
... ...
Kini perasaan Leo menjadi lega setelah mengatakan semuanya kepada Lia. Meski ia awalnya takut, tetapi kini hal itu tidak berarti lagi setelah Lia menerima kekurangannya dengan tangan terbuka. Ia pun mengatakan tujuan awalnya sebelum menerima permintaan dari Guild kepadanya, rencana untuk mencari identitas aslinya dan memulangkannya.
“Kau tidak perlu melakukan itu...” Ujar Lia menggelengkan kepalanya sebelum membalikkan badan.
“Boleh aku bertanya alasannya...?” Balas Leo bertanya kepadanya dengan nada lembut.
“.... Karena aku itu sama saja dengan bunuh diri.” Balas Lia menghampiri ranjangnya sebelum duduk di tepiannya.
“... Begitu ya.” Gumam Leo dengan wajah kecewa.
Kurang lebihnya Leo memahami kondisi keluarga Lia. Bagaimana pun juga, ia juga merupakan anak seorang bangsawan kerajaan. Sudah menjadi rahasia umum jika pertengkaran antar keluarga sering terjadi. Dan juga, ada kemungkinan bahwa penyerangan malam itu juga dilandasi masalah yang sama. Sedikit demi sedikit petunjuk mulai terkumpul.
“... Ada banyak masalah yang masih belum kuketahui. Setidaknya, aku masih hidup sebagai bukti perlawananku.” Ujar Lia dengan wajah serius.
“Sekarang, apa rencanamu? Apa kau tidak berniat mengungkap dalang dibalik penyerangan itu?” Balas Leo bertanya sambil menghampirinya.
“Mhm. Itu sudah bukan tugasku lagi.” Balas Lia menggelengkan kepala.
“Apa kau tidak ingin merebut kembali nama keluargamu? Bukankah itu satu-satunya yang kau miliki?”
“... Aku sudah memutuskan. Aku tidak akan kembali lagi ke sana. Setidaknya, tidak dengan situasi saat ini...”
Leo tidak terlalu mengerti apa yang Lia katakan, tetapi ia tahu kalau masalah dalam keluarganya jauh lebih rumit dari yang ia kira. Mungkin sebaiknya ia tidak mengungkitnya lebih jauh dari ini agar tidak membebani pikiran Lia nantinya.
“Baiklah kalau begitu. Aku sudah memutuskan untuk mengurungkan niatku memulangkanmu. Sekarang sisanya...” Ujar Leo sebelum merenung sambil bergumam.
“Masalah tawaran itu, bukan?” Balas Lia menebak isi pikirannya.
“Yah... Kau benar...” Balas Leo menghela nafas panjang.
“Apa kau berniat menolong mereka?” Tanya Lia dengan wajah sedih.
“Aku tahu seharusnya menolak mereka, tetapi... Entah mengapa jauh di dalam hatiku tidak bisa begitu saja menolak ajakan mereka... Mungkin keadaan mereka mengingatkanku saat aku pertama kali meninggalkan desa...” Balas Leo beranjak dari tempat duduknya melihat ke arah jendela.
“Begitu ya... Jadi itu sebabnya kau memberikan jawaban itu kepada mereka...”
“Sejujurnya aku tidak tahu lagi harus bagaimana nantinya... Aku terlanjur mengatakannya...”
Lia termenung sejenak sebelum akhirnya ia mendapatkan jawaban yang bisa membantunya. Ia pun bangun dari tempatnya menghampiri Leo dan bicara dengannya.
“Jika jawaban belum datang darimu, maka dengarkanlah apa yang ada dalam benak mereka. Aku yakin, kau akan menemukan jawaban.” Ujar Lia sambil meraih bahu Leo.
“Mendengarkan apa yang mereka pikirkan...?” Balas Leo dengan wajah bingung.
“Mm. Dengan begitu, kau bisa memutuskan bagaimana tanggapanmu terhadap mereka.” Balas Lia tersenyum menggenggam tangannya.
“....”
Mendengar saran itu, Leo akhirnya mendapat titik terang. Ia memutuskan untuk memberikan jawaban setelah ia tahu alasan sebenarnya mereka seperti yang Lia katakan. Ia hanya harus menemui mereka besok dan memutuskannya di tempat.
“Aku mengerti sekarang. Terima kasih, Lia. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu.” Ujar Leo tersenyum sambil menggenggam tangannya.
