
Goblin mengejar Leo yang tengah
berlari melewati rerumputan itu sambil mencoba memancing mereka keluar dari
persembunyian mereka. Ia membawa mereka menuju tempat terbuka jauh dari
rerumputan tinggi tempat biasa mereka bersembunyi guna melawan mereka.
“(Jumlah mereka masih kurang... Aku
rasa masih ada yang masih bersembunyi di dalam sana...)” Ujar Leo dalam hati.
Leo bermaksud memancing mereka semua.
Itu karena Goblin takkan pernah berani menyerang secara individu, jadi ia harus
memancing mereka semua untuk berkumpul jadi satu sehingga lebih mudah
menghabisinya. Apalagi, mereka terkenal cukup licik dengan memainkan lingkungan
tempat mereka tinggal sebagai perangkap untuk mengecoh petualang.
“Rarrr...!!”
Salah satu Goblin itu melompat hendak
menikam Leo dengan pisau berkarat miliknya. Namun, dengan cepat Leo membuat
manuver mengelak dan membalas balik dengan tendangannya.
“Ugyaaahhh...!”
“Hah..! Hah...!”
Itu tadi nyaris saja. Punggungnya
nyaris tersayat jika ia tidak waspada menanggapinya. Cukup berbahaya jika sampai
pisau berkarat itu sampai melukainya. Itu akan menyebabkan infeksi pada lukanya
nantinya. Mulai sekarang ia harus lebih berhati-hati lagi.
Namun, karena ia berhenti untuk
menghindari serangan Goblin barusan, Goblin-Goblin yang mengejar Leo kini
mengepungnya. Jumlah mereka memang tidak banyak, namun karena masalah barusan,
kini rencananya berubah total.
“(Mereka cukup lengkap dalam
persenjataan. Ini akan sedikit merepotkan dari yang kuduga sebelumnya...)”
Gumam Leo dalam hati.
Mereka mendesak Leo menuju rerumputan
tinggi, tempat di mana sebelumnya Leo memancing mereka keluar. Sudah jelas
mereka berniat mengepungnya dengan cara klasik. Mereka akan memojokkan Leo
menuju rerumputan tinggi, lalu saat dia sudah masuk, Goblin yang bersembunyi di
dalamnya akan menyerang secara tiba-tiba.
“(Jadi begitu. Mereka ingin
menyergapku, huh?)” Ujar Leo dalam hati sambil mengamati sekitar.
Itu mungkin adalah rencana yang
cemerlang. Namun, Leo sudah menyadarinya sejak awal. Ia sudah tahu sekarang apa
yang harus ia lakukan untuk melawan taktik mereka.
Mereka kian mendesaknya menuju
rerumputan tinggi. Dan pada saat yang bersamaan pula, Goblin yang bersembunyi di
rerumputan seketika muncul berniat menyergap Leo. Namun...
“....!!”
Tepat saat Goblin-Goblin itu berniat
menikam Leo, secara mengejutkan Leo melompat berguling masuk menuju rerumputan
menghindari sergapan mereka. Para Goblin seketika kebingungan melihat Leo masuk
ke dalam rerumputan tinggi itu dengan wajah menganga sebelum salah seekor dari
mereka mencoba mencarinya masuk ke dalamnya.
“....”
“....”
Keadaan sunyi untuk sesaat, namun tak
berselang lama setelahnya terdengar suara gemerisik dari dalam rumput tepat
sebelum sesuatu benda secara mengejutkan terbang terlempar dari dalamnya.
“....!!”
Para Goblin terkejut melihat apa yang
baru saja terbang melayang melewati mereka. Itu bukan batu maupun tanah,
melainkan kepala Goblin yang barusan menyusul Leo ke dalam sana. Darah
bercucuran membasahi tubuh Goblin-Goblin lain sebelum amarah mereka memuncak
saat menyaksikannya.
“Rrraaa!!!”
Tepat ketika raungan mereka pecah,
secara mengejutkan Leo muncul dari balik rerumputan itu dengan kecepatan tinggi
melarikan diri dari kepungan mereka. Alhasil, mereka yang semula perhatiannya
terbutakan oleh amarah kini terkejut melihat Leo melewati mereka begitu saja.
“Raaar..!!”
Mereka mulai mengejarnya setelah
salah satu dari mereka berteriak memerintahkan yang lain untuk mengejarnya.
