
Begitu kembali ke kamar penginapan, terlihat Lia yang telah sadar tengah menunggu kepulangannya berdiri menatap ke luar jendela sebelum perhatiannya tertuju kepada Leo. Ia terlihat lebih baik dari sebelumnya, wajahnya yang sebelumnya pucat kini kembali normal ketika ia menyambut kepulangannya dengan senyum manisnya.
“Selamat datang, Leo...” Sapa Lia dengan ramah.
“... Lia, kenapa kau tidak di ranjangmu? Apa keadaanmu baik-baik saja?” Balas Leo dengan ekspresi cemas.
“Mm. Aku sudah lebih baik. Aku sengaja mencari udara segar sejenak sambil menunggu kau pulang.” Balas Lia berjalan menghampirinya.
“Begitu ya.”
Leo lantas meletakkan pedangnya sebelum Lia duduk di sebelah ranjangnya. Entah kenapa, suasana menjadi canggung bagi Leo. Tidak seperti biasanya, Lia terlihat jauh lebih ceria hingga membuatnya bertanya-tanya apa yang membuatnya bertingkah seperti itu.
“(Apa dia jangan-jangan marah karena aku meninggalkannya...?)” Ujar Leo dalam hatinya waswas.
Mungkin Lia tidak banyak bicara, namun jika orang pendiam mendadak bicara lebih dari biasanya, maka itu berarti satu hal.
“Lia...” Bisik Leo memanggilnya.
“Hm?”
“Apa kau marah?” Tanya Leo dengan wajah cemas.
“...? Kenapa kau berpikir demikian?” Balas Lia dengan ekspresi bingung.
Dilihat dari ekspresinya, Lia sepertinya tidak sadar bahwa ia sempat meninggalkannya sendirian sebelumnya. Ia merasa lega di satu sisi, namun di saat yang sama pula ia merasa tidak enak karena telah meninggalkannya tanpa memberitahunya.
“Tidak, bukan apa-apa. Hanya memeriksamu saja.” Balas Leo menurunkan bahunya sambil menghela nafas.
“...? Memeriksaku?” Balas Lia masih dengan ekspresi yang sama.
“Ya. Orang yang sakit cenderung mengalami emosi yang tidak stabil. Setidaknya, itulah yang kupelajari...” Balas Leo.
“... Kurasa bukan begitu cara memeriksanya.”
“....?”
Lia meraih tangannya sebelum meletakkannya perlahan ke pipinya sebelum melanjutkan pembicaraan. Leo seketika terkejut dengan tindakannya, namun sepertinya Lia terlihat menginginkannya.
“L-Lia, apa yang kau...” Ujar Leo dengan nada gugup.
“Kau bilang ingin memeriksaku, bukan?” Balas Lia tersenyum sayu.
“U-Uh...”
“Fufu...”
Lia tertawa kecil dengan senyum anggunnya menikmati momen tersebut. Meski agak rumit mengatakannya, namun sepertinya Lia sudah sepenuhnya baik-baik saja. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk membicarakan rencana mereka. Leo lantas membulatkan tekadnya untuk mengatakannya.
“Lia, ada sesuatu yang ingin kuberi tahu kepadamu.” Ujar Leo dengan nada serius.
“.... Apa itu?” Balas Lia dengan ekspresi berubah.
“Aku menemukannya, orang yang pernah kau maksud. Dia ada di sini, aku melihatnya sendiri.” Balas Leo dengan wajah serius.
“... Ceritakan kepadaku.” Balas Lia dengan nada serius.
Leo mulai menceritakan apa yang terjadi ketika ia bertemu Ksatria Suci dalam perjalanannya kembali ke penginapan.
Kembali pada saat ketika Leo tidak sengaja berpapasan dengan rombongan prajurit berkuda, ia melihat seorang Ksatria dengan simbol kerajaan di dadanya memimpin barisan tersebut. Mereka terlihat bergerak menuju ke timur kota di mana vila milik seorang bangsawan penguasa kota berada.
“(Jika benar dia adalah orang yang Lia maksud, maka ini menjadi kesempatan yang bagus untuk mencari tahu tentangnya...)” Ujar Leo dalam hatinya.
Leo memutuskan untuk mengikutinya guna mendapatkan informasi yang mungkin saja berguna darinya. Dengan menyembunyikan diri, ia mengikuti barisan tersebut sambil terus mengamatinya. Hingga pada akhirnya, mereka berhenti di kediaman bangsawan tersebut ketika Ksatria Suci itu menunjukkan sosoknya.
