Black Arc Saga

Black Arc Saga
Ucapan terima kasih dan ajakan


__ADS_3

Setelah menceritakan rencananya kepada Lia, mereka berdua akhirnya menjalankan rencana mereka. Leo menarik nafas panjang membulatkan tekadnya sebelum akhirnya memulai serangannya pada serigala itu. Ia berlari searah serigala itu ketika dia menyambutnya dengan ayunan cakar sihirnya.


 


“Rrrrr...!!”


 


“Haaa...!!”


 


Leo menahan serangan itu dengan pedangnya ketika Lia datang dari sisi lain melancarkan serangannya. Menyadari hal itu, sang serigala lantas melompat mundur mengambil jarak dari Leo guna menghadapi serangan Lia. Ia menggeram menajamkan cakar sihirnya sebelum melompat langsung ke arah Lia.


 


“....!!”


 


Namun, Leo tidak melepaskannya begitu saja. Dengan kekuatannya, ia melompat menyamai ketinggian lompatannya sebelum akhirnya ia mengayunkan pedangnya dan menggagalkan niatnya untuk menyerang Lia.


 


“Raarrghh...!!”


 


Dengan satu ayunan yang kuat, Leo memotong salah satu cakar sihir serigala itu sebelum akhirnya mengayunkan tendangan keras tepat pada moncongnya hingga menyebabkan beberapa giginya patah ketika semua yang menyaksikannya terksima.


 


“D-Dia menendangnya...! Dia menendang serigala itu...!” Ujar wanita kedua terperanga.


 


“Dia mengikutinya... Dia tidak melepaskan lawannya begitu saja bahkan ketika lawannya mengabaikannya...” Ujar wanita pertama terkesima.


 


Saat mereka berdua terkesima dengan tindakan Leo, pria berambut pirang itu menyadari sesuatu di balik tindakan tersebut. Memang tidak bisa dipungkiri lagi kalau ia juga terkejut dan terpukau melihat tindakan Leo, tetapi bukan hanya itu saja yang menarik perhatiannya.


 


“(Gerakannya menakjubkan sekaligus mengejutkan... Tetapi, aku merasa ada yang salah darinya...)” Ujar pria berambut pirang dalam hatinya curiga.


 


Menerima tendangan itu membuat sang serigala kehilangan momentum dan kendali atas tubuhnya yang menciptakan celah bagi Lia untuk menyerangnya.


 


“Sekarang, Lia...!” Seru Leo perlahan jatuh dari ketinggian.


 


Dengan memusatkan sihirnya pada bilah pedangnya, Lia melesat secepat langkah kakinya sebelum akhirnya ia melompat ke udara tepat ketika pedangnya membara oleh sihirnya yang berwarna merah tua.


 


“Tehnik pedang: Flow of Autumn, Eight Row.”


 


Ia mengayunkan serangannya beberapa kali dengan cepat menembus bulu lebatnya. Saat serangannya berakhir, tubuhnya meledak dengan sihir merah tua membara yang membentuk tebasan sihir yang menyebar ke segala arah layaknya gelombang kejut sebelum akhirnya Lia mendarat bersama dengan potongan tubuh serigala itu. Darah menghujani pakaiannya sebelum akhirnya Leo datang menghampiri mereka bertiga yang terkesima menyaksikannya.


 


“Bagaimana keadaan kalian? Aku akan segera menolong...” Ujar Leo menghampiri pria yang tergeletak itu sebelum merangkulnya.


 


“Y-Ya... Kami baik-baik saja... Kami hanya terluka ringan...” Balas pria berambut pirang itu dengan nada canggung.


 


“Tunggu dulu... Bukankah kau Gald...? Apa aku benar...?” Balas Leo melihat ke arahnya terkejut dan sadar.


 


“Ya... Itulah namaku... Kita pernah bertemu saat di dalam tambang itu, Leonard Ansgred...” Balas Gald tersenyum masam.


 


Leo tidak menyangka akan bertemu lagi dengannya di luar sini. Entah itu karena kebetulan, mereka bisa bertemu pada saat yang tepat sebelum serigala itu membunuh mereka semua.


