Black Arc Saga

Black Arc Saga
Pekerjaan di bawah tanah


__ADS_3

Sebelum menuju ke area pertambangan, Leo teringat akan sesuatu yang awalnya ia urungkan niatnya. Awalnya ia berniat membeli senjata lain setelah mengantarkan Lia kembali ke rumahnya, tetapi karena ia menerima pekerjaan ini, ia mau tidak mau harus membeli pedang baru untuk memenuhi pekerjaannya sebagai petualang.


 


“Benar juga, maaf sebelumnya Lia, tapi aku harus pergi ke pandai besi. Seperti yang kau tahu, pedangku hancur saat melawan Troll itu. Kau bisa pergi ke daerah pertambangan lebih dahulu, aku akan segera menyusulmu.” Ujar Leo melihat ke arah Lia sesaat sebelum berjalan mendahuluinya.


 


“... Mhm!”


 


“....?”


 


Sebelum Leo beranjak pergi, Lia menarik lengan bajunya menghentikannya sebelum akhirnya bicara dengannya.


 


“... Aku ikut.” Ujar Lia singkat mengerutkan alisnya bersikeras.


 


“Uh...”


 


“Ikut!”


 


Entah kenapa, Lia jadi semakin melekat kepadanya belakangan ini. Ia juga selalu bersikeras jika Leo hendak pergi meninggalkannya untuk beberapa masalah kecil. Mungkin karena memang sifatnya atau memang dia khawatir, Leo sama sekali tidak mengerti.


 


Pada akhirnya mereka berdua pun pergi menuju ke pandai besi bersama-sama. Mereka menghampiri salah satu toko itu dan memasukinya sesaat sebelum suara bising menyambut mereka.


 


“Permisi...” Ujar Leo menyapa.


 


Tidak terdengar ada yang membalas sapaan Leo. Mungkin itu karena suara ketukan palu yang keras itu menutupi suaranya. Ia pun memutuskan untuk menelusuri toko tersebut sesaat sebelum ia menemukan seorang pria kekar yang tengah menempa senjata di balik meja kasir.


 


“Halo, permisi... Apa anda mendengarku?” Ujar Leo memanggil pria tersebut dengan mengeraskan suaranya.


 


“....?”


 


Begitu mendengar suaranya, pandai besi itu lantas menghentikan ketukan palunya sebelum akhirnya melihat Leo dan Lia memperhatikannya sejak dari tadi.


 


“Oh? Sejak kapan kalian di sana? Siapa kalian?” Ujar pandai besi itu menyeka keringat di dahinya.


 


“Kami datang untuk membeli senjata... Tapi kelihatannya anda sangat sibuk...” Balas Leo dengan senyum pahit.


 


“Ah, seorang pelanggan rupanya. Maaf aku tidak mendengar suara kalian sebelumnya.” Ujar pandai besi tersenyum menyambut mereka berdua.


 


“Tidak apa-apa. Anda juga sedang bekerja, rasanya tidak enak kalau mengganggu anda.”


 


“Anak muda yang sopan, huh? Kemarilah, aku punya banyak barang bagus untukmu dan gadis muda di sana itu...”


 


Pandai besi itu membawa mereka kembali ke depan sebelum akhirnya menunjukkan segala macam jenis senjata kepada mereka berdua.


 


“Silahkan dilihat-lihat, pilihlah yang cocok untukmu.” Ujar pandai besi menurunkan kotak berisi senjata.


 


“Uh... Y-Ya. Terima kasih...” Balas Leo menundukkan kepalanya sebelum mulai memilih.


 


Leo mengamati satu persatu senjata yang ditunjukkan untuknya. Ia mengamatinya dengan seksama saat pandai besi itu bertanya kepadanya.


 


“Benar juga, aku belum pernah melihat kalian berdua di kota ini, apa kalian pendatang baru?” Tanya pandai besi melipat tangannya melihat ke arah mereka berdua.


 


“Bisa dibilang begitu... Kami baru saja sampai tadi.” Balas Leo tersenyum.


 


“Hm... Dilihat dari penampilan kalian, aku rasa kalian adalah petualang, benar? Ada apa sampai kalian datang ke kota membosankan ini?” Balas pandai besi itu kembali bertanya.


 


“Bisa dibilang, kami menerima pesan dari Guild petualang untuk menyelidiki masalah yang ada di pertambangan. Kami diutus dari cabang selatan untuk singkatnya.”


