
... ...
Pagi menjelang ketika Northey dan pengawalnya memutuskan kembali ke kota setelah menghentikan pencarian mereka di kawah itu. Tanpa menemukan petunjuk mengenai pelaku yang mencuri peninggalan kuno, Northey hanya bisa memasang ekspresi kecewa ketika ia kembali ke kota.
“(Sial...! Aku tidak menduga hal ini sebelumnya..! Bagaimana bisa aku selengah ini...!)” Ujar Northey dalam hatinya marah.
Namun, tidak hanya kegagalannya mencari jejak perampok itu yang membuatnya kecewa. Hal paling utama yang membuatnya kecewa sekaligus marah adalah kenyataan bahwa kedua Knight Ordernya mengalami nasib yang tragis tanpa sepengetahuannya. Sebelumnya, mereka menemukan jasad Rosetta tergeletak tidak bernyawa sementara Roselia menghilang. Hal ini jelas membuatnya sedih atas apa yang menimpa mereka. Bagaimana pun juga, mereka berdua berada di bawah tanggung jawabnya.
“(Pertama artefak itu hilang dicuri, lalu kemudian Rosetta tewas dan Roselia menghilang tanpa kabar. Tidak ada jejak mengenai siapa mereka... Bagaimana bisa ini semua terjadi...! Terkutuklah mereka...! Aku tidak akan mengampuni mereka...!)” Gumam Northey dalam hatinya dendam.
Selagi melampiaskan amarahnya dalam hatinya, Northey dan rombongannya akhirnya tiba di kota. Namun, pemandangan aneh menyambutnya yang baru saja kembali dari penyelidikannya. Di sepanjang jalan menuju vila, ia melihat warga kota melihatnya dan rombongannya dengan wajah pucat dan gelisah. Mereka semua terlihat ketakutan untuk beberapa alasan yang tidak ia mengerti.
“Ada apa dengan warga kota? Kenapa mereka memasang wajah itu ketika melihatku?” Tanya Northey kepada prajuritnya.
“Sepertinya saya juga kurang mengerti akan hal itu...” Balas salah seorang prajurit di sampingnya.
“Wajah mereka tampak gelisah dan cemas. Memangnya ada masalah apa selama kita pergi?” Sambung Northey kembali melihat warga yang ada di sisi jalan.
“Mohon maaf, tapi sepertinya saya tidak tahu...” Balas prajurit itu dengan ekspresi bingung.
Memang ada yang salah dengan mereka, namun untuk saat ini Northey tidak terlalu menanggapinya. Ada masalah yang lebih penting baginya saat ini. Ia pun memacu kudanya menuju vila mengabaikan para penduduk yang terlihat gelisah akan kedatangannya.
Sesampainya di vila, salah seorang prajurit penjaga datang menghampirinya ketika Northey baru saja turun dari kudanya. Dengan tergesa-gesa ia menghadapnya sebelum menyampaikan sesuatu yang penting padanya.
“Northey-sama...! Ada berita penting untuk anda...!” Ujar prajurit itu sebelum berlutut di hadapannya.
“Ada apa...?” Balas Northey dengan wajah muram.
“Ksatria Suci Agung mengirim surat ini untuk anda...!” Balas prajurit itu menunjukkan sebuah surat.
“Dari Richard-sama...?! Berikan kepadaku...!” Balas Northey terkejut sebelum mengambil surat itu.
Ia lantas membaca surat yang dikirimkan untuknya sebelum ia terdiam membaca isi surat tersebut. Melihat ekspresinya yang tampak aneh, prajurit yang ada di dekatnya mencoba bicara dengannya untuk memastikan keadaannya.
“Apa ada masalah, Northey-sama?” Tanya prajurit itu dengan ekspresi cemas.
“....”
“U-Uh... Northey-sama? Apa anda mendengar kami?” Sambung prajurit lain mencoba mengajaknya bicara.
Ia sama sekali tidak bergeming meski kedua prajurit itu mencoba mengajaknya bicara. Ia masih menatap surat tersebut dengan ekspresi serius yang membuat orang-orang di sekitarnya heran terhadapnya. Entah apa isi surat tersebut, namun sepertinya itu sangat berpengaruh padanya.
