
Setelah meninggalkan rumah sakit, Leo dan Lia memutuskan untuk pergi menuju Guild petualang guna memastikan bahwa pekerjaan mereka telah selesai. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Leo masih murung bahkan setelah mereka meninggalkan rumah sakit. Ajakan Gald dan teman-temannya pasti membuat hatinya bimbang dan gelisah, namun ia berusaha menyembunyikannya dari Lia dengan bersikap seolah semuanya telah berlalu. Walau begitu, tetap saja tidak semua hal dapat ia sembunyikan selamanya.
“(Leo... Kenapa dia tidak langsung menolak ajakan mereka? Apa yang sebenarnya kau pikirkan...?)” Ujar Lia dalam hatinya cemas melihat keadaan Leo.
Pengalaman buruk tidak bisa langsung hilang begitu saja, namun yang menjadi pertanyaan adalah kenapa Leo memberikan jawaban yang abu-abu kepada mereka. Bukannya langsung menolak dengan tegas, ia justru memberikan kata-kata harapan kepada mereka. Entah apa yang dia pikirkan, tetapi Lia bisa merasakan bahwa saat ini Leo tengah mengalami apa yang sebelumnya ia pernah rasakan. Yang perlu ia lakukan adalah membuatnya bicara sebelum ia terseret lebih jauh dalam kebimbangannya.
“(Aku tidak sanggup lagi melihatnya menderita lebih lama... Aku akan mencoba bicara dengannya dan semoga saja kali ini aku bisa membuka hatinya...)” Sambung Lia dalam hatinya meneguhkan tekadnya.
Setelah mereka kembali ke penginapan, Lia akan mencoba bicara dengan Leo mengenai masalah yang membebani hatinya. Ia mungkin akan mencoba mengalihkan pembicaraan sama seperti biasanya, tetapi kali ini Lia pasti akan membuatnya bicara. Walau hanya sedikit, kali ini Lia pasti akan membuatnya mengungkapkan isi hatinya.
Sesampainya di Guild petualang, Leo menyerahkan bulu dan taring milik Silver Moon Wolf yang sebelumnya mereka kalahkan kepada resepsionis untuk menukarnya dengan sejumlah uang seperti yang tertulis dalam permintaan. Ini menjadi misi tingkat menengah pertama yang berhasil ia selesaikan setelah mengalahkan Elder Troll itu.
“Mengesankan, kalian bisa menemukannya sekaligus mengalahkannya hanya dengan satu hari kerja... Seperti yang bisa diharapkan dari sang pendekar putih pengelana dan sang gadis pedang merah...” Ujar gadis resepsionis itu memuji mereka dengan senyum gembira.
“U-Uh... Kami hanya sedang beruntung saja... Dan tolong jangan panggil kami dengan sebutan itu...” Balas Leo tersenyum canggung sambil menggaruk pipinya.
“Tidak masalah, bukan? Setiap petualang ingin mendapatkan gelar agar kelak kisah mereka bisa dikenang sebagai salah satu dari legenda.” Balas gadis resepsionis mendekat ke meja sambil menyangga pipinya dengan tangannya.
“R-Rasanya agak berlebihan mendengarnya... Memberikan julukan kepada petualang pemula seperti kami itu rasanya agak...” Balas Leo mencoba menyangkal.
“Fufu... Bukankah itu artinya ada banyak orang yang mengakui kalian?” Balasnya tertawa kecil sambil menutupi bibirnya.
“A-Ahahaha...”
Leo sedikit ragu akan hal itu. Walau ia memutuskan menjadi petualang, ia tidak pernah berpikir untuk diakui. Awalnya ia hanya mengikuti saran Lia karena terpaksa, tetapi pada akhirnya ia terlanjur melakukannya. Ia hanya ingin menepati janjinya dan memulangkan Lia kembali dengan selamat.
Gadis resepsionis itu pun mengambil barang jarahan yang Leo berikan kepadanya sebelum akhirnya menukarkannya dengan sejumlah uang sama seperti yang telah dijanjikan.
“Ini dia upah kalian, 50 koin perak sebagai imbalan dari permintaan dan 10 koin perak karena membawakan taring dan bulunya. Jika ragu, kalian boleh menghitungnya terlebih dahulu...” Ujar gadis resepsionis memberikan uangnya.
