Black Arc Saga

Black Arc Saga
Temuan mengejutkan


__ADS_3

Makhluk itu bangkit dari kematiannya selang beberapa saat setelah Leo dan Lia membunuhnya. Kini ia menjadi marah dan mengeluarkan aura mengerikan di sekujur tubuhnya dengan geraman yang menakutkan. Suara geramannya layaknya suara bisikan dengan nada yang tercekik ketika ia perlahan mengangkat tangan besinya ke udara menatap ke arah Leo dan Lia.


 


“(Ini gawat...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.


 


Tepat ketika geramannya terhenti, ia berteriak dengan nada tinggi sambil menghantam lantai dengan lengannya. Seketika itu pula lantai hancur dan berhamburan ke udara dengan menyisakan lubang dalam pada bekas pukulannya yang juga menyebabkan guncangan dahsyat pada seisi ruang bawah tanah itu.


 


“B-Bertahanlah...!” Ujar Gald memegangi Chrea yang nyaris jatuh menuruni anak tangga.


 


“Sialan...! Hanya memukul lantai bisa menciptakan guncangan sekuat ini...!” Balas Zen bertahan di tempatnya bersama Kirishima dalam dekapannya.


 


Tangga itu pun ikut menjadi korbannya, terlihat beberapa bagiannya retak dan roboh akibat guncangan dahsyat itu. Namun beruntung, bagian tangga itu bukan tempat Gald dan temannya berada hingga mereka baik-baik saja.


 


Guncangan itu berakhir beberapa saat kemudian dengan menyisakan makhluk itu seorang diri di pusat kawah yang diciptakannya sendiri saat debu dan puing-puing menghujaninya. Ia melihat sekeliling mencoba mencari Leo dan Lia di antara puing-puing itu sebelum pandangannya dikejutkan dengan datangnya sebuah tebasan sihir yang menuju ke arahnya.


 


“...!”


 


Terkejut melihatnya, makhluk itu pun menggunakan tangan besinya untuk melindungi tubuhnya dari serangan itu sebelum akhirnya tebasan sihir itu meledak begitu mengenainya.


 


“#*/#...”


 


Tidak terlihat dari mana serangan itu berasal, namun ia yakin bahwa serangan barusan berasal dari Lia. Ia pun mengayunkan cakarnya menembus awan debu yang menutupi seisi ruangan tersebut guna menemukannya. Ia memutar tubuhnya merauk seluruh tempat yang ia bisa dengan cakarnya, namun sayangnya hal itu tidak membuahkan hasil.


 


“Grrr....!”


 


Ia menggeram kesal dengan suara mekaniknya sesaat sebelum serangan yang sama kembali melayang ke arahnya. Dengan sigap ia melindungi dirinya dengan lengan besinya, namun semua itu seketika berubah ketika serangan sihir itu kembali datang dari berbagai arah dengan jumlah yang lebih banyak. Dengan ekspresi panik, makhluk itu hanya bisa bertahan meski serangan sihir itu menghujaninya tanpa ampun. Dan tepat pada saat itu pula, Leo muncul dari balik awan debu itu melemparkan pedangnya tepat ke arah wajahnya sebelum akhirnya ia menendangnya masuk menembus tengkoraknya.


 


“#*#*....!!!”


 


Ia pun terjatuh menghantam lantai ketika Leo mencabut pedangnya lalu mengakhirinya dengan memenggal kepalanya.


 


“....!”


 


Chrea dan Kirishima memalingkan wajahnya ketika Leo melakukannya sementara Gald dan Zen hanya bisa terdiam menyaksikannya tanpa bisa berkomentar. Cara yang Leo lakukan memang terkesan kejam dan mengerikan, namun hal itu memang hal yang harus dilakukan untuk menghentikannya. Ia mengibaskan pedangnya ketika Lia datang menghampirinya untuk memeriksa keadaan makhluk tersebut.


 


“... Apa dengan ini kita sudah selesai?” Ujar Lia menyaksikan mayat makhluk itu terkapar.


 


“Kurasa begitu... Jika tidak, maka aku tidak tahu lagi bagaimana mengakhirinya...” Balas Leo menghela nafas panjang sambil menyarungkan pedangnya.


 


“... Aku bersyukur cara ini berhasil. Tapi, tetap saja caramu itu terlalu berisiko.” Balas Lia melihat ke arahnya dengan ekspresi tidak senang.


 


“U-Uh...”


 


“... Walau bagaimana pun, kita berhasil mengalahkannya.”


 


“B-Benar...! Yang paling penting kita telah mengalahkannya...”


