
... ...
Mendengar kisah Olivia membuatnya tidak bisa berkata-kata. Kenyataan bahwa Olivia adalah saksi hidup peradaban kerajaan Astarion membuat Lia hampir tidak bisa mempercayainya. Ia yang awalnya berspekulasi bahwa dia hanya makhluk yang diciptakan oleh mereka untuk tujuan tertentu kini berubah. Sosoknya melebihi semua makhluk yang pernah ia dan Leo temui dalam sisa-sisa reruntuhan peradaban mereka.
“(Jika dia pernah hidup di jaman kejayaan Astarion, itu artinya Olivia telah berada di bawah sana selama ratusan tahun...! Ini tidak bisa dipercaya...!)” Ujar Lia dalam hatinya tercengang.
Ini menjelaskan mengapa dia menguasai bahasa mereka dengan baik. Bahkan dalam catatan sejarah, bahasa Old Migra adalah bahasa yang belum pernah tercatat. Itu karena bahasa itu sudah lenyap sebelum diturunkan penerusnya atau menghilang dalam perkembangannya. Yang jelas, keberadaan Olivia adalah kunci untuk menemukan kebenaran di balik menghilangnya peradaban Astarion dalam sejarah. Mungkin Leo tidak menyadarinya, namun dia tanpa sengaja telah menemukan peninggalan paling penting dalam sejarah. Lia sendiri tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika Olivia jatuh ke tangan Northey.
“Nona Lia...? Ada apa tiba-tiba terdiam seperti itu...?” Tanya Olivia dengan wajah heran.
“...?! Tidak, bukan apa-apa.” Balas Lia kembali fokus kepadanya.
“Anda tidak terlihat baik. Anda baik-baik saja?” Balas Olivia bertanya kepadanya.
“... Aku baik-baik saja. Hanya sedang merenung mengenai perjalanan besok...”
“Mengenai hal itu, mungkin Olivia kurang sopan menanyakan ini, tapi boleh Olivia bertanya mengenai maksud tujuan perjalanan kita?”
“...? Kau ingin bertanya kenapa kami berdua melakukan perjalanan ini?”
“Ya. Singkatnya demikian. Bila anda berkenan, bolehkah Olivia mengetahuinya?”
Lia kembali terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya menjawab pertanyaannya.
“... Untuk mencegah sesuatu. Mungkin bisa dibilang seperti itu.” Jawab Lia singkat sambil memalingkan pandangannya ke api unggun.
“Mencegah sesuatu...? Memangnya apa yang ingin Nona Lia dan master cegah...?” Balas Olivia kembali bertanya.
“... Aku tidak bisa mengatakannya.” Jawab Lia singkat.
“Begitu ya. Terima kasih telah memberitahu. Olivia tidak yakin, namun sepertinya itu adalah yang hebat. Semoga saja Olivia bisa ikut membantu meraih tujuan anda berdua...”
“... Semoga saja.”
Meski Lia masih belum bisa mempercayainya sepenuhnya, setidaknya dalam pengawasannya dan Leo, ia tidak akan membiarkannya jatuh ke tangan Ksatria Suci. Sampai ia tahu siapa dan kenapa Olivia diciptakan, ia akan terus berhati-hati terhadapnya.
Tak lama berselang, Leo kembali dari hutan membawa seekor rusa bersamanya. Melihat hal itu mereka berdua lantas menghampirinya menyambutnya ketika Leo lega menyadari semuanya masih baik-baik saja di antara mereka.
“Master, selamat datang kembali. Terima kasih atas kerja kerasnya.” Sapa Olivia membungkukkan badannya dengan etika sopan.
“... Selamat datang, Leo. Kau mendapat buruan yang bagus sepertinya.” Sambung Lia menyambut kedatangannya.
“Ya. Aku kembali, semuanya. Aku dapat barang bagus di sini sebagai makan malam...” Balas Leo meletakkan buruannya.
“Menakjubkan... Seperti yang bisa diharapkan dari master...”
“... Kau menangkap ini sendiri bahkan tanpa anak panah. Bagaimana kau melakukannya?”
“... Agak sulit menjelaskannya, tapi kurasa ini hasil pengalamanku, bisa dibilang begitu...”