“Y-Ya. Kami menerimanya.” Balas Leo setelah memastikan jumlahnya.
“Terima kasih atas kerja keras kalian...” Balas gadis resepsionis tersenyum ramah.
“Ya. Sama-sama.” Balas Leo menyimpan uangnya dan beranjak pergi.
“Ah, sebelum kalian pergi, bolehkah saya bertanya sesuatu kepada kalian...?” Ujar gadis resepsionis menghentikannya ketika teringat sesuatu.
Leo menghentikan langkahnya begitu resepsionis itu hendak berlari mengejarnya.
“Apa ada sesuatu?” Tanya Leo berbalik melihatnya.
“Mengenai itu... Kami sudah dengar kalau tambang ditutup sementara akibat dampak dari gempa kemarin. Informan kami sedang menyelidikinya, tetapi kalau boleh tahu, apa yang sebenarnya kalian temukan di bawah sana? Apa kalian tidak keberatan memberitahukannya?” Balas resepsionis itu bertanya kepadanya.
“.....”
“Eh...? Apa ada masalah...?” Ujar resepsionis itu dengan wajah bingung.
Saat Leo berusaha mengatakannya, tangan Lia meraihnya sebelum ia menggelengkan kepalanya pelan sebagai isyarat kepadanya untuk tidak mengatakannya. Sepertinya Lia tidak berniat memberitahunya tentang semua kejadian di dalam tambang kepadanya dengan beberapa alasan. Mungkin salah satunya adalah untuk mencegah kepanikan. Jika Guild dan para penduduk kota tahu bahwa selama ini mereka tinggal di atas peninggalan kuno yang bisa menghancurkan sebuah peradaban, mereka semua pasti akan panik dan ketakutan.
“Kalau masalah itu... Kami masih dalam penyelidikan. Berhubung petunjuk yang kami cari masih terkubur di sana, kami masih belum bisa mengatakannya. Memberikan informasi palsu itu bisa merusak reputasi petualang, bukan?” Ujar Leo bersilat lidah dengan senyum masam.
“B-Begitu ya. Sayang sekali kalau begitu. Sepertinya kami harus menunggu sampai tambang selesai dibersihkan...” Balas resepsionis itu dengan senyum kecewa.
“Kalau begitu, kami permisi dulu...” Balas Leo berpamitan.
“E-Eh..? Y-Ya... Maaf karena telah menyita waktu kalian...” Balas resepsionis itu sebelum membungkuk meminta maaf.
“Tidak apa-apa. Kalau begitu, sampai nanti...” Ujar Leo beranjak pergi.
“Y-Ya. Sampai bertemu lagi...” Balas resepsionis itu mengangkat kepalanya melihat kepergian mereka.
Mereka berdua pun akhirnya meninggalkan Guild setelah berhasil mengelabuinya. Meski Leo tidak yakin sampai kapan cara ini akan bertahan, tetapi setidaknya itu akan cukup sampai pekerjaan mereka di sini selesai.
Waktu mulai menunjukkan bahwa hari telah sore, Leo dan Lia memutuskan kembali ke penginapan setelah hari yang panjang itu berlalu. Banyak hal yang terjadi hanya dalam satu hari, sudah saatnya bagi mereka untuk menutup hari dengan beristirahat dari hari yang melelahkan. Beruntung, penginapan yang mereka tempati menyediakan makan malam sekaligus pemandian umum yang bisa mereka gunakan untuk melepas lelah setelah seharian beraktivitas.
“Kurasa aku ingin mandi terlebih dahulu sebelum makan malam...” Gumam Leo merenung sejenak.
“....?”
“Jadi, Lia, kurasa kita berpisah di sini. Sampai nanti di ruang makan...” Ujar Leo beranjak pergi meninggalkan Lia.
“....!”
Tepat sebelum Leo meninggalkannya, Lia menarik lengan bajunya menghentikannya.
“Hm...? Ada apa, Lia?” Tanya Leo menoleh ke arahnya.
“....”
“Uh... Lia...?” Sambung Leo dengan wajah bingung.
Lia berniat bicara dengannya serius dengannya, namun entah kenapa saat ia hendak mengatakannya, itu menjadi hal yang sangat sulit untuk dilakukan.
