Black Arc Saga

Black Arc Saga
Alat perang


__ADS_3

... ...


Aura di sekitarnya mendadak berubah drastis ketika Olivia menunjukkan penampilan barunya. Hal ini bisa terjadi karena mantra sihir yang terukir dipunggungnya. Selain sebagai bukti kontraknya dengan tuannya, mantra tersebut juga merupakan mantra yang digunakan untuk melepas atau menekan kekuatannya. Mantra ini akan aktif dengan sendirinya jika Olivia merasakan bahaya mengancam tuannya. Dan apabila sihir tersebut aktif, ia akan melepaskan seluruh penahan yang membatasinya dan mengeluarkan kekuatannya yang sesungguhnya. Ia akan kehilangan perasaan serta kepribadiannya dan menjadi senjata seutuhnya. Inilah wujud Olivia yang sebenarnya.


 


Olivia mengangkat salah satu tangannya ke udara sesaat sebelum sebuah rangkaian sihir tercipta tepat di bawah kakinya ketika ia merapalkan sebuah mantra.


 


“Veldextensie: Zero Gravity.”


 


Bersamaan dengan hal tersebut, kekuatan sihir yang hebat menyebar ke seluruh penjuru lembah sesaat sebelum fenomena yang tidak masuk akal terjadi. Hanya selang beberapa saat setelah Olivia melepaskan sihirnya, semua hal yang ada di sekitarnya menjadi kehilangan beban dan melayang perlahan layaknya melepaskan diri dari hukum alam yang ada. Bebatuan dan kerikil yang ada di sekitar tempat Lia berdiri juga turut terkena efeknya bahkan termasuk dirinya sendiri. Ia melayang dengan sendirinya mengapung di udara saat pikirannya dikejutkan melihat kenyataan yang tengah menimpanya.


 


“(A-Apa ini...?! Tubuhku melayang dengan sendirinya...! Apa mungkin ini adalah efek sihir Olivia...?)” Ujar Lia dalam hatinya panik kebingungan.


 


Ia tidak tahu sihir apa yang dia gunakan, tetapi dengan radius seluas ini, tidak salah lagi ini adalah salah satu sihir tingkat tinggi yang hilang. Mengingat Olivia adalah peninggalan peradaban kuno, tidak menutup kemungkinan bahwa ia menguasai beberapa sihir kuno yang kini telah dianggap hilang.


 


Efek dari sihir itu perlahan mencapai tempat Leo berada. Ia yang awalnya terjun bebas dengan kecepatan tinggi, kini perlahan-lahan kehilangan kecepatannya. Sihir yang mengejarnya pun ikut mengalami penurunan kecepatan yang signifikan sesaat sebelum sang naga yang menyadarinya dibuat kebingungan olehnya.


 


“(Þessir töfrar...)


 


Naga itu lantas memalingkan pandangannya menuju sumber sihir ini berasal sebelum ia mendapati bahwa Olivia adalah orang yang bertanggung jawab atas semua hal ini. Namun, tidak seperti sebelumnya, penampilan serta aura sihirnya kini menjadi berubah. Ia terasa jauh lebih kuat dari yang sebelumnya membuat naga itu menjadi waspada terhadapnya.


 


Berhasil menghentikan semua serangannya, Olivia lantas merapalkan mantra pelindung kepada Leo sebelum akhirnya ia melepaskan serangannya. Ia kembali mengangkat tangannya sesaat sebelum ia mengubah anomali yang ada menjadi senjatanya.


 


“Veldextensie: Judgment of Gravity.”


 


Tepat ketika ia menjatuhkan tangannya, medan gaya yang ada di seluruh tempat itu seketika menjadi jauh lebih kuat. Semua yang ada dalam jangkauannya seketika tertarik jatuh ke tanah dengan kekuatan yang luar biasa layaknya ditekan oleh sesuatu yang tidak kasat mata. Seluruh benda yang sebelumnya melayang ke udara dipaksa jatuh ke tanah bahkan termasuk sang naga dan Lia yang berada dalam jangkauan sihirnya. Ia menghantam tanah dengan keras hingga menyebabkan tanah di sekelilingnya amblas dan retak.


