
Melihat mayat seseorang mengambang di sungai, Leo lantas menghampirinya ketika jasadnya tersangkut pada batang pohon yang kebetulan ada di tepi sungai. Ia mengangkat mayatnya dari air sebelum memeriksanya sendiri.
“Pria ini... Dia seorang petualang. Kelihatannya dia terbunuh oleh seseorang...” Ujar Leo mengamati tubuhnya.
Leo juga menemukan luka yang tidak biasa di tubuhnya. Di tubuh pria malang itu terdapat luka berbentuk lubang sempurna yang menembus tubuhnya. Entah senjata apa yang membuatnya tewas, namun Leo punya firasat bahwa luka ini bukan disebabkan oleh senjata.
“(Sihir...? Atau mungkin monster...? Aku ragu apa yang membuat pria ini terbunuh, tetapi aku rasa itu bisa saja menjadi ancaman bagi kami jika kami meneruskan perjalanan. Aku harus memastikannya sendiri...!)” Ujar Leo dalam hatinya membuat keputusan.
Merasa curiga, Leo memutuskan untuk memeriksa apa yang terjadi di hilir sungai. Namun jika ia melakukan hal itu, maka itu artinya ia akan meninggalkan Lia begitu saja. Ia pun memikirkan ulang keputusannya dan mencari jalan keluar lain.
“....!”
Setelah berpikir sejenak, sebuah ide terlihat di benaknya. Ia pun lantas menghampiri Lia diam-diam sebelum menggendongnya dengan hati-hati supaya tidak membangunkannya. Sambil menggendong Lia, ia melompat ke atas pohon itu sebelum akhirnya kembali membaringkannya pada dahan yang dikiranya cukup kuat dan aman untuk Lia tempati.
“(Kurasa begini... Ini cukup untuk menyembunyikannya...)” Gumam Leo dalam hatinya.
Meski ide ini terbilang cukup aneh dan konyol, namun hanya ini cara yang dapat Leo pikirkan. Namun, dengan cara ini, setidaknya ia bisa meninggalkan Lia sejenak untuk memeriksa apa yang terjadi di hilir sungai tanpa merasa khawatir. Selama Lia dalam posisi yang tenang dia tidak akan terjatuh.
“Aku tidak akan lama, jadi jangan berpikir aku meninggalkanmu, Lia...” Bisik Leo membelainya lembut.
Leo lantas turun dari atas pohon itu sebelum akhirnya ia berlari mengikuti sungai dan meninggalkan Lia. Meski ia sempat ragu untuk meninggalkan Lia sendirian tanpa pengawasan, ia harus melakukan hal ini. Sungai tersebut searah dengan jalur yang akan mereka tempuh. Itu artinya kejadian yang dialami oleh petualang itu bisa saja menimpa mereka. Itulah mengapa Leo memutuskan untuk memeriksanya meski harus meninggalkan Lia dalam pengawasan.
“(Entah kenapa, perasaanku tidak enak mengenai hal ini...)” Ujar Leo dalam hatinya.
Setelah berlari mengikuti sungai, Leo bertemu dengan sekelompok karavan yang terhenti di depannya. Ia juga melihat beberapa orang dengan pakaian mencurigakan tengah berkumpul di tepian sungai bersama beberapa orang lain yang terlihat ketakutan. Menyadari hal itu, Leo lantas menurunkan kecepatannya sebelum akhirnya menghampiri sebuah batu besar yang berada tak jauh dari sana. Ia pun bersembunyi di baliknya sebelum ia mulai mengamati keadaan.
“T-Tolong lepaskan aku...! Aku mohon kepada kalian...!” Ujar salah seorang petualang wanita yang terikat putus asa.
“Dan apa? Apa yang akan kau lakukan jika kami melepaskanmu?” Balas seorang pria berusaha merabanya.
“T-Tidak...! Tolong jangan lakukan itu...!” Balasnya ketakutan.
“Lepaskan tangan kotormu dari temanku...!” Seru wanita petualang kedua mengayunkan tendangan ke arahnya mencoba melindungi temannya.
“Arghh...!”
