Black Arc Saga

Black Arc Saga
Peninggalan kuno di bawah tanah


__ADS_3

Setelah mendengar pesan Willem, regu yang tersisa memutuskan untuk pergi menyusul guna memastikan isi pesan tersebut. Leo dan Lia ikut sebagai bantuan, serta beberapa anggota regu kedua yang sebelumnya Lia selamatkan juga ikut bersama mereka berdua. Mereka menelusuri lorong gelap dan panjang itu mengikuti Willem dan kedua temannya sebagai pemandu.


 


“Seberapa jauh lagi, Willem-san...?” Tanya Leo sambil berlari mengikutinya.


 


“Masih jauh... Ini bahkan belum separuhnya...” Balas Willem tanpa memalingkan pandangannya.


 


“Tepatnya apa yang kalian temukan di ujung sana...?” Balas Leo kembali bertanya.


 


“Kalian akan tahu nanti... Untuk saat ini, kami tengah menyelidikinya...” Sambung Ted menjawab pertanyaan Leo.


 


Pernyataan mereka semakin membuat Leo penasaran mengenai apa yang sebenarnya mereka temukan. Di dalam tambang tua ini, banyak hal yang masih menjadi misteri. Entah itu menyangkut sejarahnya atau struktur geologisnya, semua itu akan terungkap ketika mereka sampai di tempat.


 


Setelah mereka menelusuri lorong yang sangat panjang, akhirnya mereka tiba di ujung lorong tempat di mana terdapat lubang galian misterius tercipta di sana. Tidak seperti lorong yang digali oleh penambang, lubang itu terlihat seperti dibuat dengan cara meledakkannya. Dapat dilihat dari mulut guanya yang tidak beraturan.


 


“Kita sampai...” Ujar Willem dengan nafas terengah-engah.


 


“Lubang...?” Gumam Leo dengan wajah heran.


 


“Lubang ini... Sejak kapan ada di sini...? Setahuku, sebelumnya tidak ada di sini...” Ujar Gideon dengan wajah bingung.


 


“Aku tahu kalian akan bertanya demikian, tetapi bukan ini yang ingin kami tunjukkan...”Balas Reiss menegaskan pernyataan awalnya.


 


“Yang ingin kami tunjukkan tepatnya adalah apa yang berada di baliknya...” Sambung Willem menuntun mereka masuk.


 


Dengan pertanyaan yang masih mengganjal, mereka mengikuti Willem menuju jalan yang berada di balik lubang tersebut.


 


Sebuah lorong menuntun mereka menuju ke sebuah jalan menurun yang curam dengan jalan setapak yang melingkari dindingnya layaknya tangga menara. Rasa penasaran bercampur gelisah tampak terlihat di wajah beberapa dari mereka saat mengikuti jalan tersebut menuju dasarnya. Ditambah dengan nuansa gelap yang kental, menambah kesan menakutkan tempat tersebut.


 


“O-Oi. Ke mana jalan ini membawa kita...? Entah kenapa perasaanku jadi tidak enak...” Ujar salah seorang prajurit dengan nada gugup ketakutan.


 


“Willem, apa yang sebenarnya kalian temukan...? Apa itu ada di dasar tempat ini...?” Tanya Gideon dengan wajah gelisah.


 


“Kau akan segera tahu nanti... Kita hampir sampai...” Balas Willem dengan wajah tegang.


 


Setibanya di dasar tempat tersebut, mereka disambut dengan kehadiran jalan lain yang berada tepat setelah tangga. Rasa ragu dan cemas menghantui mereka ketika Willem membawa mereka menuju ke jalan tersebut. Namun, semakin mereka masuk ke dalam, jalan menjadi lebih terang dari sebelumnya. Kristal sihir bercahaya tumbuh di sekitaran lorong menjadikannya lentera yang menerangi kegelapan yang ada di kedalaman tersebut. Sejenak rasa takut mereka berubah menjadi rasa takjub begitu melaluinya.


