
Leo menyadari dirinya di dalam kehampaan ketika ia bertanya-tanya bagaimana ia bisa berada di sana. Sunyi dan kesepian, Leo melihat sekelilingnya dengan perasaan hampa ketika perlahan ingatan tentang masa lalunya mulai menghampiri. Itu adalah ingatan ketika ia masih berada di desanya sebagai salah satu pejuang Thearian. Ia mendapatkan perlakuan buruk dari penduduk desa yang lain sebelum akhirnya ia diusir dari desanya.
“(Ah... Ingatan ini... Dia selalu saja muncul ketika aku merenung...)” Ujar Leo dengan ekspresi datar.
Ingatan itu tidak bisa hilang begitu saja karena semua itu sudah menjadi satu dengan dirinya. Bagaimana pun juga, Leo sudah tidak terlalu memikirkannya.
Setelah ingatan masa lalunya berlalu, ia kemudian dikejutkan dengan munculnya ingatan samar mengenai sebuah kejadian yang belum pernah dilihat olehnya. Ia melihat suasana yang sangat kacau dipenuhi dengan hal-hal yang mengerikan yang terjadi dengan begitu cepat. Ia juga sempat diperlihatkan pemandangan sebuah dunia yang di mana tidak terdapat matahari dan kegelapan merajalela. Tempat bagaikan neraka itu dipenuhi oleh mayat makhluk asing yang bahkan menyatu hingga menjadi tanahnya.
“(T-Tempat macam apa ini...? Dan kenapa bisa ada tempat seperti itu...? Kenapa aku bisa mengingat tempat mengerikan ini...?)” Ujar Leo dengan wajah bingung bercampur panik.
Leo hanya terperanga menyaksikan hal tersebut sesaat sebelum suasana berganti menjadi pemandangan yang dipenuhi oleh cahaya yang menyilaukan mata ketika suara-suara aneh berbisik kepadanya. Leo tidak tahu apa yang dikatakan oleh suara-suara itu, namun bersamaan dengan hal itu Leo merasakan suatu perasaan yang sangat kuat dari dalam dirinya. Perasaan itu adalah amarah yang benar-benar kuat dan mendalam. Reaksi itu adalah bentuk kebencian murni yang berasal dari hati yang paling dalam.
“(Ini... Apa maksudnya semua ini...? Siapa mereka...? Apa yang mereka katakan...? Dan kenapa dadaku terasa seperti terbakar oleh rasa marah dan dendam...?)” Ujar Leo dengan wajah pucat memegangi dadanya kesakitan.
Perasaan marah itu perlahan menyebar layaknya kobaran api yang membakar tubuhnya. Panik dan kesakitan, Leo secara samar-samar dapat mendengar suara teriakan kemarahan seseorang sesaat sebelum akhirnya membuka matanya. Dengan wajah pucat ia bernafas berat mengingat mimpi anehnya ketika ia sadat bahwa dirinya berada di sebuah ruangan yang familiar baginya.
“Tempat ini... Kalau tidak salah ruangan yang ada di ruang perawatan...” Gumam Leo melihat sekelilingnya setengah sadar.
Dengan wajah bingung Leo bertanya-tanya bagaimana ia bisa berada di sana. Ia juga tidak ingat dibawa ke sana yang menandakan bahwa ada peristiwa yang ia lewatkan sebelum tiba ke sini.
“(Jika tidak salah ingat... Aku tengah berada di reruntuhan kuno melawan naga dengan tubuh setengah mesin dan...)” Ujar Leo dalam hatinya berusaha mengingat-ingat.
Begitu ingatannya pulih, rasa penyesalan menghampiri Leo. Ia mengingat bagaimana Gald dan teman-temannya dibunuh oleh naga itu dengan hanya tersisa dirinya dan Lia. Hingga pada akhir pertarungan, Leo terluka parah dan Lia hampir dihabisi olehnya. Ia tidak bisa mengingat apa pun setelahnya.
“Lia... Benar juga! Lia...!” Gumam Leo sebelum ekspresinya berubah menjadi panik.
Tepat ketika Leo hendak bangun dari ranjangnya mencari keberadaan Lia, pintu terbuka bersamaan dengan datangnya seorang wanita misterius berpakaian rapi bersama salah seorang utusan Guild.
“Jangan khawatirkan masalah itu, Leonard Ansgred. Gadismu berada tepat di sebelahmu, namun aku tidak akan mengatakan kalau dia baik-baik saja...” Ujar wanita berpakaian rapi itu menghampirinya dengan sifat kaku.