Untuk beberapa saat, Northey terlihat membaca surat itu dengan seksama sebelum akhirnya ia berjalan meninggalkan mereka setelah selesai membaca isi suratnya. Ia pergi begitu saja dalam keadaan diam ketika prajuritnya yang melihat tingkah anehnya kebingungan.
“Ada apa dengan Northey-sama? Kenapa beliau tiba-tiba bersikap seperti itu?” Tanya prajurit pertama kepada temannya.
“Entahlah. Sepertinya itu ada hubungannya dengan surat yang Ksatria Suci Agung tulis untuknya...” Balas prajurit kedua menebak.
“Hey, memangnya apa isi surat itu?” Tanya prajurit pertama pada pembawa pesan itu.
“Entahlah, kami tidak diizinkan membukanya sebelum penerima aslinya membacanya.” Balas pembawa pesan dengan ekspresi cemas.
“Ternyata memang benar isi surat itu penyebabnya. Sebenarnya apa yang Richard-sama tulis dalam surat itu...?” Ujar prajurit kedua dengan ekspresi serius.
“Aku juga bertanya hal yang sama denganmu. Bagaimana mungkin aku tahu...” Balas prajurit pertama dengan nada menggerutu.
Masih menimbulkan pertanyaan di kalangan prajurit mengenai apa isi surat yang membuat Northey tiba-tiba bersikap aneh. Hanya berbekal spekulasi liar, mereka hanya bisa menebak menurut sudut pandang mereka. Hanya Northey sendiri dan Richard saja yang tahu isi surat tersebut.
Sementara itu, di pedalaman hutan utara perbatasan kerajaan, Leo akhirnya terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara kicauan burung yang terdengar berada dekat dengannya. Ia perlahan membuka matanya ketika ia melihat pemandangan tidak biasa menyambutnya saat gadis berambut putih itu menyapanya.
“Goedemorgen, meneer.” Sapa gadis itu dengan senyum ramah.
“....”
“Is er iets mis?” Tanya gadis itu dengan bahasa yang sama.
Dengan wajah kebingungan Leo hanya bisa terdiam mendengar ucapannya. Ia memang tidak mengerti bahasa yang digunakannya, namun bukan itu yang membuatnya terkesima dalam diam. Ia terkejut melihat gadis itu masih berdiri di posisi yang sama sejak dari malam tanpa bergerak sedikit pun hingga membuat burung-burung bertengger di bahu dan kepalanya.
“(Dia selama ini berdiri di sana menungguku bangun sepanjang malam...? Apa dia tidak merasa lelah sama sekali...?)” Ujar Leo dalam hatinya heran.
Mungkin ia telah terlatih untuk menahan posisinya untuk waktu yang lama. Untuk beberapa alasan, hal itu membuat Leo merasa sedikit takut dengan kebiasaannya.
“Kau masih di sini, huh? Aku cukup terkejut...” Ujar Leo kepadanya.
“Is er iets dat ik kan doen?” Balas gadis itu dengan senyum ramah.
“... Aku tidak mengerti apa yang kau katakan.” Balas Leo dengan ekspresi bingung.
Tak lama berselang, Lia terbangun mendengar percakapan Leo dengannya. Ia sejenak mengusap matanya sebelum Leo menyapanya.
“Lia, selamat pagi.” Sapa Leo melihat ke arahnya.
“Goedenmorgen, dame.” Sambung gadis itu ikut menyapanya.
“... Pagi, Leo dan kau... Benar juga, kami belum tahu namamu...” Balas Lia sebelum melihat ke arahnya.
“...??”
“Ya, kau benar. Kita sama sekali belum tahu namanya. Kurasa dengan bahasanya sekarang kita akan kesulitan...” Balas Leo kepada Lia.
“Aku juga belum pernah mendengar bahasa itu sebelumnya...” Balas Lia melihat ke arah gadis itu.
“Bagaimana sekarang? Jika kita melewati perbatasan dalam keadaan seperti ini, mungkin saja kita bisa kerepotan. Kita hanya akan semakin dicurigai.” Ujar Leo dengan ekspresi serius.
“... Mm. Itu akan menjadi masalah untuk kita.” Balas Lia ikut berpikir.