 


“Begitu ya. Hm. Ini berita yang bagus. Akhirnya ada juga tindakan dari si walikota tua bangka itu.”


 


“B-Begitu ya. Pasti berat juga untuk bisnis anda.”


 


“Ya, itu benar! Karena penutupan tambang, para pekerja terpaksa menganggur dan stok untuk tokoku juga berkurang drastis. Akibatnya harga bijih menjadi sangat mahal dan langka. Banyak dari kami yang terpaksa menutup toko karena tidak memiliki bahan baku. Entah sampai kapan keadaan ini berlanjut...”


 


Keadaan ini tentu tidak menguntungkan bagi penjual dan pengrajin sepertinya yang sangat bergantung pada hasil tambang. Pekerjaan ini jauh lebih berat tanggung jawabnya dari yang Leo pikirkan sebelumnya.


 


“B-Begitu ya. Kami juga turut prihatin dengan keadaan anda dan warga kota...” Ujar Leo dengan nada kecewa.


 


“Benar juga, karena kalian yang diutus oleh si tua bangka itu, bagaimana jika aku memberikan diskon kepada senjata yang akan kalian beli?” Balas pandai besi mengetuk satu telapak tangannya.


 


“T-Tunggu, apa?” Balas Leo terkejut.


 


“Anggap saja ini sebagai bentuk dukunganku dan warga sekitar. Ambilah senjata yang kalian mau, semuanya setengah harga untuk kalian. Dan jika boleh kutahu, senjata macam apa yang menjadi keahlianmu?”


 


“Uh... Aku biasa menggunakan pedang, tetapi aku juga bisa menggunakan tombak dan Greatsword.”


 


“Oi. Oi. Kau bercanda bukan? Kau bisa menggunakan tiga senjata sekaligus? Terlebih, Greatsword!”


 


“Memangnya itu aneh...?”


 


Leo tidak mengerti apa yang membuatnya heran. Sudah sewajarnya petarung dan petualang bisa menguasai lebih dari satu senjata. Meski ia lebih mahir menggunakan pedang, tetapi Leo juga dilatih memakai tombak dan Greatsword semasa kecilnya untuk digunakan bertarung melawan monster yang memiliki kelincahan dan ukuran yang besar. Ia tidak mengira keahlian dasarnya akan membuatnya begitu heran.


 


“Bisa dibilang hanya segelintir petualang saja yang menguasai lebih dari satu senjata. Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan ahli senjata sepertimu di tokoku!” Ujar pandai besi itu senang.


 


“B-Begitu ya. Aku hanya petualang biasa saja...” Balas Leo menggaruk pipinya gugup.


 


“Ambillah yang kau suka, pemuda berambut putih. Semua senjataku sudah pasti berkualitas, aku bisa menjaminnya. Kami berharap banyak darimu!” Balas Pandai besi itu tersenyum sambil menepuk bahu Leo.

__ADS_1


 


“U-Uh... Ya. Kami akan berjuang semampu kami.”


 


“Bagus!”


 


Setelah menentukan pilihannya, Leo pun membeli pedang baja itu sebagai senjata barunya. Setidaknya itu pasti cukup untuk melaksanakan misinya kali ini.


 


“Terima kasih banyak, paman.” Ujar Leo menganggukkan kepalanya sambil memberinya uang.


 


“Tidak masalah! Kalian berhati-hatilah di sana. Kudengar rumor dari para penambang bahwa gempa sering terjadi hingga terkadang menimpa pekerja yang sedang bekerja atau menutup jalan keluar. Kalian harus senantiasa waspada, mengerti?” Balas pandai besi tersenyum sebelum memberi peringatan kepada mereka.


 


“Kami mengerti. Kami pasti akan berhati-hati.” Balas Leo tersenyum balik.


 


“Semoga kalian berdua kembali dengan selamat membawa kabar gembira.”


 


“Ya. Sampai jumpa lagi, paman.”


 


“Ya!”


 


Setelah itu, mereka berdua pun meninggalkan toko dan langsung menuju ke tambang dengan persiapan yang sudah matang. Leo tertolong oleh pandai besi yang baik itu karena telah memberinya potongan harga pada senjatanya. Itu memberinya keberanian untuk menghadapi masalah ini dan menghapus keraguannya yang sebelumnya.


