
Hari menjelang sore ketika Chrea dan Kirishima kembali dari petualangan mereka bersama dengan Leo dan Lia. Dengan wajah gembira, mereka bergegas pulang membawa kabar gembira mereka kepada Gald dan semuanya yang telah menunggu mereka di gereja.
“Terima kasih banyak karena telah berburu bersama kami, Leonard-san, Alicia-san... Ini lebih dari cukup untuk mengejutkan mereka semua...” Ujar Chrea dengan wajah gembira.
“Tidak masalah. Lagi pula ini juga berkat kerja keras kalian juga. Kalian pantas mendapatkannya.” Balas Leo tersenyum kepada mereka.
“Tapi, apa kalian baik-baik saja? Bukankah kita sepakat kalau upah perburuan dibagi sama rata?” Balas Chrea bertanya dengan wajah resah.
“Tidak apa-apa. Bukan masalah... Lagi pula sudah tugas kita untuk membasmi monster yang meresahkan warga...” Balas Leo tersenyum gugup.
“Begitu ya... Leonard-san memang hebat... Tidak heran jika kapten kagum kepadamu...” Ujar Chrea memujinya.
“B-Benarkah...? Aku hanya melakukan hal yang biasa saja...” Balas Leo tersenyum gugup sambil menggaruk pipinya.
Bagi mereka, hari ini mungkin adalah hari perburuan terbesar mereka sebagai petualang. Tidak hanya dapat menyelesaikan misi utama, mereka juga secara tidak sengaja menyelesaikan misi lainnya.
Sebelumnya, saat mereka memasuki hutan untuk memanen tanaman obat, secara tidak sengaja mereka bertemu dengan Hobgoblin dan Orc yang sedang berkeliaran. Kedua monster tersebut memang dirumorkan sering berkeliaran di hutan dan terkadang menyerang manusia yang berada di sekitaran hutan. Karena terlanjur berpapasan, akhirnya Leo dan Lia memutuskan untuk memburu mereka agar tidak membahayakan misi utama mereka. Dan seperti biasa, Leo dan Lia mampu membereskannya dengan mudah dengan bantuan Chrea dan Kirishima. Mereka mampu bekerja sama dengan baik sebagai party meski ini adalah kali pertama mereka berburu dan bertarung bersama.
Pada akhirnya, mereka menyelesaikan misi utama mereka memanen tumbuhan obat dan sebagai tambahan, mereka juga membawa serta telinga Hobgoblin dan Orc. Berkat hal itu, mereka menerima imbalan berlimpah dan begitulah bagaimana semua ini terjadi. Leo hanya menerima upah dari mengumpulkan tanaman obat dan sisanya ia serahkan kepada mereka berdua untuk membantu keadaan mereka.
“(Tetap saja kemunculan monster-monster itu masih meresahkan... Mereka jadi lebih sering muncul sejak gempa tempo hari itu... Ini bisa menjadi masalah yang serius...)” Ujar Leo dalam hatinya cemas.
Memang keanehan masih terus menyelimuti kota ini sejak ditemukannya peninggalan kuno di dalam pertambangan itu. Sepertinya keadaan ini akan terus berlanjut, kecuali jika sumber masalah ini bisa ditemukan. Sampai saat itu tiba, Leo hanya bisa berharap semuanya baik-baik saja.
Sesampainya di gereja, mereka berempat disambut oleh Gald dan beberapa anak yang tengah bermain di halaman. Perhatian mereka seketika tertuju pada Chrea dan Kirishima yang baru saja pulang dengan raut wajah gembira sebelum akhirnya anak-anak itu menyambut kepulangan mereka.
“Lihat...! Kakak Rea dan Shima sudah pulang...!” Seru salah seorang anak menunjuk mereka.
“Horee..! Kakak sudah pulang...!” Sambung yang lain dengan senyum gembira.
Mereka lantas berlari menghampiri Chrea dan Kirishima ketika mereka berdua menerima sambutan mereka yang hangat.
“Kakak Rea sudah pulang... Kakak merindukan kalian...” Ujar Chrea sambil mengelus kepala mereka sambil tersenyum hangat.
“Selamat datang kakak Rea dan kakak Shima...!” Balas salah seorang anak antusias.
“Akhirnya kalian pulang juga... Kami sudah menantikan kalian...” Balas anak kedua dengan wajah senang.
“Kalian tidak merepotkan kakak Gald, bukan?” Sambung Kirishima bertanya dengan wajah cemberut.
“Tentu saja tidak. Kami jadi anak yang baik selama kalian pergi.” Jawab salah seorang gadis dengan wajah polosnya.
Bersamaan dengan itu, Gald datang menghampiri mereka ikut menyambut kepulangan mereka berdua.