__ADS_1
“(Kenapa aku ragu...? Harusnya aku bicara dengannya...!)” Ujar Lia dalam hatinya kesal.
Leo yang semakin bingung dengan tingkah Lia memutuskan untuk membiarkannya. Ia pun melepaskan tangannya dari lengan bajunya dan berkata kepadanya.
“Jika kau tidak bisa mengatakannya sekarang, sebaiknya kita bicarakan ini saat makan malam saja...” Ujar Leo sambil membelai rambutnya.
“Eh...?”
“Kau seperti anak kucing yang ditinggal induknya saja. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, jadi tenang saja...” Sambung Leo tersenyum hangat untuk menghiburnya.
“...”
Setelah melepaskan tangannya, Leo pun berpisah dengannya. Pada akhirnya, Lia tidak mampu mengatakannya, setidaknya untuk saat ini. Ia masih belum menyerah begitu saja. Masih ada banyak waktu, ia hanya perlu melakukannya pada saat yang tepat.
“(Masih belum... Sekarang bukan saatnya...)” Ujar Lia dalam hatinya menguatkan diri.
Setelah itu, mereka kembali bertemu di meja makan. Namun, Lia tidak berniat membicarakan masalah itu di sana. Ia berpura-pura semuanya baik-baik saja sambil mengamati suasana hati Leo untuk menunggu kesempatan baginya untuk bicara dengannya. Hingga pada akhirnya, tiba ketika waktu ketika mereka memutuskan untuk kembali ke kamar, itulah saat yang telah Lia tunggu-tunggu.
“Selamat malam, Lia. Terima kasih karena kau selalu menemaniku seharian ini...” Ujar Leo sebelum beranjak menuju ranjangnya.
“... Leo, tunggu sebentar. Bisakah kita bicara sejenak?” Balas Lia berjalan menghampirinya.
“Hm? Tidak biasanya... Tetapi, tidak masalah. Silahkan saja...” Balas Leo duduk di tepi ranjangnya.
Lia menguatkan hatinya sebelum ia memutuskan untuk bicara langsung dengannya.
“... Bisa kau jelaskan semuanya kepadaku?” Tanya Lia dengan wajah serius.
“Tunggu Lia, apa maksudmu...? Menjelaskan tentang apa...?” Balas Leo dengan wajah bingung.
“Alasan perjalananmu setelah bertemu denganku... Alasan mengapa kau menyembunyikan sesuatu dariku... Bahkan tentang dirimu... Semuanya...” Balas Lia berdiri tepat di hadapan Leo.
“.... Lia? Maaf, tapi aku masih belum mengerti apa maksudmu...” Balas Leo membuang pandangannya dengan wajah kecewa.
“Aku sudah mendengarnya... Semua tentangmu dari Roff... Dia sudah membaca pikiranmu dengan Skill miliknya...”
Leo terlihat terkejut sesaat, namun hal itu justru membuatnya semakin tidak ingin berbicara dengannya. Pada titik ini, Lia tahu pembicaraan ini mungkin akan membuat Leo kembali mengingat pengalaman buruknya, tetapi ia sudah sampai sejauh ini. Ia tidak bisa menariknya lagi.
“Seperti saat kita baru memasuki pertambangan, pertanyaanku masih sama... Apakah aku hanya beban yang harus kau tanggung sebagai akibat perbuatanmu...?” Sambung Lia sambil meraih dan menggenggam kedua tangan Leo di dadanya.
“.....”
“Aku memang belum sepenuhnya mengenalmu, tetapi... Kenapa kau seperti seolah menjauh dariku...? Leo, kenapa kau selalu memasang wajah itu...? Kenapa kau selalu membohongiku...?” Ujar Lia dengan mata berkaca-kaca.
“....”
“Aku akhirnya menyadarinya... Saat kau tersenyum, kau juga menahan sakit di dalam hatimu... Saat melihatnya, aku tidak sanggup menahannya... Kau selalu saja menyakiti dirimu sendiri...”
“.....”
“Leo, tolong jawab... Aku memang tidak mengerti apa yang kau rasakan, tetapi setidaknya beritahu aku apa yang sebenarnya kau rasakan... Aku tidak ingin kau menyimpan itu semua sendirian... Aku tidak ingin melihatmu hancur... Aku tidak ingin melihatnya lagi... Aku tidak ingin melihat orang-orang yang berharga bagiku hancur lagi... Aku tidak ingin melihatnya...!”
