Black Arc Saga

Black Arc Saga
Masalah petualang


__ADS_3

Setelah gempa mengguncang, mereka akhirnya menghentikan sementara penyelidikan karena beberapa jalur terkubur oleh bebatuan yang longsor akibat dampak gempa tersebut. Beruntungnya, semua orang yang ikut dalam penyelidikan itu berhasil dibawa keluar dengan selamat tanpa menyisakan korban jiwa.


 


Matahari telah berada di ufuk barat ketika Leo dan lainnya keluar dari tambang. Bersama dengan korban terluka, mereka menuju perkemahan yang ada di dekat pintu masuk tambang tepat di mana korban selamat lain dirawat.


 


“Dengan ini sudah semuanya... Sepertinya kita berhasil menghindari korban jiwa...” Ujar Gideon menghela nafas berat menurunkan seorang prajurit yang terluka.


 


“Terima kasih atas kerja kerasnya, Gideon-san. Wein-san juga, anda telah bekerja keras.” Balas salah seorang prajurit menyambut mereka.


 


“Jadi, bagaimana laporannya?” Ujar Wein bertanya kepadanya.


 


“Sejauh ini, ada total 23 orang terluka, 18 orang kita dan 5 orang petualang.” Jawab prajurit tersebut memberikan laporan.


 


“Begitu ya... Bisa dibilang kita sedang beruntung. Meski banyak kejadian buruk di dalam sana, kita masih bisa keluar dengan selamat.” Ujar Gideon dengan senyum lega.


 


“Yah, itu semua juga berkat kerja sama semuanya. Khususnya mereka berdua... Bagaimana kami harus mengatakannya... Terima kasih atas bantuan kalian.” Balas Wein sebelum melihat ke arah Leo dan Lia.


 


“Ah. Bukan masalah, tuan Wein. Ini memang sudah menjadi tugas kami...” Ujar Leo tersenyum sambil menggaruk rambutnya.


 


“Dia benar, jika bukan karena kalian berdua, kami sudah tidak bisa membayangkan berapa banyak korban jiwa yang gugur...” Balas Gideon ikut memuji.


 


Memang banyak hal yang terjadi di dalam sana, namun Leo senang mereka semua bisa kembali dengan selamat. Meski demikian, banyak hal masih belum terungkap mengenai misteri tambang tersebut. Banyak hal yang menjadi pertanyaan dalam benaknya saat memikirkan semua kejadian yang berlangsung sebelumnya.


 


“(Mungkin saat ini aku hanya bisa memikirkan kemungkinan yang masuk akal atas pertanyaan yang muncul di benakku...)” Ujar Leo dalam hatinya kecewa.


 


Karena hari menjelang malam, Leo dan Lia memutuskan untuk kembali menuju kota untuk beristirahat. Ia baru ingat jika mereka belum sempat menyewa penginapan karena begitu mereka sampai, mereka langsung menuju tambang untuk mengurus pekerjaan. Akibatnya, kini mereka kebingungan mencari penginapan untuk bermalam.


 


“Sepertinya kita lupa memilih penginapan sebelumnya...” Ujar Leo dengan wajah pucat.


 


“.... Apa yang akan kita lakukan?” Balas Lia bertanya dengan nada cemas.


 


“U-Untuk saat ini, bagaimana kalau kita mencari penginapan terdekat dulu?” Balas Leo memutar akalnya.


 


“... Mm.”


 


Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk memilih penginapan yang pertama kali mereka temukan. Hal itu mereka lakukan karena hari sudah semakin gelap dan tidak banyak orang yang berlalu lalang untuk ditanyai.


 


Setelah mencari, mereka akhirnya menemukan penginapan terdekat yang bisa mereka temukan. Meski bangunannya terkesan seperti gedung kuno, tetapi tempat itu sangat ramai dari biasanya.


 


“Kurasa... Hanya ini pilihan kita...” Ujar Leo dengan wajah cemas melihat bangunan tersebut.


