Black Arc Saga

Black Arc Saga
Insiden di tengah perjalanan


__ADS_3

... ...


Sementara itu, di ibu kota kerajaan, tepatnya di ruangan Ksatria Suci Agung istana, suara ketukan terdengar dari balik pintu ketika Richard ketika tengah sibuk dengan pekerjaannya. Dari baliknya, terdengar sesosok suara prajurit yang sebelumnya mengetuk pintu mencoba bicara dengannya.


 


“Permisi, Richard-sama. Saya membawa surat untuk anda.” Ujar suara tersebut dari balik pintu.


 


“Masuklah.” Balas Richard sebelum kembali pada pekerjaannya.


 


“Baik.”


 


Pintu terbuka dengan suara menderit yang seketika mengisi suasana dalam ruangan ketika prajurit itu menghampirinya sambil membawa sepucuk surat di tangannya.


 


“Maaf mengganggu pekerjaan anda, saya membawa surat dari Vain-sama untuk anda.” Ujar prajurit itu sambil menggunakan aksen prajuritnya.


 


“Ho? Dari Vain, huh? Sepertinya ini menjadi yang kedua di minggu ini.” Balas Richard meletakkan penanya sebelum menerimanya.


 


“Kalau begitu, saya permisi. Selamat siang.” Balas prajurit itu berpamitan.


 


“Ya. Kerja bagus.”


 


Tepat setelah prajurit itu meninggalkan ruangan, ia mulai membuka isi surat yang dikirim oleh seseorang bernama Vain untuk selanjutnya ia baca.


 


“Begitu ya. Tugasnya mengawal pangeran akan selesai di akhir di akhir musim panas. Itu artinya dia masih akan di sana sekitar 3 bulan lagi. Kurasa ini waktu yang cukup untuk menjalankan semua rencanaku...” Gumam Richard sambil membaca isi surat tersebut.


 


Setelah selesai membacanya, ia pun kembali merapikan surat tersebut sebelum menyimpannya di laci mejanya. Ia pun lantas menuangkan segelas anggur sebelum berjalan menghampiri jendela sambil menikmatinya.


 


“Jika semuanya berjalan sesuai rencana, maka penghalang utamaku hanya dia. Selama dia tidak ada di kerajaan ini, aku dapat leluasa bergerak. Ini adalah keuntungan bagiku...” Gumamnya sambil tersenyum sinis menatap ke luar jendela.


 


Tak lama berselang, seekor burung gagak hinggap tepat di hadapannya sesaat sebelum mata mereka saling bertemu. Richard lantas membuka jendela dan membiarkannya masuk dengan senang hati. Gagak itu terlihat sangat jinak dan penurut kepadanya seperti layaknya binatang peliharaan sesaat sebelum ia kembali ke mejanya mengambil secarik kertas yang kemudian ia berikan padanya.


 


“Ambilah ini, kau tahu harus membawanya ke mana, bukan?” Ujar Richard berbisik kepadanya sambil tersenyum.


 


Gagak itu mengeluarkan kicauan khasnya sebagai tanda bahwa ia mengerti ucapannya sebelum ia mengambil kertas itu dengan paruhnya dan pergi meninggalkannya.


 


 


 


***


 


Hari menjelang siang sejak Leo dan lainnya meninggalkan kota. Perjalanan mereka berjalan dengan baik sampai sejauh ini tanpa ada kendala yang mengganggu. Jika semuanya sesuai rencana, mereka akan tiba di kota Zivalor kurang lebih esok hari.


 


“Kurasa aku melupakan sesuatu sebelum kami pergi...” Gumam Leo dengan nada datar.


 


“...?? Kau melupakan sesuatu?” Tanya Lia yang secara tidak sengaja mendengarnya.


 


“Ah. Kurasa percuma saja menyembunyikannya. Ya, bisa dibilang aku melupakan sesuatu ketika kita berangkat pagi tadi...” Balas Leo memalingkan pandangannya sambil menggaruk pipinya dengan nada canggung.


