Black Arc Saga

Black Arc Saga
Duel


__ADS_3

Leo yang tertangkap kini terpaksa dihadapkan dengan pilihan sulit ketika pemimpin mereka tepat di hadapannya. Melawan mereka terdengar tidak masuk akal dalam kondisinya sekarang. Begitu pula dengan melarikan diri, itu bukan pilihan yang tepat untuk saat ini. Ia benar-benar dalam keadaan yang tidak menguntungkan.


 


Pria bertubuh besar itu berjalan perlahan menghampiri Leo sebelum mengamatinya. Ia berjalan memutarinya ketika ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.


 


“Ho...? Apa itu di sakumu...? Mari kita lihat apa yang kau sembunyikan...” Ujarnya meraih saku Leo mengambil lencananya.


 


“....”


 


Begitu mengambil benda yang Leo sembunyikan di sakunya, pria bertubuh besar itu terkejut sebelum akhirnya tersenyum senang.


 


“Kau juga petualang rupanya. Dan tidak hanya itu, kau petualang Argentite. Ini sangat menarik...” Ujar pria itu tertawa.


 


“....”


 


Anak buahnya terkejut dan turut merasa senang mengetahui bahwa Leo merupakan seorang petualang tingkat Argentite.


 


“Oi. Oi. Kau pasti bercanda... Orang seburuk dia adalah petualang Argentite...? Ini benar-benar lucu...!” Ujar salah seorang anak buah tertawa.


 


“Benar-benar lucu...! Orang kampungan ini adalah petualang tingkat menengah, ahahaha...!” Sambung yang lain ikut tertawa.


 


“Berapa banyak yang kau suap agar Guild petualang mendengar rengekanmu?” Ujar yang lain menghinanya.


 


“Aku yakin orang ini meminta pada ayahnya sambil menangis di pangkuan ibunya...!” Ujar yang lain ikut menghina.


 


Leo tidak bergeming mendengar hinaan dan ejekan mereka. Justru ia melihat kesempatan ini sebagai peluang yang bisa dimanfaatkan untuk membuat celah. Ia berusaha mengambil kembali lencananya dari pria itu dengan tingkah bodohnya ketika mereka semua menertawakannya.


 


“Ada apa...? Kau ingin mengambil ini...? Coba saja kalau kau bisa...” Ujar pria itu sambil mempermainkannya.


 


“....”


 


“Haha...! Dasar lambat...! Goblin saja lebih baik darimu—“


 


Pada saat yang sama, secara tidak terduga Leo melancarkan tendangan tepat ke arahnya. Namun, pria itu sudah menduganya dan dengan sigap menangkisnya dengan tangannya.


 


“Dasar payah! Kau kira tipuan ini berlaku untukku—“


 


Tepat ketika ia berusaha menahan tendangan Leo, secara mengejutkan tubuhnya terdorong oleh perbedaan kekuatan di antara mereka. Tendangannya jauh lebih kuat dari apa yang terlihat hingga membuat tubuhnya goyah dari posisinya.


 


“(A-apa ini...?! Kuat sekali...!)” Ujar pria itu terkejut dalam hatinya.


 


Ia yang hampir jatuh dengan sigap menggeser kaki kanannya sebagai penopang agar tidak terbawa oleh serangannya. Namun, pada saat yang sama pula, Leo melancarkan tendangan dari kaki lainnya dari sisi yang berlainan. Seketika itu pula tendangan itu menghantam rahang bagian bawah kanan wajahnya hingga membuatnya terlempar naik tepat sebelum Leo mengayunkan tendangan lainnya ke arahnya.


 


“Ughh...!!”


 


Sontak pria itu terlempar jauh setelah menerima tendangan itu ketika Leo menangkap kembali lencananya yang lepas dari tangannya dan terlempar ke udara. Seketika itu pula seluruh anak buahnya yang menyaksikan hal tersebut hanya bisa terperanga melihat apa yang Leo lakukan pada pemimpin mereka.


 


“B-Bos... Bos dilempar olehnya...” Gumam salah seorang anak buah terkesima dengan wajah pucat.


 


“K-Kekuatan macam apa itu...!” Ujar yang lain dengan ekspresi terkejut.


 


“I-Ini mustahil...!”


 


Pandangan mereka terhadap Leo seketika berubah setelah menyaksikan apa yang baru saja terjadi. Niat mereka untuk mengejeknya menghilang tergantikan oleh rasa takut mereka terhadapnya.