 


“Begitu ya. Kita bicarakan nanti, lebih baik kita bawa temanmu kembali ke kota sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Bagaimana dengan lukamu?” Ujar Leo melihat ke arah Lia sebelum kembali menatapnya.


 


“Ugh...! Y-Yah... Kurasa aku masih sanggup berjalan...” Balas Gald berusaha bangkit sambil menahan sakitnya.


 


“Kapten... Jangan memaksakan diri...” Ujar wanita pertama merangkulnya.


 


“Aku baik-baik saja Chrea... Kalau hanya segini, aku masih bisa menahannya...” Balas Gald tersenyum pahit melepaskan tangannya.


 


Meski keadaannya tak jauh berbeda dengan pria yang Leo rangkul, Gald tetap berusaha kuat di hadapan mereka berdua. Leo tahu bagaimana derita Gald yang menahan luka yang ada di tubuhnya.


 


“Baiklah, kita pergi dari sini perlahan-lahan saja...” Ujar Leo dengan wajah masam melihat ke arah Lia memberinya isyarat.


 


“Y-Ya...” Balas Gald dengan nada tercekik.


 


Setelah itu, mereka pun berjalan keluar dari hutan bersama-sama guna menolong Gald dan temannya yang terluka. Meski masih belum diketahui bagaimana bisa mereka bertemu dengan Silver Moon Wolf, tetapi pertanyaan itu pasti akan terjawab nanti.


 


Sesampainya di kota, mereka langsung membawa Gald dan teman-temannya menuju ke rumah sakit. Dengan bantuan dari penduduk desa yang berada tak jauh dari hutan, mereka dapat menggunakan kereta kuda untuk sampai ke kota dengan lebih cepat. Dan dengan demikian, mereka berdua akhirnya bisa mendapatkan pertolongan pertama sebelum semuanya terlambat.


 


“Bagaimana keadaannya, dokter?” Tanya Chrea kepada dokter yang merawat Gald dan temannya.


 


“Untuk pasien pertama, dia hanya pingsan akibat luka yang dideritanya. Dan untuk pasien kedua, lukanya sama dengan pasien pertama, hanya saja tidak separah pasien pertama.” Jawab sang dokter sambil melepaskan kacamatanya.


 


“Syukurlah... Aku sangat takut dengan keadaan mereka...” Ujar wanita kedua menghela nafas lega.


 


“Terima kasih banyak dokter, anda telah menolong teman-teman saya...” Sambung Chrea membungkukkan badannya berterima kasih.


 


“Terima kasih kembali. Kalau begitu, saya permisi dulu...” Balas sang dokter tersenyum sebelum akhirnya meninggalkan mereka.


 


Setelah sang dokter pergi, mereka berempat pun memutuskan untuk menjenguk mereka berdua yang berada di dalam. Terlihat Gald yang bersandar lemas di tempat tidurnya sementara temannya masih tertidur pulas. Keadaannya sudah terlihat jauh lebih baik dari saat ketika mereka keluar dari hutan.


 

__ADS_1


“Gald-nii... Syukurlah kau baik-baik saja...!” Ujar wanita kedua itu berlari memeluknya.


 


“O-Oi... Kirishima, sudahlah... Dan juga jangan panggil aku begitu ketika kita di luar...” Balas Gald tersenyum pahit sambil berusaha menenangkannya.


 


“Sungguh, kapten memang orang yang gegabah... Kau benar-benar membuat kami khawatir, kau tahu?” Balas Chrea menghela nafas singkat sambil tersenyum masam.


 


“Ahaha... Aku tidak memikirkannya...” Balas Gald tertawa pahit sambil menggaruk rambutnya.


 


“Itu benar... Kau memang membuat kami khawatir...” Ujar Kirishima menyeka air matanya.


 


“.... Baiklah, aku minta maaf. Sekarang semuanya sudah berlalu, aku baik-baik saja...” Balas Gald dengan senyum menyesal sambil membelai rambut Kirishima.


 


Tidak seperti party yang biasa Leo temui, hubungan mereka sangat dekat. Di satu sisi hal itu membuatnya sedikit iri dengan kedekatan mereka yang mengingatkan Leo betapa kejamnya perlakuan penduduk desanya pada dirinya yang dulu. Meski tinggal bersama, ia tidak pernah merasakan kedekatan dari mereka.