“Kau... Siapa kau...? Kenapa kau tahu namaku...? Dan apa yang kau maksud barusan...?” Balas Leo dengan wajah curiga.
Wanita itu berdiri di sampingnya dengan tatapan tajamnya sebelum mengulurkan tangannya sambil mencoba mengenalkan diri.
“Perkenalkan, namaku Irene, aku adalah sekretaris walikota. Aku datang ke sini atas permintaan walikota khusus untuk bicara denganmu mengenai masalah yang menimpa daerah tambang kemarin...” Jawab wanita bernama Irene itu mengenalkan diri.
“Walikota...?” Ujar Leo dengan wajah curiga.
“Ya. Seperti yang kau tahu, aktivitas di tambang itu merupakan otoritas pemerintah kota, jadi sudah sewajarnya kami menjadi penanggung jawab atas seluruh hal-hal yang berkaitan dengan tambang itu.” Balas Irene dengan tatapan tajam.
“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan... Yang lebih penting, bagaimana keadaannya! Bagaimana keadaan Lia!” Balas Leo dengan nada mengancam.
“Ya ampun. Padahal aku sudah menjelaskannya... Kurasa kau belum sepenuhnya sadar...” Gumam Irene memalingkan wajahnya sambil menghela nafas panjang.
“U-Uh... Nona Irene, mungkin aku akan mengambil alih mulai dari sini...” Sambung pria berpakaian Guild tersebut.
“Baiklah... Terserah kau saja...” Balas Irene mengibaskan tangannya sambil memalingkan tubuhnya.
Irene memberikan ruang baginya untuk menggantikannya bicara kepada Leo.
“Baiklah, pertama-tama aku ingin mewakili Guild mengucapkan rasa syukur karena kau dan Alicia menjadi satu-satunya regu yang berhasil keluar hidup-hidup dari tambang itu. Meski ledakan misterius melenyapkan seluruh area tambang hingga wilayah di bagian barat kota, setidaknya kami masih memilikimu sebagai saksi mata atas kejadian yang menimpa regu penjelajah dan penyebab ledakan tersebut...” Ujar staf Guild itu dengan senyum ramah.
“.... Ledakan? Apa yang kau maksud? Tambang telah lenyap?” Balas Leo dengan wajah kebingungan.
“Ah. Mungkin ingatanmu masih belum sepenuhnya pulih, aku tidak akan memaksamu untuk mengingatnya untuk saat ini. Tetapi intinya, kami menemukanmu tak jauh dari lokasi kawah setelah ledakan bersama dengan Alicia dengan kondisi terluka parah. Kami tidak menemukan orang lain selain kalian di sana...” Jawab staf Guild menjelaskan kejadian yang Leo lewatkan.
“Begitu ya...” Balas Leo dengan wajah kecewa.
Itu artinya hanya dirinya dan Lia yang berhasil keluar dari dalam sana hidup-hidup. Di satu sisi Leo senang karena Lia ikut selamat bersama dengannya, namun rasa bersalah juga ikut ia rasakan begitu mengingat tentang Gald dan rekan-rekannya. Mereka tewas di tangan naga itu karena perbuatannya. Hal ini jelas membawa dampak yang buruk bagi kondisi perasaan Leo saat ini.
__ADS_1
“Jika kau tidak keberatan, apakah kau bisa menjelaskan apa yang terjadi dalam penjelajahan kalian?” Tanya staf Guild dengan wajah serius.
“....”
“Leonard-san...? Kau baik-baik saja...?” Sambung Staf Guild dengan wajah cemas.
Leo memalingkan wajahnya ketika dia melontarkan pertanyaan kepadanya. Dari reaksinya, kemungkinan besar ada hal yang bersifat mengganggu yang tidak ingin dibicarakan.
“Uh... Tidak masalah jika kau tidak ingin membicarakannya saat ini. Kami tahu kalau mungkin saja terjadi sesuatu yang buruk selama kalian menjelajah di bawah sana. Itu sama saja mengingatkanmu pada mimpi burukmu. Aku tidak akan memaksamu untuk mengatakannya...” Ujar staf Guild mencoba menghiburnya.
“....”
Irene yang kehilangan kesabaran pada akhirnya memaksa Leo untuk bicara.
“Sudah cukup omong kosong ini...! Katakan segera apa yang terjadi kepadamu di bawah tanah sana...!” Ujar Irene menarik kerah baju Leo.