 


“Menakjubkan... Bagaimana bisa kristal sihir tumbuh di tempat yang sama secara bergerombol...?” Ujar salah seorang penyihir dari party yang ikut bersama mereka.


 


“Benar... Ini seperti masuk ke dunia lain saja...” Balas temannya ikut terpukau.


 


Namun, saat mereka berhenti sejenak untuk mengagumi keindahan tersebut, seseorang prajurit datang dari depan sana menyela momen tersebut dengan kedatangannya yang tidak terduga.


 


“Gideon...! Akhirnya kau datang...! Kerja bagus, kalian bertiga!” Ujar prajurit tersebut menghampiri mereka dengan wajah senang.


 


“Wein, kau rupanya...! Dari mana kau? Kenapa kau memanggil kami?” Balas Gideon dengan wajah terkejut.


 


“Itu cerita yang panjang, tapi akhirnya kau bisa datang dengan segera. Sebenarnya kami menemukan sesuatu yang mungkin akan mengejutkanmu...” Balas Wein singkat sebelum berbalik menuntun mereka.


 


“Tunggu, apa maksudmu...?” Ujar Gideon mengejarnya.


 


Tanpa banyak menjawab, Wein membawa mereka melewati jalan terang tersebut menuju ke sebuah tempat terbuka yang mengejutkan.


 


“....!!”


 


Mereka semua sontak terkejut begitu menyaksikan apa yang ada di hadapan mereka. Sebuah tempat yang dipenuhi kristal membentang luas dengan bangunan-bangunan milik peradaban kuno berdiri di sekitarnya.


 


“Siapa yang mengira akan ada kota di tempat seperti ini...” Ujar Gideon dengan wajah terkesima.


 


“Kami baru menemukannya dan memutuskan untuk menyelidikinya... Tapi masalahnya, jika hanya dengan party-nya saja itu akan terlalu berisiko.” Balas Willem menjelaskan maksudnya.


 


“Ya, siapa yang tahu apa saja bahaya yang mengancam kita di tempat yang telah lama ditinggalkan bangsa yang telah hilang itu...” Sambung Wein menambahkan.


 


“Begitu ya... Aku mengerti sekarang. Itu menjadi masuk akal sekarang...” Balas Gideon dengan nada serius.


 


Sebelum menginjakkan kaki ke kota kuno tersebut, Wein dan Willem memutuskan untuk membagi kelompok mereka menjadi dua regu utama. Hal itu dilakukan guna memastikan keamanan selama penyelidikan mereka di kota tersebut. Pembagian regu berdasarkan atas kemampuan bertarung dan jumlah anggota. Sayang bagi Lia, ia harus terpisah dengan Leo karena menurut pertimbangan, komposisi tim mereka tidak akan seimbang nantinya.


 


“... Kurasa cukup dengan pembagian timnya. Apa ada yang keberatan...?” Ujar Gideon setelah selesai membagi kelompok mereka.


 


Semua anggota tampak menerimanya kecuali satu orang, yaitu Lia. Ia mengangkat tangannya merasa keberatan dengan keputusan Gideon dalam pembagian tim untuk melanjutkan penyelidikan.


 


“Saya... Saya meminta pertimbangan ulang atas keputusan anda, tuan prajurit Gideon.” Ujar Lia mengangkat tangannya mengajukan keluhannya.


 


“Alicia-san...? Kenapa kau merasa keberatan...? Bisa katakan alasannya...?” Balas Gideon dengan wajah bingung.


 


“Saya ingin... Tidak, aku ingin bersama dengannya.” Jawab Lia dengan tegas sambil melihat ke arah Leo.


 


Mendengar hal tersebut, Leo seketika terkejut atas keputusannya. Tidak seperti biasanya, Lia kini berani angkat bicara kepada orang lain selain Leo. Ia menolak keputusannya dengan tegas dengan ekspresi wajah serius.


 


“(Lia... Aku tidak menduga dia angkat bicara sampai seperti itu...)” Ujar Leo dalam hatinya terkesima.