“(Bagus, mereka terpancing
semuanya.)” Ujar Leo dalam hati senang.
Sekarang, tugasnya adalah membawa mereka
semua pada posisi yang sudah direncanakan sebelumnya.
“Arrr..! Raaa...!”
Tepat ketika mereka mulai hampir
mengejar, Leo secara mengejutkan menghentikan langkahnya di hadapan mereka
sebelum akhirnya ia berbalik menghadap mereka.
“Raaar...!!”
Tidak membuang kesempatan itu, para
Goblin memanfaatkannya untuk menyerang secara penuh pada Leo yang berdiri di
hadapan mereka. Akan tetapi...
“Sekarang, Lia!” Serunya memanggil.
Lia datang tepat ketika Leo
memberikan sinyal kepadanya. Dia berlari dengan cepat dari arah belakang mereka
menarik bilah pedangnya sesaat sebelum ia melancarkan serangan pada mereka.
“...?!”
Dengan kecepatan yang luar biasa, Lia
menebas Goblin yang ada di hadapannya dengan mudahnya layaknya sedang memotong
rerumputan liar dengan pedangnya. Mereka yang terkecoh dengan umpan Leo
terlambat menyadari kehadirannya dan dengan cepat panik begitu melihat kedatangannya.
“(H-Hebat... Permainan pedangnya
sangat hebat...)” Ujar Leo terkesima dalam hati.
Leo yang melihatnya pun terperanga
tak percaya dengan apa yang ia saksikan. Lia menghabisi Goblin-Goblin itu
bahkan sebelum mereka sempat bereaksi terhadapnya. Terlebih, kecepatan dan
koordinasi tubuh yang luar biasa itu menunjukkan jelas kemampuannya.
“...?”
Saat para Goblin yang tersisa berniat
melarikan diri, Lia mengubah pola gerakannya. Ia berhenti sejenak mengambil
ancang-ancang sambil melihat fokus pada sekelompok kecil Goblin itu sesaat
sebelum ia melesat menuju arah mereka.
“...!!”
Dan di saat mereka berniat kabur, ia
mengayunkan tebasan horizontal berskala luas pada mereka menyebabkan suara
melengking ketika pedang miliknya memotong angin bersama kepala Goblin-Goblin
itu.
“....”
Semua Goblin itu tewas di tangannya
seorang. Ia menghabisi kawanan Goblin itu dalam sekejap mata saja.
“(Dia sangat luar biasa... Kemampuan
berpedangnya juga memukau...)” Ujar Leo dalam hatinya terpukau.
Lia mengibaskan darah yang melumuri
pedang miliknya sebelum akhirnya menyarungkan kembali pedangnya tepat ketika
Leo datang menghampirinya.
“Sepertinya kita selesai di sini...”
Ujar Leo sambil melihat mayat-mayat Goblin itu.
“... Mm.”
Lia hanya mengangguk tanpa berkata
apa-apa kepada Leo. Walau sedikit mengejutkan melihat apa yang baru saja Lia
lakukan, tetapi dengan begini masalah sudah selesai.
“Aku sempat terkejut melihat
kemampuanmu, kau sangat luar biasa, Lia.” Ujar Leo memujinya sambil tersenyum.
“....”
__ADS_1
“Tak kusangka kau memiliki kemampuan yang
hebat seperti itu. Kau menghabisi mereka semua sendirian. Aku jadi seperti penonton
saja...” Sambung Leo kembali melihat mayat Goblin di sekitarnya.
“....”
Lia hanya diam mendengar pujian dari Leo
tanpa berekspresi. Itu memang sikap Lia yang biasa, jadi Leo tidak terlalu mempermasalahkannya.
“Baiklah, sekarang hanya tinggal
mengumpulkan telinga mereka. Kalau masalah ini serahkan padaku saja...” Ujar
Leo mengeluarkan sebilah pisau dari sakunya.
Tepat ketika Leo mengatakannya, Lia secara
tiba-tiba terduduk lemah di atas tanah. Leo yang menyadarinya segera
menghampirinya untuk memeriksa keadaannya.
“Oi. Lia, kau baik-baik saja?” Tanya
Leo dengan wajah panik.
“Mnh... Aku tidak.. Apa-apa...” Balas
Lia dengan nada lemah.
“Tunggu sebentar, aku akan
menolongmu.” Balas Leo mencoba mengangkatnya.
“... Tidak.. Perlu...” Ujar Lia
menolak bantuan Leo.