 


Seampainya di sana, mereka dihadapkan dengan sebuah gua di tepi tebing besar yang berada di kaki bukit. Tempat itu lebih besar dari yang Leo perkirakan sebelumnya. Hanya dari pintu masuknya saja yang seluas ini, entah seluas apa bagian dalamnya nantinya.


 


“Tunggu di sana, apa kalian petualang yang dikirim oleh Guild petualang?” Ujar salah seorang prajurit kota datang menghampiri mereka.


 


Saat melintasi pos penjaga, mereka dihentikan oleh beberapa orang prajurit kota yang bertugas memantau situasi tambang.


 


“Benar, kami petualang yang Guild utus. Aku Leonard Ansgred dan ini Li-, Alicia.” Jawab Leo dengan ekspresi tenang.


 


“... Salam.” Sambung Lia menundukkan kepalanya.


 


“Untuk mencegah tindak penipuan, bisa tunjukkan lencana petualang kalian?” Balas prajurit kedua mengulurkan tangannya.


 


“Tentu saja.” Jawab Leo singkat.


 


Leo dan Lia menunjukkan lencana petualang mereka kepada para penjaga itu. Namun, reaksi mereka di luar dugaan Leo, mereka terkejut dan memasang wajah curiga kepadanya dan juga Lia setelah melihat lencana yang mereka bawa.


 


“Kalian berusaha membodohi kami, huh? Kalian bukan petualang yang Guild kirimkan!” Ujar prajurit pertama marah.


 


“Beraninya kalian mengaku sebagai petualang yang diutus Guild! Kami tidak akan membiarkan kalian berdua begitu saja!” Sambung prajurit kedua menodongkan senjatanya ke arah mereka.


 


“T-Tunggu dulu, kami tidak berbohong! Kami adalah petualang yang diutus oleh Guild!” Balas Leo mencoba meluruskan kesalahpahaman mereka.


 


“Apa yang membuatmu bicara seyakin itu? Padahal hanya tingkat Cuivre, beraninya kalian mengaku sebagai utusan Guild!” Balas prajurit pertama ikut menodongkan senjatanya.


 


 


“Jangan banyak bicara, ikut kami dan kita akan selesaikan semuanya!” Ujar prajurit kedua memaksa mereka dengan senjatanya.


 


“Tunggu sebentar, kami punya buktinya!” Balas Leo menentang.


 


“Hah...? Apa yang kau katakan...? Apa kau mencoba membodohi kami lagi...?” Balas prajurit kedua dengan wajah marah.


 


Leo menunjukkan surat yang sebelumnya ia tunjukkan kepada resepsionis itu kepada mereka sebelum prajurit pertama merebut surat tersebut lalu membacanya.


 


“Ini surat resmi...! Tidak salah lagi, ini dari Guild petualang...!” Ujar prajurit pertama terkejut.


 


“Hah...? Biar aku lihat juga...” Balas prajurit kedua merebut suratnya.


 


Setelah membaca surat itu, prajurit kedua lantas melihat ke arah Leo dan Lia sebelum akhirnya menundukkan kepalanya.


 


“Maafkan aku, petualang Leonard dan Alicia...! Maafkan aku atas sikap lancangku dan pengancamanku barusan...!” Ujarnya membungkuk meminta maaf.


 


“Aku juga, maafkan aku karena telah mengacungkan senjata kepada kalian berdua!” Sambung prajurit pertama ikut membungkuk meminta maaf.


 


“T-Tidak apa-apa... Kami tahu kalau kalian hanya menjalankan tugas... Aku senang kesalahpahamannya sudah teratasi...” Balas Leo dengan wajah canggung.


 


“Ya, maafkan sikap kami barusan. Kami hanya tidak mengira kalau seorang Cuivre yang datang membantu kami. Tetapi kami sadar kalau pangkat ternyata bisa menipu...” Ujar prajurit pertama mengangkat kepalanya malu.


 


“Tidak masalah. Jadi, bagaimana dengan keadaan di dalam tambang?” Balas Leo bertanya kepada mereka.


 


“Untuk saat ini, kami sudah mengirim beberapa regu untuk menyelidiki jalur tambang. Kami juga mengirim beberapa petualang di dalam sana, jika beruntung kalian bisa bertemu mereka di sana.” Jawab prajurit pertama menjelaskan situasi secara singkat.