Wanita kedua menendang pria itu tepat di wajahnya hingga membuatnya tersungkur di tanah. Berkat tendangan keras itu pula, hidung pria itu patah dan mengeluarkan darah sebelum ia bangkit kembali dengan penuh amarah.
“Keparat...! Beraninya kau ******...!” Seru pria itu membalas perbuatannya.
Pria itu mulai menganiaya wanita itu tepat di hadapan temannya. Tanpa perasaan, pria itu menendang dan menginjak wajahnya ketika temannya yang menyaksikannya hanya bisa terdiam ketakutan. Ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya.
“Makan ini sialan...! Beraninya kau mematahkan hidungku...!” Ujar pria itu menganiaya petualang wanita itu dengan marah.
Leo yang menyaksikan semua itu tidak bisa tinggal diam begitu saja. Namun, ia juga tidak bisa muncul dan menghabisi mereka begitu saja. Ia bukanlah pahlawan kesiangan yang akan dapat mengalahkan mereka semua dengan mudah. Bagaimana pun juga Leo adalah manusia biasa, ditambah dengan tanpa senjata maupun Skill, mengalahkan mereka bukanlah perkara mudah.
“(Sial...! Jika saja aku punya senjata... Mungkin aku bisa melakukan sesuatu...)” Ujar Leo dalam hatinya kesal.
Ia mengingat jasad petualang yang ia temukan di sungai sebelumnya. Dia tewas oleh serangan yang sangat kuat yang dapat melubangi tubuhnya. Berdasarkan hal itu, Leo memperkirakan ada salah seorang dari perampok itu yang memiliki kemampuan atau Skill yang kuat. Itulah sebabnya ia tidak bisa muncul dan menyerang mereka secara gegabah. Untuk saat ini, Leo hanya bisa mengawasi keadaan mereka sambil menunggu kesempatan untuk bergerak.
Bersamaan dengan hal itu, salah seorang temannya datang setelah melihat apa yang pria itu lakukan kepada petualang wanita tersebut. Ia pun langsung menghentikannya dengan menghentikan tinju yang hendak dilancarkannya pada wanita malang itu.
“Oi! Hentikan itu! Jangan menyakiti dia!” Ujarnya kepada pria itu.
“Hah! Lepaskan aku! Dia berhutang karena telah mematahkan hidungku, lihat!” Balas pria itu marah sambil menunjukkan hidungnya yang patah.
“Tapi kau merusaknya! Lihat apa yang kau lakukan padanya!” Balas pria kedua membantahnya.
“Berisik...! Aku akan tetap memukulinya sampai dia mendapat apa yang pantas...!” Balas pria pertama meronta mencoba kembali memukulinya.
“Oi..! Hentikan itu...! Jika bos tahu dia pasti akan—“ Balas pria kedua kembali mencoba menghentikannya sebelum terpotong.
“Apa...? Aku akan apa...?” Sambung suara misterius.
Mereka berdua seketika terdiam begitu mendengar suara asing itu. Ekspresi mereka seketika berubah ketakutan ketika sesosok pria berotot datang dari balik kereta kuda menghampiri mereka.
“Aku akan apa...? Jawab pertanyaanku...!” Ujar pria dengan tato di wajahnya menggertak.
“B-Bos...!” Balas pria kedua menoleh ketakutan.
__ADS_1
“Apa yang kalian berdua lakukan...? Kalian benar-benar berisik dari tadi... Apa yang sebenarnya kalian lakukan, huh...?” Balas pria besar itu dengan wajah sinis.
Pria besar itu melihat petualang wanita itu babak belur bersimbah darah sebelum ia terlihat marah.
“Oi...! Katakan siapa dari kalian yang menghajarnya...!” Ujar pria besar itu mengepalkan tinjunya marah.
“B-Bukan aku bos...! D-Dia yang melakukannya...!” Balas pria kedua menunjuk temannya.
“A-A-Aku...?!” Balas pria pertama terkejut.
“Kau...! Kau yang melakukannya kepadanya...?” Tanya pria besar itu melihat ke arahnya marah.
“T-T-Tunggu dulu bos...! A-A-Aku bisa menjelaskannya...!” Balas pria pertama ketakutan berusaha menenangkannya.