 


“(A-Aku tidak bisa bergerak...! Kekuatan apa sebenarnya ini...!)” Ujar Lia dalam hatinya panik.


 


Meski demikian, Luka yang dialaminya masih terbilang ringan mengingat jarak antara dirinya dengan permukaan tanah masih sempit. Sebaliknya, keadaan sang naga justru yang paling parah. Ia terjatuh dan menyebabkan guncangan yang hebat setelah ia dipaksa jatuh dari ketinggian puluhan hingga ratusan meter dari permukaan tanah. Lubang besar selebar puluhan meter tercipta di tempatnya mendarat menyebabkan beberapa luka serius di beberapa bagian tubuhnya.


 


“Grrrrr...!!”


 


Terlihat sayapnya robek di beberapa sudutnya dan beberapa sisiknya hancur sebagai akibat ia jatuh. Ia berusaha melawan kekuatan sihir yang menahannya, namun bahkan dengan kekuatan naganya, ia tidak mampu lepas dari kekangannya.


 


“Rrrrrrrr...!!”


 


Meski demikian, naga itu tidak lantas menyerah. Ia meraung mengeluarkan segenap kekuatannya untuk melawan pengaruh sihir yang mengekangnya. Ia bahkan menggunakan sihirnya sendiri untuk membuat medan gaya yang menangkal balik efeknya, namun pada akhirnya semua usahanya sia-sia. Sihir itu sama sekali tidak terpengaruh oleh sihir miliknya.


 


Olivia melihat ke arah Leo yang tengah melayang di udara sesaat sebelum ia mengulurkan tangannya ke arahnya sambil merapalkan sebuah mantra.


 


“Summon: Shard of Chaos.”


 


Secara bersamaan, lingkaran sihir pemanggil muncul di sekelilingnya memanggil lempengan-lempengan logam yang berbentuk seperti mata tombak. Ia lalu mengirimnya menuju Leo sebelum akhirnya lempengan-lempengan logam itu bersatu menjadi membentuk piringan bundar layaknya sebuah perisai yang melayang tepat di bawahnya. Olivia melepaskan sihir yang mengikat Leo sesaat sebelum piringan logam itu menangkapnya yang hendak jatuh dan membawanya menjauh dari area pertempuran. Dan setelah menurunkannya dengan selamat, Olivia memanggil lempengan-lempengan logam itu kembali ke sisinya, siap untuk mengakhiri pertarungan.


 


“Mode penghancuran, dimulai... Target terkunci, memulai rangkaian serangan...”


 


Logam-logam itu berjajaran menghadap langsung ke arah sang naga yang terjebak sesaat sebelum sejumlah besar kekuatan sihir berkumpul pada masing-masing ujungnya saat Olivia mengarahkan tangannya ke arahnya. Sang naga yang merasa terancam lantas mengeluarkan sihir miliknya untuk menghentikan niatnya, ia memperluas medan sihirnya sesaat sebelum menggunakan kemampuannya dalam mengendalikan api untuk menciptakan medan panas. Seluruh area yang ada di sekitarnya seketika menguap oleh suhu yang sangat tinggi. Tanah yang ada dalam jangkauannya meleleh menjadi gumpalan lahar menyebabkan seluruh area menguap karena suhu yang sangat tinggi.


 


“Kejadian Abnormal terdeteksi, status waspada ditetapkan. Membuat jarak dengan target...”


 


Menyadari bahaya tersebut, Olivia lantas melayang mundur menjauh dari jangkauan sihir sang naga. Menahan suhu dengan sihir memang mungkin dilakukan, namun itu bukanlah bahaya yang ia pikirkan. Alasan mengapa ia melakukannya adalah karena naga itu berniat melebur senjata-senjata yang Olivia panggil karena dia merasa benda tersebut cukup kuat untuk bisa menembus sisik bajanya. Itulah mengapa Olivia memilih menjauh dari pada menahan sihir tersebut.


 


“Target terdeteksi melakukan perlawanan, meningkatkan kemampuan gravitasi pada area target...”


