
... ...
Menyaksikan perubahan yang dialami Olivia, Leo hanya bisa terdiam mengetahui bahwa apa yang selama ini ia curigai ternyata benar. Di sisi lain ia terkejut, namun pada saat yang sama pula ia sudah menyiapkan tekadnya jika hal ini memang menjadi nyata. Dengan kata lain, kini ia sudah menetapkan bahwa Olivia telah menjadi ancaman yang harus dimusnahkan. Dan untuk menghentikannya, ia telah menyiapkan tekadnya sendiri untuk menganggapnya sebagai musuh.
Meski demikian, terdapat keraguan dalam hati Leo mengenai keputusannya. Memang benar bahwa Olivia yang sekarang bisa menjadi ancaman bagi kerajaan, akan tetapi jauh di dalam hatinya, ia merasa tidak terima dengan keputusannya ini. Perbedaan pendapat dalam dirinya membuatnya mulai meragukan apakah keputusan menjadikan Olivia sebagai musuhnya adalah benar atau salah.
“(Memang benar jika keberadaan Olivia berbahaya, tetapi apakah membunuhnya adalah jalan keluar untuk masalah ini...?)” Tanya Leo dalam hatinya ragu.
Tidak diragukan lagi bahwa kekuatannya merupakan sebuah ancaman, bahkan bagi kerajaan besar seperti Rushford. Namun, setelah menghabiskan waktu bersamanya, ia mulai ragu bahwa Olivia akan melakukan hal yang buruk atas kehendaknya sendiri. Terlepas dari kenyataan bahwa dia adalah makhluk ciptaan, dia hanya seorang gadis biasa yang ingin hidup dengan normal. Ini adalah keputusan yang sulit bagi Leo.
Sementara itu, setelah berhasil melukai titik vital sang naga dengan senjata miliknya, Olivia memutuskan untuk mengakhirinya. Ia melepaskan sihir yang menahannya sesaat sebelum ia perlahan menghampirinya yang tidak berdaya bersiap untuk menghabisinya. Sambil mengarahkan tangannya ke arahnya, Olivia merapalkan mantra yang akan mengakhiri hidupnya.
Cahaya sihir seketika menyelimuti tubuh sang naga ketika rangkaian lingkaran sihir tercipta di sekelilingnya layaknya sebuah sangkar yang mengurungnya. Luapan energi sihir seketika memenuhi lembah sesaat sebelum Olivia melepaskan mantranya.
“Enchant: Gravity Burst.”
Namun, selang sesaat sebelum sihir itu aktif, kutukan kematian naga secara mengejutkan bangkit dari dalam tubuhnya seketika mengambil alih kendali atas sang naga.
“...!!”
Tepat ketika tubuhnya berhasil diambil alih, sihir Olivia aktif dan seketika menciptakan ledakan yang dahsyat yang mengguncang lembah. Cahaya terang yang berasal dari inti ledakan menelan seluruh lembah dalam sinarnya sesaat sebelum udara yang ada di sekitarnya terhisap masuk ke dalam jangkauannya. Leo dan Lia yang menyaksikannya juga turut terkena dampak serangannya.
“Ugh...!”
“Hngh...! L-Leo...! Bertahanlah...!”
Mereka berdua nyaris terseret oleh efek ledakan tersebut, namun beruntung mereka bisa bertahan karena Lia mendekapnya dengan erat di tanah sambil berpegangan pada pedangnya.
Bagaikan pusaran angin yang kuat, ledakan itu menyeret semua benda yang ada di sekitarnya. Dan dalam sekejap mata, semua benda yang menyentuh inti cahaya tersebut lenyap. Tidak ada yang tersisa setelah ledakan tersebut berakhir selain Olivia dan kawah raksasa yang membentang seluas ribuan meter di hadapannya. Sontak Leo dan Lia yang menyaksikan hal tersebut hanya bisa dibuat terperanga oleh kekuatan menakutkan Olivia.
“Naga itu... Semuanya lenyap...?” Ujar Lia dengan ekspresi terkesima.
“Dia.. menghapus.. keberadaan naga itu.. sepenuhnya...” Gumam Leo ikut terperanga.
Tidak diragukan lagi bahwa kekuatan Olivia sangat berbahaya. Mereka harus melakukan sesuatu untuk mencegah berita ini sampai ke publik. Jika tidak, mereka akan diburu sebelum sampai pada tujuan perjalanan mereka. Rencana Lia bisa gagal bila sampai ia dan Leo dianggap sebagai buronan.
Pertarungan telah usai menyisakan Olivia sebagai pemenangnya. Setelah berhasil membunuh naga itu, kini pandangannya tertuju pada Leo yang tengah terluka sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menghampirinya.