 


“Kukira tubuhmu akan seberat Orc atau Hobgoblin, kurasa aku salah...” Ujar Leo menatap pria itu.


 


“... Heh. Menarik. Ini benar-benar menarik...” Gumam pria itu bangun dari tempatnya.


 


Pria itu mulai terkikik sebelum akhirnya tertawa ketika ia bangun dari tempatnya dengan bermandikan debu.


 


“Jarang-jarang aku bisa menemukan orang menarik sepertimu...” Ujar pria itu tertawa sambil menyeka bibirnya.


 


“Ho? Aku tidak pernah berpikir ingin bertemu orang sepertimu.” Balas Leo ekspresi nada dingin.


 


Mendengar hal itu, seluruh anak buahnya seketika berniat menyerang Leo secara bersamaan. Namun, secara mengejutkan pria itu menghentikan niat mereka dengan memberi mereka perintah untuk mundur.


 


“Hentikan dasar kalian sampah! Dia milikku! Hanya aku yang boleh bertarung dengannya!” Seru pria itu dengan nada tinggi kepada anak buahnya.


 


“T-Tapi bos, dia...” Balas salah seorang anak buahnya menentang.


 


“Aku tidak mengatakannya dua kali! Mundur atau kalian akan kuhabisi!” Balasnya dengan wajah marah.


 


Dengan ekspresi ketakutan, mereka pun mengikuti perintahnya dan dengan segera menjaga jarak dari Leo, menyisakan dirinya dengan Leo seorang.


 


“Dengan begini tidak akan ada yang mengganggu...” Ujar pria itu berjalan kembali ke arah Leo.


 


Leo memasang posisi bertarungnya ketika pria itu berjalan menuju arahnya. Sepertinya hanya ada satu kemungkinan yang bisa ia pikirkan saat ini setelah melihat perkembangan situasinya.


 


“(Duel, huh...? Tidak ada kemungkinan lain selain itu...)” Ujar Leo dalam hatinya menebak.


 


Meski duel bukan hal yang asing bagi Leo, namun ia merasa ini akan menjadi duel yang tidak mudah. Melawan monster memang satu hal, namun melawan manusia lebih sulit dari hal itu. Terlebih, dalam keadaan ini, rasanya akan sulit bagi Leo mengalahkannya yang diberkati oleh Skill.


 


Sementara itu, Lia yang baru saja terbangun menyadari bahwa Leo tidak berada di sisinya. Dengan wajah kebingungan bercampur panik ia melihat sekitarnya guna mencarinya.


 


“Leo...! Di mana kau...? Aku berada di atas pohon...? Kenapa bisa aku berada di atas sini...?” Gumam Lia panik melihat keadaannya.


 


Dengan wajah cemas ia mencoba turun dari dahan itu untuk mencari Leo. Namun, bukannya Leo yang ia temukan, Lia justru menemukan jasad seseorang terbaring di tepi sungai.


 


“(Itu mayat...?! Sejak kapan ada di sana...?!)” Ujar Lia dalam hatinya terkejut.


 


Ia pun menghampiri mayat itu untuk memeriksanya sekaligus mencari petunjuk mengenai Leo. Meski agak ragu, Lia merasa mayat pria itu ada hubungannya dengan menghilangnya Leo.


 


“(Lencana ini... Tidak salah lagi orang ini adalah petualang. Dari keadaannya, dia tewas dibunuh dan sempat hanyut di sungai ini sebelum akhirnya diseret naik oleh seseorang... )” Ujar Lia dalam hati sambil memeriksa mayat itu.


 

__ADS_1


Kemungkinan besar Leo orang yang pertama kali menemukannya. Dan setelah mengetahuinya, ia pun memutuskan untuk memeriksa penyebab kematiannya, setidaknya itulah yang Lia duga. Ia cukup yakin bahwa Leo pergi untuk alasan itu sekaligus alasan kenapa dia meninggalkannya di atas pohon.


 


“(Hulu... Aku yakin dia pergi ke sana sambil berpikir bahwa dia akan menemukan jawaban kematiannya di sana...)” Sambung Lia dalam hatinya melihat ke arah hulu sungai.