 


“Begitu ya. Kami mengerti.” Ujar Leo menganggukkan kepala.


 


Mereka pun diantar menuju mulut gua setelah mendengar penjelasan kedua prajurit tersebut. Terlihat penjagaan ketat di mulut gua yang menandakan bahwa keadaan saat ini sedang tidak baik-baik saja.


 


“(Apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana...? Aku sangat yakin ada hubungannya dengan monster...)” Ujar Leo dalam hatinya curiga.


 


Sesampainya di mulut gua, prajurit lain datang menghampiri mereka setelah melihat kedua prajurit sebelumnya mengantar mereka.


 


“Apakah mereka petualang yang dikirimkan oleh Guild?” Tanya prajurit ketiga melihat ke arah Leo dan Lia.


 


“Ya. Mereka orangnya, Leonard dan Alicia.” Jawab prajurit pertama memperkenalkan mereka berdua secara singkat.


 


“Begitu. Kalau begitu langsung saja, aku yakin kau sudah mendengar situasinya dari Guild maupun dari mereka berdua. Kami mengharapkan bantuan kalian, kami kekurangan orang untuk melakukan penyelidikan ini. Jika terus dibiarkan, warga kota akan kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian mereka. Jadi, pinjamkan kami kekuatan kalian.” Ujar prajurit ketiga menggenggam tinjunya di dada kirinya.

__ADS_1


 


“Kami akan berusaha semampu kami.” Balas Leo dengan wajah serius.


 


“.... Mm.”


 


“Kalau begitu, ambilah ini...” Sambung prajurit ketiga memberikan sesuatu kepada Leo.


 


Prajurit itu memberikan beberapa gulungan yang merupakan sebuah peta. Ia membacanya sejenak saat prajurit tersebut kembali bicara dengannya.


 


“Dengan peta itu harusnya penjelajahan kalian menjadi lebih mudah. Kami meminta bantuan penambang untuk membuat peta itu, harusnya peta itu cukup akurat.” Sambung prajurit itu melanjutkan kalimatnya.


 


“Terima kasih, ini akan sangat membantu.” Balas Leo menganggukkan kepalanya.


 


“Benar juga, aku hampir lupa sesuatu yang tidak kalah penting...” Ujar prajurit itu kembali memberi Leo sesuatu.


 


Ia memberikan sebuah tongkat pendek dengan ujungnya yang terikat dengan kristal bening. Leo yang penasaran mengamatinya sesaat ketika prajurit itu menjelaskan benda yang diberikannya.


 


“Itu adalah obor kristal. Dia akan aktif jika kalian memberinya sedikit kekuatan sihir kalian. Kami sengaja membuatnya karena menurut informasi, lapisan ketiga yang menjadi fokus penyelidikan kali ini adalah wilayah galian yang paling rawan ledakan. Beberapa penambang mengatakan ada beberapa mineral dan unsur yang sangat mudah terbakar di sana.” Sambung prajurit itu menjelaskan singkat mengenai benda pemberiannya.


 


“Begitu ya. Sekali lagi terima kasih, kami akan berhati-hati di dalam sana.” Balas Leo menyimpan peta dalam sakunya.


 


“Ya, semoga kalian berdua bisa kembali dengan selamat.” Balas prajurit tersebut tersenyum.


 


Setelah siap dengan segala persiapan mereka, Leo dan Lia langsung memasuki pertambangan. Dengan menggunakan peta yang diberikan oleh prajurit tadi, mereka memutuskan untuk langsung menuju ke tangga penghubung antar lantai.


 


“Menurut peta, kita harus mengikuti jalur ketiga dari lorong utama... Kurasa lantai pertama ini tidak terlalu rumit.” Gumam Leo sambil mengamati peta.


 


“... Seberapa jauh lagi percabangannya?” Balas Lia bertanya kepada Leo.


 


“Kurasa sekitar 500 meter lagi.” Jawab Leo singkat.


 


Sesuai peta, mereka mengikuti jalur utama menuju persimpangan jalan untuk menuju ke tangga. Sesampainya di persimpangan, mereka dihadapkan oleh 5 jalur cabang berbeda dalam sebuah ruang terbuka yang luas.


 


“Cukup luas juga. Dan terkesan seperti ruangan yang dipahat dengan baik...” Ujar Leo terpukau melihat bagian dalam tambang.