“N-Nona Irene...! Kurasa ini sudah berlebihan...!” Balas staf Guild berusaha menghentikannya.
“Diamlah! Aku sedang bicara dengannya!” Balasnya dengan nada sinis.
“T-Tapi...!” Balas staf Guild bersikeras menghadangnya.
“Hey, kau! Aku tidak punya waktu meladeni permainan anak cengengmu ini! Cepat katakan sesuatu sebelum aku mencabut seluruh biaya perawatanmu!” Ujar Irene dengan nada marah kepada Leo.
Melihat perlakuan Irene yang kasar, Leo pun menanggapinya dengan tatapan dingin sebelum membalikkan posisinya dengan membalas menggenggam tangannya mengancam.
“Diamlah wanita atau kau akan menyaksikan apa yang kusaksikan di bawah sana...” Balas Leo dengan tatapan dingin dan nada sinis.
Irene seketika gemetar ketakutan ketika menatap jauh ke dalam mata Leo. Pandangannya tidak lagi terlihat seperti manusia ketika aura membunuh yang kuat memancar dari matanya hingga tanpa sadar warna mata Leo berubah menjadi warna biru tua yang tajam. Irene melangkah mundur menyaksikan hal tersebut sebelum akhirnya ia mencoba kembali bersikap normal di hadapannya.
“E-Ehm. Baiklah, kau bisa menjelaskannya nanti setelah Ksatria Suci datang ke sini. Aku harus pergi sekarang, masih banyak tugas yang harus diselesaikan.” Balas Irene menggigit lidahnya sebelum akhirnya beranjak pergi.
Irene pergi begitu saja dengan ekspresi gelisah yang berusaha ia sembunyikan. Entah bagaimana menanggapinya, namun gertakan Leo sepertinya cukup berdampak baginya lebih dari yang ia kira.
“(Kurasa aku sedikit berlebihan melakukannya... Semoga saja ini tidak menjadi masalah nantinya...)” Gumam Leo dalam hatinya mengeluh.
Di sisi lain, pria dari Guild itu masih bersama Leo. Ia terlihat sedikit tidak senang dengan perlakuan Irene sebelumnya yang secara tidak sopan memaksa Leo untuk bicara.
“Untuk seorang wanita, dia cukup keras juga... Mungkin karena dia mantan prajurit kerajaan, jadi tolong maafkan sikapnya yang tadi. Dia mungkin sudah diajari cara menginterogasi tahanan...” Ujar staf Guild dengan senyum yang dipaksakan.
“Tidak juga... Aku sudah biasa menerima perlakuan seperti itu...” Balas Leo mengabaikan pandangannya.
“Jika bicara soal itu, sebaiknya aku kembali, Guild pasti sedang sangat sibuk saat ini. Aku akan mengunjungimu lagi nanti, sampai jumpa lagi Leonard-san...” Balasnya berpamitan sebelum akhirnya pergi dari ruangan.
Akhirnya, pria staf Guild itu meninggalkan ruangan, menyisakan Leo sendirian dengan perasaan hampa di hatinya. Di satu sisi, ia telah merelakan kematian Gald dan teman-temannya, namun di sisi lain ia masih memikirkan apa maksud mimpinya sebelumnya. Ia melihat tempat yang mengerikan beserta hal-hal aneh lainnya yang tidak dapat dijelaskan. Bisa jadi itu hanya mimpi aneh yang biasa menyerang seseorang ketika demam, atau mungkin mimpi itu bisa menjadi suatu pertanda. Terlepas dari apa artinya, Leo masih berpikir bagaimana ia bisa melupakan kejadian sebelum ledakan itu terjadi.
“(Percuma saja... Sejauh apa pun aku berusaha mengingatnya, aku tidak bisa mengingat apa pun... Sebenarnya apa yang terjadi sebelum aku pingsan...?)” Ujar Leo dalam hatinya kebingungan.
Selagi memikirkannya, ia teringat tentang Lia. Dalam pembicaraannya sebelumnya, Irene mengatakan bahwa Lia juga dirawat di ruangan yang sama dengannya. Leo melihat pada gorden yang tertutup di samping tempat tidurnya sebelum akhirnya memutuskan untuk memeriksanya.
“....?!”
Namun, tepat ketika Leo melangkah turun dari ranjangnya, ia menyadari bahwa luka yang ada di tubuhnya telah sepenuhnya sembuh. Jika ingatannya benar, maka seharusnya perut Leo berlubang akibat tertusuk cakar besi milik naga itu. Meski ia telah mengalami pengobatan, seharusnya masih terdapat beberapa bekas luka dan sebagainya.