“....?!”
Akan tetapi, saat Olivia hendak berniat memeriksa keadaannya, secara mengejutkan sebuah kejadian tidak terduga menimpa Leo. Tepat sesaat setelah pertarungan antara Olivia dengan naga itu selesai, secara tidak terduga pedang hitam miliknya memancarkan kekuatan hitam yang menakutkan membuatnya dan Lia yang melihatnya seketika terkejut dan kebingungan.
“A-Apa yang terjadi...?! Kekuatan apa ini...?!” Ujar Lia terkejut menyaksikannya.
“J-Jangan katakan...!” Sambung Leo ikut terkejut.
Pedang itu memancarkan kekuatan yang sama seperti saat Leo berhasil menusuk mata sang naga ketika mereka bertarung di atas udara sebelumnya. Dan bersamaan dengan munculnya kekuatan tersebut, hal yang tidak pernah mereka duga terjadi pada Olivia.
“...?!”
Tepat ketika Olivia menyadari kehadiran kekuatan tersebut, sebuah bola api hitam raksasa seketika muncul tepat di hadapannya saat ia membalikkan badannya. Ia yang tidak sempat bereaksi terpaksa menerima serangan tersebut sesaat sebelum ledakan yang kuat menjatuhkannya. Bersamaan dengan hal tersebut, sang naga yang telah tertelan dalam kutukan kematian menampakkan sosoknya di hadapannya. Dengan tubuh penuh luka dan dipenuhi oleh korosi, ia meraung dengan keras menunjukkan bahwa ia belum sepenuhnya kalah dalam pertarungannya sebelumnya.
“(Naga itu.. bagaimana bisa.. dia masih utuh.. dari ledakan.. sihir sekuat itu...?)” Ujar Leo dalam hatinya dengan wajah pucat.
Tidak hanya itu, pedang miliknya juga memancarkan kekuatan yang sama seperti yang menguasai naga tersebut. Entah bagaimana, tetapi Leo merasa pedang hitam miliknya berhubungan erat dengan bangkitnya kutukan kematian pada naga tersebut. Ia hanya belum mengetahui bagaimana dan kenapa hal tersebut bisa terjadi.
“Dia masih hidup—tidak, bukan. Dia bangkit sekali lagi akibat kutukan kematian. Ini jauh lebih buruk dari yang sebelumnya...” Ujar Lia dengan ekspresi serius.
“Ya. Ini adalah.. keadaan terburuk...” Balas Leo dengan nafas berat.
Tepat ketika mengatakannya, Leo secara tidak sengaja memuntahkan darah dari mulutnya membuat Lia seketika panik melihatnya.
“Leo...!”
“Ugh...! Aku.. tidak apa-apa... Yang lebih penting...”
“...?!”
Bersamaan dengan saat Leo mengatakannya, Olivia bangkit dari balik asap hitam sisa ledakan itu sesaat sebelum ia menatap langsung ke arah sang naga yang sepenuhnya berubah oleh kutukan tersebut.
“Ancaman kembali terdeteksi... Memulai kembali mode bertarung...”
Saat ia mengatakannya, senjata-senjata yang sebelumnya melayang di sekitarnya seketika melesat ke udara mengejar naga tersebut. Melihat hal itu, sang naga yang sudah kehilangan akalnya tanpa berpikir panjang terbang menghadapinya begitu saja. Tanpa menggunakan sihir perlindungan, ia terbang menghampirinya sesaat sebelum logam-logam itu berdatangan menusuknya. Meski demikian, ia tidak memperdulikannya dan tetap terbang mengincar Olivia.
“....”
__ADS_1
Menyadari niatnya, Olivia memanggil kembali senjata melayang miliknya sesaat sebelum ia menyebarkan mantranya pada mereka untuk selanjutnya ia melancarkan serangannya. Ia menembakkan sejumlah besar energi sihir ke arahnya bersamaan saat senjata-senjata tersebut mengiringinya. Secara bersama-sama, mereka menyerang naga itu dengan serangan yang sama sesaat sebelum sang naga mengambil gilirannya.
Tepat sesaat sebelum serangan Olivia mengenainya, naga itu melepaskan kekuatan kutukannya seketika menyebarkan awan hitam mematikan ke udara. Dan saat serangan Olivia sampai, secara mengejutkan serangannya meleset seperti tidak pernah mengenainya sekali pun. Sosoknya seperti menghilang saat ia menyebarkan kabut hitam mematikan itu. Menyadari hal itu, Olivia lantas menggunakan sihir sensornya untuk mencari keberadaannya.