“(Dia membuka helmnya... Ini saat yang tepat...)” Gumam Leo dalam hatinya.
Ksatria Suci itu membuka helmnya ketika seorang pelayan wanita menyambut kedatangannya. Leo yang menyaksikan kesempatan tersebut lantas menggunakan kemampuan matanya untuk mengamatinya dengan lebih jelas. Seketika itu pula, pandangan Leo dipenuhi oleh luapan aura hebat yang menyelimutinya hingga membuatnya sontak terkejut menyaksikannya.
“(A-Apa ini...? Dari mana sumber cahaya aneh itu...? Apa itu mungkin kekuatannya...?)” Ujar Leo dalam hatinya terkesima.
Aura kuat yang menyelubunginya itu nyaris menelan semua prajurit dan pelayan yang ada di dekatnya, bahkan menjulang sampai belasan meter ke udara. Jika memang benar yang Leo lihat adalah auranya, maka artinya dia benar-benar mengerikan. Dengan aura sebesar itu, tidak dapat dibayangkan lagi bagaimana kekuatannya.
“(Mengerikan... Bahkan dari sini saja aku bisa merasakan tekanan dari kekuatannya... Gelar itu rupanya tidak sembarangan diberikan...)” Sambung Leo dalam hatinya gelisah.
Namun, pada saat yang bersamaan, karena merasa ada yang mengawasinya, Ksatria Suci itu lantas memutar pandangannya ke arah Leo yang tengah mengamatinya secara diam-diam. Leo lantas menyembunyikan dirinya ketika Ksatria Suci itu mulai merasa curiga akan kehadiran sosok yang selama ini mengawasinya.
“Ada apa, Northey-sama? Apa ada masalah?” Tanya pelayan itu kepadanya.
“Aneh, rasanya aku seperti diawasi oleh seseorang.” Balas Ksatria Suci itu dengan ekspresi curiga.
“E-Eh...? Apa maksud anda...?” Balas pelayan itu dengan wajah cemas.
“Aku yakin sekali ada yang menatapku dengan tajam di suatu tempat. Tapi sekarang dia sudah tidak ada seperti menghilang begitu saja...” Sambung Northey mengalihkan pandangannya mencari ke sisi lain.
Ia mulai mencari keberadaan orang yang sebelumnya mengawasinya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Leo. Meski telah menyembunyikan keberadaannya dengan baik, Leo masih dapat dideteksi olehnya yang membuatnya seketika panik.
“(Sial...! Dia menyadariku walau aku telah menekan keberadaanku...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.
__ADS_1
Merasa berbahaya untuk dilanjutkan, akhirnya Leo memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu dan mengakhiri pengintaiannya. Dan begitulah bagaimana Leo mendapatkan informasi mengenainya. Meski tidak banyak, namun setidaknya itu cukup untuk menjadi bahan pertimbangan mereka nantinya.
“... Jadi begitulah cerita bagaimana aku bertemu dengannya. Bagaimana menurutmu? Apa dia orang yang kau pernah sebutkan?” Ujar Leo bertanya setelah ia selesai bercerita.
“... Bagaimana ciri-cirinya?” Balas Lia bertanya.
“Kurasa dia memiliki rambut hitam dan lebih ke arah kemerahan. Matanya kalau tidak salah berwarna kebiruan. Itu saja, selebihnya aku tidak sempat lagi mengawasinya karena dia telah menyadari keberadaanku.” Balas Leo mengingat-ingat apa yang dilihatnya.
“... Rambut merah pirang, tidak salah lagi kalau itu memang dia.”
“Jadi memang benar pria itu yang kau maksud?”
“Ya. Dia adalah orang yang kucari, Northey De Gogh dari keluarga De Gogh.”
Northey De Gogh, itulah nama Ksatria Suci itu. Kini mereka tahu siapa orang yang mereka cari. Meski hanya sebatas nama, setidaknya dari informasi tersebut, Lia dapat memikirkan apa rencana mereka dengan mengirimnya ke kota ini.
“(Tidak salah lagi, aku yakin kalau dia sedang mencoba mengumpulkan kekuatan tambahan dari peninggalan kuno. Bagaimana pun juga, aku harus menghentikan kemungkinan buruk ini...)” Ujar Lia dalam hatinya.
Hal yang paling logis untuk dilakukan untuk mencegah hal tersebut adalah menemukan peninggalan yang mereka cari lalu menghancurkannya duluan, atau menghancurkannya tepat setelah mereka menemukannya. Kedua pilihan ini sama-sama sulit untuk dilakukan, khususnya pada pilihan kedua. Peluang berhadapan langsung dengannya akan tinggi jika mereka berdua memilih cara kedua.