“H-Huh...?”
Lia mencoba bangun dengan kedua
kakinya, namun ketika ia hampir mampu berdiri tegak, secara mendadak ia
kehilangan kekuatan hingga ia kembali terjatuh tepat ketika Leo datang menangkapnya.
“... Mnh.”
“Kau terlalu memaksakan tubuhmu. Luka
yang ada di tubuhmu belum sepenuhnya sembuh. Mungkin sebaiknya kita kembali
saja.” Ujar Leo dengan nada cemas.
“... Tidak.” Balas Lia bersikeras.
“Tapi, keadaanmu?”
“Aku.. Masih sanggup...”
Lia melepaskan tangan Leo sebelum
akhirnya ia berusaha sekuat tenaga untuk berjalan membuktikan kepada Leo bahwa
tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Leo tahu bahwa Lia berusaha tetap kuat,
namun tetap saja itu membuatnya semakin cemas dengannya.
“Kalau begitu kau boleh istirahat
sejenak, biar aku saja yang mengambil semua ini.” Ujar Leo memerhatikannya
sebelum mulai bekerja.
“....”
Leo mulai mengambil satu persatu
telinga Goblin itu dari mayat-mayat yang berserakan di sekitar. Selagi
membiarkan Lia beristirahat, ia menyusuri tanah lapang itu mengumpulkan telinga
Goblin yang ada.
Itu adalah aturan guild bahwa setiap
monster yang dikalahkan bisa di tukarkan dengan membawa bagian tubuh mereka. Dan
untuk Goblin, bagian yang harus mereka bawa sebagi bukti adalah telinga mereka.
“Baiklah, kurasa ini sudah semuanya.
Dengan ini pekerjaan kita selesai.” Ujar Leo sambil menyeka keringat di
pipinya.
Ia membawa kantong berisi
telinga-telinga Goblin menghampiri Lia yang tengah terduduk manis sebelum
mengajaknya kembali ke kota.
“Aku sudah selesai dengan mereka.
Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa sudah lebih baik?” Tanya Leo pada Lia.
“.... Mm.” Balas Lia mengangguk.
“Kalau begitu, sebaiknya kita kembali
ke kota.” Ujar Leo sebelum ia mengikat kantong darah itu ke pinggangnya.
Mereka pun kembali dengan membawa
satu kantong penuh telinga Goblin untuk mereka tukarkan di Guild petualang.
Sesampainya mereka di sana, Leo
memutuskan akan menukarkannya seorang diri. Ia teringat bagaimana perlakuan
para petualang ketika melihat Lia berjalan masuk bersamanya. Tatapan mereka
ke dalam.
“Aku akan menukarkannya, tunggulah di
sini.” Ujar Leo meminta Lia untuk tinggal.
“.... Kenapa?” Balas Lia dengan wajah
bingung.
“Tidak, hanya saja para petualang
pasti akan membicarakanmu. Kemungkinan terburuknya, mereka akan menggodamu. Itu
pasti akan membuatmu tidak nyaman.” Jawab Leo dengan wajah cemas.
“... Aku tidak peduli dengan mereka.”
Ujar Lia dengan nada datar.
“Memang, tapi aku kira mereka tidak.
Kita tidak tahu apa yang mungkin terjadi. Sebaiknya kau memang di luar saja.”
“....”
Lia pun mengangguk dan menuruti apa
yang Leo katakan dan menunggunya di luar selagi ia masuk ke dalam sana.
Begitu masuk, tatapan mengintimidasi
terpancar dari para petualang. Mereka semua menatap Leo dengan sinis saat ia
berjalan menuju ke meja resepsionis.
“Hei, itu si putih pecundang itu,
kan?” Bisik salah seorang petualang pada temannya.
“Dia yang bersama gadis tadi itu.
Sial dia menyebalkan!” Balas yang lain menyambung.
“Cih! Dia pasti menggunakan sihir
untuk menghipnotis gadis itu. Aku dapat mencium bau bajingan dari dalam
dirinya.” Ujar yang lain menuduh tanpa bukti.
“Terkutuklah dia!” Ujar petualang
yang ada di sudut ruangan.
Leo berjalan mendengar semua itu
tanpa menjawab mereka karena ia tahu semua pasti akan bertambah buruk jika ia
membalas perkataan mereka. Ia hanya harus tetap tegar dan sabar demi Lia yang tengah
menunggunya.