 


Entah sudah berapa lama dia pergi, namun Lia merasakan perasaan kurang mengenakkan. Ia tidak bermaksud berburuk sangka, namun sesuatu seperti mengatakan bahwa saat ini Leo tengah dalam situasi yang berbahaya. Ia berusaha mengusir pikiran itu menjauh darinya sebelum akhirnya memutuskan untuk ikut menyusulnya.


 


“Baiklah. Aku akan mengikuti sungai ini juga.” Gumam Lia membulatkan hatinya.


 


Bersamaan dengan hal itu, secara kebetulan wanita petualang yang sebelumnya kabur dari perampok itu bertemu dengan Lia dalam perjalanannya mencari bantuan. Wajahnya terlihat sangat pucat dengan pakaiannya yang lusuh dan berlumuran darah membuat Lia memutuskan untuk menghampirinya menolongnya.


 


“Hah... Hah... Hah...”


 


“Kau yang di sana...!”


 


“....?!”


 


“Apa yang terjadi denganmu...?”


 


Wanita itu hanya terdiam ketika melihat Lia menghampirinya. Untuk sekilas wanita itu terlihat memerhatikan penampilannya sebelum Lia kembali bicara kepadanya.


 


“Apa yang menimpamu...? Kenapa kau menjadi seperti ini...?” Tanya Lia dengan ekspresi serius meraih bahunya.


 


“Kau... Apa kau juga petualang...?” Balas wanita itu berbalik bertanya kepadanya.


 


“.... Apa yang membuatmu berpikir begitu?” Balas Lia melepaskan tangannya dengan wajah curiga.


 


“Seorang wanita menggunakan pedang sudah jelas menunjukkan bahwa dia adalah petualang. Jadi, apa peringkatmu?”


 


“... Apa yang membuatmu bertanya begitu? Kenapa kau pikir aku akan menjawabnya?”


 


“Jika kau petualang Ornite, maka tolong bantulah aku. Ada seseorang yang tengah membutuhkan bantuan di depan sana...”


 


“... Kau mencurigai seseorang dan kini kau minta bantuan darinya? Itu tidak logis sama sekali...”


 


Merasa curiga, Lia meletakkan tangannya pada pedangnya selagi mencoba menjaga jarak darinya. Dalam keadaannya saat ini, bertarung adalah hal yang sulit dilakukan baginya. Dengan lukanya yang masih belum sepenuhnya sembuh, melawannya akan menjadi masalah yang cukup merepotkan baginya.


 


“(Meski aku sebisa mungkin tidak ingin bertarung, tetapi melihat tingkah lakunya membuatku merasa curiga... Sebaiknya aku berhati-hati sampai aku mengetahui tujuannya...)” Ujar Lia dalam hatinya waspada.


 


Melihat Lia yang memasang posisi siaganya, wanita itu pun mencoba kembali bicara dengannya sambil menjelaskan situasinya.


 


“Begini... Aku adalah petualang, aku bisa membuktikannya... Ini adalah lencana petualangku. Aku bukan orang mencurigakan atau sebagainya...” Ujar wanita itu menunjukkan lencana petualang miliknya.


 


“... Aku sudah banyak mendengar tentang trik itu. Kau mencuri lencana petualang lain dan menggunakannya sebagai identitas palsu untuk menipu orang. Itu tidak akan bekerja padaku.” Balas Lia dengan nada sinis.


 


“Tolong percayalah...! Aku memang petualang...! Aku dan party-ku menerima permintaan untuk mengawal karavan, tetapi kami diserang oleh sekelompok perampok dan semua temanku dibunuh menyisakan aku seorang...”


 


“... Cerita yang menarik. Tapi aku tidak percaya semudah itu.”


 


 


Lia seketika terkejut mendengar ciri fisik yang disebutkan oleh wanita tersebut.


 


“Kau bilang pria berambut putih...?! Jelaskan lebih rinci tentang pria itu...!” Ujar Lia dengan wajah panik.


 


“U-Uh... Dia pria berambut putih bersih dan kurasa dia memiliki warna mata perak... Entahlah, aku hanya melihatnya sekilas...” Balas wanita itu mengangguk dengan nada gugup.


 


“.....”


 


“K-Kau baik-baik saja...?” Tanya wanita itu dengan wajah bingung melihat Lia tiba-tiba terdiam.


 


Tidak salah lagi jika ciri fisik yang disebutkan wanita itu mirip dengan sosok Leo. Itu artinya firasatnya benar, Leo tengah dalam masalah menghadapi kelompok perampok itu.


