi ruangan dipenuhi oleh rangkaian sihir yang rumit menjadikannya seperti tempat lautan bintang yang berjajar membentuk pola yang menakjubkan. Di dalam lingkaran sihir inti, tepatnya yang berada pada pusat ruangan, terdapat seorang gadis berambut perak terlihat melayang dalam keadaan terlelap dikelilingi oleh rangkaian sihir yang menjaganya dalam posisinya ketika Leo terkesima menyaksikannya.
“(A-Apa itu...? Apa itu seorang wanita...? Kenapa dia bisa ada di sini...?)” Tanya Leo dalam hatinya kebingungan.
Leo mengamatinya sejenak yang terlihat seperti terbang itu dengan ekspresi kagum. Ia masih mencoba mencerna apa yang dilihatnya selagi berpikir mengenai siapa gadis itu. Dia terlihat seperti manusia pada umumnya, namun kenyataan bahwa dia berada di tempat ini membuat Leo curiga terhadapnya.
“(Aku tidak tahu siapa dia, tapi sudah jelas ada yang aneh di sini...)” Ujar Leo dalam hatinya curiga.
Kemungkinan besar dia adalah makhluk ciptaan mereka yang sengaja ditempatkan di sini untuk menjaga rahasia yang ada di dalam ruangan itu. Jelas ini adalah jebakan lain yang sengaja dibuat oleh orang-orang kuno itu untuk melindungi peninggalan berharga mereka. Jika itu benar, maka apa yang harus dilakukan sudah jelas.
Dengan hati-hati, Leo perlahan menghampiri gadis itu sambil melewati sejumlah rangkaian sihir yang menghiasi lantai. Ia tidak tahu semua sihir yang menerangi lantai ini, namun sebisa mungkin ia tidak ingin menyentuhnya supaya menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Hingga pada akhirnya, setelah melewati semua rangkaian lingkaran sihir yang memenuhi lantai, ia akhirnya sampai tepat di hadapan gadis itu siap untuk melakukan niatnya.
“....”
Namun ketika ia hendak melakukannya, untuk sejenak Leo terkesima oleh penampilannya yang menawan. Tidak seperti kebanyakan makhluk ciptaan kerajaan kuno itu, dia lebih manusiawi dari yang lain baik secara fisik maupun penampilan. Meski aura yang dimilikinya berbeda jauh dengan manusia, namun dengan penampilannya mungkin semua itu bukan masalah.
“(Dilihat dari mana pun, dia hanya seorang gadis biasa... Walau mataku menangkap sihir aneh darinya, namun dia terlihat jauh lebih baik dari monster berkepala tiga itu...)” Ujar Leo dalam hatinya mengamatinya.
Meski penampilannya sangat menawan, Leo tidak percaya semudah itu. Dari pengalamannya sebagai pemburu monster, penampilan yang menarik dapat membunuhmu. Mungkin hal itulah yang mendasari gadis ini diciptakan. Meski penampilannya menarik perhatiannya, Leo tidak akan ragu jika dia terbukti berbahaya.
Dengan hati-hati dan waspada, Leo perlahan mencoba menyentuhnya dengan tangan kirinya sementara tangan lainnya siap dengan pedangnya. Namun, ketika ia nyaris menyentuh kulitnya secara langsung, gadis itu membuka matanya yang seketika mengejutkan Leo.
“....!!”
Leo lantas melompat mundur ketika gadis itu perlahan mengarahkan pandangannya ke arahnya. Matanya yang berwarna keemasan terlihat menawan hingga membuatnya terkesima. Namun, Leo seketika sadar dan memasang kewaspadaannya ketika gadis itu perlahan melayang turun. Pada saat yang sama pula, sihir yang menopangnya menghilang diiringi dengan terlepasnya beberapa sihir lain yang ada di sekitar mereka.
“...??”
Menyadari ada yang aneh, Leo seketika memasang posisi siaga ketika secara mengejutkan lingkaran sihir yang menerangi lantai berubah. Semua rangkaian itu bersatu menjadi satu menciptakan sebuah lingkaran sihir masif yang seketika aktif.
“(Jangan katakan...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.