Pria bertubuh kekar itu sama sekali tidak mendengarkan ucapannya. Dan anehnya, ketika Leo melihat pria besar itu mengepalkan tangannya, ia merasa seperti melihat angin berkumpul di sekitar tangannya. Entah bagaimana, namun sepertinya Leo merasa ada yang aneh dengan penglihatannya.
“(Apa ini...? Ada apa dengan mataku...? Apa yang aku lihat itu...? Apa aku tidak salah lihat...? Aku seperti bisa melihat udara berkumpul di sekitar tangan pria itu...)” Ujar Leo dalam hatinya kebingungan sambil mengusap matanya.
Ketika mengusap matanya, tanpa sadar pupil mata Leo berubah menyala dengan warna menjadi biru tua sama seperti ketika ia mengancam Irene di rumah sakit. Entah bagaimana menjelaskannya, namun Leo yang kebingungan tidak menyadari bahwa ada yang berubah dari dirinya.
Dengan aura mencekam keluar dari tubuhnya, pria besar itu menghampiri pria pertama yang ketakutan sebelum kembali bicara kepadanya.
“Kau tahu apa yang membuat wanita bernilai...?” Tanya pria besar itu kepadanya.
“U-U-Uh... H-Hartanya...? A-Atau mungkin garis keturunannya...?” Balas pria itu gugup ketakutan.
“Aku beritahu kau... Yang membuat nilai jual wanita tinggi adalah tubuhnya. Dan wajahnya juga merupakan bagian dari tubuhnya...!” Balas pria besar itu memberikan jawaban.
Pada saat yang sama, pria besar itu mengayunkan pukulannya tepat ke arah wajahnya. Dan tepat setelah menerima pukulan itu, wajah dan kepala pria itu hancur berkeping-keping berhamburan ke segala arah menghujani kedua petualang yang ada di dekat mereka. Sontak petualang wanita yang menyaksikan hal itu membeku dalam ketakutan hingga membuatnya mengompol di celananya. Pria yang merupakan rekannya pun juga ikut ketakutan menyaksikan pria besar itu membunuhnya hanya dengan tinjunya.
“Hiiiiii...!!!”
Pria besar itu mengibaskan tangannya sebelum meludah pada mayat anak buahnya yang baru saja ia bunuh sambil berkata.
“Tch. Dasar sampah. Sekarang aku kehilangan satu barang yang susah payah kutangkap dengan baik. Semua berkat si payah ini!” Ujar pria besar itu dengan nada kesal.
“Kalau sudah rusak, maka...” Balasnya berjalan menghampiri wanita itu.
Pria besar itu perlahan mengepalkan tangannya ketika udara mulai kembali berkumpul di sekitar lengannya. Dan tepat seperti yang diduga, pria besar itu menghantam wanita yang babak belur itu dengan tinjunya yang mematikan. Pukulannya sangat kuat hingga menyebabkan tanah di sekitarnya amblas dan menimbulkan hempasan yang besar hingga melempar mereka berdua yang ada di dekatnya. Kereta kuda pun ikut berguncang akibat hempasan udaranya sebelum akhirnya darah menghujani mereka.
“Humph. Sayang sekali, padahal aku ingin mencoba yang satu itu sebelum nantinya kujual. Tapi, aku tidak menerima barang yang rusak...” Gumam pria besar itu membersihkan darah yang menempel di tangannya.
Bersamaan dengan hujan darah itu, Leo menyaksikan sisa-sisa tubuh wanita malang itu dalam keadaan yang mengenaskan. Tubuhnya nyaris tidak bersisa setelah menerima pukulan itu, membuat Leo semakin yakin bahwa dialah orang yang membunuh petualang yang tewas hanyut itu.
“(Kekuatan yang mengerikan...! Tidak salah lagi dia yang membunuh petualang itu...! Dia harus diwaspadai...!)” Ujar Leo dalam hatinya yakin.
Jika harus berhadapan dengan pria itu dengan tangan kosong, Leo ragu bisa mengalahkannya. Sebisa mungkin, ia tidak ingin berhadapan langsung dengannya.