“(Kalau begitu, satu-satunya cara yang paling aman adalah dengan menemukan peninggalan kuno yang dimaksud lalu menghancurkannya sebelum ditemukan...)” Sambung Lia dalam hatinya mendapat keputusan.
Setelah memikirkannya dengan matang, akhirnya Lia memutuskan langkah apa yang selanjutnya mereka lakukan.
“... Aku sudah memikirkannya. Kita akan mendahului mereka menemukan peninggalan kuno itu lalu menghancurkannya.” Ujar Lia dengan wajah serius.
“Begitu ya, kurasa hanya itu pilihan kita satu-satunya.” Balas Leo setelah mempertimbangkan rencananya.
“Ya. Hanya ini yang bisa kita lakukan. Sisanya hanya tinggal menemukan di mana lokasi pasti peninggalan itu berada...” Balas Lia sebelum kembali berpikir.
“Mengenai masalah itu... Kurasa aku punya perkiraan...”
“...?!”
Leo kembali menceritakan kejadian ketika ia pertama kali melihat barisan kuda yang dipimpin oleh Northey sebelumnya. Pada saat melintasi alun-alun kota, terlihat bahwa mereka datang dari utara dengan beberapa anak buahnya terlihat bermandikan debu dan tanah hingga membekas di zirah mereka. Hal itu menjadi bukti yang cukup kuat bahwa mereka tengah melakukan penggalian di sebuah tempat di sebelah utara kota.
“Utara kota, itu artinya peninggalan kuno itu diperkirakan ada di dalam hutan utara...” Ujar Lia mempertimbangkan ucapan Leo.
“Ya. Aku yakin sekali. Aku juga melihat beberapa anak buahnya terlihat lusuh dengan noda tanah pada pakaian besi mereka.” Balas Leo menambahkan.
“... Mm. Ini adalah petunjuk besar. Itu benar-benar sangat membantu, Terima kasih Leo.” Balas Lia sebelum tersenyum kepadanya.
“Dengan ini rencana kita sudah diputuskan.”
Waktu telah menunjukkan tengah malam, dengan ini Leo dan Lia mulai bergerak untuk menjalankan rencana mereka. Secara diam-diam mereka meninggalkan penginapan sebelum akhirnya perlahan meninggalkan kota menuju ke hutan utara yang menjadi tempat tujuan mereka. Namun, ada sedikit masalah yang mengganggu pikiran Leo ketika mereka dalam perjalanan menuju hutan.
“Kau yakin kau baik-baik saja? Mungkin saja kita akan bertarung nantinya...” Ujar Leo berlari di sampingnya.
“... Ini bukan masalah. Luka dalamku sudah tertutup dengan baik berkat Airith.” Balas Lia dengan ekspresi tenang.
“Kau yakin...?”
“... Ya. Lagi pula aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.”
Meski Leo meragukan ucapannya, namun setidaknya Lia ada benarnya. Dari pada berdiam diri dan menunggu semuanya terjadi, lebih baik bergerak jika keadaan memungkinkan. Dan saat inilah waktu yang tepat bagi mereka untuk bergerak. Ia mencoba mengalihkan kecemasannya dan fokus pada rencana awal mereka.
Suasana sepi dan sunyi menyambut mereka ketika sampai di hutan tempat tujuan mereka. Hanya terdengar suara pepohonan yang tertiup angin dan suara khas dari serangga malam yang menyambut kedatangan mereka. Leo tidak tahu pasti di mana lokasi penyelidikan itu, namun ia yakin bahwa tempat itu berada di suatu sudut di hutan ini.
“... Tidak ada. Tidak ada apa-apa di sini.” Ujar Lia melihat sekitar.
“Aku hanya mengetahui arahnya, tapi tidak dengan lokasi pastinya...” Balas Leo bingung.
“Mungkin, kita belum masuk cukup dalam?” Balas Lia melihat ke arahnya.
“Mungkin saja. Kalau begitu, kita akan masuk lebih dalam, Lia. Tetaplah bersiaga karena mungkin ada monster yang berkeliaran.” Balas Leo dengan ekspresi serius.
“... Mm.”
Mereka berdua kembali menelusuri kegelapan hutan guna mencari situs galian yang sedang Northey kerjakan. Secara tidak langsung, Lia takjub melihat kemampuan Leo mengenali area di sekitarnya. Ia terlihat lincah menghindari pepohonan dan rintangan lain meski dalam keadaan minim cahaya seperti seolah terbiasa melewatinya. Ini membuktikan seperti apa diri Leo sebelum bertemu dengannya.
