
Tiga hari berlalu sejak keberangkatan mereka, Leo dan Lia akhirnya tiba di kota Hilbern tempat tujuan mereka. Kota yang terletak setelah di sebuah bukit yang konon katanya merupakan bagian dari kerajaan kuno yang telah runtuh ratusan tahun lalu. Karena letaknya yang berada di barisan perbukitan, kota ini dikenal juga sebagai kota pertambangan di ujung perbatasan utara kerajaan.
“Akhirnya kita sampai juga... Seperti yang dikatakan orang-orang, sebagian besar penduduknya adalah penambang dan penjual bijih.” Ujar Leo mengamati kota setelah memasukinya.
“... Mm. Kota ini juga masuk dalam jalur perdagangan utara. Tidak heran jika tempat ini cukup terkenal.” Balas Lia ikut melihat-lihat kota.
“Kau tahu banyak juga, Lia. Dari mana kau tahu hal itu?” Ujar Leo bertanya kepada Lia.
“... Hanya mendengarnya dari seseorang. Dan juga, menurut sejarah, dulu kota ini merupakan pusat pertambangan kerajaan kuno.” Jawab Lia mengalihkan matanya sebelum menambahkan.
“Kerajaan kuno? Aku belum pernah dengar soal itu.”
“Konon katanya, kerajaan itu sangat maju, namun kerajaan itu hancur tak bersisa karena suatu kejadian yang tidak diketahui.”
“Kejadian yang tidak diketahui? Apa itu semacam bencana alam?”
“... Entahlah. Aku juga tidak tahu.”
Untuk sejenak Leo penasaran mengenai sejarah dari kota tua ini. Jika menurut cerita Lia, kota ini adalah salah satu peninggalan kerajaan kuno yang pernah berjaya di atas kerajaan saat ini. Banyak hal yang menarik perhatiannya, sebagai contohnya adalah arsitektur beberapa bangunan kota yang terlihat berbeda dan unik dengan kesan kuno yang masih dapat terasa.
“Begitu ya. Mungkin aku akan tertarik mempelajarinya. Rupanya wawasanmu sangat luas, Lia.” Ujar Leo sejenak merenung sebelum melihat ke arahnya dan tersenyum.
“... Aku hanya mempelajarinya dari sekolah.” Balas Lia memalingkan wajahnya malu.
“Sekolah, huh? Aku sering mendengar hanya orang kaya dan orang kalangan atas saja yang bisa bersekolah...” Balas Leo bergumam mengalihkan pikirannya.
Bagi orang dengan status sosial tinggi sepertinya tidak heran bisa mengenyam pendidikan yang layak. Meski Leo tidak benar-benar tahu latar belakangnya, tetapi dengan fakta ini, ia bisa menjadikannya sebagai petunjuk untuk mencari tahu siapa sebenarnya Lia.
Kembali pada saat sebelum mereka sampai di kota Hilbern, Leo yang baru saja sembuh memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya untuk mencari tahu siapa dan di mana keluarga Lia. Ia mencoba bergegas pergi, namun tanpa diduga Lia datang mencoba menghentikannya.
“Kau yakin dengan ini, Leo? Kau baru saja sembuh, mungkin kau harus istirahat lebih lama lagi untuk memulihkan keadaanmu.” Ujar Lia dengan wajah cemas berusaha membujuk Leo.
“Aku sudah baik-baik saja. Lebih baik aku tidak membuang waktu lebih lama untuk tinggal di sini. Masih ada pekerjaan yang harus kulakukan. Kau boleh tinggal selama yang kau mau, tapi sebisa mungkin beri aku kabar jika kau meninggalkan kota ini. Aku akan segera menemuimu jika urusanku sudah selesai.” Balas Leo mengemasi barang-barangnya.
“Pekerjaan..? Pekerjaan apa yang kau maksud? Apakah pekerjaan itu lebih penting dari kesehatanmu sendiri?” Balas Lia dengan nada marah.
