
Esok paginya, tepatnya di ibu kota kerajaan, salah seorang prajurit istana terlihat berlari tergesa-gesa melewati sebuah lorong panjang yang berada di salah satu sisi istana. Dan bersama dengannya, ia membawa sebuah surat di tangannya sebelum akhirnya ia sampai di ujung lorong tepatnya di sebuah pintu kayu berlapis ukiran besi dan berhenti tepat di hadapannya. Terdapat simbol militer kerajaan tepat di tengah-tengah pintu tersebut dari logam yang mengkilap sebelum akhirnya prajurit itu mengetuknya dengan perlahan.
“Permisi, Richard-sama. Ada hal yang ingin saya sampaikan kepada anda.” Ujar prajurit tersebut dengan nada sopan.
Untuk beberapa saat tidak terdengar jawaban sama sekali. Prajurit itu lantas berinisiatif untuk kembali mengetuk sesaat sebelum sesosok suara menjawabnya.
“Kau rupanya. Ya, kau diizinkan masuk...” Balas sesosok suara asing dari balik pintu tersebut.
Setelah mendengarnya, prajurit itu lantas membuka pintu secara perlahan dan memasuki ruangan tersebut untuk menghadap sosok suara yang menjawabnya. Terlihat ruangan kerja klasik yang dipenuhi oleh rak buku dan beberapa benda seperti zirah dan perisai sebagai hiasan. Pada saat yang bersamaan pula, terlihat sesosok pria tengah duduk di meja kerjanya yang menghadap langsung ke jendela menyambut kedatangan prajurit tersebut sebelum ia menundukkan tubuhnya memberi salam hormat kepadanya.
“Permisi, Richard-sama. Saya hendak mengantarkan surat yang ditulis langsung oleh Morgen-sama kepada anda dari kota Hillbern.” Ujar prajurit tersebut menunjukkan surat yang dibawanya.
“Akhirnya sampai juga, huh...?” Balas Richard menghentikan tulisan tangannya.
“Ya. Jika anda berkenan, silahkan dibaca...”
Richard bangun dari kursinya menghampiri prajurit itu untuk menerima surat yang ditujukan untuknya. Ia pun membuka surat tersebut sebelum akhirnya membaca isinya.
“Hm... Jadi begitu, aku mengerti sekarang. Aku dengan ini menerimanya. Aku akan melaporkannya kepada yang mulia raja nanti. Kerja bagus...” Gumam Richard membaca surat tersebut sebelum kembali bicara dengannya.
“Terima kasih banyak atas pujiannya. Apa anda akan membalasnya sekarang?” Balas prajurit itu sebelum bertanya.
“Tidak, dia tidak memerlukan balasanku untuk bertindak lebih lanjut. Sebagai gantinya, aku ingin kau mengirim surat ini kepada Northey di Winsberg.” Balas Richard memberikan secarik kertas kepadanya.
“Dimengerti. Saya akan mengirimnya dengan elang pengantar pesan secepatnya.” Balas prajurit itu menerimanya.
Setelah menerima surat tersebut, prajurit itu lantas pergi meninggalkan ruangan menyisakan Richard seorang diri. Ia lantas kembali ke mejanya membawa surat Morgen bersamanya sebelum ia menyalakan sebuah lilin. Ia lantas membakar surat tersebut dengan api yang menyala sesaat sebelum pesan yang sesungguhnya keluar bersama kobaran api. Beberapa tulisan terlihat seirama dengan warna cahaya yang membakarnya ketika Richard mulai membacanya.
“Ho? Jadi begitu, reruntuhan itu hancur menyisakan jurang raksasa dengan aura sihir kuat di dasarnya. Ini penemuan yang cukup menarik...” Ujar Richard tersenyum masam membacanya.
Selang beberapa saat, pesan itu pun lenyap begitu saja seperti termakan oleh udara. Di satu sisi ia merasa kecewa mengetahui bahwa reruntuhan kuno yang berniat ia selidiki telah lenyap, namun di sisi lain ia merasa senang karena mitos mengenai peninggalan kerajaan kuno itu ternyata benar. Meski tidak terduga, tetapi sejauh ini ia masih bisa menerima hasil yang ada.
