Black Arc Saga

Black Arc Saga
Penjaga malam: bagian 3


__ADS_3

Mendengar guncangan beserta suara ledakan itu, pandangan Lia dan Rosetta seketika teralihkan ke arah sumber bunyi itu berasal. Mereka berdua menunda pertarungan mereka untuk sejenak ketika mereka khawatir pada masing-masing orang yang menjadi sumber kegelisahan mereka.


 


“(Suara ledakan...? Jangan katakan kalau itu... Leo...!)” Ujar Lia dalam hatinya cemas.


 


“(Kakak...! Suara itu berasal dari reruntuhan di dekat kakak...! Tidak salah lagi pasti ada sesuatu yang terjadi dengannya...!)” Ujar Rosetta dalam hatinya bersamaan.


 


Selagi diterpa angin bersalju, mereka berdua sejenak berpikir untuk menghampirinya. Namun, ketika pandangan mereka saling bertemu, seketika itu pula mereka kembali serius. Mereka saling melempar tatapan tajam dan mengacungkan senjata satu sama lain sambil berpikir cara untuk menyelesaikan pertarungan ini secepat mungkin.


 


“(Aku harus mengalahkannya terlebih dahulu...)”


 


“(... Sebelum menyelamatkan kakak...!)”


 


Rosetta yang keadaannya memburuk memutuskan untuk mengerahkan seluruh kekuatannya demi bisa mengalahkan Lia secepat mungkin sebelum tubuhnya hancur. Ia menyerang mendahului Lia mengabaikan kondisinya sendiri.


 


“Frost Blade: Ice Tidal Glacier.”


 


Pedang es miliknya menyala dengan cahaya putih kebiruan layaknya es sesaat sebelum ia melancarkan serangkaian gerakan menyerang. Setiap kali ia mengayunkan pedang, ombak dari es tercipta menambah jangkauan dan kerusakan serangannya. Hal ini membuat Lia tidak punya pilihan lain selain melawan dengan kekuatan yang sama dengannya.


 


“(Kalau seperti ini...!)” Gumam Lia dalam hatinya.


 


Tepat setelah Lia menghindar, ia mengerahkan sejumlah besar kekuatan sihirnya pada pedangnya membuatnya memasuki fase baru dalam gaya bertarungnya. Udara di sekitarnya mendadak terhenti sejenak sesaat sebelum cahaya merah tua menghempaskannya menjauh bersamaan dengan berubahnya kuda-kudanya.


 


“Crimson Blade: Dance of Autumn.”


 


Lia selanjutnya mengkis serangan Rosetta sekaligus menggagalkan rangkaian jurusnya sebelum balik membalas serangannya. Dalam mode bertarungnya sekarang, setiap kali ia mengayunkan serangan, kobaran sihirnya menciptakan serangan tambahan yang membuatnya semakin unggul. Ia sepertinya menyerang dua sampai tiga kali dalam satu ayunan tergantung dari gerakan yang ia gunakan. Hal ini juga sontak membuat Rosetta kewalahan menghadapinya. Dengan variasi serangan yang tidak dapat dibaca dan cepat, keadaan mereka langsung berbalik dalam waktu yang singkat.


 


“(C-Cepat sekali...! Serangannya seperti berlipat ganda...! Bahkan setelah aku membekukan tangannya, kekuatannya justru bertambah pesat...!)” Ujar Rosetta dalam hatinya panik.


 


Dengan cepat Lia memukulnya mundur sesaat sebelum Rosetta yang kewalahan menggunakan sihirnya untuk mengganggu serangannya. Ia membekukan es yang ada di sekitarnya menjadikan permukaannya lebih rata dan halus sesaat sebelum ia memanfaatkan hentakan dari serangan yang diterimanya untuk mendorongnya menjauh darinya. Ia seketika meluncur menjauh ketika Lia berusaha mengejarnya, namun karena permukaan yang licin menyebabkan Lia tergelincir hingga nyaris terjatuh. Dengan refleks yang cepat, Lia menancapkan pedangnya ke tanah menggunakannya sebagai penyangga yang mencegahnya jatuh sesaat sebelum ia menyadari apa yang terjadi.


