Black Arc Saga

Black Arc Saga
Petunjuk yang tertunda


__ADS_3

Dihadapkan dengan situasi yang sama pada kedua sisi, Leo dan Lia mengangkat pedangnya untuk melindungi orang yang ada di dekatnya dari monster misterius yang mengancam mereka. Sebagai harapan yang tersisa untuk mereka, mereka berdua pun mengambil langkah untuk menghadapi monster tersebut.


 


“Kalian bertiga, mundurlah... Biar aku yang menahannya di sini.” Ujar Lia mengibaskan pedangnya sambil memberi peringatan kepada rekannya.


 


“A-Alicia-san... T-Tapi kami bisa membantumu!” Balas sang kapten mencoba meyakinkannya.


 


“Dia benar, kami bisa membantumu!” Sambung pemanah itu menghampirinya sambil menarik busurnya ke arah makhluk tersebut.


 


“B-Benar...! Aku juga akan membantumu..!” Ujar gadis penyihir itu ikut menghampirinya berniat membantu.


 


Lia sempat terkejut melihat tindakan mereka yang ingin membantunya melawan makhluk itu, tetapi ia sadar bahwa mereka bertiga sekali pun tidak dapat melawannya. Makhluk itu adalah lawan alami petarung jarak jauh. Meski hanya melihatnya sekilas, Lia memahami bagaimana tujuan benda itu diciptakan.


 


“... Aku tidak ingin mengatakannya, tapi mundurlah. Dia bukan lawan kalian, khususnya kalian berdua.” Ujar Lia menggugurkan semangat mereka.


 


“T-Tapi, kenapa...? Apa kami tidak cukup kuat untuk membantumu...?” Balas gadis penyihir itu dengan wajah kecewa.


 


“Alicia-san, meski tidak sekuat lelaki berambut putih rekanmu, setidaknya kami bisa membantumu walau sedikit! Izinkanlah kami ikut bertarung!” Ujar pemanah itu bersikeras membantu.


 


Namun, tepat saat mengatakannya, makhluk itu melancarkan serangannya. Lia dengan sigap menangkis serangan tersebut sebelum akhirnya ia membawanya menjauh dari mereka bertiga. Ia membawanya masuk lebih jauh ke dalam perpustakaan tempat di mana mereka memutuskan untuk bertarung di sana.


 


“Tch. Kita tidak bisa membiarkannya! Kapten, kita kejar mereka dan membantu Alicia-san!” Ujar pemanah itu bergegas menyusul.


 


“B-Benar...! Kita harus membantunya...!” Sambung gadis penyihir itu ikut menyusul.


 


Namun, saat mereka berdua baru saja memutuskan untuk pergi, kapten mereka menahan bahu mereka menghentikan niat mereka untuk menolong Lia.


 


“Tidak, kita tidak bisa. Kita hanya akan menghalanginya saja.” Ujar sang kapten kepada mereka dengan nada kecewa.


 


“E-Eh...? Apa maksudmu...? Apa kau ingin meninggalkannya begitu saja...?” Balas gadis penyihir itu terkejut dan marah mendengar ucapannya.


 


“Kapten, meski kau yang mengatakan itu aku tetap tidak bisa menerimanya! Aku tahu kita memang tidak sehebat dia, tapi apa kita harus membiarkannya membahayakan diri dengan bertarung sendirian melawan makhluk aneh itu...!” Ujar pemanah ikut marah kepadanya.


 


“Aku tahu kalian akan mengatakan itu... Tapi, tidak ada yang bisa kita lakukan..! Apa kau tidak dengar ucapannya sebelumnya? Kita bukan lawan untuk makhluk itu, khususnya kalian berdua...” Balas kapten mereka dengan nada kecewa.


 


“Apa maksudnya...? Apa kita ini benar-benar tidak berguna baginya...?” Ujar gadis penyihir itu dengan wajah kecewa.


 


“Yang benar saja...! Kau pasti bercanda, bukan..?” Gumam pemanah itu kesal.