 


Leo sempat cemas ketika Lia menatapnya dengan wajah marahnya itu. Ia tahu bahwa rencananya sangat berisiko, namun karena terbiasa bertarung mempertaruhkan nyawanya sendiri, Leo tidak memiliki cara lain. Namun, pada akhirnya mereka bisa mengalahkan makhluk itu sekaligus tanpa mengorbankan dirinya dan itulah yang paling penting. Jika ia bertarung sendirian, ia tidak mungkin bisa berdiri tanpa luka sama seperti saat ini. Bisa dikatakan, rencana ini sukses besar.


 


Setelah makhluk itu sepenuhnya tewas, Gald dan teman-temannya akhirnya berani menuruni tangga. Awalnya mereka hanya bisa terdiam di sana karena pertarungan itu memaksa mereka untuk tidak ikut campur demi keamanan mereka sendiri. Sekarang, semuanya sudah berlalu dan kini rasa cemas mereka sudah menghilang.


 


“Alicia... Leonard... Pertarungan yang menakjubkan...” Ujar Gald menghampiri mereka.


 


“Ah. Apa kalian baik-baik saja?” Balas Leo kepada mereka.


 


“Ya. Berkat kalian kami—“


 


Tepat di tengah kalimatnya, pandangan Gald dikejutkan oleh kejadian yang tidak pernah ia duga. Makhluk itu bergerak dan perlahan bangkit tepat di belakang mereka berniat mengayunkan cakarnya pada Leo dan Lia yang lengah. Gald yang menyadari hal tersebut seketika berteriak kepada mereka untuk memberi peringatan, namun...


 


“Leonard, di belakangmu...!!” Seru Gald mengulurkan tangannya tepat ke arah mereka.


 


Saat mereka berbalik, mereka dikejutkan dengan datangnya sambaran tangan besi makhluk itu yang berusaha membunuh mereka dengan jari belatinya. Leo yang menyadari hal tersebut seketika mendorong Lia sekuat tenaga menjauh darinya sesaat sebelum akhirnya serangan mengenainya.


 


“Ugh...!!”


 


Cakarnya menyayat tubuh Leo sesaat sebelum ia terlempar ke sisi dinding sana ketika mereka yang menyaksikannya terperanga tidak percaya dengan apa yang terjadi.


 


“Leonard...!” Seru Gald panik.


 


“Leonard-san...!” Sambung Zen, Chrea dan Kirishima bersamaan.


 


Ia menghantam dinding dengan keras hingga meninggalkan lubang dan sisa retakan ketika makhluk itu perlahan mengeluarkan sihir aneh dari lengan besinya. Ia mengarahkan lengan besinya yang secara perlahan mengumpulkan energi sihir kepada Leo yang terkapar lemah ketika Lia yang baru saja terdorong jatuh lantas bangun dari tempatnya saat menyadari tindakan Leo.


 


“... Mnh! Leo... Leo...!!” Ujar Lia dengan wajah panik.


 


Lia terkejut menyaksikan makhluk itu bisa bergerak meski kepala dan jantungnya telah hancur. Dan yang lebih buruk, dia telah melukai Leo dan berusaha membunuhnya dengan sihirnya.


 


“Leo... Apa yang dia lakukan... Apa yang dia lakukan kepada Leo...!” Ujar Lia dengan nada marah.


 


Pada saat yang bersamaan, Gald yang panik mencoba membantu dengan meminta bantuan Chrea dan Kirishima. Ia menyuruh mereka berdua untuk menyerang makhluk itu dengan tujuan mengganggunya yang tengah mengumpulkan energi.


 


“Chrea...! Kirishima...! Kita harus menghentikannya! Serang dia dengan serangan terkuat kalian...!” Ujar Gald dengan nada tinggi


 


“B-Baik...!” Balas Chrea dan Kirishima bersamaan.


 

__ADS_1


Mereka berdua pun mulai menyiapkan serangan gabungan mereka. Chrea menarik tali busurnya sambil merapalkan mantra sihir bersamaan dengan Kirishima.


 


“Wahai cahaya yang agung, tombak yang membelah kegelapan, berikanlah kekuatanmu untuk menerangi jalan yang membentang di antara kami...”


 


“Heavy...”


 


Anak panah yang Chrea pegang seketika menyala dengan cahaya keperakan yang menyilaukan mata. Dan pada saat yang sama, lingkaran sihir berwarna terang membentang tepat di hadapannya sesaat sebelum akhirnya ia melepaskan jarinya dari tali busur itu ketika ia melepaskan mantranya.


 


“... Arrow!”


 


“... Shattered pulse!”