“Veldextensie.”
Kekuatan sihirnya menyebar ke seluruh area sesaat sebelum Olivia memejamkan matanya berusaha melacak keberadaan sang naga. Akan tetapi, meski ia telah menggunakan sihir pelacak, keberadaan naga itu sama sekali tidak bisa ia rasakan hingga membuatnya merasa kebingungan dibuatnya.
“....”
Ia masih berusaha mencarinya meski kabut hitam itu mulai memenuhi tempat yang ada di sekitarnya. Ia kembali memperluas area jangkauan sihirnya sebelum akhirnya mencoba mencarinya kembali.
“Tidak ada respon, target menghilang...”
Pencariannya gagal, naga itu seperti seolah lenyap begitu saja dari jangkauannya. Tidak ada yang tersisa dari keberadaannya selain kabut hitam itu yang kini telah menutupi sebagian besar area di sekitarnya. Selain mengganggu pengelihatan, kabut itu juga menyebabkan reaksi yang aneh ketika Olivia melakukan kontak langsung dengannya.
“...??”
Saat kabut itu menyentuh kulitnya, ia menempel pada kulitnya dan menyebarkan korosi. Meski sistem kekebalan sihir yang ada di tubuh Olivia aktif, efek korosinya tidak dapat hilang membuatnya kebingungan dengan kejadian yang menimpanya.
Bagi manusia, kabut hitam yang berasal dari naga terkutuk adalah benda yang sangat mematikan. Hanya dengan menyentuhnya dapat membuat bagian tubuh yang tersentuh seketika hangus dan tidak bisa diobati. Akan tetapi, hal tersebut sepertinya tidak berlaku bagi Olivia yang merupakan manusia buatan. Ia sepertinya memiliki kekebalan tersendiri melawan pengaruh kabut hitam itu meski tidak sampai kebal terhadapnya.
“Reaksi aneh terdeteksi... Memperkuat status imun pada anggota tubuh...”
Olivia mengatur kembali sistem kekebalan sihirnya berusaha membuat korosi itu dinetralisir. Namun, meski ia telah melakukannya, korosi yang ada di kulitnya tetap tersisa membuatnya sadar bahwa kabut hitam itu berbahaya. Ia pun memutuskan untuk menjauh darinya tepat ketika secara mengejutkan kobaran api hitam datang dari langit mengguyurnya.
“...?!”
Olivia yang menyadari hal itu seketika memasang medan sihirnya untuk melindungi diri dari serangan tersebut tepat ketika ia melihat gerakan mencurigakan dari balik kabut hitam yang mengelilinginya. Menyadari kejanggalan tersebut, Olivia lantas memerintahkan senjata-senjata miliknya untuk menyerang apa pun yang ada dalam kabut sementara dirinya fokus melacaknya menggunakan sihirnya.
“Target masih belum ditemukan... Memulai ulang pencarian...”
Ia kembali mengerahkan sihir pelacaknya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya mengincarnya sesaat sebelum serangan sihir secara mengejutkan berdatangan ke arahnya dari balik kabut hitam.
“...?!”
Menyadari hal tersebut, Olivia lantas menciptakan medan sihir penghalang untuk menghalau serangan tersebut. Semua sihir itu menghantam penghalang miliknya membuatnya lepas dari ancamannya sesaat sebelum ia membalas serangan tersebut dengan mengirim seluruh senjatanya ke arah di mana sihir itu sebelumnya berasal.
“Ugh...! Bagaimana.. keadaan Olivia...? Apa dia.. masih hidup di sana...?” Balas Leo bertanya pada Lia dengan nada tercekik.
“... Aku tidak tahu. Aku tidak bisa memastikannya.” Balas Lia dengan wajah cemas.
“... Aku masih bisa.. merasakan sihirnya. Kemungkinan, dia masih.. bertahan di sana...”
“Bertahan? Dalam kabut mematikan itu? Tidak bisa dipercaya...”
“Aku juga.. tidak yakin... Tetapi, kurasa dia.. masih bertarung di sana...”
Meski mereka berdua tidak tahu apa yang terjadi padanya, namun kemungkinan besar naga itu sengaja menjebaknya dalam kabut hitam itu agar bisa menghabisinya. Selama Leo masih bisa merasakan sihirnya, naga itu tidak akan berhenti sampai benar-benar membunuhnya.
“(Apa yang harus kulakukan jika dia terbunuh...? Dengan kondisiku yang sekarang, mustahil mengalahkan naga itu...)” Ujar Leo dalam hatinya ragu.