Sambil memikirkan jalan keluar untuk masalah tersebut, Lia masih penasaran mengenai siapa sebenarnya gadis itu. Meski Leo sudah menjelaskan tentangnya semalam, namun itu masih belum sepenuhnya menjawab pertanyaannya. Masih ada banyak hal yang ingin ia ketahui darinya.
“(Tanpa nama dan tanpa identitas, siapa sebenarnya gadis ini...? Jika dia memang benar penjaga reruntuhan, lantas kenapa dia tidak membunuh kami berdua padahal kami dalam keadaan lengah. Ini membuatku penasaran...)” Ujar Lia dalam hatinya sambil memperhatikan gadis itu diam-diam.
Mungkin ia bisa sedikit memahaminya jika mengerti apa yang dikatakannya. Namun yang menjadi masalah adalah gadis itu menggunakan bahasa yang sangat asing baginya. Walau pun Lia dibekali dengan pengetahuan dan wawasan yang cukup, ia sama sekali belum pernah mendengar bahasa yang gadis itu gunakan. Hal ini tentu akan menjadi masalah bagi hubungan mereka ke depannya.
Sementara mereka berdua tengah merenung untuk berpikir, gadis itu perlahan menghampiri mereka berdua sebelum akhirnya meraih kedua tangan mereka yang mana membuat Leo dan Lia terkejut dengan tindakannya yang tiba-tiba.
“A-Apa yang...” Ujar Leo terkejut.
“....?!”
“Excuseer me, het zal niet lang meer duren. Het zal je geen pijn doen...” Balas gadis itu dengan nada lembut.
Gadis itu lantas memejamkan matanya sambil menggenggam kedua tangan mereka. Entah apa yang dilakukannya, namun tak lama setelahnya ia melepaskan kedua tangan mereka sebelum akhirnya kembali bicara dengan mereka.
“A... Uhm. Mohon maaf, apakah suara saya sudah benar?” Ujar gadis itu tersenyum kepada mereka.
“....!!”
“...!!”
Leo dan Lia seketika terkejut mendengar gadis itu bicara dengan lancar menggunakan bahasa mereka. Hanya dalam sekejap saja, gadis itu bisa menguasai bahasa umum mereka bahkan tanpa belajar sama sekali. Memang sulit dipercaya, namun gadis itu benar-benar melakukannya.
“T-Tunggu, kau baru saja bilang apa..?!” Tanya Leo dengan ekspresi terkejut.
“Apakah suara saya sudah jelas, itu yang saya katakan. Apa ada yang salah?” Balas gadis itu dengan wajah bingung.
“Bagaimana bisa kau menggunakan bahasa kami secepat itu...!” Balas Leo dengan ekspresi yang sama.
__ADS_1
“Ah. Kalau soal itu, saya hanya menyesuaikan tutur bahasa saya dengan yang biasa anda berdua gunakan lalu menggunakan sihir saya sebagai medianya.” Balas gadis itu menjelaskan.
“T-Tunggu, apa...?” Balas Leo dengan wajah bingung.
“... Dengan kata lain, kau memindai gelombang otak kami melalui sihir, begitu?” Sambung Lia memastikan prediksinya.
“Ya. Secara sederhana, seperti itulah cara kerjanya. Setelah memindainya, saya menirunya dan menerapkannya langsung pada diri saya. Dan hasilnya bisa anda berdua lihat saat ini...” Jawab gadis itu mengangguk.
“... Ini terdengar tidak masuk akal. Bahkan penyihir terbaik yang aku tahu tidak bisa melakukannya.” Balas Lia dengan wajah terkejut.
“Tunggu, apa maksudnya ini? Apa yang sebenarnya kalian berdua bicarakan?” Tanya Leo dengan ekspresi bingung.
“... Singkatnya, dia meniru kemampuan bahasa kita menggunakan sihirnya.” Jawab Lia melihat ke arah Leo.
“...!!”
Hal itu sontak membuat Leo terkejut. Ia bahkan tidak menduga gadis itu bisa melakukan hal sehebat itu. Meniru bahasa umumnya memerlukan waktu belajar yang cukup lama untuk memahaminya, namun gadis ini melakukannya dalam waktu yang sangat singkat hanya berbekal sihirnya saja. Ini semakin membuktikan kecurigaannya terhadapnya.
“(Dia bisa menggunakan sihir semahir itu...! Siapa sebenarnya gadis ini...!)” Ujar Leo dalam hatinya curiga.