 


“... Ayo, kita masuk. Hari sudah malam.” Balas Lia menarik tangan Leo masuk bersamanya.


 


“U-Uh...”


 


Singkat cerita, akhirnya mereka mendapatkan kamar untuk bermalam meski harga yang harus dibayar cukup dalam.


 


“Ugh... 50 koin perak per malam... Benar-benar menusuk kantong...” Gumam Leo syok dengan wajah pucat.


 


“...? Leo, ada masalah?” Tanya Lia dengan wajah bingung melihatnya terduduk pucat.


 


“A-Ah... Tidak, bukan apa-apa. Hanya merasa sedikit lelah, kurasa...” Balas Leo tersenyum pahit.


 


“... Benarkah?” Balas Lia mendekat dengan wajah cemas.


 


Leo memalingkan wajahnya saat Lia mendekatinya. Jarak di antara mereka hanya terpaut nafas saja, tentu saja hal ini menghadapkan Leo dengan situasi yang canggung. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapinya.


 


“(Dekat... Dekat sekali... Aku bisa merasakan nafas Lia menyentuh pipiku...)” Ujar Leo dalam hatinya panik.


 


Ini pertama kalinya ia melihat Lia seinteraktif ini. Memang banyak sisi yang belum ia ketahui tentangnya, tetapi ia tidak menyangka Lia bisa bersikap seperti saat ini. Mungkin sedikit memalukan mengatakannya, tetapi Leo memang belum pernah berinteraksi dengan orang lain hingga sampai pada situasi empat mata seperti ini.


 


“Leo... Apa kau baik-baik saja?” Tanya Lia dengan nada cemas.


 


“U-Uh... Y-Ya... Aku baik-baik saja...” Balas Leo dengan nada gugup.


 


“Apa mungkin... Kau mengalami sesuatu di dalam sana...? Apa yang terjadi...?” Balas Lia kembali bertanya kepadanya dengan nada cemas.


 


“Tidak ada hal yang... Serius...” Jawab Leo sebelum nadanya terhenti.


 


Mendengar pertanyaan Lia, ia mengingat pertarungannya melawan Golem berzirah perunggu saat itu. Sejujurnya, ia masih menyimpan pertanyaan mengenai tujuan Golem tersebut.


 


“(Benar juga... Mungkin ada baiknya aku membicarakan ini dengan Lia... Dia cukup berpengetahuan dari pada aku...)” Ujar Leo dalam hatinya sadar.


 


Dengan ini Leo yakin, ia sebaiknya bicara dengan Lia mengenai masalah yang ia temui selama menjelajahi tambang itu sebelumnya.


 


“Lia, mengenai hal itu, ada yang ingin kubicarakan denganmu...” Sambung Leo dengan wajah serius menatapnya.


 


“....?”


 


Leo menceritakan apa yang ia alami selama mereka berpencar. Ia menceritakan bagaimana pertarungannya melawan Golem berzirah perunggu itu kepada Lia serta suara ledakan yang sempat ia dengar dari dalam gua tempatnya menyelamatkan kelompok Gald.


 


“... Bagaimana menurutmu, Lia? Aku merasa kedua kejadian itu saling berhubungan.” Ujar Leo merenung.


 


“... Begitu ya. Kau melawannya dan menang...” Gumam Lia dengan wajah terkejut sebelum mengambil nafas lega.

__ADS_1


 


“H-Huh...? Kau mengatakan sesuatu...?” Balas Leo dengan wajah bingung.


 


“... Mhm. Hanya sedikit terkejut saja mendengar ceritamu.” Jawab Lia menggelengkan wajahnya sambil tersenyum.


 


“Begitukah...? Lalu, bagaimana menurutmu? Bahkan sepanjang aku bertarung, aku belum pernah bertemu dengan Golem jenis itu... Dia mirip dengan Golem pada umumnya, tapi dia memiliki kecerdasan...” Ujar Leo melanjutkan penjelasannya.