Setelahnya, mereka pun menyiapkan rusa tersebut untuk dimasak. Setelah persiapan yang panjang, akhirnya mereka bisa menikmati makan malam mereka tepat ketika hari mulai menjelang malam. Di bawah langit berbintang mereka menikmati hidangan daging rusa panggang yang baru saja matang sambil menikmati suasana yang tenang. Meski jauh dari kata mewah, Lia tetap menikmatinya karena ini adalah kali pertamanya ia memakan hidangan yang Leo masak. Banyak hal yang berlalu, namun selama mereka bersama itu sudah cukup.
“Bagaimana menurut kalian berdua..? Aku tidak yakin masakanku sesuai dengan selera kalian...” Ujar Leo dengan nada canggung.
“... Mm. Ini enak. Aku tidak menyangka kau bisa memasak.” Balas Lia menikmati makanannya dengan senang hati.
“Yah, hidup berkelana seorang diri membuatku harus beradaptasi dengan keadaan. Meski tidak seberapa, tapi aku cukup baik dalam mengolah bahan makanan dari alam.” Balas Leo dengan nada senang.
“... Mungkin selanjutnya aku yang akan menunjukkan kemampuanku.”
“Aku penasaran seperti apa rasa masakanmu... Sepertinya itu patut dinantikan...”
“... Mm. Aku tidak akan mengecewakanmu.”
“Bagaimana menurutmu, Olivia?”
Ketika Leo melihat ke arahnya, terlihat Olivia hanya terdiam membisu dengan makanan di tangannya. Ia seperti melamun untuk beberapa saat sebelum akhirnya Leo kembali memanggilnya.
“Olivia, ada apa...? Kenapa kau diam...?” Tanya Leo dengan wajah heran menyentuh bahunya.
“....?!”
“Kau baik-baik saja...? Apa ada masalah...?” Sambung Leo kembali bertanya kepadanya.
“A-Ah. Mohon maaf sebelumnya master, sepertinya Olivia sempat melamun...” Balas Olivia dengan senyum pahit.
“... Ada apa denganmu?” Ujar Lia ikut bertanya kepadanya.
“Apa ada yang mengganggumu? Jika makanannya tidak enak katakan saja, aku bisa menerimanya.” Sambung Leo dengan nada cemas.
“T-Tidak bukan begitu... Masakan master lebih dari cukup untuk Olivia, tetapi hanya saja...” Balas Olivia dengan nada canggung.
__ADS_1
“Hanya saja...?”
“Hanya saja, Olivia sedikit mengingat tentang masa lalunya...”
Keadaan seketika menjadi hening ketika Olivia mengatakannya. Suasana di antara mereka mendadak berubah dipenuhi dengan nuansa yang berat begitu mendengar Olivia menyinggung tentang masa lalunya. Memang benar jika masa lalunya masih menjadi misteri bagi mereka, namun mendengar dari nadanya, mereka tahu bahwa itu bukanlah kenangan yang indah.
“(Dia terlihat sedih... Meski dia bukan manusia, tetapi dia juga merasakan emosi yang sama seperti kami...)” Ujar Leo dalam hatinya prihatin.
Ia tidak tahu apa yang ada dalam ingatannya, namun lebih baik ia tidak membicarakannya lebih dari ini.
“Makanlah, Olivia. Kau tidak perlu terlalu memikirkannya...” Ujar Leo mencoba menghiburnya.
“E-Eh...?”
“Jangan khawatir, ada aku di sini. Semuanya juga sudah berlalu...” Sambung Leo sambil membelai rambutnya.
“M-Master...” Gumam Olivia tersipu.
“Jangan terlalu dipikirkan. Nikmati saja makan malamnya.”
“... Baik.”
Olivia pun memakan daging panggang yang ada di tangannya menuruti ucapan Leo. Ia pun dengan senang hati memakannya sebelum ia tersenyum kepadanya.
“Ini sangat lezat, master.” Ujarnya tersenyum gembira.
“Senang mendengarnya...” Balas Leo menghela nafas lega.
Meski hubungan mereka berbeda, namun Olivia tidak merasakan adanya tekanan yang memisahkan antara mereka berdua. Keadaan ini berbanding terbalik dengan yang terakhir kali ia ingat ketika masih menjadi bagian dari kerajaan Astarion.