Memang hal itu membuat mereka terkejut, namun setidaknya dengan begini, mereka bisa berkomunikasi dengan lebih baik. Meski mereka berdua masih menaruh kecurigaan kepadanya, tetapi selama dia diawasi, mungkin mereka bisa menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
“Aku mengerti sekarang, kurasa. Mungkin ini agak terlambat, tapi siapa namamu?” Tanya Leo kepada gadis itu.
“Nama...? Nama saya...?” Balas gadis itu dengan ekspresi pucat.
“Ya. Siapa namamu? Kami tidak mungkin memanggilmu dengan sebutan “kau” saja, bukan?” Balas Leo menatapnya heran.
“Nama... Nama... Nama saya...”
Ketika menanyakan tentang namanya, gadis itu secara tiba-tiba bertingkah aneh. Ia seperti kebingungan dan panik pada saat yang bersamaan hingga membuat Leo dan Lia yang melihatnya kebingungan.
“N-Nama...? Nama...? Siapa saya...? Siapa nama saya...?” Gumam gadis itu dengan ekspresi pucat.
“... Ada yang salah dengannya.” Bisik Lia pada Leo menatap gadis itu curiga.
“Apa mungkin aku salah bicara...?” Balas Leo berbisik dengan ekspresi cemas.
Setelah beberapa saat bergumam, gadis itu akhirnya terdiam sebelum akhirnya meneteskan air mata di hadapan mereka. Hal itu sontak mengejutkan mereka berdua sebelum akhirnya Leo mencoba menenangkannya mengajaknya bicara.
“A-Ah. Mungkin aku tidak seharusnya menanyakan hal itu. Maaf karena aku tidak menyadarinya...” Ujar Leo mencoba menenangkannya.
“....??”
“U-Uh... Tidak perlu cemas, aku tidak akan memaksamu mengatakannya... Jadi, jangan menangis lagi...” Sambung Leo dengan ekspresi canggung.
Melihat Leo berusaha menenangkannya membuat gadis itu melihat ke arahnya. Dengan mata berkaca-kaca ia meraih tangannya sebelum akhirnya angkat bicara kepadanya.
“Tuan... Meski saya tidak pantas mengatakan ini, tetapi saya mohon berikanlah saya sebuah nama...” Ujar gadis itu memohon kepadanya.
“Tunggu, apa...?!” Balas Leo terkejut.
“....?!”
“Saya tidak ingin mengingat nama lama saya lagi... Jadi, saya mohon berikanlah sebuah nama baru untuk saya... Saya akan melakukan apa pun untuk anda sebagai gantinya...” Sambung gadis itu memohon kepadanya.
“O-Oi, perhatikan kata-katamu... Itu bisa membuat orang salah paham...” Balas Leo dengan ekspresi canggung.
“E-Eh...? Anda tidak mau...?” Balas gadis itu memasang ekspresi sedih.
“U-Uh...”
“....!!”
“Leo, aku tidak yakin mengenai hal ini. Mungkin saja ada maksud tertentu dibaliknya.” Bisik Lia dengan ekspresi curiga.
“K-Kau mungkin saja benar, tapi...” Balas Leo sebelum kembali melihat ke arah gadis itu.
“Mhm. Kita masih belum tahu tentangnya. Bukankah terlalu berisiko menjadi terlalu dekat dengannya?” Balas Lia bersikeras.
Yang Lia ucapkan memang terdengar masuk akal. Mereka berdua sama sekali tidak tahu apa-apa mengenainya. Bagaimana pun juga, gadis itu memiliki kekuatan sihir yang tidak biasa yang mungkin bisa mengancam mereka berdua. Akan berbahaya jika mereka terlalu dekat dengannya, namun Leo memiliki pemikirannya sendiri terhadapnya.
“Kau memang benar, Lia. Tetapi, aku tidak berpikir demikian.” Balas Leo dengan ekspresi tenang.
“E-Eh...? Apa maksudmu...?” Tanya Lia dengan ekspresi terkejut.
“Aku punya rencana terhadapnya.” Balas Leo tersenyum.
Leo kembali menghampiri gadis itu untuk bicara kepadanya ketika Lia mulai merasa ragu. Entah apa yang hendak Leo rencanakan, namun sebaiknya ia memperhatikannya.