 


Karena merasa usulan Lia bukan penyelesaian yang tepat, Gideon menolak usulannya.


 


“Maaf, tapi aku tidak bisa menyetujuinya. Kemampuanmu memang mengesankan dan juga kerja samamu dengannya tidak perlu diragukan, tetapi jika kalian berdua yang terluka duluan, kami akan kerepotan nantinya. Kehilangan seorang petualang berpengalaman akan menjadi masalah serius dalam keadaan seperti ini. Mohon mengertilah...” Balas Gideon menolak dengan tegas.


 


“.... Bagaimana jika begini. Aku dengannya akan menjadi pembuka jalan bagi regu kedua. Masih ada party yang bersama tuan Wein di depan sana. Jika kami bisa menemukannya, maka tidak akan menjadi masalah.” Ujar Lia mengajukan usulan keduanya.

__ADS_1


 


“Tidak, tunggu sebentar, Lia. Kurasa tidak apa-apa kalau kita berada di regu yang terpisah. Aku tahu perasaanmu, tapi ingat juga anggota regu lainnya...” Balas Leo mencoba meluluhkan pendiriannya.


 


“Tapi...” Balas Lia bersikeras.


 


Leo menghampirinya dan sebelum ia membelai rambutnya berusaha meyakinkan Lia.


 


“Tidak apa... Aku tahu kau cemas, aku akan berhati-hati kali ini...” Bisik Leo dengan nada lembut.


 


“... Aku hanya tidak ingin berpisah lagi denganmu.” Balas Lia memandang Leo dengan wajah sedih.


 


“Kali ini berbeda... Meski banyak hal yang tidak kita ketahui di sana, aku akan tetap waspada. Aku pasti akan kembali kepadamu...” Balas Leo membelai pipinya lembut sambil tersenyum.


 


Meski berat untuk menerimanya, akhirnya Lia setuju dengan rencana Gideon. Mereka pun berpisah dalam dua kelompok berbeda tak lama setelah mereka memasuki kota kuno tersebut. Meski Lia masih mencemaskannya, tetapi Leo tidak bisa membiarkan anggota regu lainnya dalam bahaya hanya karena keinginan egoisnya. Mereka adalah prajurit dan petualang yang tidak berpengalaman melawan monster, itulah sebabnya Leo tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja.


 


“Apa kau yakin meninggalkan dia seperti itu? Sepertinya dia sangat khawatir padamu.” Ujar Wein bertanya kepada Leo.


 


“Tidak masalah, tuan Wein. Mungkin dia hanya tidak ingin mengingat kejadian yang pernah kami alami sebelumnya.” Balas Leo tersenyum pahit padanya.


 


“Memangnya apa yang terjadi di antara kalian?” Balas Wein kembali bertanya.


 


“Itu cerita yang panjang...” Balas Leo singkat sambil mengangkat pandangannya sambil mengingat pertemuan mereka.


 


“Begitu ya. Kalian tampak sangat dekat...”


 


“B-Begitukah...?”


 


“Itu hanya pendapatku saja... Yah, kita lupakan masalah itu untuk sejenak. Lebih baik kita fokus pada penyelidikan kali ini.”


 


“Ya, anda benar.”


 


Sementara itu, di sisi utara, lebih tepatnya regu yang dipimpin oleh Gideon, Lia merasa khawatir mengenai Leo yang berpisah sebelum bisa mengatakan sesuatu yang ingin ia sampaikan sebelumnya. Ada hal yang mengganggunya sejak ia bertarung menyelamatkan regu Gideon.


 


“(Makhluk itu... Apakah akan muncul kembali di tempat ini...? Aku merasa sangat cemas mengenai Leo...)” Ujar Lia dalam hatinya khawatir.