“Sayang sekali, aku tidak bisa mendapatkan apa yang ada di bawah kota Hillbern, tetapi setidaknya aku bisa memastikan bahwa apa yang dikatakannya benar...” Sambung Richard bergumam bangkit dari kursinya.
Ia pun berjalan menghampiri jendela memperlihatkan sosoknya yang gagah tinggi dengan rambut coklat gelap yang khas sebatas bahu dan mata keunguannya yang terang. Ia melihat langit melalui jendela yang berada di hadapannya sambil mengingat dua nama yang disebutkan oleh Morgen dalam suratnya sebelum memasang ekspresi curiga di wajahnya.
“Leonard Ansgred dan Alicia Maple, aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya...” Gumamnya mengerutkan alisnya.
Richard memikirkan kedua nama itu sejenak mempertimbangkan kemungkinan mereka berdua menyembunyikan informasi mengenai peninggalan kuno yang ia cari.
“(Petualang, huh...? Orang yang merepotkan, mereka bisa berada di mana saja dengan informasi itu. Menemukan mereka adalah pekerjaan yang merepotkan...)” Ujar Richard dalam hatinya mengeluh.
Ia pun kembali ke mejanya sebelum mengambil gelas dan menuang anggur untuk ia nikmati.
“Bagaimana pun juga, meski aku tidak mendapatkan apa-apa tentang peninggalan di kota Hillbern, semua masih sesuai dengan rencana...” Gumam Richard tersenyum angkuh.
***
Matahari mulai mendekati puncaknya ketika akhirnya Leo dan Lia sampai di kota Winsberg tempat tujuan mereka. Pemandangan unik menyambut mereka begitu menginjakkan kaki di sana, terlihat di sekeliling kota terdapat sisa-sisa reruntuhan bangunan kuno yang seperti hancur dan tertelan tanah menyisakan beberapa bagiannya di permukaan. Sama seperti Hillbern, kota ini juga dulunya merupakan kota sisa-sisa kerajaan kuno yang pernah berkuasa di wilayah tersebut ratusan tahun silam. Hal ini menjadi salah satu ciri khas dari kota Winsberg.
“Lia, kita sudah sampai. Bertahanlah, sebentar lagi kau bisa istirahat...” Bisik Leo dengan nada lembut.
“... Mm.”
Dalam rangkulannya, Lia hanya bisa mengangguk untuk menjawabnya. Keadaannya tidak terlalu baik karena menempuh perjalanan yang sangat jauh dalam keadaan pasca sembuh dari lukanya. Terlepas dari semua hal yang terjadi dalam perjalanan mereka, Lia setidaknya mampu bertahan sampai mereka tiba di tujuan mereka.
“Kau masih kuat berjalan?” Tanya Leo kepadanya.
“...”
“Ah. Harusnya aku tidak mengatakan itu...” Gumam Leo melihat Lia dengan ekspresi pucat.
Ia pun menggendong Lia di punggungnya sebelum akhirnya berjalan menuju pintu masuk kota.
Sesampainya di pintu masuk kota, Leo bertemu dengan beberapa prajurit yang berjaga. Perhatian mereka tertuju kepadanya karena ia membawa sesuatu yang tidak biasa bersamanya. Mereka pun lantas menghampiri Leo untuk menghentikannya.
“Hey, kau yang berambut putih di sana. Bisa kita bicara sebentar.” Ujar salah seorang penjaga.
“...?”
“Ya. Kau. Bisa bicara sebentar?” Sambung penjaga itu menghampirinya.
“... Ada yang bisa kubantu?” Balas Leo dengan eskpresi datar.
“Lebih tepatnya kami ingin bertanya kepadamu. Aku belum pernah melihat orang sepertimu sebelumnya, siapa kau dan siapa gadis yang sedang kau bawa itu?” Balas penjaga itu bertanya sambil melihat Lia di gendongannya.
“Pengelana, mungkin bisa dibilang begitu. Dan ini temanku, dia kelelahan di tengah jalan.” Balas Leo singkat.
“Hm. Begitu.” Balas penjaga itu.
