Black Arc Saga

Black Arc Saga
Pembalasan tidak terduga


__ADS_3

Setelah berjalan selama berjam-jam, akhirnya Lia berhasil membawa Leo keluar dari hutan. Meski ia belum bisa mengubah suasana hati Leo, tetapi untuk saat ini yang paling penting adalah mengobati lukanya.


 


“Leo, bertahanlah... Kita hampir sampai di kota...” Ujar Lia dengan nada lembut.


 


“....”


 


Dengan merangkul Leo, Lia membawanya kembali menuju ke kota saat hari mulai menjelang sore. Tanpa kenal lelah, Lia terus merangkulnya di bahunya saat Leo perlahan melihat ke arahnya. Terlihat keringatnya bercucuran membasahi keningnya saat ia harus tertahan membawa Leo yang terluka bersamanya.


 


“(Kenapa dia ingin sekali menolongku... Kau hanya membuang waktumu...)” Ujar Leo dalam hatinya menyesal.


 


Entah apa yang ada di pikiran Lia, tetapi Leo tidak mampu memikirkan satu pun alasan mengapa dia harus menolongnya. Balas budi memang hal yang paling masuk akal, tetapi ia ragu akan hal itu setelah melihat kesungguhan yang terpancar dari matanya.


 


Sesampainya di kota, Lia lantas membawa Leo menuju ke rumah sakit terdekat guna merawat lukanya. Namun, mengingat jumlah uang mereka yang terbatas, Leo pun mencoba menghentikan niatnya.


 


“Lia, aku sudah baik-baik saja. Jadi, kita tidak perlu ke klinik atau pun ke rumah sakit...” Ujar Leo mencoba mengubah pikiran Lia.


 


“Mm... Lukamu harus dirawat.” Balas Lia sambil menggelengkan kepalanya.


 


“Aku baik-baik saja... Lihat...” Ujar Leo melepaskan rangkulan tangan Lia.


 


“...!”


 


Leo mencoba membuktikan kepada Lia dengan melepaskan diri darinya. Meski sempoyongan, ia sekuat tenaga menahannya guna meyakinkan Lia untuk tidak membawanya ke rumah sakit. Namun, hal itu justru membuat Lia semakin cemas dengan keadaannya.


 


“Aku sudah mendingan... Jadi, lebih baik kita... Kembali saja ke penginapan...” Ujar Leo dengan nafas berat.


 


“Benarkah...? Kau terlihat seperti mau pingsan dan lukamu perlu diobati...” Balas Lia dengan perasaan khawatir.


 


“Y-Ya... Ini hanya luka... Ringan. Sedikit obat dan istirahat... Aku akan kembali seperti semula...”  Ujar Leo mencoba tersenyum di hadapannya.


 


Karena Leo memaksa, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke penginapan setelah mereka mampir ke toko obat guna membeli beberapa ramuan dan perban untuknya.


 


“Apa sudah cukup...?” Ujar pemilik toko obat memberikan barang yang Lia minta.


 


“... Mm.” Balas Lia mengangguk menerimanya.


 


“T-Terima kasih atas kunjungannya...” Sambung pemilik toko dengan wajah bingung.


 


Pemilik toko kelihatannya merasa heran dengan pelanggannya, khususnya pada Leo. Dia datang dengan tubuh penuh luka dan terlihat sangat parah. Bukannya datang ke rumah sakit atau klinik, dia justru datang ke tokonya saat ia memerlukan pertolongan lebih lanjut.


 


“Uh... Maaf mengganggu anda dengan pertanyaan saya, tetapi bukankah seharusnya kalian pergi ke dokter? Kelihatannya tuan yang di sana lebih memerlukannya.” Ujar pemilik toko melihat ke arah Leo gelisah.


 


“... Saya baik-baik saja. Ini hanya darah monster saja.” Balas Leo tersenyum pahit.


 


“... Terima kasih. Kami akan pergi sekarang.” Sambung Lia membawa Leo pergi dari toko secepatnya.