 


“Memangnya apa yang kau lupakan? Apakah sesuatu yang penting?”


 


“Yah, tidak terlalu penting juga kurasa. Aku hanya lupa membeli pedang baru.”


 


“Hanya itu?”


 


“Ya. Hanya itu.”


 


“Benar juga, terakhir kali kau menggunakannya untuk menjatuhkan Wyvern itu. Senjata memang sangat penting bagi kita yang adalah petualang.”


 


“Y-Ya. Aku tahu itu...”


 


“Harusnya kau lebih menjaga senjatamu sama seperti mereka telah menjagamu, itulah yang diajarkan kepadaku.”


 


“Ugh... Aku merasa bersalah...”


 


Meski malu untuk mengakuinya, namun Lia memang benar. Ia harusnya bisa lebih menjaga senjatanya dengan lebih baik. Bagaimana pun, sebagai seorang petualang, senjata adalah teman yang akan menemani dari hidup sampai matinya. Mereka seperti rekan yang akan selalu bersama menghadapi keadaan susah maupun senang dalam bertualang.


 


“Bukan berarti aku marah. Kau bisa membelinya lagi nanti setelah kita sampai.” Balas Lia tersenyum kepadanya.


 


“Yah, kurasa kau benar...” Balas Leo sambil menghela nafas panjang.


 


Mereka berdua tampak seperti pasangan yang dekat bagi Olivia. Meski ia sempat khawatir terhadap keadaan Leo, namun sepertinya, setelah Lia bicara dengannya semuanya kembali seperti semula.


 


“(Syukurlah master sudah kembali seperti sedia kala. Dengan ini saya bisa lebih tenang...)” Ujar Olivia dalam hatinya lega.


 


Olivia terlihat tersenyum saat Leo melihat ke arahnya secara diam-diam. Di saat yang sama, terlintas sebuah pertanyaan pada benak Leo ketika ia mengamatinya. Olivia bukanlah manusia seutuhnya, namun dia juga memiliki ekspresi dan emosi layaknya manusia pada umumnya. Hal itu membuatnya bertanya-tanya apakah semua hal itu merupakan pemberian penciptanya ataukah berasal dari dirinya sendiri.


 


“(Mengesampingkan kenyataan bahwa dia adalah peninggalan bangsa kuno itu, dia hanya gadis biasa pada umumnya. Dia tidak sering terlihat bicara denganku apakah karena dia merasa terikat dengan status kami...?)” Tanya Leo dalam hatinya sambil mengamatinya.


 


Hubungan mereka memang terkesan memberatkan baginya, namun dia sama sekali tidak mempermasalahkannya. Sering terlintas di benak Leo untuk mengajaknya bicara dan mengenalnya lebih dekat, namun ketika ia hendak melakukannya, suasana di antara mereka selalu berat dan canggung untuk memulai percakapan.


 


“Ada sesuatu, master?” Tanya Olivia yang menyadari tatapannya.


 

__ADS_1


“A-Ah. Tidak, bukan apa-apa.” Balas Leo memalingkan pandangannya canggung.


 


Tepat seperti yang ia duga, bicara dengannya selalu membuatnya merasa canggung. Setiap kali ia memanggilnya dengan sebutan “master”, Leo lantas ingin mengurungkan ucapannya karena merasa tidak nyaman.


 


“(Aku memang belum terbiasa dengan panggilan itu. Mungkin aku akan mencari cara untuk bisa bicara dengan lebih baik dengannya...)” Gumam Leo dalam hatinya sambil menghela nafas panjang.


 


Ketika perjalanan tengah berlanjut, Olivia mendadak menghentikan langkahnya ketika ia merasakan ada sesuatu yang aneh di depan mereka. Ia lantas menggunakan sihirnya untuk mempertajam area jangkauannya ketika Leo dan Lia yang menyadari tindakannya dibuat kebingungan olehnya.


