Black Arc Saga

Black Arc Saga
Perburuan pertama


__ADS_3

Goblin mengejar Leo yang tengah


berlari melewati rerumputan itu sambil mencoba memancing mereka keluar dari


persembunyian mereka. Ia membawa mereka menuju tempat terbuka jauh dari


rerumputan tinggi tempat biasa mereka bersembunyi guna melawan mereka.


“(Jumlah mereka masih kurang... Aku


rasa masih ada yang masih bersembunyi di dalam sana...)” Ujar Leo dalam hati.


Leo bermaksud memancing mereka semua.


Itu karena Goblin takkan pernah berani menyerang secara individu, jadi ia harus


memancing mereka semua untuk berkumpul jadi satu sehingga lebih mudah


menghabisinya. Apalagi, mereka terkenal cukup licik dengan memainkan lingkungan


tempat mereka tinggal sebagai perangkap untuk mengecoh petualang.


“Rarrr...!!”


Salah satu Goblin itu melompat hendak


menikam Leo dengan pisau berkarat miliknya. Namun, dengan cepat Leo membuat


manuver mengelak dan membalas balik dengan tendangannya.


“Ugyaaahhh...!”


“Hah..! Hah...!”


Itu tadi nyaris saja. Punggungnya


nyaris tersayat jika ia tidak waspada menanggapinya. Cukup berbahaya jika sampai


pisau berkarat itu sampai melukainya. Itu akan menyebabkan infeksi pada lukanya


nantinya. Mulai sekarang ia harus lebih berhati-hati lagi.


Namun, karena ia berhenti untuk


menghindari serangan Goblin barusan, Goblin-Goblin yang mengejar Leo kini


mengepungnya. Jumlah mereka memang tidak banyak, namun karena masalah barusan,


kini rencananya berubah total.


“(Mereka cukup lengkap dalam


persenjataan. Ini akan sedikit merepotkan dari yang kuduga sebelumnya...)”


Gumam Leo dalam hati.


Mereka mendesak Leo menuju rerumputan


tinggi, tempat di mana sebelumnya Leo memancing mereka keluar. Sudah jelas


mereka berniat mengepungnya dengan cara klasik. Mereka akan memojokkan Leo


menuju rerumputan tinggi, lalu saat dia sudah masuk, Goblin yang bersembunyi di


dalamnya akan menyerang secara tiba-tiba.


“(Jadi begitu. Mereka ingin


menyergapku, huh?)” Ujar Leo dalam hati sambil mengamati sekitar.


Itu mungkin adalah rencana yang


cemerlang. Namun, Leo sudah menyadarinya sejak awal. Ia sudah tahu sekarang apa


yang harus ia lakukan untuk melawan taktik mereka.


Mereka kian mendesaknya menuju


rerumputan tinggi. Dan pada saat yang bersamaan pula, Goblin yang bersembunyi di


rerumputan seketika muncul berniat menyergap Leo. Namun...


“....!!”


Tepat saat Goblin-Goblin itu berniat


menikam Leo, secara mengejutkan Leo melompat berguling masuk menuju rerumputan


menghindari sergapan mereka. Para Goblin seketika kebingungan melihat Leo masuk


ke dalam rerumputan tinggi itu dengan wajah menganga sebelum salah seekor dari


mereka mencoba mencarinya masuk ke dalamnya.


“....”


“....”


Keadaan sunyi untuk sesaat, namun tak


berselang lama setelahnya terdengar suara gemerisik dari dalam rumput tepat


sebelum sesuatu benda secara mengejutkan terbang terlempar dari dalamnya.


“....!!”


Para Goblin terkejut melihat apa yang


baru saja terbang melayang melewati mereka. Itu bukan batu maupun tanah,


melainkan kepala Goblin yang barusan menyusul Leo ke dalam sana. Darah


bercucuran membasahi tubuh Goblin-Goblin lain sebelum amarah mereka memuncak


saat menyaksikannya.


“Rrraaa!!!”


Tepat ketika raungan mereka pecah,


secara mengejutkan Leo muncul dari balik rerumputan itu dengan kecepatan tinggi


melarikan diri dari kepungan mereka. Alhasil, mereka yang semula perhatiannya


terbutakan oleh amarah kini terkejut melihat Leo melewati mereka begitu saja.


“Raaar..!!”


Mereka mulai mengejarnya setelah


salah satu dari mereka berteriak memerintahkan yang lain untuk mengejarnya.