“(Aneh sekali, masterku yang sekarang tidak seperti masterku yang dulu... Ia memperlakukanku selayaknya manusia bahkan meski kami belum mengetahui satu sama lain... Meski aneh, tetapi aku tidak merasa keberatan...)” Ujar Olivia dalam hatinya heran.
Memilihnya sebagai majikan barunya memanglah tepat. Dengan ini Olivia yakin bahwa Leo akan menuntunnya menjadi orang yang lebih baik meski kenyataan bahwa dirinya bukan manusia tidak bisa disembunyikan. Ia hanya harus menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan jati dirinya yang sebenarnya kepadanya.
Malam pun berlalu dengan tenang bersama mereka menikmati makan malam mereka. Waktu mendekati tengah malam ketika Lia bangun ketika menyadari bahwa Leo masih terjaga di depan api unggun. Merasa penasaran, ia pun mencoba menghampirinya ketika tanpa sengaja ia melihat Olivia bersama dengannya.
“(Olivia...? Dia selama ini terjaga...? Apa yang dia lakukan bersama Leo...?)” Tanya Lia dalam hatinya penasaran.
Mereka terlihat sedang dalam pembicaraan yang seru sebelum Lia memutuskan untuk mengurungkan niatnya menghampirinya dan memilih untuk menguping pembicaraan mereka dari kejauhan.
Ditemani oleh suara api unggun, Leo mengobrol dengan Olivia ketika Lia secara diam-diam mendengarkan mereka.
“Ya. Setelah berbicara dengan nona Lia, sekarang Olivia sadar bahwa waktu berlalu lebih lama dari yang semula Olivia duga...” Balas Olivia menambahkan.
“Walau aku bukan berasal dari kerajaan ini, tapi setidaknya aku tahu satu atau dua hal mengenai negeri ini. Bagaimana pun juga, sebagai orang asing pengetahuanku tentunya tidak bisa dibandingkan dengannya yang merupakan orang asli negeri ini yang berpendidikan tinggi...”
“Master bukan berasal dari Rushford...? Olivia sebelumnya mengira bahwa master adalah orang dari wilayah ini...”
“Tidak, aku orang asing di sini. Aku hanya kebetulan melintasinya saja. Kalau pun tinggal, aku hanya tinggal sebentar saja lalu kembali melanjutkan berkelana...”
“Begitu ya...”
Tidak ada hal yang serius dalam pembicaraan mereka. Sepertinya Olivia hanya ingin mengenalkan dirinya sama seperti yang ia lakukan sebelumnya pada Lia.
“(Rupanya hanya pembicaraan yang biasa, lega mendengarnya...)” Ujar Lia dalam hatinya sambil menghela nafas lega.
Ia sempat berpikir mereka membicarakan sesuatu yang sedikit liar. Bagaimana pun juga, ia senang bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Bicara mengenai itu, Olivia penasaran dari mana asal master. Jika berkenan, bolehkah Olivia bertanya dari mana master berasal...?” Sambung Olivia bertanya kepadanya.
“Asalku...? Yah, itu sedikit rumit... Singkatnya, aku berasal dari suatu tempat di ujung selatan benua ini... Dengan kata lain, aku adalah orang selatan...” Jawab Leo dengan ekspresi ragu.
“Master adalah orang dari selatan...? Hebat, kami sering mendengar bahwa orang selatan memiliki kemampuan bertarung melawan monster yang hebat. Tidak mengherankan mengapa master bisa memburu rusa itu dengan mudah...” Balas Olivia kagum dan memujinya.
“Aku justru tidak menyangka kau bisa mengenal kami... Padahal di setiap negeri yang pernah kukunjungi, mereka tidak terlalu akrab dengan wilayah selatan...”
“Benarkah..? Padahal kekaisaran selatan adalah sekutu kami yang paling kuat. Kenapa tidak ada yang mengenal mereka...?”
“Kekaisaran...? Maksudmu kekaisaran Artmis...?
“Kekaisaran Artmis...? Mohon maaf, tetapi Olivia belum pernah mendengarnya...”