 


“Ada apa, Olivia? Kenapa kau tiba-tiba berhenti?” Tanya Leo dengan wajah bingung.


 


“... Apa ada yang salah dengannya?” Sambung Lia pada Leo.


 


“Ada sesuatu di depan sana... Sesuatu yang menimpa seseorang... Ada sekumpulan orang mengepungnya...” Balas Olivia memejamkan matanya sambil menunjuk jauh ke depan.


 


“Tunggu dulu, apa maksudmu...?!” Balas Leo terkejut mendengarnya.


 


“Sekumpulan orang mengepung... Jangan katakan kalau itu adalah perampokan...!” Ujar Lia ikut terkejut setelah memberikan kesimpulan.


 


“Apa...?!”


 


Olivia lantas membuka matanya setelah ia selesai memeriksa keadaan di depan mereka.


 


“Tingkat ancaman, rendah. Energi sihir mereka terasa rendah, kemungkinan besar adalah bandit biasa. Apa yang harus kita lakukan, master? Saya juga mendeteksi ada satu orang tengah terpojok oleh mereka di dalam kereta kudanya...” Ujar Olivia bertanya kepada Leo dengan nada datar.


 


“Sudah jelas, bukan? Lia, bagaimana menurutmu?” Balas Leo sebelum melihat ke arah Lia.


 


“... Mm. Kita harus menolongnya.” Jawab Lia singkat sambil mengangguk.


 


“Dimengerti.”


 


Mereka lantas bergegas menyusul ke tempat di mana kejadian tersebut sedang berlangsung. Dengan kecepatan penuh, mereka berlari mengikuti jalan yang ada guna menolongnya sebelum semuanya terlambat.


 


“Olivia, di mana lokasinya...!” Ujar Leo menoleh ke arahnya.


 


“Sekitar 1,5 mil di depan.” Balas Olivia secara cepat.


 


“Baiklah, kita masih sempat!”


 


“Baik!”


 


 


“(Cahaya itu...! Jangan-jangan mata sihir...! Leo tidak hanya membangkitkan berkahnya, tetapi juga turut membangkitkan mata sihir...!)” Ujar Lia dalam hatinya terkejut.


 


Namun, ketika Lia merasa terkesima dengan hal itu, mereka telah sampai di tempat kejadian di mana perampokan itu terjadi. Di sebuah lorong ladang rumput yang tinggi menjulang, terlihat sekelompok orang tengah mencegat sebuah kereta kuda. Mereka terdiri dari sekitar 8 orang yang tengah berusaha merampok sang kusir. Dengan mata sihirnya, Leo mengidentifikasi mereka satu persatu sebelum akhirnya ia memberi isyarat kepada mereka berdua. Setelah mengerti maksud Leo, mereka bertiga pun mulai melancarkan serangan pada para perampok itu.


 


“Hey, pak tua! Cepat serahkan semua uangmu sebelum kami membakar semua barangmu...!” Seru salah seorang perampok mengancam sang kusir dengan belatinya.


 


“T-Tidak...! Tidak, kumohon jangan barang daganganku...! Mereka satu-satunya yang kumiliki...!” Balas sang kusir terpojok di tanah ketakutan.


 


“Kalau begitu cepat serahkan uangmu...!” Balas perampok kedua memaksanya sambil menendangnya.


 


“T-Tidak...! K-Kumohon jangan...!”


 


“Dasar keras kepala...!”


 


Perampok itu lantas mengayunkan belatinya berniat melukai kusir tersebut. Akan tetapi, sesaat sebelum bilahnya melukainya, secara mengejutkan Leo muncul dan mencengkram wajahnya dengan telapak tangannya lalu melemparnya menjauh. Dalam sekejap mata, perampok itu terhempas hingga terseret di atas tanah sejauh puluhan meter ketika perampok yang tersisa terkejut dengan kemunculannya.


 


“A-Apa...?!”