“....”
Leo mengerti bagaimana kekhawatiran Lia mengenai dirinya. Tetapi, ia juga tidak bisa memberitahunya bahwa ia akan pergi mencari informasi mengenai dirinya dan rumahnya. Ia sudah berjanji kepada Zille untuk menjaga Lia dan membawanya kembali dengan selamat.
“Jika kau tidak bisa menjawabnya, maka katakan kepadaku apa alasanmu. Kenapa kau ingin meninggalkanku sendirian di sini?” Ujar Lia dengan nada kecewa.
“... Aku tidak bisa. Dan juga, aku tidak bermaksud meninggalkanmu. Aku hanya akan pergi beberapa waktu saja.” Balas Leo memalingkan pandangannya mencoba tidak bertatapan dengan Lia.
“Bukankah itu sama saja? Apa pun yang kau katakan, pada akhirnya kita akan berpisah.” Balas Lia dengan wajah sedih.
“Tidak, bukan begitu... Aku hanya...”
Lia menarik lengan baju Leo dengan mata berkaca-kaca seperti seolah memohon untuk tidak meninggalkannya. Entah bagaimana mengatakannya, tetapi semenjak ia kembali dari rumah sakit, sikap Lia kepadanya jadi berubah. Dia lebih sering menunjukkan ekspresinya dari yang semula pendiam dan dingin. Ia tahu bahwa Lia khawatir dengannya, tetapi janji adalah janji. Ia hanya tidak ingin Lia kembali terlibat masalah jika bersama dengannya.
“Jadi selama ini benar... Aku hanya menjadi pengganggu bagimu..?” Ujar Lia dengan wajah sedih.
“K-Kenapa kau berpikir seperti itu...?” Balas Leo terkejut mendengar ucapannya.
“Kalau begitu, aku akan ikut denganmu.” Jawab Lia dengan nada serius.
“Tunggu, apa?” Balas Leo kebingungan.
“Aku akan ikut denganmu, ke mana pun itu.” Jawab Lia dengan tekad bulat.
“Tapi, Lia...”
“Ikut!”
Berulang kali Leo mencoba menghentikannya untuk ikut bersamanya, tetapi itu semua sia-sia saja karena Lia tetap bersikeras untuk pergi bersamanya. Ia tidak mengira bahwa Lia akan bersikap seperti itu hanya untuk memaksanya. Hingga pada akhirnya, Leo setuju untuk membawa Lia bersamanya meski ia harus menutupi niat aslinya.
Saat mereka baru saja meninggalkan penginapan, mereka secara tidak sengaja berpapasan dengan gadis resepsionis Guild petualang yang sebelumnya pernah membantunya. Dia yang melihat mereka berdua lantas menghampiri mereka.
“Ah, kalian berdua, tolong berhenti sebentar. Bisa kita bicara sebentar?” Ujar gadis resepsionis itu berlari menghampiri mereka berdua.
__ADS_1
Leo dan Lia pun menghentikan langkah mereka begitu gadis itu menghampiri mereka.
“Uh... Ada yang bisa kami bantu?” Balas Leo dengan wajah bingung.
“Tolong tunggu sebentar... Ada yang ingin kutanyakan kepada kalian... Kalian hendak pergi ke mana?” Sambung gadis resepsionis itu bertanya dengan nafas berat.
“Entahlah, mungkin ke utara kurasa. Memangnya ada apa?” Jawab Leo dengan wajah ragu.
“Kebetulan sekali...”
“....?”
Leo melihat ke arah Lia dengan perasaan bingung saat gadis resepsionis itu mengatur nafasnya sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Jadi begini, kami dari Guild mendapat pesan dari cabang kami yang berada di kota Hilbern untuk mengutus beberapa petualang.” Sambung gadis resepsionis itu dengan sikap tenang.
“Mereka meminta mengutus petualang? Memangnya ada masalah?” Balas Leo bertanya kepadanya.