“Selamat datang, Chrea, Shima... Kalian terlihat sangat senang hari ini...” Ujar Gald menyapa mereka.
“Ah. Mm. Tentu saja. Hari ini kami sangat beruntung bisa menjual banyak tanaman obat.” Balas Chrea dengan wajah senang.
“Senang mendengarnya. Sepertinya tugas yang kita urungkan sebelumnya bisa diselesaikan dengan baik oleh kalian...” Balas Gald tersenyum gembira.
“Dan tebak, kami juga mendapat banyak uang dari perburuan Hobgoblin dan Orc.” Sambung Kirishima dengan wajah senang.
“Tunggu, Orc dan Hobgoblin...?” Balas Gald terkejut.
Pada saat yang sama, Leo dan Lia menghampiri mereka sebelum Chrea dan Kirishima memutuskan untuk masuk bersama dengan anak-anak yang bersama mereka.
“Kalau begitu, ayo kita masuk dan masak untuk makan malam.” Ujar Kirishima mengajak anak-anak itu.
“Kapt- maksudku, kakak Gald, kami masuk duluan.” Sambung Chrea.
“Y-Ya. Silahkan...” Balas Gald dengan nada bingung.
Setelah itu, mereka berdua bersama anak-anak itu kembali ke dalam gereja meninggalkan Gald sendirian bersama Leo dan Lia.
__ADS_1
“Pantas saja... Tidak heran mereka berdua bisa mengalahkan Orc dan Hobgoblin...” Gumam Gald melihat ke arah Leo dan Lia sambil menghela nafas.
“Bagaimana keadaanmu? Kau terlihat lebih baik dari sebelumnya...” Ujar Leo menyapanya.
“Yah, sekarang sudah jauh lebih baik. Semuanya berkat istirahat dan sihir penyembuh Kirishima...” Balas Gald sambil menegakkan badannya.
“Senang mendengarnya...” Balas Leo tersenyum lega.
Gald menoleh ke belakang sejenak memastikan keadaan sebelum ia bertanya kepada Leo.
“Jadi, bagaimana ceritanya kalian bisa berburu bersama?” Tanya Gald dengan wajah serius.
“Kami bertemu di jalan dan memutuskan untuk berburu bersama. Kami juga sudah mendengarnya, kau melarang mereka berdua untuk berburu bersama kami, bukan? Memangnya apa ada masalah dengan itu?” Jawab Leo dengan wajah serius.
“Aku pikir kalian juga sudah mendengarnya...” Balas Gald memalingkan pandangannya.
“Ya. Dan aku bertanya kenapa kau mengatakan hal itu kepada mereka?” Balas Leo mendesaknya.
Gald menghela nafas panjang sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menceritakan alasannya kepada mereka berdua.
“... Seperti yang kalian dengar, aku hanya tidak ingin membawa masalah pribadi kami kepada party yang kita baru saja bentuk.” Jawab Gald berjalan pelan menuntun mereka bersamanya.
“Masalah keuangan, bukan? Jika masalah itu aku sudah mengetahuinya.” Balas Leo singkat.
“Itu masalah pertama. Tetapi, bukan itu yang kumaksudkan...” Balas Gald menepisnya.
“Apa itu soal kerja sama tim? Kalau masalah itu, mereka bisa melakukannya dengan baik. Mereka berdua adalah penyerang jarak jauh yang bagus dan bisa menyesuaikan keadaan dengan baik. Apa itu masalahnya?” Balas Leo menyangkalnya.
Gald terlihat terkejut mendengar ucapan Leo. Tidak disangka masalah yang selama ini ia khawatirkan justru dapat ditangani oleh Leo dengan baik.
“Mengejutkan juga... Aku tidak mengira mereka dapat mengimbangi gaya bertarung kalian...” Ujar Gald wajah terkejut.
“Yah, awalnya mereka tampak ragu... Tetapi setelah beberapa saat, mereka dapat memahami peran dan posisi mereka dengan baik dalam pertarungan bersama kami.” Balas Leo dengan wajah senang.
“Saat kau mengatakan itu... Memangnya ada apa dengan mereka berdua...?” Tanya Leo dengan wajah curiga.
Gald melirik Leo sekilas sebelum ia menghentikan langkahnya tepat di halaman di samping gereja tempat mereka bisa melihat Chrea dan Kirishima bersama anak-anak itu mengerjakan beberapa pekerjaan rumah. Gald menatap mereka sejenak sebelum ia membulatkan hatinya untuk menatap Leo dan menjawab pertanyaannya.
“Kurasa aku sudah terlanjur mengatakannya... Baiklah, karena sudah sejauh ini, kurasa aku akan memberitahu kalian sesuatu tentang mereka berdua...” Ujar Gald menghela nafas panjang menjawab pertanyaan Leo.