“Bukan...? Lalu apa nama kekaisarannya...? Sejauh yang aku tahu hanya ada satu kekaisaran yang ada di selatan benua ini dan itu adalah Artmis...”
“Sepertinya banyak yang berubah sejak Olivia bangun...”
“Kelihatannya begitu.”
Lia mengetahui beberapa hal mengenai apa yang mereka bicarakan. Kekaisaran Artmis adalah kekaisaran yang terbentuk setelah runtuhnya kekaisaran sebelumnya yang lebih tua. Mereka terbentuk akibat kudeta wilayah yang sebelumnya ditaklukkannya dan akibat perang saudara antara kubu pangeran mahkota melawan pasukan perlawanan yang dipimpin oleh anak gelap kaisar. Terlepas dari sejarah terbentuknya kekaisaran Artmis, kejadian itu telah terjadi sekitar 500 tahun yang lalu yang menandakan bahwa Olivia berumur lebih tua dari itu. Hal ini jelas membuat Lia yang menyadarinya terkejut dan kebingungan dibuatnya.
__ADS_1
“(Ini tidak mungkin...! Dia telah hidup lebih dari 500 tahun...! Bahkan bagi makhluk buatan, rentang waktu itu tidak masuk akal...! Bagaimana dia bisa bertahan terkurung selama itu...!)” Ujar Lia dalam hatinya terkejut.
Sambil mencoba menahan rasa terkejutnya, Lia secara diam-diam mengamati Olivia ketika ia yang menyadarinya segera membalas melihat balik ke arahnya. Lia seketika membalikkan badannya berpura-pura mengelabuinya sebelum akhirnya Leo memotongnya.
“Benar juga, aku selalu bertanya-tanya kenapa kau bisa ada di dalam sana. Apa yang terjadi denganmu?” Tanya Leo dengan ekspresi serius.
“A-Ah. Kalau soal itu... Sebenarnya Olivia juga bingung kenapa bisa berada di sana. Rasanya ia seperti melupakan sesuatu yang sangat penting yang membuatnya berakhir terkurung di sana...” Balas Olivia dengan ekspresi sedih.
“Jadi, maksudmu kau tidak ingat bagaimana bisa tersegel di sana?” Balas Leo dengan wajah bingung.
“Ya. Untuk itulah Olivia meminta master untuk membuat kontrak karena mungkin saja itu bisa membantu memulihkan ingatannya. Tetapi sepertinya itu juga tidak berhasil...” Balas Olivia dengan wajah kecewa.
“... Begitu ya. Sepertinya kita sama-sama punya masalah tersendiri...”
“Jika berkenan, bolehkah Olivia mengetahui masalah master...? Olivia mungkin bisa membantu...”
Leo terdiam sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk tidak membicarakannya kepada Olivia. Masalah mengenai kemampuannya yang tiba-tiba bangkit mungkin sebaiknya ia simpan sendiri sampai ia bisa menemukan penyebabnya.
“Tidak, lupakan saja. Itu bukan masalah besar...” Ujar Leo menghela nafas singkat sebelum beranjak dari tempatnya.
“Jika master berkata demikian...” Balas Olivia dengan ekspresi cemas.
Sembari mengalihkan pembicaraan, Leo mengambil daging yang telah matang dikeringkan sebelum akhirnya mengemasnya bersama dengan kulit rusa yang sebelumnya telah ia bersihkan.
“Kurasa semuanya sudah selesai. Saatnya untuk tidur...” Gumam Leo selesai mengemasinya.
“Kalau begitu, selamat malam master. Semoga keselamatan menjaga sampai master bangun nanti...” Balas Olivia mengucapkan selamat malam.
“Kau juga sebaiknya tidur. Besok kita akan menempuh perjalanan panjang melewati perbatasan.” Balas Leo meregangkan tubuhnya.
“Tidak perlu khawatirkan Olivia. Ia sudah terbiasa terjaga berhari-hari tanpa tidur dan istirahat.”
“Aku harap itu cuma bercanda. Selamat malam, Olivia...”
“Selamat malam juga, master...”
Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Leo pun memutuskan untuk beristirahat meninggalkan Olivia yang terjaga seorang diri. Untuk sejenak ia menatap Leo dan Lia yang telah terlelap sebelum ia beranjak dari tempat duduknya menuju ke sebuah tempat yang berada tak jauh dari sana untuk menikmati menatap langit malam yang penuh dengan bintang. Hembusan angin malam menerpa tubuhnya mengurai rambut peraknya yang sepenuhnya menutupi punggungnya sebelum ia terdiam dalam hening menatap gugusan bintang di atasnya.
“(Jaman telah berubah begitu pula dengan orang-orangnya... Namun, meski demikian ada hal yang tidak berubah...)” Gumam Olivia di dalam hatinya.
Ia menyisir rambutnya ke belakang telinganya sebelum berbalik menatap ke arah Leo dan Lia sebelum ia menghela nafas.
“Jamanku sudah berakhir tergantikan oleh jaman yang baru... Hanya diriku yang tersisa darinya bersama dengan semua kutukan yang menjadi eksistensiku... Master, wahai tuan baruku, akankah engkau menerimaku jika semua dosa ini kutunjukkan kepadamu...?” Ujar Olivia menatap Leo dengan ekspresi kecewa.
Dengan kata-kata yang dipenuhi oleh pertanyaan, Olivia hanya bisa berharap ia bisa menemukan jawabannya jika waktu yang dinantikannya tiba.
Waktu berlalu, setelah menempuh perjalanan panjang mereka akhirnya berhasil keluar dari hutan yang menandakan bahwa mereka telah melewati perbatasan kerajaan Rushford. Begitu keluar dari hutan, pemandangan padang rumput berkabut menyambut mereka dengan nuansa baru. Mereka akhirnya sampai di wilayah kerajaan Moulbet yang merupakan salah satu dari beberapa kerajaan kecil yang terdapat di utara kerajaan Rushford.
“Sepertinya kita berhasil... Kita akhirnya melewati hutan itu...” Gumam Leo sambil menghela nafas.
“Mm. Akhirnya, kita sampai di Moulbet.” Balas Lia dengan sikap tenang.
“Yah, sesuai rencana...”
“... Mm.”
Setelah sejenak berdiam diri, mereka pun melanjutkan kembali perjalanan mereka melintasi padang rumput berkabut itu menuju kota terdekat. Meski memakan waktu 4 hari untuk melewati hutan, mereka terbilang lebih cepat dari rencana karena memotong jalan melewati lembah itu. Semua itu berkat Olivia yang bersama mereka dan membuat perjalanan lebih mudah. Sekarang yang tersisa adalah mengikuti rencana Lia.
“Mungkin setibanya di kota, kita perlu mengisi perbekalan kita. Aku tidak yakin dengan jumlah uang saat ini bisa memenuhi kebutuhan kita bertiga...” Ujar Leo berbisik kepada Lia.
“... Itu artinya hanya ada satu hal.” Balas Lia melihat ke arahnya memberi isyarat.
“Ya. Sepertinya kita harus bergantung pada lencana kita...” Balas Leo sambil menghela nafas.
“Tapi sebelum itu, kita harus memikirkan tentang identitas baru kita.”
“Kau benar. Kita tidak mungkin memakai salju pengelana dan gadis pedang merah lagi...”
“Mengenai itu, kau bisa menyerahkannya kepadaku. Aku sudah mengantisipasinya...”
“Benarkah...? Aku selalu bisa mengandalkanmu.”
“Mm.”
“Jadi, apa rencanamu?”
“Kau akan mengetahuinya setelah kita sampai nanti...”
Sambil tersenyum, Lia mencoba merahasiakan rencananya dari Leo yang mana membuatnya penasaran. Mungkin sebaiknya Leo percaya padanya karena bagaimana pun Lia adalah satu-satunya yang bisa ia andalkan sekarang.
“(Aku tidak tahu apa itu, tapi aku hanya bisa menyerahkannya kepadanya...)” Ujar Leo dalam hatinya pasrah.
__ADS_1
Untuk menjalankan rencana selanjutnya, Leo dan Lia perlu menyembunyikan identitas mereka untuk menghilangkan jejak mereka dari rangkaian peristiwa yang membuat nama petualang mereka dikenal. Ia sudah memikirkan hal ini sebelumnya, namun kali ini Leo memilih untuk mengikuti rencana Lia.