 


Lia terdiam sejenak memikirkan cerita Leo. Memang benar jika ia juga bertemu dan bertarung dengan Golem yang sama dengan yang Leo temui. Tetapi, ada beberapa hal juga yang menjadi pertanyaan di benaknya.


 


“... Mengenai Golem itu, aku juga melawannya. Dia memang Golem yang unik.” Ujar Lia menghela nafas singkat.


 


“Itu benar, dia juga bisa memanggil Golem lain. Dia seperti penyihir saja... Dan juga, ada yang aneh dari inti Golem itu... Dia tidak seperti kebanyakan inti Golem lainnya...” Balas Leo sebelum meraih sakunya.


 


“Inti...?” Balas Lia heran.


 


Leo mengambil pecahan kristal yang merupakan inti Golem tersebut sebelum akhirnya menunjukkannya kepada Lia.


 


“Bisa dibilang ini adalah inti dari Golem itu... Aku mengambilnya setelah mengalahkannya...” Ujar Leo menunjukkan pecahan kristal itu padanya.


 


“Warna merah darah... Entah kenapa benda itu terasa kurang menyenangkan...” Balas Lia melihat pecahan kristal di tangan Leo curiga.


 


“Aku juga merasa demikian... Aku menyimpulkan bahwa makhluk itu bukanlah Golem. Aku mengenali monster seperti mereka dengan baik, tetapi aku bahkan belum pernah mengetahui sesuatu sepertinya. Itulah sebabnya aku menggolongkannya sebagai makhluk yang berbeda.” Balas Leo mengungkapkan pendapatnya.


 


“... Kau memang tahu banyak mengenai monster.” Ujar Lia melihat ke arahnya dengan mata sayu.


 


“Uh... B-Begitulah. Semakin sering kau berkelana, semakin banyak pula makhluk aneh yang kau temui dalam perjalananmu.”


 


“... Memangnya sudah berapa lama kau pergi dari rumahmu?”


 


Leo seketika terdiam mendengar pertanyaan Lia. Ia mencoba menghindarinya dengan mengubah pembicaraan sebelum Lia menanyakannya lebih jauh.


 


“M-Mengenai hal itu... Aku dengar kau ingin mengatakan sesuatu kepadaku. Apa mungkin kau bertemu monster aneh lainnya?” Ujar Leo mengubah arah pembicaraannya dengan bertanya balik kepadanya.


 


“... Mm. Aku memang bertemu dengannya. Terlebih, makhluk yang bahkan belum pernah kau temui di mana pun.” Balas Lia memalingkan wajahnya dengan nada serius.


 


“...?! Makhluk yang belum pernah kutemui? Seperti apa memangnya?” Balas Leo dengan wajah terkejut.


 


“... Bisa dibilang, makhluk itu adalah alasan kota itu berdiri. Aku yakin dia bukan satu-satunya yang ada di sana. Setidaknya sampai kita menemukan sisanya.”


 


“Alasan kota itu berdiri... Apa maksudmu makhluk itu sengaja dibuat...?!”


 


“... Ya. Aku belum bisa memastikannya, tetapi aku yakin demikian. Dengan kata lain, orang-orang dari kerajaan kuno itulah yang menciptakannya.”


 


 


“Lalu, kau mengatakan “sampai kita menemukan sisanya”, apa itu artinya masih ada yang lain sejenisnya?” Tanya Leo kembali dengan wajah tegang.


 


“... Kemungkinan besar. Jika tidak, mengapa mereka harus susah payah membangunnya di dalam tanah?” Balas Lia bangun dari duduknya melihat ke luar jendela.


 


“.... Benar juga. Tidak alasan bagi mereka membangunnya di bawah tanah jika tidak ingin merahasiakannya.” Ujar Leo bergumam sambil memikirkannya.


 


“Benar, itulah satu-satunya alasan yang menjelaskan kenapa kota itu dibangun di bawah tanah. Ada sesuatu yang ingin mereka sembunyikan dari dunia...” Balas Lia berbalik melihat ke arahnya.


 


“Sesuatu yang ingin disembunyikan dari dunia...”