 


Kembali pada saat ketika Lia datang menyelamatkan regu Gideon. Mereka tengah terpojok terkepung oleh pasukan Golem dengan jumlah yang memenuhi jalan keluar mereka. Mereka berada di ujung lorong sehingga membuat mereka terjebak dengan pasukan Golem yang siap membunuh mereka semua.


 


“Kapten Gideon...! Mereka tidak ada habisnya...! Apa yang harus kita lakukan...!” Ujar seorang prajurit panik ketakutan.


 


“Kalau seperti ini, kita semua akan terbantai di sini...!” Sambung prajurit yang lain dengan wajah pucat.


 


“Semuanya tetap tenang...! Untuk keluar dari tempat ini, kita harus bekerja sama dan tetap fokus...!” Balas Gideon mencoba menguatkan tekad bawahannya.


 


“Oi. Oi. Kenapa prajurit kota justru berdebat pada saat-saat seperti ini...? Apa kalian tidak sayang nyawa kalian...?” Sambung petualang dengan senyum yang terpaksa.


 


 


Para Golem datang menyerang formasi pertahanan mereka. Dengan perisai mereka, Gideon dan prajuritnya berusaha sekuat tenaga untuk bertahan dari gempuran para Golem. Namun, sekuat apa pun mereka bertahan, pada akhirnya pertahanan mereka akan hancur dan mereka semua akan dalam bahaya. Kekuatan mereka tidak sebanding dengan para Golem yang jauh lebih kuat.


 


“(Sialan...! Apa tidak ada cara untuk keluar dari situasi ini...!)” Ujar Gideon dalam hatinya kesal.


 


Satu persatu garis depan pertahanan mereka mulai hancur. Dalam keputusasaan itu, Gideon memilih untuk tetap berjuang meski ia telah sadar bahwa pertarungan ini tidak mungkin dimenangkannya.


 


“Kapten...! Pertahanan kita akan segera hancur...!” Seru prajurit garis depan dengan wajah putus asa.


 


“Hhngghhh...!! Bertahanlah semua...! Jaga barisan kalian...!” Balas Gideon dengan nada lantang.


 


“M-Mustahil...! M-Mereka terlalu kuat....!” Balas prajurit lainnya yang ikut bertahan.


 


“T-Tidak bisa... Bertahan lebih... Lama...!” Balas yang lain kehabisan batas.


 


Tidak lama setelahnya, pertahanan mereka sepenuhnya hancur. Dengan hati yang terkejut, Gideon terhempas mundur bersama barisan pertahanannya saat pasukan Golem menghancurkannya. Dengan wajah ketakutan, prajurit dan petualang yang berada di baris belakang hanya bisa terdiam pucat menyaksikan Golem-Golem itu datang bersiap membunuh mereka.


 


“T-Tamat sudah...! Kita semua akan mati...!” Ujar seorang petualang terduduk lemas dalam ketakutan.


 


“M-Mereka datang...!” Sambung yang lain berseru histeris.


 


Namun, tepat sebelum para Golem mulai membantai mereka, sebuah sayatan udara terbang ke arah mereka membelah tubuh Golem itu dalam sekejap ketika Gideon dan yang lainnya nyaris kehilangan harapan. Dengan wajah kebingungan, mereka terperanga menyaksikan Golem yang berniat membunuh mereka hancur ketika secercah cahaya merah membara jatuh dari langit-langit ke arah mereka bersamaan dengan suara seseorang yang datang bersamanya.


 


“Tehnik pedang: Fallen Leaves.”


 


Seketika itu pula, cahaya merah itu menghantam tanah dengan dahsyat menghancurkan Golem yang ada di sekitarnya sebelum kekuatannya meledak membentuk puluhan sayatan yang menyebar ke segala arah. Para Golem yang berada di luar jangkauan jatuhnya pun seketika hancur terbelah sebagai dampak serangan lanjutannya. Gideon dan yang lainnya hanya bisa terkesima menyaksikan tehnik menakjubkan tersebut sesaat sebelum sesosok gadis muncul dari kepulan debu yang menutupi area di sekitarnya.