 


Di saat yang bersamaan, suara gaduh terdengar dari balik barisan rak buku di depan mereka. Itu adalah suara lengkingan logam yang berbenturan, dengan kata lain itu adalah suara pertarungan Lia melawan makhluk tersebut. Dari suaranya saja, dapat terasa betapa sengitnya pertarungan mereka hingga bahkan menghancurkan beberapa rak buku yang ada di sekitarnya sebagai dampak pertarungan mereka. Sudah jelas bahwa pertarungan tersebut jauh di atas kemampuan mereka bertiga.


 


“Alicia-san...” Gumam gadis penyihir itu menyaksikan pertarungannya dengan wajah kecewa.


 


“Lihat? Itu bukan hanya sekedar pertarungan biasa... Jika kita ikut terlibat, maka kita sudah tewas sejak awal...” Ujar kapten mereka dengan perasaan kecewa dan kesal.


 


“Tapi... Tidakkah ada yang bisa kita lakukan...?” Balas gadis penyihir itu bersikeras berusaha membantu Lia.


 


“....”


 


Dengan memendam kekesalannya, sang kapten hanya bisa mendiamkan ucapannya. Di sisi lain, pemanah yang mengingat ucapan Lia sebelumnya menyadari sesuatu dibalik ucapannya. Ia menyadari bahwa ucapannya mengandung sebuah pesan petunjuk bagi mereka.


 


“Kami bukan lawan baginya, huh...? Khususnya kami berdua... Aku dan dia... Bukan lawan... Lawan... Jadi, begitu ya! Aku mengerti!” Gumam pemanah itu sebelum akhirnya menyadari pesan Lia.


 


“Apa kau mengatakan sesuatu...?” Tanya sang kapten dengan wajah bingung.


 


“Aku akhirnya mengerti apa yang coba Alicia-san sampaikan kepada kita...!” Jawabnya dengan wajah gembira.


 


“H-Hah..?”


 


Sementara itu, tepat ketika Golem berzirah perunggu hendak mengakhiri Gald, Leo datang menghentikannya dengan memotong lengan tajamnya sebelum ia sempat melukainya. Dengan satu tebasan, lengannya putus sebelum Leo memotong tubuhnya secara diagonal menyamping dan menghempaskan potongan tubuh lainnya dengan kakinya.


 


“Hah...! Hah...! Hah...!”


 


Dengan wajah terkesima, Gald menyaksikan semua hal itu sebelum akhirnya Leo berbalik dan bicara dengannya.


 


“Kau baik-baik saja...?” Tanya Leo dengan wajah cemas terengah-engah.


 


“Y-Ya. Aku baik-baik saja...” Jawabnya dengan nada gugup.


 


“Bagaimana dengan ketiga rekanmu...?” Balas Leo kembali bertanya secara singkat.


 


“U-Uh... Kurasa mereka baik-baik saja...” Jawabnya secara singkat.


 


“Syukurlah kalau begitu... Kami datang tepat pada waktunya...”


 


“Kami...?”


 


Tak berselang setelahnya, Wein dan prajurit lainnya datang menghampiri Gald dan teman-temannya untuk menolong mereka ketika kawanan Golem itu berdatangan ke arah mereka.


 


“Leonard-kun...! Kerja bagus...! Sisanya serahkan padaku...!” Ujar Wein merangkul bahu Gald.


 


“Wein-san... Jadi ini semua rencanamu...?” Balas Gald dengan wajah tersenyum.


 


“Tentu saja! Mana bisa aku mengabaikan kalian!” Jawab Wein tersenyum membalasnya.


 


“Wein-san...” Ujarnya terkesima.


 


“Kita bicarakan itu nanti! Leonard-kun, maaf tapi kuserahkan mereka padamu!” Balas Wein sebelum berseru kepada Leo.


 


“Ya. Serahkan padaku!” Balas Leo dengan nada tegas.


 


Leo memasang kuda-kudanya bersiap melawan mereka ketika secara mengejutkan Golem berzirah perunggu itu kembali bangkit setelah ia membunuhnya sebelumnya. Tubuhnya yang terpotong kini perlahan pulih dengan sendirinya bersamaan dengan munculnya Golem lain di sekelilingnya.