Memang benar jika Leo menetapkannya sebagai ancaman saat ini. Namun, jika dia terbunuh sekarang, maka tidak ada yang bisa menghentikan naga itu. Meski terdengar aneh mengatakannya, tetapi hanya Olivia seorang yang bisa mengalahkannya saat ini.
Selang beberapa saat setelah Olivia menyerang balik, masih belum ada reaksi sama sekali. Meski ia telah memerintahkan senjata logamnya untuk menyisir area target, ia masih belum menemukan apa-apa. Serangan itu seperti seolah muncul begitu saja tanpa ada orang yang melancarkannya. Hal ini semakin menambah keanehan yang ada.
“Kerusakan terdeteksi pada tubuh... Status bahaya pada lingkungan meningkat...”
Di sisi lain, semakin lama ia berdiam diri di dalam kabut hitam tersebut, efek korosi yang ada di tubuhnya kian bertambah parah. Ia sebelumnya memang berniat keluar dari dalam sana, namun anehnya setiap kali ia melakukannya kabut itu seperti selalu mengikutinya. Dia seperti tahu apa yang hendak Olivia lakukan seperti seolah-olah hidup. Ia akhirnya memutuskan untuk berhenti lari dan lebih memilih untuk terbang menghindarinya. Ia memanggil kembali senjata logamnya sebelum akhirnya mereka berjajar rapi mengiringi punggungnya membentuk formasi seperti sayap. Ia pun terbang melayang pergi dari kepungan kabut hitam tersebut tepat ketika secara mengejutkan naga itu muncul di atasnya.
“...?!”
Sontak naga itu menyambarnya dengan rahangnya menggigitnya hingga menembus tubuhnya sebelum akhirnya melemparkannya dengan kuat ke udara keluar dari hamparan kabut hitam tersebut.
“...?! Apakah itu...!”
“Olivia...!”
Entah apa yang terjadi, namun secara mengejutkan Olivia tiba-tiba terlempar keluar dari dalam kabut dengan tubuh bersimbah darah sesaat sebelum naga itu muncul dan terbang mengejarnya. Hal itu seketika membuat Leo dan Lia yang menyaksikannya terkejut sekaligus bertanya-tanya bagaimana hal itu bisa terjadi. Akan tetapi, mereka tidak bisa berbuat banyak karena mereka terlalu lemah untuk membantu melawannya.
Olivia yang terlempar ke udara lantas membuat langkah pencegahan. Dengan menggunakan sihirnya, ia membuat bebannya naik menyebabkannya berhenti terlempar sebelum akhirnya ia melepaskan sihirnya untuk menghadapi sang naga.
__ADS_1
“Target dikonfirmasi...”
Ia mengirim senjata logamnya sambil menembakkan beberapa sihir ke arahnya tepat di saat naga itu berniat menyambarnya. Akan tetapi, sang naga yang telah memperkirakan hal itu dengan cepat menyebarkan kabut hitamnya sesaat sebelum ia menghilang dari pandangannya. Serangan Olivia meleset dan ia kembali kehilangan jejaknya sama seperti sebelumnya.
“Target kembali menghilang... Keberadaan tidak dapat dideteksi...”
Dalam kebingungan Olivia berusaha mencari keberadaan sang naga yang tiba-tiba menghilang itu. Ia kembali melepaskan sihir pelacak untuk mencarinya di antara kabut hitam yang mulai menyelimuti area di sekitarnya.
“Target menghilang tanpa jejak...”
Meski ia berulang kali melakukannya, ia masih kesulitan untuk mencarinya. Hingga pada akhirnya saat ia memutuskan untuk melakukan sesuatu pada kabut hitam itu, sang naga kembali menampakkan diri ke hadapannya.
“Rrrrrr...!!”
Naga mengayunkan cakarnya dengan kuat tepat mengarah ke tubuhnya sesaat sebelum ia terlempar jatuh dan menghantam tanah. Dengan tubuh bersimbah darah, Olivia mencoba untuk bangkit saat naga itu kembali menyerangnya. Ia mendarat tepat di hadapannya sesaat sebelum ia menyemburkan api hitamnya langsung ke arah Olivia yang tidak berdaya hingga menyebabkan kobaran api hebat pada area di sekitarnya.
“Olivia...!”
Tanah di sekelilingnya seketika berubah menjadi kolam lahar saat naga itu menghentikan semburannya. Asap hitam mengepul dari dalamnya membuat Leo dan Lia yang menyaksikannya terperanga dengan ekspresi pucat.
“Olivia... Dia sudah...” Gumam Lia dengan nada syok.
“Tidak mungkin...!” Ujar Leo terkejut.