Menyadari hal itu, sang gadis seketika menghampirinya sesaat sebelum lingkaran sihir itu memunculkan pilar cahaya yang seketika melenyapkan ruangan tersebut beserta semua yang ada di sekitarnya. Pilar cahaya itu meluap hingga menembus ke permukaan menciptakan guncangan dahsyat di seisi hutan hingga membuat Lia yang ada di sekitarnya ikut terdampak.
“Apa yang...!”
Gelombang kejut udara yang tercipta akibat pilar cahaya itu seketika menghempaskannya bersama dengan pepohonan yang ada di sekitarnya. Pilar cahaya itu bahkan terlihat sampai ke kota tepat ketika Northey dan prajuritnya menyaksikan hal itu dari vila tempatnya bermalam.
“N-Northey-sama...! I-Itu...!” Ujar prajurit itu terkesima menunjuk ke arah pilar cahaya itu.
“Tch. Bangunkan prajurit yang lain, kita akan segera memeriksa reruntuhan itu!” Balas Northey dengan ekspresi kesal.
“Dimengerti..!” Balas prajurit itu dengan wajah serius.
Prajurit itu bergegas menjalankan perintahnya ketika Northey ikut bergegas masuk ke dalam vila untuk mengambil perlengkapannya. Dengan wajah yang tidak senang, ia bersiap memakai zirah dan pedangnya ketika ia melihat ke luar jendela kamarnya melihat pada pilar cahaya tersebut.
“Roselia, Rosetta... Aku harap kalian ada di sana untuk menjelaskan ini kepadaku...” Gumam Northey dengan nada kesal.
Seisi hutan porak poranda akibat bencana itu. Pilar cahaya itu lenyap tak berselang setelah bunyi gemuruh itu menggelegar sesaat sebelum akhirnya menyisakan lubang kawah selebar ribuan meter. Dalam keadaan yang kacau itu, Lia yang berhasil selamat bangkit dari puing-puing tanah dan bebatuan yang menimpa tubuhnya sesaat sebelum ia terkejut menyaksikan apa yang telah terjadi. Hutan yang berada tepat di hadapannya musnah tidak menyisakan apa pun kecuali kawah raksasa yang mengitari lubang raksasa tempat sebelumnya pilar cahaya itu muncul.
“A-Apa yang terjadi...?! Yang barusan itu, apakah ledakan sihir...?!” Gumam Lia dengan ekspresi panik.
Entah dari mana ledakan sihir hebat itu berasal, namun bukan itu yang menjadi masalahnya.
“Leo...!” Gumam Lia dengan ekspresi cemas.
Lia lantas bangun dari tempatnya begitu menyadari hal tersebut. Sambil melewati puing-puing hutan, Lia yang cemas berusaha mencari keberadaan Leo yang hilang di antara reruntuhan hutan.
“(Leo...! Kumohon, di mana kau...! Semoga kau baik-baik saja...!)” Ujar Lia dalam hatinya cemas.
Namun, ketika dalam pencariannya, secercah cahaya terlihat melompat keluar dari dasar lubang di pusat kawah itu menarik perhatiannya. Ketika melihatnya, Lia turut merasakan keberadaan asing dan familiar dari cahaya itu yang membuatnya gelisah.
“(Perasaan ini... Ini milik Leo...! Tidak salah lagi ini miliknya...! Tapi, apa ini...? Aku merasakan keberadaan lain bersamanya...)” Ujar Lia dalam hatinya dengan curiga.
__ADS_1
Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Memang benar jika Lia sempat merasakan kembali keberadaan Leo yang sebelumnya menghilang, namun di saat yang bersamaan, ia juga merasakan hawa keberadaan orang lain bersamanya. Dan yang membuatnya aneh, Lia belum pernah merasakan hawa keberadaan orang kedua yang bersama Leo sebelumnya. Hal ini sontak membuatnya semakin khawatir dengannya.
“(Aku tidak tahu siapa itu, tapi Leo ada bersamanya... Aku harus mencari tahu siapa dia...!)” Ujar Lia dalam hatinya serius.
Ia lantas menghampiri pancaran cahaya yang perlahan turun menggapai tanah. Bersama dengan memudarnya sumber cahaya itu, dua orang sosok misterius menampakkan dirinya ketika Lia sampai di dekat mereka dengan ekspresi waspada mengacungkan senjatanya pada salah satu sosok itu.
“Leo...! Syukurlah, aku tahu itu kau...!” Ujar Lia dengan ekspresi gembira.