 


“Apa...?! Dia bisa memulihkan diri...?!” Ujar Wein terkejut menyaksikannya.


 

__ADS_1


“Benar juga...! Dia adalah pemimpin semua Golem ini...! Meski dibunuh berkali-kali dia tetap bangkit lagi dan bisa memanggil kawanan Golem lainnya...! Berhati-hatilah...!” Seru Gald kepada Leo memberinya peringatan.


 


Tepat saat Gald mengatakannya, Golem-Golem itu mulai menyerang ke arah mereka. Dengan jumlah mereka, para Golem itu berniat mengepung dan menutup jalan keluar mereka. Namun, sebelum para Golem itu bisa melakukannya, Leo dengan cepat menghabisi mereka semua yang berniat menghalangi jalan sembari memberikan waktu bagi yang lainnya untuk menyelamatkan diri.


 


“Pergilah...! Aku akan menahannya...!” Ujar Leo mengibaskan pedangnya yang berlumuran tanah dan lumpur.


 


“Kita pergi sekarang...!” Seru Wein kepada pasukannya.


 


Dengan memanfaatkan kesempatan yang Leo berikan untuk mereka, Wein dan pasukannya membawa Gald dan rekan-rekannya keluar dari gua tersebut. Hal itu membuat Golem berzirah perunggu tidak senang dan memerintahkan bawahannya untuk mengejar mereka. Namun, niatnya digagalkan oleh Leo yang dengan cepat menghabisi setiap Golem yang berusaha membuntuti kelompok Wein dan Gald.


 


“Lawanmu adalah aku!” Ujar Leo dengan tatapan tajam.


 


Golem berzirah perunggu itu lantas memerintahkan seluruh anak buahnya untuk menyerang Leo begitu ia menantangnya. Para Golem berdatangan ke arahnya layaknya sekawanan semut yang menyerang mangsanya, namun dengan kemampuannya mampu menghabisi mereka satu persatu dengan cepat dan mudah sebelum ia melesat maju menyerangnya.


 


Melihat Leo berniat menyerangnya, ia pun mengubah tangannya menjadi sebilah kristal tajam untuk melawannya. Leo mengayunkan serangannya, namun Golem berzirah itu dengan mudahnya menangkisnya dan dimulailah duel pedang mereka.


 


Pada saat yang bersamaan di perpustakaan, pertarungan hebat tengah terjadi antara Lia melawan makhluk setengah mesin itu. Dengan kedua tangan dan kakinya yang berbentuk bilah pedang, makhluk itu melancarkan serangannya. Ia membuka celah dengan melompat dan menyerang dengan kedua kakinya sebelum melanjutkannya dengan gerakan balet mematikannya.


 


“...!”


 


Seperti layaknya menari, makhluk itu melancarkan serangannya di setiap gerakannya hingga membuat Lia hampir kewalahan. Gerakannya semakin cepat setiap kali ini menggerakkan tubuhnya. Hal itu membuatnya bahkan tidak mampu menjaga jarak darinya. Jeda jarak di setiap serangannya terlalu singkat.


 


“Mnh...! Hngh...!


 


Suara benturan logam berdengung tanpa henti setiap Lia menangkis serangannya. Untuk sekilas mereka tampak seimbang satu sama lain, tetapi jika keadaan ini terus berlanjut maka akan membahayakan Lia.


 


“(Cepat...! Semakin lama dia bertarung, dia menjadi semakin cepat...! Aku harus memikirkan cara untuk membuat celah sebelum aku kehabisan staminaku terlebih dahulu...!)” Ujar Lia dalam hatinya mulai terdesak.


 


Sambil berpikir, Lia memperhatikan sekitarnya untuk mencari cara untuk lepas dari jangkauan serangannya. Makhluk itu kian mendesaknya sampai akhirnya ia memojokkannya di dekat rak buku yang ada di dekat mereka. Jika Lia sampai tersudut di sana, maka itu akan menjadi akhir baginya.


