Black Arc Saga

Black Arc Saga
Kota dan petualang


__ADS_3

Setelah saling mengenal, pandangan


Leo terhadapnya sedikit berubah. Lia sebenarnya adalah gadis lembut nan


menawan. Walau terkesan dingin saat pertama kali melihatnya, sekarang ia tahu


bahwa dia hanya sedang mencoba membela diri. Demikian juga Lia, ia merasa bahwa


Leo merupakan pemuda yang baik, terlebih Zille telah mempercayainya untuk


menggantikan dirinya menjaganya.


“Sekarang, apa yang akan kau lakukan,


Lia?” Tanya Leo dengan nada lembut.


“.... Entahlah. Aku tidak tahu lagi.”


Balas Lia dengan wajah murung.


“Jika ada yang bisa kubantu, biarkan


aku mendengarnya.” Balas Leo mencoba menghiburnya.


“....”


Lia hanya memilih diam menanggapi


ucapan Leo. Sepertinya akan lebih sulit membuatnya bicara lebih dari ini. Leo


memahami keadaannya saat ini, mungkin bukan saat yang tepat membicarakan hal


ini sekarang.


“Begitu ya. Tidak apa-apa. Kau bisa


pikirkan itu nanti.” Sambung Leo tersenyum kepadanya.


“....”


“Itu mengingatkanku. Kurasa sudah


saatnya kita pergi. Hari sudah menjelang pagi, ini saat yang sesuai.” Sambung


Leo sebelum ia mengemasi barang-barangnya.


“... Apa maksudmu?” Tanya Lia dengan


wajah bingung.


“Aku berniat pergi menuju kota


selanjutnya. Apa kau mau ikut bersamaku?”


Sambil memalingkan muka, Lia


mengangguk menjawab ajakan Leo untuk pergi bersamanya.


“Mhm...”


“Baiklah, kalau begitu kita berangkat


sekarang...” Sambung Leo tersenyum kepadanya.


Selesai berkemas, Leo dan Lia mulai


berangkat menuju kota tujuan mereka. Leo bermaksud mencari informasi tentangnya


sekaligus mencari pekerjaan di sana. Karena sejujurnya, uang miliknya telah


habis untuk membeli keperluan mendadak.


“Semoga saja ada pekerjaan untukku di


sana...” Gumam Leo sambil menghela nafas.


“....?”


Lia yang secara tak sengaja mendengar


Leo mengeluh menoleh ke arahnya dengan ekspresi bingung. Matanya yang kebiruan


menatapnya dengan penuh rasa kecemasan sesaat sebelum Leo yang menyadarinya


mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Ah... Bukan apa-apa. Aku hanya


kurang tidur, itu saja. Rasa kantuk ini memang terkadang menemani perjalananku.”


Ujarnya dengan wajah canggung.


“....”


“Benar juga, mungkin sedikit tidak


sopan menanyakan ini, tapi apa kau masih punya keluarga? Mungkin aku bisa


mencari mereka untukmu.” Sambung Leo bertanya kepadanya.


Lia memilih untuk diam tak menjawab


pertanyaan itu. Ekspresinya langsung berubah saat mendengar pertanyaan Leo


mengenai keluarganya.


“Begitu ya, maaf sudah bertanya.”


Sambung Leo memalingkan wajahnya menyesal.


“....”


Mungkin sebaiknya ia tidak bertanya


kepada Lia tentang keluarganya. Karena ada kemungkinan dia sudah tidak


memilikinya lagi. Hal itu akan membuatnya kembali mengingat kejadian mengerikan


itu lagi.


Beberapa jam berlalu sejak mereka


berdua mulai berjalan. Perjalanan panjang mereka sampai pada ujungnya ketika


mereka disambut oleh sebuah kota yang menanti di hadapan mereka.


“Kita sampai. Apa kau lelah?” Tanya


Leo sambil menyeka keringat di pipinya.


“....”


Lia menggelengkan kepalanya menjawab


pertanyaan Leo.


“Begitu ya. Syukurlah kalau begitu. Maaf,


aku tidak bermaksud memaksamu, padahal kau baru saja terluka cukup parah...” Ujar


Leo dengan perasaan cemas.


“... Aku sudah baikan.” Balas Lia


singkat.


“Kalau begitu, kita langsung saja ke


sana.” Sambung Leo mengajaknya.


Mereka memasuki kota itu tanpa


membuang waktu. Meski kesan mereka masing-masing sudah berubah satu sama lain,


Leo tidak mengira kalau Lia adalah gadis yang sangat pendiam. Entah itu karena


kepribadian aslinya atau memang keadaan mentalnya masih belum pulih.