“(Apa yang dia rencanakan...? Semoga saja dia tidak bertindak nekat seperti biasanya...)” Ujar Lia dalam hatinya cemas.
Setelah berhadapan dengan gadis itu, Leo pun setuju dengan permintaannya.
“Aku akan memberimu nama, tetapi sebelumnya ada persyaratan yang harus kau penuhi.” Ujar Leo dengan ekspresi serius.
“Ya. Apa pun itu, saya akan memenuhinya.” Balas gadis itu menundukkan kepalanya siap menerimanya.
“Pertama-tama, berjanjilah bahwa kau bukan seorang musuh atau ancaman bagi kami. Apa kau sanggup melakukannya...?” Balas Leo mengajukan syarat.
“Ya. Saya menyanggupinya. Tetapi, jika anda belum merasa yakin, saya ingin menyarankan sesuatu kepada anda...”
“...? Apa itu?”
“Saya menawarkan anda kontrak.”
“Kontrak?”
“...??”
“Ya. Saya akan mengikat janji kita ke dalam sihir kontrak. Bagaimana menurut anda?”
Mendengar hal itu, Lia yang merasa curiga mencoba memperingatkan Leo sebelum menerima tawarannya.
“Leo, tunggu sebentar...! Jangan mudah percaya begitu saja dengannya...!” Ujar Lia menghentikan pembicaraan mereka.
“Lia...” Gumam Leo terdiam.
“Maaf sebelumnya, nona Lia. Saya tidak bermaksud buruk kepadanya. Saya hanya menawarkan sihir kontrak sepihak kepadanya.” Balas gadis itu mencoba menjelaskan.
“Apa maksudmu...? Sihir kontrak sepihak...?” Balas Lia bertanya dengan curiga.
“Sebagai contohnya, anda pasti tahu bahwa ras Elf tinggal dengan bangsa roh, bukan?”
“Aku sudah tahu.”
“Anda juga pasti tahu kalau mereka juga menjalin kontrak dengan roh, bukan?”
“... Ya.”
“Bangsa Elf menggunakan sihir kontrak berdasarkan persetujuan dan keuntungan kedua belah pihak antara sang roh dan Elf itu sendiri. Berbeda dengan mereka, sihir yang akan saya gunakan hanya akan mengikat saya dan memberikan keuntungan sepihak pada tuan saya...”
“Tunggu, jangan katakan...!”
__ADS_1
“Ya. Dalam bahasa manusia, sihir ini lebih umum disebut sebagai mantra perbudakan.”
Leo yang mendengar hal itu lantas terkejut dengan pernyataan gadis itu.
“O-Oi. Tunggu dulu! Mantra perbudakan...? Aku tidak tahu sudah berapa lama kau terkurung di sana, tapi hal seperti itu dilarang di jaman ini...!” Ujar Leo dengan wajah terkejut.
“Walau belum sepenuhnya menghilang, budaya perbudakan sudah ditentang oleh banyak negara saat ini. Akan menjadi masalah jika Leo ketahuan menjadi pemilik budak! Aku menentangnya!” Sambung Lia merasa keberatan.
“B-Begitu ya... Jadi tidak ada cara lain untuk membuktikan niat saya...?” Balas gadis itu dengan ekspresi sedih.
“Kurasa itu sudah cukup... Kau tidak perlu melakukannya. Selama kau memegang janjimu, kami tidak akan menyakitimu...” Balas Leo mencoba menenangkannya.
“E-Eh...?”
“Kau yakin dengan ini, Leo?” Tanya Lia dengan ekspresi ragu.
“Ya. Kurasa. Jangan khawatir, aku yang akan mengawasinya. Bagaimana pun juga, akulah yang membangunkannya. Ini sudah menjadi tanggung jawabku...” Balas Leo meyakinkan Lia.
Ucapan Leo membuat gadis itu terdiam terkesima. Walau mereka adalah orang asing, gadis itu merasa bahwa ada sesuatu dalam diri Leo yang membuatnya mengingat beberapa kenangan masa lalunya.