 


Sementara itu, ketiga petualang yang sebelumnya bersama Lia kini berhasil menemukannya setelah mereka menaiki tangga menuju rak buku di lantai dua. Dari sana, mereka menyaksikan pertarungannya dan menyadari keadaannya yang hampir terdesak.


 


“Di sana...! Itu Alicia-san...!” Seru gadis penyihir itu menunjuk ke arah Lia dari kejauhan.


 


“O-Oi! Dia akan segera kehilangan langkah...! Kita harus segera menolongnya...!” Balas sang kapten dengan wajah panik.


 


Saat sang kapten berusaha menyusul Lia turun, sang pemanah segera menghentikannya dengan menarik bahunya.


 


“Tunggu, kapten. Apa kau lupa kenapa kita ada di sini?” Ujar pemanah itu memegangi bahunya menghentikan niatnya.


 


“Dia akan segera terpojok...! Sebagai sesama pejuang, aku tidak bisa membiarkannya...!” Balas sang kapten dengan wajah marah.


 


“Aku paham perasaanmu, kapten. Tapi, ada alasan mengapa Alicia-san mengatakan hal itu kepada kita, khususnya kami berdua...” Balas pemanah itu menghela nafas panjang menenangkannya.


 


“Hah...? Apa maksudmu...?” Balas sang kapten kebingungan.


 


Ia berjalan membelakangi mereka berdua sebelum ia mengambil sebuah anak panah dan menjawab pertanyaannya.


 


“Alasan mengapa Alicia-san tidak ingin kita ikut campur adalah karena dia ingin meminta bantuan kita secara tidak langsung...” Ujar pemanah itu sambil menarik busurnya membidik makhluk itu.


 


 


“Bukankah kau sudah melihatnya bagaimana makhluk itu bertarung? Dia adalah musuh paling berbahaya bagi petarung jarak jauh. Itu sebabnya Alicia-san tidak ingin kita turun langsung membantunya karena sudah jelas kami berdua yang akan langsung tewas jika berhadapan langsung dengannya.” Jawab pemanah itu dengan nada tenang.


 


“Jadi, selama ini dia sudah memikirkan kita bertiga... ? Tapi, sejak kapan dia menyadarinya?” Ujarnya dengan wajah terkejut.


 


“Alicia-san kedengarannya sangat pintar... Dia benar-benar menakjubkan...!” Sambung gadis penyihir itu ikut terpukau dengannya.


 


“Yah, begitulah yang kutangkap dari pesannya...” Balas pemanah itu tersenyum singkat.


 


Meski awalnya mereka kecewa mendengar ucapan Lia, mereka kini memahami apa sebenarnya yang ia coba sampaikan. Ia hanya tidak ingin melibatkan mereka bertiga dalam bahaya dan ingin meminta bantuan mereka untuk mendukungnya dari belakang.


 


“Rith, siapkan sihirmu. Kita serangan dia bersama-sama setelah Alicia-san memberikan tanda.” Ujar pemanah itu sambil membidik ke arah makhluk itu.


 


“B-Baik!” Balas Rith dengan nada yakin.


 


Sementara itu, Leo yang tengah berhadapan langsung dengan Golem berzirah itu berhasil menguasai pertarungan. Ia mampu mengungguli Golem itu dalam duel itu hingga akhirnya ia mampu memukulnya mundur. Dengan satu ayunan kuat, Leo memotong lengan Golem itu dan dengan menarik pedangnya, ia berniat mengakhirinya. Namun, sebelum hal itu terjadi, Golem berzirah itu melepas sesuatu dari dalam dirinya tepat ketika serangan Leo nyaris mengenainya.


 


“....?!”


 


Tubuhnya hancur begitu saja dengan mudahnya, namun Leo sadar bahwa ia masih hidup meski tubuhnya telah ia hancurkan. Pada saat yang sama, puluhan Golem tercipta di dekat sisa-sisa tubuhnya sebelum akhirnya Golem berzirah itu bangkit kembali dengan keadaan yang utuh. Hal itu membuat Leo menyadari sesuatu tentangnya.