“Temanmu cukup malang juga, huh? Apa yang terjadi padanya?” Sambung penjaga kedua bertanya.
__ADS_1
“Yah, seperti biasa.” Balas Leo singkat.
“Benar juga, ada hal yang ingin kutanyakan kepadamu. Apa kau sempat singgah atau melewati Hillbern? Aku mendengar kabar di sana sebelumnya sempat terjadi bencana ledakan besar yang terjadi secara misterius. Apa kau mengetahuinya?” Sambung penjaga pertama bertanya kepadanya.
“Ah. Benar, aku juga mendengar kabar itu. Kabarnya ada dua orang korban selamat sekaligus saksi yang mengetahui penyebab bencana itu. Apa kalian tahu mengenai hal itu?” Ujar penjaga kedua ikut bertanya.
Leo terdiam begitu mendengar pertanyaan itu. Seperti yang ia perkirakan sebelumnya, berita mengenai insiden itu cepat atau lambat pasti terdengar sampai ke kota ini. Untuk itulah, Leo sudah menyiapkan langkah pencegahan mengenai masalah tersebut.
“Sayang sekali, aku sudah meninggalkan kota sebelum kejadian itu terjadi.” Jawab Leo dengan ekspresi datar.
“Begitu ya. Sayang sekali. Padahal kami berharap bisa mendapatkan informasi yang berguna darimu.” Balas penjaga pertama dengan ekspresi kecewa.
“Kenapa begitu?” Balas Leo dengan wajah bingung.
“Yah, kami mendapatkan perintah untuk mengumpulkan informasi dari siapa pun yang berasal dari sana.” Balas prajurit pertama.
“Begitu ya. Maaf, tapi aku sama sekali tidak tahu mengenai peristiwa yang kalian bicarakan.” Balas Leo dengan wajah biasa.
“Tidak apa-apa. Kami yang seharusnya minta maaf karena telah menahanmu di sini.” Balas penjaga pertama dengan senyum gugup.
“... Begitulah. Aku sudah terbiasa.” Balas Leo singkat.
“Sekali lagi maaf karena menahanmu. Dan juga, selamat datang di Winsberg.” Balas penjaga itu dengan senyum ramah.
Setelahnya, Leo pun memasuki kota tanpa masalah setelah para penjaga menyambutnya dengan ramah. Meski sempat tertahan oleh mereka, namun setidaknya Leo berhasil melewatinya tanpa meninggalkan kesan mencurigakan pada mereka.
Setelah menemukan penginapan dan menyewa kamar, akhirnya Leo bisa mengistirahatkan Lia dengan layak. Ia membaringkannya pada ranjang sesaat sebelum ia duduk di sebelahnya sambil menghela nafas panjang.
“Akhirnya... Setelah nyaris seharian berjalan, akhirnya aku bisa membuatnya istirahat...” Gumam Leo melihat pada Lia yang terlelap.
Meski lukanya telah diobati, Lia masih memerlukan istirahat untuk memulihkan tenaganya. Sampai ia kembali pulih, rencana mereka akan sementara tertunda. Akan berbahaya jika ia mengambil langkah sendiri tanpa sepengetahuannya. Pada saat yang bersamaan, Leo kembali teringat mengenai pembicaraannya dengan penjaga kota. Meski tidak mengerti secara jelas, namun ia merasa ada alasan khusus mengapa mereka mengumpulkan informasi dari pendatang yang berasal dari barat.
“(Aku tidak tahu mengapa, tapi sepertinya mereka mencari informasi atas perintah Ksatria Suci yang sebelumnya sempat Lia singgung...)” Ujar Leo dalam hatinya curiga.
Kemungkinan besar, Ksatria Suci itu juga memiliki niat yang sama, yaitu mencari informasi mengenai peninggalan dari kerajaan kuno. Bagaimana pun juga, kota ini dulunya merupakan bekas wilayah kerajaan kuno itu di masa lalu.
“Mungkin aku akan menunggu jawaban itu setelah aku mengetahui lebih banyak mengenai kota ini...” Gumam Leo melihat ke luar jendela.