Asap hitam itu menandakan sisa pembakaran yang berarti bahwa Olivia telah tewas menerima serangan tersebut. Memang sulit untuk dipercaya, namun sepertinya senjata perang terhebat buatan manusia sekali pun tidak bisa mengalahkan seekor naga ras tinggi yang perkasa. Itu artinya tidak ada harapan lagi untuk mereka berdua maupun kota ini. Tidak ada yang bisa menghentikannya lagi saat ini.
Sementara itu, sang naga yang telah berhasil membunuh Olivia lantas mengalihkan pandangannya menuju suatu arah, lebih tepatnya pada tempat Leo dan Lia berada. Perhatiannya tertuju pada pedang hitam yang ada di dekat mereka sesaat sebelum ia memutuskan untuk menghampiri mereka.
“...?!”
“...!!”
Menyadari tujuannya, Lia dengan cepat berdiri membelakangi Leo dan meraih pedangnya sambil membuat kuda-kuda bertahan. Ia tidak tahu apa yang direncanakannya, namun Lia sadar bahwa naga itu tengah mengincar mereka.
“(Ini gawat...! Naga itu akan ke sini...! Tidak ada pilihan lain selain bertarung...!)” Ujar Lia dalam hatinya membulatkan tekadnya.
Hanya dirinya seorang yang tersisa saat ini untuk bertarung melawannya. Meski ia sadar perbedaan kekuatan mereka, namun jika ia tidak mengangkat pedangnya maka baik dirinya atau Leo akan mati di tangannya. Walau berisiko, tetapi hanya ini pilihannya.
“Leo, apa kau masih sanggup berjalan?” Tanya Lia dengan nada serius.
“Lia, apa yang kau...” Balas Leo dengan nada tinggi.
“Baguslah, itu artinya kau masih memiliki cukup tenaga untuk berjalan. Pergilah secepatnya, aku akan menahannya sebisaku...” Balas Lia tersenyum pahit sebelum kembali fokus.
“Jangan katakan...! Kau ingin melawannya...?!”
Lia hanya diam tidak menjawab ketika naga itu mulai terbang hendak menuju ke arah mereka. Ini membuatnya kebingungan sekaligus heran mengapa Lia bertindak senekat itu hanya demi melindunginya.
“(Apa yang dia pikirkan...! Harusnya dia tahu bahwa naga itu di luar batas kemampuannya...!)” Ujar Leo dalam hatinya marah.
Leo bangkit dari tempatnya menahan rasa sakitnya berusaha mengubah pikirkan Lia untuk tidak berbuat gegabah.
“Lia... Dengan keadaanmu sekarang... Kau mustahil.. bisa melawannya...!” Ujar Leo bangkit bertumpu pada kakinya sambil menahan lukanya.
“....”
“Lia, dengar... Jika kau tidak bisa.. sampai ke Borealis... Maka semua rencana kita.. akan sia-sia...!” Sambung Leo dengan nada tinggi.
“... Kau benar. Tetapi, aku lebih tidak ingin melihatmu mati di tangannya.” Balas Lia dengan nada serius.
“Apa...?”
“Kau selalu melakukan hal-hal berbahaya hanya untuk menolongku... Sekarang giliranku untuk melindungimu...”
“Lia...”
Di tengah pembicaraan mereka, naga itu mulai mendekat. Ia lantas melancarkan serangannya ke arah mereka berdua sesaat sebelum Lia menghalaunya dengan sihir miliknya. Ia mengayunkan pedangnya menciptakan tebasan sihir yang memotong setiap serangan sihir yang mengarah ke arah mereka. Langit langsung dipenuhi oleh ledakan ketika serangan Lia berhasil mengalahkan sihir milik sang naga membuat Leo yang menyaksikannya sadar akan kesungguhannya.
“(Ah... Jika dia sudah mengatakannya. Tidak ada satu kata pun dariku yang bisa mengubah pikirannya...)” Gumam Leo dalam hatinya mengeluh.
Mengetahui serangannya berhasil dihalau, sang naga lantas mengeluarkan semburan apinya untuk menyerang mereka. Ia menyemburkan apinya di sepanjang jalur menuju ke arah mereka membuat Lia yang melihat serangan tersebut menjadi panik.
“(Tidak mungkin...! Aku tidak mungkin menghalau serangan itu...!)” Ujar Lia dalam hatinya panik.
__ADS_1
Satu-satunya pilihan adalah menghindar. Akan tetapi, jika ia melakukannya, artinya ia akan meninggalkan Leo begitu saja. Dengan luka seperti itu, mustahil baginya untuk mengikutinya. Ini adalah keadaan yang terburuk.