“(Bagus, mereka terpancing


semuanya.)” Ujar Leo dalam hati senang.


Sekarang, tugasnya adalah membawa mereka


semua pada posisi yang sudah direncanakan sebelumnya.


“Arrr..! Raaa...!”


Tepat ketika mereka mulai hampir


mengejar, Leo secara mengejutkan menghentikan langkahnya di hadapan mereka


sebelum akhirnya ia berbalik menghadap mereka.


“Raaar...!!”


Tidak membuang kesempatan itu, para


Goblin memanfaatkannya untuk menyerang secara penuh pada Leo yang berdiri di


hadapan mereka. Akan tetapi...


“Sekarang, Lia!” Serunya memanggil.


Lia datang tepat ketika Leo


memberikan sinyal kepadanya. Dia berlari dengan cepat dari arah belakang mereka


menarik bilah pedangnya sesaat sebelum ia melancarkan serangan pada mereka.


“...?!”


Dengan kecepatan yang luar biasa, Lia


menebas Goblin yang ada di hadapannya dengan mudahnya layaknya sedang memotong


rerumputan liar dengan pedangnya. Mereka yang terkecoh dengan umpan Leo


terlambat menyadari kehadirannya dan dengan cepat panik begitu melihat kedatangannya.


“(H-Hebat... Permainan pedangnya


sangat hebat...)” Ujar Leo terkesima dalam hati.


Leo yang melihatnya pun terperanga


tak percaya dengan apa yang ia saksikan. Lia menghabisi Goblin-Goblin itu


bahkan sebelum mereka sempat bereaksi terhadapnya. Terlebih, kecepatan dan


koordinasi tubuh yang luar biasa itu menunjukkan jelas kemampuannya.


“...?”


Saat para Goblin yang tersisa berniat


melarikan diri, Lia mengubah pola gerakannya. Ia berhenti sejenak mengambil


ancang-ancang sambil melihat fokus pada sekelompok kecil Goblin itu sesaat


sebelum ia melesat menuju arah mereka.


“...!!”


Dan di saat mereka berniat kabur, ia


mengayunkan tebasan horizontal berskala luas pada mereka menyebabkan suara


melengking ketika pedang miliknya memotong angin bersama kepala Goblin-Goblin


itu.


“....”


Semua Goblin itu tewas di tangannya


seorang. Ia menghabisi kawanan Goblin itu dalam sekejap mata saja.


“(Dia sangat luar biasa... Kemampuan


berpedangnya juga memukau...)” Ujar Leo dalam hatinya terpukau.


Lia mengibaskan darah yang melumuri


pedang miliknya sebelum akhirnya menyarungkan kembali pedangnya tepat ketika


Leo datang menghampirinya.


“Sepertinya kita selesai di sini...”


Ujar Leo sambil melihat mayat-mayat Goblin itu.


“... Mm.”


Lia hanya mengangguk tanpa berkata


apa-apa kepada Leo. Walau sedikit mengejutkan melihat apa yang baru saja Lia


lakukan, tetapi dengan begini masalah sudah selesai.


“Aku sempat terkejut melihat


kemampuanmu, kau sangat luar biasa, Lia.” Ujar Leo memujinya sambil tersenyum.


“....”

__ADS_1


“Tak kusangka kau memiliki kemampuan yang


hebat seperti itu. Kau menghabisi mereka semua sendirian. Aku jadi seperti penonton


saja...” Sambung Leo kembali melihat mayat Goblin di sekitarnya.


“....”


Lia hanya diam mendengar pujian dari Leo


tanpa berekspresi. Itu memang sikap Lia yang biasa, jadi Leo tidak terlalu mempermasalahkannya.


“Baiklah, sekarang hanya tinggal


mengumpulkan telinga mereka. Kalau masalah ini serahkan padaku saja...” Ujar


Leo mengeluarkan sebilah pisau dari sakunya.


Tepat ketika Leo mengatakannya, Lia secara


tiba-tiba terduduk lemah di atas tanah. Leo yang menyadarinya segera


menghampirinya untuk memeriksa keadaannya.


“Oi. Lia, kau baik-baik saja?” Tanya


Leo dengan wajah panik.


“Mnh... Aku tidak.. Apa-apa...” Balas


Lia dengan nada lemah.


“Tunggu sebentar, aku akan


menolongmu.” Balas Leo mencoba mengangkatnya.