Tak lama berselang, Lia mulai kembali sadar ketika Leo tengah bergumam sendiri. Ia lantas melihat ke arahnya ketika Leo yang menyadarinya bangun lantas menyapanya.
“Kau akhirnya bangun. Bagaimana keadaanmu?” Ujar Leo dengan senyum hangat.
“... Mhn. Di mana ini?” Tanya Lia melihat sekeliling dengan ekspresi bingung.
“.... Mm. Begitu ya.”
Lia lantas bangun menyandarkan dirinya ketika ia mencoba mengingat apa saja yang telah ia lewatkan selama terlelap.
“....”
“Ada apa? Apa kau merasa pusing?” Tanya Leo melihat ekspresi aneh di wajah Lia.
“... Mhm. Aku sudah mendingan. Hanya saja, aku seperti mendengar suara orang lain sebelumnya...” Balas Lia mengingat ingatannya yang kabur.
“Mungkin hanya mimpimu saja.”
“... Mhm. Aku mendengar suaramu juga. Dan juga, aku seperti melihat baju besi penjaga kota. Aku yakin aku tidak sedang bermimpi saat itu...”
Untuk sesaat Leo terdiam begitu mendengar pernyataannya. Leo merasa cemas mengetahui bahwa Lia masih setengah sadar ketika mereka dihentikan oleh penjaga kota. Itu artinya Lia mendengar percakapannya dengan penjaga kota sebelumnya yang berniat mencari informasi mengenai insiden di kita Hillbern.
“(Aku tidak mengira Lia mendengar percakapanku dengan mereka...)” Ujar Leo dalam hatinya gelisah.
Meski sebenarnya tidak masalah jika Lia mengetahui percakapannya dengan para penjaga kota, namun pada keadaannya saat ini, Leo khawatir itu akan menjadi beban bagi pikirannya. Hal itu mungkin saja dapat mengganggu pemulihannya. Itulah sebabnya Leo tidak ingin membicarakan masalah itu saat ini dengannya.
“Ah. Ya. Memang sebelumnya aku sempat bicara dengan para penjaga kota.” Ujar Leo dengan ekspresi tenang.
“... Apa yang kau bicarakan dengan mereka?” Balas Lia bertanya.
“Yah, mungkin aku tidak mengatakannya, tapi mereka menghentikanku karena melihatmu dalam gendonganku.” Balas Leo memalingkan matanya sambil menggaruk pipinya.
“Aku...?”
“Ya. Mereka mengira kita adalah korban perampokan atau sejenisnya dan dengan panik menghampiri kita untuk memberikan pertolongan. Dan juga...”
“...?”
“Uh... Beberapa dari mereka juga sempat mengira kalau aku menculik dan berniat menjualmu...”
Lia tertawa mendengar ucapan Leo mengenai dirinya yang sempat dicurigai sebagai penculik. Di sisi lain, Leo yang kehabisan kata-kata hanya bisa pasrah dengan alur aneh yang diciptakannya sendiri guna menghindari kecurigaannya.
“... Aku tidak mengira hal itu.” Ujar Lia terkikik anggun.
“Uh... Aku juga tidak bisa berkomentar mengenai hal itu. Memangnya aku terlihat seperti penculik?” Balas Leo dengan ekspresi kesal.
__ADS_1
“Fufu... Memang.” Balas Lia menggodanya.
“Bahkan kau juga...? Apa aku sangat semencurigakan itu?” Balas Leo kesal.
“Ya. Kau memang menculikku, ingat? Saat pertama kali kita bertemu, secara tidak langsung kau menculikku, bukan?”
“Uh...”
“Membawa seorang gadis tanpa seizinnya sama saja dengan menculiknya, kau tahu itu bukan?”
“...”
Leo seketika terdiam tidak mampu membantah ucapan Lia. Namun setidaknya, ia merasa senang bisa melihat Lia kembali tersenyum seperti sedia kala. Meski ia merasa sedikit bersalah karena membohonginya, namun saat ini hal itu tidak menjadi masalah selama ia bisa menghibur Lia yang dalam kondisi lemah.
“(Setidaknya, kebohonganku bisa menjauhkan pikiran buruk itu darinya...)” Ujar Leo dalam hatinya lega.