 


“S-Siapa dia...? Dan serangan barusan... Apa dia yang melakukannya...?” Ujar salah seorang petualang terkesima.


 


“H-Hebat... Dia menghabisi mereka semua dalam satu serangan...!” Sambung petualang lain yang ikut terkesima melihat kemampuannya.


 


Sambil menyarungkan kembali pedangnya, gadis itu berjalan menghampiri mereka memastikan keadaan mereka.


 


“... Sepertinya tepat waktu.” Ujarnya sambil menyisir rambut membelakangi telinganya.


 


“U-Uh... Siapa kau? Apa kau bantuan yang dikatakan sebelumnya dari luar?” Balas Gideon dengan nada canggung.


 


“... Mm. Alicia, petualang utusan Guild.” Jawabnya singkat sambil mengangguk.


 


“Alicia...?” Balas Gideon terkesima.

__ADS_1


 


“... Bisa jelaskan situasi sebelumnya?”


 


“Uh.. Ah. T-Tentu saja...”


 


“...?”


 


Saat Lia meminta penjelasan kepada Gideon mengenai situasi yang menuntun mereka pada keadaan mereka saat ini, secara misterius kepingan tubuh Golem yang ia kalahkan menghilang saat ia menyadarinya. Semua kepingan tubuh Golem yang tewas kini menghilang begitu saja. Lia yang sadar mengenai hal itu lantas memasang sikap waspada saat Gideon mulai menjelaskan apa yang menimpa regunya sebelumnya.


 


“Sebenarnya... Kami sedang menyelidiki jalan ini sampai kami bertemu ujungnya tepat saat kami bertemu dengan Golem-Golem itu. Awalnya kami hanya melihat beberapa saja dan menghabisinya, tetapi tanpa kami sadari kawanan mereka justru muncul mengepung kami sampai kami harus bertahan hingga terpojok...” Ujar Gideon menjelaskan situasi yang menimpanya sebelumnya.


 


“... Begitu ya. Kurang lebihnya aku mengerti.” Balas Lia melihat sekitarnya dengan waspada.


 


“Berkatmu kami semua berhasil selamat... Kami benar-benar mengucapkan terima kasih kepadamu...” Sambung Gideon menundukkan kepalanya di hadapannya.


 


“....”


 


Lia tidak terlihat terlalu memperhatikannya, ia seperti tengah mencari sesuatu di antara kegelapan tempat itu. Gideon yang penasaran mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya ia cari, namun pada saat yang bersamaan salah satu bawahannya berseru memanggilnya ketika ia hendak bertanya kepadanya.


 


“Kapten...! Ada laporan...!” Seru salah seorang prajurit memanggilnya dari belakang.


 


“Ya, aku akan segera ke sana...!” Balasnya kepada prajurit tersebut dengan nada lantang.


 


Sambil menghela nafas panjang, Gideon pun bergegas menghampirinya, namun pada saat yang sama pula Lia merasakan sesuatu dari dalam kegelapan.


 


“Sesuatu tengah datang...!” Ujar Lia dengan nada curiga.


 


“H-Huh...? Apa yang baru saja kau katakan...?” Balas Gideon yang secara tidak sengaja mendengarnya.


 


“Ada yang datang... Dari balik bayangan...!” Balas Lia menaruh tangannya pada pedangnya.


 


Pada saat yang sama pula, suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah mereka. Suaranya menggema melalui dinding lorong menyamarkan jumlahnya, namun Lia yang merasakan keberadaannya sebelumnya tidak bisa dibohongi.


 


“Apa itu...? Apa itu Golem yang lain lagi...?” Tanya Gideon dengan wajah cemas.


 


“....”


 


Tanpa memberikan jawaban, Lia hanya terdiam waspada membuat Gideon semakin cemas. Ia pun dengan segera memberi perintah kepada regunya untuk bersiaga begitu sosok itu menampakkan diri.


 


“Semuanya! Siaga tempur! Musuh baru terdeteksi!” Seru Gideon kepada regunya.