“... Mhm. Tidak perlu berterima kasih. Aku tidak melakukan apa pun. Kaulah yang melakukan banyak hal...” Balas Lia menggelengkan kepalanya tersenyum.
“Menurutmu sendiri, bagaimana jika aku menerima tawaran itu?” Tanya Leo dengan wajah gugup.
“... Jika itu keputusanmu, aku tidak keberatan. Karena, Leo aku percaya denganmu...” Balas Lia meraihnya dengan senyum hangat.
“B-Begitu ya... S-Senang mendengarnya...” Balas Leo memalingkan wajahnya tersipu.
Dengan ini tidak ada yang perlu dicemaskan lagi. Sisanya hanya tinggal bicara dengan mereka dan menentukan keputusannya. Berkat dukungan dari Lia, ia merasa semuanya akan baik-baik saja meski pada akhirnya ia akan menolak tawaran Gald. Selama mereka bisa memberikan pengertian masing-masing, maka tidak akan ada pihak yang merasa tersakiti.
Malam pun berlalu, hari pun berganti. Udara pagi menyambut fajar yang tidak lama lagi akan terbit. Di suatu tempat yang jauh, suara gemerincing zirah terdengar dari balik tenda saat seorang ksatria menampakkan diri di bawah cahaya fajar yang masih sebatas mata ketika seorang prajurit datang menghampirinya.
“Selamat pagi, Morgen-sama. Kami sedang bersiap-siap berangkat.” Ujar prajurit tersebut menyapanya dengan hormat.
“Hm. Bergegaslah kalau begitu. Aku tidak boleh membuang waktu lagi. Masih berapa lama lagi kita sampai di Hilbern?” Balas ksatria Morgen mengangkat kepalanya melihat langit.
“Jika dengan kecepatan saat ini, kira-kira kita akan sampai 7 sampai 10 hari lagi. Tergantung dengan cuaca juga.” Balas prajurit tersebut mengira-ngira dal benaknya.
“Humph. Benar-benar merepotkan...” Gumamnya mendengus angkuh sambil menggerutu.
Ia pun meninggalkannya dengan perasaan kesal di hatinya. Sebuah simbol kerajaan terlihat pada zirahnya yang menandakan bahwa dia adalah seorang Ksatria Sucikerajaan. Bukan tanpa alasan, Morgen diutus untuk menyelidiki masalah yang terjadi di kota Hilbern setelah menerima pesan dari walikota di sana.
“Ya ampun, kenapa Richard-sama mengutusku untuk pergi ke ujung perbatasan... Mau bagaimana pun juga, Hilbern itu sangat jauh. Memangnya apa yang perlu di selidiki di kota kecil itu...?” Gumamnya dengan nada kesal.
Ia meneguk anggur di gelasnya sebelum menghela nafas berat sambil melipat kakinya di atas meja. Memang ia masih belum tahu apa yang terjadi di sana, namun ia tidak bisa menolak panggilan tugas begitu saja. Terlebih, jika itu datang dari sang Ksatria Suci Agung.
Di sisi lain, setelah pagi tiba, Leo dan Lia memutuskan untuk mencari Gald dan teman-temannya untuk membicarakan masalah tawaran mereka. Walau demikian, ada beberapa masalah yang mengganggu mereka. Mereka berdua tidak tahu di mana ia harus mencarinya mengingat Leo dan Lia adalah orang asing di kota ini.
“Uh... Sekarang bagaimana ini... Aku lupa menanyakan alamat tempatnya tinggal atau menginap...” Gumam Leo dengan wajah muram.
__ADS_1
“Leo...?” Ujar Lia dengan wajah bingung mendengar gumamannya.
“A-Ah. Kurasa aku melupakan sesuatu yang penting... Aku lupa menanyakan di mana seharusnya kita bertemu...” Balas Leo dengan senyum pahit.
“... Mungkin sebaiknya kita bertanya pada penduduk sekitar atau ke Guild.” Balas Lia melihat orang-orang di sekitar.
“Kurasa kau benar...” Balas Leo sambil menghela nafas.
Pilihan membawa mereka ke Guild petualang. Namun, saat mereka berniat menuju ke sana, secara kebetulan mereka berdua berpapasan dengan Chrea dan Kirishima saat melewati pasar. Mereka berdua tengah membeli beberapa sayur dan bahan makanan bersama beberapa anak kecil yang ikut bersama mereka.