 


Tanpa suara dan peringatan, ia muncul begitu saja hingga nyaris membuatnya berpikir bahwa dia adalah hantu. Namun, tepat sebelum perampok itu sempat bereaksi, ia mendaratkan tendangan ke arahnya yang membuatnya seketika terhempas masuk ke dalam ladang rumput yang ada di sisi lain jalan. Dalam waktu yang singkat, ia mengalahkan mereka berdua dengan sangat mudahnya hingga membuat sang kusir yang menyaksikannya terperanga karena terkesima.


 


“Itu tadi nyaris saja. Apa anda baik-baik saja, tuan?” Tanya Leo sambil mengulurkan tangannya padanya.


 


“A-Ah. U-Uhm. Aku baik-baik saja...” Balas sang kusir dengan wajah kebingungan.


 


“Beruntung, kami datang tepat pada waktunya. Mereka benar-benar membuat anda dalam masalah...” Balas Leo melihat sekitar pada barang-barang yang berserakan di jalan.


 


Pada saat yang bersamaan, suara ledakan terdengar dari belakang kereta kuda tempat di mana Lia dan Olivia menghadapi sisa kawanan perampok. Hal tersebut membuat kuda yang menarik kereta ketakutan hingga terpaksa membuat Leo harus menenangkannya.


 


“Tenang, kawan-kawan... Dia tidak akan melukai kalian berdua...” Ujar Leo mencoba menangkan para kuda yang meronta-ronta ketakutan.


 


Ledakan yang sama kembali terdengar ketika perhatian sang kusir tertuju pada apa yang terjadi di belakang sana. Dengan sihirnya, Olivia meledakkan mereka dengan mudahnya sementara Lia menghabisi sisanya dengan menggunakan sarung pedangnya. Hasilnya, mereka semua dikalahkan dalam waktu yang singkat sebelum akhirnya mereka melarikan diri meninggalkan barang rampasan mereka.


 


“Ancaman selesai diusir. Korban jiwa berhasil dihindari.” Ujar Olivia dengan aksen khasnya.


 


“....”


 


Dengan wajah terkesima, sang kusir hanya bisa menganga melihat kedua gadis itu mengusir para perampok itu dengan keterampilan mereka yang luar biasa. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi terhadap mereka yang telah menolongnya.


 

__ADS_1


Setelah semua perampok itu kabur dan kuda penarik kembali tenang, mereka bertiga pun menghampiri kusir itu sebelum ia bicara kepada mereka.


 


“Aku tidak tahu lagi harus mengatakan apa, tapi terima kasih atas bantuan kalian. Jika bukan karena kebaikan kalian, aku tidak tahu lagi bagaimana nasibku selanjutnya...” Ujar kusir itu tersenyum gembira.


 


“Tidak masalah, tuan. Kami hanya kebetulan lewat saja.” Balas Leo dengan nada ramah.


 


“Apa anda terluka?” Sambung Lia bertanya kepadanya.


 


“Ah. Tidak, aku tidak terluka. Itu semua berkat kalian bertiga. Aku benar-benar berterima kasih kepada kalian.” Jawab kusir itu tersenyum sambil menggaruk rambutnya.


 


“Syukurlah jika anda mengatakan demikian.” Balas Lia dengan nafas lega.


 


“Meski begitu, mereka membuat barang-barang anda berserakan. Ada beberapa yang rusak juga...” Sambung Leo melihat pada barang-barang yang berserakan.


 


“Ugh... Aku pasti mengalami kerugian...” Balas kusir itu dengan wajah kecewa.


 


“Biarkan kami membantu anda.” Ujar Lia inisiatif.


 


“Benar juga. Anda pasti kerepotan membereskan semua ini. Biarkan kami membantu anda mengemasinya kembali.” Sambung Leo menawarkan bantuan.


 


“T-Tidak. Tidak usah. Aku akan merepotkan kalian lagi. Padahal kalian sudah repot-repot menolongku...”


 


“Sama sekali bukan masalah, benar bukan?”