 


“... Mm. Tambang ini sudah berusia ratusan tahun dan selama itu pula tambang ini menjadi pusat aktivitas.” Balas Lia ikut mengamati sekitar.


 


“Begitu ya. Tidak heran jika tempat ini dibentuk dengan baik.” Balas Leo menurunkan bahunya.


 


“... Ayo, kita harus melanjutkan perjalanan kita.”


 


“Ya, kau benar.”


 


Mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan mereka mengikuti peta yang ada. Hingga pada akhirnya mereka sampai di tangga penghubung lantai kedua di mana di sana pula mereka melihat mekanisme yang tidak asing bagi mereka.


 


“Seharusnya di sini. Ini pasti tangga penghubungnya. Dan juga elevatornya, itu pasti kendaraan kita.” Ujar Leo melihat peta sebelum memastikannya.


 


“... Mm.”


 


Dengan memutar roda penggeraknya, mereka memakai elevator itu untuk turun ke lantai kedua. Meski membutuhkan banyak tenaga, elevator manual ini sangat berguna bagi penambang. Khususnya saat mereka hendak membawa gerobak hasil tambang mereka naik ke permukaan, alat ini akan menjadi sangat penting.


 


Dalam perjalanan turun, sesuatu mengganggu pikiran Lia saat melihat Leo memutar mekanismenya. Ia secara tidak sengaja melihat bekas luka di leher dan bahu Leo yang membuatnya teringat ucapan Roff dan party-nya saat membicarakan siapa Leo.


 


“(Luka di leher belakangnya terlihat cukup dalam... Apakah itu luka gigitan monster...? Kira-kira seperti apa kehidupannya sebelum bertemu denganku...?)” Ujar Lia dalam hatinya gelisah.


 


Meski ia tahu bahwa masa lalunya mungkin sangat kelam, tetapi ia sangat ingin mengenal Leo lebih dalam. Dan yang lebih penting, apa yang membuatnya menjadi dirinya sekarang.


 


Setelah memakan waktu, mereka akhirnya tiba di dasar yang merupakan lantai kedua. Mereka pun meninggalkan elevator sebelum akhirnya melanjutkan penyelidikan.


 


“Untuk lantai kedua... Sepertinya tidak serumit lantai pertama.” Ujar Leo melihat peta kedua.


 


“....”


 


“Elevator kedua ada di ujung lorong utama. Lantai ini juga jadi fokus penambangan bijih logam dan sejenisnya... Cukup menarik.” Gumam Leo melihat sekitar dan membandingkannya dengan peta.


 


“... Leo, bolehkah aku bertanya?” Sambung Lia bertanya dengan wajah cemas.


 


“Hm? Ada apa, Lia?” Balas Leo berbalik melihat ke arahnya.


 


Lia membulatkan tekadnya untuk menyampaikan pertanyaan yang selama ini ia pendam darinya. Keraguannya dipaksa mundur ketika ia mengatakannya langsung kepadanya.


 


“Leo... Apakah kau seorang Thearian yang dibuang?” Tanya Lia dengan wajah serius.


 


“.....”


 


“Aku telah mendengarnya dari Roff... Apa itu semua benar...? Apa kau dibuang dari tempat tinggalmu...?” Sambung Lia dengan wajah yang mulai ragu.


 


Leo seketika menghentikan langkahnya terdiam mendengar pertanyaan mengejutkan Lia. Ia tidak menduga bahwa pertanyaan yang selama ini ia takutkan akhirnya dilontarkan oleh Lia. Ia hanya bisa membisu ketika Lia kembali bertanya kepadanya.


 


“Leo, kenapa selama ini kau selalu menyembunyikannya...?” Sambung Lia melempar pertanyaan itu kepada Leo dengan wajah yang semakin gelisah.


 


“....”


 


“Apa karena aku...? Apa selama ini kau merasa bersalah atas kejadian yang menimpaku...?” Ujar Lia meraih tangan Leo dengan perasaan sedih.


 

__ADS_1


Saat di mana Leo harus mengatakan kebenaran yang sesungguhnya kepada Lia akhirnya tiba. Ia sejujurnya belum mampu mengatakannya karena keadaan mereka saat ini sangat tidak terduga. Keraguan serta ketakutan di hatinya semakin tidak terkendali ketika Lia menggenggam lengannya. Ia tidak tahu lagi harus berkata apa dengannya.


__ADS_2