Air mata mulai membasahi pipi Lia sebelum akhirnya menetes ke tangan Leo. Ia tahu kalau Lia sangat mencemaskannya, tetapi hatinya masih ragu untuk bicara. Ia masih belum memiliki cukup keberanian untuk mengungkapkan kebenaran kepadanya.
“(Lia... Maafkan aku... Tapi... Aku tidak bisa... Aku tidak bisa mengatakannya...!)” Ujar Leo dalam hatinya kecewa.
Langit malam yang berawan mulai menunjukkan tanda perubahan ketika angin meniup awan-awan itu, mengusirnya menjauh saat cahaya rembulan perlahan muncul menggantikannya. Pada saat yang sama, Lia meraih Leo dengan kedua tangannya sebelum ia mengungkapkan isi hatinya kepadanya.
“Saat aku berpikir aku telah kehilangan semuanya setelah kematian Zille, kau datang sebagai cahaya yang menerangi hidupku... Kau satu-satunya harapan bagiku setelah dunia yang kukenal membuangku... Kau telah menyelamatkanku dari jurang kegelapan itu... Maka dari itu, aku tidak ingin melihatmu terus menderita seperti ini...” Ujar Lia menangis di hadapannya.
Melihat tangisan Lia membuatnya sadar bahwa apa yang selama ini ia lakukan salah. Selama ini Leo hanya terus membohonginya dan terus membohonginya hingga sampai melupakan janjinya kepada Zille. Ia padahal telah berjanji kepadanya untuk menjaga Lia, namun kenyataannya ia hanya membuatnya sedih dengan terus-terusan ia bohongi.
“(Maafkan aku Lia karena aku selalu membohongimu... Tetapi sekarang, aku sudah memutuskannya...)” Ujar Leo dalam hatinya dengan tekad bulat.
Dengan menggenggam tekadnya, Leo mengusap air mata di pipi Lia sebelum ia bicara dengannya.
“... Begitu ya. Aku sudah mengerti sekarang... Maaf telah membuatmu menangis Lia...” Ujar Leo dengan nada lembut sambil menyeka pipinya.
“... Leo?” Balas Lia dengan wajah bingung.
Leo bangun dari tempatnya berjalan ke dekat jendela melihat pada bulan yang belum sepenuhnya purnama itu sebelum ia menguatkan hatinya untuk mengatakan seluruh rahasia yang ia pendam.
“Malam ini mengingatkanku pada saat-saat itu... Ketika bulan mulai menjelang purnama, banyak monster agresif yang akan berkeliaran dan menyerang desa... Maka dari itu, setiap malam-malam seperti ini, aku terbiasa terjaga sampai fajar...” Ujar Leo menatap ke luar jendela dengan senyum masam di wajahnya.
“.....??”
“Di sebuah tempat di ujung selatan benua ini... Tepatnya di Valley of Tombs, di sanalah desaku berada... Tempat yang sangat mengerikan yang dipenuhi dengan monster dan makhluk ganas lainnya, tempat itulah yang menjadi tempat tinggal kami, bangsa yang disebut sebagai Thearian sang pemburu monster... Di sanalah aku lahir dan dibesarkan...” Sambung Leo melanjutkan kisahnya.
“Valley of Tombs...?” Gumam Lia dengan wajah terkejut.
“Itu benar, aku adalah seorang Thearian... Meski penampilanku tidak seperti mereka, itu semua mungkin karena rambut ini... Kami memiliki ciri fisik rambut berwarna abu-abu dengan mata berwarna keperakan... Itulah yang membedakan kami dari semua ras yang ada di benua ini... Kami terlahir sebagai pemburu dan tewas sebagai pemburu... Itulah prinsip yang kami pegang selama hidup kami... Yang kuat akan terus hidup dan yang lemah akan selalu diinjak...” Ujar Leo berbalik menatap Lia dengan mata tajam.
“....”
__ADS_1
Meski ia gemetar, Leo tetap melanjutkan kisahnya kepada Lia dengan berpegang teguh pada keyakinannya. Ia sudah menyiapkan hatinya untuk mengatakan kebenaran kepadanya.