“Silahkan...” Balas Leo menganggukkan kepala.
“... Sebenarnya, Chrea dan Kirishima menyimpan masa lalu yang terbilang kelam... Ada alasan mengapa mereka kularang untuk pergi bersama kalian. Alasan yang kubuat sebenarnya hanya untuk membuat mereka tidak mengingat rahasia mereka...” Balas Gald dengan wajah kecewa.
“Rahasia...? Apa ini berhubungan dengan masa lalu mereka?” Balas Leo bertanya dengan wajah serius.
“Ya. Dulu, sebelum mereka sampai di sini bersamaku dan lainnya, mereka adalah yatim piatu. Chrea berasal dari kerajaan di selatan sana, sedangkan Kirishima adalah imigran yang datang secara ilegal dari benua timur...” Jawab Gald sebelum bercerita tentang mereka.
“Tunggu, benua timur...? Jadi Kirishima berasal dari sebrang samudra sana...?” Ujar Leo terkejut mendengarnya.
“Benar, dia memang berasal dari sana. Kau juga seharusnya sadar bagaimana penampilannya yang berbeda dari kita, bukan?” Balas Gald menegaskan maksudnya.
“Orang dari benua timur umumnya memiliki ciri-ciri rambut, pupil, serta iris mata yang berwarna hitam pekat.” Sambung Lia menjelaskan maksud Gald.
“Memang benar, penampilan Kirishima memang mirip seperti yang kau katakan... Dan Zen, dia juga orang dari benua timur...” Balas Leo memikirkannya.
“Benar, dan kau pasti tahu bagaimana orang asing ketika sampai ke negri asing, bukan?” Balas Gald dengan wajah dingin.
Satu-satunya kemungkinan yang dapat Leo pikirkan adalah Kirishima datang ke benua ini sebagai penumpang gelap, atau lebih tepatnya diselundupkan dan berniat dijual sebagai budak. Ia hanya bisa terdiam mendengar kenyataan itu ketika Gald melanjutkan ceritanya.
“Kau memahaminya, bukan?” Ujar Gald menatap padanya.
“.... Ya.” Balas Leo prihatin.
__ADS_1
“Singkat cerita, ia berhasil melarikan diri dan berkelana tanpa tujuan mengikuti para pedagang yang lewat. Ia menyelinap di kereta kuda mereka, berpindah dari kota satu ke kota lainnya dan hidup seorang diri di dunia yang asing baginya. Hingga pada akhirnya ia sampai di sini ketika kami menemukannya. Awalnya dia ketakutan dan waspada, namun pada akhirnya ia bisa menerima kami dan hidup bersama di sini...” Sambung Gald melanjutkan cerita.
“Begitu ya... Dia menjalani hidup yang kejam jauh dari negrinya...” Balas Leo dengan wajah sedih.
“Ya. Nasib Chrea juga tak jauh berbeda darinya. Awalnya Chrea adalah warga biasa, namun karena konflik dalam kerajaannya, ia terpaksa meninggalkan negrinya. Ia juga nyaris dijual sebagai budak oleh sekelompok bandit, namun ia berhasil melarikan diri hingga akhirnya ia sampai di kota ini berkat bantuan kedua orang tuanya. Namun sayangnya, ia harus terpaksa kehilangan mereka berdua...” Balas Gald melihat ke arah Chrea yang tengah bekerja.
Mendengar hal tersebut membuat Leo sadar alasan sebenarnya Gald melarang mereka untuk bertualang bersamanya. Hal itu berhubungan dengan kepercayaan mereka terhadap orang lain, mengingat bahwa mereka berdua pernah ditangkap dan dijadikan budak jualan. Semua orang tahu bagaimana perlakuan yang diterima oleh seorang budak. Walau mereka sudah bebas, ketakutan itu masih membekas di hati mereka jika bertemu dengan orang asing yang belum bisa mereka terima. Itulah sebabnya Gald tidak ingin mereka berdua kembali mengingat hal itu.
“(Jadi itu semua masa lalu mereka... Kenyataan kejam yang bahkan lebih buruk dari nasibku... Rasa keraguan itu bukanlah bentuk rasa takut pada monster, melainkan rasa takut untuk percaya pada orang lain... Entah kenapa aku bisa memahaminya...)” Ujar Leo dalam hatinya prihatin.
Semuanya jadi jelas sekarang. Leo memahami keadaan mereka dan mencoba untuk menerimanya ketika Gald menarik nafas dalam sebelum melihat ke langit terbenam itu dengan pandangan haru.