“Bukankah itu Alicia-san dan Leonard-san...?” Ujar Kirishima yang melihat mereka.
“Hm? Benarkah...?” Balas Chrea terkejut sambil mencari di sekitarnya dengan cepat.
“Alicia-san...! Leonard-san...!” Seru Kirishima memanggil mereka berdua sambil menghampiri mereka.
Mendengar panggilan itu, Leo dan Lia seketika menghentikan langkah mereka sebelum akhirnya Kirishima datang menghampiri bersama Chrea dan anak-anak yang mereka bawa.
“Alicia-san, Leonard-san, selamat pagi. Kebetulan sekali bisa melihat kalian berdua di sini...” Sapa Chrea dengan senyum ramah.
“Ah. Kebetulan sekali... Aku tidak menyangka akan bertemu kalian di sini...” Balas Leo dengan wajah senang.
“Kami sedang membeli beberapa bahan makanan untuk sarapan...” Balas Kirishima menunjukkan keranjang yang ia bawa.
“Lalu, apa yang sedang kalian lakukan di sini?” Sambung Chrea bertanya kepada mereka.
“Kami hanya kebetulan lewat untuk mencari kalian... Tapi kurasa hal itu sudah tidak diperlukan lagi...” Jawab Leo sebelum menghela nafas singkat.
“Begitu ya. Pasti untuk bicara kepada kakak-, maksudku kapten mengenai masalah kemarin, bukan?” Balas Chrea menebak.
“Ya. Begitulah... Ngomong-ngomong, siapa mereka...?” Balas Leo sebelum perhatiannya tertuju pada kedua anak kecil itu.
Dengan rasa penasaran, kedua anak perempuan itu melihatnya dan Lia dari balik Chrea dan Kirishima. Wajah mereka yang tersipu malu menjadikan mereka semakin lucu dan menggemaskan untuk dilihat.
“Siapa namamu, gadis kecil?” Tanya Lia dengan nada lembut menghadapi salah satu anak yang bersama Kirishima.
“... Mnh.”
“Jangan takut, kakak tidak akan memakanmu...” Sambung Lia tersenyum ramah mengulurkan tangannya kepadanya.
“Mhm...!”
“Lilia, ayo sapa kakak Alicia.” Ujar Chrea mencoba membujuknya.
“Halo Lilia-chan... Namaku Alicia. Senang bertemu denganmu.” Balas Lia mencoba menghiburnya dengan senyumannya.
“Lilia, tidak sopan menyembunyikan dirimu saat ada orang yang ingin berkenalan denganmu. Ayo, sapa dia.” Ujar Kirishima membujuknya.
“U-Um... S-Senang bertemu... N-Namaku L-Lilia...” Balasnya menunjukkan separuh wajahnya kepada Lia dengan malu.
“Mm. Senang bertemu denganmu juga, Lilia-chan.” Balas Lia tersenyum ramah kepadanya.
Ini adalah pemandangan baru bagi Leo. Dibalik sifat pendiamnya, Lia ternyata sangat menyukai anak-anak. Ia yang jarang tersenyum dapat dengan mudah melakukannya di depan mereka seperti layaknya bunga yang mekar. Itu adalah sisi lain dari Lia yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
“Mereka adalah adik-adik kami. Kami sengaja membawa mereka ikut belanja karena mereka memaksa ikut.” Ujar Chrea menjawab pertanyaan Leo sebelumnya.
“Adik...?” Bisik Lia dengan wajah bingung.
“Tapi... Aku tidak melihat kesamaan dari kalian...” Balas Leo memperhatikan mereka dengan wajah ragu.
“Yah, kami memang tidak terikat dengan darah. Kami hanya tinggal bersama...” Balas Chrea sambil membelai gadis yang bersamanya.
“Tinggal bersama... Apa jangan-jangan...” Balas Leo sebelum mulai terkejut.
“Benar juga, karena sekalian, biar kami tunjukkan tempat tinggal kami kepada kalian... Kita bisa lanjutkan pembicaraan kita di sana bersama kapten...” Ujar Chrea melihat ke arah Kirishima tersenyum.
“Ya. Lagi pula semuanya sudah menunggu kita...” Balas Kirishima tertawa anggun sambil mengangguk.
Lalu, Chrea dan Kirishima membawa mereka menuju tempat tinggal mereka. Melalui pemukiman warga, mereka terus berjalan ke tenggara kota tempat di mana terlihat beberapa bangunan usang berdiri. Bangunan-bangunan yang ada di sana terlihat nyaris ambruk karena termakan usia dan beberapa terlihat menunjukkan adanya bekas-bekas kebakaran.