Mereka pun berbincang dan bercanda sesekali hingga pada akhirnya Lia kembali tidur beristirahat. Leo menemaninya sampai ia benar-benar terlelap sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi ke kota untuk mengerjakan sesuatu.
“Aku akan segera kembali...” Bisik Leo sambil membelai Lia lembut.
Ia pun meninggalkannya untuk beristirahat sementara dirinya pergi menuju kota.
Hal pertama yang Leo lakukan adalah mencari toko senjata atau pandai besi. Seperti yang bisa dilihat, Leo sama sekali tidak bersenjata karena terakhir kali ia membelinya, senjata itu hilang setelah ia selamat dari bencana itu. Itulah mengapa ia mencari penjual senjata.
Selagi mencari, Leo mengamati tiap sudut kota yang ada di sepanjang jalannya. Tidak seperti Hillbern, kota ini didominasi oleh arsitektur modern saat ini yang membuatnya terkesan tidak jauh berbeda dengan kota lain yang ada di kerajaan ini. Meski demikian, banyak yang mengatakan bahwa di bawah kota ini terdapat lebih banyak peninggalan kuno dari pada wilayah lain yang ada di sekitar sini. Mungkin saja itu ada hubungannya dengan peran kota ini di masa lalunya.
“(Entah kenapa, kota ini terasa lebih kental kesan kunonya dari pada Hillbern...)” Gumam Leo dalam hatinya.
Ia lantas melanjutkan pencariannya hingga akhirnya menemukan toko senjata yang berada di dalam gang yang terlihat tidak terlalu ramai. Karena tidak memiliki pilihan, akhirnya Leo memutuskan untuk ke sana.
“Hm? Pelanggan?” Gumam penjaga toko melihat Leo masuk.
“Selamat siang, apa boleh aku melihat-lihat senjata yang ada di sini?” Ujar Leo dengan nada sopan.
“Ya, selamat datang. Rupanya pelanggan seperti yang kukira sebelumnya. Anda berniat membeli senjata, bukan?” Balas penjaga toko menyambutnya dengan ekspresi datar.
“Y-Ya. Bolehkah?”
“Tentu saja. Silahkan lewat sini, kami punya beberapa produk yang menarik...”
Tidak seperti nada bicaranya, ekspresi di wajahnya benar-benar berbanding terbalik dengan apa yang ia ucapkan. Meski tidak terganggu, namun tetap saja hal itu cukup aneh untuk Leo.
“Di sini, silahkan pilih tipe senjata mana yang anda kuasai...” Ujar pria penjaga toko menunjukkan rak senjata.
“... Terima kasih.” Balas Leo singkat.
“Jika perlu sesuatu, silahkan panggil saya...” Balas penjaga toko itu sebelum pergi meninggalkannya.
Sesaat setelah penjaga toko meninggalkannya, Leo mulai memilah dan memilih senjata yang ada di sana. Tidak seperti kebanyakan kota yang ia singgahi, toko ini tidak banyak menyediakan model senjata. Ia hanya menemukan tombak dan pedang serta beberapa perlengkapan lain seperti helm dan zirah ringan. Selain barang yang Leo sebutkan, tempat ini didominasi oleh barang-barang rumah tangga.
“(Ternyata tidak banyak yang di jual di toko ini. Mereka sebagian besar hanya menjual keperluan rumah. Mungkin ada alasan yang membuat mereka melakukannya...)” Gumam Leo dalam hatinya.
Meski tidak seperti kebanyakan toko senjata lain, setidaknya ia masih bisa mendapatkan pedang dan perlengkapan lain untuk membantunya dalam perjalanannya. Itu sudah lebih dari cukup mengingat bagaimana kondisi keuangannya saat ini sedang tidak bagus. Jika ia tidak mengambil beberapa koin dari para perampok itu, mungkin saja ia dan Lia akan tidur di kandang kuda.
“(Aku tidak bisa memilih saat ini, jadi ambil saja apa yang ada...)” Sambung Leo dalam hatinya sambil menghela nafas.