“Bisa dibilang begitu... Hilbern merupakan kota pertambangan, sekitar seminggu yang lalu tersebar kabar bahwa terdapat sebuah aktivitas janggal dari dalam pertambangan. Karena sebagian besar penduduk kota adalah penambang dan pedagang, pemerintah kota meminta bantuan kepada Guild petualang untuk membantu menyelidiki masalah tersebut.” Balas gadis resepsionis dengan wajah cemas melanjutkan penjelasan.
“Jadi intinya kamu ingin kami yang menjadi utusan ke sana?” Sambung Lia mengungkapkan kesimpulannya.
“Eh...?” Balas Leo spontan terkejut.
“Ya, bisa dibilang begitu. Singkatnya, kami dari pihak Guild petualang telah menyetujui bahwa kalian yang akan pergi.” Ujar gadis resepsionis menganggukkan kepala.
Leo terkejut mendengar ucapannya. Guild telah menunjuknya bersama dengan Lia untuk mengemban tugas untuk menjadi perwakilan mereka. Sejujurnya ini berlawanan dengan tujuan awal Leo yang berniat mencari informasi mengenai Lia.
“Tunggu sebentar, nona. Kenapa kami yang terpilih? Bukankah ada banyak petualang lain yang lebih berpengalaman dari pada kami?” Balas Leo mencoba menentang keputusannya.
“Awalnya kami berniat mengirim Roff dan kelompoknya. Dia dan kelompoknya adalah petualang peringkat tertinggi di kota ini, tetapi saat ini mereka telah gugur. Maka dari itulah kami menunjuk kalian sebagai pengganti mereka karena prestasi kalian cukup membuktikan bahwa kalian layak disandingkan dengan kelompok Roff.” Jawab gadis resepsionis itu memberikan alasan.
“Tetapi... Kami adalah pengelana... Bukankah itu akan menjadi masalah lain bagi kalian?” Ujar Leo mencoba menolak.
“Tidak, selama kalian resmi terdaftar, di mana pun domisili kalian, status kalian akan tetap sama. Justru petualang pengelana seperti kalian adalah yang paling dibutuhkan. Bagaimana menurutmu, Leonard Ansgred-san? Maukah kau menerima misi ini?”
“....”
Leo terdiam untuk sejenak sambil merenungkannya. Di satu sisi, mungkin ia bisa mendapatkan informasi lebih banyak jika ia meneruskan untuk menjadi petualang. Setelah selesai dengan janjinya untuk membawa Lia pulang dengan selamat, ia masih dapat bekerja sebagai petualang. Dengan demikian, ia tidak perlu lagi berkeliling kota untuk mendapatkan pekerjaan dengan kemungkinan yang tidak menentu.
“(Semoga saja ini bukan pilihan yang salah...)” Ujar Leo dalam hatinya cemas.
Setelah mempertimbangkannya, Leo akhirnya menerima tawaran gadis resepsionis itu. Meski berlawanan dengan niat awalnya, ia memutuskan untuk mengesampingkannya dan menerima tugasnya sebagai petualang.
“Baiklah, kami menerimanya. Kau tidak keberatan bukan, Lia?” Ujar Leo kepada gadis resepsionis sebelum memutar pandangannya pada Lia.
“... Mm. Aku akan ikut bersamamu.” Balas Lia mengangguk setuju.
“Benarkah..? Ini berita bagus. Ah, tolong bawa ino bersamamu...” Ujar gadis resepsionis itu tersenyum senang sebelum memberi Leo sesuatu.
Gadis itu memberikan sebuah surat dengan stempel lilin resmi Guild petualang kepada Leo saat ia bertanya-tanya apa isi surat tersebut.
“Apa ini...?” Tanya Leo melihat surat itu sekilas sebelum melihat padanya.
“Tolong serahkan saja pada resepsionis di sana dan kalian akan tahu.” Balas gadis itu tersenyum.