Setelah melewati pintu masuk, suasana


kota yang ramai seketika menyambut mereka. Banyak orang berlalu lalang dengan


kesibukan mereka dan juga banyak pedagang yang berjualan di pinggiran jalan.


Suasana yang sungguh biasa.


“Ramai juga ya. Apa kau tahu tempat


ini, Lia?” Tanya Leo kepada Lia sambil melihat sekitar.


Lia menggelengkan kepalanya saat Leo


bertanya kepadanya. Itu berarti Lia belum pernah ke tempat ini sebelumnya,


menandakan kalau Lia bukan berasal dari tempat ini.


“Kalau begitu, apa kau ingat sesuatu


tentang tempat tinggalmu?” Tanya Leo kembali sebelum melihat ke arahnya.


“.....”


Lia memilih diam dan tidak menjawab


pertanyaan itu. Keadaan ini semakin sulit saja bagi Leo. Jika ia tidak bisa


membawanya kembali ke rumahnya sama saja ia mengingkari janjinya dengan Zille.


“(Sekarang apa yang harus kulakukan


dengannya? Aku tidak tahu lagi ke mana aku harus membawanya...)”  Ujar Leo dalam hatinya bingung.


Untuk saat ini lebih baik


mengesampingkan masalah itu terlebih dahulu. Yang terpenting baginya sekarang


adalah di mana ia bisa mendapatkan pekerjaan. Namun sebelum itu...


“(Benar juga, aku tidak bisa


mengajaknya bersamaku. Aku tidak ingin dia terlibat lebih jauh lagi dengan masalah


pribadiku...)” Ujar Leo dalam hatinya cemas.


Leo memutar otaknya sejenak


memikirkan jalan keluar tercepat yang bisa ia pikirkan.


“Ah. Benar juga, apa ada tempat yang


ingin kau datangi? Aku bisa mengantarmu ke sana.” Tanya Leo dengan senyum kecil


di wajahnya.


“....?”


“Maksudku selagi ada di kota ini,


mungkin kau bisa sekalian menikmati pemandangan dan meluangkan pikiran.


Kedengarannya menyenangkan, bukan?” Sambung Leo mencoba meyakinkannya.


Lia terlihat sedikit sedih mendengar


ucapannya. Ia memalingkan wajahnya sambil berkata kepadanya.


“.... Apa aku mengganggumu?” Tanya


Lia dengan nada kecewa.


“A-Apa..? T-Tentu saja tidak. Aku


sama sekali tidak terganggu.” Balas Leo terkejut dan gugup.


“.... Lalu kenapa?” Balas Lia melihat


ke arahnya dengan wajah sedih.


“Hanya saja... Ada sesuatu yang ingin


kulakukan, tapi...” Jawab Leo memalingkan pandangannya.


“... Tapi?”


“Aku hanya tidak ingin kau ikut


bersamaku.”


“... Kenapa?”


Sepertinya berbohong padanya adalah


hal yang mustahil. Melihat wajahnya yang tampak sedih membuat Leo tidak punya


pilihan lain lagi selain mengatakannya.


“Aku hendak mencari pekerjaan. Karena

__ADS_1


kemungkinan itu adalah pekerjaan kasar, jadi aku tidak ingin kau ikut...” Sambung


Leo kembali menatap Lia.


“..... Begitu ya.” Balas Lia dengan nada


datar.


“Jadi, aku tidak bisa membiarkanmu


ikut...”


Lia menggelengkan kepalanya menentang


ucapan Leo sebelum ia angkat bicara menjawab pernyataannya.


“... Aku akan ikut.” Jawabnya


singkat.


“Tapi, kau tidak seharusnya ikut.


Lagi pula itu bukan pekerjaan bagi gadis sepertimu.” Balas Leo terkejut.


“... Ikut.”


“Aku tidak ingin terjadi sesuatu


denganmu.”


“... Aku tetap ikut.”


Namun Lia tetap bersikeras untuk ikut


bersama dengannya. Walau di luar dia terlihat pendiam, dia rupanya sedikit


keras kepala saat menyangkut tentang hal ini. Sepertinya Leo memang tidak punya


pilihan lain selain membiarkannya ikut bersama dengannya bekerja.


“Baiklah, kau boleh ikut bersamaku.


Tapi, jika itu pekerjaan berat, aku tidak akan mengizinkanmu ikut terjun bersama.”


Ujar Leo sambil menghela nafas.


“Mm...”


Leo akhirnya membiarkan Lia untuk


ikut bersama dengannya walau tahu kalau itu tidak akan baik baginya. Mungkin


inilah satu-satunya pilihan yang ia punya di mana ia bisa senantiasa


mengawasinya.