“....!”
“Kau...! Siapa kau...! Apa yang kau lakukan padanya...!” Seru Lia mengancam sesosok gadis yang terlihat merangkul Leo.
“Been je een vijand...?!” Balas gadis itu dengan bahasa yang sangat asing.
“Apa yang kau katakan...?! Lepaskan dia...! Lepaskan tanganmu dari Leo...!” Balas Lia mengancamnya dengan nada tinggi.
“Als je dat doet, dan zal ik je laten verdwijnen...!”
Lia sama sekali tidak mengerti apa yang gadis itu ucapkan. Namun melihat dari nada bicaranya, kemungkinan besar gadis itu mengancamnya balik menggunakan Leo sebagai sanderanya.
“(Siapa gadis itu...? Kenapa dia terlihat mirip dengan Leo...? Aku sama sekali tidak memahami apa yang dia ucapkan, namun aku tidak bisa membiarkan Leo berada di tangannya...!)” Ujar Lia dalam hatinya marah.
Lia memasang kuda-kudanya bersiap untuk menyerang ketika gadis itu memasang ekspresi marahnya sambil mengarahkan telapak tangannya ke arahnya.
“Bedreiging moet verdwijnen...!” Ujar gadis itu dengan nada mengancam.
Ketika gadis itu mengulurkan tangannya, belasan hingga puluhan lingkaran sihir tercipta di sekitarnya mengarah langsung kepada Lia ketika ia dibuat terkejut olehnya. Gadis itu dapat menciptakan semua rangkaian sihir rumit itu bahkan tanpa merapal membuat Lia yang menghadapinya menjadi berpikir dua kali untuk melawannya.
“(Benar-benar mengerikan...! Sihir sebanyak itu tanpa merapal dan dalam waktu sesingkat itu...! Siapa sebenarnya gadis itu...! Jelas dia bukan manusia biasa...!)” Ujar Lia dalam hatinya gelisah.
Lia sendiri ragu dapat menghadapi semua sihir itu jika dilancarkan secara bersamaan. Namun, sepertinya ia sudah terlambat karena gadis itu memutuskan untuk melepaskan sihirnya.
“Doel vergrendeld, vuur...!” Ujar gadis itu dengan ekspresi dingin.
Namun, tepat ketika gadis itu berniat membunuh Lia dengan sihirnya, secara mengejutkan Leo menghentikan gadis itu. Ia meraih dan menggenggam tangannya sebelum akhirnya menurunkannya secara paksa ketika gadis itu terkejut melihat tindakannya.
“Meener...?!” Ujar gadis itu terkejut melihat ke arah Leo.
“Jangan lakukan itu...! Jangan berani kau melakukan itu padanya...!” Balas Leo dengan ekspresi marah.
“....!!”
Gadis itu seketika membatalkan sihirnya setelah melihat wajah marah Leo sebelum akhirnya ia melepaskan rangkulannya dan berlutut di hadapannya.
“Vergeef me, meneer! Ik heb je boos gemaakt! Alsjeblieft, straf me...!” Ujar gadis itu membungkuk dengan ekspresi menyesal.
“Hah...? Apa yang kau katakan...? Aku tidak mengerti bahasamu.” Balas Leo dengan ekspresi kebingungan.
“Ik heb je bevel niet gehoorzaamd en je boos gemaakt, straf me alsjeblieft...!” Balas gadis itu dengan bahasa yang tidak dimengerti.
Leo tidak tahu apa yang gadis itu katakan, namun sepertinya dia mengerti bahwa ia marah kepadanya dan menyesal karena telah berniat menyerang Lia. Entah bagaimana hal ini bisa terjadi, namun sepertinya gadis itu mematuhi Leo seperti layaknya atasannya.
“(Bagaimana ini bisa terjadi...? Kenapa aku bisa ada di luar sini bersama gadis ini...?)” Ujar Leo dalam hatinya kebingungan melihat situasinya sekarang.
Sejauh yang ia ingat, secara tidak sengaja setelah gadis itu terbangun, ia mengaktifkan sebuah sihir penghancuran diri yang membuat mereka berdua tertelan dalam lautan cahaya. Ia tidak ingat hal lain selain gadis itu melompat ke arahnya sesaat sebelum ia tertelan dalam sihir yang ia aktifkan. Setelah itu, ia sama sekali tidak mengingat apa pun dan ketika ia berpikir bahwa ia telah tewas, ia sampai di permukaan bersama dengan gadis berambut putih itu berhadapan dengan Lia seperti yang baru saja terjadi. Entah bagaimana ceritanya, namun sepertinya ia masih hidup dan berhasil kembali ke permukaan.