 


“A-Ah... S-Silahkan datang lagi.” Balas pemilik toko dengan wajah heran.


 


Setelah mendapatkan beberapa obat, Leo akhirnya langsung memutuskan pulang kembali menuju penginapan ditemani Lia yang menjaganya di sisinya. Leo berjuang sekuat tenaga agar tidak menyusahkan Lia karena dia telah berbuat baik sejauh ini kepadanya. Rasanya akan memalukan jika sampai membuat orang yang harusnya ia lindungi bertukar peran dengannya.


 


Akhirnya, mereka sampai di penginapan. Leo dengan segera membersihkan dirinya selagi ia mencoba menenangkan dirinya setelah menghadapi masalah hari ini. Banyak hal yang terjadi, namun yang jelas kejadian buruk itu tidak bisa lenyap begitu saja dari pikirannya. Sebaiknya itu menjadi pelajaran baginya untuk lebih berhati-hati ke depannya. Khususnya jika sampai Lia mengetahuinya, maka janjinya kepada Zille tidak akan bisa dipenuhi lagi.


 


“(Aku harus bersikap seperti biasa di hadapan Lia... Aku tidak ingin dia khawatir karena masalah ini...)” Ujar Leo dalam hatinya tegas.


 


Selesai membersihkan dirinya, ia pun segera kembali ke kamarnya saat Lia yang selesai dengan mandinya menunggunya di depan kamar. Dengan wajah cemas, Lia mengabaikan rambutnya yang basah kuyup demi menunggu Leo.


 


“Kau sudah selesai. Ternyata cepat sekali. Aku dengar para gadis memerlukan waktu untuk mandi mereka.” Ujar Leo mencoba mencairkan suasananya.


 


“... Bagaimana dengan lukamu? Apa masih sakit?” Balas Lia dengan wajah cemas.


 


“Sudah baik-baik saja. Tidak ada luka yang cukup serius.” Jawab Leo dengan senyum pahit.


 


“... Aku akan membantumu.” Sambung Lia dengan wajah serius.


 


“K-Kalau itu... Aku bisa sendiri...”


 


“... Aku akan melakukannya.”


 


“Uh...”


 


Karena Lia memaksa, akhirnya ia menerima permintaannya untuk merawatnya. Meski agak cemas bagaimana nantinya, tetapi sepertinya ia tidak punya pilihan lain lagi.


 

__ADS_1


Selesai dengan meracik obatnya, Leo mulai mengobati dirinya dibantu dengan Lia. Saat membuka bajunya, Lia terkejut melihat bekas luka yang ada di tubuhnya. Terlepas dari ototnya yang terbentuk sempurna, bekas luka yang tak terhitung jumlahnya menghiasi punggung dan lengannya.


 


“(Ini bukan hanya bekas luka biasa... Ini terlihat seperti hantaman luka yang beruntun. Inikah perjuangan hidupnya selama ini...?)” Ujar Lia dalam hatinya prihatin dengan kondisi Leo.


 


Luka yang baru menutupi bekas luka lamanya, itulah yang selalu terjadi pada Leo. Itu semua terukir di tubuhnya sendiri sekaligus menjadi bukti seberat apa kehidupannya sebelum bertemu dengan Lia.


 


“Uh... Ada masalah...?” Tanya Leo dengan nada canggung.


 


“... Mm. Tidak ada. Pertama-tama kumulai dari luka di punggungmu.” Balas Lia kembali fokus pada pekerjaannya.


 


“Kalau begitu, tolong kerja samanya.” Ujar Leo memejamkan matanya sesaat.


 


“... Mm.”


 


Dengan perlahan, Lia mengoleskan obat sapu itu ke kulit Leo yang terluka sebelum melanjutkannya ke sisi yang lain secara perlahan. Sesekali Leo terdengar mendesis menahan perih, tetapi ia tetap menahannya hingga sampai akhirnya Lia selesai membalutkan perban pada lukanya.


