
Setelah saling mengenal, pandangan
Leo terhadapnya sedikit berubah. Lia sebenarnya adalah gadis lembut nan
menawan. Walau terkesan dingin saat pertama kali melihatnya, sekarang ia tahu
bahwa dia hanya sedang mencoba membela diri. Demikian juga Lia, ia merasa bahwa
Leo merupakan pemuda yang baik, terlebih Zille telah mempercayainya untuk
menggantikan dirinya menjaganya.
“Sekarang, apa yang akan kau lakukan,
Lia?” Tanya Leo dengan nada lembut.
“.... Entahlah. Aku tidak tahu lagi.”
Balas Lia dengan wajah murung.
“Jika ada yang bisa kubantu, biarkan
aku mendengarnya.” Balas Leo mencoba menghiburnya.
“....”
Lia hanya memilih diam menanggapi
ucapan Leo. Sepertinya akan lebih sulit membuatnya bicara lebih dari ini. Leo
memahami keadaannya saat ini, mungkin bukan saat yang tepat membicarakan hal
ini sekarang.
“Begitu ya. Tidak apa-apa. Kau bisa
pikirkan itu nanti.” Sambung Leo tersenyum kepadanya.
“....”
“Itu mengingatkanku. Kurasa sudah
saatnya kita pergi. Hari sudah menjelang pagi, ini saat yang sesuai.” Sambung
Leo sebelum ia mengemasi barang-barangnya.
“... Apa maksudmu?” Tanya Lia dengan
wajah bingung.
“Aku berniat pergi menuju kota
selanjutnya. Apa kau mau ikut bersamaku?”
Sambil memalingkan muka, Lia
mengangguk menjawab ajakan Leo untuk pergi bersamanya.
“Mhm...”
“Baiklah, kalau begitu kita berangkat
sekarang...” Sambung Leo tersenyum kepadanya.
Selesai berkemas, Leo dan Lia mulai
berangkat menuju kota tujuan mereka. Leo bermaksud mencari informasi tentangnya
sekaligus mencari pekerjaan di sana. Karena sejujurnya, uang miliknya telah
habis untuk membeli keperluan mendadak.
“Semoga saja ada pekerjaan untukku di
sana...” Gumam Leo sambil menghela nafas.
“....?”
Lia yang secara tak sengaja mendengar
Leo mengeluh menoleh ke arahnya dengan ekspresi bingung. Matanya yang kebiruan
menatapnya dengan penuh rasa kecemasan sesaat sebelum Leo yang menyadarinya
mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Ah... Bukan apa-apa. Aku hanya
kurang tidur, itu saja. Rasa kantuk ini memang terkadang menemani perjalananku.”
Ujarnya dengan wajah canggung.
“....”
“Benar juga, mungkin sedikit tidak
sopan menanyakan ini, tapi apa kau masih punya keluarga? Mungkin aku bisa
mencari mereka untukmu.” Sambung Leo bertanya kepadanya.
Lia memilih untuk diam tak menjawab
pertanyaan itu. Ekspresinya langsung berubah saat mendengar pertanyaan Leo
mengenai keluarganya.
“Begitu ya, maaf sudah bertanya.”
Sambung Leo memalingkan wajahnya menyesal.
“....”
Mungkin sebaiknya ia tidak bertanya
kepada Lia tentang keluarganya. Karena ada kemungkinan dia sudah tidak
memilikinya lagi. Hal itu akan membuatnya kembali mengingat kejadian mengerikan
itu lagi.
Beberapa jam berlalu sejak mereka
berdua mulai berjalan. Perjalanan panjang mereka sampai pada ujungnya ketika
mereka disambut oleh sebuah kota yang menanti di hadapan mereka.
“Kita sampai. Apa kau lelah?” Tanya
Leo sambil menyeka keringat di pipinya.
“....”
Lia menggelengkan kepalanya menjawab
pertanyaan Leo.
“Begitu ya. Syukurlah kalau begitu. Maaf,
aku tidak bermaksud memaksamu, padahal kau baru saja terluka cukup parah...” Ujar
Leo dengan perasaan cemas.
“... Aku sudah baikan.” Balas Lia
singkat.
“Kalau begitu, kita langsung saja ke
sana.” Sambung Leo mengajaknya.
Mereka memasuki kota itu tanpa
membuang waktu. Meski kesan mereka masing-masing sudah berubah satu sama lain,
Leo tidak mengira kalau Lia adalah gadis yang sangat pendiam. Entah itu karena
kepribadian aslinya atau memang keadaan mentalnya masih belum pulih.