 


“(Jadi begitu... Dia bisa menciptakan dan mengontrol Golem lain... Sekarang semuanya jadi jelas sekarang...)” Ujar Leo dalam hatinya menyimpulkan.


 


Sementara itu, Lia yang semakin terpojok akhirnya melancarkan rencananya untuk membuat celah melepaskan diri dari rentetan serangannya. Tepat di saat jarak antara dirinya dengan rak buku itu hanya tinggal beberapa langkah, Lia menggunakan sihir pada bilah pedangnya dan menyelimutinya dengan cahaya merah tua yang membara sebelum akhirnya ia menyerangnya.


 


“Haa..!!”


 


Dengan kekuatan penuh, Lia memukul balik serangan tangan makhluk itu dan mengejutkannya. Serangan Lia sangat berat bahkan nyaris membuatnya terlempar, namun makhluk itu tidak berhenti begitu saja. Ia mengayunkan tangan lainnya dengan cepat guna menutupi jeda serangannya yang terhenti akibat serangan balik tersebut. Namun sekali lagi, Lia menghempaskan serangan tangannya dengan ayunan kuatnya hingga membuat makhluk itu nyaris terjatuh mundur.


 


“(Ini saatnya...!)” Ujar Lia dalam hatinya spontan.


 


Lia menarik pedangnya ke belakang pinggangnya bermaksud melancarkan serangan langsung. Namun, makhluk itu sudah menyadari niatnya dan secara mengejutkan menekuk punggungnya ke belakang dan memanfaatkan posisi jatuh itu untuk menyerang menggunakan kakinya. Sontak hal yang tidak terduga tersebut membuat Rith dan teman-temannya terkejut saat menyaksikan pertarungan mereka.


 


“Alicia-san...!!” Seru Rith dengan wajah panik.


 


Serangan itu datang dari bawah dengan cepat langsung mengincar kepalanya. Tetapi, di luar dugaan, bukannya menyerang, Lia justru melompat membentuk garis lengkung dengan tubuhnya menghindari serangan tersebut sebelum akhirnya ia menyentuh bagian atas rak buku tersebut dan mendorongnya jatuh menimpa makhluk tersebut.


 


“D-Dia berhasil menghindar...! Sulit dipercaya...!” Ujar sang kapten terpukau.


 


Tepat ketika Lia mengudara, ia menatap ke arah mereka bertiga sambil bersiap melancarkan serangannya. Pemanah yang menyadari maksud Lia lantas berkata kepada Rith bahwa saat giliran mereka sudah tiba.


 


“Sekarang, Rith...!” Seru pemanah itu pada saat bersamaan.


 


“Baik...!” Jawabnya lantang.

__ADS_1


 


Pemanah itu memejamkan matanya sejenak sambil berkonsentrasi pada anak panahnya disusul ketika Rith mulai membaca mantra sihirnya bersamaan ketika Lia mengobarkan sihirnya pada bilah pedangnya.


 


“Wahai angin yang agung, serukanlah kekuatanmu pada pendosa sebagai hukuman baginya...”


 


“Rauman petir adalah jiwamu, hancurkanlah setiap kehidupan dalam naungan bayanganmu...”


 


“Tehnik pedang...”


 


Tak berselang setelahnya, makhluk itu bangkit dari balik rak yang hancur itu ketika mereka bertiga sudah bersiap menghabisinya. Cahaya merah tua membara menyala di hadapannya bersamaan dengan kilatan cahaya petir disertai tiupan angin yang terdengar dari kejauhan.


 


“... Gale Shoot!”


 


“... Roar of Lightning!”


 


“... Wind of Autumn!”


 


Secara bersamaan, mereka bertiga melancarkan serangan mereka ke arahnya sesaat sebelum ledakan dahsyat tercipta ketika serangan mereka menghantamnya. Gemuruh petir menggema ke seluruh ruangan bersama dengan hembusan angin kuat yang menerbangkan buku dan kertas yang ada di sekitarnya saat mereka terdiam terkesima menyaksikannya.