 


Hanya selang beberapa saat setelah ia mengatakannya, kekuatan tekanan yang ada pada naga itu menguat. Naga itu kini benar-benar terbaring di atas tanah akibat gaya tekan yang menimpanya puluhan kali lebih besar dari yang semula. Ia bahkan sampai tidak bisa menggerakkan jarinya sedikit pun menunjukkan seberapa kuat tekanan yang menimpanya.


 


“Grrrrr...!”


 

__ADS_1


Akan tetapi, sebagai akibat penambahan beban, ia terpaksa mempersempit ruang lingkup sihirnya. Karena memusatkan seluruh medan gaya dan kekuatannya hanya pada sang naga, hal itu membuat medan gaya yang menahan Lia kini menghilang. Ia akhirnya bisa bebas dari belenggu tekanan itu setelah berjuang menahannya.


 


“Nhaa...! Hah...! Hah...!”


 


Lia akhirnya bisa menarik nafas lega setelah beban yang menekan tubuhnya selama ini menghilang meski ia harus kehilangan sebagian besar tenaganya.


 


“(Entah apa yang terjadi, tapi sepertinya tekanan itu sudah menghilang... Kini aku bisa bergerak normal sekarang...)” Ujar Lia dalam hatinya menghela nafas lega.


 


Dengan lepasnya jeratan sihir yang mengekangnya, kini Lia bisa fokus menolong Leo yang sebelumnya terluka akibat bertarung melawan naga itu. Walau sejujurnya ia masih ragu akan status Olivia saat ini, namun Leo sedang membutuhkan pertolongan. Ia tidak punya waktu untuk ragu saat ini.


 


“(Olivia... Dalam kondisinya sekarang, aku tidak bisa memastikan dia teman atau lawan. Tetapi, untuk saat ini keadaan Leo jauh lebih penting. Seseorang harus menolongnya...!)” Ujar Lia dalam hatinya menguatkan tekadnya.


 


Lia mengambil langkah memutar guna menghindari dideteksi oleh Olivia sebelum akhirnya ia memacu kecepatannya menuju ke tempat Leo berada.


 


Di sisi lain, setelah berhasil memojokkan sang naga, Olivia memutuskan untuk mengakhirinya. Ia mengumpulkan kembali senjata miliknya sesaat sebelum ia merapalkan mantra pada mereka. Cahaya hitam kemerahan menyelimuti lempengan logam tersebut sesaat sebelum akhirnya ia menembakkan mereka satu persatu ke arahnya.


 


“....!!”


 


Merasa terancam, sang naga lantas menciptakan medan sihir untuk melindungi dirinya dari serangan tersebut. Hanya selang beberapa saat setelah ia menciptakannya, logam itu menghantamnya dengan keras menciptakan dengung yang memekakkan telinga. Meski telah mengerahkan seluruh kekuatannya, medan sihir sang naga benar-benar sulit ditembus.


 


“....”


 


Akan tetapi, Olivia sudah menyadari hal tersebut sebelumnya. Ia menarik kembali senjata yang telah ia lancarkan sesaat sebelum ia merapalkan sebuah mantra untuk melawan perisai sihirnya.


 


“Enchant: Nihilus Sparks.”


 


Bintik-bintik cahaya seketika menyelimuti area di sekitar medan sihir sang naga layaknya sekumpulan kunang-kunang saat lingkaran sihir tercipta tepat di bawah kakinya. Dan hanya selang beberapa saat setelahnya, kilauan cahaya itu meledak satu persatu menciptakan rangkaian ledakan yang membentuk sebuah ledakan raksasa. Ledakan yang sangat dahsyat itu menyebabkan guncangan pada seisi lembah hingga membuat beberapa tebing yang ada di sekitarnya mengalami longsor.


 


“...!!”


 


 


“Hngh...! Ledakan lagi...? Olivia benar-benar tidak menahan diri kali ini...” Gumam Lia menoleh ke belakang dengan ekspresi cemas.