“... Tidak.. Perlu...” Ujar Lia


menolak bantuan Leo.


“H-Huh...?”


Lia mencoba bangun dengan kedua


kakinya, namun ketika ia hampir mampu berdiri tegak, secara mendadak ia


kehilangan kekuatan hingga ia kembali terjatuh tepat ketika Leo datang menangkapnya.


“... Mnh.”


“Kau terlalu memaksakan tubuhmu. Luka


yang ada di tubuhmu belum sepenuhnya sembuh. Mungkin sebaiknya kita kembali


saja.” Ujar Leo dengan nada cemas.


“... Tidak.” Balas Lia bersikeras.


“Tapi, keadaanmu?”


“Aku.. Masih sanggup...”


Lia melepaskan tangan Leo sebelum


akhirnya ia berusaha sekuat tenaga untuk berjalan membuktikan kepada Leo bahwa


tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Leo tahu bahwa Lia berusaha tetap kuat,


namun tetap saja itu membuatnya semakin cemas dengannya.


“Kalau begitu kau boleh istirahat


sejenak, biar aku saja yang mengambil semua ini.” Ujar Leo memerhatikannya


sebelum mulai bekerja.


“....”


Leo mulai mengambil satu persatu


telinga Goblin itu dari mayat-mayat yang berserakan di sekitar. Selagi


membiarkan Lia beristirahat, ia menyusuri tanah lapang itu mengumpulkan telinga


Goblin yang ada.


Itu adalah aturan guild bahwa setiap


monster yang dikalahkan bisa di tukarkan dengan membawa bagian tubuh mereka. Dan


untuk Goblin, bagian yang harus mereka bawa sebagi bukti adalah telinga mereka.


“Baiklah, kurasa ini sudah semuanya.


Dengan ini pekerjaan kita selesai.” Ujar Leo sambil menyeka keringat di


pipinya.


Ia membawa kantong berisi


telinga-telinga Goblin menghampiri Lia yang tengah terduduk manis sebelum


mengajaknya kembali ke kota.


“Aku sudah selesai dengan mereka.


Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa sudah lebih baik?” Tanya Leo pada Lia.


“.... Mm.” Balas Lia mengangguk.


“Kalau begitu, sebaiknya kita kembali


ke kota.” Ujar Leo sebelum ia mengikat kantong darah itu ke pinggangnya.


Mereka pun kembali dengan membawa


satu kantong penuh telinga Goblin untuk mereka tukarkan di Guild petualang.


Sesampainya mereka di sana, Leo


memutuskan akan menukarkannya seorang diri. Ia teringat bagaimana perlakuan


para petualang ketika melihat Lia berjalan masuk bersamanya. Tatapan mereka


ke dalam.


“Aku akan menukarkannya, tunggulah di


sini.” Ujar Leo meminta Lia untuk tinggal.


“.... Kenapa?” Balas Lia dengan wajah


bingung.


“Tidak, hanya saja para petualang


pasti akan membicarakanmu. Kemungkinan terburuknya, mereka akan menggodamu. Itu


pasti akan membuatmu tidak nyaman.” Jawab Leo dengan wajah cemas.


“... Aku tidak peduli dengan mereka.”


Ujar Lia dengan nada datar.


“Memang, tapi aku kira mereka tidak.


Kita tidak tahu apa yang mungkin terjadi. Sebaiknya kau memang di luar saja.”


“....”


Lia pun mengangguk dan menuruti apa


yang Leo katakan dan menunggunya di luar selagi ia masuk ke dalam sana.


Begitu masuk, tatapan mengintimidasi


terpancar dari para petualang. Mereka semua menatap Leo dengan sinis saat ia


berjalan menuju ke meja resepsionis.


“Hei, itu si putih pecundang itu,


kan?” Bisik salah seorang petualang pada temannya.


“Dia yang bersama gadis tadi itu.


Sial dia menyebalkan!” Balas yang lain menyambung.


“Cih! Dia pasti menggunakan sihir


untuk menghipnotis gadis itu. Aku dapat mencium bau bajingan dari dalam


dirinya.” Ujar yang lain menuduh tanpa bukti.


“Terkutuklah dia!” Ujar petualang


yang ada di sudut ruangan.


Leo berjalan mendengar semua itu


tanpa menjawab mereka karena ia tahu semua pasti akan bertambah buruk jika ia


membalas perkataan mereka. Ia hanya harus tetap tegar dan sabar demi Lia yang tengah


menunggunya.