 


“(Aku senang melihat hubungan yang dibangun atas kepercayaan di antara mereka... Mereka adalah party yang baik dari semua yang pernah kulihat...)” Ujar Leo dalam hatinya senang melihat kedekatan mereka.


 


Tak lama berselang setelahnya, rekan Gald akhirnya bangun dari tidurnya setelah mendengar kebisingan di antara mereka bertiga. Ia membuka matanya dengan wajah bingung melihat sekeliling sebelum akhirnya ia sadar apa yang baru saja menimpanya.


 


“...!! Kapten...! Teman-teman...! Di mana ini...! Bagaimana dengan beruang itu...? Bagaimana aku bisa berada di sini...! Apa ini alam lain...?!” Ujarnya bangun dari ranjangnya dengan wajah panik.


 


“Ho? Akhirnya kau sadar juga, Zen. Kami sudah menunggumu, kau tahu?” Ujar Gald menyapanya dengan senyum gembira.


 


“H-Huh...? Kapten... Semuanya... Apa yang telah terjadi...?” Balas Zen dengan wajah pucat kebingungan.


 


“Kita berada di rumah sakit, kau terluka saat berusaha melindungi Chrea dan Kirishima dan mereka berdua lah yang menolong kita sampai ke sini dengan selamat...” Jawab Gald sebelum menoleh ke arah Leo dan Lia.


 


Leo tersenyum menyapanya saat Lia mengangguk sebagai sapaan terhadapnya. Zen lantas terkejut melihat mereka berdua sebelum akhirnya ia bangun dari tempat tidurnya dengan wajah riang.


 


“Mereka berdua... Bukankah mereka Leonard Ansgred dan Alicia sang pembunuh Troll...! Aku tidak percaya itu benar-benar mereka...!” Ujarnya antusias.


 


“S-Salam... Senang melihatmu kembali sadar...” Balas Leo memaksa tersenyum.


 


“Bagaimana bisa kalian di sini...? Aku punya banyak hal yang ingin kukatakan kepada kalian...!” Sambung Zen berjalan menghampiri Leo dan Lia dengan wajah gembira.


 


“O-Oi. Zen, kau baru saja sadar, sebaiknya jangan kau paksa tubuhmu untuk bergerak...” Ujar Gald dengan wajah cemas.


 


“Yang benar saja... Mereka berdua adalah petualang yang sedang dibicarakan itu-“


 


Sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, Zen kehilangan keseimbangan hingga membuatnya terjatuh, namun beruntung Chrea ada di dekatnya menangkapnya sebelum hal itu terjadi.


 


 


“Ya. Ya. Ya. Aku sudah mendengarnya darimu ratusan kali, papan!” Balas Zen dengan wajah kesal.


 


“Hah...! Apa katamu!” Balas Chrea marah.


 


“Sudahlah kalian berdua, jangan memperpanjang masalah ini. Kita tidak ingin mereka berdua melihat hal memalukan dari kalian, bukan?” Ujar Gald menengahi mereka berdua.


 


“Ugh...! M-Maafkan aku atas kegaduhan ini...” Balas Zen menundukkan kepalanya menyesal.


 


“Itu benar, sesali kesalahanmu!” Ujar Chrea membusungkan dadanya.


 


“Tch...”


 


Tidak seperti yang terlihat, mereka berdua bisa dikatakan sangat dekat. Seperti yang dikatakan orang-orang, dia yang sering bertengkar denganmu adalah orang kedua yang paling mengenalmu selain dirimu sendiri. Kata-kata itu sangat cocok bagi mereka berdua.


 


“Kurasa beginilah... Inilah party kami, aku harap kalian berdua bisa memakluminya....” Ujar Gald tersenyum canggung kepada Leo dan Lia.


 


“Tidak masalah... Kami sudah terbiasa dengan hal ini...” Balas Leo sambil tersenyum masam.


 


“Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih kepada kalian karena telah membantu kami sebelumnya.” Ujar Gald menundukkan kepalanya di hadapan mereka berdua.