“(Ini terasa sangat aneh... Tidak seperti penciptaku sebelumnya yang diselimuti ambisi dari hatinya yang terkorosi, dalam hatinya aku merasakan ia terkikis oleh kesedihan dan kekecewaan... Ia memiliki penyesalan yang mendalam, namun ia tidak menggunakannya sebagai alat menciptakan kebencian... Ia menggunakannya sebagai pemicu semangatnya untuk menjalani hidupnya...)” Ujar gadis itu dalam hatinya terkesima memperhatikan Leo.
Ia yang awalnya ragu kini menjadi yakin setelah merasakannya. Gadis itu yakin bahwa Leo adalah orang yang selama ini ia nantikan untuk membimbingnya keluar dari masa lalunya.
“Tuan, saya sudah memutuskannya...” Ujar gadis itu tersenyum kepada Leo.
“...??”
“Anda adalah orang yang selama ini saya nantikan. Jika itu anda, saya rasa saya tidak keberatan menunjukkannya kepada anda...” Sambung gadis itu dengan senyum lembut.
“Apa maksudmu...?” Balas Leo bingung.
Tak lama kemudian, gadis itu secara mengejutkan melepaskan bajunya di hadapan mereka berdua yang mana membuat mereka berdua sontak terkejut. Leo lantas memalingkan pandangannya ketika Lia melompat ke arahnya menutup matanya dengan kedua tangannya sebelum ia bicara kepada gadis itu.
“Leo, kau tidak boleh melihatnya...! Apa yang kau pikir sedang lakukan...!” Ujar Lia tersipu menutupi mata Leo.
“L-Lia...! A-Aku tidak bisa melihat apa-apa...!” Balas Leo kebingungan dan panik.
“Tidak...! Kau tidak boleh melihatnya...!” Balas Lia dengan nada tinggi.
Gadis itu hanya diam ketika Lia bicara dengannya. Ia lantas berbalik dan memperlihatkan punggungnya yang tertutupi oleh rambut panjangnya ke hadapan mereka sebelum akhirnya kembali bicara.
“Tuan, jika anda tidak keberatan, tolong buka mata anda...” Ujar gadis itu dengan nada gugup.
“Tunggu, apa...? Melihat apa...?” Balas Leo kebingungan.
“Itu... Apa itu...?” Sambung Lia terkejut menyaksikannya.
“Apa...? Lia, ada apa...? Apa yang kau lihat...?” Tanya Leo kebingungan.
Lia pun akhirnya meyakinkan diri untuk membiarkan Leo menyaksikan apa yang ia lihat. Ia perlahan melepaskan tangannya darinya untuk membiarkannya melihat apa yang ada di punggung gadis itu.
“...?!”
Sama seperti Lia, Leo juga terkejut begitu menyaksikan apa yang ada di punggungnya. Sebuah mantra terukir di punggungnya membentuk pola aneh yang terlihat tidak beraturan. Entah apa itu, namun sepertinya gadis itu berusaha menyampaikan sesuatu dengan menunjukkan hal itu kepada mereka.
“Seperti yang anda lihat, ada tato aneh di punggung saya.” Sambung gadis itu dengan ekspresi sedih.
“Itu... Apa maksudnya itu...? Tato apa yang ada di punggungmu itu...?” Tanya Leo dengan ekspresi ragu.
“Kelihatannya seperti sihir yang belum selesai...” Sambung Lia mengamatinya.
“Ya. Itu benar, tato ini adalah sihir yang diberikan oleh pencipta saya. Beliau menyebut ini sebagai kutukan bagi saya. Entah apa yang dimaksud, namun beliau berkata jika tato ini sepenuhnya menghilang, saya akan meninggal...” Jawab gadis itu menjelaskannya.
“Apa maksudmu kau akan meninggal...?” Balas Leo terkejut.
“....”
Gadis itu hanya terdiam membuat Leo seketika sadar maksudnya. Meski terasa aneh, namun yang dia ucapkan adalah kenyataan. Ia tidak mengira gadis itu mengemban beban seberat itu.
“Untuk itulah saya ingin membuat kontrak dengan anda. Pencipta saya mengatakan bahwa saya tidak bisa hidup tanpanya, tanpa orang lain. Maka dari itu, dengan segenap hati saya, maukah anda membuat kontrak dengan saya...?” Ujar gadis itu memohon meneteskan air matanya.
“Aku...” Balas Leo ragu.