Tepat setelah menghabisi salah seorang petualang wanita itu, pria besar itu memanggil anak buahnya yang lain untuk membereskan sisanya.
“Oi, kalian...! Ambil barang-barang yang tersisa! Kita pergi dari sini setelahnya!” Seru pria besar itu kepada anak buahnya.
“Baik, bos!” Balas mereka bersamaan.
“Kurasa aku tidak ikut membunuh petualang wanita itu. Dia cukup menarik, jadi cari dan bawa dia tanpa melukainya.” Sambungnya memberi perintah lain.
“Baik!” Balas mereka bersamaan.
Pria besar itu meninggalkan mereka untuk mengurus sisanya ketika Leo secara tidak sengaja menemukan wanita petualang yang masih bertahan tergeletak tak jauh dari tempatnya bersembunyi. Sepertinya, wanita itu terhempas sampai ke tempatnya ketika pria itu membunuh rekannya. Dia tidak sadarkan diri akibat terlempar sejauh beberapa puluh meter dari tempatnya semula.
“(Ini adalah kesempatanku...!)” Ujar Leo dalam hatinya dengan tekad bulat.
Memanfaatkan keadaan itu, Leo pun berusaha meraihnya untuk menyelamatkannya. Perlahan ia menarik tubuhnya yang tidak berdaya ketika kedua anak buah pria itu tengah mencarinya.
“Ke mana wanita itu terlempar...? Sepertinya bos sedikit berlebihan...” Ujar salah seorang anak buah.
“Kau tahu sendiri bagaimana perilaku bos. Dia tidak suka merampok barang yang telah rusak. Dan kau tahu sendiri bagaimana jadinya jika dia menemukannya...” Balas anak buah lain kepada temannya.
“Yah. Sebaiknya kita cari dia sebelum bos marah. Kita bisa menikmati tubuhnya setelah giliran bos kau tahu?” Balas anak buah pertama dengan senyum bejat di wajahnya.
__ADS_1
“Haha... Kau benar juga...” Balas anak buah kedua tertawa.
Di sisi lain, Leo yang berhasil menyelamatkan wanita yang pingsan itu akhirnya bisa sedikit bernafas lega. Ia berhasil membawanya ke tempatnya bersembunyi tanpa diketahui oleh mereka berdua. Dan sisanya, ia hanya harus membawanya menjauh tanpa diketahui.
“Mhn...?”
“....?”
Tak berselang setelah Leo menyeretnya ke tempatnya, wanita itu kembali sadar. Dengan wajah kebingungan ia melihat Leo sebelum akhirnya ia menyadari apa yang terjadi.
“K-Kau... Sejak kapan kau ada di sini...!” Bisik wanita itu sebelum berteriak panik.
“Shhh...!” Balas Leo dengan telunjuk di bibirnya.
“T-Tolong... Tolong selamatkan aku dari pencuri gila itu...! Aku mohon tolong selamatkan aku...!” Balas wanita itu berseru dengan wajah ketakutan.
“...!”
Teriakan wanita itu membuat kedua perampok itu menyadari keberadaannya. Leo lantas membuatnya bungkam, namun sayangnya ia sudah terlambat karena kedua perampok itu telah menemukannya.
“Kau...! Siapa kau...! Apa yang kau lakukan dengan jarahan kami...!” Seru salah seorang perampok itu menodongkan senjatanya.
“Kau berusaha mencurinya, huh...!” Sambung perampok yang lain mengeluarkan senjatanya.
Karena telah terlanjur ketahuan, Leo pun memutuskan untuk melawan mereka. Ia melompat mundur ketika mereka berdua berniat menebas dan menikamnya sesaat sebelum ia memanfaatkan momentum itu untuk melesat maju menerkam mereka berdua sekaligus. Ia mencengkram leher mereka berdua sebelum ia menghantamkan kepala mereka ke tanah sekuat tenaga hingga membuat tanah di sekitar mereka seketika retak dan amblas menyebabkan mereka berdua seketika tewas.
“....?!”
“K-Kuat sekali....!” Ujar wanita itu terkesima.