 


Melihat hal itu, Zen, Chrea dan Kirishima ikut menundukkan kepala mereka sebagai tanda hormat kepada Leo dan Lia karena telah menyelamatkan kelompok mereka. Meski hal ini cukup berlebihan bagi Leo, ia tidak bisa mencegah niat tulus mereka yang ingin mengucapkan terima kasih kepadanya. Sejujurnya ia masih belum terbiasa dengan hal-hal semacam ini.


 


“Tidak, itu bukan masalah yang besar.” Ujar Leo membalas ucapan terima kasih mereka.


 


“Kau sudah pernah menyelamatkan nyawa kami dua kali, bagimu mungkin bukan hal yang besar, tetapi bagi kami, ini adalah hal yang sangat berarti. Jika ada hal yang bisa kami lakukan untuk membalas kebaikanmu, katakan saja. Kami akan dengan senang hati akan melakukannya.” Balas Gald tersenyum tulus kepadanya.


 


“Aku bisa bernafas sampai saat ini karenamu dan nona Alicia, aku harap aku bisa membalas kebaikan kalian...” Ujar Zen menaruh tangan di dada kirinya.


 


“Leonard-san, Alicia-san, terima kasih banyak karena telah menolong Zen-kun dan Gald-nii... Bagiku mereka adalah keluarga yang sangat berarti...” Sambung Kirishima membungkukkan badannya kepada mereka berdua.


 


“Benar, jika ada masalah, datanglah dan temui kami kapan saja. Kami akan siap membantu kalian.” Ujar Chrea dengan senyum percaya diri.


 


Melihat ketulusan mereka, Leo tidak tahu lagi harus membalas apa. Untuk saat ini, ia hanya bisa tersenyum seperti biasa kepada mereka sambil mengikuti pembicaraan yang sedang berlangsung.

__ADS_1


 


“Meski begitu... Kurasa tidak banyak yang bisa kami tawarkan...” Ujar Gald tersenyum pahit sambil memalingkan pandangannya.


 


“Ah. Tidak apa-apa. Aku tidak ingin membebani kalian dengan permintaanku...” Balas Leo mencoba menghiburnya.


 


“Kau memang sangat baik... Tapi tetap saja kami merasa tidak enak jika tidak bisa membalas kebaikan yang telah kau lakukan kepada kami...” Ujar Gald kembali melihat ke arahnya kecewa.


 


“Aku benar-benar tidak butuh apa pun. Asalkan kalian selamat, itu sudah cukup...” Balas Leo dengan nada canggung.


 


Memang cukup sulit menolak tawaran mereka, namun Leo merasa itulah yang terbaik bagi semuanya. Ia tahu kalau mereka bukanlah petualang yang berpengalaman, itulah sebabnya ia tidak ingin memberi mereka beban dengan memberi mereka permintaan yang di luar kemampuan mereka.


 


“Hm... Bagaimana kalau begini, bergabunglah dengan party kami.” Ujar Gald dengan nada yakin.


 


Semuanya terdiam untuk sejenak sebelum akhirnya sadar akan apa yang Gald katakan.


 


“Kapten, apa yang kau katakan barusan...!” Ujar Chrea dengan wajah terkejut.


 


“Tolong jangan bercanda...!” Sambung Kirishima dengan wajah malu.


 


“Kapten... Aku memang bodoh, tetapi aku tidak menyangka kau akan mengatakan itu...” Ujar Zen terperanga mendengar ucapannya.


 


“Aku tahu ini kedengarannya bodoh dan terkesan tidak sopan, tetapi dengarkan dulu penjelasanku...” Balas Gald mencoba meluruskan kesalahpahaman mereka.


 


Gald mengumpulkan mereka bertiga untuk berunding sebelum ia mulai menjelaskan alasannya mengajukan pertanyaan tersebut secara perlahan dan jelas agar niatnya dapat sampai dengan baik.


 


“... Tolong dengarkan, kita secara keuangan dan kemampuan memang tidak bisa diharapkan. Dengan kata lain, kita tidak punya apa-apa untuk dijadikan sebagai balasan...” Bisik Gald kepada mereka bertiga.


 


“Ugh... Benar juga...” Balas Zen berbisik dengan nada kecewa.


 


“Meski malu mengakuinya, kita memang dalam keadaan yang tidak memungkinkan...” Sambung Chrea dengan wajah kecewa.