Saat ia melewati sebuah meja di


samping jalan, kakinya tersandung sesuatu hingga membuatnya terjatuh ke lantai.


Sontak semua orang yang menyaksikannya seketika menertawakan dirinya yang jatuh


seperti orang bodoh.


“Lihat dia. Benar-benar payah!” Ujar


salah seorang petualang mengejek.


“Benar-benar menggelikan.” Ujar yang


lain menertawakannya.


Itu bukan kebetulan, melainkan Leo


terjatuh karena perbuatan seseorang yang duduk di meja itu.


“Ups... Maaf, aku tak melihatmu. Apa


kau baik-baik saja?” Ujar petualang yang duduk di meja itu sambil tertawa.


Leo mencoba untuk bangun, namun


secara tak terduga tubuhnya diinjak oleh salah seorang petualang bertubuh kekar


itu hingga membuat Leo kembali terjatuh.


“Ugh...”


Pria itu menatap Leo dengan tatapan


dingin sambil berkata kepadanya.


“Oh... Ini adalah sesuatu yang mengejutkan


melihat karpet bisa bergerak sendiri.” Ujarnya menatap Leo dengan angkuh.


“Hgnh...”


“Aneh, aku kira karpet tidak bisa


bicara.” Sambungnya perlahan kesal.


Leo diinjak-injak olehnya hingga


membuatnya terluka pada bagian pelipisnya. Sementara itu, mereka semua


menertawakan Leo yang diinjak-injak itu tanpa ada perasaan untuk menolongnya. Keadaan


itu berlanjut hingga salah seorang resepsionis menghentikan pria itu.

__ADS_1


“Hentikan itu! Jangan sakiti dia!” Ujar


resepsionis wanita itu bergegas menghampiri.


Pria itu langsung menghentikan


aksinya begitu resepsionis memperingatkannya itu. Ia takkan berani melawannya,


jika ia melawan maka ia akan terkena sanksi dari Guild.


“Cih. Dasar pengganggu.” Gumamnya


kesal.


Pria itu pun lantas pergi


meninggalkannya saat gadis resepsionis itu membantunya.


“Kamu baik-baik saja?” Tanya gadis


resepsionis itu mengulurkan tangannya menolong Leo.


“Aku... Tidak apa-apa.” Jawab Leo


sambil menyeka darah yang mengalir di alisnya.


“Tapi kamu terluka. Sebaiknya biar


aku obati sebelum lukamu.”


“Tidak, aku baik-baik saja.”


Leo bangun dan mengambil kantong


berisi telinga Goblin itu sebelum ia menuju ke meja resepsionis untuk menukarkannya


dengan uang.


“Tunggu, kamu mau ke mana?” Tanya


Gadis resepsionis itu melihat Leo pergi.


“Aku mau menukarkan ini semua.” Ujar


leo sambil meletakkan kantong itu di atas meja.


“Uh...”


Resepsionis itu sedikit khawatir


dengan keadaannya, namun Leo mencoba bersikap biasa saja setelah kejadian itu.


“Apa kamu benar tidak apa-apa?” Tanya


Resepsionis itu sekali lagi berjalan menghampirinya.


“Tidak, ini bukan masalah. Tolong


hitung hasilnya.” Jawab Leo sambil menarik nafas singkat.


“Uh... Mm. Baiklah.”


Melihat Leo bersikap demikian,


resepsionis itu menghela nafas singkat sebelum akhirnya mulai menghitung hasil


yang Leo bawa.


“Cukup banyak juga. Walau kamu pemula,


ternyata mengejutkan juga.” Ujar resepsionis memujinya.


“Agak berlebihan jika mengatakan itu


semua itu milikku sendiri...” Balas Leo menggaruk kepala.


“Begitukah?”


“Ini hasil kerja keras kami berdua.


Jadi, pujian itu tidak pantas kuterima.”


“Begitu ya. Tapi tetap saja kalian memang


hebat bisa mengumpulkan semua ini dalam waktu yang singkat.”


“B-Begitulah.”


Selesai menghitung hasil perburuannya,


ia segera membawanya dan memberikan Leo upah untuk kerja kerasnya.


“Totalnya ada 30 ekor Goblin. 1 ekor


Goblin bernilai 10 koin perunggu, jadi totalnya 300 koin perunggu. Artinya 3


koin perak.” Ujar resepsionis itu meletakkan uang di atas meja.