Ketika ia hendak memilih pedang yang akan ia ambil, secara tidak sengaja penglihatan Leo berubah. Hal itu terjadi saat ia tengah mengamati pedang yang ada di tangannya untuk memastikan apakah masih ada sisa tempaannya. Terkejut dan kebingungan, ia mencoba menyeka matanya dengan tangannya untuk memastikan bahwa semua yang dilihatnya hanya bagian dari pikirannya. Hal itu berhasil untuk sesaat, namun keadaan itu kembali lagi ketika ia kembali mengamati pedang yang berniat ia beli.
“(Sial...! Apa ini...! Kenapa dia tidak mau hilang...!)” Ujar Leo dalam hatinya kesal.
Karena merasa tidak nyaman, Leo pun memutuskan untuk memastikannya di cermin. Ia kembali memfokuskan matanya sesaat sebelum penglihatannya berubah sama seperti sebelumnya ketika Leo menyadari apa yang terjadi pada dirinya.
“(Ini... Apa yang terjadi dengan mataku...?!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.
Ketika melihat dirinya sendiri di cermin, terlihat pupil mata Leo yang sebelumnya berwarna perak berubah menjadi berwarna biru tua dan memancarkan cahaya. Entah bagaimana menjelaskannya, namun keadaan ini jelas mengejutkannya. Untuk sekilas, penampakannya mirip dengan mata sihir, namun Leo yakin bahwa yang terjadi padanya bukanlah hal itu.
“(Banyak hal aneh sejak aku pergi meninggalkan Hillbern... Apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhku...?)” Ujar Leo dalam hatinya kebingungan.
Untuk saat ini, ia belum bisa menemukan jawaban untuk masalahnya. Sampai ia tahu penjelasan di balik kasusnya, Leo akan menyembunyikan rahasia ini, khususnya dari Lia. Ia tidak ingin membuatnya khawatir.
Setelah selesai membeli senjata dan perlengkapan petualangnya, Leo pun pergi meninggalkan toko itu. Karena hari masih siang, ia pun memutuskan untuk berkeliling kota. Selama ia berjalan, ia menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak dimiliki oleh kota ini.
“(Ini aneh... Sejak aku pertama kali menginjakkan kakiku ke kota ini, aku tidak melihat satu pun petualang...)” Ujar Leo dalam hatinya heran.
Bahkan di jalan-jalan utama yang banyak dilalui orang, ia sama sekali tidak menemukan seorang pun petualang. Tidak hanya itu, meski telah menyusuri kota, Leo sama sekali tidak menemukan bangunan Guild petualang di mana pun. Ini menjelaskan mengapa ia sama sekali tidak menemukan petualang di kota ini selain dirinya.
“(Jadi, aku dan Lia adalah satu-satunya petualang di kota ini... Mungkin ini bisa menjadi hal bagus namun juga merugikan bagi kami...)” Ujar Leo dalam hatinya gelisah.
Identitas sebagai petualang mungkin akan berguna di beberapa situasi. Namun, tidak dengan keadaannya saat ini. Untuk saat ini, menyembunyikan identitas adalah hal yang tepat sampai mereka menyelesaikan masalah mereka yang ada di sini.
Matahari mulai bergeser ke ufuk barat ketika Leo memutuskan untuk kembali ke penginapan. Namun, ketika ia mencapai alun-alun, ia secara tidak sengaja berpapasan dengan sekelompok prajurit berkuda yang baru saja kembali dari tugas mereka. Bersama dengan mereka, terlihat seorang Ksatria dengan simbol kerajaan di dadanya memimpin barisan.
“(Simbol itu... Tidak salah lagi dia adalah Ksatria Suci...)” Ujar Leo dalam hati mengamatinya dari kejauhan.
__ADS_1
Tidak salah lagi, dia pasti Ksatria Suci yang sempat Lia singgung sebelumnya. Untuk alasan kenapa dia ada di sini masih belum dapat dipastikan. Namun menurut perkiraan Lia, dia dikirim ke kota ini untuk mencari peninggalan kuno yang terkubur di bawah kota ini. Dialah alasan mengapa Leo dan Lia ada di kota ini. Dengan ini, tujuan mereka menjadi jelas, yaitu mengungkap apa yang sedang dicari olehnya.