Setelah melewati pintu masuk, suasana
kota yang ramai seketika menyambut mereka. Banyak orang berlalu lalang dengan
kesibukan mereka dan juga banyak pedagang yang berjualan di pinggiran jalan.
Suasana yang sungguh biasa.
“Ramai juga ya. Apa kau tahu tempat
ini, Lia?” Tanya Leo kepada Lia sambil melihat sekitar.
Lia menggelengkan kepalanya saat Leo
bertanya kepadanya. Itu berarti Lia belum pernah ke tempat ini sebelumnya,
menandakan kalau Lia bukan berasal dari tempat ini.
“Kalau begitu, apa kau ingat sesuatu
tentang tempat tinggalmu?” Tanya Leo kembali sebelum melihat ke arahnya.
“.....”
Lia memilih diam dan tidak menjawab
pertanyaan itu. Keadaan ini semakin sulit saja bagi Leo. Jika ia tidak bisa
membawanya kembali ke rumahnya sama saja ia mengingkari janjinya dengan Zille.
“(Sekarang apa yang harus kulakukan
dengannya? Aku tidak tahu lagi ke mana aku harus membawanya...)” Ujar Leo dalam hatinya bingung.
Untuk saat ini lebih baik
mengesampingkan masalah itu terlebih dahulu. Yang terpenting baginya sekarang
adalah di mana ia bisa mendapatkan pekerjaan. Namun sebelum itu...
“(Benar juga, aku tidak bisa
mengajaknya bersamaku. Aku tidak ingin dia terlibat lebih jauh lagi dengan masalah
pribadiku...)” Ujar Leo dalam hatinya cemas.
Leo memutar otaknya sejenak
memikirkan jalan keluar tercepat yang bisa ia pikirkan.
“Ah. Benar juga, apa ada tempat yang
ingin kau datangi? Aku bisa mengantarmu ke sana.” Tanya Leo dengan senyum kecil
di wajahnya.
“....?”
“Maksudku selagi ada di kota ini,
mungkin kau bisa sekalian menikmati pemandangan dan meluangkan pikiran.
Kedengarannya menyenangkan, bukan?” Sambung Leo mencoba meyakinkannya.
Lia terlihat sedikit sedih mendengar
ucapannya. Ia memalingkan wajahnya sambil berkata kepadanya.
“.... Apa aku mengganggumu?” Tanya
Lia dengan nada kecewa.
“A-Apa..? T-Tentu saja tidak. Aku
sama sekali tidak terganggu.” Balas Leo terkejut dan gugup.
“.... Lalu kenapa?” Balas Lia melihat
ke arahnya dengan wajah sedih.
“Hanya saja... Ada sesuatu yang ingin
kulakukan, tapi...” Jawab Leo memalingkan pandangannya.
“... Tapi?”
“Aku hanya tidak ingin kau ikut
bersamaku.”
“... Kenapa?”
Sepertinya berbohong padanya adalah
hal yang mustahil. Melihat wajahnya yang tampak sedih membuat Leo tidak punya
pilihan lain lagi selain mengatakannya.
“Aku hendak mencari pekerjaan. Karena
__ADS_1
kemungkinan itu adalah pekerjaan kasar, jadi aku tidak ingin kau ikut...” Sambung
Leo kembali menatap Lia.
“..... Begitu ya.” Balas Lia dengan nada
datar.
“Jadi, aku tidak bisa membiarkanmu
ikut...”
Lia menggelengkan kepalanya menentang
ucapan Leo sebelum ia angkat bicara menjawab pernyataannya.
“... Aku akan ikut.” Jawabnya
singkat.
“Tapi, kau tidak seharusnya ikut.
Lagi pula itu bukan pekerjaan bagi gadis sepertimu.” Balas Leo terkejut.
“... Ikut.”
“Aku tidak ingin terjadi sesuatu
denganmu.”
“... Aku tetap ikut.”
Namun Lia tetap bersikeras untuk ikut
bersama dengannya. Walau di luar dia terlihat pendiam, dia rupanya sedikit
keras kepala saat menyangkut tentang hal ini. Sepertinya Leo memang tidak punya
pilihan lain selain membiarkannya ikut bersama dengannya bekerja.
“Baiklah, kau boleh ikut bersamaku.
Tapi, jika itu pekerjaan berat, aku tidak akan mengizinkanmu ikut terjun bersama.”
Ujar Leo sambil menghela nafas.
“Mm...”
Leo akhirnya membiarkan Lia untuk
ikut bersama dengannya walau tahu kalau itu tidak akan baik baginya. Mungkin
inilah satu-satunya pilihan yang ia punya di mana ia bisa senantiasa
mengawasinya.