“Ya. Terima kasih.” Balas Leo singkat


dengan wajah gugup.


“Sama-sama. Semoga ke depannya kalian


bisa memberikan kontribusi yang lebih baik lagi.”


“Y-Ya. Tentu.”


Leo mengambilnya sebelum akhirnya ia


meninggalkannya pergi menemui Lia yang sudah menunggunya di luar bangunan.


Hasilnya bisa di bilang lumayan, tapi


itu semua bisa terjadi karena usaha Lia. Yang menghabisi sebagian besar dari Goblin


itu adalah Lia, sedang Leo hanya membantunya saja. Walau malu untuk


mengatakannya tapi, Leo merasa kalau dia sendiri yang sedang dijaga oleh Lia.


Ini berkebalikan dengan apa yang ia katakan kepada Zille sebelumnya bahwa ia


akan menjaga Lia.


“(Bahkan membuat gadis yang


seharusnya kulindungi melindungiku, aku benar-benar payah...)” Gumam Leo dalam


hati kecewa.


Leo kembali saat Lia yang ada di luar


menantinya. Namun, Lia terkejut saat menyadari Leo kembali dengan membawa luka.


“Maaf membuatmu menunggu, Lia.” Sapa


Leo sambil tersenyum.


“Kau terluka...!” Balas Lia


menghampirinya dengan wajah cemas.


“Ah. Ini? Bukan apa-apa. Hanya


sedikit tergelincir di sana.” Balas Leo mencoba mengelabuinya.


Wajah Lia seketika berubah menjadi


cemas saat mengetahui Leo terluka setelah kembali dari dalam sana. Lia tahu Leo


mendapat perlakuan buruk dari para petualang, namun ia mencoba


menyembunyikannya.


“Biarkan aku memeriksanya.” Ujar Lia


mencoba meraih Leo dengan kedua tangannya.


“Ah.. tidak apa-apa. Ini bukan luka


serius.” Ujar Leo menghindar sambil tersenyum pahit.


“Tapi... Itu bukan luka kecelakaan...”


Balas Lia dengan wajah curiga.


“Y-Yah, aku sedikit melamun jadi


beginilah hasilnya. Tidak ada yang perlu dicemaskan.” Balas Leo membohonginya.


“... Mereka, bukan?”


“T-Tunggu, apa...?”


“... Para petualang itu... Mereka


pelakunya, bukan?”


“T-Tidak! Tentu saja tidak! Mana


mungkin mereka melakukannya di dalam Guild... Ahaha...”


Leo berusaha menutupi kenyataan bahwa


ia di perlakukan dengan sangat buruk saat berada di dalam sana. Ia hanya tak


mau membuat Lia khawatir kepadanya mengingat banyak hal buruk yang telah


menimpa Lia baru-baru ini.


“A-Ah. Benar juga. Karena kita masih


punya waktu, sebaiknya kita mencari penginapan untuk malam ini.” Ujar Leo


mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Tapi lukamu...” Sambung Lia dengan


wajah cemas.


“Ini bukan masalah besar, yang


terpenting sekarang kau harus istirahat untuk memulihkan diri. Kau pasti lelah,


bukan?” Balas Leo mengabaikan kecemasan Lia.


“....”


“Kau sudah bertarung dengan baik,


tetapi kau belum sepenuhnya sembuh. Jadi, mari kita istirahat saja untuk sisa


hari ini...”


Lia diam sesaat sebelum menganggukkan


kepala menyetujui perkataan Leo.


Untuk sekarang Leo bisa


menyembunyikannya. Ia tidak ingin Lia tahu apa yang baru saja menimpanya. Namun,


hingga sampai tiba saatnya Lia mengetahui kebenaran tentang diri Leo, apakah


sikapnya akan sama dengan petualang itu? Itu adalah pertanyaan yang membuat Leo


putus asa.


“(Mungkin selama aku bisa


menyembunyikan kenyataan bahwa aku tidak memiliki Skill darinya.


Namun, saat dia mengetahuinya, apakah aku akan dibenci olehnya...?)” Tanya Leo bimbang


dalam hatinya.


Kebohongan dapat menutupinya, namun


tidak dengan tindakannya. Leo sadar bahwa suatu saat kebenaran ini akan sampai

__ADS_1


kepada Lia. Namun, bagaimana saat hal itu terjadi? Akankah Lia akan membencinya


sama seperti semua orang yang pernah Leo kenal sebelumnya?


__ADS_2