 


“... Selesai.” Ujar Lia singkat sambil menghela nafas.


 


“Terima kasih, Lia. Sekarang rasanya jauh lebih baik.” Balas Leo tersenyum kepadanya.


 


“... Mm.”


 


Saat Leo kembali mengenakan bajunya, Lia teringat apa yang dibicarakan oleh Roff dan teman-temannya mengenai Leo siang tadi. Ia mendengar sedikit mengenai asal usul Leo yang diungkapkan oleh Hord. Sejujurnya ia masih penasaran mengenai siapa sebenarnya diri Leo yang selama ini dia sembunyikan.


 


“... Leo.” Bisik Lia memanggilnya.


 


“Hm? Ada apa?” Balas Leo melihat ke arahnya.


 


“.....”


 


“Ada apa, Lia?”


 


Lia tidak mampu menanyakannya kepada Leo secara langsung. Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya mengingat bagaimana suasana hatinya sekarang. Sekilas, mungkin dia tersenyum, tetapi di hatinya dia pasti merasa kesakitan setelah mendengar ucapan Roff dan teman-temannya yang menghina dan meninggalkan dirinya. Lia tidak ingin menambah beban hatinya untuk saat ini.


 


“.... Bukan apa-apa.” Sambung Lia memalingkan pandangannya.


 


“....?”


 


 


Leo tidak mengerti apa yang hendak Lia sampaikan, tetapi itu sepertinya hal yang cukup penting. Namun, melihatnya tidak ingin membicarakannya membuatnya tidak ingin menanyainya lebih lanjut lagi. Terlepas dari itu, Leo masih penasaran apakah Lia sudah mendengar hal itu dari Roff atau tidak. Hal itu masih mengganggunya hingga sekarang dan membuatnya ragu untuk bicara dengannya.


 


“(Mungkin sebaiknya aku tidak menyinggung masalah mengenai rahasiaku ini kepadanya untuk saat ini. Sampai aku bisa mengantarnya pulang, aku lebih baik tutup mulut...)” Ujar Leo dalam hatinya termenung.


 


Untuk saat ini, Leo tengah memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya besok. Dengan terbongkarnya rahasia mengenai dirinya oleh Roff, rasanya tidak mungkin untuk kembali berburu dengan party-nya. Itu berarti ia dan Lia akan kembali berburu berdua lagi seperti sebelumnya. Meski hasilnya tidak terbilang banyak, tetapi hanya itu saja yang bisa mereka lakukan untuk menyambung hidup.


 


“(Aku menyesal telah membuatmu ikut terlibat dalam masalah ini, Lia... Maafkan aku...)” Ujar Leo dalam hatinya menyesal sambil melihat ke arah Lia di sebrangnya.


 


Sambil menghela nafas, Leo mencoba melupakan apa yang sudah berlalu. Semua kejadian itu mungkin memang sudah seharusnya terjadi. Tidak ada yang salah maupun benar, tetapi itulah yang sudah terjadi.


 


 


 


 


***


 


 


Kawanan serigala mengejar Leo setelah ia secara sengaja menikam salah satu dari kelompok mereka dari balik semak belukar. Mereka yang tersulut emosi lantas mengejarnya hingga menuju area terbuka tepat di mana Lia bersiap menyergap mereka.


 


“Lia, sekarang...!” Seru Leo menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah mereka.


 


Pada waktu yang bersamaan, Lia turun dari atas pohon di sana dan menikam serigala yang tepat berada di bawahnya hingga tewas sebelum akhirnya mereka sadar bahwa mereka telah dijebak. Namun, itu semua terlambat karena Leo dengan cepat melancarkan serangan balik tepat ketika perhatian mereka teralihkan oleh kemunculan Lia. Ia memenggal dua ekor serigala dalam jalurnya sebelum akhirnya Lia menghabisi sisanya. Dalam sekejap mata, seluruh serigala itu pun dikalahkan.