Leo mulai mendatangi tempat yang


sekiranya membutuhkan bantuan. Namun, meski ia sudah berusaha mencari ke sana


ke mari, tetap saja tidak ada satu pun orang di kota ini yang mau memberinya


pekerjaan. Bahkan, hingga ke setiap sudut kota sudah ia datangi namun tidak


menghasilkan apa-apa.


“Tidak ada, huh...? Seperti biasanya


lagi...” Gumam Leo sambil menghela nafas panjang.


Leo hampir kehilangan harapan


mengatahui tak ada pekerjaan yang bisa ia lakukan. Jika terus seperti ini, maka


Lia akan kelaparan serta tidak punya atap untuk bermalam nantinya. Ia tidak


bisa membiarkan hal itu terjadi.


“(Aku belum menyerah, masih banyak


tempat yang belum kudatangi. Aku masih punya banyak waktu!)” Ujar Leo dalam


hatinya membulatkan tekad.


Ini masih belum berakhir, setidaknya


sampai matahari tenggelam nanti Leo masih memiliki banyak waktu. Yang perlu ia


lakukan adalah terus mencari.


Saat tengah melewati sebuah bangunan,


Lia secara tidak sengaja menarik lengan bajunya berniat menghentikannya.


“Hm...? Apa ada masalah...?” Tanya


Leo melihat ke arah Lia.


Saat Leo menoleh ke arahnya, Lia


secara terbuka menunjuk ke arah bangunan besar yang berada tak jauh dari


mereka.


“Itu... Bukankah itu Guild


petualang...? Ada apa dengan Guild petualang...?” Tanya Leo dengan wajah


bingung.


“....”


Leo yang menyadari maksud Lia


seketika terdiam. Lia ingin mengatakan kalau ia menyarankan Leo agar bekerja


sebagai petualang. Namun, ada satu hal yang tidak Lia ketahui.


“Lia, entahlah... Sebaiknya jangan.


Itu ide yang buruk.” Ujar Leo sambil mencoba mengajak lia pergi.


“....”


“Uh...”


Namun Lia tetap bersikeras untuk


membuat leo masuk ke dalam sana dengan tatapan matanya yang kian mendalam


terhadapnya.


tentang Leo adalah kenyataan bahwa Leo tidak memiliki Skill dan


sangat tidak mungkin baginya untung menjadi seorang petualang. Ia sadar betul


akan hal itu, namun sepertinya Lia tetap saja bersikeras. Meski demikian, Leo


tidak bisa begitu saja memberitahu Lia yang sebenarnya, kenyataan bahwa dia


selama ini berjalan bersama seorang pecundang. Hal itu akan membuat janjinya


dengan Zille akan hancur ketika Lia mengetahui siapa sosok Leo yang sebenarnya.


“Lia, dengar, itu adalah ide buruk. Percayalah


padaku.” Ujar Leo mencoba meyakinkan Lia.


“.... Kita tidak tahu sebelum


mencobanya.” Balas Lia bersikeras.


“M-Memang benar, tapi tetap saja ini


bukan ide yang bagus.” Jawab Leo menyangkalnya.


“.... Kenapa?”


“K-Karena... Karena... Itu terlalu


berbahaya...”


Lia memegang tangan Leo dengan lembut


mencoba menenangkannya sebelum ia berkata kepadanya.


“... Kau sudah menolongku, jadi


setidaknya biarkan aku menolongmu.” Ujar Lia dengan suara lembut.


“A-Apa yang kau bicarakan?” Balas Leo


dengan wajah terkejut.


“... Setidaknya, percayalah padaku.


Kumohon.” Jawab Lia dengan sungguh-sungguh.


Melihat Lia seperti itu membuatnya


tidak mampu menolaknya. Dengan berat hati Leo menerima saran Lia dan memutuskan


untuk menjadi petualang walau ia tahu ia akan menyesalinya.


Saat masuk ke dalam sana, tempat itu


sangat ramai dengan petualang dengan penampilan yang bermacam-macam. Mereka


semua tengah melakukan hal yang biasa di lakukan oleh para petualang, berkumpul


bersama kelompok masing-masing sementara yang lainnya hanya bermalas-malasan


sambil minum anggur. Suasana yang sangat umum ditemui di Guild petualang.


“Hei, lihat itu!” Bisik salah seorang


petualang menyinggung teman semejanya.


“Whoaa... Jarang-jarang ada gadis


manis seperti itu ke sini.” Ujar yang lain sambil menatap ke arah Lia.