Selagi kebingungan dengan kejadian yang menimpanya, Lia yang mencemaskannya lantas berlari menghampirinya sebelum akhirnya memeluknya dengan ekspresi cemas di wajahnya.
“Leo...! Syukurlah kau masih hidup...! Aku pikir aku tidak akan pernah menemukanmu...!” Ujar Lia dengan nada sedih.
“Lia... Aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi...” Balas Leo dengan senyum pahit di wajahnya.
“Luka itu... Apa yang terjadi padamu?” Balas Lia bertanya kepadanya dengan ekspresi cemas.
“U-Uh... Bagaimana caraku mengatakannya...”
“Kurasa aku akan mengabaikannya untuk sekarang. Tapi yang terpenting, aku senang kau bisa kembali...”
Lia kembali memeluknya ketika Leo terlihat menahan dirinya untuk tidak membalasnya. Hal ini membuat Lia yang menyadarinya sedih dan lantas bertanya kepadanya.
“Leo, apa ada masalah?” Tanya Lia dengan wajah cemas.
“Tidak, aku hanya belum mengerti apa yang terjadi padaku...” Balas Leo menahan dirinya.
“Kurasa aku juga ingin menanyakan hal yang sama padamu... Aku masih belum mengerti bagaimana ledakan itu bisa terjadi dan kenapa kau bisa muncul bersama gadis aneh ini...”
__ADS_1
“Kurasa itu akan menjadi penjelasan yang panjang. Tapi, yang menjadi kekhawatiranku sekarang adalah Northey...”
Mendengar pernyataan Leo, ia seketika sadar mengenai apa yang sebenarnya dimaksud olehnya. Ledakan besar ini sudah pasti akan memancing perhatiannya. Jika hal itu terjadi, maka kemungkinan terburuk tidak bisa dihindari lagi khususnya bagi Lia.
“... Kurasa kau benar. Dia pasti akan datang setelah melihat apa yang terjadi.” Ujar Lia dengan nada serius.
“Sebaiknya kita pergi sebelum dia sampai di sini, tapi...” Balas Leo sebelum mengarahkan pandangannya pada gadis itu.
Mereka berdua menatap gadis itu yang masih berlutut tanpa bergeming sekali pun. Bagaimana pun juga, Leo tidak bisa meninggalkannya ditangkap oleh Northey namun ia juga tidak tahu harus melakukan apa terhadapnya. Memang benar bahwa gadis itu telah menyelamatkan nyawanya, namun dalam situasi ini, identitas mereka yang dalam bahaya jika Northey sampai menemukan mereka. Hal ini bisa menggagalkan rencana Lia dan mungkin akan membuat mereka menjadi buronan kerajaan karena terbukti menghancurkan peninggalan kuno yang berada di bawah otoritas kerajaan.
“....!!”
Di saat yang sama, gadis itu tiba-tiba bereaksi ketika Leo tengah memikirkan solusi untuk masalahnya dalam pikirannya. Gadis itu bangkit dengan ekspresi waspada sesaat sebelum ia melihat ke arah kota sambil berkata kepada mereka berdua.
“Vijanden gedetecteerd...!” Ujar gadis itu dengan ekspresi serius.
“Apa yang dia katakan...? Kenapa dia membuat ekspresi seperti itu...?” Tanya Leo dengan wajah kebingungan kepada Lia.
“... Aku tidak tahu. Aku belum pernah mendengar bahasa yang dia gunakan.” Jawab Lia kepada Leo dengan ekspresi yang sama.
“Vijanden gedetecteerd...!” Ujar gadis itu untuk kedua kalinya.
“Sial...! Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dia katakan...!” Balas Leo dengan nada kesal.
Lia yang memperhatikan tingkah anehnya mencoba memahami apa yang dia ucapkan dengan membaca gerak geriknya.
“(Dari arah pandangannya, dia seperti ingin mengatakan sesuatu sambil menunjuk ke arah kota Winsberg... Dan dari nada bicaranya, dia terdengar seperti sedang meninggikan suaranya seperti memberi peringatan...)” Gumam Lia dalam hatinya mencoba menebak ucapannya.