“(Entah kenapa rasanya seperti masuk ke sisi gelap kota ini... Aku tidak menduga ada tempat semacam ini di kota...)” Gumam Leo dalam hatinya memperhatikan sekitar cemas.
Mungkin sebaiknya ia tidak menanyakan pertanyaan yang bersifat sensitif seperti menanyakan apa yang terjadi di sini. Ia hanya bisa menebak kejadian yang terjadi dan jangka waktunya dengan hanya berbekal pengamatannya saja.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, mereka akhirnya tiba di sebuah bangunan yang terlihat seperti bangunan gereja kuno yang telah ditinggalkan. Desain arsitekturnya mengikuti gaya awal peradaban setelah perang besar yang menjadikannya terlihat antik dan kuno. Dibandingkan dengan bangunan di sekitarnya, gereja itu masih terbilang utuh meski terlihat kerusakan fisik di beberapa bagiannya.
“Kita sudah sampai. Inilah tempat tinggal kami...” Ujar Chrea tersenyum masam.
“Kami semua tinggal di sini sejak kami kecil. Jadi, kami sudah menganggapnya sebagai rumah kami...” Sambung Kirishima melihat ke arah gereja dengan tatapan lamun.
“Memang kejadian itu sudah sangat lama...” Balas Chrea ikut melihat ke arah yang sama melamun.
__ADS_1
“Ya. Tanpa terasa banyak hal yang sudah berlalu...” Balas Kirishima dengan nada sedih.
Leo tidak bisa berkomentar mendengar ucapan bernuansa sedih mereka. Dibalik kebersamaan mereka, pasti tersimpan kejadian yang tidak ingin mereka ingat. Entah itu berhubungan atau tidak, tetapi ia merasa kalau nasibnya tidak jauh berbeda dengan mereka.
Chrea dan Kirishima termenung sejenak dengan senyum pahit di bibir mereka mengingat kenangan masa lalu mereka sebelum akhirnya mereka disadarkan oleh kedua gadis kecil yang bersama mereka.
“Chrea-nee... Apa kau baik-baik saja...?” Ujar Lilia menarik lengan bajunya cemas.
“Shima nee-san...” Sambung gadis kecil yang bersama Kirishima memanggilnya lemah.
“A-Ah. Maaf, kakak sampai lupa. Maafkan kakak, ya?” Balas Chrea berlutut di hadapan Lilia sebelum membelainya dengan lembut menenangkannya.
“Sampai melamun di tempat seperti ini dan mengabaikan tamu... Aku benar-benar tidak sopan. Kalian boleh masuk duluan, kakak akan menyusul di dapur, mengerti?” Ujar Kirishima kepada kedua anak itu sambil memberikan keranjang belanjanya.
“Mm.”
“Dan juga, katakan pada kakak Gald ada tamu terhormat yang ingin bertemu.” Balas Kirishima menambahkan.
“Mengerti.” Balas anak kedua dengan nada lemah.
Mereka berdua pun pergi seperti yang dikatakan oleh Chrea dan Kirishima sebelumnya.
“... Anak-anak yang penurut.” Bisik Lia melihat mereka berlalu meninggalkannya.
“Ya. Mereka juga terlihat rukun satu sama lain.” Balas Leo dengan nada lembut.
“Maaf untuk yang barusan. Bukannya menyambut kalian dengan baik sebagai tuan rumah, kami justru mengabaikan kalian...” Ujar Chrea menundukkan kepalanya meminta maaf.
“Tidak masalah. Kami juga tidak keberatan.” Balas Leo mencoba menghiburnya.
“Selagi menunggu kaka-, maksudku kapten, mengapa kalian tidak masuk saja?” Balas Chrea menawarkan.
“Uh... Baiklah.” Jawab Leo menerima tawarannya.
Mereka berdua pun di bawa masuk gereja. Di dalamnya, mereka disambut dengan pemandangan yang cukup memilukan. Tidak ada yang tersisa dari gereja tersebut selain kursi jemaah yang usang dan sebagiannya hancur. Barang-barang khas gereja lain seperti gantungan lilin dan sebagainya juga tidak ada. Ini jelas terlihat seperti tempat yang telah ditinggalkan. Meski demikian, mereka masih menganggapnya sebagai tempat tinggal.