Perhatian para petualang itu seketika


tertuju ke arah Lia yang baru saja menginjakkan kaki di tempat ini. Mereka


semua terpukau dengan kecantikannya layaknya lebah yang melihat bunga yang baru


saja mekar. Namun, pada saat yang bersamaan pula, tatapan tajam seketika


tertuju pada Leo yang berjalan bersamanya.


“Hei, lihat! Siapa dia?” Ujar salah


seorang petualang menatap sinis Leo.


“Cih! Mengganggu pemandangan saja!” Sambung


yang lain menghina.


“Siapa dia? Kenapa dia bersama dengan


gadis itu.” Balas petualang lain bertanya pada sekitar.


“Mana mungkin, dia pasti pelayannya.”


Jawab salah seorang yang paling bijak di antara mereka.


Leo hanya bisa terdiam tak membalas


perkataan mereka karena ia tahu kalau ia takkan pernah menang melawan mereka


dan juga ia tak ingin membuat masalah di kalangan para petualang.


“(Sudah kuduga aku akan menyesali


keputusan ini...)” Keluh kesah Leo dalam hatinya kecewa.


Setibanya di lobby utama, seorang


gadis yang bertugas sebagai resepsionis dengan ramah menyapa mereka berdua


dengan senyuman hangat sambil berkata.


“Ah. Selamat datang di Guild


petualang. Apa ada yang bisa saya bantu?” Sapanya dengan ramah.


“Ah. Y-Ya. K-Kami ingin mendaftar


sebagai petualang.” Balas Leo dengan wajah gugup.


“Kalian nampak asing, apa kalian baru


di sini?” Tanya kembali resepsionis mengamati mereka berdua.


“B-Begitulah...”

__ADS_1


“Kalian ingin mendaftar? Baiklah


kalau begitu, tapi pertama-tama kalian harus mengisi formulirnya terlebih


dahulu.”


“Ah. T-Tentu.”


Leo mencoba tetap tenang di hadapan


resepsionis itu dan juga di hadapan Lia. Yang perlu ia lakukan hanyalah tenang


dan mengisi formulir pendaftaran itu seperti biasa.


“Ini dia, tolong isi data diri kalian


berdua dengan baik.” Ujar resepsionis itu memberikan aplikasi kepada mereka


berdua.


“A-Ah. Terima kasih.” Balas Leo


menerimanya.


“Kalian berdua tahu baca tulis,


bukan?” Tanya kembali resepsionis itu.


“T-Tentu.”


“Kalau begitu tidak ada masalah.


Silahkan ambil waktu kalian.”


Leo mulai mengisi satu persatu


aplikasi yang diberikan resepsionis itu bersama dengan Lia di sisinya. Leo


sempat cemas mengenai isi aplikasi itu, karena biasanya Guild mengajukan


pertanyaan mengenai Skill kepada siapa saja yang hendak


bergabung. Namun, kecemasan Leo perlahan menghilang seiring ia


menyelesaikannya.


“(Mereka tidak menanyakan sesuatu


mengenai Skill dan kemampuan..? Ternyata ini tidak seburuk yang


kukira...)” Ujar Leo dalam hatinya lega.


Setelah selesai mengisi aplikasi


tersebut, resepsionis itu memeriksa lembaran mereka sebelum memberikan


konfigurasi ulang.


“Baiklah, untuk memastikan saja kalau


semuanya sudah terisi dengan benar, saya akan membacakannya.” Ujar Resepsionis


itu menatap mereka berdua.


“Tentu. Silahkan.” Balas Leo dengan


perasaan tegang.


“Baik, yang pertama atas nama tuan


Leonard Ansgred. Apa namanya sudah benar?” Ujar resepsionis melihat ke arah


Leo.


“Ya. Sudah benar.” Jawab Leo singkat


dan yakin.


“Dan yang kedua, atas nama-“ Sambung


resepsionis itu melihat ke arah Lia.


“Benar.” Jawab Lia dengan cepat


memotong.


“B-Baiklah... Sepertinya tidak ada


kesalahan.” Ujar resepsionis itu sedikit terkejut mendengar balasan Lia.


Saat resepsionis hendak menyebutkan


nama lengkap Lia, dengan mengejutkan Lia memotong ucapannya dengan cepat. Leo


tidak tahu mengapa, namun sepertinya Lia tidak ingin nama aslinya didengar


orang lain.


“Kalau begitu, semuanya sudah sesuai.


Selamat, kalian berdua kini telah resmi menjadi petualang.” Ujar Resepsionis


itu sambil tersenyum.


“Sudah selesai? Lebih cepat dari


dugaanku.” Balas Leo dengan wajah heran.