 


“(Es ini... Jadi begitu, dia menggunakan sihirnya untuk mengurangi gesekan dengan membuat permukaan yang rata. Cara yang cerdik dalam situasi seperti ini...)” Ujar Lia dalam hatinya mengamati triknya.


 


Selang beberapa saat setelah melakukannya, Rosetta melancarkan serangkaian serangan sihir kepada Lia dengan frekuensi yang besar.


 


“Frost Blade: Winter Roar.”


 


Ketika mengayunkan pedangnya, angin kencang berisi tebasan es bergerak menuju ke arahnya. Untuk sekilas serangan itu terlihat mirip dengan tehnik Lia, yang membedakannya adalah serangan itu bercampur dengan elemen es. Selain dapat melukai lawan, serangan itu juga sekaligus membekukan lawannya. Meski demikian, hal itu tidak membuat Lia takut. Ia lantas membuat kuda-kuda sesaat sebelum ia merapalkan mantra sihirnya.


 


“Tehnik pedang: Flow of Autumn.”


 


Tepat ketika Lia melepaskan serangan, belasan tebasan sihir melesat membentuk hembusan angin yang sama seperti milik Rosetta. Namun, dalam keadaan mode Dance of Autumn, kekuatan yang dihasilkan bertambah kuat serta menimbulkan jumlah serangan yang lebih banyak dari versi aslinya.


 


Ledakan udara tercipta ketika kedua serangan tersebut bertemu satu sama lain. Namun, karena serangan Lia lebih kuat dan banyak, sisa-sisa serangan itu menghantam Rosetta dan melukainya di tempat.


 


“Ack...! Arrghh...!”


 


Bagaikan ditebas langsung, luka sayatan memenuhi tubuhnya yang kini nyaris seluruhnya membeku. Darah bahkan tidak menetes keluar meski tubuhnya terluka parah sesaat sebelum Lia datang dan menghunuskan pedangnya tepat di perutnya dan mengunci gerakannya.


 


“U-Ugh...! M-Mengesankan... N-Nona... B-Brown...” Ujar Rosetta dengan nada lemah.


 


“Katakan padaku semua yang kau tahu tentang apa yang tersembunyi di reruntuhan kuno itu dan alasan Northey menginginkannya.” Balas Lia bertanya dengan nada datar.


 


“A-Aku... Tidak tahu... Kenapa... T-Tapi.. Kami.. Hanya menerima.. Perintah.. Dari.. Richard-sama... Itu saja.. Yang aku.. Tahu...” Balas Rosetta dengan nafas berat.


 


Lia terdiam begitu mendengar pernyataan Rosetta. Ekspresinya tidak terlihat senang, namun setidaknya ia mendapatkan informasi yang menurutnya berguna.


 


“Kenapa kau bersedia mengatakannya? Dan bagaimana aku tahu ini bukan kebohongan?” Ujar Lia bertanya dengan nada serius.


 


“P-Prinsipku... Aku.. Menghormati.. Lawan.. Yang bertarung.. Adil.. Melawanku... Kau.. Mengalahkan.. Aku.. Dengan.. Jujur.. Jadi.. Sebagai.. Tanda.. Hormatku.. Aku.. Menjawab.. Pertanyaan.. Mu... Ugh...!!” Balas Rosetta tersenyum kecil sebelum meringis kesakitan.


 


“... Begitu ya. Kau memang seorang Ksatria.” Balas Lia mendekapnya.


 


“Ah... Tidak.. Perlu.. Mengasihani.. Ku...” Balas Rosetta dengan ekspresi menyesal.


 


“Aku tidak mengasihanimu.”


 


“... B-Begitu.. Ya...”


 


Lia perlahan mencabut pedangnya dari tubuhnya sesaat sebelum ia membaringkannya ke tanah secara perlahan. Pada saat yang sama, secara perlahan badai salju yang menerpa mereka menghilang bersama dengan mencairnya es yang ada di lengannya. Pertarungan sudah selesai menyisakan Lia sebagai pemenangnya meski ia tidak terlihat begitu senang.


 


“(Jadi semua ini ulahnya... Aku memang sudah menduganya, namun tetap saja masih terasa janggal...)” Ujar Lia dalam hatinya termenung.