 


Mereka semua lantas bangkit dari istirahatnya membentuk formasi bertarung sesuai dengan arahan Gideon.


 


“Alicia, kita siap menghadapinya kapan saja!” Ujar Gideon dengan nada tegas.


 


“....”


 


Dalam diamnya, Lia memasang kuda-kudanya sambil mendengarkan setiap deru langkahnya yang semakin menggema. Pasukan yang berada di belakangnya pun sudah bersedia menyerang begitu sosok itu menampakkan wujudnya.


 


“....”


 


“....”


 


Dengan sabar mereka menunggunya sampai masuk ke jarak pandang. Sampai wujudnya terlihat, mereka akan melancarkan serangan penuh terhadapnya. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Lia.


 


“Tehnik pedang: Leaves Slash.”


 


Tepat di saat sosok itu memasuki jarak serangnya, Lia seketika melancarkan serangannya dari tempatnya berdiri langsung ke arahnya. Dengan satu ayunan kuat, ia menyayat udara beserta tanah di hadapannya membentuk empat sayatan yang masing-masing melebar layaknya riak air. Dan ketika salah satu sayatan itu mengenainya, seketika itu pula memicu rentetan serangan pada jalur sayatan lain. Gua pun berguncang akibat serangan Lia hingga akhirnya ia bisa bernafas lega mengetahui bahwa serangan tersebut berhasil membunuhnya.


 


“(Sepertinya aku sedikit berlebihan... Aku nyaris menghancurkan satu-satunya jalan keluar kami...)” Ujar Lia dalam hatinya sambil menghela nafas singkat.


 


Meski ia tidak tahu makhluk apa yang hendak menghampirinya, tetapi makhluk tersebut sudah sepenuhnya tewas oleh serangannya.


 


“A-Apa yang barusan itu...? Apa kau yang melakukannya, Alicia?” Ujar Gideon terkejut melihat apa yang barusan terjadi.


 


“... Mm. Apa pun itu, sepertinya dia sudah tiada. Kita bisa tenang sekarang.” Balas Lia melepaskan kuda-kudanya.


 


“Begitu ya... Sekali lagi kami tertolong...” Balas Gideon menghela nafas lega.


 


Mereka semua tampak senang setelah Lia menghabisi makhluk misterius tersebut. Namun, kesenangan itu tidak bertahan lama ketika Lia kembali merasakan kehadirannya.


 


“....!”


 


Dengan wajah panik, ia memutar pandangannya ke arah makhluk itu berada ketika secara perlahan makhluk tersebut mulai menampakkan wujudnya.


 


“M-M-Makhluk macam apa itu...!” Ujar salah seorang prajurit berteriak panik.


 


“Itu bahkan lebih buruk dari Golem yang kita kalahkan sebelumnya...!” Balas yang lainnya panik ketakutan.


 


“A-Apa yang harus kita lakukan sekarang...!” Sambung yang lain panik putus asa.


 


Lia hanya bisa terkesima dalam diamnya saat itu terjadi, ketika ia melihat sosok monster tersebut. Itu adalah makhluk yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Ia khawatir jika Leo sampai bertemu dengannya saat berpisah darinya. Monster itu bukan lawan yang bisa dikalahkan hanya dengan kekuatan saja. Ia sebelumnya lupa mengatakan padanya sebelumnya karena pikirannya teralihkan ketika melihat Leo kembali bersama dengan regu pertama yang terluka parah.


 


“(Leo... Aku berdoa supaya kau baik-baik saja di sana... Aku harap kau tidak bertemu dengan makhluk itu...)” Ujar Lia dalam hatinya berharap dengan setulus hati.


 

__ADS_1


Meski sekarang mereka terpisah karena keadaan, perasaannya terhadap Leo tidak dapat terpisahkan begitu saja. Ia hanya bisa berharap mereka berdua akan kembali bersama seperti semula setelah semua ini berakhir.


__ADS_2