Wanita petualang yang menyaksikan hal tersebut terperanga menyadari kekuatan yang dimiliki oleh Leo. Ia mampu membunuh kedua perampok itu hanya dalam satu gerakan mematikan. Meski bagi Leo sendiri ini baru pertama kalo baginya menggunakan tehnik bela diri Thearian pada manusia.
“(Sepertinya aku berlebihan... Aku tidak mengira aku akan membunuh mereka berdua... Sekarang aku sadar kenapa ayah melarangku menggunakan tehnik ini kepada manusia luar...)” Ujar Leo dalam hatinya gelisah.
Bagaimana pun itu, Leo setidaknya berhasil menyingkirkan mereka berdua. Namun, karena teriakan mereka sebelumnya, teman-teman perampoknya kini melihat kehadiran Leo. Mereka pun lantas bergegas mengejarnya ketika Leo memberi perintah kepada wanita itu untuk pergi sebelum keadaan memburuk.
“Ada pencuri...! Oi...! Keparat, apa yang kau lakukan di sana...!” Seru salah seorang perampok melihat Leo.
“Jangan biarkan dia pergi...! Kejar dia...!” Seru yang lain mengejar.
“Pergilah dari sini...! Carilah bantuan secepatnya...!” Ujar Leo kepada wanita itu dengan nada tinggi.
“E-Eh...?! Bagaimana denganmu...?” Balas wanita itu dengan wajah cemas.
“Cepat pergi...!” Balas Leo berteriak kepadanya.
Leo mengambil kedua belati yang ditinggalkan kedua perampok itu sebelumnya untuk mempersenjatai diri guna mengulur waktu bagi wanita itu untuk melarikan diri. Melihat kelompok perampok itu mulai mendekat, wanita itu lantas mengerahkan seluruh kekuatannya untuk berlari. Dengan berat hati ia terpaksa meninggalkan Leo demi mencari bantuan yang bisa ia temukan sebelum perampok itu membunuhnya.
“(Maafkan aku orang asing...! Tapi, aku tidak yakin akan sempat menolongmu...! Mereka bukan hanya sekedar perampok biasa...! Semoga saja aku bisa menemukan bantuan sebelum semuanya terlambat...!)” Ujar wanita itu dalam hatinya menoleh ke arah Leo ketika ia berlari pergi darinya.
Melihat wanita itu berniat melarikan diri, beberapa perampok pun berusaha mengejarnya. Namun, sebelum mereka bisa melakukannya, Leo menghentikan niat mereka dengan melemparkan kedua belati di tangannya pada mereka yang berusaha mengejarnya. Seketika itu pula kedua belati itu menancap di kepala mereka dan membuat mereka seketika tewas sesaat sebelum Leo dikepung oleh perampok yang lain.
“Tch. Aku sepertinya terlibat lebih jauh dari yang kukira di awal...” Gumam Leo dengan perasaan kesal.
Dengan tatapan marah, mereka mulai mengacungkan senjata mereka ke arahnya disertai dengan ancaman mereka.
“Keparat...! Beraninya kau mencuri dari kami...!” Ujar salah seorang perampok dengan wajah marah.
“Kita habisi saja dia lalu kita potongan tubuhnya ke sungai...!” Sambung yang lain menggertak.
“Tunggu saja sampai aku menaruh lempengan besi di dalam mayatmu...!” Ujar yang lain ikut menggertak.
Mereka mengepung Leo dalam sebuah lingkaran. Keadaan itu diperburuk dengan munculnya pria besar yang sebelumnya membunuh rekan petualang yang kabur itu. Ia datang setelah mendengar kerusuhan di antara anak buahnya.
“Wah. Wah. Wah. Apa yang kita dapatkan di sini, anjing pencuri, huh? Kau cukup punya nyali juga mencuri dati seorang perampok sepertiku.” Ujar pria besar itu dengan nada angkuh.
“....”
Leo yang secara tidak sengaja terseret dalam masalah ini kini harus terpaksa menghadapi mereka semua sendirian. Tanpa senjata maupun Skill yang bisa membantunya, ini adalah keadaan terburuk bagi Leo ketika ia dipaksa melawan belasan perampok bersenjata lengkap dan seorang pemegang Skill. Tidak salah lagi bahwa Leo sudah terpojok.
__ADS_1