“Ya. Kami percaya pada penilaian kami


pada orang-orang yang berniat bergabung. Apa ini pertama kalinya kalian mendaftar?”


Tanya resepsionis itu merapikan formulir mereka.


“Y-Ya. Begitulah...” Jawab Leo dengan


nada gugup.


“Ah. Hampir lupa...”


Resepsionis itu mengambil sesuatu


dari balik laci meja sebelum menunjukkannya kepada mereka.


“Ini lencana petualang kalian, tanda


bahwa kalian sudah resmi menjadi petualang.” Sambungnya memberikan dua buah


lencana kepada mereka.


“Lencana...?” Tanya Leo dengan wajah


bingung menerimanya.


“Ya. Selain menjadi tanda bukti


seorang petualang, juga berguna sebagai tanda pengenal peringkat petualang.


Semakin tinggi peringkatnya, maka desainnya akan semakin lebih rumit.” Jawab resepsionis


itu memberi penjelasan singkat.


“Begitu ya. Kedengarannya hebat.” Balas


Leo dengan mengamati lencananya terpukau.


“Semoga kalian bisa menjadi petualang


yang hebat nantinya. Dan sekali lagi, selamat bergabung dengan Guild.”


Dengan begini akhirnya mereka berdua


resmi menjadi seorang petualang. Walau agak ragu di awal, Leo tidak menyangka


kalau ia akan menjadi petualang secepat ini. Dengan begini ia bisa mendapatkan


uang tanpa perlu berkeliling mencari orang yang memerlukan tenaga kerja.


“Nona resepsionis, bolehkah aku


bertanya?” Ujar Leo kepadanya.


“Ya, Leo-san. Apa yang ingin kau


tanyakan.” Balas resepsionis itu tersenyum.


“Karena kami masih pemula, apakah ada


permintaan yang sesuai dengan kami? Kalau tidak keberatan, kami minta saran


darimu.”


“Ah. Tunggu sebentar...”


Resepsionis itu mulai mengambil


kertas berisi permintaan sebelum ia mulai memilah memilih permintaan yang


sesuai dengan yang Leo minta. Namun, saat semuanya sudah selesai terbaca, ia menggelengkan


kepalanya menjawab pertanyaan leo dan berkata.


“Mohon maaf, tapi sudah tidak ada


misi untuk pemula yang masih tersisa.” Ujar resepsionis itu dengan wajah kecewa.


“Tidak ada yang tersisa?” Balas Leo dengan


wajah bingung.


“Ya. Kami belakangan ini menerima


permintaan yang membutuhkan petualang berpengalaman. Sayang sekali.” Jawab


resepsionis itu memberi penjelasan kepada mereka dengan wajah menyesal.


“A-Ah. Kalau memang sudah begitu


sudahlah.”


Leo pun berfikir apa yang harus ia


lakukan saat mengetahui kalau tak ada misi baginya. Di satu sisi ia senang


telah menjadi petualang, namun di sisi lain ia sedikit kecewa karena


petualangan pertamanya harus pupus di awal langkah.


“(Memang seperti yang sudah kuduga...)”


Gumam Leo dalam hati kecewa.


Namun, saat Leo mulai bimbang,


resepsionis itu memberitahukan sesuatu kepada Leo.


“Mungkin ini tidak seberapa, tapi


saya dengar kalau di sebelah timur kota ada beberapa serangan Goblin. Jika kalian


berkenan, mengapa kalian tak ke sana?” Ujar resepsionis itu memberinya saran.


“Serangan Goblin?” Balas Leo dengan


wajah bingung.


“Ya. Saya dengar mereka sering muncul


akhir-akhir ini dan juga sering menyerang pendatang. Saya rasa mereka adalah


lawan yang sesuai bagi kalian yang masih belum berpengalaman, bagaimana?”


Leo yang mendengarnya pun tertarik


untuk mengikuti saran dari resepsionis itu. Ia menoleh ke arah Lia yang berada


di sampingnya itu selagi bertanya tentang pendapatnya.


“Bagaimana menurutmu, Lia?” Bisik Leo


kepada Lia.


Lia mengangguk menjawab Leo


memberikan arti bahwa ia setuju.


“Baiklah, kami akan ke sana.” Jawab


Leo setuju.


“Kalau begitu, semoga beruntung kalian


berdua. Saya menunggu kabar baik dari kalian.” Balas resepsionis itu tersenyum.


Dengan demikian, Leo pun memulai


pekerjaan pertamanya sebagai petualang. Ia merasa cemas pada awalnya, namun

__ADS_1


pada saat yang sama ia merasa seperti mengingat sesuatu tentang masa lalunya.


__ADS_2