 


“(Itu memang Leo...! Aku harus segera menyusulnya...!)” Ujar Lia dalam hatinya yakin.


 


Lia pun berlari meninggalkan wanita itu setelah mendengar kesaksiannya. Tindakannya itu sontak membuat wanita itu kebingungan ketika ia bertanya-tanya apa yang membuatnya mendadak berubah pikiran terhadapnya.


 


“T-Tunggu...! Kenapa dia berlari begitu saja...” Seru wanita itu memanggil Lia sebelum ia bergumam kebingungan.


 


Selagi kebingungan dengan tindakan Lia, petualang wanita itu berpikir untuk mengejarnya. Namun, tepat ketika ia hendak melangkah menyusulnya, perhatiannya dikejutkan oleh sesosok mayat yang tergeletak di tepian sungai tak jauh dari sana. Ia yang mengenali pakaian mayat itu akhirnya memutuskan untuk menghampirinya untuk memastikannya.


 


“D-Derek...! Itu memang benar kau...!” Ujar wanita itu terkejut mengenali mayat itu.


 


Wanita itu mengenali mayat petualang yang tergeletak di tepi sungai itu. Dia adalah rekan petualangnya yang sebelumnya terbunuh ketika bertarung melawan perampok itu. Ia tidak mengira kalau jasadnya akan hanyut sampai ke tempat ini tepat sebelum akhirnya Leo menemukannya. Ini menjelaskan bagaimana Leo bisa datang ke sana dan menyelamatkannya.


 


“(Jadi semua ini bukan kebetulan...! Pria berambut putih itu memang sudah mengetahui kejadian yang menimpa kami sejak menemukan jasad Derek...!)” Ujar wanita itu dalam hatinya terkejut.


 


Meski Leo tidak bisa menyelamatkan semuanya, setidaknya dia berhasil menyelamatkannya untuk mengetahui kebenaran yang ditinggalkan untuknya. Hal ini membuatnya merasa malu meninggalkannya begitu saja. Meski ia telah diminta untuk mencari bantuan, tidak ada orang lain yang bisa ditemukannya selain Lia yang kini telah pergi meninggalkannya.


 


“(Ini percuma saja... Kota terdekat masih sangat jauh, sementara pria itu tengah berjuang menahan mereka untukku... Aku benar-benar tidak berguna...)” Ujar wanita itu dalam hatinya menyesal.


 


Pada akhirnya ia tidak bisa melakukan apa-apa untuknya. Ia mulai menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu takut untuk bertarung hingga membuat seluruh klien dan rekannya meninggal.


 


“(Ini semua salahku... Harusnya aku memberanikan diriku untuk melawan seperti Hillda meski berakhir terbunuh... Sebagai petualang, bukankah sudah menjadi kehormatan jika mati demi menuntaskan misi...? Kenapa aku tidak pernah memikirkannya...? Apa itu karena aku terlalu takut dengan dunia luar...?)” Sambung wanita itu dalam hatinya bimbang.


 


Sementara itu, Leo yang berhadapan dengan pemimpin kelompok perampok itu dihadapkan dengan pilihan untuk berduel satu lawan satu dengannya. Ini menjadi pilihan yang tidak menguntungkan bagi Leo. Jika ini adalah duel yang murni mengandalkan kekuatan fisik, ia masih cukup percaya diri bisa mengalahkannya. Namun, setelah melihat kemampuannya, pertarungan ini jelas merugikan bagi Leo. Entah Skill apa yang dimilikinya, namun yang jelas kemampuannya sangat berbahaya untuk pertarungan tangan kosong dalam jarak dekat.


 


“(Sial... Sepertinya ini akan menjadi duel yang merepotkan...)” Ujar Leo dalam hatinya mengeluh.


 


Pria itu tertawa ketika ia melihat Leo yang hanya terdiam setelah mendengar tantangannya.


 


“Hah! Ada apa? Kenapa kau diam seperti seekor anjing? Mana rasa percaya dirimu itu?” Ujar pria itu mengejeknya.


 


“Maaf saja, aku tidak mengenal anjing di tempatku tinggal. Aku hanya mengenal serigala.” Balas Leo ekspresi dingin.