Leo mulai mendatangi tempat yang
sekiranya membutuhkan bantuan. Namun, meski ia sudah berusaha mencari ke sana
ke mari, tetap saja tidak ada satu pun orang di kota ini yang mau memberinya
pekerjaan. Bahkan, hingga ke setiap sudut kota sudah ia datangi namun tidak
menghasilkan apa-apa.
“Tidak ada, huh...? Seperti biasanya
lagi...” Gumam Leo sambil menghela nafas panjang.
Leo hampir kehilangan harapan
mengatahui tak ada pekerjaan yang bisa ia lakukan. Jika terus seperti ini, maka
Lia akan kelaparan serta tidak punya atap untuk bermalam nantinya. Ia tidak
bisa membiarkan hal itu terjadi.
“(Aku belum menyerah, masih banyak
tempat yang belum kudatangi. Aku masih punya banyak waktu!)” Ujar Leo dalam
hatinya membulatkan tekad.
Ini masih belum berakhir, setidaknya
sampai matahari tenggelam nanti Leo masih memiliki banyak waktu. Yang perlu ia
lakukan adalah terus mencari.
Saat tengah melewati sebuah bangunan,
Lia secara tidak sengaja menarik lengan bajunya berniat menghentikannya.
“Hm...? Apa ada masalah...?” Tanya
Leo melihat ke arah Lia.
Saat Leo menoleh ke arahnya, Lia
secara terbuka menunjuk ke arah bangunan besar yang berada tak jauh dari
mereka.
“Itu... Bukankah itu Guild
petualang...? Ada apa dengan Guild petualang...?” Tanya Leo dengan wajah
bingung.
“....”
Leo yang menyadari maksud Lia
seketika terdiam. Lia ingin mengatakan kalau ia menyarankan Leo agar bekerja
sebagai petualang. Namun, ada satu hal yang tidak Lia ketahui.
“Lia, entahlah... Sebaiknya jangan.
Itu ide yang buruk.” Ujar Leo sambil mencoba mengajak lia pergi.
“....”
“Uh...”
Namun Lia tetap bersikeras untuk
membuat leo masuk ke dalam sana dengan tatapan matanya yang kian mendalam
terhadapnya.
tentang Leo adalah kenyataan bahwa Leo tidak memiliki Skill dan
sangat tidak mungkin baginya untung menjadi seorang petualang. Ia sadar betul
akan hal itu, namun sepertinya Lia tetap saja bersikeras. Meski demikian, Leo
tidak bisa begitu saja memberitahu Lia yang sebenarnya, kenyataan bahwa dia
selama ini berjalan bersama seorang pecundang. Hal itu akan membuat janjinya
dengan Zille akan hancur ketika Lia mengetahui siapa sosok Leo yang sebenarnya.
“Lia, dengar, itu adalah ide buruk. Percayalah
padaku.” Ujar Leo mencoba meyakinkan Lia.
“.... Kita tidak tahu sebelum
mencobanya.” Balas Lia bersikeras.
“M-Memang benar, tapi tetap saja ini
bukan ide yang bagus.” Jawab Leo menyangkalnya.
“.... Kenapa?”
“K-Karena... Karena... Itu terlalu
berbahaya...”
Lia memegang tangan Leo dengan lembut
mencoba menenangkannya sebelum ia berkata kepadanya.
“... Kau sudah menolongku, jadi
setidaknya biarkan aku menolongmu.” Ujar Lia dengan suara lembut.
“A-Apa yang kau bicarakan?” Balas Leo
dengan wajah terkejut.
“... Setidaknya, percayalah padaku.
Kumohon.” Jawab Lia dengan sungguh-sungguh.
Melihat Lia seperti itu membuatnya
tidak mampu menolaknya. Dengan berat hati Leo menerima saran Lia dan memutuskan
untuk menjadi petualang walau ia tahu ia akan menyesalinya.
Saat masuk ke dalam sana, tempat itu
sangat ramai dengan petualang dengan penampilan yang bermacam-macam. Mereka
semua tengah melakukan hal yang biasa di lakukan oleh para petualang, berkumpul
bersama kelompok masing-masing sementara yang lainnya hanya bermalas-malasan
sambil minum anggur. Suasana yang sangat umum ditemui di Guild petualang.
“Hei, lihat itu!” Bisik salah seorang
petualang menyinggung teman semejanya.
“Whoaa... Jarang-jarang ada gadis
manis seperti itu ke sini.” Ujar yang lain sambil menatap ke arah Lia.