 


“... Untuk saat ini aku belum bisa membuktikannya. Tetapi, jika perkiraanku benar, maka ini akan menjelaskan banyak hal...”


 


Penjelasan Lia terdengar meyakinkan. Seperti yang bisa ia harapkan darinya, Lia memang memiliki pikiran yang tajam. Dengan ini, mereka semakin dekat dengan sumber bencana di dalam tambang serta kemunculan Golem berzirah perunggu itu.


 


“(Jika yang diucapkan Lia benar, maka yang menyebabkan gempa di tambang itu bukanlah pergeseran lempeng bumi, melainkan perbuatan orang-orang dati kerajaan kuno itu...)” Ujar Leo dalam hatinya dengan perasaan curiga.


 


Untuk saat ini, mereka hanya bisa menyimpan semua itu sebagai teori. Sampai tambang kembali dibuka dan penjelajahan diadakan lagi, mereka harus bersabar sampai mereka mendapatkan lebih banyak petunjuk untuk membuktikan teori mereka.


 


Lia kembali melihat ke arah langit malam melalui jendela di dekatnya sebelum kembali memikirkan kejadian sebelum ia berakhir bertemu dengan Leo. Kini ia berubah pikiran, ia meneguhkan hatinya dan tujuannya kini sudah diputuskan.


 


“(Tidak akan kubiarkan... Tidak akan kubiarkan rencananya berjalan begitu saja... Aku tidak akan membiarkan rahasia tempat ini sampai terdengar olehnya...)” Ujar Lia dalam hatinya dengan tekad yang kuat.


 


Dan dengan demikian malam berlalu di antara mereka berdua. Banyak kejadian yang terjadi dalam satu hari, namun itu semua memberi mereka masing-masing petunjuk mengenai apa yang harus mereka lakukan nantinya. Terlepas dari semua itu, banyak hal yang belum mereka ketahui mengenai dunia ini dan rahasia yang disimpan masing-masing di dalamnya. Termasuk bagi mereka sendiri, banyak hal yang disembunyikan antara satu sama lainnya.


 


Hari pun berganti, sejak kejadian gempa yang terjadi kemarin, tambang akan ditutup sementara waktu sampai situasi stabil dan jalur selesai dibersihkan. Untuk saat ini, para petualang yang ditugaskan menjelajahi tambang tersebut terpaksa menganggur, tidak terkecuali Leo dan Lia. Karena sejak awal mereka memang diutus ke kota ini untuk mengurus masalah di tambang, kini mereka hanya bisa menunggu sampai semuanya dapat kembali seperti semula.


 


“Sepertinya hari sudah beranjak siang, huh...?” Gumam Leo melihat ke luar jendela.


 


Kini ia hanya menghabiskan waktu di dalam kamar penginapan tanpa melakukan apa-apa. Saat ini Leo hanya memoles pedangnya untuk menghabiskan waktu. Lagi pula, tidak banyak yang bisa ia lakukan di kota ini mengingat ia datang bukan karena keinginannya sendiri.


 


“(Apa sebaiknya aku mulai mencari identitas Lia dari sini...? Lagi pula untuk beberapa hari ini akan ada waktu luang sampai pekerjaan di tambang selesai...)” Ujar Leo dalam hatinya merenung.


 


Memang semua kejadian ini sedikit melenceng dari tujuan awalnya untuk mencari identitas asli Lia. Mungkin ini bisa jadi kesempatan yang tepat mengingat kota ini juga merupakan bagian dari jalur utama perdagangan utara kerajaan. Banyak pedagang yang lalu lalang di sini, ia setidaknya akan mendapat petunjuk mengenai Lia dari mereka.


 


“Baiklah...” Gumam Leo sambil menarik nafas panjang.


 


Ia menyarungkan kembali pedangnya sebelum akhirnya membawanya bersama menuju ke kota selagi Lia tidak ada di tempat. Ia memang sengaja tidak ingin memberitahunya karena mungkin Lia akan mencegahnya. Ini adalah saat yang tepat baginya untuk pergi tanpa sepengetahuannya.