“(Lukaku sembuh sempurna bahkan tanpa meninggalkan bekas sedikit pun... Bagaimana hal ini terjadi...? Apa mungkin dokter yang melakukannya...? Tidak, kurasa tidak mungkin... Sejauh yang aku tahu, sihir penyembuh yang dikuasai manusia hanya bisa mengubah luka parah menjadi luka sedang... Lantas bagaimana mungkin hal ini terjadi...?)” Ujar Leo dalam hatinya bingung bercampur heran.
Sesuai yang Leo katakan, manusia hanya bisa menguasai sihir penyembuh tingkat menengah. Dalam kasus Leo, luka miliknya dikategorikan sebagai luka parah dan bahkan nyaris fatal. Sihir penyembuh tingkat menengah harusnya hanya bisa mengobati sebagian dari luka yang dideritanya. Hanya sihir penyembuh tingkat tinggi yang bisa mengembalikan luka separah itu menjadi keadaan normalnya. Entah bagaimana hal ini bisa terjadi, namun itu bukan masalah yang serius. Yang lebih penting saat ini adalah bagaimana keadaan Lia setelah kejadian itu.
__ADS_1
“(Sekarang bukan saatnya mencemaskan keadaan diriku...!)” Ujar Leo dalam hatinya sambil mencoba meluruskan pikirannya.
Setelah kembali sadar, Leo secara perlahan membuka gorden yang ada di hadapannya. Hatinya mulai cemas ketika ia perlahan melihat sosok yang terbaring di baliknya.
“Lia...” Bisik Leo dengan nada kecewa.
Benar, orang yang terbaring di sana tidak lain dan tidak bukan adalah Lia. Dengan wajahnya yang pucat ia terbaring tidak berdaya ketika Leo perlahan melihat lukanya.
“....”
Begitu membuka selimutnya, Leo melihat sekujur badannya terbalut perban. Lukanya memang terbilang cukup parah, bahkan setelah mendapatkan perawatan intensif, lukanya masih terlihat belum ada perubahan. Ini membuat Leo prihatin sekaligus menyesal karena ia tidak bisa melakukan apa-apa untuknya.
“Lia... Maafkan aku... Jika saja aku lebih kuat, maka kau tidak akan menderita seperti ini...” Bisik Leo dengan wajah kecewa bercampur kesal.
Lia terluka karena salahnya. Itu karena ia masih terlalu lemah untuk bisa melindunginya. Ia telah melanggar janjinya kepada Zille karena telah membuat Lia terluka.
“(Kenapa... Kenapa aku begitu lemah...! Kenapa aku tidak bisa melindunginya...!)” Ujar Leo dalam hatinya marah.
Dengan penuh penyesalan, Leo hanya bisa melihat Lia yang terbaring lemah tanpa mampu berbuat banyak. Ia yang awalnya berniat membelai rambutnya seketika terhenti oleh rasa bersalahnya karena telah membiarkannya kembali terluka sama seperti pertemuan pertama mereka.
“(Ah... Benar, pecundang yang tidak bisa menepati janjinya tidak layak menyentuh seorang gadis mulia sepertinya... Aku bahkan tidak layak berada di sisinya... Tidak setelah apa yang kulakukan padanya...)” Ujar Leo dalam hatinya menyesal.
Leo melihat liontin yang Lia kenakan yang mengingatkannya pada waktu yang telah mereka habisnya sebelumnya. Ia tidak mengira Lia masih mengenakannya.
“(Jadi kau selalu memakainya selama ini... Lagi pula benda itu miliknya, jadi itu haknya... Hanya saja, kenangan tentangku akan tertinggal bersamanya dan mengikatnya... Aku sebenarnya tidak ingin hal itu terjadi padanya, tetapi...)” Sambung Leo dalam hatinya ragu.
Leo melihat ke luar jendela menyadari bahwa hari telah menjelang sore. Ia kembali menatap Lia sebelum akhirnya ia mengambil keputusan.
“Lia, maafkan aku... Waktu yang kita habiskan memang terasa sangat indah bagiku... Untuk pertama kalinya aku merasa bahagia bisa hidup dan bertemu denganmu... Untuk pertama kalinya juga aku merasa kekuranganku menjadi hal yang kusukai... Kau telah memberikan warna bagi duniaku... Tetapi, aku sadar bahwa aku hanya akan membawamu ke dalam masalah jika kita bersama... Untuk itulah, meski kau tidak mendengarku, sebagai ucapan terima kasihku, aku ingin mengucapkan selamat tinggal...” Ujar Leo dengan senyum pahit di wajahnya.