Setelah cukup lama menyusuri hutan, Lia secara tidak sengaja melihat sesosok asing misterius ketika mereka tengah melintas di sebuah tempat terbuka yang berada di dalam hutan. Ia lantas menghentikan langkahnya diikuti Leo yang ikut terhenti karenanya.
“Lia, ada apa?” Bisik Leo kepada Lia.
“... Di sana. Lihatlah.” Balas Lia menunjuk ke arah tempat terbuka di samping mereka.
Lia menunjuk pada bayangan yang terlihat seperti sosok manusia yang mengenakan zirah. Karena merasa curiga, Leo mencoba kembali mengamatinya dengan menggunakan kemampuan barunya untuk memastikan apa sebenarnya yang ia lihat. Ia memfokuskan pandangannya sebelum akhirnya penglihatannya berubah menunjukkan wujud dibalik bayangan tersebut.
“(Dia... Tidak salah lagi kalau itu adalah manusia. Dan lagi, zirah itu... Dia adalah prajurit kerajaan..?)” Ujar Leo dalam hatinya curiga.
Meski tidak dapat melihat wajahnya, namun Leo cukup yakin bahwa sosok itu adalah manusia. Leo merasa waspada karena dia dapat menyembunyikan keberadaannya dengan baik yang menandakan bahwa dia bukan prajurit biasa.
“Prajurit kerajaan, atau bisa kukatakan begitu. Zirah mereka berbeda dari yang biasa kutemui...” Ujar Leo setelah mengamatinya.
“Zirah mereka berbeda? Jangan katakan...!” Balas Lia tampak terkejut.
__ADS_1
“Ada masalah dengannya?” Balas Leo melihat ke arahnya heran.
“Leo, mereka bukan prajurit biasa. Mereka adalah Knight Order, mereka adalah prajurit elite.” Balas Lia dengan ekspresi serius.
“Knight Order?”
“Ya. Prajurit khusus yang berada di bawah perintah langsung orde Ksatria Suci. Mereka terdiri dari orang-orang dengan kemampuan mendekati Ksatria Suci sekaligus kandidat yang telah diakui oleh Ksatria Suci itu sendiri.”
“Dengan kata lain, kemampuan mereka hampir setara dengan Ksatria Suci, begitu?”
“Ya. Jelas orang itu sangat berbahaya.”
Tidak mengherankan lagi jika orang itu mampu menyembunyikan diri dengan sangat baik. Kini sudah jelas bahwa ada sesuatu di sekitar tempat ini yang menjadi alasan keberadaannya. Itu artinya mereka berdua sudah menemukan tempat yang mereka cari selama ini.
“Dengan adanya orang itu di sini, berarti kita telah menemukannya. Reruntuhan kuno itu pasti ada di sekitar sini.” Ujar Leo dengan percaya diri.
“Mm. Kita menemukannya.” Balas Lia dengan nada senang.
“Sekarang, sisanya hanya tinggal bagaimana mengurusnya...” Balas Leo kembali menatap ke orang itu dengan tajam.
Leo mulai memikirkan rencana untuk mengelabuinya sekaligus untuk menemukan reruntuhan kuno yang menjadi targetnya. Ia pun akhirnya mendapatkan sebuah ide untuk masalah tersebut.
“Lia, aku punya ide.” Bisik Leo kepada Lia.
“...? Apa idemu?” Balas Lia penasaran.
Ia pun menjelaskan idenya kepada Lia sebelum akhirnya ia menyetujuinya.
“... Mm. Aku mengerti. Aku akan mengikuti rencanamu.” Sambung Lia dengan ekspresi yakin.
“Ya. Percayakan kepadaku.” Balas Leo percaya diri.
Mereka pun mulai bergerak terpisah untuk melancarkan aksi mereka. Leo akan secara diam-diam mendekati prajurit itu sementara Lia akan mengikutinya dari jarak yang terpisah guna mengawasi keadaan serta mencari keberadaan reruntuhan kuno yang sedang dijaganya.
Perlahan namun pasti, Leo mendekati sosok prajurit yang terdiam itu sambil menekan keberadaannya semaksimal mungkin agar tidak diketahui. Ketika telah masuk dalam jarak serangnya, Leo dengan cepat menghunuskan pedangnya tepat pada celah di tengkuknya hingga menembus ke lehernya. Dengan serangan tersebut, ia bisa memberikan kematian singkat bahkan sebelum disadari olehnya. Akan tetapi...