 


Dalam sekejap mata seluruh area yang ada di sekitarnya hancur menyisakan kawah besar di tanah saat Lia memalingkan pandangannya. Ia beruntung sempat menjauh sebelum Olivia menggunakan sihir tersebut sehingga ia menerima dampak ringan dari serangannya.


 


“(Ini bukan saatnya untuk berhenti...! Leo membutuhkan bantuan...!)” Ujar Lia dalam hatinya mencoba kembali fokus.


 


Mengabaikan apa yang ada di belakang sana, Lia kembali melanjutkan perjalanannya untuk menolong Leo. Ia tidak ingin memikirkan apa yang sedang terjadi di sana karena semuanya yang ada di sana sudah di luar bayangannya.


 


Naga itu hanya bisa menghela nafas berat setelah ledakan dahsyat itu menghantamnya. Dengan tubuh penuh luka, ia mencoba tetap bertahan walau sihir yang melindunginya telah hancur. Ledakan barusan berhasil menembus pertahanan sihirnya dan sebagai hasilnya, kini ia hanya bisa terbaring lemah dengan tubuh penuh dengan luka. Walau ia tidak ingin mengakuinya, namun kekuatan Olivia patut ditakuti. Kekuatan penghancurnya melebihi kekuatan yang dimilikinya sebagai seekor naga.


 


“Er ég að tapa... Með þessum skepnum...?”


 


Ketika sang naga menanyakan pertanyaan itu, secara mengejutkan salah satu senjata milik Olivia menembus lehernya membuatnya seketika menahan nafas saat senjata lain berdatangan menusuk dirinya. Sisik bajanya dengan mudah ditembus oleh logam itu sesaat sebelum ia meraung menahan rasa sakit yang dirasakannya.


 


“Rrrrrr...!!”


 


Dengan sisa-sisa kesadarannya, ia menyaksikan Olivia perlahan berjalan menghampirinya sesaat sebelum ia menarik kembali senjata-senjata itu dari tubuhnya. Pada titik ini, sang naga akhirnya menyadari bahwa waktunya sudah dekat. Ia akan mati di tangannya sebagai akibat dari kelemahannya sendiri. Meski ia tidak ingin mengakuinya, tetapi ini adalah kekalahannya.


 


Di sisi lain, Leo yang tidak sadarkan diri saat ini tengah berada di alam bawah sadarnya. Saat ia membuka matanya, ia mendapati berada di sebuah tempat yang gelap gulita tanpa ada cahaya sedikit pun.


 


“Ini... Tempat apa ini...? Kenapa aku bisa ada di sini...?” Gumam Leo dengan wajah bingung.


 


Tidak ada hal lain lagi yang bisa di lihat di sana selain kegelapan dan kehampaan. Ia bahkan tidak bisa merasakan apa-apa dari tubuhnya termasuk dingin atau panas. Ia tidak ingat bagaimana ia bisa berakhir di tempat ini, namun yang jelas ia merasa kalau ini bukan kali pertamanya datang ke tempat ini.


 


“Terasa asing, namun juga terasa familiar... Perasaan macam apa yang kurasakan ini...? Apa aku pernah kemari sebelumnya...?” Tanya Leo pada dirinya sendiri.


 

__ADS_1


Ia mencoba mengingatnya, namun pada akhirnya tidak ada petunjuk yang berarti. Ia benar-benar tersesat saat ini.


 


Leo mencoba menelusuri tempat itu hanya berbekal rasa ingin tahunya sesaat sebelum ia mendengar sesosok suara misterius bicara kepadanya.


 


[Kau benar-benar sial, manusia... Para dewa sepertinya membencimu...]


 


Mendengar suara tersebut, Leo seketika menghentikan langkahnya dan melihat sekelilingnya dengan waspada sesaat sebelum suara itu kembali bicara kepadanya.


 


[Manusia sepertimu tidak lain hanya bidak permainan bagi para dewa... Tidak diragukan lagi, jika mereka masih hidup sampai saat ini...]


 


“Siapa kau...!”


 


[Itu tidak penting... Sekarang bukan waktunya untuk bertanya omong kosong, masih ada tugas yang harus kau lakukan...]