 


“Mm.”


 


“Ya.”


 


“K-Kalau begitu, maaf harus merepotkan kalian lagi...”


 


Bersama-sama, mereka bertiga mengemas kembali barang-barang milik sang kusir yang berserakan di jalanan. Meski barang-barang yang ada dimilikinya sangat beragam, mereka sama sekali tidak kesulitan mengemasinya. Hingga pada akhirnya, semua barang itu kembali pada tempatnya.


 


“Semuanya sudah selesai. Semua barang anda sudah kami susun di dalam kereta.” Ujar Leo selesai dengan pekerjaannya.


 


“Terima kasih sekali lagi untuk kalian. Tidak hanya menyelamatkanku, kalian juga membantu mengemasi barang-barang daganganku. Rasa terima kasih saja belum cukup untuk membalas kebaikan kalian.” Balas kusir itu tersenyum senang.


 


“Tidak, ini bukan apa-apa. Kami senang mendengar anda baik-baik saja.” Balas Leo menggelengkan kepalanya.


 


“Aku benar-benar tertolong.”


 


“Senang mendengarnya. Kalau begitu, kami pamit dulu...”


 


“E-Eh...?”


 


Ketika Leo dan lainnya memutuskan untuk pergi, kusir itu mengejar mereka sebelum akhirnya menghentikan mereka.


 


“Tunggu sebentar...!” Serunya berhenti tepat di hadapan mereka.


 


“Apa ada masalah?” Balas Leo dengan wajah bingung.


 


“Aku lupa bertanya kepada kalian sebelumnya. Apa kalian pengelana?”


 


“Bisa dibilang begitu. Memangnya ada apa?”


 


“Mungkin ini tidak cukup sebagai ucapan terima kasih, tetapi apa kalian tidak ingin menumpang di keretaku?”


 


“Menumpang di kereta anda?”


 


“Ya. Aku lihat kita berjalan ke arah yang sama. Meski aku tidak tahu ke mana tujuan kalian, setidaknya aku bisa mengantarkan kalian ke kota terdekat sebagai tanda ucapan terima kasihku. Bagaimana menurut kalian?”


 


“Benarkah itu?”


 


“Ya. Tentu saja. Bagaimana menurut kalian?”


 


Leo menoleh ke arah Lia dan Olivia menanyakan pendapatnya sesaat sebelum mereka mengangguk sebagai isyarat bahwa mereka berdua setuju untuk menerima tawarannya.


 


“Baiklah, kami terima tawaran anda dengan senang hati.” Ujar Leo mengangguk setuju.


 


“Kalau begitu, naiklah. Kita akan segera berangkat.” Balas kusir itu dengan wajah gembira.


 


Mereka pun mengikutinya kembali ke kereta sebelum akhirnya mereka berangkat melanjutkan perjalanan. Karena bagasi tidak cukup ruang untuk mereka bertiga, akhirnya Leo memutuskan untuk duduk bersama di meja kusir bersama dengan pria tersebut. Perlahan kereta kuda itu bergerak ketika sang kusir mengibaskan tali kemudinya. Lambat laun, kecepatan pun bertambah seiringan dengan laju para kuda yang menariknya.


 


“Ah. Benar juga, aku belum mengenalkan diriku kepadamu. Namaku Margo, senang bertemu denganmu anak muda.” Ujar sang kusir mengenalkan dirinya kepada Leo.


 


“Senang bertemu dengan anda, tuan Margo. Namaku Leo.” Balas Leo turut mengenalkan diri.


 


“Begitu ya. Leo, huh? Nama yang sangat sesuai untukmu. Senang bertemu denganmu juga.” Balas Margo tersenyum gembira.


 


Senyum ramahnya menghiasi wajah keriputnya sebagai pertanda usianya yang hampir menginjak senja. Selama beberapa hari ke depan, mereka akan bersama dengannya sebagai teman seperjalanan.

__ADS_1


__ADS_2