 


Kenyataan bahwa Richard sendiri yang mengirim Northey membuatnya bertanya-tanya apa yang sebenarnya dia cari di tempat ini. Lia memang sudah mengetahui bahwa yang dicari olehnya adalah senjata perang peninggalan kerajaan kuno, namun yang menjadi pertanyaannya adalah bagaimana Richard tahu semua itu. Ia memang mengenalnya, namun sebelumnya ia tidak pernah tahu bahwa Richard tertarik pada peninggalan kerajaan kuno. Inilah yang menjadi pertanyaan Lia selama ini sekaligus menjadi kecurigaannya.


 


“(Ini memang aneh... Kemungkinan besar, orang itu yang memerintahkannya untuk mencari peninggalan kuno di kota ini...!)” Sambung Lia dalam hatinya curiga.


 


Sambil memikirkannya, Lia pun menyarungkan pedangnya meninggalkan tempat itu ketika Rosetta menghentikannya dengan bicara dengannya.


 


“B-Bolehkah.. Aku.. Bertanya.. N-Nona.. Brown...?” Tanya Rosetta dengan nada lemah.


 


“... Katakan.” Balas Lia singkat.


 


“Kenapa.. Kau.. Ada.. Di.. Kota.. Ini...? Dan.. Kenapa.. Kau.. Melawan.. Northey-sama...?” Balas Rosetta bertanya.


 


“... Bisa dibilang, melakukan tugasku sebagai rakyat kerajaan ini.”

__ADS_1


 


“B-Begitu.. Ya... Aku.. Tidak.. Terlalu.. Mengerti... Tapi.. Kurasa.. Itu.. Masalah.. Yang.. Besar...”


 


“Hanya itu saja yang kau ingin tanyakan?”


 


“Y-Ya... Itu.. Saja...”


 


Lia pun perlahan berjalan pergi sesaat sebelum ia mengucapkan kalimat perpisahan kepadanya.


 


“Hanya itu saja yang ingin kukatakan. Rosetta Regins, kau bertarung dengan baik. Selamat tinggal...” Ujar Lia dengan nada serius.


 


Ia pun lantas pergi meninggalkannya seorang diri untuk menyusul Leo. Dengan hati kecewa, Rosetta yang perlahan kehilangan kesadarannya mengulurkan tangannya mencoba meraih pedangnya namun sayang, waktu baginya telah berakhir.


 


“K-Kakak... Maafkan.. Aku...” Bisiknya dengan nada lemah.


 


Rosetta pun menghembuskan nafas terakhirnya meski tidak sempat mengucapkan selamat tinggal kepada Roselia saudari kembarnya.


 


 


 


***


 


 


Ketika membuka matanya, Leo mendapati dirinya berada di sebuah tempat gelap yang sunyi dan hening. Ia bangun dari reruntuhan itu ketika tetesan air menetes mengenai rambutnya ketika ia mengingat apa yang sebelumnya menimpanya.


 


“(Benar juga, aku terjatuh ke dalam lubang yang berada tepat di bawah ruangan itu... Kurasa aku berlebihan melakukannya...)” Ujar Leo dalam hatinya sambil menghela nafas.


 


Meski ia tidak ingat berapa lama ia tidak sadarkan diri, namun yang jelas akibat tindakannya sendiri, kini ia harus terperosok jauh ke dalam reruntuhan itu. Setidaknya, ia berhasil selamat meski sebelumnya terjatuh dari tempat yang cukup tinggi dan sempat tertimpa reruntuhan bangunan yang ada.


 


Leo untuk sekilas mengamati tempat di sekitarnya, namun karena keadaan yang sangat gelap membuatnya kesulitan mengenali di mana dirinya berada. Namun beruntung, ia memiliki kemampuan mata yang membantu di saat seperti ini. Ia memfokuskan pandangannya sebelum akhirnya penglihatannya berubah dan beradaptasi dengan lingkungan yang ada.


 


“(Aku tidak tahu bagaimana, tapi kemampuan mata ini sangat membantu... Aku bisa melihat lebih baik dalam kegelapan ini dari pada mata normalku...)” Ujar Leo dalam hatinya takjub.