 


“Leo, kau mau ke mana?” Tanya Lia dari balik punggungnya.

__ADS_1


 


“....?!!”


 


Leo terkejut menyadari Lia yang datang begitu saja. Tidak seperti yang ia duga, dia kembali lebih cepat dari perkiraannya. Leo awalnya berniat meninggalkan penginapan saat Lia sedang turun untuk sarapan, namun sepertinya itu tidak berjalan dengan lancar.


 


“(G-Gawat...! Dia sudah kembali...! Ini bukan berita bagus...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.


 


Dengan wajah bingung, Lia melihat ke arah Leo yang terdiam panik itu sebelum menghadapinya dan bicara dengannya.


 


“Ada masalah?” Tanya Lia memiringkan kepalanya bingung.


 


“Uh... Tidak ada...” Balas Leo tertawa gugup sambil menggaruk rambutnya.


 


“... Kau ingin pergi ke luar, bukan? Kau mau pergi ke mana?” Ujar Lia bertanya dengan wajah curiga.


 


Lia semakin curiga melihat ekspresi gugup Leo. Di sisi lain, Leo yang gagal mengelabuinya hanya bisa tersenyum masam menyembunyikan rasa gugupnya sembari kebingungan dalam hatinya.


 


“(Tunggu dulu, ada apa dengan situasi ini...! Kenapa terasa tidak asing...!)” Ujar Leo dalam hatinya terkejut kebingungan.


 


Pada saat yang sama, Leo teringat akan kedatangannya kemarin ke kota saat ia dan Lia mengunjungi Guild petualang. Ia secara tidak sengaja melihat banyak permintaan yang menumpuk di papan informasi hingga memenuhi penampilannya. Ia mungkin bisa menggunakan alasan itu untuk menutupi kebohongannya.


 


“A-Ah, benar... Aku berniat mengambil permintaan di Guild petualang... Karena sedang tidak ada kegiatan, mengapa tidak...” Ujar Leo sambil tersenyum masam sambil mencoba membohonginya.


 


“Mengambil permintaan? Apa ada alasan khusus?” Balas Lia bertanya kepadanya.


 


“U-Uh... Apa maksudmu?” Balas Leo dengan wajah gugup.


 


“... Ada hal selain itu, bukan?”


 


“.... Benarkah?”


 


“Mm. Baiklah, ayo kita pergi bersama.”


 


“... Tunggu, apa?”


 


Setelah mengambil perlengkapannya, Lia bersama dengan Leo pergi menuju Guild petualang. Meski Leo tidak menghendaki demikian, ia tidak bisa melawan keinginan Lia yang ingin pergi bersamanya. Sepertinya, Lia tidak mudah dibohongi begitu saja.


 


“(Kenapa jadi seperti ini lagi... Sepertinya cara yang sama tidak akan berpengaruh padanya...)” Ujar Leo dalam hatinya mengeluh.


 


Mengabaikan masalah itu, tidak sepenuhnya kebohongan Leo menjadi alasannya saja. Ia memang penasaran mengenai kondisi petualang di kota ini. Mengingat sebagian penduduk kota ini yang merupakan pekerja tambang dan penjual bijih, keadaan petualang di kota ini pastilah berbeda dari kota lain. Hal itulah yang menjadi alasannya untuk pergi ke Guild petualang.


 


Sesampainya di sana, suasana sepi menyambut mereka berdua ketika memasukinya. Sama seperti saat mereka datang kemarin, tidak banyak petualang yang terlihat di sana. Hanya terlihat staf dan beberapa kelompok petualang kecil yang tengah melakukan urusan mereka dengan resepsionis.


 


“Memang sepi seperti dugaanku... Apalagi setelah kejadian yang terjadi kemarin...” Ujar Leo melihat sekitarnya dengan wajah prihatin.


 


“Itu karena sebagian besar petualang di kota ini ikut dalam penelusuran itu dan berakhir terluka...” Balas Lia dengan nada sedih.