 


“Tunggu, apa maksudmu...?”


 


[Sampai saat itu terjadi, takdir kematian tidak akan pernah menyentuhmu... Tidak akan kubiarkan...]


 


Hanya selang setelah ia mengatakannya, secara mengejutkan Leo kembali pada kesadarannya. Ia membuka matanya perlahan saat Lia menyambutnya dengan senyum bahagia menyadari bahwa dirinya masih selamat.


 


“Leo, syukurlah... Aku hampir berpikir aku sudah kehilanganmu...” Ujar Lia dengan wajah gembira.


 


“Lia...? Di mana ini...? Apa yang telah terjadi padaku...?” Tanya Leo dengan wajah bingung.


 


“Mengenai hal itu...”


 


“...??”


 


Tepat ketika Leo menanyakan pertanyaan itu, rasa sakit yang luar biasa menyerangnya saat ia berniat bangun dari posisinya. Ketika ia melihat ke bawah tubuhnya, ia seketika terkejut saat menyadari bahwa di tubuhnya terdapat luka yang parah. Hal itu memicu ingatannya kembali mengenai kejadian ketika ia mendapatkan luka tersebut.


 


“Benar juga... Naga itu menggigitku dengan rahangnya... Lalu kemudian aku melawan balik... Ugh, aku tidak mengingat apa yang terjadi setelahnya...” Gumam Leo sambil memegang kepalanya.


 


“Setelah itu, kau melayang jatuh dikejar oleh naga itu dan selanjutnya Olivia...” Balas Lia menceritakan kejadian yang sebenarnya dengan wajah kecewa.


 


“Olivia...? Apa yang terjadi padanya...?” Balas Leo dengan ekspresi cemas.


 


“....”


 


“Lia...?”


 


Lia memalingkan pandangannya ke arah yang berlawanan sesaat sebelum Leo ikut melihat ke arah yang sama dengannya. Ia terkejut begitu melihat apa yang Lia tunjukkan kepadanya. Ia melihat naga itu tertunduk di tanah di hadapan seorang gadis berambut putih dengan zirah hitam beserta benda melayang aneh yang menyertainya.


 


“Tunggu dulu... Jangan katakan... Itu adalah Olivia...?!” Ujar Leo dengan wajah terkejut.


 


“... Aku takut, iya.” Balas Lia dengan wajah kecewa.


 


“Apa yang terjadi...? Kenapa dia berubah seperti itu...?” Balas Leo bertanya dengan nada tinggi.


 


“... Saat melihatmu nyaris terbunuh, dia tiba-tiba berubah seperti itu.”


 


“Apa...?”


 


“Kemungkinan besar, itu adalah kekuatannya yang selama ini ia sembunyikan. Ia melepaskannya karena merasa kau berada dalam bahaya, setidaknya itulah dugaanku terhadapnya...”


 


Jika ucapan Lia benar, maka itu artinya kecurigaan mereka selama ini benar. Alasan kenapa Olivia berada di dalam reruntuhan tersebut tidak lain dan tidak bukan karena untuk menyegelnya. Ia adalah senjata yang diciptakan oleh orang-orang dari kerajaan kuno itu sekaligus alasan mengapa reruntuhan tersebut dibangun. Jawaban atas pertanyaan mengapa dia tersegel ada di hadapan mereka berdua saat ini. Itu karena kekuatan penghancur yang dimilikinya di luar kendali manusia. Terlihat bagaimana ia seorang bisa mengimbangi dan bahkan melampaui seekor naga tingkat tinggi sepertinya. Itu adalah kekuatan yang melampaui manusia.


 


“(Jadi itu adalah sosoknya yang sesungguhnya...? Olivia, apa ini yang selama ini kau sembunyikan...?)” Ujar Leo dalam hatinya terkesima.

__ADS_1


 


Leo tidak mengira bahwa akan seperti ini jadinya. Apa yang selama ini ia curigai tentangnya ternyata benar. Kenyataan bahwa Olivia adalah alat perang sudah tidak bisa dipungkiri lagi.


__ADS_2