“Lia, kau juga pasti tahu bagaimana manusia dibedakan di dalam masyarakat... Aku yakin aku tidak perlu memberitahumu lagi apa yang aku maksud...” Sambung Leo memalingkan wajahnya sesaat sambil menghela nafas.
“Setelah mendapat berkah dari para dewa, manusia digolongkan menjadi dua kelompok... Pembawa berkah dan pemegang berkah...” Balas Lia menjawab pertanyaan tersirat Leo.
Tepat seperti yang Lia katakan, di dunia ini manusia dikelompokkan menjadi dua golongan. Pertama, mereka yang disebut pemegang berkah. Mereka adalah orang yang terlahir dengan berkah itu sendiri, atau dalam hal ini disebut sebagai Skill. Kedua, mereka yang disebut sebagai pembawa berkah, adalah orang-orang yang tidak terlahir membawa Skill. Mereka tidak langsung mendapatkannya, tetapi harus melalui proses dalam hidup mereka hingga akhirnya berkah itu bangkit dari dalam diri mereka. Namun, tidak semua pembawa berkah mampu membangkitkan Skill mereka dan akhirnya hanya bertahan sebagai penerima berkah. Setidaknya, itulah yang orang-orang ketahui. Tetapi sebenarnya masih ada satu lagi kelompok orang yang tidak diketahui oleh siapa pun.
“Itu benar, itulah alasanku di usir dari desaku...” Balas Leo kembali menatapnya dengan wajah kecewa.
“Eh...? T-Tunggu dulu... Apa itu mungkin...” Balas Lia terkejut begitu menyadari maksud Leo.
“Ya, kau tidak salah lagi. Aku tidak termasuk dalam kedua golongan tersebut...” Balas Leo dengan wajah serius sambil menahan rasa kecewanya.
“.....!”
“Benar, alasan karena aku diusir dari desaku adalah karena aku adalah satu-satunya manusia yang tidak menerima berkah dewa... Aku adalah sang manusia terkutuk... Itulah diriku...” Sambung Leo mengangkat suaranya dengan hati kecewa.
Lia hanya terdiam membisu setelah mendengar pernyataan Leo mengenai dirinya. Bagaimana pun juga, Leo sudah menduga hal ini sebelumnya. Itu adalah reaksi yang sama ketika orang-orang mengetahui rahasia yang selama ini ia sembunyikan. Ia sudah siap menerima konsekuensinya.
“Sekarang kau mengerti ... Aku hanya orang yang terbuang... Bagaimana rasanya setelah kau tahu orang yang menyelamatkanmu ternyata adalah orang paling buruk di dunia... Pasti memuakkan, bukan?” Ujar Leo kembali melihat ke arah jendela menyembunyikan ekspresinya dari Lia.
“....”
“Yah, itu adalah tanggapan yang sama ketika mereka semua mengetahuinya... Aku sudah tidak terkejut lagi... Sekarang semuanya sudah kukatakan... Tidak ada lagi yang kusembunyikan... Sisanya, kuserahkan padamu bagaimana kau menilaiku dan semua kebohongan yang kukatakan kepadamu...” Sambung Leo menoleh ke belakang dengan wajah sinis.
Selesai, akhirnya selesai. Leo telah mengatakan semua tentang rahasianya kepadanya. Ia sudah siap menerima apa pun keputusannya, bahkan jika Lia membencinya, ia sudah siap menerimanya.
“(Benar, Lia... Sekarang bencilah aku... Sama seperti mereka semua yang sebelumnya kukenal...)” Ujar Leo dalam hatinya marah bercampur sedih.
Ini adalah akhirnya, akhir dari hubungan mereka berdua. Pada akhirnya Leo tidak bisa memenuhi janjinya kepada Zille. Setidaknya ia telah berusaha dan itu sudah lebih dari cukup untuk menyebutnya sebagai kegagalan. Ini mungkin adalah malam terakhirnya berpisah dengannya.
“....!”
Akan tetapi, sesuatu yang mengejutkan justru terjadi. Bukannya menghina atau mencelanya, Lia justru memeluknya dengan hangat setelah semua yang ia katakan. Ia tidak mengerti kenapa hal ini terjadi, semua ini benar-benar berkebalikan dengan apa yang ia pikirkan.