 


Menggunakan kemampuan matanya, Leo mengamati tempat yang ada di sekitarnya sebelum ia menyadari bahwa saat ini ia berada di sebuah lorong tersembunyi yang secara kebetulan terhubung dengan ruangan tempatnya bertarung sebelumnya. Tidak hanya itu, ia juga menemukan Roselia yang sebelumnya ikut jatuh bersamanya ke sini. Ia saat ini dalam keadaan pingsan akibat luka yang ada di kepalanya akibat terbentur puing-puing yang ikut jatuh bersama mereka.


 


“(Wanita itu... Dia masih hidup rupanya... Apa yang harus kulakukan padanya...? Haruskah kubunuh sebelum dia sadar...?)” Sambung Leo dalam hatinya berpikir.


 


Mereka memang bermusuhan, namun membunuhnya sekarang tidak akan berdampak apa pun. Dari pada membunuhnya, mungkin ada baiknya Leo memanfaatkan kesempatan ini untuk menggali informasi darinya mengenai apa yang sebenarnya Northey cari. Walau Leo ragu dia akan membuka mulut, tetapi dengan melihat reaksinya menemukan tempat ini mungkin bisa menjadi petunjuk baginya nanti.


 


“(Kurasa hanya cara itu yang paling tepat saat ini....)” Gumam Leo dalam hatinya setelah memikirkannya dengan matang.


 


Selagi menunggunya sadar, Leo memutuskan untuk menjelajahi tempat itu. Ia mengikuti lorong itu menuju ke sisi lain reruntuhan kuno tersebut. Ia mendapat perasaan yang sama dengan saat ia menjelajahi reruntuhan kuno di bawah kota Hillbern ketika ia menjelajahi tempat ini. Arsitektur kuno mendominasi lorong dengan motifnya yang khas sama seperti ketika ia menjelajahi fasilitas penelitian itu. Namun, yang membedakannya adalah terdapat beberapa ukiran patung yang menghiasi lorong tersebut. Hal ini menambah kesan unik sekaligus aneh ketika menjelajahi lorong tersebut.


 


“(Entah kenapa, setiap kali aku melewati patung-patung itu aku seperti merasa diawasi...)” Gumam Leo dalam hatinya curiga.


 


 


“A-Apa ini...?! Mereka hidup...?!” Gumam Leo dengan wajah kebingungan.


 


Mereka melepaskan diri dari dinding dan berjalan berurutan menghampirinya. Dengan gestur tubuh mengancam, mereka mulai mengintimidasi Leo dengan membuat suara-suara yang mengganggu. Menyadari ancaman mereka, Leo lantas menarik pedangnya dari sarungnya sebelum memasang mode bertarung ketika mereka mulai menunjukkan tanda-tanda menyerang.


 


“#*!;**.”


 


Satu dari mereka berlari menyerang Leo secara langsung. Ia melompat ke udara mencoba menimpanya dengan berat tubuhnya sesaat sebelum Leo yang menyadari niatnya langsung menyerangnya. Leo ikut melompat dan menebas tubuhnya dengan pedangnya, namun sayangnya serangannya gagal karena tubuh patung itu lebih keras dari yang ia duga sebelumnya.


 


“(Sial...! Ternyata mereka tidak terbuat dari batu seperti yang kukira sebelumnya...! Mereka sekeras baja...!)” Ujar Leo dalam hatinya kesal.


 


Karena gagal menebasnya, Leo pun mengayunkan tendangannya sebagai ganti serangannya. Ia menendangnya kembali ke teman-temannya sesaat sebelum ia mendarat dan memikirkan kembali mengenai mereka.


 


“(Jika dilihat kembali, mereka terlihat seperti Golem dari pada patung. Kemungkinan besar mereka adalah mekanisme yang menjaga tempat ini. Kalau begitu, itu artinya ada sesuatu yang penting tersembunyi di sini...!)” Ujar Leo dalam hatinya curiga.


 


Setelah mengetahui bahwa mereka adalah Golem yang menjaga tempat ini, Leo kini tahu bagaimana cara menghadapinya. Ia hanya harus menghancurkan inti mereka dan mereka akan tewas. Namun, dengan tubuh sekeras baja, rasanya akan sulit untuk menembus inti mereka.