 


“Kau benar...” Balas Leo menghela nafas panjang.


 


Karena sejak awal jumlah petualang mereka yang sedikit, tidak mengherankan jika menemukan pemandangan menyedihkan ini di sini. Itu pasti menimbulkan masalah tersendiri bagi pihak Guild.


 


Mereka berdua pun menghampiri papan informasi untuk melihat permintaan yang terpasang di sana. Dan seperti yang Leo duga, tempat itu penuh dengan kertas yang saling timbun menimbun membentuk lapisan yang tidak beraturan.


 


“Banyak sekali... Bahkan sampai tidak dapat dihitung lagi...” Ujar Leo memperhatikannya tercengang.


 


“....”


 


“Kondisi yang sungguh memprihatinkan...” Sambung Leo kembali menghela nafas.


 


Pada saat yang sama, salah seorang resepsionis datang menghampiri mereka berdua. Dengan wajah muram, ia menyapa mereka berdua sebelum bicara.


 


“Selamat datang kembali, kalian berdua. Senang bisa melihat kalian berdua lagi.” Ujar resepsionis itu menghampiri mereka dengan senyum pahit di bibirnya.


 


“Ah. Anda yang kemarin menerima surat kami. Kenapa anda terlihat cemas begitu? Apa terjadi masalah?” Balas Leo prihatin melihatnya.


 


“... Seperti yang bisa kalian berdua ketahui. Memang banyak sekali masalah yang terjadi...” Balas resepsionis itu menghela nafas panjang.


 


“Kelihatannya memang berat... Ini pasti mengenai para petualang, bukan?” Balas Leo melihat ke arah papan menegaskan maksudnya.


 


“Ya, tepat seperti yang anda katakan... Kami benar-benar kekurangan orang untuk memenuhi setiap permintaan yang diajukan... Sejak peristiwa kemarin, banyak petualang yang memilih untuk libur karena terluka dan sebagainya... Ini benar-benar masalah yang berat bagi kami...” Jawab resepsionis itu menundukkan kepalanya sedih.


 


“... Lalu, apa yang membuat anda berpikir kami bisa membantu?” Ujar Lia bertanya kepadanya sambil menghela nafas singkat.


 


“E-Eh...? Y-Yah... Saya senang anda mengetahui maksud saya... Sejujurnya kami memang sangat membutuhkan banyak bantuan... Sejak awal permintaan itu memang sudah menumpuk karena kurangnya pekerja lapangan yang mengambilnya, tetapi belakangan ini jumlah permintaan melonjak melebihi perkiraan kami...” Balas resepsionis itu gugup sebelum menjelaskan situasinya kepada mereka.


 


“Jumlah permintaan melonjak? Kenapa bisa seperti itu?” Balas Leo bertanya.


 


“Uh... Sebenarnya banyak faktor yang mendasarinya, tetapi sejauh yang kami tahu, ini ada hubungannya dengan gempa yang sering terjadi akhir-akhir ini. Banyak monster yang turun dari bukit hutan dan merambah ke daerah pemukiman manusia...” Jawabnya memalingkan matanya prihatin.


 


“Begitu ya. Kurang lebihnya kami mengerti situasinya. Lalu, apa yang anda ingin kami lakukan?” Ujar Leo mengangguk singkat sebelum kembali bertanya.


 


“Kalau soal itu... Mungkin kalian bisa mengambil permintaan yang paling sulit untuk meringankan tugas petualang lain. Itu saran dari saya, sisanya silahkan kalian berdua putuskan sendiri...” Balas resepsionis sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua.


 

__ADS_1


Leo merenung sejenak memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil. Keadaan petualang saat ini memang sedang tidak baik, maka dari itu harus ada yang menggantikan mereka. Namun, melakukan semua tugas itu sekaligus adalah hal yang mustahil. Maka dari itu, diperlukan pertimbangan sebelum menentukan apa yang harus dilakukan selanjutnya.


__ADS_2