 


“Haha... Menarik. Aku belum pernah bertemu dengan petualang sepertimu sebelumnya. Anjing dan serigala tidak jauh berbeda, mereka sama-sama menggeram ketika terancam dan lari ketika ketakutan. Tidak jauh berbeda dengan petualang yang selama ini kutemui...” Balas pria itu dengan nada angkuh.

__ADS_1


 


“Tidak. Kau salah, anjing dan serigala adalah dua hewan yang berbeda. Cara hidup mereka jelas berbeda, serta cara mereka bertarung juga jauh berbeda.” Balas Leo menyangkalnya argumennya.


 


“Lalu apa bedanya? Anjing tetaplah anjing, hanya tubuh dan kulit mereka saja yang membedakannya.”


 


“Kalau begitu, akan kutunjukkan bagaimana perbedaan mereka bertarung. Akan kutunjukkan kepadamu bagaimana seekor serigala bertarung...”


 


“Haha...! Coba saja...!”


 


Mereka saling berhadapan satu sama lain ketika suasana di antara mereka mendadak hening. Ketegangan turut dirasakan oleh mereka yang menyaksikan pertarungan ketika Leo dan pria itu mulai menginjakkan langkah mereka memutari satu sama lain. Leo mengamatinya, begitu juga dengan lawannya mengamatinya. Sekilas memang terlihat membuang waktu, namun pada titik inilah sebenarnya pertarungan mereka dimulai.


 


“Kenapa mereka saling menatap saja...? Bos juga tidak biasanya dia seperti ini...” Bisik salah seorang anak buah kepada temannya.


 


“Tidak, pertarungan sudah dimulai sejak mereka saling bertatapan. Bos juga sadar hal ini, tidak biasanya dia menemukan lawan seperti orang berambut putih itu...” Balas temannya dengan nada serius.


 


“Tunggu, apa maksudnya itu...?” Sambung temannya yang lain ikut bertanya.


 


“Singkatnya, bos menemukan lawan yang mampu berdiri menatap langsung pada kemampuannya.” Jawabnya dengan ekspresi serius.


 


Mereka berdua seketika terdiam mendengar ucapannya. Memang terasa aneh, namun begitulah kenyataannya. Leo adalah orang pertama yang tidak ketakutan melihat kemampuan bertarungnya.


 


Keadaan masih belum ada perubahan di antara mereka. Mereka masih saling mengamati satu sama lain, hingga pada akhirnya salah satu dari mereka memutuskan mengambil langkah pertama. Tidak lain dan tidak bukan dia adalah pemimpin perampok yang memulai duel itu dengan serangan pembukanya. Ia mengepalkan tinjunya yang diselimuti oleh udara ke arah Leo sambil berkata kepadanya.


 


“Kalau begitu aku akan memburumu...!” Seru pria itu mengayunkan serangan.


 


Pukulan itu melesat dengan cepat ke arahnya, namun Leo yang menyadarinya segera menghindar ketika pria itu melepaskan tinju lainnya ke arahnya. Leo kembali menghindar ketika rentetan serangan mulai mengarah padanya. Meski begitu, ia tetap bisa menghindari setiap serangan itu tanpa kesulitan.


 


“Ada apa...? Kenapa kau tidak melawan...? Apa ini gaya bertarung serigala itu...? Benar-benar menggelikan...” Ujar pria itu menghina sambil terus melancarkan serangan.


 


Serangan itu masih berlanjut hingga akhirnya pria itu mengganti pola serangannya. Ia melancarkan sapuan dari kakinya tepat ketika Leo menghindari serangan tinjunya. Alhasil, Leo yang lengah terkena trik itu dan membuatnya hilang keseimbangan menciptakan celah baginya itu menyerang.


 


“Kena kau...!” Serunya mengayunkan pukulan.


 


“...!”


 


Tinjunya membelah udara menciptakan suara gesekan yang dapat didengar oleh telinga. Untuk sekilas Leo berada dalam masalah, namun sebenarnya ini termasuk dalam taktiknya.


 


“A—“


 


Leo memiringkan kepalanya menghindari serangan itu tepat ketika lengannya melewatinya begitu saja. Dan pada saat yang bersamaan, ia mencekik lehernya lalu membanting tubuhnya ke tanah menggunakan momentum jatuhnya akibat kehilangan keseimbangan. Seketika itu pula tubuh pria itu menghantam tanah dengan hebat hingga meninggalkan lubang dalam sesaat sebelum anak buahnya yang menyaksikannya terkejut.