Perhatian para petualang itu seketika
tertuju ke arah Lia yang baru saja menginjakkan kaki di tempat ini. Mereka
semua terpukau dengan kecantikannya layaknya lebah yang melihat bunga yang baru
saja mekar. Namun, pada saat yang bersamaan pula, tatapan tajam seketika
tertuju pada Leo yang berjalan bersamanya.
“Hei, lihat! Siapa dia?” Ujar salah
seorang petualang menatap sinis Leo.
“Cih! Mengganggu pemandangan saja!” Sambung
yang lain menghina.
“Siapa dia? Kenapa dia bersama dengan
gadis itu.” Balas petualang lain bertanya pada sekitar.
“Mana mungkin, dia pasti pelayannya.”
Jawab salah seorang yang paling bijak di antara mereka.
Leo hanya bisa terdiam tak membalas
perkataan mereka karena ia tahu kalau ia takkan pernah menang melawan mereka
dan juga ia tak ingin membuat masalah di kalangan para petualang.
“(Sudah kuduga aku akan menyesali
keputusan ini...)” Keluh kesah Leo dalam hatinya kecewa.
Setibanya di lobby utama, seorang
gadis yang bertugas sebagai resepsionis dengan ramah menyapa mereka berdua
dengan senyuman hangat sambil berkata.
“Ah. Selamat datang di Guild
petualang. Apa ada yang bisa saya bantu?” Sapanya dengan ramah.
“Ah. Y-Ya. K-Kami ingin mendaftar
sebagai petualang.” Balas Leo dengan wajah gugup.
“Kalian nampak asing, apa kalian baru
di sini?” Tanya kembali resepsionis mengamati mereka berdua.
“B-Begitulah...”
__ADS_1
“Kalian ingin mendaftar? Baiklah
kalau begitu, tapi pertama-tama kalian harus mengisi formulirnya terlebih
dahulu.”
“Ah. T-Tentu.”
Leo mencoba tetap tenang di hadapan
resepsionis itu dan juga di hadapan Lia. Yang perlu ia lakukan hanyalah tenang
dan mengisi formulir pendaftaran itu seperti biasa.
“Ini dia, tolong isi data diri kalian
berdua dengan baik.” Ujar resepsionis itu memberikan aplikasi kepada mereka
berdua.
“A-Ah. Terima kasih.” Balas Leo
menerimanya.
“Kalian berdua tahu baca tulis,
bukan?” Tanya kembali resepsionis itu.
“T-Tentu.”
“Kalau begitu tidak ada masalah.
Silahkan ambil waktu kalian.”
Leo mulai mengisi satu persatu
aplikasi yang diberikan resepsionis itu bersama dengan Lia di sisinya. Leo
sempat cemas mengenai isi aplikasi itu, karena biasanya Guild mengajukan
pertanyaan mengenai Skill kepada siapa saja yang hendak
bergabung. Namun, kecemasan Leo perlahan menghilang seiring ia
menyelesaikannya.
“(Mereka tidak menanyakan sesuatu
mengenai Skill dan kemampuan..? Ternyata ini tidak seburuk yang
kukira...)” Ujar Leo dalam hatinya lega.
Setelah selesai mengisi aplikasi
tersebut, resepsionis itu memeriksa lembaran mereka sebelum memberikan
konfigurasi ulang.
“Baiklah, untuk memastikan saja kalau
semuanya sudah terisi dengan benar, saya akan membacakannya.” Ujar Resepsionis
itu menatap mereka berdua.
“Tentu. Silahkan.” Balas Leo dengan
perasaan tegang.
“Baik, yang pertama atas nama tuan
Leonard Ansgred. Apa namanya sudah benar?” Ujar resepsionis melihat ke arah
Leo.
“Ya. Sudah benar.” Jawab Leo singkat
dan yakin.
“Dan yang kedua, atas nama-“ Sambung
resepsionis itu melihat ke arah Lia.
“Benar.” Jawab Lia dengan cepat
memotong.
“B-Baiklah... Sepertinya tidak ada
kesalahan.” Ujar resepsionis itu sedikit terkejut mendengar balasan Lia.
Saat resepsionis hendak menyebutkan
nama lengkap Lia, dengan mengejutkan Lia memotong ucapannya dengan cepat. Leo
tidak tahu mengapa, namun sepertinya Lia tidak ingin nama aslinya didengar
orang lain.
“Kalau begitu, semuanya sudah sesuai.
Selamat, kalian berdua kini telah resmi menjadi petualang.” Ujar Resepsionis
itu sambil tersenyum.
“Sudah selesai? Lebih cepat dari
dugaanku.” Balas Leo dengan wajah heran.