 


“Tetapi, bukan hal itu saja yang membuatku memutuskan hal ini... Aku menyadarinya baru-baru ini... Zen, dia sama seperti kita... Leonard Ansgred adalah salah satu dari kita...” Ujar Gald melihat ke arah Zen dengan gembira.


 


“Dia sama seperti kita...? Apa maksudmu...? Tunggu, jangan katakan... Jangan-jangan dia...” Balas Zen kebingungan sesaat sebelum ia sadar dan terkejut.


 


“Ya, kau mengerti, bukan...?” Balas Gald tersenyum yakin.


 


Setelah mendengar alasan Gald, mereka bertiga setuju atas usulannya dan mendukung sepenuhnya rencananya. Sisanya, ia hanya harus meyakinkan Leo untuk menerima tawarannya.


 


“Ah, maaf membuat kalian menunggu. Jadi, seperti kataku sebelumnya, apa kalian bersedia bergabung bersama kami...?” Ujar Gald dengan senyum ramah.


 


“....”


 


“U-Uh... Kami mengerti kalau kalian tidak tertarik dengan tawaran ini, tetapi dengarkan dulu alasan kami...” Sambung Gald mencoba meyakinkan mereka berdua.


 


Leo hanya diam tidak menjawab ucapan Gald. Ia hanya bersembunyi di balik bayangan rambutnya ketika Lia yang berada di sisinya menyadari apa yang sebenarnya Leo rasakan.


 


“Leo....” Gumam Lia memanggilnya lemah.


 


Ia pasti teringat kejadian ketika ia dikhianati oleh party yang sebelumnya. Memang saat itu Lia tidak berada langsung untuk melihat apa yang mereka lakukan kepadanya, tetapi ia bisa menebak bagaimana kejadian yang melukai hati Leo. Saat itu ia memang tidak ada di tempat untuk membela Leo, tetapi tidak kali ini. Sebelum terlambat, Lia tidak akan membiarkan hal itu sampai terulang kembali.


 


“Maaf saja, tapi kami-“


 


Tepat sebelum Lia menyelesaikan kalimatnya, Leo menggenggam tangannya menghentikannya melontarkan kalimat tersebut.


 


“L-Leo, kenapa...?” Bisik Lia dengan wajah cemas.


 


“.... Mhm.” Balas Leo menggelengkan kepalanya.


 


Ekspresi Leo memang tidak dapat ia tebak. Namun, ia sadar saat ini dia sedang berusaha mengatakan sesuatu kepadanya untuk tidak langsung menolak ajakan mereka. Ia pun mengurungkan niatnya sesaat sebelum Leo mengangkat wajahnya ke hadapan Gald dan teman-temannya sebelum membalas ucapan mereka.


 


“Maaf sebelumnya, tetapi bisakah beri kami waktu? Kami belum bisa memutuskannya sekarang...” Ujar Leo tersenyum masam kepada mereka.


 


“U-Uh... T-Tentu. Tentu saja...” Balas Gald dengan wajah terkesima.


 


“Kami harus memutuskannya terlebih dahulu karena ini terlalu mendadak... Aku mohon kalian memakluminya...” Balas Leo sambil memalingkan pandangannya.


 


“Y-Ya. Kami juga tidak memaksa... Silahkan ambil waktu kalian untuk memikirkannya...” Balas Gald tersenyum pahit.


 


“Terima kasih... Kalau begitu, kami permisi... Semoga lekas sembuh kalian berdua...” Balas Leo sebelum beranjak pergi.


 


“Jika kalian berubah pikiran, beritahu kami...”


 


“Y-Ya. Kalau begitu, sampai jumpa...”

__ADS_1


 


Lalu setelahnya, Leo pergi begitu saja meninggalkan rumah sakit bersama dengan Lia. Meski wajahnya tersenyum, Lia bisa merasakan bahwa Leo saat ini tengah sedih memikirkan pengalaman buruknya. Bagaimana pun juga, ini adalah masalah yang serius baginya. Hal ini menyangkut tentang kepercayaan terhadap orang lain. Yang menjadi pertanyaan adalah, setelah kejadian buruk yang menimpanya sebelumnya, apakah Leo masih bisa mempercayai orang lain?


__ADS_2