 


“K-Kita melakukannya... Kita melakukannya...! Kita mengalahkan makhluk itu...!” Ujar sang kapten dengan wajah gembira.


 


“B-Berhasil...? Apa kita benar-benar mengalahkannya...?” Balas Rith dengan wajah gugup.


 


Setelah ledakan itu berlalu, tidak ada yang tersisa selain kepulan asap hitam dan lubang pada lantainya, tidak ada tanda-tanda yang tersisa dari makhluk itu. Hal itu membuat mereka akhirnya menghela nafas lega mengetahui bahwa mereka bertiga mampu mengalahkan makhluk setengah mesin yang berbahaya itu.


 


“Kurasa begitu... Kita berhasil melakukannya...” Ujar sang pemanah mengambil nafas lega.


 


“Kerja bagus, kalian berdua! Kombinasi sihir yang hebat antara panah angin dan kilat petir!” Balas sang kapten merangkul bahu keduanya.


 


“Y-Ya! Kita benar-benar melakukannya!” Ujar Rith tertawa gembira.


 


“Yah, semua itu berkat rencana Alicia-san... Aku tidak menyangka dia akan memikirkan hal ini jauh sebelum semuanya terjadi...” Sambung pemanah itu tersenyum senang.


 


“Sungguh, dia benar-benar petualang yang sangat hebat...” Balas sang kapten menghela nafas lega.


 


Rith melambaikan tangannya sambil memanggilnya ketika Lia menghela nafas singkat dan tersenyum membalasnya. Itu adalah pertarungan yang mendebarkan, namun ia beruntung memiliki rekan yang menolongnya. Jika tidak, ia mungkin akan kembali dalam keadaan terluka.


 


“(Kali ini aku selamat berkat mereka... Aku bisa bertahan tanpa terluka sedikit pun berkat bantuan mereka...)” Ujar Lia dalam hatinya sambil menghirup nafas lega.


 


Mereka bertiga pun berlari menghampirinya setelah pertarungan itu usai. Namun, masih ada hal yang mengganjal di pikiran Lia mengenai makhluk setengah mesin itu. Selain bentuknya yang menyerupai manusia, ia juga merasakan semacam sihir dari dalam tubuhnya. Itu menambah rasa penasarannya mengenai tempat ini.


 


“(Dilihat dari struktur tubuhnya, benda itu seperti diciptakan dengan alkimia... Ditambah dengan sihir aneh yang melekat di tubuhnya...)” Sambung Lia dalam hatinya melihat pada sisa-sisa tubuh makhluk itu yang hancur.


 


Pada saat yang sama, Golem berzirah memerintahkan Golem lain untuk menyerang Leo. Namun, bukannya melawan, Leo justru melewati para Golem itu begitu saja dan tanpa menyerang mereka. Ia menghindari setiap serangan mereka dan terus melaju seolah mengabaikan mereka semua.


 


Menyadari hal tersebut, Golem berzirah itu seketika merubah tangannya menjadi bilah kristal tajam untuk menghalau serangan Leo. Namun sayang, sebelum ia sempat bereaksi, Leo telah membelah tubuhnya menjadi dua sebelum akhirnya pasukan Golem yang mengejarnya berguguran tewas bersamaan.


 


“Haa...!”


 


Pada saat setelah ia membelah tubuhnya, ia kembali mengayunkan pedangnya pada sisa potongan tubuhnya. Ia menghancurkan setiap bagian tubuh Golem berzirah itu sampai menyisakan sebuah kristal berwarna merah darah berbentuk seperti sisik sebelum akhirnya ia menusuknya dengan ujung pedangnya. Seketika itu pula, cahaya terang memancar dari inti kristal tersebut sebelum akhirnya padam dalam sekejap bersamaan dengan hancurnya wujudnya.


 


“Dengan ini, akhirnya berakhir sudah...” Gumam Leo sambil mengibaskan pedangnya dan menyarungkannya.