“L-Lia... Apa yang kau lakukan...? Apa kau sadar apa yang sedang kau lakukan...?” Ujar Leo dengan ekspresi terkejut.
“... Mm. Tentu saja.” Balas Lia dengan nada lembut.
“Kenapa kau tidak memaki atau melakukan hal buruk kepadaku...? Padahal kau sudah tahu siapa sebenarnya aku... Kenapa...?” Balas Leo dengan nada sedih bercampur marah.
“Karena Leo adalah Leo. Tidak peduli bahwa kau adalah satu-satunya orang yang tidak menerima berkah dewa, kenyataannya kau adalah penyelamat hidupku, sekaligus orang yang telah menyembuhkan luka di hatiku. Kenapa aku harus membencimu?” Balas Lia tersenyum tulus.
“Aku hanya akan membawa masalah untukmu... Aku tidak ingin kau terus bersamaku lebih dari ini...” Balas Leo dengan nada tinggi membantahnya.
“Kalau begitu aku hanya harus menghadapinya, bersamamu...” Balas Lia menepisnya.
“Kau tidak mengerti, aku adalah pembawa kutukan...! Aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpamu...!”
“Jika kau menyebutnya sebagai kutukan, maka aku menyebutnya sebagai keajaiban... Keajaiban karena aku bisa bertemu denganmu... Keajaiban karena takdir telah mempertemukan kita...”
Semakin banyak ia bicara, semakin banyak pula Lia menyangkalnya. Ia tidak tahu lagi harus berkata apa untuk menggoyahkan keyakinannya.
“Kau benar-benar gadis yang keras kepala...” Ujar Leo menghela nafas panjang.
“Aku menganggapnya sebagai pujian...” Balas Lia sambil tertawa singkat.
“Kau memang aneh...” Balas Leo membuang muka.
“Sebagai sesama orang aneh, kita memang harus bersama...”
“....”
Lia pun memutar tubuh Leo untuk menghadap kepadanya sebelum ia meraihnya dengan kedua tangannya selagi berkata dengan senyum di bibirnya.
“Meski demikian, aku tidak peduli... Aku akan tetap selalu bersamamu, karena... Kau adalah tempat duniaku...” Ujar Lia dengan senyum tulus.
“....”
“Maka dari itu, Leo, tersenyumlah... Tersenyumlah sama seperti saat kita bertemu... Mereka mungkin menyalahkanmu dan bahkan membencimu, tetapi aku tidak akan menyalahkanmu atau pun membencimu...” Sambung Lia perlahan meraih bahunya dan memeluknya.
Leo terdiam mendengar ucapan Lia. Tidak ada lagi yang bisa ia katakan untuk membantahnya. Pada saat itu pula ia sadar bahwa Lia adalah tujuan yang selama ini ia cari. Dia adalah satu-satunya orang yang tidak membencinya meski telah tahu bahwa Leo adalah orang yang terkutuk.
“(Apakah itu semua benar...? Apakah aku boleh berpikir Lia menerimaku apa adanya...?)” Ujar Leo dalam hatinya bimbang.
Namun, setelah melihat reaksi dan ekspresi Lia, ia menjadi ragu akan ucapannya. Jika itu sebuah kebohongan, maka sejak awal Leo telah menyadarinya. Bagaimana pun juga, ia telah melihat banyak kebohongan di dalam hidupnya. Namun, tidak dengan air mata Lia. Ia pun perlahan meraih Lia dengan kedua tangannya sebelum akhirnya mendekapnya.
“Lia, apa menurutmu aku berhak...?” Tanya Leo dengan wajah bingung.
“Itu adalah keputusanmu... Tidak ada yang menentukannya, kau sendirilah yang harus menentukannya...” Balas Lia dengan nada lembut.
“Kalau begitu, bolehkah aku bersamamu...?” Balas Leo kembali bertanya kepadanya.
__ADS_1
“Mm. Aku dengan senang hati menerimanya.” Jawab Lia tersenyum lembut.
Di bawah sinar rembulan, mereka saling mendekap dalam kehangatan. Hati Leo merasa lega setelah mendengar semuanya dan kini bebannya sudah menghilang. Ia kini percaya bahwa pertemuan dirinya dengan Lia bukanlah sebuah kebetulan belaka, melainkan memang sudah ditakdirkan. Ia sangat bersyukur bisa bertemu dengannya.