 


“Kurasa itu sudah semuanya...” Ujar Leo menghela nafas panjang sambil menyeka keningnya.


 


Dengan begini, misi yang diterima mereka akhirnya selesai. Meski memakan cukup banyak waktu untuk melacak kawanan serigala itu, tetapi pada akhirnya mereka mampu menemukan dan menghabisi mereka.


 


“Sebaiknya kita kembali membawa beberapa taring mereka.” Ujar Leo menghampiri mayat serigala itu dengan sebilah belati.


 


“... Mm.”


 


Dengan perlahan, Leo mengambil taring masing-masing serigala yang mereka kalahkan sebelum akhirnya ia kumpulkan untuk nantinya ia tukar bersama dengan komisi dari misinya.


 


Sebelumnya, saat Leo dan Lia hendak berburu di esok pagi, Leo teringat akan kantong berisi telinga Hobgoblin yang mereka kalahkan kemarin. Ia lupa menukarkannya sehingga masih tersisa di sakunya. Itu membuatnya teringat untuk menukarkannya mengingat nilai tukarnya yang cukup tinggi. Namun, sesampainya di Guild petualang, mereka justru menemukan sebuah permintaan yang menarik perhatian. Itu adalah permintaan dari desa di sebelah timur kota yang mengatakan bahwa kawanan serigala terdengar menyerang pemburu dan ternak milik warga. Karena misinya cukup mudah dan imbalannya menggiurkan, akhirnya mereka memutuskan untuk menerima permintaan tersebut.

__ADS_1


 


Meski begitu, tetap saja ada yang mengganjal di pikiran Leo mengenai kejadian kemarin. Ia merasa bahwa ada hubungan antara bersatunya suku Goblin dengan serigala-serigala ini. Mereka seperti dipukul menjauh dari dalam hutan oleh sesuatu. Tidak biasanya sang alfa ikut bersama dengan yang lainnya dalam perburuan biasa. Ini menandakan bahwa ada keadaan yang memaksa mereka untuk pindah sampai ke tepian hutan.


 


“(Kurasa sekarang sudah sangat jelas... Ada yang tidak beres di dalam hutan...)” Ujar Leo dalam hatinya curiga.


 


Sebenarnya Leo juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi di tengah hutan, tetapi ia menyerahkan masalah itu kepada party Roff untuk menyelidikinya. Sekarang ia harus fokus kembali kepada pekerjaannya.


 


Selesai memungut taring serigala, Leo dan Lia memutuskan untuk kembali ke desa tempat orang yang mengirim permintaan tersebut tinggal. Hanya tinggal melaporkannya kepada kepala desa dan ke Guild, lalu pekerjaannya akan selesai.


 


“Lia, kita kembali ke desa.” Ujar Leo sambil mengantongi taring serigala itu.


 


“... Mm.” Balas Lia mengangguk.


 


Namun, saat hendak meninggalkan tempat tersebut, suara guncangan terdengar dari kedalaman hutan menghentikan niat mereka berdua untuk beranjak.


 


“... Apa itu? Aku merasakan tanah berguncang barusan...” Ujar Leo dengan memasang wajah curiga.


 


“... Aku juga merasakannya.” Balas Lia dengan sikap waspada.


 


“Sepertinya asalnya dari hutan sana.”


 


“... Mm.”


 


Mereka mengambil sikap siaga saat guncangan kembali terdengar. Itu bukanlah gempa bumi, yang jelas, apa pun itu pastinya bukan pertanda baik. Leo mulai cemas untuk beberapa alasan ketika merasakan perasaan yang sama seperti saat ia tinggal di desanya.


 


“(Aku punya firasat buruk... Semoga saja ini hanya firasatku saja...)” Ujar Leo dalam hatinya gelisah.


 


Lia menarik pedangnya dari sarungnya begitu suara guncangan tersebut kian mendekat. Terlihat dari kejauhan, pepohonan tumbang satu persatu di hadapan suara tersebut diikuti oleh suara panik dari burung yang terbang menjauhinya.