Dan begitulah bagaimana mereka sampai di kota Hilbern. Leo hanya perlu menyerahkannya kepada resepsionis begitu mereka sampai di Guild. Tetapi, ada satu masalah yang mereka alami saat ini.
“Meski ini kota yang tua, kota ini cukup luas juga...” Gumam Leo melihat sekitar sambil menyeka keringat di pipinya.
“...? Kau mengatakan sesuatu...?” Balas Lia yang tidak sengaja mendengar keluhan Leo.
“Ah. Bukan apa-apa. Untuk sekarang, kita hanya harus menemukan bangunan Guild petualang. Tapi...” Jawab Leo dengan wajah pucat dan bingung.
Mayoritas bangunan di kota ini adalah bangunan lama yang kompleks. Setiap bangunan tampak sama tanpa adanya papan nama yang membedakannya. Itulah yang menyulitkannya selama ini dalam mencari bangunan Guild petualang.
“Sepertinya tidak ada pilihan lain...” Gumam Leo menghela nafas panjang.
Akhirnya mereka pun bertanya pada orang-orang di sekitar untuk menunjukkan jalan. Mereka menghampiri salah satu kios pedagang untuk bertanya kepada penjualnya.
__ADS_1
“Begitu ya... Terima kasih banyak, paman.” Ujar Leo menundukkan kepalanya kepada penjual tersebut.
“Bukan masalah besar. Ngomong-ngomong, apa kalian tertarik dengan buah-buah milikku? Mereka semua segar dan langsung dari kebunnya.” Balas penjual itu sambil menawarkan dagangannya.
“Benar juga... Bisa berikan buah persik itu?” Balas Leo sebelum menunjuk pada buah yang dimaksud.
“Tentu saja!” Ujar pedagang itu dengan wajah senang.
Setelah membeli beberapa buah persik, mereka berdua pun mengikuti jalan yang sebelumnya tunjukkan oleh pedagang itu. Sambil menikmati buah persik yang ia beli sebelumnya ia memberikan satu untuk Lia.
“Kau mau, Lia? Buah persik sangat tepat untuk menghilangkan dahaga setelah perjalanan.” Ujar Leo menawarkan sebuah persik di tangannya.
“...?”
“Ambilah, rasanya sangat menyegarkan.”
Lia pun mengambilnya sebelum akhirnya menggigitnya.
“...!”
Lia terkejut begitu menggigitnya sebelum akhirnya kembali memakannya. Ia terlihat sangat menikmatinya, layaknya seorang anak kecil yang baru saja merasakan makanan kesukaannya. Entah kenapa itu membuatnya terlihat lebih menawan dari biasanya.
“(Dia bisa berekspresi seperti itu rupanya... Entah mengapa itu membuatku lega... Dia juga seorang gadis biasa terlepas dari kemampuan hebat yang ia miliki...)” Ujar Leo dalam hatinya gembira.
Leo tersenyum senang melihat Lia yang menikmati buah persik itu sebelum kembali menawarkannya kepadanya.
“Enak, bukan?” Ujar Leo tersenyum.
“... Mm. Enak dan menyegarkan.” Balas Lia mengangguk senang.
Entah kenapa, perjalanan terasa jadi lebih menyenangkan dengan keberadaan Lia bersamanya. Perjalanan sunyi dan sepi yang biasa Leo alami kini terasa jauh lebih berwarna. Meski ia akan berpisah dengannya nantinya, ia akan mengenang perjalanan ini saat mereka tidak lagi bersama.
Sesampainya di Guild petualang, mereka langsung menemui resepsionis yang ada untuk menyerahkan surat yang mereka bawa sebelumnya.
“Jadi begitu... Leonard-san dan Alicia-san, kalian adalah utusan yang dikirim dari cabang kami di selatan, benar? Kami sangat senang karena kalian menerima permintaan kami, terima kasih banyak.” Ujar gadis resepsionis itu membungkuk kepada mereka berdua.