 


“(Kurasa ini waktu yang tepat untuk menguji kemampuan baruku...)” Ujar Leo dalam hatinya percaya diri.


 


Mengalahkan mereka mungkin akan sulit, namun tidak bagi dirinya sekarang. Dengan sihir dalam dirinya yang terbuka, kini Leo bisa menggunakan sihir untuk melancarkan serangan yang jauh lebih kuat dari pada saat mengandalkan fisiknya saja. Ini sekaligus menjadi kesempatan yang sempurna untuk menguji kekuatan sihirnya.


 


“***#!.”


 


Ketika mereka menunjukkan tanda-tanda menyerang, Leo lantas mengalirkan sihirnya pada pedangnya. Seketika itu pula kilatan petir menyelubungi bilah pedangnya dengan cahaya kebiruan terang yang membuatnya takjub ketika patung itu melancarkan serangannya. Patung itu melesat sambil melancarkan pukulannya, namun Leo yang sudah membaca serangannya lantas menghindar dan mengayunkan pedangnya. Ia membelah tubuh patung itu secara diagonal pada area di sekitar tubuh bagian atasnya dengan rapi.


 


“(A-Aku berhasil...! Aku bisa menggunakannya...!)” Ujar Leo dalam hatinya gembira.


 


Hanya dalam satu kali ayunan saja, ia bisa memotong tubuh keras Golem baja itu. Terlihat lelehan besi pada bagian yang terpotong oleh pedangnya yang menandakan bahwa serangannya sepenuhnya menyatu dengan sihirnya. Ini menjadi keberhasilan pertama Leo dalam menggunakan sihir setelah bertahun-tahun mempelajarinya tanpa hasil. Ia lantas menghancurkan kristal yang menjadi inti tubuhnya dengan pedangnya. Namun...


 


“....!”


 


Tepat ketika Leo menghancurkan kristal intinya, patung itu seketika meledak dan mengguncang tempat itu hingga menghempaskan Leo dengan kuat. Suara ledakan itu sangat keras bahkan terdengar hingga membangunkan Roselia yang sebelumnya pingsan.


 


“....?? Barusan itu... Aku seperti merasakan guncangan...” Gumam Roselia bangun sambil memegangi kepalanya.


 


Dalam keadaan bingung ia mencoba melihat situasi sebelum akhirnya mengingat apa yang menimpanya sebelumnya.


 


“Benar juga...! Terperosok masuk ke dalam lubang itu akibat dia...!” Gumam Roselia kesal.


 


Selagi kesal, ia melihat sekitar memastikan keadaannya. Namun, yang ia dapati hanyalah tempat yang gelap gulita dan suara-suara aneh dari depan sana. Suara seperti lengkingan logam dan percikan listrik mengganggunya ketika kilatan cahaya ikut terlihat dari arah yang sama. Karena penasaran, ia memutuskan untuk melihat dan memastikannya.


 

__ADS_1


Di sisi lain, Lia yang kembali ke tempat Leo tidak menemukan siapa pun di sana. Ia hanya melihat padang yang kosong dengan sisa-sisa pertarungan Leo sebelumnya. Meski ia telah menelusuri tempat itu dengan teliti, ia tidak bisa menemukan jejak maupun keberadaannya.


 


“Leo...! Di mana kau...!” Gumam Lia dengan ekspresi cemas.


 


Dengan perasaan khawatir, Lia terus mencarinya walau tanpa petunjuk sedikit pun mengenainya. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk sedang menimpanya.


 


“(Di mana kau sekarang, Leo...?)” Ujar Lia dalam hatinya cemas.


 


Ia pun kembali menyusuri hutan demi menemukan Leo yang secara misterius menghilang tanpa mengetahui bahwa dia sebenarnya berada di dalam reruntuhan yang tersembunyi di dekat sana.


 


Sementara itu, tepatnya di vila di bagian timur kota, Northey terlihat tengah menyendiri di taman menikmati sebotol anggur bersamanya. Dengan masih mengenakan baju tidurnya, Northey terlihat baru saja bangun dan memutuskan untuk menikmati malam ketika salah satu anak buahnya yang berjaga tidak sengaja bertemu dengannya.