Saat ia melewati sebuah meja di
samping jalan, kakinya tersandung sesuatu hingga membuatnya terjatuh ke lantai.
Sontak semua orang yang menyaksikannya seketika menertawakan dirinya yang jatuh
seperti orang bodoh.
“Lihat dia. Benar-benar payah!” Ujar
salah seorang petualang mengejek.
“Benar-benar menggelikan.” Ujar yang
lain menertawakannya.
Itu bukan kebetulan, melainkan Leo
terjatuh karena perbuatan seseorang yang duduk di meja itu.
“Ups... Maaf, aku tak melihatmu. Apa
kau baik-baik saja?” Ujar petualang yang duduk di meja itu sambil tertawa.
Leo mencoba untuk bangun, namun
secara tak terduga tubuhnya diinjak oleh salah seorang petualang bertubuh kekar
itu hingga membuat Leo kembali terjatuh.
“Ugh...”
Pria itu menatap Leo dengan tatapan
dingin sambil berkata kepadanya.
“Oh... Ini adalah sesuatu yang mengejutkan
melihat karpet bisa bergerak sendiri.” Ujarnya menatap Leo dengan angkuh.
“Hgnh...”
“Aneh, aku kira karpet tidak bisa
bicara.” Sambungnya perlahan kesal.
Leo diinjak-injak olehnya hingga
membuatnya terluka pada bagian pelipisnya. Sementara itu, mereka semua
menertawakan Leo yang diinjak-injak itu tanpa ada perasaan untuk menolongnya. Keadaan
itu berlanjut hingga salah seorang resepsionis menghentikan pria itu.
__ADS_1
“Hentikan itu! Jangan sakiti dia!” Ujar
resepsionis wanita itu bergegas menghampiri.
Pria itu langsung menghentikan
aksinya begitu resepsionis memperingatkannya itu. Ia takkan berani melawannya,
jika ia melawan maka ia akan terkena sanksi dari Guild.
“Cih. Dasar pengganggu.” Gumamnya
kesal.
Pria itu pun lantas pergi
meninggalkannya saat gadis resepsionis itu membantunya.
“Kamu baik-baik saja?” Tanya gadis
resepsionis itu mengulurkan tangannya menolong Leo.
“Aku... Tidak apa-apa.” Jawab Leo
sambil menyeka darah yang mengalir di alisnya.
“Tapi kamu terluka. Sebaiknya biar
aku obati sebelum lukamu.”
“Tidak, aku baik-baik saja.”
Leo bangun dan mengambil kantong
berisi telinga Goblin itu sebelum ia menuju ke meja resepsionis untuk menukarkannya
dengan uang.
“Tunggu, kamu mau ke mana?” Tanya
Gadis resepsionis itu melihat Leo pergi.
“Aku mau menukarkan ini semua.” Ujar
leo sambil meletakkan kantong itu di atas meja.
“Uh...”
Resepsionis itu sedikit khawatir
dengan keadaannya, namun Leo mencoba bersikap biasa saja setelah kejadian itu.
“Apa kamu benar tidak apa-apa?” Tanya
Resepsionis itu sekali lagi berjalan menghampirinya.
“Tidak, ini bukan masalah. Tolong
hitung hasilnya.” Jawab Leo sambil menarik nafas singkat.
“Uh... Mm. Baiklah.”
Melihat Leo bersikap demikian,
resepsionis itu menghela nafas singkat sebelum akhirnya mulai menghitung hasil
yang Leo bawa.
“Cukup banyak juga. Walau kamu pemula,
ternyata mengejutkan juga.” Ujar resepsionis memujinya.
“Agak berlebihan jika mengatakan itu
semua itu milikku sendiri...” Balas Leo menggaruk kepala.
“Begitukah?”
“Ini hasil kerja keras kami berdua.
Jadi, pujian itu tidak pantas kuterima.”
“Begitu ya. Tapi tetap saja kalian memang
hebat bisa mengumpulkan semua ini dalam waktu yang singkat.”
“B-Begitulah.”
Selesai menghitung hasil perburuannya,
ia segera membawanya dan memberikan Leo upah untuk kerja kerasnya.
“Totalnya ada 30 ekor Goblin. 1 ekor
Goblin bernilai 10 koin perunggu, jadi totalnya 300 koin perunggu. Artinya 3
koin perak.” Ujar resepsionis itu meletakkan uang di atas meja.