“Y-Ya. Seperti yang anda katakan. Kami datang untuk membantu penyelidikan.” Balas Leo dengan wajah canggung.
“Kami benar-benar terbantu, seperti yang kalian ketahui, kota kami memang kekurangan sumber daya manusia dalam bidang militer. Sebagian besar penduduk kami adalah penambang, itulah sebabnya kami selalu kesulitan jika ada masalah.” Balas gadis resepsionis menghela nafas panjang dengan wajah cemas.
“Kami akan berusaha sebaik mungkin...” Balas Leo tersenyum pahit.
“Senang mendengarnya. Dari surat yang saya baca, kalian berdua telah mengalahkan Elder Troll seorang diri. Kalian sudah pasti sangat kuat, kami bisa tenang akhirnya.”
“Uh... Y-Ya.”
Leo memikirkan apa yang baru saja resepsionis itu katakan sebelumnya. Alicia, itulah nama yang resepsionis itu tulis untuk Lia, atau setidaknya itulah yang ia yakini. Entah itu nama aslinya atau hanya nama samarannya, tetapi dari sini Leo mulai menduga bahwa ia sengaja menutupi identitas aslinya untuk mencegah pihak ksatria kerajaan mengetahui tentang dirinya.
“Sebelum itu... Bolehkah kami bertanya mengenai latar belakang masalah kita ini?” Sambung Leo bertanya mengalihkan pikirannya.
“Ah, tentu saja. Beberapa minggu yang lalu, kabar terdengar di kalangan penambang mengenai guncangan yang selalu mereka rasakan setiap kali menambang. Awalnya mereka mengira kalau itu hanya pergerakan lempeng bumi yang biasa terjadi, tetapi kejadian aneh mulai bermunculan sejak peristiwa tersebut...” Balas resepsionis itu menceritakan apa yang sebelumnya terjadi.
“Kejadian aneh...?” Tanya Leo penasaran.
“Ya, banyak kejadian janggal yang sering terjadi di sana. Mulai dari kemunculan tanaman misterius yang memancarkan cahaya, disusul dengan kemunculan makhluk aneh dengan tubuh diselimuti kristal dan bijih logam. Tak jarang makhluk-makhluk itu menyerang penambang hingga membuat pemerintah kota terpaksa menutupnya untuk sementara waktu.” Jawab resepsionis dengan wajah gelisah.
“Begitu ya...” Gumam Leo sambil mengerutkan alisnya.
Dari cerita, bisa disimpulkan ada sesuatu yang mendasari kedua kejadian tersebut. Sama seperti pada kasus Elder Troll, guncangan misterius itu juga merupakan pertanda yang menguatkan dugaan Leo. Untuk kemunculan makhluk kristal itu, ia masih belum bisa memastikannya sampai bertemu langsung dengan mereka.
“Lalu, bagaimana kondisi di sana saat ini? Apa tanggapan pemerintah kota mengenai masalah ini?” Sambung Lia bertanya kepada resepsionis.
“Untuk saat ini, pemerintah kota hanya menyiagakan prajurit di sana. Walikota juga sudah mengabarkan masalah ini ke kerajaan dan meminta bantuan jika keadaan memburuk.” Jawab resepsionis kepada Lia.
“.... Begitu rupanya.” Balas Lia singkat memalingkan pandangannya.
“Baiklah, kurang lebihnya kami paham akan situasinya. Kami akan segara menuju ke sana.” Ujar Leo setelah memikirkannya matang-matang.
“Kalau begitu, semoga berhasil. Saya mendoakan keselamatan kalian berdua.” Balas resepsionis itu menggenggam kedua tangannya di dada.
__ADS_1
Dengan demikian, mereka berdua pun berangkat menuju pertambangan yang menjadi pusat masalah. Dibalik kejanggalan itu, apakah yang akan menanti mereka berdua nantinya?