 


“B-Bos...!!”


 


“B-Bagaimana itu mungkin...!”


 


Leo seketika itu membekuk lehernya dengan kakinya sesaat sebelum ia bicara kepadanya.


 


“Sayang sekali, sepertinya kau yang menjadi buruannya.” Ujar Leo dengan ekspresi dingin.


 


“U-Ugh...! M-Mustahil...! Harusnya kau mustahil menyerang dalam keadaan itu...!” Balas pria itu dengan nada tercekik.


 


“Itu mudah. Aku hanya menggunakan tehnik bertarung tangan kosong, itu saja.”


 


“Tch...!”


 


Belum menyerah, pria itu lantas berusaha melepaskan dirinya. Namun, dengan lehernya tertahan oleh kakinya membuatnya mustahil untuk lepas.


 


“Semakin kau bergerak, semakin kesakitan pula dirimu. Harusnya kau sadar hal itu...” Ujar Leo dengan nada sinis.


 


“Tch...! K-Keparat...!” Balas pria itu marah sambil meronta-ronta.


 


“Sudah kukatakan sebelumnya. Itu sia-sia saja. Pertarungan ini telah selesai...”


 


“Dalam mimpimu...!”


 


Karena menolak kalah, pria itu akhirnya melepaskan kekuatannya yang seketika membuat Leo terkejut. Pusaran udara yang kuat mulai menyelimuti tubuhnya mendorong Leo menjauh darinya sesaat sebelum ia bangkit dengan ekspresi marah bersamaan dengannya melancarkan serangan.


 


“....!”


 


Ia menghantam Leo dengan pukulan kerasnya yang berbalut tekanan udara yang kuat. Tanah di sekitarnya berguncang begitu serangan itu mengenai Leo sesaat sebelum ia terlempar melewati sungai hingga mencapai padang rumput yang ada di sebrangnya. Leo terkapar setelah terlempar sejauh puluhan meter dengan bermandikan tanah dan cairan dari rumput yang tergilas olehnya.


 


“(Seperti yang kuduga... Serangan itu benar-benar kuat... Meski aku mengerahkan seluruh kekuatanku untuk menahannya, aku masih belum mampu mengimbanginya...)” Ujar Leo dalam hatinya dengan nafas berat.


 


Pukulan itu bisa saja membunuhnya, namun beruntung sebelum pukulan itu mengenainya, Leo berhasil menahannya dengan kedua tangannya. Alhasil, dampak akibat pukulan itu dapat dikurangi meski pada akhirnya mengorbankan lengannya.


 


“(Tanganku tidak bisa berhenti bergetar setelah menahan serangan itu... Aku ragu tanganku dapat bertahan untuk serangan berikutnya...)” Sambung Leo dalam hatinya sambil berusaha bangkit kembali.


 


Pria itu datang menghampirinya tepat ketika Leo bangkit dari tempatnya. Dengan ekspresi marah, ia mulai bicara kepada Leo.


 


“Kau dapat bertahan setelah menahan pukulanku hanya dengan kedua tanganmu saja, ini adalah pertama kalinya aku melihat orang melakukan itu...” Ujar pria itu dengan ekspresi tidak senang.


 


“Aku terbiasa menerima serangan itu sejak aku memegang senjata pertamaku...” Balas Leo dengan nafas berat.


 


“Aku akan menganggap itu omong kosong jika tidak melihat apa yang kau lakukan. Dari setiap orang yang kulawan, hanya kau yang mampu membuatku mengeluarkan tehnik ini.” Balas pria itu dengan nada dingin.


 


“Apa itu pujian? Karena aku sama sekali tidak merasa tersanjung.”


 


“Humph. Kau akan mengharap aku tidak mendengar itu setelah aku mengoreknya dari mayatmu.”


 


“Sayang sekali, mayat pemburu akan membunuh buruan yang memakannya.”


 


“Kalau begitu, aku, Bull akan membunuhmu dengan seluruh kekuatanku...”


 


Angin mulai berhembus mengitari tubuhnya ketika ia mengatakannya. Sudah jelas bahwa itu bukan hanya sekedar gertakan saja, dia benar-benar serius akan mengerahkan seluruh kekuatannya. Ini menjadi kabar buruk bagi Leo yang terpaksa harus melawannya dalam keadaannya yang terbatas.

__ADS_1


__ADS_2