Leo mengambil pakaiannya sebelum akhirnya mengenakannya dan pergi meninggalkan ruangan sambil menatap Lia untuk yang terakhir kalinya.
“Selamat tinggal, Lia... Semoga pertemuan kita selanjutnya menjadi pertemuan pertama kita...” Ujar Leo dengan nada lembut sebelum akhirnya menutup pintu.
Setelah mengucapkan selamat tinggal, Leo pun meninggalkan rumah sakit sebelum akhirnya menuju kota untuk pergi dari kota ini. Dengan mengenakan jubah kusutnya, ia menyelinap di antara orang-orang supaya tidak ada yang mengenalinya. Semua ini ia lakukan demi menghapus jejak kepergiannya. Ia akan meninggalkan semuanya di sini dan kembali menjadi pengelana tanpa nama.
“(Inilah yang terbaik baginya... Semoga dia bisa menemukan kebahagiaannya setelah melalui hal yang berat bersamaku...)” Gumam Leo dalam hatinya melihat kota untuk terakhir kalinya.
Dalam perjalanannya menuju perbatasan utara kota, Leo juga melihat dampak dari ledakan yang dimaksud oleh orang-orang. Beberapa bangunan rusak dan roboh seperti diguncang oleh gempa berkekuatan tinggi. Tidak hanya itu, Leo juga menyaksikan sisa-sisa ledakan yang ada di sisi barat kota yang menelan seluruh area tambang beserta hutan dan perbukitan yang ada di sekitarnya. Tidak ada yang tersisa selain kawah raksasa yang sangat dalam yang diselimuti oleh kegelapan yang mengerikan.
“(Bahkan setelah peristiwa menggemparkan itu terjadi, aku masih tidak bisa mengingat apa pun...)” Ujar Leo dalam hatinya curiga.
Untuk beberapa saat ia berdiri memandangi sisa-sisa puing yang tercipta akibat ledakan misterius itu sambil mencoba mengingat-ingat sesuatu. Pada akhirnya Leo menyerah mengingatnya karena sejauh apa pun ia berusaha mencari tahu, ingatannya tidak menunjukkan adanya keterkaitan dengan kejadian tersebut. Ia pun melanjutkan kembali perjalanannya menuju perbatasan utara kota.
Hingga pada akhirnya, Leo sampai di luar kota sesaat sebelum ia terhenti sejenak melihat kota untuk terakhir kalinya. Entah bagaimana kasus itu berjalan selanjutnya, namun kemungkinan besar mereka akan menanyai Lia sebagai satu-satunya saksi mata yang tersisa menggantikannya. Walau ia merasa tidak enak kepada Lia karena melimpahkan masalah itu kepadanya, namun ia tidak punya pilihan. Jika ia pergi saat Lia sadar, maka Lia akan sekuat tenaga membujuk Leo untuk membawanya. Ia tidak ingin hal itu sampai terjadi, untuk itulah kenapa ia meninggalkan kota secara diam-diam.
“Kurasa inilah akhirnya... Selamat tinggal petualang, selamat tinggal Hillbern dan selamat tinggal Lia...” Gumam Leo sebelum beranjak pergi.
Dengan menutupi kepalanya dengan tudungnya, Leo berjalan pergi. Ia akan meninggalkan semua yang pernah ia miliki di kota ini, termasuk namanya. Hanya kenangannya bersama Lia yang ia bawa bersamanya. Ingatan itu akan menjadi pengingat baginya bahwa dalam dirinya pernah ada harapan bagi seseorang yang berharga baginya sekaligus peringatan agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Begitulah bagaimana Leo pergi untuk menerima nasibnya sebagai manusia terkutuk yang membawa kesialan bagi orang-orang terkasihnya.
“(Berkelana tanpa tujuan... Bermalam di bawah bintang-bintang... Itu bukan hal yang baru bagiku... Setidaknya inilah cara agar aku tidak kembali melukainya...)” Ujar Leo dalam hatinya pasrah.
Namun, tepat ketika Leo melangkah pergi, secara mengejutkan sesosok suara yang dikenalnya memanggilnya dari belakang.
“Leo...!” Seru sosok tersebut.
Leo seketika terhenti menyadari siapa pemilik sosok tersebut sebelum akhirnya ia menoleh untuk memastikannya.
__ADS_1
“Lia...?!”