Lia terlihat sejenak terdiam mengamati tingkah gadis itu sesaat sebelum ia akhirnya sadar apa yang sebenarnya hendak disampaikan olehnya.
“Leo, dia berusaha bilang bahwa ada yang akan datang ke mari dari arah kota...!” Ujar Lia dengan ekspresi serius.
“Sesuatu yang datang dari arah kota...? Tunggu, jangan katakan...!” Balas Leo sebelum akhirnya sadar maksudnya.
“Ya, itu pasti Northey dan pasukannya...!” Balas Lia mengangguk yakin.
Menyadari hal itu, Leo lantas memutuskan untuk meninggalkan tempat itu sebelum Northey datang dan menemukan mereka. Namun, ketika ia hendak melakukannya, gadis itu terlihat seperti tengah menunggu Leo untuk mengatakan sesuatu kepadanya. Ia terdiam dengan ekspresi serius menatapnya seperti seolah menunggu perintah darinya. Hal ini membuat Leo yang ditatapnya kebingungan dan gelisah ketika gadis itu mengangkat mulutnya bicara kepadanya.
“Meener, uw bestelling?” Ujar gadis itu dengan ekspresi serius.
“Hah...? Apa yang kau katakan...?” Balas Leo dengan wajah kebingungan.
“Ik ben klaar voor de strijd..!” Balas gadis itu kembali berlutut di hadapannya.
“O-Oi. Apa kau dengar aku? Aku tidak tahu maksud ucapanmu!” Balas Leo dengan nada tinggi.
“Leo, kita tidak punya banyak waktu lagi...” Sambung Lia dengan ekspresi cemas.
Leo yang kehabisan pilihan pada akhirnya memutuskan untuk pergi membawa serta gadis itu bersamanya meninggalkan lokasi tersebut guna menghindari tertangkap oleh Northey. Ia menyeret tangannya untuk ikut lari bersamanya dan Lia masuk lebih dalam ke utara hutan ketika gadis itu terlihat kebingungan dengan tindakannya.
Tak berselang lama setelah mereka masuk ke dalam hutan, Northey dan pasukannya tiba di area hutan yang terdampak setelah mengerahkan kecepatan penuh. Perhatian mereka dikejutkan oleh penampakan kawah raksasa selebar ratusan hingga ribuan meter yang merusak hutan yang ada di sekitar mereka.
“I-Ini...! Apa yang sebenarnya telah terjadi di sini...!” Ujar salah seorang prajurit dengan wajah terkejut.
“Sepertinya kita sudah terlambat...” Gumam Northey dengan ekspresi kecewa.
Northey melihat kawah yang membentang di hadapannya dengan ekspresi tajam sebelum akhirnya ia turun dari kudanya untuk memeriksa kawah itu lebih dekat.
“Northey-sama, apa yang anda lakukan...?” Tanya salah seorang prajurit kepadanya.
“....”
“Northey-sama...?” Sambung yang lain dengan ekspresi bingung melihat reaksinya.
Northey terlihat merenung untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia angkat bicara membalas mereka.
“Kalian semua, berpencarlah dan susuri setiap area di sekitar kawah. Temukan Roselia dan Rosetta, aku akan menyelidiki kawah ini.” Ujar Northey memberi mereka perintah dengan nada tegas.
“Baik!” Balas mereka semua serentak.
Dengan segera, mereka melaksanakan perintahnya dan berpencar dengan kuda mereka masing-masing menyisir area hutan di sekitar mereka sembari mencari keberadaan Roselia dan Rosetta yang menghilang.
“Sepertinya, aku meremehkan dia... Tidak, atau harus kusebut mereka...” Gumam Northey dengan ekspresi muram.
Sambil menggertakkan giginya kesal, Northey mulai menyusuri kawah itu yang selanjutnya membawanya menuju pusat kawah tempat di mana sebuah lubang dalam berada. Dengan ekspresi kesal, ia menatap langsung ke dalam gelapnya lubang itu sebelum ia kembali bergumam dengan nada marah.
__ADS_1
“Sial... Aku benar-benar telah meremehkan mereka... Dia mendahuluiku mendapatkannya...” Gumam Northey dengan ekspresi marah.