 


Leo telah membunuh sumber masalah saat ini, yaitu Golem berzirah itu. Meski ia terkejut dengan kemampuannya, ia tetap bisa mengalahkannya dengan baik meski ada beberapa hal yang membuatnya penasaran. Ia mengambil serpihan inti kristal Golem berzirah itu sebelum mengamatinya dengan seksama.


 


“(Benda ini adalah inti sihir Golem itu... Meski demikian, inti sihirnya sangat berbeda dari kebanyakan Golem yang telah kulawan... Bagi Golem setingkatnya, kecerdasannya bisa dibilang jauh lebih pintar dan juga kemampuannya memanggil Golem lain memang di luar dugaanku...)” Ujar Leo dalam hatinya kebingungan.


 


Ia menyimpan kepingan inti Golem itu untuk nantinya ia pelajari lebih lanjut. Namun, pada saat yang bersamaan, gempa bumi mengguncang tempat itu dengan hebat disertai dengan suara dentuman dari ujung gua tersebut.


 


“(A-Apa ini..? Gempa...? Selain itu, bunyi apa itu...?)” Ujar Leo dalam hatinya panik.


 


Guncangan yang sama turut sampai ke kota tempat Lia dan lainnya berada. Guncangan hebat itu menyebabkan beberapa bangunan dan langit-langit kristal di tempat itu berguguran.


 


“A-A-Apa yang terjadi...!” Ujar Rith panik dengan tubuh sempoyongan.


 


“Gempa bumi...?! Kenapa harus terjadi di saat-saat seperti ini...!” Sambung pemanah itu kesal sambil menahan posisinya.


 


“Tch. Alicia-san, kita pergi dari sini sekarang!” Seru sang kapten mengajaknya pergi dari bangunan tersebut.


 


“Mm.” Balas Lia mengangguk.


 


Langit-langit ruangan mulai berjatuhan ketika mereka berempat memutuskan untuk meninggalkan bangunan menara tersebut. Meski Lia masih ingin mencari tahu lebih banyak hal yang disembunyikan di sana, ia terpaksa mengurungkan niatnya demi keselamatannya dan rekan-rekannya.


 


Keadaan semakin memburuk begitu Leo berhasil keluar dari gua. Kota itu terancam terkubur saat ia menyaksikan langit-langit berguncang. Ia pun segera menyusul Wein dan lainnya di kota.


 


“Leonard-kun...! Akhirnya kau kembali...!” Ujar Wein dengan wajah gembira.


 


“Tuan Wein, bagaimana keadaan lainnya? Bagaimana keadaan kelompok Gald?” Balas Leo bertanya kepadanya.


 


“Mereka semua sudah dibawa menuju perkemahan sebelumnya. Aku sedang memastikan semua orang sudah dievakuasi. Kau pergilah lebih dulu!” Jawab Wein melihat sekitar mereka mencari sisa yang lain.


 


“Aku mengerti! Berhati-hatilah!” Ujar Leo pergi meninggalkannya.


 


Segera setelah perintah evakuasi diserukan, mereka semua bergegas meninggalkan kota tersebut menuju pintu keluar. Gempa semakin memburuk hingga terlihat beberapa langit-langit menghujani kota. Para prajurit dan petualang yang ada kini sebagian besar telah berhasil meninggalkan kota.


 


“Leo...!” Seru Lia memanggilnya dari belakang mengejarnya.


 


Saat Leo hendak meninggalkan kota, secara tidak sengaja ia berpapasan dengan Lia dan ketiga rekannya dalam perjalanannya.


 


“Ah, Lia...! Senang melihatmu! Bagaimana keadaanmu?” Balas Leo menghentikan langkahnya.


 


“Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?” Balas Lia bertanya kepadanya.


 


“Aku tidak apa-apa. Yang lebih penting, ayo kita pergi dari sini secepatnya!” Jawab Leo singkat sambil berlari menarik tangan Lia.

__ADS_1


 


Bersama-sama, mereka berdua bersama seluruh regu penyelidikan pergi meninggalkan kota tersebut sebelum semuanya terlambat.


__ADS_2