 


“N-Northey-sama...?! Apa yang anda lakukan di tengah malam seperti ini...?!” Ujar prajurit itu terkejut menghampirinya.


 


“Hm? Kau rupanya. Kau masih berjaga, huh? Bagaimana dengan yang lainnya?” Balas Northey menoleh ke arahnya.


 


“Mereka sudah beristirahat setelah saya dan rekan saya menggantikan mereka. Ini giliran kami untuk berjaga sampai fajar.” Balas prajurit itu.


 


“Baguslah kalau begitu. Kemarilah, apa kau mau minum?”


 


“E-Eh...?! Dengan hormat saya menolaknya...!”


 


“Dasar membosankan... Memangnya kenapa?”


 


“B-Bukan begitu...! H-Hanya saja... Rasanya saya kurang pantas untuk minum bersama anda...”


 


“Ah. Itu ya. Ayolah, kau seperti dengan siapa...”


 


“M-Mohon maaf, tapi saya tidak bisa...”


 


“Kalau aku mengatakan ini perintah, apa yang akan kau lakukan...?”


 


“A-I-Itu...”


 


“Heh... Kalau begitu, aku perintahkan kau untuk minum bersamaku...”


 


“E-Eh...?!”


 


“Sekarang, apa yang akan kau lakukan...?”


 


Karena terpaksa, akhirnya prajurit itu ikut duduk menikmati anggur bersamanya. Meski merasa sungkan, namun ia tidak bisa berbuat banyak karena ini adalah perintah.


 


“Bagaimana menurutmu anggurnya?” Tanya Northey kepadanya.


 


“Y-Ya. Ini sangat enak.” Balas prajurit itu gugup.


 


“Santai saja. Anggap saja ini sebagai waktu istirahat.” Balas Northey tersenyum sambil menepuk bahunya.


 


“K-Kalau anda berkata begitu...” Balas prajurit itu sungkan.


 


Mereka menikmati minuman mereka ketika rasa penasaran mengganggu prajurit itu. Ia pun akhirnya memberanikan dirinya untuk bertanya langsung kepadanya.


 


“M-Maaf sebelumnya, tapi Northey-sama, bolehkah saya bertanya sesuatu?” Tanya prajurit itu dengan nada canggung.


 


“Hm? Apa itu?” Balas Northey sambil meletakkan gelasnya.


 


“Mohon maaf atas kelancangannya, tetapi apa ada masalah?” Balas prajurit itu kembali bertanya.


 


“Hm? Kenapa kau bertanya begitu?”


 


“A-Ah, tidak. Saya hanya berpikir kalau anda sedang ada masalah. Biasanya orang yang terbangun di tengah malam adalah orang yang tidak bisa tidur karena memikirkan masalahnya...”


 


“Heh? Kau cukup pengertian juga, huh?”


 


“A-Ah, maafkan atas kelancangan saya! T-Tapi bukan seperti yang anda duga...!”


 


Northey tertawa mendengar ucapannya sebelum akhirnya ia membalasnya.


 


“Yah, kurasa kau ada benarnya juga. Semua orang punya masalah, bukan? Bahkan Ksatria Suci tidak terlepas dari hal itu...” Ujar Northey sambil menuang anggur.


 


“E-Eh...? Apa maksud anda...?” Balas prajurit itu kebingungan.


 


“Dalam situasi ini, aku tidak menyebutnya masalah. Aku lebih suka menyebutnya situasi yang tidak terduga.” Balas Northey sebelum meneguk anggurnya.


 


“U-Uh... Saya tidak terlalu mengerti...”


 


“Kau akan mengetahuinya besok karena saat ini, Roselia sedang mencoba bersenang-senang dengannya. Tidak, justru kebalikannya, dialah yang sedang bersenang-senang dengan Roselia...”


 


“...??”


 


“Mungkin, ini sekaligus bisa menjadi pelajaran bagi anak itu...”


 


“....???”


 


Kebingungan dengan apa yang dimaksud olehnya, prajurit itu hanya terdiam mendengar pernyataan Northey. Entah apa yang ada dalam pikirannya, namun sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Atau lebih tepatnya, Northey mengetahui apa yang sedang terjadi pada reruntuhan kuno itu.

__ADS_1


__ADS_2