“Semoga kau memahaminya... Bukannya aku tidak mempercayaimu, tetapi aku hanya tidak ingin kejadian yang buruk menimpa mereka. Mereka adalah keluargaku yang berharga... Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi kepada mereka... Sebagai seorang kakak, sudah menjadi tugasku untuk melindungi mereka...” Ujar Gald dengan nada serius.
“... Tidak, aku memahaminya. Kau hanya ingin menjaga keluargamu. Aku tidak merasa tersinggung atas kecurigaanmu.” Balas Leo tersenyum hangat.
“Terima kasih atas pengertianmu... Jujur saja, merawat mereka semua adalah pekerjaan berat. Setelah ibu tiada, akulah yang bertanggung jawab atas mereka semua. Hal itu wajar saja karena aku adalah kakak tertua.” Balas Gald dengan senyum pahit di bibirnya.
Mendengar ucapan Gald mengenai ibunya, Leo memutuskan untuk tidak menanyakannya. Ia sudah banyak menceritakan sesuatu yang menyedihkan, Leo tidak ingin pertanyaannya semakin membebani hatinya, meski tidak dapat dipungkiri lagi kalau Leo sedikit penasaran mengenai sosok ibu bagi mereka.
“(Kemungkinan, ibu yang dia maksud adalah ibu asuh mereka sekaligus biarawati di gereja ini... Sebaiknya aku tidak mengungkitnya lebih dari ini...)” Ujar Leo dalam hatinya merenung.
Dibalik sifatnya mereka yang periang, tersimpan kesedihan yang tidak terbayangkan di dalam hati mereka. Nasib memang tidak selalu baik, namun dibalik itu semua mereka mampu bangkit dan menemukan jalan mereka sendiri untuk menatap masa depan. Entah mengapa, Leo merasa kagum kepada mereka.
“Kurasa memang begitu. Adik akan selalu bergantung kepada kakaknya. Terkadang, itu bukan hal yang buruk...” Ujar Leo menghela nafas singkat tersenyum lega.
“Ya. Ini memang bukan hal yang buruk...” Balas Gald tersenyum.
“Sebaiknya kau siap akan hal itu.” Balas Leo dengan nada bercanda.
“Ya. Aku tahu itu. Ngomong-ngomong, kalian datang kemari hanya untuk mengantar mereka berdua? Maaf sudah merepotkan kalian...” Balas Gald sebelum mengganti topik.
“Tidak juga, ada hal dari Guild yang kusampaikan padamu...”
“Dari Guild petualang? Apa memangnya? Harusnya Chrea dan Kirishima bisa mengatakannya kepadaku...”
“Ini mengenai penjelajahan di tambang. Menurut informasi, tambang akan kembali dibuka 2 hari lagi dan seluruh petualang yang ikut dalam penjelajahan sebelumnya diharapkan bisa ikut kembali.”
“Hanya itu? Kau datang jauh-jauh untuk menyampaikan itu?”
“Tidak, aku juga sekaligus ingin menjengukmu, memastikan kau siap saat hari itu tiba. Bagaimana menurutmu? Apa kau siap mengikuti penjelajahan itu lagi?”
Gald tersenyum mendengar pertanyaan Leo sebelum ia dengan percaya diri mengepalkan tangannya menjawabnya.
“Tentu saja aku siap!” Jawab Gald dengan nada yakin.
“Bagaimana dengan lukamu dan Zen? Apa kau yakin bisa mengatasinya hanya dalam 2 hari?” Balas Leo bertanya dengan wajah ragu.
“Tenang saja, dengan sihir penyembuh Kirishima, aku yakin kondisiku bisa kembali seperti semula dalam sekejap!” Balas Gald percaya diri.
“Kalau begitu senang mendengarnya. Aku akan menunggu kabar baikmu, sampai jumpa saat penyelidikan.” Ujar Leo sebelum akhirnya meninggalkan gereja.
Sesaat sebelum Leo melangkah pergi, Gald menghentikannya dengan berkata.
“Sekali lagi, terima kasih atas bantuan kalian. Kalian sering sekali membantu kami.” Ujar Gald tersenyum menundukkan kepalanya.
“Bukan masalah. Lagi pula kita adalah rekan satu party.” Balas Leo tersenyum membalasnya.
“Kurasa kau benar... Benar juga... Tetapi tetap saja aku berterima kasih karena telah menjaga adik-adikku. Kalau begitu, sampai jumpa saat penyelidikan nanti.” Balas Gald tertawa gugup menggaruk pipinya sebelum melambai kepadanya.
“Ya. Sampai jumpa lagi.”
Leo dan Lia pun kembali di sore hari itu dengan janji bertemu lagi dua hari lagi saat tambang kembali dibuka. Akhirnya waktu yang telah mereka tunggu akan tiba, semua pertanyaan yang selama ini mereka simpan akan mendapatkan jawabannya.
__ADS_1