“Ya. Terima kasih.” Balas Leo singkat
dengan wajah gugup.
“Sama-sama. Semoga ke depannya kalian
bisa memberikan kontribusi yang lebih baik lagi.”
“Y-Ya. Tentu.”
Leo mengambilnya sebelum akhirnya ia
meninggalkannya pergi menemui Lia yang sudah menunggunya di luar bangunan.
Hasilnya bisa di bilang lumayan, tapi
itu semua bisa terjadi karena usaha Lia. Yang menghabisi sebagian besar dari Goblin
itu adalah Lia, sedang Leo hanya membantunya saja. Walau malu untuk
mengatakannya tapi, Leo merasa kalau dia sendiri yang sedang dijaga oleh Lia.
Ini berkebalikan dengan apa yang ia katakan kepada Zille sebelumnya bahwa ia
akan menjaga Lia.
“(Bahkan membuat gadis yang
seharusnya kulindungi melindungiku, aku benar-benar payah...)” Gumam Leo dalam
hati kecewa.
Leo kembali saat Lia yang ada di luar
menantinya. Namun, Lia terkejut saat menyadari Leo kembali dengan membawa luka.
“Maaf membuatmu menunggu, Lia.” Sapa
Leo sambil tersenyum.
“Kau terluka...!” Balas Lia
menghampirinya dengan wajah cemas.
“Ah. Ini? Bukan apa-apa. Hanya
sedikit tergelincir di sana.” Balas Leo mencoba mengelabuinya.
Wajah Lia seketika berubah menjadi
cemas saat mengetahui Leo terluka setelah kembali dari dalam sana. Lia tahu Leo
mendapat perlakuan buruk dari para petualang, namun ia mencoba
menyembunyikannya.
“Biarkan aku memeriksanya.” Ujar Lia
mencoba meraih Leo dengan kedua tangannya.
“Ah.. tidak apa-apa. Ini bukan luka
serius.” Ujar Leo menghindar sambil tersenyum pahit.
“Tapi... Itu bukan luka kecelakaan...”
Balas Lia dengan wajah curiga.
“Y-Yah, aku sedikit melamun jadi
beginilah hasilnya. Tidak ada yang perlu dicemaskan.” Balas Leo membohonginya.
“... Mereka, bukan?”
“T-Tunggu, apa...?”
“... Para petualang itu... Mereka
pelakunya, bukan?”
“T-Tidak! Tentu saja tidak! Mana
mungkin mereka melakukannya di dalam Guild... Ahaha...”
Leo berusaha menutupi kenyataan bahwa
ia di perlakukan dengan sangat buruk saat berada di dalam sana. Ia hanya tak
mau membuat Lia khawatir kepadanya mengingat banyak hal buruk yang telah
menimpa Lia baru-baru ini.
“A-Ah. Benar juga. Karena kita masih
punya waktu, sebaiknya kita mencari penginapan untuk malam ini.” Ujar Leo
mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Tapi lukamu...” Sambung Lia dengan
wajah cemas.
“Ini bukan masalah besar, yang
terpenting sekarang kau harus istirahat untuk memulihkan diri. Kau pasti lelah,
bukan?” Balas Leo mengabaikan kecemasan Lia.
“....”
“Kau sudah bertarung dengan baik,
tetapi kau belum sepenuhnya sembuh. Jadi, mari kita istirahat saja untuk sisa
hari ini...”
Lia diam sesaat sebelum menganggukkan
kepala menyetujui perkataan Leo.
Untuk sekarang Leo bisa
menyembunyikannya. Ia tidak ingin Lia tahu apa yang baru saja menimpanya. Namun,
hingga sampai tiba saatnya Lia mengetahui kebenaran tentang diri Leo, apakah
sikapnya akan sama dengan petualang itu? Itu adalah pertanyaan yang membuat Leo
putus asa.
“(Mungkin selama aku bisa
menyembunyikan kenyataan bahwa aku tidak memiliki Skill darinya.
Namun, saat dia mengetahuinya, apakah aku akan dibenci olehnya...?)” Tanya Leo bimbang
dalam hatinya.
Kebohongan dapat menutupinya, namun
tidak dengan tindakannya. Leo sadar bahwa suatu saat kebenaran ini akan sampai
__ADS_1
kepada Lia. Namun, bagaimana saat hal itu terjadi? Akankah Lia akan membencinya
sama seperti semua orang yang pernah Leo kenal sebelumnya?