 


“....!”


 


“Lia, ada ap-“


 


Begitu mereka berdua merasakan kehadirannya, mereka berdua seketika itu pula sadar apa yang membuat suara guncangan tersebut. Itu adalah kehadiran yang sangat kuat dari sesosok monster yang pernah Leo rasakan sebelumnya. Tidak salah lagi, itu adalah monster yang sama yang pernah ia temui di masa lalunya.


 


“(I-Ini tidak mungkin...! Dia benar-benar ada di sini...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.


 


Tak berselang lama setelahnya, suara teriakan terdengar dari arah yang sama. Itu adalah suara teriakan ketakutan seseorang yang mereka kenal sebelumnya sesaat sebelum suara tersebut menunjukkan sosoknya.


 


“Tolong...! Tolong aku...!” Teriak orang itu berlari ketakutan dengan tubuh berlumuran darah.


 


“Roff...?!” Ujar Leo spontan terkejut.


 


Dia adalah Roff, orang yang pernah membuang Leo dari party-nya. Dengan wajah pucat ketakutan, ia sekuat tenaga berlari dari monster mengerikan yang mengejarnya.


 


“...! L-Leo...! T-Tolong aku...! Tolong selamatkan aku...!” Seru Roff spontan begitu melihat Leo ada di hadapannya.


 


“H-Huh...?”


 


Saat Roff mengatakannya, terdengar dari dalam hutan suara pohon tercabut dari akarnya mengganggu telinga. Pohon-pohon di sekitarnya pun ikut bergoyang bersama suara tersebut, hingga pada akhirnya sebuah bongkahan besar pohon yang utuh terbang melayang menuju tepat ke arah Roff yang tengah berlari meminta pertolongan.


 


“Tolong...!!!” Teriak Roff histeris.


 


“Leo...!!” Sambung Lia berteriak kepada Leo saat pohon itu menuju ke arahnya.


 


Menyadari pohon tersebut hendak menghantamnya, Leo pun lantas berlari guna menghindarinya. Namun sayang, Roff yang tidak sempat menghindar harus tertimpa batang kayu besar itu.


 


“AAAAAAAAAA..!!!!”


 


Tubuhnya seketika hancur tepat ketika pohon tersebut menghantam tanah dengan beban beratnya yang besar. Tanah di sekitarnya pun ikut retak akibat tekanan besar yang diciptakan oleh massanya. Darah bercucuran keluar dari balik batang pohon saat Leo terdiam panik menyaksikannya. Pohon sebesar itu dapat dilemparkan begitu saja membuat Leo semakin yakin akan monster apa yang mengejar Roff.


 


“Rrrrrr...!!!”


 


Suara raungan menggema dari balik pepohonan menakuti burung yang ada di sekitarnya sesaat sebelum tanah kembali berguncang diiringi oleh kemunculannya.


 


“.....!!”


 


Dari balik pepohonan lebat itu, ia menunjukkan sosoknya. Sesosok raksasa dengan hidung besar menunjukkan penampilannya di hadapan Leo dan Lia. Tubuhnya tinggi menjulang hingga melebihi pepohonan yang ada di sekitarnya dengan kulit wajah yang kasar layaknya bebatuan lengkap ditumbuhi oleh lumut dan jamur. Postur tubuhnya yang sedikit bungkuk membuatnya terlihat jauh lebih besar dari makhluk lain yang ada di hutan ini semakin membuat Leo dan Lia yang berdiri di hadapannya gemetar waspada.


 


“(Aku tidak mengira dia ada di sini...! Ini benar-benar buruk...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.


 


Dia adalah monster yang pernah Leo hadapi semasa ia tinggal di desanya. Monster yang biasa dikenal sebagai raksasa buruk rupa, atau yang biasa dikenal sebagai...

__ADS_1


 


“Troll....!”


__ADS_2