 


Begitu melewati lingkaran sihir itu, anak panah itu seketika berubah menjadi anak panah sihir yang melesat dengan kecepatan yang luar biasa. Anak panah itu melesat menghantam lengan besinya yang membuat energi sihir yang makhluk itu kumpulkan lepas kendali sebelum akhirnya meledak mengenai dirinya sendiri.


 


Ia terdorong mundur dengan sebagian tubuhnya terluka parah akibat ledakan tersebut. Gald dan teman-temannya mengangkat wajahnya senang ketika serangan itu berhasil menggagalkan niatnya untuk menghabisi Leo.


 


“B-Berhasil...! Kalian berhasil melakukannya...!” Ujar Gald dengan nada gembira.


 


Melihat kesempatan itu, Gald melihat ke arah Zen memberinya isyarat sebelum akhirnya mengangguk dan menghampiri Leo.


 


“Leonard-san, bertahanlah...!” Ujar Zen mencoba membantunya.


 


“Ugh...! A-Aku baik-baik saja...!” Balas Leo dengan nafas berat.


 


Dengan tubuh bersimbah darah, Leo bangun dengan sendirinya tepat ketika Lia berjalan menghampiri makhluk itu dengan tatapan yang dingin.


 


“Lia...? Apa yang dia lakukan...?” Gumam Leo melihat Lia berjalan ke arah makhluk itu memegang pedangnya.


 


“Alicia-san...?” Sambung Zen bergumam dengan wajah bingung melihatnya.


 


Perlahan cahaya merah tua menyelimuti pedang Lia ketika ia mendekati makhluk itu yang tengah mencoba bangkit setelah menerima luka ledakan itu. Ia menderu dengan suara mekaniknya ketika Lia melesat ke arahnya melancarkan serangan dengan kekuatan penuh. Dengan satu gerakan cepat, Lia memotong kedua kakinya sebelum akhirnya ia menendang bagian atas tubuhnya hingga menghantam dinding di sebrang ruangan.


 


“Lenyaplah...!” Ujar Lia dengan nada sinis.


 


Bersamaan dengan itu, Lia memusatkan kekuatan sihirnya pada bilah pedangnya yang membuatnya menyala dan berkobar dengan hebatnya sebelum akhirnya menghunuskannya tepat ke arahnya.


 


“Tehnik pedang: Waves of Falling Crimson!”


 


Seketika itu pula pedang Lia membelah ruangan itu menjadi dua dan melenyapkan makhluk itu hingga tak bersisa. Kekuatannya yang luar biasa menciptakan ledakan hebat yang membuat seluruh tempat itu berguncang hingga sampai ke bangunan yang ada di permukaan. Menara itu berguncang seperti nyaris roboh bersamaan dengan munculnya cahaya merah tua yang menerangi seluruh bagian bangunan tersebut.


 


“A-Apa itu...! Apa yang barusan itu gempa...?” Ujar salah seorang petualang yang berada di dekat sana.


 


“Uh oh. Perasaanku tidak enak...” Sambung petualang lain yang ikut terdampak.


 


 


“B-Benar-benar kuat... Dia memusnahkan makhluk itu tanpa sisa...” Ujar Zen terperanga.


 


“Kekuatannya... Alicia benar-benar jauh di atas kita...” Sambung Gald terkesima.


 


“Lia...”


 


Bahkan Leo ikut terkejut menyaksikan apa yang dilakukan Lia. Ia tidak mengira bahwa dia akan menggunakan seluruh kekuatannya untuk melenyapkan makhluk itu. Meski menakjubkan, tetapi Leo merasa dia menggunakannya atas dasar amarah. Ini memang pertama kalinya ia melihat Lia meluapkan emosinya, namun jika ini terus berlanjut, hal itu bisa berdampak buruk bagi dirinya sendiri.


 


“(Jangan-jangan dia marah karena melihatku mencoba menyelamatkannya... Lia, aku tidak mengira kau akan berbuat sejauh itu...)” Ujar Leo dalam hatinya menyesal.


 


Lia datang dari balik kepulan debu awan yang tersisa dari sisa pertarungannya selagi menyarungkan pedangnya sebelum ia bergegas menghampiri Leo yang terluka. Ekspresi Lia seketika berubah menjadi cemas begitu melihat keadaannya.


 


“Leo, kau baik-baik saja...?” Tanya Lia cemas memeriksanya.


 


“Tidak... Aku baik-baik saja... Jika hanya luka seperti ini, aku sudah terbiasa mengalaminya...” Balas Leo berniat menenangkan kegelisahannya.