“Ya. Kami percaya pada penilaian kami
pada orang-orang yang berniat bergabung. Apa ini pertama kalinya kalian mendaftar?”
Tanya resepsionis itu merapikan formulir mereka.
“Y-Ya. Begitulah...” Jawab Leo dengan
nada gugup.
“Ah. Hampir lupa...”
Resepsionis itu mengambil sesuatu
dari balik laci meja sebelum menunjukkannya kepada mereka.
“Ini lencana petualang kalian, tanda
bahwa kalian sudah resmi menjadi petualang.” Sambungnya memberikan dua buah
lencana kepada mereka.
“Lencana...?” Tanya Leo dengan wajah
bingung menerimanya.
“Ya. Selain menjadi tanda bukti
seorang petualang, juga berguna sebagai tanda pengenal peringkat petualang.
Semakin tinggi peringkatnya, maka desainnya akan semakin lebih rumit.” Jawab resepsionis
itu memberi penjelasan singkat.
“Begitu ya. Kedengarannya hebat.” Balas
Leo dengan mengamati lencananya terpukau.
“Semoga kalian bisa menjadi petualang
yang hebat nantinya. Dan sekali lagi, selamat bergabung dengan Guild.”
Dengan begini akhirnya mereka berdua
resmi menjadi seorang petualang. Walau agak ragu di awal, Leo tidak menyangka
kalau ia akan menjadi petualang secepat ini. Dengan begini ia bisa mendapatkan
uang tanpa perlu berkeliling mencari orang yang memerlukan tenaga kerja.
“Nona resepsionis, bolehkah aku
bertanya?” Ujar Leo kepadanya.
“Ya, Leo-san. Apa yang ingin kau
tanyakan.” Balas resepsionis itu tersenyum.
“Karena kami masih pemula, apakah ada
permintaan yang sesuai dengan kami? Kalau tidak keberatan, kami minta saran
darimu.”
“Ah. Tunggu sebentar...”
Resepsionis itu mulai mengambil
kertas berisi permintaan sebelum ia mulai memilah memilih permintaan yang
sesuai dengan yang Leo minta. Namun, saat semuanya sudah selesai terbaca, ia menggelengkan
kepalanya menjawab pertanyaan leo dan berkata.
“Mohon maaf, tapi sudah tidak ada
misi untuk pemula yang masih tersisa.” Ujar resepsionis itu dengan wajah kecewa.
“Tidak ada yang tersisa?” Balas Leo dengan
wajah bingung.
“Ya. Kami belakangan ini menerima
permintaan yang membutuhkan petualang berpengalaman. Sayang sekali.” Jawab
resepsionis itu memberi penjelasan kepada mereka dengan wajah menyesal.
“A-Ah. Kalau memang sudah begitu
sudahlah.”
Leo pun berfikir apa yang harus ia
lakukan saat mengetahui kalau tak ada misi baginya. Di satu sisi ia senang
telah menjadi petualang, namun di sisi lain ia sedikit kecewa karena
petualangan pertamanya harus pupus di awal langkah.
“(Memang seperti yang sudah kuduga...)”
Gumam Leo dalam hati kecewa.
Namun, saat Leo mulai bimbang,
resepsionis itu memberitahukan sesuatu kepada Leo.
“Mungkin ini tidak seberapa, tapi
saya dengar kalau di sebelah timur kota ada beberapa serangan Goblin. Jika kalian
berkenan, mengapa kalian tak ke sana?” Ujar resepsionis itu memberinya saran.
“Serangan Goblin?” Balas Leo dengan
wajah bingung.
“Ya. Saya dengar mereka sering muncul
akhir-akhir ini dan juga sering menyerang pendatang. Saya rasa mereka adalah
lawan yang sesuai bagi kalian yang masih belum berpengalaman, bagaimana?”
Leo yang mendengarnya pun tertarik
untuk mengikuti saran dari resepsionis itu. Ia menoleh ke arah Lia yang berada
di sampingnya itu selagi bertanya tentang pendapatnya.
“Bagaimana menurutmu, Lia?” Bisik Leo
kepada Lia.
Lia mengangguk menjawab Leo
memberikan arti bahwa ia setuju.
“Baiklah, kami akan ke sana.” Jawab
Leo setuju.
“Kalau begitu, semoga beruntung kalian
berdua. Saya menunggu kabar baik dari kalian.” Balas resepsionis itu tersenyum.
Dengan demikian, Leo pun memulai
pekerjaan pertamanya sebagai petualang. Ia merasa cemas pada awalnya, namun
__ADS_1
pada saat yang sama ia merasa seperti mengingat sesuatu tentang masa lalunya.