“...?!”
Tepat ketika Leo mengira telah membunuhnya, prajurit itu secara mengejutkan mencair dan berubah menjadi gumpalan air yang seketika mengejutkannya. Leo seketika sadar apa maksudnya sesaat sebelum ia memberi peringatan kepada Lia. Namun...
“....!”
Secara mengejutkan sebuah belati melayang ke arah Leo sesaat sebelum ia menghindar menyadari kemunculan seseorang dari balik bayangan hutan. Genangan air yang ada di dekatnya secara perlahan bergerak seperti merespon kedatangannya sesaat sebelum sosok itu angkat bicara.
“Wah, wah, wah, lihat apa yang kita dapatkan di sini. Sepertinya aku menangkap anjing hutan yang berkeliaran mencari mangsanya...” Ujar sosok itu menampakkan dirinya.
“....”
Pada saat yang bersamaan, genangan air yang ada di dekat Leo bergerak membentuk sulur yang berusaha menangkapnya. Leo yang menyadarinya dengan sigap menghindar, meski begitu, sulur air itu terus mengejarnya hingga memaksanya untuk memotongnya.
“(Sial...!)”
Namun, ketika Leo berusaha memotongnya, pedangnya justru menembusnya begitu saja tanpa menggoresnya sedikit pun. Terkejut mengetahuinya, ia pun terpaksa mundur menjaga jarak sejauh mungkin darinya sesaat sebelum akhirnya sosok itu menampakkan dirinya. Dia adalah seorang prajurit wanita muda dengan rambut kebiruan yang khas mengenakan zirah keperakan dengan ukiran bintang di dadanya.
“Hm. Untuk seekor anjing, gerakanmu cukup lincah. Apa aku harus memanggilmu serigala?” Ujar wanita itu dengan senyum angkuh.
“....”
“Ada apa...? Kau tidak bisa bicara...? Setidaknya menggonggonglah sebagai sedikit ungkapan sopan santunmu.” Sambung wanita itu menghinanya.
Ia tidak tahu siapa wanita ini, namun yang jelas dia cukup ahli menggunakan sihir. Terlihat bagaimana dia bisa memanipulasi genangan air itu untuk menyerang Leo bahkan tanpa merapalkan mantra. Sekarang sudah jelas alasan mengapa Lia memperingatkannya tentangnya.
Di saat yang bersamaan, melihat Leo yang berhadapan dengannya, Lia memutuskan untuk datang membantunya. Namun, tepat ketika ia hendak melakukannya, secara mengejutkan taring-taring es bergerak memotong jalannya membuat Lia seketika menghentikan langkahnya sesaat sebelum sesosok misterius lain datang menghampirinya.
“Tidak akan kubiarkan kau mengganggu pertarungan kakak.” Ujar sosok itu perlahan menunjukkan wujudnya.
Dari balik bayangan, muncullah seorang wanita muda dengan penampilan yang hampir mirip dengan wanita yang berhadapan dengan Leo. Dia mengenakan zirah yang sama serta mempunyai warna rambut dan mata yang sama, namun yang membedakan mereka adalah gaya rambut mereka.
“Kembar, huh? Tidak biasanya kembar seperti mereka bisa berada di posisi yang sama...” Gumam Lia melihatnya.
Lia lantas menarik pedangnya dalam posisi siap bertarung ketika wanita muda itu merasa tidak asing melihatnya.
“Rambut coklat gelap itu... Jangan katakan, kau adalah keluarga Brown...? Apa yang anda lakukan di sini?” Ujar wanita muda itu terkejut.
“... Dan siapa kau?” Balas Lia berbalik bertanya.
“Benar juga, di mana sopan santunku. Namaku Rosetta Regins, senang bertemu denganmu nona Brown.” Balas wanita muda itu mengenalkan diri dengan sopan.
“... Kau ternyata cukup sopan setelah berusaha membunuh lawanmu sebelumnya.”
“Ya. Tidak seperti kakakku, aku menjunjung tinggi etika dan sopan santun meski bukan berasal dari keluarga atas.”
Rosetta menarik pedangnya dan memasang kuda-kudanya sebelum ia kembali melanjutkan kalimatnya.
“Untuk itulah, aku akan mengalahkanmu untuk menunjukkan kemampuanku.” Ujarnya dengan ekspresi serius.
__ADS_1
Terjebak oleh perangkap mereka, kini Leo dan Lia terpaksa harus menghadapi masing-masing dari saudari kembar tersebut. Dan juga, identitas yang selama ini Lia sembunyikan perlahan mulai terbuka.