 


“Semua itu salahku, harusnya aku lebih waspada...” Balas Lia dengan wajah menyesal.


 


“Tidak apa-apa Lia, aku tahu kita semua tidak pernah berharap ini semua terjadi, namun aku lega kau baik-baik saja...” Balas Leo tersenyum lembut kepadanya.


 


Lia dengan wajah kesal mengepalkan tangannya ketika ia memalingkan wajahnya dari Leo sambil bergumam.


 


“Selalu saja... Kau selalu saja mengabaikan nyawamu sendiri hanya untuk melindungiku...” Bisik Lia dengan nada kecewa.


 


“U-Uh... Lia, kau baik-baik saja?” Tanya Leo dengan wajah cemas.


 


“Tentu saja tidak! Melihatmu seperti ini, mana bisa aku baik-baik saja!” Balas Lia dengan nada tinggi.


 


Matanya berkaca-kaca ketika Leo menatapnya. Sepertinya Leo salah mengatakannya, ia tidak seharusnya membohonginya hingga membuatnya cemas seperti itu.


 


“Lia... Aku, maafkan aku... Maaf membuatmu cemas...” Ujar Leo mendekapnya dengan lembut.


 


“Sungguh... Kau benar-benar nekat... Sesekali, pikirkanlah tentang dirimu sendiri...” Balas Lia menangis dalam pelukannya.


 


“... Maaf.” Balas Leo dengan nada menyesal.


 


Untuk sejenak mereka tertahan pada momen itu sebelum Gald dan lainnya mencemaskan keadaannya.


 


“Maaf kalau aku mengganggu, tapi bukankah ada hal penting yang tidak ingin kau lewatkan...?” Ujar Gald memalingkan wajahnya canggung.

__ADS_1


 


“A-Ah. Benar, maaf membuat kalian cemas... Penampilanku pasti mengganggu kalian...” Balas Leo menyeka darah yang ada di bajunya.


 


“U-Uh... Bukan itu maksudku...” Balas Gald menurunkan alisnya.


 


“Leonard-san, lukamu... Kita harus mengobatinya...!” Ujar Kirishima dengan wajah cemas.


 


“Ah. Benar. Luka ini, sebaiknya harus segera diobati...” Balas Leo melihat lukanya sendiri dengan ekspresi datar.


 


“Kalau begitu...” Balas Kirishima menawarkan diri.


 


Dengan sihir penyembuh Kirishima, luka yang ada di tubuh Leo perlahan sembuh. Meski tidak sampai sembuh sepenuhnya, setidaknya itu membantu meringankan kondisi lukanya.


 


“Hah... Hah... Maaf karena sihir penyembuhku ini belum sempurna... Aku baru saja mendapatkan kemampuan ini belum lama ini...” Ujar Kirishima dengan nafas berat setelah mengobati Leo.


 


“Tidak masalah... Aku terbantu dengan sihirmu. Jika hanya luka seperti ini tidak akan menghambatku. Terima kasih...” Balas Leo tersenyum lembut kepadanya.


 


“S-Syukurlah kalau begitu...” Balas Kirishima tersipu.


 


Meski begitu, akibat pertarungan barusan, tempat ini jadi porak-poranda. Hampir seluruh tempat ini hancur akibat serangan Lia, namun beruntungnya pintu besi itu sama sekali tidak tergores. Ia sempat khawatir sebelumnya karena Lia mungkin akan ikut menghancurkan pintu yang menjadi alasan utama mereka ada di sini.


 


“Sekarang sisanya...” Ujar Leo melihat ke arah pintu besi itu.


 


“... Mencari tahu apa yang disembunyikan di balik pintu besi itu.” Sambung Gald menatap ke arah yang sama dengan Leo.


 


Dengan perasaan berdebar, mereka berenam pun berjalan menuju pintu besi tersebut untuk menjelajahi ruangan yang ada di baliknya. Dengan penuh hati-hati, Leo meraih pintu yang telah terlepas dari segelnya sebelum akhirnya membukanya secara perlahan. Suasana hening bercampur tegang menyelimuti hati mereka ketika pintu itu perlahan terbuka dengan suara menderit yang menambah rasa gugup di hati mereka.


 


“....??”


 


Begitu terbuka, sebuah lorong dengan nuansa yang sangat berbeda menyambut mereka. Tidak seperti ruangan luar yang terkesan kuno dengan arsitekturnya yang menyerupai tempat-tempat di kuil, lorong itu memiliki jauh lebih klasik dan menawan.


 


“Ini... Tempat apa ini...?” Ujar Gald dengan wajah heran.