“Silahkan duduk di mana saja... Uh. Meski mengatakan itu, hanya ada kursi yang rusak ini saja...” Ujar Chrea mempersilahkan mereka duduk sebelum berakhir kecewa.
“Tidak, tidak masalah. Kami juga tidak keberatan, benar Lia?” Balas Leo sebelum melihat ke arah Lia.
“Mm.” Balas singkat sambil Lia mengangguk.
“Senang mendengarnya... Maaf karena hanya ini saja yang tersisa. Tidak banyak barang berguna yang tersisa dari bangunan ini...” Ujar Chrea melihat ruangan dengan wajah kecewa.
“Sepertinya begitu...” Balas Leo turut prihatin dengan kondisi ruangan tersebut.
“Kalau begitu, aku akan menyiapkan teh untuk kalian berdua...” Ujar Kirishima berjalan meninggalkan mereka.
“Ya. Tolong, Shima.” Balas Chrea tersenyum masam menyerahkannya tugasnya.
Setelah Kirishima pergi meninggalkan ruangan, perasaan canggung melanda Chrea yang dihadapkan dengan Leo dan Lia bersamanya. Ia yang awalnya baik-baik saja kini terlihat gugup saat bersama dengan mereka berdua.
“(Ugh...! A-Apa yang harus kulakukan...! Aku tidak bisa membuka pembicaraan dengan benar...! Lagi pula, bagaimana caranya membuka pembicaraan dengan mereka...!)” Ujar Chrea dalam hatinya panik.
Namun, perasaan itu seketika terpotong oleh pertanyaan Leo yang secara mengejutkan memecahkan suasana di antara mereka.
“Kalau boleh bertanya, sejak kapan kalian tinggal bersama di sini...?” Tanya Leo melihat sekeliling sebelum kembali padanya.
“A-Ah. Kurasa lebih dari 10 tahun yang lalu... Kami semua bertemu saat masih kecil sebagai anak terlantar yang diadopsi oleh biarawati yang tinggal di sini.” Jawab Chrea dengan nada gugup.
“Begitu ya... Awalnya aku mengira kalian dari desa atau tempat yang sama... Ternyata aku salah.” Balas Leo memikirkannya tebakannya yang salah.
“Tidak, kami awalnya bukan berasal dari sini. Hanya kapten saja yang merupakan penduduk asli di kota ini.” Balas Chrea tersenyum masam.
“... Lalu, siapa anak-anak itu sebenarnya?” Sambung Lia bertanya.
“Anak-anak itu awalnya adalah penduduk kota ini. Namun, akibat peristiwa 5 tahun yang lalu, mereka terpaksa tinggal di sini bersama kami...” Jawab Chrea dengan tatapan mata sedih mengingat sesuatu dalam benaknya.
Melihat ekspresi Chrea, Lia memutuskan berhenti bertanya lebih jauh mengenai masalah itu. Ucapannya telah menjelaskan apa yang terjadi pada gereja dan bangunan di sepanjang jalan menuju ke tempat mereka.
“(Jadi begitu... Semuanya jadi saling terhubung sekarang...)” Ujar Leo dalam hatinya menebak.
Bersamaan setelah mengatakannya, Chrea mulai terlihat sedih. Matanya berkaca-kaca saat merenung ketika Leo yang menyadarinya mencoba untuk mengubah topik pembicaraan mereka. Namun, pada saat yang sama pula, sesosok suara menyapa mereka dari sebrang ruangan sebelum perhatian mereka tertuju kepadanya.
“Maaf membuat kalian menunggu. Sepertinya, ada beberapa masalah, huh?” Ujar Gald dengan senyum masam di wajahnya.
Melihat Gald datang, Chrea pun lantas beranjak pergi berkata kepada mereka berdua sambil menyembunyikan wajahnya.
“Ah. Aku baru ingat! Aku harus menjemur pakaian! Aku permisi dulu!” Ujarnya sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka.
“U-Uh... T-Tentu saja.” Balas Leo dengan nada canggung.
Sikap Chrea menimbulkan pertanyaan di benak Leo mengenai kejadian yang ia sebutkan sebelumnya. Ia tampak begitu sedih saat mengingatnya yang membuat Leo semakin bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi 5 tahun yang lalu. Kemungkinan besar, kejadian itu turut melibatkannya dan semua orang yang ada di gereja ini.
__ADS_1