“Tuan, saya tidak ingin mati tanpa mengetahui siapa diri saya yang sesungguhnya... Saya ingin mencari tahu siapa dan kenapa saya dilahirkan ke dunia ini... Untuk hal itu, saya siap menyerahkan diri saya kepada anda... Tolong berikanlah saya nama dan tujuan baru bagi hidup saya...” Balas gadis itu kembali memohon kepadanya.
Leo terdiam memikirkan permohonannya. Ia ragu untuk melakukannya, namun setelah mendengar kisahnya yang tidak jauh berbeda dengannya membuat Leo berpikir ulang mengenai keputusannya.
“(Entah kenapa, gadis ini seperti mengingatkanku pada diriku yang dulu sebelum bertemu Lia... Dia pasti merasa hampa dan kesepian sama sepertiku dulu...)” Ujar Leo dalam hatinya prihatin kepadanya.
Setelah mempertimbangkannya dengan matang, Leo akhirnya setuju untuk menerima permohonannya.
“Baiklah. Aku menerimanya. Aku hanya harus memberimu nama dan membuat kontrak denganmu, benar?” Ujar Leo sambil menghela nafas panjang.
“Anda mau menerima saya...? Ya. Saya sangat senang mendengarnya...” Balas gadis itu tersenyum senang.
“Lalu, apa yang harus aku lakukan...?”
“Bisa tolong mendekat...? Saya akan memulai mantranya...”
Leo pun mengikuti ucapannya dan mulai berjalan menghampirinya ketika Lia untuk sesaat menghentikannya.
“Lia...?” Ujar Leo melihat ke arahnya.
“Kau yakin akan melakukan ini...?” Tanya Lia dengan ekspresi cemas.
“Ya. Aku yakin. Aku sudah mempertimbangkannya dengan matang.” Balas Leo dengan ekspresi serius.
“Begitu ya. Kalau begitu, aku tidak punya pilihan lain selain mempercayaimu.”
“Ya. Terima kasih, Lia...”
Dengan hati lapang, Lia membiarkan Leo melakukan apa yang ia yakini. Leo menghampiri gadis itu sebelum akhirnya ia berdiri tepat di belakangnya ketika gadis itu mulai mengucapkan mantranya.
“Wahai engkau pelita yang menerangi kegelapan, terangilah jiwa yang tersesat ini dengan cahayamu, pandulah jiwa ini menuju jalan yang engkau tapaki...”
Lingkaran sihir keemasan menyelimuti mereka ketika gadis itu menghentikan mantranya sesaat sebelum ia meminta kepada Leo.
“Tuan, tolong berikan saya nama dan lengkapilah sihir yang ada di punggung saya dengan sihir anda...” Ujar gadis itu menoleh ke arahnya.
Untuk sejenak Leo terdiam memikirkan mengenai nama yang harus ia berikan untuknya.
“(Nama... Nama apa yang harus kuberikan untuknya...? Nama apa yang sekiranya pantas untuknya...?)” Gumam Leo dalam hatinya.
Leo lantas memperhatikan rambutnya yang memiliki warna yang sama dengan miliknya sebelum akhirnya ia menemukan sebuah nama yang cocok untuknya.
“Olivia White.” Ujar Leo sambil menyambung sihir yang ada di punggungnya.
Ketika sihir itu berhasil dihubungkan, ia menyala dan berubah menjadi lingkaran sihir sempurna dengan motif yang sangat indah ketika ia melanjutkan mantranya.
“Dengan mengemban nama darimu, Olivia White bersumpah akan menjadi pedang dan perisaimu selayaknya engkau memandu jiwa ini dengan cahayamu sebagai pelayanmu, azuurblauwe eed.”
Cahaya terang seketika menyinari seisi hutan dengan cahaya keemasan ketika sihir itu selesai dirapalkan. Luapan energi sihir yang besar seketika menyelimuti area di sekitarnya ketika gadis itu perlahan menunjukkan sosoknya di hadapan Leo ketika kilauan cahaya menghujani mereka.
“Maaf membuat anda menunggu, master. Olivia White, mulai sekarang akan melayani anda...” Ujarnya membungkuk hormat kepadanya.
__ADS_1
Dengan tersenyum bahagia, Olivia menghadap Leo dengan penuh hormat. Ia yang sebelumnya seperti kehilangan harapan hidup kini menjadi lebih baik berkat nama yang Leo berikan untuknya.