 


“Apa ruangan ini bagian dari tempat ini...? Entah kenapa kesan yang diberikannya sangat berbeda...” Sambung Chrea menyaksikannya ikut terheran-heran.


 


Dengan wajah terkesima, mereka menyusuri lorong tersebut selagi berpikir apakah ini adalah tempat yang sama dengan reruntuhan yang selama ini mereka jelajahi. Namun, di sisi lain, mereka juga bertanya-tanya apa tujuan dibangunnya jalan ini.


 


“Aku tahu ini menakjubkan, tapi jangan sampai kalian lengah...” Ujar Leo memperingatkan semuanya.


 


“Y-Ya. Kami mengerti...” Balas Gald singkat.


 


“Hey, entah kenapa, tapi aku seperti melihat sesuatu di ujung sana...” Ujar Zen melihat jauh ke depan dengan tatapan curiga.


 


“Benarkah...?” Balas Leo penasaran.


 


“Ya. Lihatlah, di ujung sana seperti ada cahaya dari sisi lain. Kelihatannya seperti ada tempat terbuka di sana...” Jawab Zen menunjuk dengan jarinya.


 


Mengetahui hal tersebut, mereka lantas bergegas menuju tempat yang Zen sebutkan sebelumnya. Namun, tepat ketika mereka hampir mencapai ujung lorong, secara tidak sengaja Chrea melihat sesuatu.


 


“Tunggu...!” Seru Chrea menghentikan yang lain.


 


“Ada apa, Chrea?” Balas Gald bertanya kepadanya.


 


“Itu... Lihat itu...! Ada sesuatu di balik dinding itu...!” Balas Chrea menunjuk dinding lorong.


 


Mendengar ucapan Chrea, Gald pun memutuskan untuk memeriksa apa yang menarik perhatiannya. Ia memeriksa dinding tersebut sebelum menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak asing pada dinding tersebut.


 


“Ini... Kaca...? Aku tidak menyadarinya karena tertutup debu yang sangat tebal...” Ujar Gald sambil mengetuk permukaan dinding itu.


 


“Kaca...? Apa maksudnya itu...?” Balas Leo dengan wajah bingung.


 


Pada saat yang bersamaan, Zen ikut menemukan hal yang sama pada sisi lain dinding. Ia menemukan struktur yang sama dengan ada di sisi Gald. Ia pun membersihkan debu yang ada dengan tangannya sebelum terkejut menyaksikan apa yang ada di baliknya.


 


“A-A-Apa itu...!” Seru Zen dengan wajah syok.


 


“Ada apa, Zen? Apa yang terjadi...!” Ujar Gald terkejut menghampirinya.


 


“Oi, kau baik-baik saja?” Sambung Leo yang ada di dekatnya membantunya yang hampir terjatuh.


 


“Itu...! Itu...! Ada sesuatu di balik dinding kaca itu...!” Balas Zen dengan wajah ketakutan.


 


Saat mendengarnya, Gald lantas membersihkan semua debu yang ada pada permukaan dinding kaca tersebut sebelum menyinarinya dengan obor kristal miliknya. Mereka seketika terkejut menyaksikan apa yang ada di balik dinding kaca itu.


 


“A-Apa ini....! Apa-apaan ini...!” Ujar Gald terkejut.


 


“T-Tidak mungkin...! Mereka semua manusia...?!” Sambung Chrea terperanga menyaksikannya.


 


“Kejam sekali...” Bisik Kirishima menutup mulut dan hidungnya prihatin.


 


Tepat di balik dinding kaca ini, terlihat sekumpulan tengkorak manusia yang mati dengan sebab yang misterius. Mereka semua mati dalam keadaan yang sama duduk bersandar dengan mengenakan pakaian pasien yang masih utuh. Leo juga menemukan kondisi yang sama pada sisi yang lain, ia juga menemukan tumpukan mayat di dalam dinding kaca itu dengan kondisi yang jauh lebih mengerikan. Terlihat beberapa dari mereka tewas menggantung diri sementara sisanya tewas menggenggam anggota mayat lainnya di mulut mereka. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada mereka, namun jelas ini pasti salah satu rahasia yang berusaha disembunyikan kota ini.


 


“(Apa mereka semua tahanan...? Apa jangan-jangan mereka ini...)” Ujar Leo dalam hatinya curiga.


 


Kenyataan yang disembunyikan kota ini perlahan terkuak. Lorong ini menjadi jalan yang akan menghubungkan rahasia lain yang lebih besar yang disembunyikan oleh peradaban kuno itu. Apa yang menanti mereka di depan sana?

__ADS_1


__ADS_2